zmedia

Hukum Membungkuk untuk Menghormati: Fatwa Syabakah Islamiyah

Fatwa ini membahas hukum membungkuk dalam Islam, khususnya ketika dilakukan sebagai bentuk penghormatan, seperti dalam seni bela diri atau salam sopan. Penjelasan ini merupakan fatwa dari Syaikh Abdullah Al-Faqih Asy-Syinqitti, salah satu ulama besar dan mufti di Syabakah Islamiyah, Qatar. Dalam fatwa ini, beliau menguraikan secara rinci batasan antara adab, penghormatan, dan bentuk perbuatan yang dapat berpotensi syirik, berdasarkan dalil-dalil dan pendapat para ulama.

حُكْمُ الانْحِنَاءِ لِلْمَخْلُوقِ

Hukum membungkuk kepada makhluk Pertanyaan: Pertanyaan saya tentang membungkuk dalam seni bela diri. Apakah hal itu dianggap syirik besar oleh sebagian ulama jika hanya untuk salam penghormatan?

Dan jika membungkuknya tidak sampai pada tingkat rukuk (yakni tidak sampai bisa menyentuh lutut dengan tangan), apakah itu dianggap rukuk?

Adakah ulama yang mengatakan bahwa hal itu merupakan syirik besar meskipun belum sampai derajat rukuk?

Apakah saya berdosa jika tidak membungkuk, namun lawan saya membungkuk kepada saya hingga mendekati batas rukuk?

Dan jika seseorang berkata bercanda kepada temannya: “Ini ketika saya masih di masa jahiliah,” maksudnya sebelum bertaubat — apakah hal itu terlarang?

Jawaban:

 

الحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ:

Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba‘d.

 

فَقَدْ جَاءَ الشَّرْعُ بِالمَنْعِ مِنَ الانْحِنَاءِ لِلمَخْلُوقِ، فَفِي حَدِيثِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ؛ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ، أَوْ صَدِيقَهُ، أَيَنْحَنِي لَهُ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ؟ قَالَ: نَعَمْ. اهـ. رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ.

Syariat melarang membungkuk kepada makhluk. Dalam hadis Anas bin Malik disebutkan bahwa seorang lelaki bertanya: “Wahai Rasulullah, seseorang dari kami bertemu saudaranya atau temannya, bolehkah ia membungkuk kepadanya?” Beliau menjawab: “Tidak.” Orang itu bertanya lagi: “Apakah boleh memeluk dan menciumnya?” Beliau menjawab: “Tidak.” Orang itu bertanya lagi: “Apakah boleh berjabat tangan dengannya?” Beliau menjawab: “Ya.” (Musnad Ahmad. Jami Tirmidzi)

وَلَا يُعْتَبَرُ شِرْكًا أَكْبَرَ إِذَا وَقَعَ لِمُجَرَّدِ التَّحِيَّةِ، وَلَمْ يَقْصِدْ بِهِ المُنْحَنِي تَعْظِيمَ المَخْلُوقِ كَتَعْظِيمِ اللَّهِ.

Membungkuk tidak dianggap syirik besar jika hanya untuk salam penghormatan dan tidak dimaksudkan untuk mengagungkan makhluk sebagaimana mengagungkan Allah.

Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin berkata:

وَأَمَّا الانْحِنَاءُ فَإِنَّهُ حَرَامٌ، لَكِنْ لَا يَصِلُ إِلَى حَدِّ الشِّرْكِ. اهـ.

Adapun membungkuk itu haram, tetapi tidak sampai pada derajat syirik.

وَلَا نَعْلَمُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ العِلْمِ قَالَ إِنَّهُ إِذَا كَانَ لِمُجَرَّدِ التَّحِيَّةِ يَكُونُ كُفْرًا مُخْرِجًا مِنَ المِلَّةِ، إِلَّا إِذَا قُصِدَ بِهِ تَعْظِيمُ المَخْلُوقِ كَتَعْظِيمِ اللَّهِ؛ فَإِنَّهُ يَكْفُرُ فَاعِلُهُ.

Tidak ada ulama yang mengatakan bahwa membungkuk semata-mata untuk penghormatan menyebabkan kufur, kecuali jika dimaksudkan mengagungkan makhluk seperti mengagungkan Allah, maka pelakunya kafir.

Imam Al-Bujairimi (ulama Syafi’i) berkata:

الانْحِنَاءُ لِمَخْلُوقٍ كَمَا يُفْعَلُ عِنْدَ مُلَاقَاةِ العُظَمَاءِ، حَرَامٌ عِنْدَ الإِطْلَاقِ، أَوْ قَصْدِ تَعْظِيمِهِمْ لَا كَتَعْظِيمِ اللَّهِ، وَكُفْرٌ إِنْ قَصَدَ تَعْظِيمَهُمْ كَتَعْظِيمِ اللَّهِ تَعَالَى. اهـ.

Membungkuk kepada makhluk sebagaimana dilakukan ketika bertemu para pembesar adalah haram secara mutlak, bila dimaksudkan untuk menghormati mereka — bukan seperti penghormatan kepada Allah. Namun menjadi kufur bila dimaksudkan mengagungkan mereka seperti mengagungkan Allah Ta‘ala.

Ibnu ‘Allan juga berkata:

مِنَ البِدَعِ المُحَرَّمَةِ الانْحِنَاءُ عِنْدَ اللِّقَاءِ بِهَيْئَةِ الرُّكُوعِ. أَمَّا إِذَا وَصَلَ انْحِنَاؤُهُ لِلمَخْلُوقِ إِلَى حَدِّ الرُّكُوعِ، قَاصِدًا بِهِ تَعْظِيمَ ذَلِكَ المَخْلُوقِ، كَمَا يُعَظِّمُ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَلَا شَكَّ أَنَّ صَاحِبَهُ يَرْتَدُّ عَنِ الإِسْلَامِ، وَيَكُونُ كَافِرًا بِذَلِكَ، كَمَا لَوْ سَجَدَ لِذَلِكَ المَخْلُوقِ. اهـ.

Termasuk bid‘ah yang diharamkan adalah membungkuk ketika bertemu dengan bentuk seperti rukuk. Jika membungkuknya sampai seperti rukuk kepada makhluk dengan maksud mengagungkannya sebagaimana mengagungkan Allah, maka tidak diragukan bahwa ia telah murtad dan menjadi kafir, sebagaimana jika ia sujud kepada makhluk tersebut. Akhir kutipan.

وَمَنْ انْحَنَى لَكَ، لَابُدَّ أَنْ تَنْهَاهُ قِيَامًا بِوَاجِبِ النَّهْيِ عَنِ المُنْكَرِ، وَلَا يَكْفِيكَ أَنْ تَسْكُتَ.

وَالانْحِنَاءُ اليَسِيرُ الَّذِي لَا يَصِلُ إِلَى حَدِّ الرُّكُوعِ مَكْرُوهٌ.

Jika ada orang membungkuk kepadamu, engkau wajib menegurnya sebagai bentuk amar makruf nahi mungkar, tidak cukup hanya diam. Adapun membungkuk ringan yang tidak sampai seperti rukuk hukumnya makruh.

Dalam Hasyiyah Asy-Syarwani disebutkan:

أَمَّا مَا جَرَتْ بِهِ العَادَةُ مِنْ خَفْضِ الرَّأْسِ، وَالانْحِنَاءِ إِلَى حَدٍّ لَا يَصِلُ بِهِ إِلَى أَقَلِّ الرُّكُوعِ، فَلَا كُفْرَ بِهِ، وَلَا حُرْمَةَ أَيْضًا. لَكِنْ يَنْبَغِي كَرَاهَتُهُ. اهـ.

Adapun kebiasaan menundukkan kepala dan membungkuk sedikit tanpa sampai pada derajat rukuk, maka tidak termasuk kufur dan tidak haram. Namun sebaiknya dianggap makruh.

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmū‘ menjelaskan batas rukuk:

قَالَ أَصْحَابُنَا: أَقَلُّهُ أَنْ يَنْحَنِيَ بِحَيْثُ تَنَالُ رَاحَتَاهُ رُكْبَتَيْهِ، لَوْ أَرَادَ وَضْعَهُمَا عَلَيْهِمَا. وَلَا يُجْزِيهِ دُونَ هَذَا بِلَا خِلَافٍ عِنْدَنَا. وَهَذَا عِنْدَ اعْتِدَالِ الخِلْقَةِ، وَسَلَامَةِ اليَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ. اهـ.

Menurut ulama mazhab kami, rukuk minimal adalah ketika seseorang membungkuk hingga kedua telapak tangannya bisa mencapai lututnya bila ia ingin meletakkannya. Kurang dari itu tidak dianggap rukuk. Hal ini berlaku bagi orang yang tubuhnya normal serta tangan dan lututnya sehat.

وَلَا نَرَى حَرَجًا فِي قَوْلِ القَائِلِ عَنْ أَمْرٍ مُحَرَّمٍ كَانَ يَفْعَلُهُ، وَتَابَ مِنْهُ: «هَذَا فِي أَيَّامِ الجَاهِلِيَّةِ». وَانْظُرِ الفَتْوَى: 76341.

Kami tidak melihat adanya larangan jika seseorang berkata tentang perbuatan haram yang pernah ia lakukan sebelum taubat: “Ini dulu di masa jahiliah.” (Lihat fatwa no. 76341)

Wallahua’lam

Dari penjelasan panjang Syaikh Abdullah Al-Faqih Asy-Syinqitti di atas, dapat disimpulkan bahwa hukum membungkuk kepada sesama manusia termasuk perbuatan yang tidak dibenarkan dalam syariat, meskipun dilakukan hanya untuk penghormatan. Jika maksudnya adalah memuliakan makhluk sebagaimana memuliakan Allah, maka itu menjadi perbuatan syirik besar. Namun jika sekadar sopan santun atau kebiasaan tanpa niat pengagungan, maka hukumnya makruh atau haram ringan, tergantung konteksnya.

Dengan demikian, seorang Muslim seharusnya mengekspresikan rasa hormat dengan cara yang disyariatkan—seperti berjabat tangan, memberi salam, atau tersenyum—tanpa harus melanggar batas hukum membungkuk yang telah dijelaskan oleh para ulama.

Pengkol, 3 November 2025

Irfan Nugroho (Pengelola situs Mukminun.com dan channel YouTube: Mukminun TV)

Post a Comment for "Hukum Membungkuk untuk Menghormati: Fatwa Syabakah Islamiyah"