Pembaca rahimakumullah, berikut adalah terjemahan dari Tabsirus Sairin tentang keutamaan Qiyamul Lail. Tabsirus Sairin adalah penjelasan dari Tariqus Salihin ila Rabbil 'Alamin karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali.
Shalat malam (Qiyamul Lail) menjadikanmu termasuk orang-orang yang saleh.
Allah ta’ala berfirman:لَيْسُوا سَوَاءً ۗ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ
Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka juga bersujud (shalat), (QS Ali Imran: 113).
PENJELASANPenjelasan Kata-Kata:
لَيْسُوا سَوَاءً: غَيْرُ مُتَسَاوِينَ.
Tidaklah mereka sama: Tidak sama / berbeda.
أُمَّةٌ قَائِمَةٌ: جَمَاعَةٌ قَائِمَةٌ ثَابِتَةٌ عَلَى الْإِيمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ.
Golongan yang tegak: Kelompok yang tegak dan teguh di atas keimanan serta amal saleh.
يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ: يَقْرَأُونَ الْقُرْآنَ.
Mereka membaca ayat-ayat Allah: Mereka membaca Al-Qur'an.
آنَاءَ اللَّيْلِ: سَاعَاتُ اللَّيْلِ جَمْعُ إِنْيٍ وَإِنًى.
Waktu-waktu malam: Jam-jam/sepanjang malam, bentuk jamak dari kata 'inyun' dan 'inan'.
وَهُمْ يَسْجُدُونَ: يُصَلُّونَ.
Dan mereka bersujud: Mereka melaksanakan shalat.
PELAJARAN١- فَضْلُ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ، وَقِيَامِ اللَّيْلِ.
Keutamaan membaca Al-Qur'an dan shalat malam.
٢- فَضْلُ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ، وَالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَالْمُسَارَعَةِ إِلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ.
Keutamaan beriman kepada Allah, memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, serta bersegera dalam melakukan amal-amal saleh.
٣- اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ، وَلَا يَضِيعُ لَدَيْهِ أَجْرُ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا.
Allah 'Azza wa Jalla tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal, dan tidak akan hilang di sisi-Nya pahala orang yang berbuat baik amalnya.
قِيَامُ اللَّيْلِ يَجْعَلُكَ مِنْ عِبَادِ الرَّحْمَنِShalat malam menjadikanmu termasuk hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih
Allah ta’ala berfirman:وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menghina mereka mengucapkan salam
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri, (QS Al Furqan: 63-64)
PENJELASANوَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ: وَوَصَفَهُمْ بِثَمَانِ صِفَاتٍ وَأَخْبَرَ عَنْهُمْ بِمَا أَعَدَّهُ لَهُمْ مِنْ كَرَامَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih: Dan Dia menyifati mereka dengan delapan sifat serta mengabarkan tentang apa yang telah Dia siapkan bagi mereka berupa kemuliaan pada hari kiamat
يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا: فِي سَكِينَةٍ وَوَقَارٍ.
Mereka berjalan di bumi dengan rendah hati: Dalam ketenangan dan kewibawaan.
وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ: أَيْ بِمَا يَكْرَهُونَ مِنَ الْأَقْوَالِ.
Dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka: Yaitu dengan perkataan-perkataan yang tidak mereka sukai.
قَالُوا سَلَامًا: أَيْ قَوْلًا يَسْلَمُونَ بِهِ مِنَ الْإِثْمِ، وَيُسَمَّى هَٰذَا سَلَامَ الْمُتَارَكَةِ.
Mereka mengucapkan salam: Yaitu perkataan yang membuat mereka selamat dari dosa, dan ini dinamakan salam perpisahan atau membiarkan.
سُجَّدًا وَقِيَامًا: أَيْ يُصَلُّونَ بِاللَّيْلِ سُجَّدًا جَمْعُ سَاجِدٍ.
Dengan bersujud dan berdiri: Yaitu mereka melaksanakan shalat di malam hari dalam keadaan bersujud, kata sujadan adalah bentuk jamak dari sajid.
PELAJARAN:١- بَيَانُ صِفَاتِ عِبَادِ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ بِهِمْ يُعْرَفُ الرَّحْمَٰنُ عَزَّ وَجَلَّ.
1- Penjelasan tentang sifat-sifat hamba Allah Yang Maha Pengasih yang dengannya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia dikenal.
٢- فَضِيلَةُ التَّوَاضُعِ وَالسَّكِينَةِ فِي الْمَشْيِ وَالْوَقَارِ.
2- Keutamaan sikap rendah hati, ketenangan dalam berjalan, dan kewibawaan.
٣- فَضِيلَةُ رَدِّ السَّيِّئَةِ بِالْحَسَنَةِ وَالْقَوْلِ السَّلِيمِ مِنَ الْإِثْمِ.
3- Keutamaan membalas keburukan dengan kebaikan dan ucapan yang selamat dari dosa.
٤- فَضِيلَةُ قِيَامِ اللَّيْلِ وَالْخَوْفِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ.
4- Keutamaan melaksanakan shalat malam dan rasa takut terhadap azab neraka.
أَجْرٌ مَخْفِيٌّ لِمَنْ يَقُومُ اللَّيْلَPahala yang disembunyikan bagi orang yang melaksanakan shalat malam
Allah Ta'ala berfirman:تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ﴿١٦﴾ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿١٧﴾ السجدة: ١٦ - ١٧
Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa bermacam-macam nikmat yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan, (QS As-Sajdah: 16 – 17)
PENJELASANقَوْلُهُ تَعَالَىٰ: ﴿تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ﴾ يَعْنِي بِذَٰلِكَ قِيَامَ اللَّيْلِ، وَتَرْكَ النَّوْمِ وَالِاضْطِجَاعِ عَلَى الْفُرُشِ الْوَطِيئَةِ،
Firman-Nya yang luhur: Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, maksudnya adalah melaksanakan shalat malam, serta meninggalkan tidur dan berbaring di atas kasur yang empuk,
و﴿يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا﴾ أَيْ: خَوْفًا مِنْ وَبَالِ عِقَابِهِ، وَطَمَعًا فِي جَزِيلِ ثَوَابِهِ،
dan mereka berdoa Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, yaitu: takut terhadap dampak buruk siksaan-Nya, dan berharap pada besarnya pahala-Nya,
و﴿وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴾، فَيَجْمَعُونَ بَيْنَ فِعْلِ الْقُرُبَاتِ اللَّازِمَةِ، وَالْمُتَعَدِّيَةِ.
dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka, maka mereka memadukan antara melakukan ibadah ritual yang berdampak pada diri sendiri maupun ibadah sosial yang berdampak bagi orang lain.
وَقَوْلُهُ: ﴿فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
Dan firman-Nya: Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa bermacam-macam nikmat yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan
أَيْ: فَلَا يَعْلَمُ أَحَدٌ عَظَمَةَ مَا أَخْفَى اللَّهُ لَهُمْ فِي الْجَنَّاتِ مِنَ النَّعِيمِ الْمُقِيمِ،
Yaitu: maka tidak ada seorang pun yang mengetahui keagungan apa yang telah Allah sembunyikan bagi mereka di dalam surga berupa kenikmatan yang abadi,
وَاللَّذَّاتِ الَّتِي لَمْ يَطَّلِعْ عَلَىٰ مِثْلِهَا أَحَدٌ، لَمَّا أَخْفَوْا أَعْمَالَهُمْ أَخْفَى اللَّهُ لَهُمْ مِنَ الثَّوَابِ،
serta kelezatan-kelezatan yang belum pernah seorang pun melihat hal yang serupa dengannya. Tatkala mereka menyembunyikan amal ibadah mereka di dunia, maka Allah pun menyembunyikan pahala bagi mereka,
جَزَاءً وِفَاقًا؛ فَإِنَّ الْجَزَاءَ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ.
sebagai balasan yang setimpal; karena sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan yang dilakukan.
PELAJARAN:١- فَضِيلَةُ قِيَامِ اللَّيْلِ.
1- Keutamaan shalat malam.
٢- فَضِيلَةُ الدُّعَاءِ وَالتَّضَرُّعِ فِي قِيَامِ اللَّيْلِ.
2- Keutamaan berdoa dan merendahkan diri kepada Allah dalam shalat malam.
٣- فَضِيلَةُ الِاسْتِغْفَارِ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ.
3- Keutamaan memohon ampunan pada sepertiga malam yang terakhir.
قِيَامُ اللَّيْلِ يَرْفَعُكَ إِلَى دَرَجَةِ الشَّاكِرِينَShalat malam mengangkatmu ke derajat orang-orang yang bersyukur
فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ،Dalam kitab Shahihain diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwasanya Nabi Allah ﷺ dahulu berdiri melaksanakan shalat malam hingga kedua telapak kaki beliau pecah-pecah,
فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لِمَ تَصْنَعُ هَٰذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟
lalu Aisyah berkata: Mengapa engkau melakukan ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?
قَالَ: أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا؟، فَلَمَّا كَثُرَ لَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا،
Beliau bersabda: Bukankah aku suka untuk menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur? Maka tatkala tubuh beliau mulai berat, beliau shalat dalam keadaan duduk,
فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَقَرَأَ، ثُمَّ رَكَعَ.
lalu apabila beliau hendak rukuk, beliau berdiri kemudian membaca baru setelah itu rukuk, (Sahih Bukhari: 4837. Sahih Muslim: 2820).
PENJELASANتَتَفَطَّرَ: أَيْ تَتَشَقَّقَ.
Pecah-pecah: Yaitu retak-retak atau belah-belah.
أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا؟: أَيْ الْمَغْفِرَةُ سَبَبٌ لِكَوْنِ التَّهَجُّدِ شُكْرًا، فَكَيْفَ أَتْرُكُهُ؟!
Bukankah aku suka untuk menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?: Yaitu bahwa ampunan adalah sebab bagi pelaksanaan shalat tahajud, sebagai wujud syukur, maka bagaimana mungkin aku meninggalkannya?!
كَثُرَ لَحْمُهُ: أَيْ كَبِرَ.
Tubuhnya berisi/berat: Yaitu bertambah tua usianya.
مَا يُسْتَفَادُ مِنَ الْحَدِيثِ:
PELAJARAN١- الشُّكْرُ يَكُونُ بِالْعَمَلِ كَمَا يَكُونُ بِاللِّسَانِ.
1- Syukur itu diwujudkan dengan perbuatan (amal) sebagaimana ia diwujudkan dengan ucapan (lisan).
٢- شِدَّةُ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَبِّهِ.
2- Besarnya kesungguhan ibadah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Tuhannya.
٣- مَشْرُوعِيَّةُ الصَّلَاةِ جَالِسًا فِي صَلَاةِ النَّافِلَةِ.
3- Disyariatkannya shalat dalam keadaan duduk pada shalat sunnah.
٤- كُلَّمَا عَظُمَ إِيمَانُ الْعَبْدِ عَظُمَ خَوْفُهُ مِنْ رَبِّهِ، وَكَثُرَتْ عِبَادَتُهُ.
4- Semakin agung keimanan seorang hamba, maka semakin besar pula rasa takutnya kepada Tuhannya, dan semakin banyak ibadahnya.
قِيَامُ اللَّيْلِ يَرْفَعُكَ إِلَى دَرَجَةِ الْقَانِتِينَShalat malam mengangkatmu ke derajat Qanitin
رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani dari Abdullah bin Amr bin Al-Aash radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ، وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ الْقَانِتِينَ، وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ الْمُقَنْطِرِينَ.
Barangsiapa yang shalat malam dengan membaca sepuluh ayat maka dia tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai, barangsiapa yang shalat malam dengan membaca seratus ayat maka dia dicatat sebagai orang-orang yang taat beribadah, dan barangsiapa yang shalat malam dengan membaca seribu ayat maka dia dicatat sebagai orang-orang yang mendapatkan pahala berlimpah.
PENJELASANمَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ: أَيْ مَنْ قَرَأَ فِي اللَّيْلِ عَشْرَ آيَاتٍ.
Barangsiapa yang shalat dengan sepuluh ayat: Yaitu siapa yang membaca sepuluh ayat pada malam hari saat shalat.
لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ: أَيْ لَمْ يُثْبَتِ اسْمُهُ فِي صَحِيفَةِ الْغَافِلِينَ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى.
Tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai: Yaitu namanya tidak ditetapkan di dalam lembaran catatan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah Ta'ala.
مِنَ الْقَانِتِينَ: أَيِ الْمُطِيعِينَ الْمُوَاظِبِينَ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ، أَوِ الْخَاشِعِينَ، أَوِ الْمُصَلِّينَ، أَوِ الدَّاعِينَ، أَوِ الْعَابِدِينَ، أَوِ الْقَائِمِينَ.
Termasuk orang-orang yang taat beribadah: Yaitu orang-orang yang taat yang tekun di atas ketaatan kepada Allah, atau orang-orang yang khusyuk, atau orang-orang yang mendirikan shalat, atau orang-orang yang berdoa, atau orang-orang yang beribadah, atau orang-orang yang berdiri melakukan shalat malam.
مِنَ الْمُقَنْطِرِينَ: أَيْ مِنَ الْمُكْثِرِينَ مِنَ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ، مَأْخُوذٌ مِنَ الْقِنْطَارِ، وَهُوَ الْمَالُ الْكَثِيرُ، وَيُرْوَى بِفَتْحِ الطَّاءِ، أَيْ مِنَ الَّذِينَ أُعْطُوا قِنْطَارًا مِنَ الْأَجْرِ.
Termasuk orang-orang yang mendapatkan pahala berlimpah: Yaitu termasuk orang-orang yang memperbanyak bagian pahala dan ganjaran, kata ini diambil dari kata Al-Qinthar yang berarti harta yang banyak, dan diriwayatkan juga dengan harakat fathah pada huruf Tha', yaitu termasuk orang-orang yang diberikan pahala berlimpah seberat qinthar.
٧- قِيَامُ اللَّيْلِ
يَجْعَلُكَ قَرِيْبًا مِنْ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ:
QIYAMUL LAIL MENJADIKAN
ANDA DEKAT DENGAN RABB SEMESTA ALAM
Maka dalam dua kitab Shahih, dari Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
فَفِي
الصَّحِيْحَيْنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى
كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ
الْآخِرُ
Maka dalam dua kitab Shahih, dari Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Rabb kita yang Maha
Suci lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa
sepertiga malam yang terakhir.
يَقُوْلُ مَنْ يَدْعُوْنِي فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي
فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.
Dia berfirman: Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya
Aku kabulkan untuknya. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri
kepadanya. Barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dia,
(Al-Bukhari: 1145 dan Muslim: 758).
PELAJARAN DARI HADIS
١- مِنْ أَوْقَاتِ
اسْتِجَابَةِ الدُّعَاءِ: الثُّلُثُ الْأَخِيرُ مِنَ اللَّيْلِ.
1- Di antara waktu-waktu dikabulkannya doa: sepertiga malam
yang terakhir.
٢- الْحَثُّ
عَلَىٰ قِيَامِ اللَّيْلِ.
2- Dorongan/anjuran untuk melaksanakan salat malam (qiyamul
lail).
٣- الْحَثُّ
عَلَىٰ الِاسْتِغْفَارِ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرُ مِنَ اللَّيْلِ.
3- Dorongan/anjuran untuk memohon ampun (beristigfar) di
sepertiga malam yang terakhir.
٤- إِثْبَاتُ
صِفَةِ النُّزُولِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَىٰ مَا يَلِيقُ بِهِ.
4- Penetapan sifat turun (Nuzul) bagi Allah 'Azza wa Jalla
sesuai dengan keagungan-Nya.
٥- سَعَةُ مَغْفِرَةِ
اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَرَحْمَتِهِ.
5- Luasnya ampunan Allah 'Azza wa Jalla dan rahmat-Nya.
٨- قِيَامُ اللَّيْلِ
وَقْتُ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ:
QIYAMUL LAIL ADALAH
WAKTU DIKABULKANNYA DOA
رَوَى مُسْلِمٌ عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا
يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ.
Muslim meriwayatkan dari Jabir, ia berkata, aku mendengar
Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya di malam hari
terdapat satu waktu yang tidaklah seorang muslim bertepatan dengannya memohon
kepada Allah suatu kebaikan dari urusan dunia dan akhirat, melainkan Allah akan
memberikan kebaikan itu kepadanya, dan hal itu terjadi setiap malam, (Muslim:
757).
PELAJARAN DARI HADIS:
إِثْبَاتُ سَاعَةِ الْإِجَابَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ، وَيَتَضَمَّنُ
الْحَثَّ عَلَى الدُّعَاءِ فِي جَمِيعِ سَاعَاتِ اللَّيْلِ رَجَاءَ مُصَادَفَتِهَا،
وَأَحْرَىٰ مَا تَكُونُ فِي النِّصْفِ الْأَخِيرِ.
Penetapan adanya waktu dikabulkannya doa pada setiap malam,
dan hal ini mengandung anjuran untuk berdoa di sepanjang waktu malam dengan
harapan mendapatinya, dan waktu yang paling utama adalah pada pertengahan malam
yang terakhir.
١٠- قِيَامُ اللَّيْلِ
يَجْعَلُكَ مِمَّنْ يُحِبُّهُمُ اللهُ:
QIYAMUL LAIL MENJADIKAN
ANDA ORANG YANG DICINTAI ALLAH
فَفِي الصَّحِيْحَيْنِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ
قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ الصِّيَامِ
إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ كَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
Maka dalam dua kitab Shahih, dari Abdullah bin 'Amr, ia
berkata, Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud,
beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari.
وَأَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللهِ صَلَاةُ دَاوُدَ كَانَ يَنَامُ
نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُوْمُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ.
Dan shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Dawud,
beliau tidur setengah malam, bangun shalat sepertiganya, dan tidur lagi
seperenamnya, (Al-Bukhari: 3420 dan Muslim: 1159).
PELAJARAN DARI HADIS
١- أَحَبُّ الصِّيَامِ
إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَهُوَ أَنْ يَصُومَ
يَوْمًا، وَيُفْطِرَ يَوْمًا.
1- Puasa yang paling dicintai oleh Allah 'Azza wa Jalla
adalah puasa Nabi Dawud 'Alaihis Salam, yaitu beliau berpuasa satu hari dan
tidak berpuasa (berbuka) pada hari berikutnya.
٢- أَحَبُّ قِيَامِ
اللَّيْلِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَهُوَ
أَنْ يَنَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَيُصَلِّيَ ثُلُثَهُ، وَيَنَامَ سُدُسَهُ.
2- Salat malam yang paling dicintai oleh Allah 'Azza wa
Jalla adalah salat malam Nabi Dawud 'Alaihis Salam, yaitu beliau tidur pada
seperdua (setengah) malam pertama, bangun salat pada sepertiga malamnya, dan
tidur kembali pada seperenam malam terakhir.
١١- مَنْ قَامَ
اللَّيْلَ هُوَ وَزَوْجَتُهُ أَصَابَتْهُ دَعْوَةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
ORANGYANG QIYAMUL LAIL
BERSAMA ISTRI MENDAPAT DOA RASULULLAH ﷺ
رَوَى أَبُوْ دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِي عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِمَ
اللهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ
أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ
Abu Dawud meriwayatkan dan dishahihkan oleh Al-Albani, dari
Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah ﷺ
bersabda: Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam
hari lalu shalat dan membangunkan istrinya, jika istrinya enggan maka dia
memercikkan air ke wajahnya.
رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ
وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ.
Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di malam
hari lalu shalat dan membangunkan suaminya, jika suaminya enggan maka dia
memercikkan air ke wajahnya, (Abu Dawud: 1308).
PELAJARAN DARI HADIS
١- مَشْرُوعِيَّةُ
الدُّعَاءِ بِالرَّحْمَةِ لِلْحَيِّ كَمَا يُدْعَىٰ بِهَا لِلْمَيِّتِ.
1- Disyariatkannya mendoakan rahmat bagi orang yang masih
hidup sebagaimana didoakan pula bagi orang yang sudah meninggal.
٢- فَضِيلَةُ
صَلَاةِ اللَّيْلِ.
2- Keutamaan salat malam.
٣- فَضِيلَةُ
إِيقَاظِ النَّائِمِ لِلتَّنَفُّلِ كَمَا يُشْرَعُ لِلْفَرْضِ، وَهُوَ مِنَ الْمُعَاوَنَةِ
عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ.
3- Keutamaan membangunkan orang yang tidur untuk
melaksanakan salat sunah sebagaimana disyariatkan pula untuk salat fardu, dan
hal ini termasuk dalam tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa.
٤- بَيَانُ حُسْنِ
الْمُعَاشَرَةِ وَكَمَالِ الْمُلَاطَفَةِ وَالْمُوَافَقَةِ.
4- Penjelasan tentang baiknya hubungan suami istri serta
kesempurnaan sikap lemah lembut dan keselarasan/keserasian.
٥- الْإِشَارَةُ
إِلَىٰ أَنَّ الرَّجُلَ أَحَقُّ بِأَنْ يَكُونَ مُسَابِقًا بِالْقِيَامِ وَإِيقَاظِ
امْرَأَتِهِ.
5- Isyarat bahwa seorang laki-laki (suami) lebih utama
untuk menjadi orang yang mendahului dalam beribadah malam dan membangunkan
istrinya.
٦- الْإِشَارَةُ
إِلَىٰ أَنَّ فَضْلَ اللَّهِ لَا يَخْتَصُّ بِأَحَدٍ، فَقَدْ تَكُونُ الْمَرْأَةُ سَابِقَةً
عَلَى الرَّجُلِ.
6- Isyarat bahwa karunia Allah tidak dikhususkan bagi
seseorang saja, karena terkadang seorang wanita bisa lebih dahulu (unggul dalam
kebaikan) daripada laki-laki.
١٢- قِيَامُ اللَّيْلِ
يَجْعَلُكَ فِي أَعَالِي الْجَنَّةِ:
QIYAMUL LAIL MENJADIKAN
ANDA BERADA DI TEMPAT TERTINGGI DI SURGA
رَوَى أَحْمَدُ وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِي عَنْ أَبِي مَالِكٍ
الْأَشْعَرِي قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ
فِي الْجَنَّةِ غُرْفَةً يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا، وَبَاطِنُهَا مِنْ
ظَاهِرِهَا
Imam Ahmad meriwayatkan dan dishahihkan oleh Al-Albani,
dari Abu Malik Al-Asy'ari, ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda: Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya
terlihat dari bagian dalamnya, dan bagian dalamnya terlihat dari bagian
luarnya.
أَعَدَّهَا اللهُ لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَلَانَ
الْكَلَامَ، وَتَابَعَ الصِّيَامَ وَصَلَّى وَالنَّاسُ نِيَامٌ.
Allah menyediakannya bagi orang yang memberi makan,
melembutkan perkataan, melanjutkan puasa, dan shalat malam ketika manusia
sedang tidur, (Ahmad: 1340).
PELAJARAN DARI HADIS
١- الْجَنَّةُ
دَرَجَاتٌ مُتَفَاوِتَةٌ عَلَىٰ حَسَبِ الْعَمَلِ.
1- Surga memiliki tingkatan-tingkatan yang berbeda-beda
sesuai dengan tingkatan amal perbuatan.
٢- فَضِيلَةُ
إِطْعَامِ الطَّعَامِ، وَإِلَانَةِ الْكَلَامِ، وَمُتَابَعَةِ الصِّيَامِ، وَقِيَامِ
اللَّيْلِ.
2- Keutamaan memberi makan, melembutkan ucapan/perkataan,
membiasakan (melanjutkan) puasa, dan melaksanakan salat malam (qiyamul lail).
١٣- شَرَفُ
الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ:
KEHORMATAN SEORANG
MUKMIN ADALAH QIYAMUL LAIL
رَوَى الطَّبَرَانِي فِي الْأَوْسَطِ وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِي
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: جَاءَ جِبْرِيْلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ،
وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ،
At-Thabarani meriwayatkan dalam Al-Awsath dan dihasankan
oleh Al-Albani, dari Sahl bin Sa'd, ia berkata: Jibril datang kepada Nabi ﷺ,
lalu berkata: Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu karena sesungguhnya kamu pasti
mati, dan beramallah sesukamu karena sesungguhnya kamu pasti diberi balasan
dengannya,
وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْلَمْ أَنَّ
شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ، وَعِزَّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ.
dan cintailah siapa saja yang kamu kehendaki karena
sesungguhnya kamu pasti akan berpisah dengannya, dan ketahuilah bahwa
kehormatan seorang mukmin adalah shalat malam, dan kemuliaannya adalah ketidakbutuhannya
kepada manusia, (Al-Tirmidzi: 2616).
PELAJARAN DARI HADIS
١- الْحَثُّ
عَلَىٰ قِصَرِ الْأَمَلِ، وَالِاسْتِعْدَادِ لِلْمَوْتِ.
1- Anjuran untuk tidak panjang angan-angan, dan
bersiap-siap menghadapi kematian.
٢- الْحَثُّ
عَلَىٰ الِانْشِغَالِ بِالطَّاعَةِ، وَالتَّحْذِيرِ مِنَ الْمَعْصِيَةِ؛ فَكُلُّ إِنْسَانٍ
سَيُقْضَىٰ عَلَيْهِ بِمَا عَمِلَهُ.
2- Anjuran untuk menyibukkan diri dengan ketaatan, dan
peringatan agar menjauhi maksiat; karena setiap manusia akan diputuskan (dibalas)
sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya.
٣- فَضِيلَةُ
قِيَامِ اللَّيْلِ؛ فَإِنَّهُ سَبَبٌ لِرِفْعَةِ الْمُؤْمِنِ.
3- Keutamaan salat malam (qiyamul lail); karena hal itu
menjadi sebab tingginya derajat seorang mukmin.
٤- الِاسْتِغْنَاءُ
عَنِ النَّاسِ سَبَبٌ لِعِزَّةِ الْمُؤْمِنِ.
4- Tidak bergantung (merasa cukup tanpa meminta-minta)
kepada manusia adalah sebab kemuliaan seorang mukmin.
١٤- يَعْجَبُ اللهُ
مِمَّنْ يُقِيْمُ اللَّيْلَ وَيَضْحَكُ إِلَيْهِ
ALLAH KAGUM DAN
TERSENYUM KEPADA YANG MENEGAKKAN SALAT MALAM
رَوَى أَحْمَدُ وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِي عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَجِبَ رَبُّنَا عَزَّ
وَجَلَّ مِنْ رَجُلَيْنِ رَجُلٌ ثَارَ عَنْ وَطَائِهِ وَلِحَافِهِ مِنْ بَيْنِ
أَهْلِهِ وَحَيِّهِ إِلَى صَلَاتِهِ
Ahmad meriwayatkan dan dihasankan oleh Al-Albani, dari Ibnu
Mas'ud, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: Rabb kita
'Azza wa Jalla kagum terhadap dua orang laki-laki. Pertama, seorang laki-laki
yang bangkit dari tempat tidur dan selimutnya, di antara keluarga dan
kekasihnya, menuju shalatnya.
فَيَقُوْلُ رَبُّنَا أَيَا مَلَائِكَتِي انْظُرُوْا إِلَى
عَبْدِي ثَارَ مِنْ فِرَاشِهِ وَوَطَائِهِ وَمِنْ بَيْنِ حَيِّهِ وَأَهْلِهِ إِلَى
صَلَاتِهِ رَغْبَةً فِيمَا عِنْدِي وَشَفَقَةً مِمَّا عِنْدِي
Maka Rabb kita berfirman: Wahai para malaikat-Ku, lihatlah
kepada hamba-Ku, dia bangkit dari tempat tidur dan kasurnya, serta dari
tengah-tengah kekasih dan keluarganya menuju shalatnya karena mengharap apa
yang ada di sisi-Ku dan takut dari apa yang ada di sisi-Ku.
وَرَجُلٌ غَزَا فِي سَبِيْلِ اللهِ فَانْهَزَمُوْا فَعَلِمَ مَا
عَلَيْهِ مِنَ الْفِرَارِ وَمَا لَهُ فِي الرُّجُوعِ فَرَجَعَ حَتَّى أُهْرِيْقَ
دَمُهُ رَغْبَةً فِيمَا عِنْدِي وَشَفَقَةً مِمَّا عِنْدِي
Kedua, seorang laki-laki yang berperang di jalan Allah lalu
pasukannya kalah, kemudian dia mengetahui dosa melarikan diri dan pahala untuk
kembali ke medan perang, maka dia kembali bertempur hingga darahnya tertumpah
karena mengharap apa yang ada di sisi-Ku dan takut dari apa yang ada di
sisi-Ku.
فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِمَلَائِكَتِهِ انْظُرُوْا
إِلَى عَبْدِي رَجَعَ رَغْبَةً فِيمَا عِنْدِي وَرَهْبَةً مِمَّا عِنْدِي حَتَّى
أُهْرِيْقَ دَمُهُ
Maka Allah 'Azza wa Jalla berfirman kepada para
malaikat-Nya: Lihatlah kepada hamba-Ku, dia kembali karena mengharap apa yang
ada di sisi-Ku dan takut dari apa yang ada di sisi-Ku hingga darahnya
tertumpah, (Ahmad: 1340).
PELAJARAN DARI HADIS
١- إِثْبَاتُ
الْعَجَبِ، وَالضَّحِكِ، وَالْكَلَامِ، وَالْمَحَبَّةِ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ
عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي يَلِيقُ بِهِ.
1- Penetapan sifat kagum (keterpesonaan), tertawa,
berbicara, dan cinta bagi Allah Tabaraka wa Ta'ala sesuai dengan keagungan yang
layak bagi-Nya.
٢- الْحَثُّ
عَلَىٰ فِعْلِ الْمَذْكُورَاتِ فِي الْحَدِيثَيْنِ؛ فَإِنَّهَا سَبَبٌ لِمَحَبَّةِ
اللَّهِ لِلْعَبْدِ.
2- Anjuran untuk mengamalkan perkara-perkara yang
disebutkan dalam dua hadits tersebut; karena hal itu menjadi sebab kecintaan
Allah kepada hamba-Nya.
٣- كُلَّمَا
كَانَ الصَّارِفُ عَنِ الْعِبَادَةِ عَظِيمًا كَانَ الْأَجْرُ أَعْظَمَ.
3- Semakin besar rintangan/palingan yang menghalangi dari
ibadah, maka pahala yang didapatkan akan semakin besar pula.

Post a Comment for "Keutamaan Qiyamul Lail - Tariqus Salihin ila Rabbil 'Alamin Syaikh Wahid Bali"