Pembaca rahimakumullah, berikut adalah 8 orang yang didoakan rahmat oleh Rasulullah ﷺ. Semoga bermanfaat!
1 – MENYAYANGI HAMBA
Imam
Bukhari meriwayatkan dari Usamah bin Zaid bahwa Rasulullah ﷺ menangis ketika menggendong salah satu
cucu beliau yang telah meninggal dunia. Maka Sa’ad berkata kepada beliau:
يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذَا
Ya Rasulullah!
Ada apa ini (mengapa Anda menangis)?
Kemudian
beliau ﷺ bersabda:
هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ
عِبَادِهِ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ
Ini
adalah rahmat yang Allah jadikan pada diri hambaNya. Sungguh, Allah hanya akan
merahmati orang yang memiliki sifat kasih sayang, (Sahih Bukhari: 1284).
Apa
maksudnya? Tertulis di dalam Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah:
أَنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ تَخْتَصُّ بِمَنِ
اتَّصَفَ بِالرَّحْمَةِ وَتَحَقَّقَ بِهَا بِخِلَافِ مَنْ فِيهِ أَدْنَى رَحْمَةٍ
Bahwa
rahmat Allah khusus diperuntukkan bagi orang yang memiliki sifat kasih sayang
dan benar-benar mewujudkannya dalam dirinya, berbeda dengan orang yang di dalam
dirinya hanya terdapat sekelumit (paling sedikit) kasih sayang.
Kemudian,
di antara pelajaran yang bisa diambil dari hadis ini adalah:
بَيَانُ رَحْمَةِ وَرِقَّةِ قَلْبِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
1 – Penjelasan
tentang kasih sayang dan kelembutan hati Nabi ﷺ.
جَوَازُ الْبُكَاكِ عَلَى الْمَيِّتِ مِنْ
غَيْرِ عَوِيلٍ وَلَا صُرَاخٍ؛ لِأَنَّ الْبُكَاءَ مَظْهَرٌ مِنْ مَظَاهِرِ رِقَّةِ
الْقَلْبِ وَرَحْمَتِهِ.
2 – Boleh
menangisi mayit tanpa ratapan dan teriakan; karena tangisan merupakan wujud
dari kelembutan dan kasih sayang hati.
تَرَاحُمُ الْعِبَادِ فِيمَا بَيْنَهُمْ
سَبَبٌ لِرَحْمَةِ اللَّهِ بِهِمْ.
3 - Saling
mengasihi antar sesama hamba menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepada mereka.
جَوَازُ اسْتِفْهَامِ التَّابِعِ مِنْ إِمَامِهِ
وَشَيْخِهِ عَمَّا يُشْكِلُ عَلَيْهِ.
4 – Boleh
bagi seorang murid/bawahan meminta penjelasan kepada pemimpin atau gurunya tentang
hal yang belum dipahaminya.
جَوَازُ اسْتِحْضَارِ ذَوِي الْفَضْلِ لِلْمُحْتَضَرِ؛
لِرَجَاءِ دُعَائِهِمْ.
5 – Boleh
menghadirkan orang-orang saleh/berilmu di hadapan orang yang sedang sakaratul
maut dengan harapan doa mereka.
السَّمَاحَةُ فِي البَيْعِ وَالشِّرَاءِ
وَالقَضَاءِ
2 – MUDAH & DERMAWAN DALAM MEMBELI, MENJUAL, SERTA MENAGIH/MEMBAYAR
HUTANG
Imam
Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ،
وَإِذَا اشْتَرَى، وَإِذَا اقْتَضَى
Semoga
Allah merahmati seseorang yang ramah dan memberi kemudahan ketika menjual,
ketika membeli, dan ketika menagih (atau membayar) haknya/hutangnya, (Sahih
Bukhari: 2076).
PENJELASAN:
Tertulis
di dalam Al Mausuatu Ahadisin Nabawiyah bahwa Nabi ﷺ mendoakan rahmat bagi setiap orang yang:
سَهْلًا جَوَادًا سَخِيًّا فِي بَيْعِهِ،
فَلَا يُشَدِّدُ عَلَى الْمُشْتَرِي فِي سِعْرِهَا وَيُعَامِلُهُ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
Mudah,
dermawan, dan murah hati dalam jualannya, tidak memperulit pembeli terkait
harganya dan memperlakukannya dengan akhlak yang baik.
سَهْلًا جَوَادًا سَخِيًّا إِذَا اشْتَرَى،
فَلَا يَبْخَسُ وَيُقَلِّلُ مِنْ قِيمَةِ الْبِضَاعَةِ.
Mudah,
dermawan, dan murah hati ketika membeli, tidak meremehkan dan merendahkan nilai
barang dagangan.
سَهْلًا جَوَادًا سَخِيًّا إِذَا طَالَبَ
بِقَضَاءِ الدُّيُونِ الَّتِي لَهُ، فَلَا يُشَدِّدُ عَلَى الْفَقِيرِ وَالْمُحْتَاجِ،
بَلْ يُطَالِبُهُ بِرِفْقٍ وَلُطْفٍ، وَيُنْظِرُ الْمُعْسِرَ.
Mudah,
dermawan, dan murah hati ketika menagih pembayaran utangnya, tidak memperulit
orang fakir dan yang membutuhkan, melainkan menagihnya dengan lembut dan
santun, serta memberikan penangguhan kepada orang yang kesulitan.
PELAJARAN DARI HADIS:
الْحَضُّ عَلَى الْمُسَامَحَةِ، وَحُسْنِ
الْمُعَامَلَةِ، وَاسْتِعْمَالِ مَحَاسِنِ الْأَخْلَاقِ وَمَكَارِمِهَا، وَتَرْكِ الْمُشَاحَّةِ
فِي الْبَيْعِ.
1 – Anjuran
untuk saling mempermudah, berbuat baik dalam berinteraksi, mengamalkan
keluhuran akhlak, serta meninggalkan sikap kaku dan kikir dalam bertransaksi
jual beli.
تَرْكُ التَّضْيِيقِ عَلَى النَّاسِ فِي
الْمُطَالَبَةِ، وَأَخْذُ الْعَفْوِ مِنْهُمْ.
2 – Tidak
menyempitkan atau menekan orang lain saat menagih hak, serta siap menerima
kelapangan dan kemudahan dari mereka.
مِنْ مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ الْحِفَاظُ
عَلَى مَا يُصْلِحُ الْعَلَاقَاتِ بَيْنَ النَّاسِ.
3 – Di
antara tujuan utama syariat (maqasid asy-syariah) adalah menjaga hal-hal yang
dapat memperbaiki hubungan antarmanusia.
التَّرْغِيبُ فِي اسْتِعْمَالِ مَعَالِي
الْأَخْلَاقِ فِي الْمُعَامَلَاتِ بَيْنَ النَّاسِ مِنْ الْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَنَحْوِ
ذَلِكَ.
4 – Dorongan
untuk menerapkan keutamaan akhlak dalam muamalah sehari-hari seperti jual beli
dan interaksi sejenisnya.
صَلَاةُ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ العَصْرِ
3 – SHALAT EMPAT RAKAAT SEBELUM ASHAR
Imam
At-Tirmizi meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ العَصْرِ
أَرْبَعًا
Semoga
Allah merahmati seseorang yang shalat empat rakaat sebelum (shalat) Ashar,
(Jami At-Tirmizi: 430).
PENJELASAN:
رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً أَيْ إِنْسَانًا،
وَهُوَ فِي مَعْنَى الْإِخْبَارِ الْمُتَضَمِّنِ لِلْبِشَارَةِ، وَقِيلَ: هُوَ دُعَاءٌ؛
وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ لَا يُرَدُّ، وَهُنَا إِشَارَةٌ إِلَى رَحْمَةِ النَّبِيِّ
ﷺ؛ حَيْثُ كَانَ يَدْعُو لِأُمَّتِهِ بِكُلِّ مَا يَنْفَعُهُمْ
Semoga
Allah merahmati seseorang artinya: seorang manusia. Kalimat ini bermakna
pengabaran yang mengandung kabar gembira, dan ada yang mengatakan: ini adalah
doa; sedangkan doa beliau dikabulkan dan tidak ditolak. Di sini terdapat
isyarat akan kasih sayang Nabi ﷺ, di mana beliau senantiasa mendoakan
umatnya dengan segala hal yang bermanfaat bagi mereka.
صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا أَيْ: أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ سُنَّةَ الْعَصْرِ، وَهِيَ مِنَ الْمُسْتَحَبَّاتِ.
Salat
empat rakaat sebelum Asar artinya: empat rakaat sunnah Asar, dan shalat ini
termasuk amalan yang dianjurkan (mustahab).
PELAJARAN DARI HADIS:
وَفِي الْحَدِيثِ: الْحَثُّ عَلَى النَّوَافِلِ
قَبْلَ الْعَصْرِ، وَمَا فِيهَا مِنَ الْتِمَاسِ دَعْوَةِ النَّبِيِّ ﷺ.
1 – Dalam
hadis ini terdapat: anjuran untuk melakukan amalan sunnah sebelum Asar, dan apa
yang ada di dalamnya berupa upaya mengharapkan doa dari Nabi ﷺ.
التَّرْغِيبُ فِي صَلَاةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ
تَطَوُُّعًا قَبْلَ صَلَاةِ الْعَصْرِ، وَأَنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ مِنْ أَسْبَابِ حُصُولِ
رَحْمَةِ اللَّهِ -تَعَالَى-.
2 – Anjuran
untuk melakukan shalat sunnah empat rakaat sebelum shalat Asar, dan bahwasanya
shalat ini termasuk sebab mendapatkan rahmat Allah Ta'ala.
هَذِهِ الرَّكَعَاتُ الْأَرْبَعُ قَبْلَ
الْعَصْرِ لَيْسَتْ مِنَ الرَّوَاتِبِ، وَإِنَّمَا هِيَ مِنَ السُّنَنِ النَّوَافِلِ،
الَّتِي لَيْسَتْ لَهَا مَرْتَبَةُ الرَّوَاتِبِ فِي الْفَضْلِ وَالْمُحَافَظَةِ.
3 – Empat
rakaat sebelum Asar ini bukanlah bagian dari shalat sunnah Rawatib, melainkan
termasuk shalat sunnah biasa (Nawafil), yang tingkatan keutamaan serta
pengulangan rutinitasnya tidak setingkat dengan shalat Rawatib.
الِاسْتِحْلَالُ مِنَ المَظَالِمِ فِي الدُّنْيَا
4 – MEMINTA HALAL/MAAF ATAS KEZALIMAN DI DUNIA
Imam
At-Tirmizi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا كَانَتْ لِأَخِيهِ
عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ فِي عِرْضٍ أَوْ مَالٍ، فَجَاءَهُ فَاسْتَحَلَّهُ قَبْلَ أَنْ
يُؤْخَذَ، وَلَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، فَإِنْ كَانَتْ لَهُ حَسَنَاتٌ
أُخِذَ مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ حَمَلُوا عَلَيْهِ مِنْ
سَيِّئَاتِهِمْ
Semoga
Allah merahmati seorang hamba yang memiliki tanggungan kezaliman terhadap
saudaranya, baik terkait kehormatan maupun harta, lalu ia mendatangi saudaranya
tersebut dan meminta dihalalkan (dimaafkan) sebelum (hari kiamat) diambil
darinya, di mana saat itu tidak ada lagi dinar maupun dirham. Apabila ia
memiliki kebaikan, maka kebaikannya akan diambil (untuk membayar kezalimannya).
Namun jika ia tidak memiliki kebaikan, maka keburukan-keburukan dari saudaranya
itu akan dipikulkan kepadanya, (Jami At-Tirmizi: 2419).
PENJELASAN:
كَانَتْ لِأَخِيهِ أَيْ فِي الدِّينِ
Ada
pada saudaranya yaitu saudara sesama agama.
عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ: بِكَسْرِ اللَّامِ
وَيُفْتَحُ اِسْمُ مَا أَخَذَهُ الظَّالِمُ أَوْ تَعَرَّضَ لَهُ
Kezaliman
padanya dibaca dengan kasrah pada huruf Lam (mazlimah) atau fathah (mazlamah),
merupakan nama bagi sesuatu yang diambil oleh orang yang zalim atau yang ia
langgar/ganggu.
فِي عِرْضٍ: بِكَسْرِ الْعَيْنِ هُوَ مَوْضِعُ
الْمَدْحِ وَالذَّمِّ مِنَ الْإِنْسَانِ سَوَاءٌ كَانَ فِي نَفْسِهِ أَوْ سَلَفِهِ
أَوْ مَنْ يَلْزَمُهُ أَمْرُهُ.
Mengenai
kehormatan dengan kasrah pada huruf 'Ain ('irdh), yaitu bagian dari diri
manusia yang menjadi sasaran pujian dan celaan, baik terkait dirinya sendiri,
leluhurnya, maupun orang yang menjadi tanggung jawabnya.
وَقِيلَ هُوَ جَانِبُهُ الَّذِي يَصُونُهُ
مِنْ نَفْسِهِ وَنَسَبِهِ وَحَسَبِهِ وَيُحَامِي عَنْهُ أَنْ يُنْتَقَصَ وَيُثْلَبَ.
Ada
pula yang mengatakan: itu adalah sisi kehormatan yang ia jaga dari dirinya,
nasabnya, dan martabatnya, serta ia lindungi agar tidak dikurangi atau dicela.
وَقِيلَ نَفْسُهُ وَبَدَنُهُ لَا غَيْرُ
Dan
ada yang berpendapat: yaitu jiwa dan badannya saja, tidak yang lain.
فَجَاءَهُ أَيْ جَاءَ الظَّالِمُ الْمَظْلُومَ
Lalu
ia mendatanginya yaitu orang yang zalim mendatangi orang yang dizalimi.
فَاسْتَحَلَّهُ قَالَ فِي النِّهَايَةِ:
يُقَالُ تَحَلَّلْتُهُ وَاسْتَحْلَلْتُهُ إِذَا سَأَلْتَهُ أَنْ يَجْعَلَكَ فِي حِلٍّ
Lalu
meminta kehalalan/maaf darinya. Disebutkan dalam kitab Al-Nihayah: dikatakan
tahallaltuhu dan istahlaltuhu apabila engkau memintanya agar membebaskanmu
(memaafkanmu).
قَبْلَ أَنْ يُؤْخَذَ. قَالَ الْمَنَاوِيُّ
أَيْ تُقْبَضَ رُوحُهُ
Sebelum
diambil. Al-Munawi berkata: yaitu sebelum ruhnya dicabut (meninggal dunia).
وَلَيْسَ ثَمَّ أَيْ هُنَاكَ يَعْنِي في
الْقِيَامَةِ
Dan
tidak ada di sana yaitu di sana, maksudnya pada hari kiamat.
دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ قُضِيَ بِهِ
Dinar
maupun dirham yang digunakan untuk membayar/selesaikan perkara tersebut.
فَإِنْ كَانَتْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ
حَسَنَاتِهِ أَيْ فَيُوَفَّى مِنْهَا لِصَاحِبِ الْحَقِّ
Maka
jika ia memiliki kebaikan, diambil dari kebaikannya yaitu diambillah dari
kebaikannya untuk disempurnakan (dibayarkan) kepada pemilik hak.
وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أَوْ
لَمْ تَفِ بِمَا عَلَيْهِ
Dan jika
ia tidak memiliki kebaikan atau kebaikannya tidak mencukupi tanggungannya.
حَمَلُوا عَلَيْهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِمْ أَيْ
أَلْقَى أَصْحَابُ الْحُقُوقِ مِنْ ذُنُوبِهِمْ بِقَدْرِ حُقُوقِهِمْ ثُمَّ يُقْذَفُ
فِي النَّارِ.
Mereka
membebankan padanya dari dosa-dosa mereka yaitu para pemilik hak mempunyai dosa
yang kemudian dilimpahkan kepadanya sesuai kadar hak mereka, lalu ia
dilemparkan ke dalam neraka.
قِيَامُ اللَّيْلِ
5 – SALAT MALAM
Imam
Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ
Semoga
Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari (untuk salat),
(Musnad Ahmad: 7369).
Sufyan
bin Uyainah berkata:
لَا تَرُشَّ فِي وَجْهِهِ تَمْسَحُهُ
Tanpa cipratan
air pada wajahnya.
PENJELASAN:
رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا: إِخْبَارٌ عَنْ
اسْتِحْقَاقِهِ الرَّحْمَةَ، وَاسْتِيجَابِهِ لَهَا، أَوْ دُعَاءٌ لَهُ بِهَا، وَمَدْحٌ
لَهُ بِحُسْنِ مَا فَعَلَ.
Semoga Allah merahmati seorang laki-laki: Ini adalah pemberitahuan
tentang kelayakannya menerima rahmat dan keharusannya mendapakannya, atau doa
baginya agar mendapatkan rahmat tersebut, serta pujian kepadanya atas kebaikan
apa yang telah ia perbuat.
لَا يُرَشُّ فِي وَجْهِهِ: صِفَةُ رَجُلٍ،
وَهُوَ عَلَى بِنَاءِ الْمَفْعُولِ؛ أَيْ: مَا احْتَاجَ فِي قِيَامِهِ إِلَى أَنْ يُرَشَّ
فِي وَجْهِهِ، بَلْ قَامَ مِنْ غَيْرِ رَشٍّ، وَهَذَا بَيَانُ خِفَّتِهِ فِي الْقِيَامِ،
وَعَدَمِ ثِقَلِهِ فِيهِ.
Tanpa cipratan air pada wajahnya: merupakan sifat dari
laki-laki tersebut, dan kata kerja ini berbentuk pasif (mabni lil maf'ul);
artinya: ia tidak membutuhkan cipratan air pada wajahnya untuk bangun (shalat
malam), melainkan ia langsung bangun tanpa perlu diperciki air, dan ini
menunjukkan kemudahannya/kesigapannya untuk bangun serta tidak adanya rasa
berat dalam melaksanakannya.
القِيَامُ مِنَ اللَّيْلِ وَتَعَاوُنُ الزَّوْجَيْنِ
عَلَيْهِ
6 - BANGUN SALAT MALAM DAN SALING MEMBANTU ANTARA SUAMI ISTRI DALAM
MELAKSANAKANNYA
Imam
Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ
فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا المَاءَ، رَحِمَ
اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإِنْ
أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ المَاءَ
Semoga
Allah merahmati seorang suami yang bangun di malam hari lalu shalat (malam) dan
membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan (enggan bangun/sulit bangun), ia
memercikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang istri yang
bangun di malam hari lalu shalat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya
enggan, ia memercikkan air ke wajah suaminya, (Sunan Abu Dawud: 1308).
الحَلْقُ فِي الحَجِّ وَالعُمْرَةِ
7 – MENCUKUR RAMBUT KETIKA HAJI ATAU UMRAH
Imam
Ahmad meriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya ia
berkata:
حَلَقَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَحَلَقَ طَائِفَةٌ
مِنْ أَصْحَابِهِ وَقَصَّرَ بَعْضُهُمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: رَحِمَ اللَّهُ
المُمَحْلِقِينَ -مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ- ثُمَّ قَالَ: وَالمُقَصِّرِينَ
Rasulullah
ﷺ mencukur gundul rambutnya, demikian pula sekelompok dari para
sahabat beliau mencukur gundul, sedangkan sebagian lainnya hanya memendekkan
rambutnya. Maka Rasulullah ﷺ berdoa: 'Semoga Allah merahmati
orang-orang yang mencukur gundul rambutnya' (beliau mengucapkannya sekali atau
dua kali) kemudian beliau menambahkan: 'Dan (semoga Allah merahmati) orang-orang
yang memendekkan rambutnya,’ (Musnad Ahmad: 6005).
PENJELASAN:
Hadis senada
diriwayatkan dari dua jalur, yaitu dari Abdullah bin Umar dan Abdullah bin
Abbas. Jika diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, maka kejadian itu ketika haji
wada, sedang jika diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, maka itu terjad ketika
Perjanjian Hudaibiyah.
Kompromi
dari dua riwayat tersebut adalah bahwa Nabi ﷺ mendoakan hal demikian sampai dua kali.
وَالْحَلْقُ يَكُونُ بِإِزَالَةِ جَمِيعِ
الشَّعْرِ مِنْ أُصُولِهِ،
Al-Halq
artinya menghilangkan/memotong seluruh rambut hingga ke akarnya.
التَّقْصِيرُ يَكُونُ بِقَصِّ بَعْضِ الشَّعْرِ
مِنْ أَعْلَاهُ أَوْ مِنْ جَوَانِبِ الرَّأْسِ،
At-Taqshir
(memendekkan rambut) dilakukan dengan memotong sebagian rambut dari bagian atas
atau dari sisi-sisi kepala.
حِفْظُ حَدِيثِ النَّبِيِّ ﷺ وَتَبْلِيغُهُ
8 – MENGHAFAL HADIS NABI ﷺ DAN
MENYAMPAIKANNYA
Imam
Ibnu Hibbban meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu Anhu bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنِّي حَدِيثًا
فَحَفِظَهُ، حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ؛ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهِ إِلَى مَنْ هُوَ
أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهِ لَيْسَ بِفَقِيهٍ. ثَلَاثُ خِصَالٍ لَا يَغِلُّ
عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ: إِخْلَاصُ العَمَلِ لِلَّهِ، وَمُنَاصَحَةُ وُلَاةِ الأَمْرِ،
وَلُزُومُ الجَمَاعَةِ؛ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ
Semoga
Allah merahmati seseorang yang mendengar sebuah hadis dariku lalu ia
menghafalnya hingga menyampaikannya kepada orang lain. Sebab, betapa banyak
orang yang membawa pemahaman agama (ilmu) kepada orang yang lebih paham
darinya, dan betapa banyak orang yang membawa pemahaman agama padahal ia
sendiri bukan seorang yang paham. Ada tiga hal yang hati seorang muslim tidak
akan dengki dengannya: mengikhlaskan amal karena Allah, memberi nasihat kepada
para pemimpin (pemerintah), dan senantiasa komitmen bersama jamaah muslimin;
karena sesungguhnya doa mereka meliputi dari belakang mereka, (Sahih Ibnu
Hibban: 67).
Demikianlah,
8 orang yang didoakan rahmat oleh Rasulullah ﷺ. Semoga bermanfaat!
Karangasem,
25 Juli 2026
Irfan
Nugroho (Sehari setelah ayah mertua meninggal dunia)
Post a Comment for "8 ORANG YANG DIDOAKAN RAHMAT OLEH RASUL ﷺ"