Pembaca rahimakumullah, berikut
adalah beberapa sebab magrfirah (ampunan) dari Quran dan Sunah yang dikumpulkan
oleh Syaikh Ahmad Khalid Al-Utaibi. Semoga bermanfaat!
Pembaca rahimakumullah, sebelum
masuk ke sana, Imam At-Tirmizi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu
bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً
نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ
سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ
الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ
Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan
(dosa), maka akan ditorehkan satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia
meninggalkan dosa tersebut, memohon ampunan, serta bertobat, maka hatinya akan
dibersihkan. Namun, jika ia kembali melakukan dosa, noda hitam itu akan terus
bertambah hingga menutupi seluruh hatinya. Itulah al-rān (penutup hati) yang
disebutkan oleh Allah:
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا
كَانُوا يَكْسِبُونَ
Sekali-kali tidak (demikian),
sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka, (QS. Al Muthaffifin:
14), (Jami At-Tirmizi: 3334).
Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi
ketika menafsirkan (رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ) berkata:
غَطَّى قُلُوبَهُمْ وَحَجَبَهَا عَنْ قَبُولِ
الْحَقِّ
Menutupi hati mereka dan menghalanginya
dari menerima kebenaran, (Aisarut Tafasir).
Maka dari situ kita perlu menjaga
agar hati tetap bersih, atau membersihkannya dari dosa, dengan mengupayakan
magfirah dari Allah ta’ala.
APA YANG DIMAKSUD MAGFIRAH?
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah
berkata tentang makna Magfirah:
هِيَ سَتْرُ الذَّنْبِ وَالتَّجَاوُزُ عَنْهُ
Menutupi dosa dan memaafkannya,
(Tafsir Ali Imran: 2/554).
Lalu apa saja pintu-pintu untuk
mendapat ampunan Allah?
أَسْبَابُ الْمَغْفِرَةِ مِنَ الْكِتَابِ
وَالسُّنَّةِ
SEBAB MAGFIRAH
DARI QURAN DAN SUNAH
السَّبَبُ الْأَوَّل:
تَقْوَى اللَّهِ تَعَالَى،
1 – BERTAKWA KEPADA ALLAH TA'ALA
Yang dimaksud dengan takwa adalah:
خَوْفُ الْعَبْدِ
مِنَ اللَّهِ تَعَالَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ
Takutnya seorang hamba kepada Allah ta’ala ketika sendiri
atau di keramaian. Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada
Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (petunjuk/kemampuan
membedakan antara yang hak dan yang batil), menghapuskan kesalahan-kesalahanmu,
dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah memiliki karunia yang besar, (QS.
Al-Anfal: 29).
Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi berkata:
Ini merupakan dorongan untuk bertakwa dan anjuran padanya
dengan menyebutkan hasil-hasil terbesar darinya, yaitu:
أَوَّلًا: إِعْطَاءُ
الْفُرْقَانِ، وَهُوَ النَّصْرُ وَالْفَصْلُ بَيْنَ كُلِّ مُشْتَبَهٍ، وَالتَّمْيِيزُ
بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَالضَّارِّ وَالنَّافِعِ، وَالصَّحِيحِ وَالْفَاسِدِ.
Pertama: Dianugerahkannya al-furqan, yaitu
pertolongan dan pemisah di antara setiap hal yang samar, serta kemampuan
membedakan antara yang hak dan yang batil, yang memudaratkan dan yang
bermanfaat, serta yang sahih (benar) dan yang rusak (salah).
وَثَانِيًا: تَكْفِيرُ
السَّيِّئَاتِ.
Kedua: Penghapusan kesalahan-kesalahan.
وَثَالِثًا: مَغْفِرَةُ
الذُّنُوبِ.
Ketiga: Pengampunan dosa-dosa.
وَرَابِعًا: الْأَجْرُ
الْعَظِيمُ الَّذِي هُوَ الْجَنَّةُ وَنَعِيمُهَا.
Keempat: Pahala yang besar, yaitu surga beserta
kenikmatannya.
الَسَّبَبُُ: الْاِسْتِغْفَارُ؛ فَاسْتِغْفَارُ
الْعَبْدِ مِنْ ذُنُوبِهِ وَخَطَايَاهُ، وَعَدَمُ إِصْرَارِهِ عَلَى فِعْلِ الذُّنُوبِ
وَالْمَعَاصِي، مِنْ أَهَمِّ أَسْبَابِ دُخُولِ الْجَنَّةِ وَمَغْفِرَةِ الذُّنُوبِ.
2 - ISTIGFAR
Istigfar seorang hamba atas
dosa-dosa dan kesalahannya, serta tidak terus-menerus melakukan dosa dan
maksiat, termasuk sebab paling penting masuk surga dan ampunan dosa.
Allah Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ
ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
* أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
Dan orang-orang yang apabila
melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka ingat Allah lalu
memohon ampunan atas dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa
selain Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan dosanya itu sedangkan mereka
mengetahui. Mereka itu balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan
surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.
Itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal, (QS Ali 'Imran:
135-136).
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu
Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ: اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، فَقَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا،
فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ، وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ،
Seorang hamba melakukan suatu
dosa lalu berdoa: Ya Allah, ampunilah dosaku. Maka Allah Tabaraka wa Ta'ala
berfirman: Hamba-Ku telah melakukan dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia
memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menghukum perbuatan dosa.
ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ
اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا، فَعَلِمَ
أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ، وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ،
Kemudian dia kembali melakukan
dosa lalu berdoa: Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku. Maka Allah Tabaraka wa
Ta'ala berfirman: Hamba-Ku telah melakukan dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia
memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menghukum perbuatan dosa.
ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ
اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا، فَعَلِمَ
أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ، وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ،
Kemudian dia kembali melakukan
dosa lalu berdoa: Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku. Maka Allah Tabaraka wa
Ta'ala berfirman: Hamba-Ku telah melakukan dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia
memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menghukum perbuatan dosa.
قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي فَلْيَفْعَلْ مَا
شَاءَ
Sungguh Aku telah mengampuni
hamba-Ku, maka hendaklah dia berbuat sekehendaknya, (Sahih Muslim: 2758).
PELAJARAN DARI HADIS:
وَفِي الْحَدِيثِ: عِظَمُ فَائِدَةِ الاسْتِغْفَارِ،
وَكَثْرَةُ فَضْلِ اللَّهِ، وَسَعَةُ رَحْمَتِهِ وَحِلْمِهِ وَكَرَمِهِ.
1 – Dan di dalam hadis ini dijelaskan tentang besarnya
manfaat istigfar, banyaknya karunia Allah, serta luasnya rahmat, kesantunan,
dan kemurahan-Nya.
وَفِيهِ: أَنَّ التَّوْبَةَ الصَّحِيحَةَ
لَا يَضُرُّ فِيهَا الْعَوْدَةُ إِلَى الذَّنْبِ ثَانِيًا، بَلْ مَضَتْ عَلَى صِحَّتِهَا،
وَيَتُوبُ مِنَ الْمَعْصِيَةِ الثَّانِيَةِ.
2 – Dan di dalamnya juga terdapat penjelasan bahwasanya
tobat yang sah (benar) tidaklah dirusak oleh perbuatan dosa yang terulang
kembali untuk kedua kalinya, melainkan tobat yang pertama tetap sah, dan ia
cukup bertobat kembali dari kemaksiatan yang kedua.
وَفِيهِ: بَيَانُ أَهَمِّيَّةِ الْعِلْمِ
الشَّرْعِيِّ الَّذِي يَجْعَلُ الْعَبْدَ فَاهِمًا لِأُمُورِ دِينِهِ فَيَتُوبُ كُلَّمَا
أَخْطَأَ.
3 – Dan di dalamnya terdapat
penjelasan tentang pentingnya ilmu syar'i yang menjadikan seorang hamba
memahami urusan agamanya, sehingga ia senantiasa bertobat setiap kali melakukan
kesalahan.
Imam Muslim juga meriwayatkan
dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ
اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ
لَهُمْ
Demi Zat yang jiwaku berada di
tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan
memusnahkan kalian dan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka
memohon ampunan kepada Allah Ta'ala, kemudian Allah mengampuni mereka, (Sahih
Muslim: 2749).
PELAJARAN DARI HADIS:
فِيهِ بَيَانُ عَفْوِ اللَّهِ تَعَالَى وَتَجَاوُزِهِ
عَنِ الْمُذْنِبِينَ التَّائِبِينَ؛ لِيَرْغَبُوا فِي التَّوْبَةِ إِلَى اللَّهِ فَيَتُوبُوا،
وَلِيُبَيِّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ
كَمَا يُجَازِي الْمُحْسِنِينَ بِإِحْسَانِهِمْ فَإِنَّهُ يَعْفُو وَيَصْفَحُ عَنِ
الْمُذْنِبِينَ.
Di dalamnya terdapat penjelasan
tentang ampunan Allah Ta'ala dan pemaafan-Nya terhadap orang-orang berdosa yang
bertobat; agar mereka berkeinginan untuk bertobat kepada Allah lalu mereka
bertobat, serta agar Nabi ﷺ menjelaskan bahwasanya
Allah ta’ala sebagaimana Dia
membalas orang-orang yang berbuat baik atas kebaikan mereka, Dia juga memberi
ampunan dan memaafkan orang-orang yang berdosa.
السَّبَبُ الثَّانِي: الْمُحَافَظَةُ عَلَى
الصَّلَاةِ
3 – MENJAGA SALAT
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu
Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
أَرَأَيْتُمْ لَوْ
أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ
ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ
مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا
Bagaimana pendapat kalian jika
ada sebuah sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi
di dalamnya lima kali setiap hari, apakah masih ada kotoran yang tersisa padanya?
Para sahabat menjawab, “Tidak ada kotoran yang tersisa padanya sedikit pun.”
Beliau bersabda, "Demikian itulah perumpamaan salat lima waktu, Allah
menghapuskan dosa-dosa dengannya,” (Sahih Bukhari: 528).
Di dalam riwayat Imam Muslim dari
Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu ada tambahkan bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ
وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ
إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
Salat lima waktu dan Jumat ke
Jumat berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, selama tidak
melakukan dosa-dosa besar, (Sahih Muslim: 233).
Imam Ibnu Hibban meriwayatkan
dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma yang melihat seorang pemuda berdiri
begitu lama ketika salat, maka beliau berkata:
لَوْ كُنْتُ أَعْرِفُهُ
لَأَمَرْتُهُ أَنْ يُطِيلَ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ
Seandainya saya mengenal orang
itu, pasti akan saya perintahkan dia untuk memperpanjang rukuk dan sujud.
Karena beliau pernah mendengar
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ
إِذَا قَامَ يُصَلِّي، أُتِيَ بِذُنُوبِهِ، فَوَضَعَتْ عَلَى رَأْسِهِ، أَوْ عَاتِقِهِ،
فَكُلَّمَا رَكَعَ أَوْ سَجَدَ، تَسَاقَطَتْ عَنْهُ.
Sesungguhnya seorang hamba
apabila berdiri untuk salat, dosa-dosanya didatangkan lalu diletakkan di atas
kepala dan kedua bahunya. Setiap kali ia rukuk dan sujud, dosa-dosa tersebut
berguguran darinya, (Sahih Ibnu Hibban: 1734).
PENJELASAN:
أَنَّهُ كُلَّمَا
أَتَمَّ رُكْنًا مِنَ الصَّلَاةِ، سَقَطَ عَنْهُ رُكْنٌ مِنَ الذُّنُوبِ حَتَّى إِذَا
أَتَمَّهَا تَكَامَلَ السُّقُوطُ، وَهَذَا فِي صَلَاةٍ مُتَوَفِّرَةِ الشُّرُوطِ وَالْأَرْكَانِ
وَالْخُشُوعِ وَجَمِيعِ الْآدَابِ كَمَا يُؤْذِنُ بِهِ لَفْظُ الْعَبْدِ وَالْقِيَامِ.
Bahwasanya setiap kali ia
menyempurnakan satu rukun dari salat, gugur pula darinya satu bagian dari
dosa-dosanya, hingga ketika ia telah menyempurnakan salatnya, gugurlah seluruh
dosanya secara sempurna. Dan hal ini berlaku pada salat yang terpenuhi
syarat-syarat, rukun-rukun, kekhusyukan, serta seluruh adab-adabnya,
sebagaimana yang diisyaratkan oleh lafaz al-'abd (seorang hamba) dan al-qiyām
(berdiri salat).
السَّبَبُ الثَّالِثُ:
مُوَافَقَةُ الْمُصَلِّي لِلْحَمْدِ مَعَ الْمَلَائِكَةِ عَقِبَ الرَّفْعِ مِنَ الرُّكُوعِ
4 – MENGUCAPKAN PUJIAN BERSAMA PARA MALAIKAT SETELAH BANGKIT DARI RUKUK
Imam Bukhari meriwayatkan dari
Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
إِذَا قَالَ الْإِمَامُ
سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ فَإِنَّهُ
مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Jika Imam mengucapkan, “Samiallahu
liman hamidah,” kemudian makmum mengucapkan, “Allahumma Rabbana lakal hamdu,”
maka siapa saja yang ucapannya berbarengan dengan ucapan malaikat, akan
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, (Sahih Bukhari: 796).
PENJELASAN:
Berbarengan di sini maksudnya:
إِنَّ الْمَلَائِكَةَ
تَقُولُ هَذَا الدُّعَاءَ عَقِبَ قَوْلِ الْإِمَامِ، فَمَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَهَا
فِي التَّوْقِيتِ
Sesungguhnya para malaikat juga
mengucapkan doa tersebut setelah imam. Jadi, berbarengan dengan ucapan para
malaikat di sini maksudnya dalam hal waktu.
السَّبَبُ الرَّابِعُ:
الذِّكْرُ الْوَارِدُ بَعْدَ الْأَذَانِ
5 – MEMBACA ZIKIR YANG DIANJURKAN SETELAH AZAN
Imam Abu Dawud meriwayatkan dari
Sa’ad bin Abi Waqash bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
مَنْ قَالَ حِينَ
يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ
رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا غُفِرَ لَهُ
Siapa saja yang setelah mendengar
azan mengucapkan:
أَشْهَدُ أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا
Dosa-dosanya akan diampuni,
(Sunan Abu Dawud: 525).
السَّبَبُ الْخَامِسُ:
إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ وَالْمَشْيُ إِلَى الْمَسَاجِدِ
6 – MENYEMPURNAKAN WUDU DAN BERJALAN MENUJU MASJID
Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا تَوَضَّأَ
الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوْ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ
خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ،
Apabila seorang hamba yang muslim atau mukmin berwudu lalu
ia membasuh wajahnya, maka keluar dari wajahnya setiap kesalahan yang dilihat
oleh kedua matanya bersamaan dengan air atau bersamaan dengan tetes air yang
terakhir,
فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ
خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ
مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ،
Apabila ia membasuh kedua tangannya, maka keluar dari kedua
tangannya setiap kesalahan yang diperbuat oleh kedua tangannya bersamaan dengan
air atau bersamaan dengan tetes air yang terakhir,
فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ
خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ
الْمَاءِ حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ
Dan apabila ia membasuh kedua kakinya, maka keluar setiap
kesalahan yang dilangkahi oleh kedua kakinya bersamaan dengan air atau
bersamaan dengan tetes air yang terakhir, hingga ia keluar dalam keadaan bersih
dari dosa-dosa, (Sahih Muslim: 244)
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا أَدُلُّكُمْ
عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟
"Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang
dengannya Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan dan mengangkat
derajat-derajat?"
Para sahabat menjawab:
بَلَى يَا رَسُولَ
اللَّهِ
Tentu, wahai Rasulullah.
Kemudian beliau ﷺ bersabda:
إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ
عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ
بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ
“Menyempurnakan wudu
pada kondisi-kondisi yang tidak disukai (seperti saat dingin), memperbanyak
langkah menuju masjid-masjid, dan menunggu salat setelah salat, maka itulah
ribath (penjagaan diri), maka itulah ribath, (Sahih Muslim: 251).
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ
الْوُضُوءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ، حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ
Barang siapa yang berwudu lalu memperbagus wudunya, maka
keluar kesalahan-kesalahannya dari jasadnya, hingga keluar dari bawah
kuku-kukunya, (HR. Muslim no. 245)
Dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu yang berkata:
رَأَيْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ مِثْلَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ
قَالَ:
Aku melihat Rasulullah ﷺ berwudu seperti wuduku
ini, kemudian beliau bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ هَكَذَا
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَكَانَتْ صَلَاتُهُ وَمَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ
نَافِلَةً
Barang siapa berwudu seperti ini,
niscaya diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu, dan salatnya serta
jalannya menuju masjid menjadi pahala tambahan baginya, (Sahih Muslim).
السَّبَبُ السَّادِسُ:
الْأَذَانُ لِلصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوضَةِ
7 – MENGUMANDANGKAN AZAN UNTUK SALAT-SALAT FARDU
Imam An Nasai meriwayatkan dari Bara bin Azib Radhiyallahu
Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ، وَالْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ مَدَّ صَوْتِهِ،
وَيُصَدِّقُهُ مَنْ سَمِعَهُ مِنْ رَطْبٍ وَيَابِسٍ، وَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ صَلَّى
مَعَهُ
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat atas
shaf terdepan. Dan muazin diampuni sejauh jangkauan suaranya, serta dibenarkan
oleh apa saja yang mendengarnya baik yang basah maupun yang kering (makhluk
hidup maupun benda mati), dan ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang
salat bersamanya, (Sunan An Nasai: 646).
السَّبَبُ الثَّامِنُ:
الذِّكْرُ بَعْدَ الْوُضُوءِ
8 – ZIKIR SETELAH WUDU
Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ
أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، إِلَّا
فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudu lalu
menyempurnakan wudunya, kemudian ia mengucapkan: 'Asyhadu allā ilāha illallāh
wa anna muhammadan 'abdullāhi wa rasūluh' (Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan
selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya),
melainkan dibukakan baginya delapan pintu surga dan ia boleh masuk dari pintu
mana saja yang ia kehendaki, (Sahih Muslim: 234).
السَّبَبُ التَّاسِعُ:
ذِكْرُ اللَّهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ
9 – MENGINGAT (ZIKIR KEPADA) ALLAH SETIAP SAAT
Imam At-Tirmzi meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا عَلَى الْأَرْضِ
أَحَدٌ يَقُولُ:
Tidaklah ada seorang pun di muka bumi ini yang mengucapkan:
لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ،
'Lā ilāha illallāh, wallāhu akbar, wa lā haula wa lā quwwata
illā billāh' (Tidak ada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, dan tidak ada
daya maupun kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah),
إِلَّا كُفِّرَتْ
عَنْهُ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
melainkan dihapuskan darinya kesalahan-kesalahannya meskipun
banyaknya seperti buih di lautan, (Jami At-Tirmidzi: 3460).
السَّبَبُ الْعَاشِرُ:
الذِّكْرُ عِنْدَ لَبْسِ الثَّوْبِ
10 – BERDOA KETIKA MEMAKAI BAJU
Imam Abu Dawud meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَبِسَ ثَوْبًا
فَقَالَ:
Barang siapa yang mengenakan pakaian lalu mengucapkan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ
الَّذِي كَسَانِي هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ،
'Al-hamdu lillāhil-ladzī kasānī hādzat-tsauba wa razaqanīhi
min ghairi haulin minnī wa lā quwwatin' (Segala puji bagi Allah yang telah
memakaikan pakaian ini kepadaku dan mengaruhiakannya kepadaku tanpa daya dan
kekuatan dariku),
غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ
niscaya diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu dan
yang akan datang, (Sunan Abu Dawud no. 4023).

Post a Comment for "SEBAB MAGFIRAH DARI QURAN DAN SUNAH"