zmedia

Waspadai 10 Pintu Sombong

 

Alhamdulillahirabbil ’alamin, wabihi nasta’inu ’ala umuriddunya waddin. Washshalatu wasshalamu ’ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, wa ’ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa melimpahkan taufik, hidayah, serta kelapangan hati kepada kita. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Rasulullah Muhammad , beserta keluarga, para sahabat, dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Buku saku digital yang berada di hadapan pembaca saat ini merupakan ringkasan sari pati ilmu dari kajian yang mendalam mengenai salah satu penyakit hati yang paling berbahaya: Al-Kibr (Kesombongan).

Sering kali kita merasa aman dan bersih dari dosa-dosa besar yang kasatmata. Namun, kita kerap melupakan bahwa ada dosa besar yang bersembunyi dengan sangat halus di dalam lipatan hati, membisikkan rasa lebih mulia, lebih pintar, lebih rupawan, atau lebih bertakwa daripada orang lain. Padahal, Rasulullah telah memberikan peringatan yang sangat menggetarkan jiwa, bahwa tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, meski hanya seberat zarah (partikel debu yang terkecil).

Melalui lembaran-lembaran singkat yang didesain khusus agar nyaman dibaca di layar ponsel ini, kita akan diajak untuk:

-          Merenungkan kembali keutamaan agung di balik perjuangan meninggalkan dosa besar.

-          Mengenali 10 pintu masuk kesombongan yang sering tidak kita sadari dalam kehidupan sehari-hari, lengkap dengan pijakan dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah.

-          Mempraktikkan langkah-langkah preventif (pencegahan) dan terapi fisik guna menundukkan ego serta merawat sifat tawadu (rendah hati).

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Namun, setitik harapan besar terselip, semoga e-book kecil ini dapat menjadi cermin bagi kita semua untuk terus berbenah, melakukan muhasabah (koreksi diri), dan membersihkan hati sebelum hari di mana harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali mereka yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih (qalbun salim).

Selamat membaca dan merenung. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga hati kita dari segala benih keangkuhan dan mengumpulkannya bersama orang-orang yang bertawadu di dalam surga-Nya. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

BAB I: KEUTAMAAN MENJAUHI DOSA BESAR & JAMINAN AMPUNAN

Perjalanan seorang hamba menuju rida Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah luput dari kekhilafan. Sebagai manusia yang lemah, kita kerap kali tergelincir ke dalam berbagai kesalahan, baik melalui ucapan lisan yang tidak terjaga, pandangan mata yang liar, maupun pendengaran yang menangkap hal-hal yang tidak bermanfaat. Namun, di balik kelemahan manusia tersebut, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang membuka pintu kemurahan yang amat luas melalui sebuah ketetapan syariat yang agung, yaitu: jaminan pengampunan dosa-dosa kecil bagi mereka yang gigih berjuang menjauhi dosa-dosa besar.

Prinsip pengampunan otomatis ini bukanlah sekadar angan-angan atau kelonggaran tanpa dasar, melainkan sebuah janji setia yang tertulis langsung di dalam kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِن تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عنكم سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلًا كَرِيمًا

Artinya: "Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)," (QS. An-Nisa: 31).

Allah ta’ala juga berfirman:

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya," (QS. An-Najm: 32).

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kata "Al-Lamam" dalam Surah An-Najm di atas merujuk pada dosa-dosa kecil, atau kemaksiatan yang terbersit di dalam hati lalu dilakukan sesekali tanpa ada unsur kesengajaan untuk terus-menerus meremehankannya.

Melalui dua ayat agung ini, kita dapat menarik benang merah yang sangat penting dalam konsep pensucian jiwa (tazkiyatun nafs). Syarat utamanya adalah adanya komitmen, kesungguhan, dan perjuangan batin yang kuat untuk menjauhi dosa-dosa besar (seperti syirik, sihir, membunuh, zina, memakan riba, dan kesombongan).

Konsekuensinya di dunia, dosa-dosa kecil yang dipicu oleh kekhilafan manusiawi (Al-Lamam) akan luruh dan dihapus oleh Allah sebagai bentuk apresiasi atas keteguhannya menjaga diri dari dosa besar. Sedangkan konsekuensi di akhirat adalah jaminan mutlak berupa tiket untuk melangkah masuk ke dalam tempat kembali yang penuh dengan kemuliaan dan kehormatan, yang tiada lain adalah surga Allah .

Oleh karena itu, pembahasan mengenai dosa besar hati seperti Al-Kibr (kesombongan) pada bab-bab selanjutnya menjadi teramat krusial. Sebab, bagaimana mungkin seorang hamba bisa meraih jaminan ampunan otomatis atas dosa kecilnya dan melangkah dengan tenang menuju surga, jika di dalam dadanya masih bercokol salah satu induk dari segala dosa besar yang paling dimurkai oleh Allah? Mengikis kesombongan adalah langkah awal dan utama untuk mengaktifkan jaminan ampunan yang mahaluas ini.

BAB II: BAHAYA PENYAKIT SOMBONG (AL-KIBR)

Sombong adalah salah satu penyakit hati yang paling mematikan dan dikategorikan sebagai dosa besar yang teramat berbahaya. Penyakit ini tidak hanya merusak hubungan antarmanusia, melainkan juga merusak kedudukan seorang hamba di hadapan Penciptanya, sehingga pelakunya diancam dengan siksa neraka Jahanam.

SOMBONG MENGUSIK HAK RUBUBIYAH ALLAH

Rasa agung, besar, dan mulia secara mutlak hanyalah milik Allah sebagai Sang Pencipta. Ketika seorang hamba merasa besar dan sombong, ia telah keliru karena mencoba mengenakan pakaian yang menjadi kekhususan bagi Allah Ta'ala.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah menyampaikan satu hadis Qudsi:

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي ، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي ، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

Artinya: "Kebesaran adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Maka barangsiapa yang mengusik-Ku dalam salah satu dari keduanya, Aku lemparkan dia ke dalam neraka," (Sahih Muslim: 2620).

ANCAMAN SOMBONG MESKIPUN SEBERAT ZARAH

Keangkuhan di dalam dada tidak boleh diremehkan sama sekali. Kadar kesombongan yang teramat kecil, sekalipun seberat zarah yang diibaratkan seperti partikel debu halus atau kepala semut, sudah cukup untuk menutup rapat pintu surga bagi pelakunya.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Artinya: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarah," (Sahih Muslim: 91).

DEFINISI SOMBONG MENURUT NABI

Agar kita tidak salah dalam menilai hati, Rasulullah memberikan batasan dan definisi yang sangat jelas mengenai hakikat kesombongan. Sombong secara garis besar mencakup dua ranah utama:

1.      Membangkang terhadap syariat atau kebenaran yang datang dari Allah, serta

2.      Memandang rendah sesama makhluk-Nya.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Artinya: "Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia," (Sahih Muslim: 91).

BAB III: 10 SEBAB KESOMBONGAN

Sombong bermula dari dalam hati, namun ia akan terekspresikan melalui lisan maupun gestur tubuh, seperti memalingkan wajah dengan sinis atau berjalan di muka bumi dengan angkuh. Berikut adalah 10 pintu masuk yang paling sering melenakan manusia ke dalam jerat kesombongan:

KEKUASAAN/JABATAN

Kedudukan yang tinggi sering kali membuat orang lupa diri dan meremehkan orang lain yang berada di bawah strukturnya. Contoh nyata dalam sejarah adalah Firaun dan Raja Namrud.

Allah ta’ala berfirman:

وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِن تَحْتِي ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Artinya: "Dan Firaun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: 'Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat?'" (QS. Az-Zukhruf: 51).

KEKUATAN FISIK

Merasa kuat secara jasmani, berotot, atau sehat dapat memicu seseorang untuk bertindak semena-mena dan menindas yang lemah. Contohnya adalah kesombongan Kaum 'Ad.

Allah ta’ala berfirman:

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً

Artinya: "Adapun kaum 'Ad, maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan mereka berkata: 'Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?'" (QS. Fushshilat: 15).

KECANTIKAN/KETAMPANAN

Fisik yang rupawan sering kali membuat seseorang merasa lebih unggul, lalu memandang rendah orang lain yang dianggap kurang menarik secara visual.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ ، مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Artinya: "Ketika seorang laki-laki sedang berjalan dengan pakaian mewah dan ia mengagumi dirinya sendiri (karena ketampanan/penampilannya), sambil menyisir rapi rambutnya, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi, maka ia terus terbenam ke dalamnya sampai hari kiamat," (Sahih Bukhari: 5789. Sahih Muslim: 2088)

Hadis ini senada dengan firman Allah ta’ala:

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

Artinya: "...Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci (atau merasa lebih hebat/sempurna). Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa," (QS. An-Najm: 32).

PAKAIAN DAN ATRIBUT INDAH

Munculnya kekaguman pada diri sendiri (ujub) karena mengenakan pakaian bermerek, mahal, atau eksklusif, yang berujung pada sikap merendahkan pakaian orang lain yang sederhana.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ ، مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Artinya: "Ketika seorang laki-laki sedang berjalan dengan pakaian yang membuat dirinya bangga, rambutnya disisir rapi (secara berlebihan), maka ia akan dibenamkan oleh Allah secara tiba-tiba ke dalam bumi, dan dia akan terus amblas ke dalam bumi sampai hari kiamat," (Sahih Bukhari: 5789. Sahih Muslim: 2088)

TUNGGANGAN/KENDARAAN MEWAH

Kendaraan sering kali dijadikan simbol prestis, kasta sosial, dan penampilan luar yang memicu timbulnya keangkuhan di jalanan maupun di pergaulan.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

الْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي أَصْحَابِ الإِبِلِ وَالْخَيْلِ ، وَالسَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ

Artinya: "Keangkuhan dan kesombongan ada pada pemilik unta dan kuda, sedangkan ketenangan ada pada pemilik kambing," (Sahih Bukhari: 3301. Sahih Muslim: 52).

HARTA KEKAYAAN

Merasa sukses secara finansial semata-mata karena kehebatan, kerja keras, dan kecerdasan diri sendiri, sehingga dengan mudah melupakan kawan lama atau meremehkan si miskin. Contoh klasiknya adalah Qarun.

Allah ta’ala berfirman:

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي

Artinya: "Qarun berkata: 'Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku,'" (QS. Al-Qashash: 78).

NASAB/SUKU/RAS (RASISME)

Membanggakan asal-usul klan, merasa keturunan berdarah biru, atau mengunggulkan suku dan ras sendiri sambil merendahkan tradisi serta kedudukan suku lain.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Malik Al-Asy’ari Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ

Artinya: "Ada empat perkara pada umatku yang termasuk tradisi masa Jahiliyah yang tidak mereka tinggalkan: (1) membanggakan kemuliaan leluhur (keturunan), (2) mencela nasab (garis keturunan), (3) meminta hujan dengan bintang-bintang, dan (4) meratapi mayat (niyahah)," (Sahih Muslim: 934).

ILMU

Kesombongan karena ilmu adalah kesombongan yang paling buruk (syarrul kibr) dan paling berbahaya. Seseorang yang merasa memiliki banyak ilmu agama atau gelar akademik berisiko tinggi memandang awam orang lain, merasa paling selamat, atau enggan menerima kebenaran dari orang yang dianggap "junior".

Coba renungkan firman Allah ta’ala berikut:

نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

Artinya: "...Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas setiap orang yang berpengetahuan itu ada unsur Yang Maha Mengetahui (Allah)," (QS. Yusuf: 76).

Tentang firman Allah ﴿وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ﴾ atau yang artinya, "Dan di atas setiap orang yang memiliki ilmu pengetahuan ada yang lebih mengetahui," maksudnya menurut Syaikh Abdurrahman Nasir As-Sa'di adalah:

فَكُلُّ عَالِمٍ، فَوْقَهُ مَنْ هُوَ أَعْلَمُ مِنْهُ حَتَّىٰ يَنْتَهِيَ الْعِلْمُ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

Maka setiap orang yang berilmu, di atasnya pasti ada orang lain yang lebih tahu darinya, hingga kesudahan segala ilmu itu berakhir pada Yang Maha Mengetahui hal yang gaib dan yang nyata (Allah ta'ala).

Juga, Imam At-Tirmizi meriwayatkan dari sahabat Ka’ab bin Malik Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

Artinya: "Barangsiapa yang menuntut ilmu hanya untuk menyaingi para ulama, atau untuk mendebat orang-orang bodoh, atau agar wajah manusia berpaling kepadanya (ingin tenar/dihormati), maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka," (Jami At-Tirmidzi:2654).

HASAD DAN DENGKI

Rasa dengki atas nikmat orang lain membuat seseorang enggan mengakui kelebihan atau ilmu sesamanya. Untuk menutupi rasa dengki itu, ia membalasnya dengan sikap sombong. Contohnya adalah Iblis yang hasad kepada Nabi Adam.

Coba perhatikan firman Allah ta’ala berikut:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

Artinya: "Allah berfirman: 'Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku memerintahkanmu untuk itu?' Iblis menjawab: 'Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah,'" (QS. Al-A'raf: 12).

RIYA (INGIN DIPUJI)

Rasa pamer dan gengsi untuk terlihat bodoh membuat seseorang enggan bertanya atau belajar dari orang lain yang dianggap lebih rendah derajat sosialnya. Nabi Musa memberikan contoh ketawaduan mutlak yang kontras ketika beliau rela berjalan jauh demi memohon ilmu kepada Nabi Khidir.

Imam Bukhari mengutip perkataan Imam Mujahid di dalam salah satu judul Sahih Bukhari:

لَا يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ

Artinya: "Tidak akan bisa menuntut ilmu orang yang pemalu (karena gengsi/riya) dan orang yang sombong," (Sahih Bukhari, Kitab Al-'Ilmu, Bab Al-Haya' fil 'Ilmi).

Baca juga: Syarah Hadis Mimpi Basah Wanita: Panduan Fikih Thaharah dan Hukum Menuntut Ilmu

Demikianlah 10 penyebab sombong yang hendaknya kita hindari. Wallahua’lam

BAB IV: LANGKAH PREVENTIF DAN TERAPI MENGATASI KESOMBONGAN

Mengetahui bahaya dan pintu masuk kesombongan barulah sebuah awal. Langkah krusial berikutnya adalah mempraktikkan tindakan nyata serta terapi fisik guna menundukkan ego, agar benih-benih keangkuhan tidak tumbuh mengeras di dalam hati. Berikut adalah enam langkah preventif yang diajarkan oleh syariat:

MEMBIASAKAN PENAMPILAN SEDERHANA (AL-BAZAZAH)

Pencegahan pertama dimulai dari cara berpakaian. Sengaja sesekali tampil apa adanya dan tidak selalu bermewah-mewah sangat efektif untuk menundukkan ego serta menjaga hati agar tidak merasa lebih tinggi atau lebih eksklusif dari orang lain.

Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Umamah bin Tsa’labah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ

Artinya: "Sesungguhnya Al-Bazazah adalah bagian dari iman, sesungguhnya Al-Bazazah adalah bagian dari iman," (Sunan Abu Daud: 4161. Sunan Ibnu Majah: 4118).

Tertulis di dalam Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah tentang makna Al-Bazazah:

التَّوَاضُعَ فِي الْهَيْئَةِ وَالْمَلْبَسِ

Tawaduk (rendah hati) dalam hal penampilan dan pakaian.

MENINGGALKAN PAKAIAN MEWAH DEMI TAWADU

Bagi yang memiliki kelapangan harta, tahan diri Anda untuk tidak selalu membeli atau memakai pakaian yang sangat mahal/bermerek demi menjaga sifat rendah hati (tawadu) memiliki keutamaan yang besar di sisi Allah.

Imam At-Tirmizi meriwayatkan dari Mu’adz bin Anas Al-Juhani Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ ، دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا

Artinya: "Barangsiapa yang meninggalkan pakaian (mewah) karena tawadu (rendah hati) kepada Allah, padahal ia mampu membelinya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk, hingga Allah menyuruhnya memilih pakaian iman mana saja yang ia kehendaki untuk dikenakan," (Jami At-Tirmidzi: 2481).

Syaikh bin Baz ketika menjelaskan hadis ini berkata:

يَتَحَرَّى الْوَسَطَ بِلِبَاسِ جَمَاعَتِهِ وَقَوْمِهِ حَتَّىٰ لَا يُنْسَبَ إِلَى الْكِبْرِ، وَحَتَّىٰ لَا تَقَعَ نَفْسُهُ فِي الْكِبْرِ.

Seseorang hendaknya memilih jalan tengah (proporsional/wajar) dalam cara berpakaian yang biasa dipakai oleh kelompok dan kaumnya, agar ia tidak dituduh sombong, dan agar dirinya sendiri tidak terjerumus ke dalam kesombongan.

وَلَٰكِنْ إِذَا فَعَلَ ذَٰلِكَ بَعْضَ الْأَحْيَانِ تَوَاضُعًا مِنْ بَابِ كَسْرِ النَّفْسِ، وَمِنْ بَابِ التَّوَاضُعِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهَٰذَا أَمْرٌ حَسَنٌ مَطْلُوبٌ.

Akan tetapi, jika ia melakukan hal tersebut sesekali waktu demi tujuan tawaduk (rendah hati) sebagai upaya menundukkan ego diri (menghilangkan sifat ujub) serta bentuk berserah diri kepada Allah 'Azza wa Jalla, maka ini adalah perkara yang baik dan dianjurkan.

LARANGAN TERLALU SERING MEMANJAKAN DIRI (AL-IRFAH)

Islam menganjurkan agar kita tidak terus-menerus hidup dalam fasilitas yang teramat nyaman, empuk, dan manja. Ada terapi fisik seperti sesekali merasakan kesulitan bertujuan agar mental kita tidak tumpul dan tidak mudah memandang rendah orang yang hidup kesusahan.

Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Fadholah bin Ubaid Radhiyallahu Anhu yang berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْإِرْفَاهِ ... وَأَمَرَنَا أَنْ نَحْتَفِيَ أَحْيَانًا

Artinya: "Rasulullah melarang kami dari al-irfah dan beliau memerintahkan kami untuk sesekali berjalan tanpa alas kaki," (Sunan Abu Daud: 4160).

Tertulis di dalam Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah tentang makna al-Irfah:

وَالْإِرْفَاهُ أَنْ يَسْتَكْثِرَ الْمَرْءُ مِنَ التَّزَيُّنِ وَالزِّينَةِ، وَيَشْتَغِلَ بِتَحْسِينِ هَيْئَتِهِ، فَيُضِيعَ وَقْتَهُ فِي ذَٰلِكَ

Dan al-irfah (bermewah-mewah/memanjakan diri) adalah seseorang memperbanyak dalam hal bersolek dan berhias, serta menyibukkan diri untuk memperindah penampilannya secara berlebihan, sehingga ia menyia-nyiakan waktunya demi hal tersebut.

BERVARIASI DALAM BERGAUL

Melatih hati dengan sengaja menghadiri undangan, duduk, dan makan bersama orang-orang yang secara strata sosial berada di bawah kita (seperti kaum miskin atau pekerja kasar) adalah obat mujarab untuk menghancurkan rasa eksklusif di dalam dada.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

لَوْ دُعِيتُ إِلَى كُرَاعٍ أَوْ ذِرَاعٍ لَأَجَبْتُ ، وَلَوْ أُهْدِيَ إِلَيَّ ذِرَاعٌ أَوْ كُرَاعٌ لَقَبِلْتُ

Artinya: "Seandainya aku diundang untuk menyantap makanan berupa kaki bawah kambing atau lengan kambing, niscaya aku akan memenuhinya. Dan seandainya dihadiahkan kepadaku lengan atau kaki bawah kambing, niscaya aku akan menerimanya,” (Sahih Bukhari: 5178).

Pelajaran yang bisa diambil dari hadis ini di antaranya:

إِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَلَوْ إِلَىٰ شَيْءٍ يَسِيرٍ مِنَ الطَّعَامِ

Menghadiri (memenuhi) undangan meskipun hanya untuk jamuan makanan yang sedikit (sederhana).

شِدَّةُ تَوَاضُعِهِ –صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَجَبْرُهُ لِقُلُوبِ النَّاسِ

Betapa besarnya sifat rendah hati (tawaduk) Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam serta sikap beliau dalam menjaga (menyenangkan) hati manusia.

قَبُولُ الْهَدِيَّةِ مَهْمَا قَلَّتْ، لِمَا فِي ذَٰلِكَ مِنْ تَأْلِيفِ الْقُلُوبِ وَالْمَحَبَّةِ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ

Menerima hadiah bagaimanapun kecil nilainya, karena hal tersebut dapat menyatukan hati dan menumbuhkan rasa cinta di antara sesama muslim.

الْحَثُّ عَلَىٰ تَعَاطِي مَا يَبْعَثُ التَّآلُفَ، وَيَغْرِسُ الْوِدَادَ

Anjuran untuk melakukan segala hal yang dapat membangkitkan rasa kebersamaan (keharmonisan) dan menanamkan kasih sayang, (Mausuatu Ahadisin Nabawiyah).

MENGINGAT ASAL-USUL DAN KELEMAHAN DIRI

Seseorang tidak akan bersikap sombong jika dia menyadari dari mana dia berasal dan bagaimana dia akan berakhir. Manusia pada hakikatnya diciptakan dari sesuatu yang hina dan akan berakhir menjadi bangkai yang membusuk.

أَوَلَمْ يَرَ الْإِنسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِن نُّطْفَةٍ فَإِذَا هو خَصِيمٌ مُّبِينٌ

Artinya: "Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air mani (nuthfah), maka tiba-tiba ia menjadi musuh yang nyata (membangkang)!" (QS. Yasin: 77).

Terkait hal ini, Imam Al-Hasan Al-Bashri pernah menegur seorang menteri yang berjalan dengan sangat angkuh di hadapannya: "Mengapa engkau berjalan seperti itu? Sungguh, awal mulamu adalah air mani yang memancar, akhir hidupmu menjadi bangkai yang busuk, dan di antara kedua fase itu engkau ke mana-mana membawa kotoran di perutmu."

SERING KOREKSI DIRI (INTROSPEKSI / MUHASABAH)

Pencegahan terakhir adalah segera menyadari dan mengobati getaran kesombongan begitu hal itu terbersit di dalam pikiran atau hati. Salah satu caranya adalah dengan selalu mengalihkan pandangan kepada orang yang lebih susah dalam urusan duniawi agar kita pandai bersyukur.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Artinya: "Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah dunia) dan janganlah memandang orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepada kalian," (Sahih Muslim: 2963).

Pelajaran yang bisa diambil dari hadis ini di antaranya:

وَفِي الْحَدِيثِ: بَيَانُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ مُدَاوِيًا لِلْقُلُوبِ، فَعَلَّمَهَا كَيْفَ تَصْنَعُ، وَوَصَفَ لَهَا الدَّوَاءَ.

Di dalam hadis ini terdapat penjelasan bahwa Rasulullah adalah seorang penyembuh (pengobat) bagi hati; beliau mengajarkan hati bagaimana harus bersikap, dan meresepkan obat untuknya.

وَفِيهِ: إِرْشَادٌ إِلَى الِاعْتِبَارِ بِأَحْوَالِ الدُّنْيَا، وَأَنَّ السَّعَادَةَ لَيْسَتْ مَالًا فَقَطْ.

Dan di dalam hadis ini juga terdapat petunjuk untuk mengambil pelajaran dari kondisi-kondisi dunia, serta penjelasan bahwa kebahagiaan itu bukanlah sekadar materi (harta) semata.

وَفِيهِ: أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُعِينُ عَلَى اسْتِشْعَارِ النِّعَمِ كَثْرَةَ التَّأَمُّلِ فِيهَا وَالنَّظَرَ فِي حَالِ مَنْ هُمْ أَقَلُّ حَالًا مِنْكَ.

Dan di dalamnya juga diterangkan bahwa di antara hal terbesar yang dapat membantu seseorang untuk merasakan (mensyukuri) nikmat adalah dengan banyak merenungkannya, serta melihat kepada kondisi orang-orang yang berada di bawahmu (lebih malang darimu).

Demikian penjelasan tentang beberapa hal yang bisa mencegah kita dari terjerumus ke dalam kesombongan. Semoga bermanfaat!

PENUTUP

Alhamdulillahirabbil ’alamin, atas pertolongan dan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, pembahasan ringkas mengenai penyakit hati ini telah sampai di bagian akhir.

Urusan hati bukanlah perkara yang sepele. Komitmen penuh kita dalam berjuang menjauhi dosa-dosa besar, termasuk menjauhi belenggu kesombongan, merupakan kunci utama untuk membuka keran ampunan otomatis dari Allah atas segala kekhilafan dan dosa-dosa kecil kita dalam keseharian. Jaminan keindahan berupa surga tempat kembali yang mulia telah menanti bagi setiap hamba yang berhasil menjaga kesucian hatinya.

Sebaliknya, kita pun telah melihat betapa mengerikannya petaka yang ditimbulkan oleh sifat Al-Kibr. Ia adalah dosa yang sangat berani karena mencoba mengusik hak eksklusif keagungan milik Allah, dan ia adalah sekat tebal yang mampu menghalangi seseorang dari mencium bau surga, meskipun kadar kesombongan itu hanya sekecil zarah di dalam dada. Baik kesombongan yang dipicu oleh jabatan, harta, fisik yang rupawan, bahkan kesombongan yang berselimut atribut agama dan ilmu, semuanya adalah racun yang harus segera kita muntahkan dari dalam jiwa.

Kini, pilihan dan tugas besar ada di tangan kita masing-masing. Mengetahui ilmu tentang kesombongan tidak akan memberi manfaat apa pun jika kita tidak segera mengambil langkah nyata untuk mengobatinya. Mari kita latih diri ini untuk membiasakan penampilan yang sederhana, berani menahan ego dari kemewahan yang berlebihan, dan secara sadar meruntuhkan sekat eksklusivitas dengan mau membaur serta duduk bersama orang-orang yang lebih lemah. Yang paling utama, mari kita hancurkan keangkuhan kita dengan selalu mengingat hakikat asal-usul diri yang diciptakan dari setitik air mani yang hina, serta akan berakhir menjadi bangkai yang tak berdaya.

Hati kita adalah aset paling berharga yang akan kita bawa menghadap Allah kelak. Maka dari itu, jangan pernah lelah untuk terus melakukan muhasabah, mengoreksi setiap getaran rasa lebih baik yang terbersit di dalam dada, sebelum getaran kecil itu mengeras dan mengunci mati hati kita dari hidayah.

Akhir kata, penulis memohon ampun kepada Allah ta’ala atas segala kekurangan dalam penyusunan e-book saku ini. Semoga risalah kecil yang ringkas ini dapat menjadi pembuka pintu hidayah, pelembut hati yang keras, serta pemberat timbangan amal kebaikan bagi penulis dan juga bagi setiap pembaca yang mengamalkannya.

Semoga Allah ta’ala senantiasa mengaruniakan kepada kita hati yang tawadu. Aamiin

Post a Comment for "Waspadai 10 Pintu Sombong"