zmedia

Keutamaan Qiyamul Lail

Pembaca rahimakumullah, berikut adalah terjemahan dari Tabsirus Sairin tentang keutamaan Qiyamul Lail. Tabsirus Sairin adalah penjelasan dari Tariqus Salihin ila Rabbil 'Alamin karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali.

قِيَامُ اللَّيْلِ يَجْعَلُكَ مِنَ الصَّالِحِينَ

Shalat malam (Qiyamul Lail) menjadikanmu termasuk orang-orang yang saleh.

Allah ta’ala berfirman:

لَيْسُوا سَوَاءً ۗ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ

Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka juga bersujud (shalat), (QS Ali Imran: 113).

PENJELASAN

Penjelasan Kata-Kata:

لَيْسُوا سَوَاءً: غَيْرُ مُتَسَاوِينَ.

Tidaklah mereka sama: Tidak sama / berbeda.

أُمَّةٌ قَائِمَةٌ: جَمَاعَةٌ قَائِمَةٌ ثَابِتَةٌ عَلَى الْإِيمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ.

Golongan yang tegak: Kelompok yang tegak dan teguh di atas keimanan serta amal saleh.

يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ: يَقْرَأُونَ الْقُرْآنَ.

Mereka membaca ayat-ayat Allah: Mereka membaca Al-Qur'an.

آنَاءَ اللَّيْلِ: سَاعَاتُ اللَّيْلِ جَمْعُ إِنْيٍ وَإِنًى.

Waktu-waktu malam: Jam-jam/sepanjang malam, bentuk jamak dari kata 'inyun' dan 'inan'.

وَهُمْ يَسْجُدُونَ: يُصَلُّونَ.

Dan mereka bersujud: Mereka melaksanakan shalat.

PELAJARAN

١- فَضْلُ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ، وَقِيَامِ اللَّيْلِ.

Keutamaan membaca Al-Qur'an dan shalat malam.

٢- فَضْلُ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ، وَالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَالْمُسَارَعَةِ إِلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ.

Keutamaan beriman kepada Allah, memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, serta bersegera dalam melakukan amal-amal saleh.

٣- اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ، وَلَا يَضِيعُ لَدَيْهِ أَجْرُ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا.

Allah 'Azza wa Jalla tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal, dan tidak akan hilang di sisi-Nya pahala orang yang berbuat baik amalnya.

 قِيَامُ اللَّيْلِ يَجْعَلُكَ مِنْ عِبَادِ الرَّحْمَنِ

Shalat malam menjadikanmu termasuk hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih

Allah ta’ala berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menghina mereka mengucapkan salam

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri, (QS Al Furqan: 63-64)

PENJELASAN

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ: وَوَصَفَهُمْ بِثَمَانِ صِفَاتٍ وَأَخْبَرَ عَنْهُمْ بِمَا أَعَدَّهُ لَهُمْ مِنْ كَرَامَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih: Dan Dia menyifati mereka dengan delapan sifat serta mengabarkan tentang apa yang telah Dia siapkan bagi mereka berupa kemuliaan pada hari kiamat

يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا: فِي سَكِينَةٍ وَوَقَارٍ.

Mereka berjalan di bumi dengan rendah hati: Dalam ketenangan dan kewibawaan.

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ: أَيْ بِمَا يَكْرَهُونَ مِنَ الْأَقْوَالِ.

Dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka: Yaitu dengan perkataan-perkataan yang tidak mereka sukai.

قَالُوا سَلَامًا: أَيْ قَوْلًا يَسْلَمُونَ بِهِ مِنَ الْإِثْمِ، وَيُسَمَّى هَٰذَا سَلَامَ الْمُتَارَكَةِ.

Mereka mengucapkan salam: Yaitu perkataan yang membuat mereka selamat dari dosa, dan ini dinamakan salam perpisahan atau membiarkan.

سُجَّدًا وَقِيَامًا: أَيْ يُصَلُّونَ بِاللَّيْلِ سُجَّدًا جَمْعُ سَاجِدٍ.

Dengan bersujud dan berdiri: Yaitu mereka melaksanakan shalat di malam hari dalam keadaan bersujud, kata sujadan adalah bentuk jamak dari sajid.

PELAJARAN:

١- بَيَانُ صِفَاتِ عِبَادِ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ بِهِمْ يُعْرَفُ الرَّحْمَٰنُ عَزَّ وَجَلَّ.

1- Penjelasan tentang sifat-sifat hamba Allah Yang Maha Pengasih yang dengannya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia dikenal.

٢- فَضِيلَةُ التَّوَاضُعِ وَالسَّكِينَةِ فِي الْمَشْيِ وَالْوَقَارِ.

2- Keutamaan sikap rendah hati, ketenangan dalam berjalan, dan kewibawaan.

٣- فَضِيلَةُ رَدِّ السَّيِّئَةِ بِالْحَسَنَةِ وَالْقَوْلِ السَّلِيمِ مِنَ الْإِثْمِ.

3- Keutamaan membalas keburukan dengan kebaikan dan ucapan yang selamat dari dosa.

٤- فَضِيلَةُ قِيَامِ اللَّيْلِ وَالْخَوْفِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ.

4- Keutamaan melaksanakan shalat malam dan rasa takut terhadap azab neraka.

أَجْرٌ مَخْفِيٌّ لِمَنْ يَقُومُ اللَّيْلَ

Pahala yang disembunyikan bagi orang yang melaksanakan shalat malam

Allah Ta'ala berfirman:

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ﴿١٦﴾ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿١٧﴾ السجدة: ١٦ - ١٧

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa bermacam-macam nikmat yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan, (QS As-Sajdah: 16 – 17)

PENJELASAN

قَوْلُهُ تَعَالَىٰ: ﴿تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ﴾ يَعْنِي بِذَٰلِكَ قِيَامَ اللَّيْلِ، وَتَرْكَ النَّوْمِ وَالِاضْطِجَاعِ عَلَى الْفُرُشِ الْوَطِيئَةِ،

Firman-Nya yang luhur: Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, maksudnya adalah melaksanakan shalat malam, serta meninggalkan tidur dan berbaring di atas kasur yang empuk,

و﴿يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا﴾ أَيْ: خَوْفًا مِنْ وَبَالِ عِقَابِهِ، وَطَمَعًا فِي جَزِيلِ ثَوَابِهِ،

dan mereka berdoa Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, yaitu: takut terhadap dampak buruk siksaan-Nya, dan berharap pada besarnya pahala-Nya,

و﴿وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴾، فَيَجْمَعُونَ بَيْنَ فِعْلِ الْقُرُبَاتِ اللَّازِمَةِ، وَالْمُتَعَدِّيَةِ.

dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka, maka mereka memadukan antara melakukan ibadah ritual yang berdampak pada diri sendiri maupun ibadah sosial yang berdampak bagi orang lain.

وَقَوْلُهُ: ﴿فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾

Dan firman-Nya: Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa bermacam-macam nikmat yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan

أَيْ: فَلَا يَعْلَمُ أَحَدٌ عَظَمَةَ مَا أَخْفَى اللَّهُ لَهُمْ فِي الْجَنَّاتِ مِنَ النَّعِيمِ الْمُقِيمِ،

Yaitu: maka tidak ada seorang pun yang mengetahui keagungan apa yang telah Allah sembunyikan bagi mereka di dalam surga berupa kenikmatan yang abadi,

وَاللَّذَّاتِ الَّتِي لَمْ يَطَّلِعْ عَلَىٰ مِثْلِهَا أَحَدٌ، لَمَّا أَخْفَوْا أَعْمَالَهُمْ أَخْفَى اللَّهُ لَهُمْ مِنَ الثَّوَابِ،

serta kelezatan-kelezatan yang belum pernah seorang pun melihat hal yang serupa dengannya. Tatkala mereka menyembunyikan amal ibadah mereka di dunia, maka Allah pun menyembunyikan pahala bagi mereka,

جَزَاءً وِفَاقًا؛ فَإِنَّ الْجَزَاءَ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ.

sebagai balasan yang setimpal; karena sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan yang dilakukan.

PELAJARAN:

١- فَضِيلَةُ قِيَامِ اللَّيْلِ.

1- Keutamaan shalat malam.

٢- فَضِيلَةُ الدُّعَاءِ وَالتَّضَرُّعِ فِي قِيَامِ اللَّيْلِ.

2- Keutamaan berdoa dan merendahkan diri kepada Allah dalam shalat malam.

٣- فَضِيلَةُ الِاسْتِغْفَارِ فِي الثُّلُثِ الْأَخِيرِ مِنَ اللَّيْلِ.

3- Keutamaan memohon ampunan pada sepertiga malam yang terakhir.

 قِيَامُ اللَّيْلِ يَرْفَعُكَ إِلَى دَرَجَةِ الشَّاكِرِينَ

Shalat malam mengangkatmu ke derajat orang-orang yang bersyukur

فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ،

Dalam kitab Shahihain diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwasanya Nabi Allah ﷺ dahulu berdiri melaksanakan shalat malam hingga kedua telapak kaki beliau pecah-pecah,

فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لِمَ تَصْنَعُ هَٰذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟

lalu Aisyah berkata: Mengapa engkau melakukan ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?

قَالَ: أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا؟، فَلَمَّا كَثُرَ لَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا،

Beliau bersabda: Bukankah aku suka untuk menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur? Maka tatkala tubuh beliau mulai berat, beliau shalat dalam keadaan duduk,

فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَقَرَأَ، ثُمَّ رَكَعَ.

lalu apabila beliau hendak rukuk, beliau berdiri kemudian membaca baru setelah itu rukuk, (Sahih Bukhari: 4837. Sahih Muslim: 2820).

PENJELASAN

تَتَفَطَّرَ: أَيْ تَتَشَقَّقَ.

Pecah-pecah: Yaitu retak-retak atau belah-belah.

أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا؟: أَيْ الْمَغْفِرَةُ سَبَبٌ لِكَوْنِ التَّهَجُّدِ شُكْرًا، فَكَيْفَ أَتْرُكُهُ؟!

Bukankah aku suka untuk menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?: Yaitu bahwa ampunan adalah sebab bagi pelaksanaan shalat tahajud, sebagai wujud syukur, maka bagaimana mungkin aku meninggalkannya?!

كَثُرَ لَحْمُهُ: أَيْ كَبِرَ.

Tubuhnya berisi/berat: Yaitu bertambah tua usianya.

مَا يُسْتَفَادُ مِنَ الْحَدِيثِ:

PELAJARAN

١- الشُّكْرُ يَكُونُ بِالْعَمَلِ كَمَا يَكُونُ بِاللِّسَانِ.

1- Syukur itu diwujudkan dengan perbuatan (amal) sebagaimana ia diwujudkan dengan ucapan (lisan).

٢- شِدَّةُ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَبِّهِ.

2- Besarnya kesungguhan ibadah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Tuhannya.

٣- مَشْرُوعِيَّةُ الصَّلَاةِ جَالِسًا فِي صَلَاةِ النَّافِلَةِ.

3- Disyariatkannya shalat dalam keadaan duduk pada shalat sunnah.

٤- كُلَّمَا عَظُمَ إِيمَانُ الْعَبْدِ عَظُمَ خَوْفُهُ مِنْ رَبِّهِ، وَكَثُرَتْ عِبَادَتُهُ.

4- Semakin agung keimanan seorang hamba, maka semakin besar pula rasa takutnya kepada Tuhannya, dan semakin banyak ibadahnya.

قِيَامُ اللَّيْلِ يَرْفَعُكَ إِلَى دَرَجَةِ الْقَانِتِينَ

Shalat malam mengangkatmu ke derajat orang-orang yang taat beribadah

رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani dari Abdullah bin Amr bin Al-Aash radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ، وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ الْقَانِتِينَ، وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ الْمُقَنْطِرِينَ.

Barangsiapa yang shalat malam dengan membaca sepuluh ayat maka dia tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai, barangsiapa yang shalat malam dengan membaca seratus ayat maka dia dicatat sebagai orang-orang yang taat beribadah, dan barangsiapa yang shalat malam dengan membaca seribu ayat maka dia dicatat sebagai orang-orang yang mendapatkan pahala berlimpah.

PENJELASAN

مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ: أَيْ مَنْ قَرَأَ فِي اللَّيْلِ عَشْرَ آيَاتٍ.

Barangsiapa yang shalat dengan sepuluh ayat: Yaitu siapa yang membaca sepuluh ayat pada malam hari saat shalat.

لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ: أَيْ لَمْ يُثْبَتِ اسْمُهُ فِي صَحِيفَةِ الْغَافِلِينَ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى.

Tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai: Yaitu namanya tidak ditetapkan di dalam lembaran catatan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah Ta'ala.

مِنَ الْقَانِتِينَ: أَيِ الْمُطِيعِينَ الْمُوَاظِبِينَ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ، أَوِ الْخَاشِعِينَ، أَوِ الْمُصَلِّينَ، أَوِ الدَّاعِينَ، أَوِ الْعَابِدِينَ، أَوِ الْقَائِمِينَ.

Termasuk orang-orang yang taat beribadah: Yaitu orang-orang yang taat yang tekun di atas ketaatan kepada Allah, atau orang-orang yang khusyuk, atau orang-orang yang mendirikan shalat, atau orang-orang yang berdoa, atau orang-orang yang beribadah, atau orang-orang yang berdiri melakukan shalat malam.

مِنَ الْمُقَنْطِرِينَ: أَيْ مِنَ الْمُكْثِرِينَ مِنَ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ، مَأْخُوذٌ مِنَ الْقِنْطَارِ، وَهُوَ الْمَالُ الْكَثِيرُ، وَيُرْوَى بِفَتْحِ الطَّاءِ، أَيْ مِنَ الَّذِينَ أُعْطُوا قِنْطَارًا مِنَ الْأَجْرِ.

Termasuk orang-orang yang mendapatkan pahala berlimpah: Yaitu termasuk orang-orang yang memperbanyak bagian pahala dan ganjaran, kata ini diambil dari kata Al-Qinthar yang berarti harta yang banyak, dan diriwayatkan juga dengan harakat fathah pada huruf Tha', yaitu termasuk orang-orang yang diberikan pahala berlimpah seberat qinthar.

Post a Comment for "Keutamaan Qiyamul Lail"