Pembaca rahimakumullah, berikut adalah 10 amal setara haji sebagaimana dikumpulkan oleh Syaikh ‘Isam Muhammad Fahim Jamaah. Semoga bermanfaat!
أَعْمَالٌ وَقُرُبَاتٌ تَعْدِلُ الْحَجَّ فِي الثَّوَابِ
AMALAN-AMALAN DAN KETAATAN-KETAATAN YANG PAHALANYA MENYAMAI HAJI
لَمَّا كَانَ الْحَجُّ مِنْ أَفْضَلِ
الْأَعْمَالِ بَعْدَ الْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَقَدْ يَفْقِدُ الْمُسْلِمُ
الِاسْتِطَاعَةَ بِسَبَبِ الْمَرَضِ أَوْ الْوَبَاءِ أَوْ عَدَمِ الْقُدْرَةِ
الْمَالِيَّةِ - فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِعِبَادِهِ أَعْمَالًا وَقُرُبَاتٍ
يَبْلُغُ أَجْرُهَا أَجْرَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ
Ketika haji merupakan salah satu
amalan paling utama setelah jihad di jalan Allah, dan terkadang seorang muslim
kehilangan kemampuan (untuk melaksanakannya) disebabkan oleh penyakit, wabah,
atau ketidakmampuan secara finansial - maka sesungguhnya Allah mensyariatkan
bagi hamba-hamba-Nya amalan-amalan dan ketaatan-ketaatan yang pahalanya
menyamai pahala haji dan umrah.
وَفِي الْبِدَايَةِ أُحِبُّ أَنْ
أُنَبِّهَ عَلَى أَمْرٍ؛ وَهُوَ أَنَّ الْأَعْمَالِ الَّتِي تَعْدِلُ الْحَجَّ
إِنَّمَا تَكُونُ فِي الْجَزَاءِ، لَا فِي الْإِجْزَاءِ، وَإِلَّا فَحَجُّ
الْفَرْضِ لَا يَسْقُطُ عَنِ الْقَادِرِ عَلَيْهِ إِذَا انْتَفَتِ الْمَوَانِعُ،
فَإِذَا وُجِدَتِ الْمَوَانِعُ مِنْ مَرَضٍ أَوْ وَبَاءٍ أَوْ عَدَمِ قُدْرَةٍ،
تَأَكَّدَتْ تِلْكَ الْأَعْمَالُ.
Pada permulaannya, saya ingin
mengingatkan satu hal; yaitu bahwa amalan-amalan yang menyamai haji ini
hanyalah dalam hal balasan pahala (al-jaza'), bukan dalam menggantikan
kewajiban gugurnya haji (al-ijza'). Jika tidak demikian, maka haji wajib
tidaklah gugur bagi orang yang mampu apabila tidak ada halangan-halangan. Namun
jika terdapat halangan seperti sakit, wabah, atau ketidakmampuan, maka
amalan-amalan ini menjadi sangat ditekankan.
وَمِنَ الْأَعْمَالِ الَّتِي تَعْدِلُ
الْحَجَّ فِي الثَّوَابِ وَالْجَزَاءِ لَا الْإِجْزَاءِ، مَا يَلِي
Di antara amalan-amalan yang menyamai
haji dalam pahala dan balasan (bukan gugurnya kewajiban) adalah sebagai
berikut:
أَوَّلًا عَقْدُ النِّيَّةِ
الصَّادِقَةِ عَلَى أَدَاءِ الْحَجِّ
1 – NIAT YANG TULUS UNTUK MENUNAIKAN HAJI
Kejujuran niat bersama Allah untuk
menunaikan ibadah haji yang fardu; Jabir radhiyallahu 'anhu
meriwayatkan, ia berkata:
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاةٍ، فَقَالَ: إِنَّ بِالْمَدِينَةِ رِجَالًا مَا
سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا، إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ؛
حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ
"Kami pernah bersama Nabi ﷺ
dalam suatu peperangan, lalu beliau bersabda: 'Sesungguhnya di Madinah ada
orang-orang yang tidaklah kalian menempuh suatu perjalanan dan tidak pula
melintasi suatu lembah, melainkan mereka selalu bersama kalian; mereka
terhalang oleh penyakit.'" (HR. Muslim)
قَالَ الْإِمَامُ النَّوَوِيُّ رَحِمَهُ
اللَّهُ: وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ فَضِيلَةُ النِّيَّةِ فِي الْخَيْرِ، وَأَنَّ
مَنْ نَوَى الْغَزْوَ وَغَيْرَهُ مِنَ الطَّاعَاتِ، فَعَرَضَ لَهُ عُذْرٌ
مَنَعَهُ، حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ نِيَّتِهِ
Imam An-Nawawi rahimahullah
berkata: "Dalam hadits ini terdapat keutamaan niat dalam kebaikan, dan
bahwasanya barangsiapa yang berniat untuk berperang atau ketaatan lainnya, lalu
muncul udzur yang menghalanginya, maka ia tetap mendapatkan pahala
niatnya." (Syarah An-Nawawi, 13/59)
وَقَدْ أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَأَلَ الشَّهَادَةَ صَادِقًا، بَلَّغَهُ
اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ، وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ.
Dan Nabi ﷺ
telah mengabarkan: "Barangsiapa memohon mati syahid (kepada Allah)
dengan tulus, niscaya Allah akan menyampaikan kedudukannya ke derajat para
syuhada, meskipun ia meninggal di atas tempat tidur." (HR. Shahih
Abi Dawud)
ثَانِيًا الْمُحَافَظَةُ عَلَى صَلَاةِ
الْفَرِيضَةِ فِي الْمَسْجِدِ
2 – MENJAGA SHALAT FARDU DI MASJID
Abu Umamah meriwayatkan bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا
إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ، فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ، وَمَنْ
خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لَا يُنْصِبُهُ إِلَّا إِيَّاهُ، فَأَجْرُهُ
كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ، وَصَلَاةٌ عَلَى أَثَرِ صَلَاةٍ لَا لَغْوَ بَيْنَهُمَا
كِتَابٌ فِي عِلِّيِّينَ
"Barangsiapa keluar dari rumahnya
dalam keadaan bersuci menuju shalat fardu, maka pahalanya seperti pahala orang
yang berhaji yang berihram. Dan barangsiapa keluar untuk shalat sunnah Dhuha
yang ia tidak keluar melainkan hanya untuk itu, maka pahalanya seperti pahala
orang yang berumrah. Dan shalat yang dikerjakan setelah shalat lainnya tanpa
diselingi perbuatan/perkataan sia-sia di antara keduanya adalah catatan amalan
di 'Illiyyin." (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya no.
558, dan Al-Baihaqi dalam Sunan-nya no. 4973)
هَذَا، وَتَنَوَّعَتْ أَقْوَالُ
الشُّرَّاحِ فِي تَشْبِيهِ الْخَارِجِ الْمُتَطَهِّرِ لِأَدَاءِ الصَّلَاةِ
الْمَفْرُوضَةِ فِي الْمَسْجِدِ بِالْمُحْرِمِ لِلْحَجِّ،
Demikianlah, dan pendapat para pensyarah (komentator hadits) bervariasi
dalam mengumpamakan orang yang keluar bersuci untuk menunaikan shalat fardu di
masjid dengan orang yang berihram untuk haji.
فَقِيلَ: يُؤْتَى مِنَ الثَّوَابِ
الَّذِي يُضَاعِفُهُ اللَّهُ؛ بِحَيْثُ يُوَازِي ثَوَابَ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ
بِالْفِعْلِ
Ada yang berpendapat: Ia diberi pahala yang dilipatgandakan oleh Allah
hingga menandingi pahala orang yang berhaji dan berihram secara nyata.
وَقِيلَ: لِلْمُشَابَهَةِ بَيْنَهُمَا
فِي الْإِثَابَةِ مِنْ لَدُنِ الْخُرُوجِ إِلَى الرُّجُوعِ؛ يَعْنِي: كَمَا أَنَّ
الْحَاجَّ مِنْ أَوَّلِ خُرُوجِهِ مِنْ بَيْتِهِ إِلَى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى
بَيْتِهِ يُكْتَبُ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ أَجْرٌ، فَكَذَلِكَمِ الْمُصَلِّي إِذَا
تَوَضَّأَ وَخَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ إِلَى أَنْ يَرْجِعَ يُكْتَبُ لَهُ بِكُلِّ
خُطْوَةٍ أَجْرٌ
Ada pula yang berpendapat: Karena
adanya kesamaan antara keduanya dalam pemberian pahala sejak keluar hingga
kembali; artinya: sebagaimana orang berhaji sejak awal keluar dari rumahnya
sampai kembali dicatat pahala baginya pada setiap langkahnya, demikian pula
orang yang shalat apabila berwudhu lalu keluar menuju shalat hingga kembali
dicatat pahala baginya pada setiap langkahnya.
وَقِيلَ: كَانَ أَجْرُهُ كَأَجْرِ
الْحَاجِّ؛ لِأَنَّهُ تَوَجَّهَ إِلَى بَيْتِهِ لِأَجْلِ عِبَادَتِهِ كَالْحَجِّ
Serta ada yang berpendapat: Pahalnya
seperti pahala orang yang berhaji karena ia menuju ke rumah Allah untuk
beribadah kepada-Nya sebagaimana ibadah haji. (Syarah Al-Masabih karya
Al-Baghawi, 2/157)
ثَالِثًا صَلَاةُ الْفَجْرِ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ ذِكْرُ اللَّهِ حَتَّى
طُلُوعِ الشَّمْسِ ثُمَّ صَلَاةُ رَكْعَتَيْنِ
3 – SHALAT SUBUH BERJAMAAH, BERDZIKIR HINGGA TERBIT MATAHARI, LALU SHALAT
DUA RAKAAT
Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ، ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى
تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ
وَعُمْرَةٍ، قَالَ؛ أَيْ أَنَسٌ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ.
"Barangsiapa shalat Subuh secara
berjamaah, kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari,
lalu shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah. Anas
berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
'Sempurna, sempurna, sempurna.'" (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya
no. 586)
أَيْ: كَانَتْ مَثُوبَةُ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ،
وَقَوْلُهُ: تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ، صِفَةٌ لِحَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ، وَكَرَّرَهَا
ثَلَاثًا لِلتَّأْكِيدِ
Maksudnya: Pahala orang yang melakukan hal tersebut adalah seperti pahala
haji dan umrah. Dan sabda beliau: "Sempurna, sempurna, sempurna"
merupakan sifat bagi haji dan umrah, dan beliau mengulangnya tiga kali untuk
penegasan.
وَهَذَا الْحَدِيثُ حَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَلَهُ شَوَاهِدُ كَثِيرَةٌ؛
مِنْهَا مَا جَاءَ فِي رِوَايَةِ الطَّبَرَانِيِّ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Hadits ini dihasankan oleh At-Tirmidzi, dan memiliki banyak syahid
(penguat); di antaranya apa yang diriwayatkan oleh At-Thabrani dari Abu Umamah radhiyallahu
'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda:
مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الْغَدَاةِ فِي جَمَاعَةٍ، ثُمَّ جَلَسَ يَذْكُرُ اللَّهَ
حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، انْقَلَبَ
بِأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ.
"Barangsiapa shalat Subuh secara
berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari, lalu
berdiri dan shalat dua rakaat, maka ia kembali dengan membawa pahala haji dan
umrah." (Tuhfat al-Ahwadzi bi Syarh Jami' at-Tirmidzi 3/194,
At-Targhib wa At-Tarhib 1/296)
وَهَذَا الْعَمَلُ الْبَسِيطُ لَهُ أَجْرٌ كَبِيرٌ، وَهَذَا مِنْ فَضْلِ
اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ، عَمَلٌ لَيْسَ فِيهِ مَشَقَّةٌ وَمُتَاحٌ لِلصَّغِيرِ
وَالْكَبِيرِ وَالْمَرِيضِ أَنْ يَأْخُذَ هَذَا الْأَجْرَ وَالثَّوَابَ، دُونَ
مَشَقَّةِ الْحَجِّ، الَّذِي فِيهِ بَذْلُ الْمَالِ، وَسَعْيُ الْبَدَنِ،
وَتَحَمُّلُ الْمَشَاقِّ.
Amalan yang sederhana ini memiliki
pahala yang sangat besar, dan ini merupakan bagian dari karunia Allah kepada
hamba-hamba-Nya. Amalan tanpa kesulitan yang terbuka bagi anak kecil, orang
tua, maupun orang sakit untuk meraih ganjaran dan pahala ini tanpa perlu
kepayahan haji yang membutuhkan pengorbanan harta, pengerahan tenaga, serta
penanggungan berbagai kesulitan.
رَابِعًا الْعُمْرَةُ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً
4 – UMRAH DI
BULAN RAMADAN MENYAMAI HAJI
Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah
bin Abbas radhiyallahu 'anhuma:
فَقَدْ أَخْرَجَ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ لِامْرَأَةٍ مِنَ الْأَنْصَارِ يُقَالُ لَهَا أُمُّ سِنَانٍ: مَا مَنَعَكِ
أَنْ تَكُونِي حَجَجْتِ مَعَنَا
"Bahwasanya Nabi ﷺ bersabda kepada
seorang wanita Anshar yang dipanggil Ummu Sinan: 'Apa yang menghalangimu
untuk berhaji bersama kami?'
قَالَتْ: نَاضِحَانِ كَانَا لِأَبِي فُلَانٍ – تَعْنِي زَوْجَهَا – حَجَّ هُوَ
وَابْنُهُ عَلَى أَحَدِهِمَا، وَكَانَ الْآخَرُ يَسْقِي عَلَيْهِ غُلَامُنَا
Wanita itu menjawab: 'Kami hanya memiliki
dua ekor unta penyiram tanaman milik ayahnya si Fulan (maksudnya suaminya) – ia
dan anaknya berhaji dengan menunggangi salah satunya, sedangkan yang satu lagi
digunakan oleh pelayan kami untuk menyiram tanaman.'
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَعُمْرَةٌ فِي
رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي، وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى: عُمْرَةٌ
فِي رَمَضَانَ كَحَجَّةٍ مَعِي.
Maka Rasulullah ﷺ
bersabda: 'Maka umrah di bulan Ramadan menandingi ibadah haji, atau haji
bersamaku.'" Dan dalam riwayat lain: "Umrah di bulan Ramadan
seperti haji bersamaku." (HR. Muslim, dan Shahih Al-Jami' no. 4098)
وَمَعْنَى قَوْلِهِ: كَحَجَّةٍ مَعِي؛ أَيْ: فِي ثَوَابِهَا وَجَزَائِهَا، فِي
رُوحَانِيَّتِهَا وَمَشَاعِرِهَا، حِينَ تَجِدُ لَهَا نَفْسَ الْمَذَاقِ الَّذِي
وَجَدَهُ مَنْ حَجَّ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
كَحَجَّةٍ مَعِي فِي بَرَكَتِهَا وَأَثَرِهَا فِي إِحْيَاءِ الْقُلُوبِ،
وَتَهْذِيبِ النُّفُوسِ.
Makna dari sabda beliau: "Seperti
haji bersamaku"; yaitu dalam hal pahala dan balasannya, dalam hal
keruhanian dan perasaan batinnya, saat seseorang merasakan kelezatan yang sama
sebagaimana dirasakan oleh orang yang berhaji bersama Rasulullah ﷺ,
"seperti haji bersamaku" dalam keberkahannya serta pengaruhnya dalam
menghidupkan hati dan menyucikan jiwa.
خَامِسًا الْأَذْكَارُ عَقِبَ الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوضَةِ
5 – ZIKIR SETELAH SHALAT FARDU
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
meriwayatkan, ia berkata:
جَاءَ الْفُقَرَاءُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
فَقَالُوا: ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ – الدُّثُورُ: جَمْعُ دَثْرٍ؛ وَهُوَ
الْمَالُ الْكَثِيرُ - مِنَ الْأَمْوَالِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى، وَالنَّعِيمِ
الْمُقِيمِ؛ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ، وَلَهُمْ
فَضْلٌ مِنْ أَمْوَالٍ يَحُجُّونَ بِهَا وَيَعْتَمِرُونَ، وَيُجَاهِدُونَ
وَيَتَصَدَّقُونَ
"Orang-orang fakir datang kepada Nabi ﷺ
seraya berkata: 'Orang-orang kaya (Al-Dutsur: bentuk jamak dari Datsr, yaitu
harta yang banyak) telah memborong derajat yang tinggi dan kenikmatan yang
abadi; mereka shalat sebagaimana kami shalat, berpuasa sebagaimana kami
berpuasa, dan mereka memiliki kelebihan harta yang mereka gunakan untuk
berhaji, berumrah, berjihad, serta bersedekah.'
قَالَ: أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ بِأَمْرٍ
إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ أَدْرَكْتُمْ مَنْ سَبَقَكُمْ، وَلَمْ يُدْرِكْكُمْ أَحَدٌ
بَعْدَكُمْ، وَكُنْتُمْ خَيْرَ مَنْ أَنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِ، إِلاَّ مَنْ
عَمِلَ مِثْلَهُ: تُسَبِّحُونَ وَتَحْمَدُونَ وَتُكَبِّرُونَ خَلْفَ كُلِّ صَلَاةٍ
ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ
Beliau bersabda: 'Maukah kalian aku
ajarkan suatu amalan yang jika kalian mengamalkannya, niscaya kalian dapat
menyusul orang-orang yang mendahului kalian dan tidak ada seorang pun setelah
kalian yang dapat mengungguli kalian, serta kalian menjadi yang terbaik di
antara orang-orang di sekitar kalian, kecuali orang yang mengamalkan hal yang
sama: Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir setiap selesai shalat sebanyak
tiga puluh tiga kali.'
قَالَ أَبُو صَالِحٍ: فَرَجَعَ
فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ، فَقَالُوا: سَمِعَ إِخْوَانُنَا
أَهْلُ الْأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا فَفَعَلُوا مِثْلَهُ، فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ: ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ
Abu Shalih berkata: Lalu orang-orang
fakir dari kalangan Muhajirin kembali kepada Rasulullah dan berkata:
'Saudara-saudara kami orang-orang kaya mendengar apa yang kami kerjakan lalu
mereka melakukan hal yang sama.' Maka Rasulullah bersabda: 'Itulah karunia
Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dikehendaki-Nya.'" (HR.
Muslim)
سَادِسًا التَّبْكِيرُ لِصَلَاةِ الْجُمُعَةِ
6 – BERANGKAT AWAL UNTUK SHALAT JUMAT
رَوَى سَهْلُ بْنُ سَعْدٍ
السَّاعِدِيُّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
إِنَّ لَكُمْ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ حَجَّةً وَعُمْرَةً، فَالْحَجَّةُ: الْهَجِيرُ
لِلْجُمُعَةِ، وَالْعُمْرَةُ: انْتِظَارُ الْعَصْرِ بَعْدَ الْجُمُعَةِ
Sahl bin Sa'd Al-Sa'idi meriwayatkan,
ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya
bagi kalian pada setiap hari Jumat ada pahala haji dan umrah; maka haji itu
adalah berangkat awal (saat panas terik) menuju shalat Jumat, sedangkan umrah
adalah menunggu waktu Asar setelah shalat Jumat." (HR. Al-Baihaqi
dalam Sunan-nya no. 5950)
وَالْهَجِيرُ اشْتِدَادُ الْحَرِّ
نِصْفَ النَّهَارِ، وَالتَّهْجِيرُ وَالتَّهَجُّرُ وَالْإِهْجَارُ: السَّيْرُ فِي
الْهَاجِرَةِ
Al-Hajir bermakna: Sangat teriknya
panas di tengah hari. Sedangkan At-Tahjir, At-Tahajjur, dan Al-Ihbar bermakna:
Berjalan pada saat hari sangat terik (siang hari). (An-Nihayah fi Gharib
al-Hadith wa al-Athar karya Ibn al-Athir, bab 'hajar')
سَابِعًا قَضَاءُ حَوَائِجِ النَّاسِ
7 – MEMBANTU MEMENUHI KEBUTUHAN ORANG LAIN
Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dengan
sanadnya dari 'Ali bin Husain, ia berkata:
خَرَجَ الْحَسَنُ يَطُوفُ
بِالْكَعْبَةِ، فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا أَبَا مُحَمَّدٍ، اذْهَبْ
مَعِي فِي حَاجَةِ فُلَانٍ، فَتَرَكَ الطَّوَافَ وَذَهَبَ مَعَهُ
"Al-Hasan pernah keluar untuk bertawaf di Ka'bah, lalu seorang
laki-laki berdiri menemuinya dan berkata: 'Wahai Abu Muhammad, pergilah
bersamaku untuk membantu hajat si Fulan.' Maka Al-Hasan pun meninggalkan tawaf
dan pergi bersamanya.
فَلَمَّا ذَهَبَ، قَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ
حَاسِدٌ لِلرَّجُلِ الَّذِي ذَهَبَ مَعَهُ، فَقَالَ: يَا أَبَا مُحَمَّدٍ، تَرَكْتَ
الطَّوَافَ وَذَهَبْتَ مَعَهُ
Ketika ia pergi, seorang laki-laki yang dengki terhadap orang yang dibantu
tadi berdiri lalu berkata: 'Wahai Abu Muhammad, engkau meninggalkan tawaf dan
pergi bersamanya?'
قَالَ: فَقَالَ لَهُ الْحَسَنُ:
وَكَيْفَ لَا أَذْهَبُ مَعَهُ وَرَسُولُ اللَّهِ قَالَ: مَنْ ذَهَبَ فِي أَمْرٍ
لِأَخِيهِ الْمُسْلِمِ، فَقُضِيَتْ حَاجَتُهُ، كُتِبَتْ لَهُ حَجَّةٌ وَعُمْرَةٌ،
وَإِنْ لَمْ يُقْضَ كُتِبَتْ لَهُ عُمْرَةٌ، فَقَدِ اكْتَسَبْتُ حَجَّةً
وَعُمْرَةً، وَرَجَعْتُ إِلَى طَوَافِي.
Al-Hasan menjawab: 'Bagaimana aku
tidak pergi bersamanya padahal Rasulullah bersabda: Barangsiapa pergi untuk
suatu urusan saudaranya sesama muslim lalu hajatnya terpenuhi, dicatatkan
baginya pahala haji dan umrah; dan jika tidak terpenuhi, dicatatkan baginya pahala
umrah. Maka sungguh aku telah mendapatkan pahala haji dan umrah, lalu aku
kembali melanjutkan tawafku.'" (HR. Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman no.
7246)
وَقَوْلُهُ كُتِبَتْ لَهُ حَجَّةٌ
وَعُمْرَةٌ؛ أَيْ: كُتِبَ لَهُ ثَوَابُ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ مَقْبُولَتَيْنِ؛
مُكَافَأَةً لَهُ عَلَى السَّعْيِ فِي قَضَاءِ حَاجَةِ أَخِيهِ
Maksud sabda beliau: "Dicatatkan
baginya haji dan umrah"; yaitu dituliskan baginya pahala haji dan
umrah yang mabrur/diterima; sebagai balasan baginya atas upayanya dalam
memenuhi kebutuhan saudaranya. (As-Siraj al-Munir bi Sharh al-Jami'
as-Shaghir karya Al-'Azizi, 3/357)
ثَامِنًا بِرُّ الْوَالِدَيْنِ
8 – BERBAKTI
KEPADA KEDUA ORANG TUA
عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: أَتَى رَجُلٌ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: إِنِّي أَشْتَهِي
الْجِهَادَ وَلَا أَقْدِرُ عَلَيْهِ،
Dari Anas, ia berkata: "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ
lalu berkata: 'Sesungguhnya aku sangat ingin ikut berjihad namun aku tidak
mampu.'
قَالَ: هَلْ بَقِيَ مِنْ وَالِدَيْكَ
أَحَدٌ؟ قَالَ: أُمِّي، قَالَ: فَأَبْلِ اللَّهَ فِي بِرِّهَا
Beliau bersabda: 'Apakah masih ada
salah satu dari kedua orang tuamu yang masih hidup?' Ia menjawab: 'Ibuku.'
Beliau bersabda: 'Maka tunjukkanlah kesungguhanmu kepada Allah dalam
berbakti kepadanya.
فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ؛ فَأَنْتَ
حَاجٌّ وَمُعْتَمِرٌ وَمُجَاهِدٌ، فَإِذَا رَضِيَتْ عَنْكَ أُمُّكَ، فَاتَّقِ اللَّهَ
وَبِرَّهَا
Jika engkau telah melakukan hal itu, maka
engkau terhitung sebagai orang yang berhaji, berumrah, dan berjihad. Apabila
ibumu telah ridha kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan berbaktilah
kepadanya.'" (HR. Abu Ya'la dalam Musnad-nya no. 2760, dan
At-Thabrani dalam Al-Awsat dan Al-Shaghir dengan sanad jayyid) [19]
تَاسِعًا حُضُورُ مَجَالِسِ الْعِلْمِ
9 – HADIR DI
MAJELIS ILMU
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا
يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا، أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ
حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ
Dari Abu Umamah, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda: "Barangsiapa berangkat di pagi hari menuju masjid
tidak ada yang ia inginkan melainkan untuk mempelajari suatu kebaikan atau
mengajarkannya, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berhaji dengan
haji yang sempurna." (HR. At-Thabrani no. 7346, dan dishahihkan
oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib)
عَاشِرًا حُسْنُ تَبَعُّلِ الزَّوْجَةِ
لِزَوْجِهَا وَطَلَبُهَا مَرْضَاتَهُ
10 – PELAYANAN ISTRI YANG BAIK KEPADA SUAMINYA DAN USAHANYA MENCARI
KERIDHAANNYA
Al-Baihaqi dan selainnya meriwayatkan dari Asma' binti Yazid Al-Anshariyyah
dari Bani 'Abd Al-Asyhal:
أَنَّهَا أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بَيْنَ أَصْحَابِهِ، فَقَالَتْ: بِأَبِي أَنْتَ
وَأُمِّي، إِنِّي وَافِدَةُ النِّسَاءِ إِلَيْكَ، وَاعْلَمْ – نَفْسِي لَكَ
الْفِدَاءُ – أَمَا إِنَّهُ مَا مِنْ امْرَأَةٍ كَائِنَةٍ فِي شَرْقٍ وَلَا
غَرْبٍ، سَمِعَتْ بِمَخْرَجِي هَذَا أَوْ لَمْ تَسْمَعْ، إِلَّا وَهِيَ مِثْلُ
رَأْيِي
"Bahwasanya ia mendatangi Nabi ﷺ
saat beliau berada di antara para sahabatnya, lalu ia berkata: 'Demi ayah dan
ibuku sebagai tebusanmu, sesungguhnya aku adalah utusan kaum wanita kepadamu.
Dan ketahuilah – jiwaku sebagai tebusanmu – tidak ada seorang wanita pun baik
di timur maupun di barat, yang mendengar keberangkatanku ini atau tidak
mendengarnya, melainkan ia sependapat denganku.
إِنَّ اللَّهَ بَعَثَكَ بِالْحَقِّ
إِلَى الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ، فَآمَنَّا بِكَ وَبِإِلَهِكَ الَّذِي أَرْسَلَكَ،
وَإِنَّا - مَعْشَرَ النِّسَاءِ - مَحْصُورَاتٌ مَقْصُورَاتٌ، قَوَاعِدُ
بُيُوتِكُمْ، وَمَقْضَى شَهَوَاتِكُمْ، وَحَامِلَاتُ أَوْلَادِكُمْ
Sesungguhnya Allah mengutusmu dengan kebenaran kepada laki-laki dan wanita,
maka kami beriman kepadamu dan kepada Tuhanmu yang mengutusmu. Namun kami –
kaum wanita – terbatasi dan terkurung di rumah-rumah kalian, memenuhi syahwat
kalian, dan mengandung anak-anak kalian.
وَإِنَّكُمْ - مَعَاشِرَ الرِّجَالِ -
فُضِّلْتُمْ عَلَيْنَا بِالْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَاتِ، وَعِيَادَةِ الْمَرْضَى،
وَشُهُودِ الْجَنَائِزِ، وَالْحَجِّ بَعْدَ الْحَجِّ، وَأَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ الْجِهَادُ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Sedangkan kalian – kaum laki-laki – diunggulkan atas kami dengan shalat
Jumat, jamaah-jamaah, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, haji berkali-kali,
dan yang lebih utama dari itu adalah jihad di jalan Allah.
وَإِنَّ الرَّجُلَ مِنْكُمْ إِذَا
أُحْرِجَ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا وَمُرَابِطًا، حَفِظْنَا لَكُمُ الْأَمْوَالَ،
وَغَزَلْنَا لَكُمْ أَثْوَابًا، وَرَبَّيْنَا لَكُمْ أَوْلَادَكُمْ، فَمَا
نُشَارِكُكُمْ فِي الْأَجْرِ، يَا رَسُولَ اللَّهِ
Apabila salah seorang dari kalian
keluar berhaji, berumrah, atau bersiap siaga di perbatasan, kamilah yang
menjaga harta-harta kalian, memintalkan pakaian untuk kalian, dan mendidik
anak-anak kalian. Lalu apakah kami tidak berserikat bersama kalian dalam
pahala, wahai Rasulullah?'
قَالَ: فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَصْحَابِهِ بِوَجْهِهِ كُلِّهِ، ثُمَّ قَالَ:
Rasulullah ﷺ
pun menoleh kepada para sahabatnya dengan seluruh wajah beliau, kemudian
bersabda:
هَلْ سَمِعْتُمْ مَقَالَةَ امْرَأَةٍ
قَطُّ أَحْسَنَ مِنْ مَسْأَلَتِهَا فِي أَمْرِ دِينِهَا مِنْ هَذِهِ
'Apakah kalian pernah mendengar perkataan seorang wanita yang lebih baik
dari pertanyaannya tentang urusan agamanya daripada wanita ini?'
فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا
ظَنَنَّا أَنَّ امْرَأَةً تَهْتَدِي إِلَى مِثْلِ هَذَا
Para sahabat menjawab: 'Wahai Rasulullah, kami tidak pernah menyangka ada
wanita yang mampu mendapatkan pemikiran seperti ini.'
فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهَا ثُمَّ قَالَ لَهَا: انْصَرِفِي - أَيَّتُهَا
الْمَرْأَةُ - وَأَعْلِمِي مَنْ خَلْفَكِ مِنَ النِّسَاءِ أَنَّ حُسْنَ تَبَعُّلِ
إِحْدَاكُنَّ لِزَوْجِهَا، وَطَلَبَهَا مَرْضَاتَهُ، وَاتِّبَاعَهَا مُوَافَقَتَهُ
تَعْدِلُ ذَلِكَ كُلَّهُ
Lalu Nabi ﷺ
berpaling kepadanya dan bersabda: 'Pergilah – wahai wanita – dan
beritahukanlah kepada wanita-wanita di belakangmu bahwa baiknya pelayanan/sikap
berbakti salah seorang dari kalian kepada suaminya, usahanya mencari
keridhaannya, dan kepatuhannya pada persetujuannya menyamai seluruh pahala
amalan tersebut.'
قَالَ: فَأَدْبَرَتِ الْمَرْأَةُ، وَهِيَ تُهَلِّلُ وَتُكَبِّرُ اسْتِبْشَارًا
Laki-laki itu berkata: Maka wanita itu
pun berbalik pergi seraya bertahlil dan bertakbir dengan penuh
kegembiraan." (HR. Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman 11/177 no. 8369)
Post a Comment for "10 AMAL SETARA HAJI"