zmedia

MAUSUATUL AKHLAK: HIFDUL LISAN (MENJAGA LISAN)


Pembaca rahimakumullah, berikut adalah materi dari Mausuatul Akhlak tentang Hifdul Lisan atau menjaga lisan. Semoga bermanfaat!

التَّرْغِيبُ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ مِنَ الْقُرْآنِ

ANJURAN UNTUK MENJAGA LISAN DARI AL-QUR'AN

قَوْلُهُ تَعَالَى: وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

Firman Allah Ta'ala: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. (QS. Al-Isra': 36)

PENJELASAN: Ar-Razi mengatakan bahwa yang dimaksud di dalam ayat ini bisa saja: syahadatu zur (persaksian palsu), qadzaf (menuduh zina), dusta, gibah. Artinya, ayat ini mencakup umum, tidak ada batasan.

قَوْلُهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Firman Allah Ta'ala: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. (QS. Al-Ahzab: 70)

PENJELASAN: (Perkataan yang benar): yaitu yang menuju kepada kebenaran. Dan as-sadad adalah: menuju kepada kebenaran serta berkata dengan adil. Maksudnya adalah: dorongan agar perkataan mereka lurus/benar dalam setiap urusan; karena menjaga lisan dan kebenaran ucapan adalah pokok dari seluruh kebaikan. Maknanya: merasa diawasilah oleh Allah dalam menjaga lisan kalian dan meluruskan ucapan kalian; sebab jika kalian melakukan itu, Allah akan memberikan kepada kalian puncak dari apa yang dicari, yaitu diterimanya kebaikan-kbaikan kalian dan diberikannya pahala atasnya, serta diampuninya dosa-dosa kalian dan dihapuskannya kesalahan tersebut.

وَقَالَ تَعَالَى: وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

Dan Allah Ta'ala berfirman: Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." (QS. Al-Isra': 53)

PENJELASAN: Ibn Katsir berkata, "Allah Ta'ala memerintahkan Rasul-Nya agar memerintahkan hamba-hamba Allah yang beriman untuk mengucapkan perkataan yang terbaik dan kalimat yang baik dalam percakapan dan dialog mereka; sebab jika mereka tidak melakukannya, setan akan menimbulkan perselisihan di antara mereka dan menyulut percakapan menjadi tindakan nyata, sehingga terjadilah keburukan, pertengkaran, dan perkelahian.”

وَقَالَ تَعَالَى: وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Dan Allah Ta'ala berfirman: Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. (QS. Al-Baqarah: 83)

PENJELASAN: Maka makna firman-Nya, "Dan katakanlah kepada manusia kata-kata yang baik" adalah perkataan yang baik, dan ini merupakan dorongan yang sangat mendalam untuk berakhlak mulia dan bermuamalah dengan baik. Perkataan yang baik mengumpulkan seluruh keutamaan, darinya terpancar rasa cinta dari hati, dengannya jiwa menjadi tenang, serta dengannya dendam sirna dan kedengkian di dalam dada lenyap.

وَقَالَ تَعَالَى مُثْنِيًا عَلَى عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ بِإِعْرَاضِهِمْ عَنِ اللَّغْوِ: وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Dan Allah Ta'ala berfirman seraya memuji hamba-hamba-Nya yang beriman karena berpalingnya mereka dari perbuatan/perkataan yang sia-sia: Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. (QS. Al-Mu'minun: 3)

PENJELASAN: As-Sa'di berkata, "Dan orang-orang yang dari perbuatan/perkataan sia-sia yaitu perkataan yang tidak ada kebaikan dan tidak ada manfaat padanya, (mereka berpaling) karena benci padanya, demi menyucikan diri mereka, dan menjauh darinya.”

التَّرْغِيبُ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ مِنَ السُّنَّةِ

ANJURAN UNTUK MENJAGA LISAN DARI AS-SUNNAH

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا النَّجَاةُ؟ قَالَ: أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?" Beliau bersabda: "Jagalah lisanmu, hendaknya rumahmu membuatmu betah (untuk tinggal), dan menangislah atas dosa-dosamu." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi [2406] dan lafaz ini miliknya, serta Ahmad [17334])

PENJELASAN:

"((Jagalah lisanmu)): artinya: janganlah engkau jalankan lisanmu melainkan untuk hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagimu, bukan keburukan yang memberatkanmu. Zhohirnya (secara tekstual) semestinya dikatakan: 'Menjaga lisan', namun beliau menyampaikannya dalam bentuk perintah yang menuntut realisasi nyata; sebagai penekanan yang lebih kuat. Ada pula yang mengatakan: Hadits ini termasuk uslub al-hakim (gaya bahasa bijak); sebab pertanyaannya adalah tentang hakikat keselamatan, sedangkan jawabannya berupa sebab meraih keselamatan tersebut; karena hal itu jauh lebih penting."

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: أَيُّ الْمُسْلِمِينَ أَفْضَلُ؟ قَالَ: مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah pernah ditanya: "Muslim manakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Orang yang membuat orang-orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari [11], dan Muslim [42] dan lafaz ini miliknya)

PENJELASAN:

Sabda beliau: "((Orang yang membuat orang-orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya))", artinya: barang siapa yang keadaannya demikian, maka ia adalah orang yang paling berhak menyandang nama (muslim sejati) ini dan paling kokoh kedudukannya di dalamnya. Hal ini menjelaskan bahwa seseorang tidak akan sampai pada derajat ini hingga rasa takut terhadap siksa Allah Ta'ala serta harapan akan pahala-Nya benar-benar meresap di dalam hatinya, sehingga memberikannya sifat wara' yang mendorongnya untuk mengendalikan lisan dan tangannya. Ia tidak berbicara melainkan tentang apa yang penting baginya, dan tidak berbuat melainkan pada hal yang mendatangkan keselamatan baginya. Barang siapa yang demikian, maka dialah muslim yang sempurna dan orang bertakwa yang utama.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ: مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

Dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah , beliau bersabda: "Barang siapa yang dapat menjamin bagiku apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan), niscaya aku jamin surga baginya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari [6474])

PENJELASAN:

Sabda beliau: "((Barang siapa yang menjamin))", berasal dari kata adho-dhaman yang bermakna menepati janji untuk meninggalkan kemaksiatan. Maknanya adalah: barang siapa yang menunaikan hak yang wajib atas lisannya berupa mengucapkan apa yang diwajibkan kepadanya atau diam dari apa yang tidak penting baginya, serta menunaikan hak yang wajib atas kemaluannya berupa menggunakannya pada yang halal dan menahannya dari yang haram.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari [6475], dan Muslim [47] secara panjang)

PENJELASAN:

Asy-Syafi'i berkata:

إِذَا أَرَادَ الْكَلَامَ فَعَلَيْهِ أَنْ يُفَكِّرَ قَبْلَ كَلَامِهِ، فَإِنْ ظَهَرَتِ الْمَصْلَحَةُ تَكَلَّمَ، وَإِنْ شَكَّ لَمْ يَتَكَلَّمْ حَتَّى تَظْهَرَ

Apabila seseorang hendak berbicara, maka wajib baginya untuk berpikir sebelum ucapannya keluar. Jika tampak adanya maslahat, hendaklah ia berbicara; dan jika ia ragu-ragu, janganlah ia berbicara hingga maslahat tersebut menjadi jelas.

التَّرْغِيبُ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ مِنْ أَقْوَالِ السَّلَفِ

ANJURAN UNTUK MENJAGA LISAN DARI PERKATAAN ULAMA SALAF

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: مَا شَيْءٌ أَحَقَّ بِطُولِ سَجْنٍ مِنَ اللِّسَانِ

Dari Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Tidak ada sesuatu pun yang lebih berhak untuk dipenjarakan dalam waktu yang lama melebihi lisan." (Diriwayatkan oleh Ibn Al-Mubarak dalam kitab Al-Zuhd [384])

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا اتَّقَى اللَّهَ أَحَدٌ حَقَّ تُقَاتِهِ حَتَّى يَخْزُنَ مِنْ لِسَانِهِ

Dan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu: "Seseorang tidaklah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa hingga ia mampu menjaga (menahan) lisannya." (Kitab Al-Amtsal karya Ibn Sallam [hal. 39])

وَقَالَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: الْكَلَامُ كَالدَّوَاءِ؛ إِنْ أَقْلَلْتَ مِنْهُ نَفَعَ، وَإِنْ أَكْثَرْتَ مِنْهُ قَتَلَ

Dan Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu berkata: "Perkataan itu seperti obat; jika engkau menguranginya (secukupnya) ia akan bermanfaat, dan jika engkau memperbanyaknya ia dapat membunuh." (Kitab Rabi' Al-Abrar karya Az-Zamakhsyari [2/136])

مَعْنَى حِفْظِ اللِّسَانِ

ARTI MENJAGA LISAN

الْحِفْظُ لُغَةً: مَصْدَرُ: حَفِظَ يَحْفَظُ، وَتَدُلُّ عَلَى مُرَاعَاةِ الشَّيْءِ

Al-Hifzh secara bahasa: merupakan bentuk mashdar dari kata hafizha yahfazhu, yang menunjukkan arti merawat atau menjaga sesuatu. (Lihat: Mu'jam Maqayis al-Lughah karya Ibn Faris [2/87])

اللِّسَانُ لُغَةً: جَارِحَةُ الْكَلَامِ

Al-Lisan secara bahasa: anggota tubuh yang digunakan untuk berbicara. (Lihat: Ash-Shihah karya Al-Jauhari [6/2195])

حِفْظُ اللِّسَانِ اصْطِلَاحًا: أَيْ عَنِ النُّطْقِ بِمَا لَا يَسُوغُ شَرْعًا مِمَّا لَا حَاجَةَ لِلْمُتَكَلِّمِ بِهِ

Menjaga lisan secara istilah: yaitu menahannya dari mengucapkan hal-hal yang tidak diperbolehkan secara syariat, dari hal-hal yang tidak dibutuhkan oleh si pembicara. (Fathul Bari [11/308])

حُكْمُ حِفْظِ اللِّسَانِ

HUKUM MENJAGA LISAN

يُنْدَبُ حِفْظُ اللِّسَانِ عَنْ غَيْرِ مُحَرَّمٍ، وَأَمَّا عَنْ مُحَرَّمٍ، كَالْخَوْضِ فِي الْبَاطِلِ وَالْفُحْشِ، وَالسَّبِّ وَالْبَذَاءِ، وَالْغِيبَةِ وَالسُّخْرِيَّةِ وَالِاسْتِهْزَاءِ، فَوَاجِبٌ

Disunnahkan (dianjurkan) menjaga lisan dari hal-hal yang bukan haram (seperti pembicaraan mubah yang berlebihan), sedangkan membendungnya dari hal yang diharamkan—seperti hanyut dalam kebatilan, kekejian, caci maki, perkataan kotor, ghibah, cemoohan, dan ejekan—maka hukumnya adalah wajib. (Al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [35/242])

فَوَائِدُ حِفْظِ اللِّسَانِ

MANFAAT-MANFAAT MENJAGA LISAN

أَنَّ تَمَامَ إِسْلَامِ الْمَرْءِ أَنْ يَكُفَّ لِسَانَهُ عَنِ الْمُسْلِمِينَ

Bahwa kesempurnaan Islam seseorang ditunjukkan dengan menahan lisannya dari mengganggu sesama muslim.

أَنَّ حِفْظَ اللِّسَانِ سَبَبٌ لِلنَّجَاةِ

Bahwa menjaga lisan merupakan sebab lahirnya keselamatan.

أَنَّ فِي حِفْظِ لِسَانِهِ امْتِثَالًا لِأَمْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ، وَأَمْرِ رَسُولِهِ ﷺ بِحِفْظِهِ

Bahwa dalam tindakan menjaga lisan terdapat wujud kepatuhan terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan perintah Rasul-Nya untuk menjaganya.

أَنَّ فِيهِ اقْتِدَاءً بِأَنْبِيَاءِ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَعِبَادِهِ الْمُتَّقِينَ

Bahwa di dalamnya terdapat bentuk meneladani para nabi Allah, para rasul-Nya, serta hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

حِفْظُ اللِّسَانِ يَقِي الْمَرْءَ مِنَ الْوُقُوعِ فِي آفَاتِهِ

Menjaga lisan akan memelihara seseorang dari kejatuhan ke dalam bahaya dan bencana lisan.

أَنَّ مَنْ مَلَكَ لِسَانَهُ كَانَ أَقْدَرَ عَلَى أَنْ يَمْلِكَ جَمِيعَ أَمْرِهِ

Bahwa barang siapa mampu menguasai lisannya, niscaya ia akan lebih sanggup menguasai seluruh urusan dirinya.

صُوَرُ وَمَظَاهِرُ صِفَاتِ حِفْظِ اللِّسَانِ

BENTUK DAN MANIFESTASI SIFAT MENJAGA LISAN

اجْتِنَابُ الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ

Menjauhi ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba).

حِفْظُ اللِّسَانِ مِنَ الْكَذِبِ

Menjaga lisan dari kebohongan/dusta.

حِفْظُ اللِّسَانِ عَنْ بَذِيءِ الْقَوْلِ وَالْفَاحِشِ مِنْهُ

Menjaga lisan dari perkataan yang kotor dan keji.

حِفْظُ اللِّسَانِ عَنِ السَّبِّ وَالشَّتْمِ وَاللَّعْنِ

Menjaga lisan dari mencaci, memaki, dan melaknat.

حِفْظُ اللِّسَانِ عَنِ الْحَلِفِ بِغَيْرِ اللَّهِ

Menjaga lisan dari bersumpah dengan selain nama Allah.

حِفْظُ اللِّسَانِ عَنِ الْقَذْفِ

Menjaga lisan dari menuduh zina (qadzaf).

حِفْظُ اللِّسَانِ عَنِ السُّخْرِيَّةِ وَالِاسْتِهْزَاءِ وَالتَّحْقِيرِ لِلْآخَرِينَ

Menjaga lisan dari mengolok-olok, mengejek, dan merendahkan orang lain.

حِفْظُ اللِّسَانِ عَنِ الْخَوْضِ فِي الْبَاطِلِ

Menjaga lisan dari larut membicarakan kebatilan.

حِفْظُ اللِّسَانِ عَنِ الْمِرَاءِ وَالْجَدَلِ

Menjaga lisan dari perdebatan dan pertengkaran yang tidak berguna.

حِفْظُ اللِّسَانِ عَنِ الْإِفْرَاطِ فِي الْمُزَاحِ

Menjaga lisan dari berlebihan dalam bercanda.

حِفْظُ اللِّسَانِ عَنِ التَّقَعُّرِ فِي الْكَلَامِ بِالتَّشَدُّقِ وَتَكَلُّفِ السَّجْعِ

Menjaga lisan dari memaksakan diri dalam berbicara dengan dibuat-buat dan memaksakan rima/sajak secara berlebihan.

مَوَانِعُ اكْتِسَابِ صِفَاتِ حِفْظِ اللِّسَانِ

PENGHAMBAT DALAM MERAIH SIFAT MENJAGA LISAN

الْجَهْلُ بِعَوَاقِبِ إِطْلَاقِ اللِّسَانِ

Ketidaktahuan akan dampak buruk dari tidak mengontrol lisan.

التَّهَوُُّرُ وَالتَّسَرُُّعُ

Kecerobohan dan terburu-buru dalam berbicara.

سُوءُ الْخُلُقِ الَّذِي يَحُولُ بَيْنَ الْإِنْسَانِ وَبَيْنَ ضَبْطِ أَخْلَاقِهِ، وَحِفْظِ لِسَانِهِ

Akhlak buruk yang menghalangi seseorang dari mengendalikan perilakunya dan menjaga lisannya.

سُهُولَةُ الْكَلَامِ؛ فَإِنَّهُ لَا تَعَبَ فِي إِطْلَاقِ اللِّسَانِ وَلَا مُؤْنَةَ فِي تَحْرِيكِهِ

Kemudahan dalam berbicara; karena tidak ada rasa lelah dalam melepas lisan dan tidak butuh biaya untuk menggerakkannya.

التَّسَاهُلُ فِي الِاحْتِرَازِ عَنْ آفَاتِ اللِّسَانِ وَغَوَائِلِهِ، وَالْحَذَرِ مِنْ مَصَايِدِهِ وَحَبَائِلِهِ

Meremehkan perlindungan diri dari bahaya dan kejahatan lisan, serta kurangnya kewaspadaan terhadap jebakan-jebakannya.

غَلَبَةُ شَهْوَةِ الْكَلَامِ عَلَى الصَّمْتِ

Dominasi dorongan/keinginan untuk berbicara dibandingkan untuk diam.

فُضُولُ الْكَلَامِ وَالِاسْتِرْسَالُ فِيهِ دُونَ الِاقْتِصَارِ عَلَى مَا يُحَقِّقُ الْغَايَةَ مِنَ الْكَلَامِ

Berbicara berlebihan dan terus-menerus melantur tanpa membatasi diri pada apa yang menjadi tujuan pembicaraan.

الْبِيئَةُ وَالصُّحْبَةُ السَّيِّئَةُ

Lingkungan dan pergaulan yang buruk.

رَغْبَةُ الْإِنْسَانِ فِي إِرْضَاءِ غَيْرِهِ وَمُسَايَرَتِهِ، وَلَوْ بِالتَّكَلُّمِ بِالْبَاطِلِ

Keinginan seseorang untuk menyenangkan dan menuruti orang lain, meskipun harus berbicara kebatilan.

امْتِلَاءُ الصَّدْرِ بِالْحِقْدِ وَالْغِلِّ وَالْحَسَدِ وَالْعَدَاوَةِ

Dada yang penuhat dengan rasa dendam, kedengkian, iri hati, dan permusuhan.

الْوَسَائِلُ الْمُعِينَةُ عَلَى اكْتِسَابِ صِفَاتِ حِفْظِ اللِّسَانِ

SARANA-SARANA YANG MEMBANTU MEMPEROLEH SIFAT MENJAGA LISAN

اشْتِغَالُ اللِّسَانِ بِذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى، وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَكَثْرَةِ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ

Kesibukan lisan dengan berzikir kepada Allah Ta'ala, membaca Al-Qur'anul Karim, serta memperbanyak shalawat dan salam kepada Rasulullah .

تَجَنُّبُ الِاخْتِلَاطِ بِالْمُغْتَابِينَ وَالنَّمَّامِينَ وَغَيْرِهِمْ مِمَّنْ لَا يَحْفَظُ لِسَانَهُ

Menjauhi berbaur dengan pelaku ghibah, pengadu domba, dan orang-orang yang tidak menjaga lisannya.

الْحِرْصُ عَلَى صُحْبَةِ الصَّالِحِينَ وَمَجَالِسِ الْخَيْرِ

Semangat untuk berteman dengan orang-orang saleh dan menghadiri majelis-majelis kebaikan.

تَذْكِيرُ النَّفْسِ بِالْأَضْرَارِ الَّتِي يُسَبِّبُهَا اللِّسَانُ

Menasehati/mengingatkan diri sendiri tentang bahaya dan kerugian yang disebabkan oleh lisan.

عُلُوُّ الْهِمَّةِ

Memiliki cita-cita dan tekad yang tinggi.

قِرَاءَةُ سِيَرِ السَّلَفِ الصَّالِحِ وَالِاقْتِدَاءُ بِهِمْ

Membaca riwayat hidup Ulama Salaf yang saleh serta meneladani mereka.

مُحَاسَبَةُ النَّفْسِ وَمُجَاهَدَتُهَا عَلَى حِفْظِ اللِّسَانِ

Melakukan introspeksi diri (muhasabah) dan bersungguh-sungguh melatih diri untuk menjaga lisan.

احْتِيَاطُ الْإِنْسَانِ لِنَفْسِهِ قَبْلَ التَّكَلُّمِ

Berhati-hati dan berpikir matang sebelum berbicara.

Demikian materi dari Mausuatul Akhlak tentang Hifdul Lisan atau menjaga lisan. Semoga bermanfaat!

Karangasem, 3 Agustus 2026

Irfan Nugroho (Pengajar di PPTQ At-Taqwa, RQ Irmas Bani Saimo, dan Sekertaris LAZ Al Qoyyim Sukoharjo)

Post a Comment for "MAUSUATUL AKHLAK: HIFDUL LISAN (MENJAGA LISAN)"