zmedia

KHUTBAH IDUL ADHA & UDHIYAH - SYAIKH KHALID MAHMUD AL JUHANI

Pembaca rahimakumullah, berikut adalah naskah khutbah idul adha yang yang kami terjemahkan dari Tuhfatul Abrar karya Syaikh Khalid Mahmud Al Juhani hafizahullah. Semoga bermanfaat!

KHUTBAH 1

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدًا، وَأَفَاضَ عَلَيْهِمْ مِنْ فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ مَزِيْدًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah.. Sesungguhnya kita berada di hari yang agung, termasuk di antara hari-hari yang paling utama di sisi Allah Azza wa Jalla dan yang paling agung.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang sahih dari Abdullah bin Qurth Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi ﷺ yang bersabda:

إِنَّ أَعْظَمَ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ

Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah Tabaraka wa Ta'ala adalah Hari An-Nahr (Hari Raya Kurban/10 Dzulhijjah), (Sunan Abu Dawud: 1765).

Idul Adha adalah hari raya bagi kaum muslimin yang disyariatkan oleh Allah bagi kita untuk makan dan minum di dalamnya.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang sahih dari 'Uqbah bin 'Amir Radhiyallahu 'Anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

يَوْمُ عَرَفَةَ، وَيَوْمُ النَّحْرِ، وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Hari Arafah, Hari An-Nahr (Kurban), dan Hari-hari Tasyrik adalah hari raya kita pemeluk agama Islam, dan hari-hari tersebut adalah hari untuk makan dan minum, (Sunan Abu Dawud: 2419. Jami At-Tirmidzi: 773. Sunan An-Nasa'i: 3004. Musnad Ahmad: 18955).

Allah Jalla Jalaaluh juga mensyariatkan bagi kita pada hari-hari ini untuk memperbanyak zikir kepada Allah Azza wa Jalla di hari-hari ini.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Nubaisyah Al-Hudzali Radhiyallahu 'Anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ، وَذِكْرٍ لِلَّهِ

Hari-hari Tasyrik adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah, (Sahih Muslim: 1141).

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah, Allah mensyariatkan bagi kita untuk menyembelih hewan kurban (udhhiyah).

Allah Ta'ala berfirman:

﴿فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ﴾

Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah! (QS. Al-Kautsar: 2).

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Al-Bara' Radhiyallahu 'Anhu yang mengatakan bahwa beliau mendengar Nabi ﷺ berkhutbah, lalu beliau bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ، ثُمَّ نَرْجِعَ، فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا

Sesungguhnya perkara yang pertama kali kita mulai pada hari kita ini adalah melaksanakan salat (Id), kemudian kita pulang lalu menyembelih kurban. Barangsiapa yang melakukan hal itu, maka ia telah benar-benar mencocoki sunnah kami, (Sahih Bukhari: 951. Sahih Muslim: 1961).

Dan tidak sah untuk dijadikan kurban yaitu hewan yang:
  • buta sebelah matanya, yang jelas-jelas kebutaannya.
  • sakit, yang jelas-jelas penyakitnya.
  • pincang, yang jelas-jelas kepincangannya.
  • kurus kering (patah kaki/lemas) hingga tidak mampu berjalan karena tidak memiliki sumsum tulang.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang sahih dari Al-Bara' bin 'Azib Radhiyallahu 'Anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ: الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا، وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا، وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا، وَالْكَسِيرَةُ الَّتِي لَا تُنْقِي

Ada empat jenis hewan yang tidak boleh (tidak sah) dijadikan kurban: Yang buta sebelah matanya lagi jelas kebutaannya, yang sakit lagi jelas penyakitnya, yang pincang lagi jelas kepincangannya (2), dan yang kurus/lemas hingga tidak memiliki sumsum tulang, (Sunan Abu Dawud: 2802. Jami At-Tirmidzi: 1497. Sunan An-Nasai: 4369. Sunan Ibnu Majah: 3144. Musnad Ahmad: 18510).

Dan aku wasiatkan kepada para wanita dengan wasiat dari Allah Azza wa Jalla, serta wasiat dari Rasulullah ﷺ.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَا قَوْلًا مَّعْرُوفًا ﴿٣٢﴾

Maka janganlah kamu tunduk (berbicara dengan lemah lembut yang dibuat-buat) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, (QS Al Ahzab: 32).

وَقَرْنَا فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَا تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَا الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا﴾

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya, (QS. Al-Ahzab: 33).

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Abdurrahman bin 'Auf Radhiyallahu 'Anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Jika seorang wanita melaksanakan salat lima waktunya, berpuasa di bulannya (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: 'Masuklah ke dalam surga dari pintu surga mana saja yang engkau kehendaki,’ (Musnad Ahmad: 1661).

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH 2

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا بِرُبُوْبِيَّتِهِ وَإِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَصَابِيْحِ الْغُرَرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ.

Maka sesungguhnya Allah Jalla Jalaaluhu telah menceritakan kepada kita di dalam Kitab-Nya yang Agung kisah tentang ibadah kurban (udhhiyah).

Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ ﴿٩٩﴾ رَبِّ هَبْ لي مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠٠﴾ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ﴿١٠١﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ﴾

Dan dia (Ibrahim) berkata, 'Sesungguhnya aku harus pergi menghadap kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh.' Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat sabar (Ismail). Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' (QS. As-Saffat: 99-102).

Maka tidak ada jawaban dari anaknya melainkan ia berserah diri (taslim) kepada ketetapan (qadha) Allah dan takdir-Nya, lalu ia berkata:

﴿يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾

Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar, (QS. As-Saffat: 102).

Maka tatkala sang anak dan sang ayah keduanya telah berserah diri 'Alaihimas Salam kepada ketetapan Allah dan takdir-Nya, Allah melenyapkan marabahaya dari keduanya, dan menebus Ismail 'Alaihissalam dengan seekor sembelihan yang besar.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ﴿١٠٣﴾ وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ ﴿١٠٤﴾ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١٠٥﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ ﴿١٠٦﴾ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ﴾

Maka tatkala keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, 'Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar, (QS. As-Saffat: 103-107).

Maka Allah Jalla Jalaaluhu menjadikan ibadah kurban (udhiyah) ini sebagai syariat yang terus diikuti (sunnah) sampai hari kiamat.

Dan dari kisah yang agung ini, kita dapat memetik pelajaran (faedah) tentang ridha terhadap ketetapan Allah dan takdir-Nya, serta berserah diri secara total (taslim) kepada perintah Allah Jalla Jalaaluhu.

Maka barangsiapa yang ditimpa oleh suatu musibah, hendaklah ia ridha dan berserah diri kepada ketetapan Allah Jalla Jalaaluh.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي غَزَّةَ وَفِي فَلَسْطِيْنَ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ لَهُمْ فَرَجًا وَمَخْرَجًا، وَأَيِّدْهُمْ بِنَصْرِكَ التَّامِّ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ حُكَّامَنَا وَرَعِيَّتَنَا مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُتَّقِيْنَ، اللَّهُمَّ اهْدِهِمْ لِمَا فِيْهِ خَيْرُ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ!

Demikian naskah khutbah idul adha dan udhiyah dari Tuhtaful Abrar karya Syaikh Khalid Mahmud Al Juhani hafizahullah. Semoga bermanfaat!

Post a Comment for "KHUTBAH IDUL ADHA & UDHIYAH - SYAIKH KHALID MAHMUD AL JUHANI"