zmedia

MAUSUATUL AKHLAK: HIKMAH

 

Pembaca, kita sering mendengar kata hikmah. Tahukah kita bahwa hikmah adalah salah satu akhlak mulia. Apa maknanya? Bagaimana melatih diri supaya bisa memiliki akhlak tersebut? Teruskan membaca!

التَّرْغِيبُ فِي الْحِكْمَةِ مِنَ الْقُرْآنِ

ANJURAN MENUNTUT HIKMAH DARI AL-QUR'AN

قَالَ تَعَالَى: ﴿ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ﴾

Allah Ta'ālā berfirman: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." [QS. An-Nahl: 125]

Al Qasimi berkata:

بِالْمَقَالَةِ الْمُحْكَمَةِ الصَّحِيحَةِ، وَهُوَ الدَّلِيلُ الْمُوَضِّحُ لِلْحَقِّ، الْمُزِيحُ لِلشُّبْهَةِ

dengan perkataan yang kukuh dan benar, yaitu dalil yang menjelaskan kebenaran serta melenyapkan syubhat (keraguan)."([Mahāsin at-Ta'wīl karya Al-Qasimi: 6/422)

وَقَالَ تَعَالَى: ﴿يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا﴾

Dan Allah Ta'ālā berfirman: "Dia menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak." [QS. Al-Baqarah: 269]

Tertulis di dalam Tafsir Al Maraghi (3/41-42):

Allah Ta'ālā menganugerahkan hikmah dan ilmu yang bermanfaat, yang mengarahkan kehendak/keinginan, kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Sehingga dengan ilmu tersebut, ia dapat membedakan hakikat (kebenaran) dari ilusi (prasangka), serta dimudahkan baginya untuk membedakan antara bisikan setan (waswas) dan ilham. Adapun sarana (alat) hikmah adalah akal yang mandiri dalam menentukan hukum untuk memahami segala sesuatu berdasarkan dalil-dalilnya secara hakiki. Barangsiapa yang dianugerahi hal itu, niscaya ia mengetahui perbedaan antara janji Ar-Rahman (Allah) dan janji setan, lalu ia memegang teguh janji Allah dengan gigi gerahamnya (sekuat tenaga), serta membuang janji setan ke belakang punggungnya (mengabaikannya), dan ia pun sanggup memahami segala urusan dengan benar, (Tafsīr al-Marāghī: 3/41).

قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ﴾

Allah Ta'ālā berfirman: "Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: 'Bersyukurlah kepada Allah! Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa kufur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.'" [QS. Luqman: 12]

Syaikh Abdurrahman Nasir As-Sa’di berkata:

Allah Ta'ālā memberitahukan tentang karunia-Nya kepada hamba-Nya yang utama, yaitu Luqman, berupa hikmah. Hikmah tersebut adalah ilmu tentang kebenaran sesuai dengan proporsi dan hikmahnya, yaitu pengetahuan tentang hukum-hukum beserta rahasia-rahasia dan kesempurnaan yang terkandung di dalamnya. Sebab, seseorang bisa saja menjadi seorang yang berilmu (alims), namun belum tentu menjadi seorang yang bijaksana (hakim), (Tafsir As-Sa’di).

التَّرْغِيبُ فِي الْحِكْمَةِ مِنَ السُّنَّةِ

ANJURAN MENUNTUT HIKMAH DARI AS-SUNNAH

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Dari Ibn Mas'ud raḍiyallāhu 'anhu, ia berkata: Saya mendengar Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak boleh dengki (iri hati) kecuali dalam dua hal: seseorang yang diberi harta oleh Allah lalu ia habiskan harta itu di jalan yang benar, dan seseorang yang diberi hikmah oleh Allah lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya." (HR. Al-Bukhari: 1409. Sahih Muslim: 816)

Imam An-Nawawi berkata:

وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا، مَعْنَاهُ: يَعْمَلُ بِهَا وَيُعَلِّمُهَا احْتِسَابًا

Dan seseorang yang diberi hikmah oleh Allah lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya', maknanya adalah: ia mengamalkannya dan mengajarkannya dengan mengharap pahala (karena Allah semata), (Syarḥ an-Nawawī 'alā Muslim: 6/98).

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ضَمَّنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْحِكْمَةَ

Dari Ibn 'Abbas raḍiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Nabi merangkulku dan berdoa: "Ya Allah, ajarkanlah hikmah kepadanya,” (Sahih Al-Bukhari: 3756).

Ibn Hajar berkata: "Para pensyarah hadis berbeda pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan hikmah di sini..."

·         الْقُرْآنُ : Al-Qur'an

·         الْعَمَلُ بِهِ : Mengamalkannya (Al-Qur'an)

·         السُّنَّةُ : As-Sunnah

·         الْإِصَابَةُ فِي الْقَوْلِ : Ketepatan dalam berucap

·         الْخَشْيَةُ : Rasa takut (kepada Allah)

·         الْفَهْمُ عَنِ اللَّهِ : Pemahaman dari Allah

·         الْعَقْلُ : Akal

·         مَا يَشْهَدُ الْعَقْلُ بِصِحَّتِهِ : Sesuatu yang diakui kebenarannya oleh akal

·         نُورٌ يُفَرَّقُ بِهِ بَيْنَ الْإِلْهَامِ وَالْوَسْوَاسِ : Cahaya yang membedakan antara ilham dan bisikan setan

·         سُرْعَةُ الْجَوَابِ مَعَ الْإِصَابَةِ : Kecepatan dalam memberikan jawaban disertai ketepatan

·         الْفَهْمُ فِي الْقُرْآنِ : Pemahaman dalam/terhadap Al-Qur'an (pendapat yang paling kuat menurut beliau), (Fatḥ al-Bārī karya Ibn Hajar: 1/170)

التَّرْغِيبُ فِي الْحِكْمَةِ مِنْ أَقْوَالِ السَّلَفِ

ANJURAN MENUNTUT HIKMAH DARI PERKATAAN SALAF

كَتَبَ سَلْمَانُ إِلَى أَبِي الدَّرْدَاءِ: إِنَّمَا الْعِلْمُ كَالْيَنَابِيعِ، فَيَنْفَعُ بِهِ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ، وَمَثَلُ حِكْمَةٍ لَا يُتَكَلَّمُ بِهَا كَجَسَدٍ لَا رُوحَ لَهُ

Salman menulis surat kepada Abu ad-Darda': "Sesungguhnya ilmu itu bagaikan mata air, Allah memberi manfaat dengannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan perumpamaan hikmah yang tidak diucapkan bagaikan jasad yang tidak berroh." (Ibn 'Asakir dalam Tariqh Dimasyq: 21/440)

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: كُونُوا رَبَّانِيِّينَ حُكَمَاءَ فُقَهَاءَ

Dan Ibn 'Abbas raḍiyallāhu 'anhumā berkata: "Jadilah kalian orang-orang rabbani, orang-orang yang bijak (mempunyai hikmah), dan berpemahaman agama yang mendalam." (Diriwayatkan secara maushul oleh Ibn Abi Hatim dalam At-Tafsīr: 3746)

وَقَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ: يَا أَبَا حَازِمٍ، مَنْ أَعْقَلُ النَّاسِ؟ فَقَالَ أَبُو حَازِمٍ: مَنْ تَعَلَّمَ الْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهَا النَّاسَ

Sulaiman bin 'Abdul Malik berkata: "Wahai Abu Hazim, siapakah manusia yang paling berakal?" Abu Hazim menjawab: "Orang yang mempelajari hikmah dan mengajarkannya kepada manusia." (Diriwayatkan oleh Abu Bakr ad-Dinawari dalam Al-Mujālasah wa Jawāhir al-'Ilm: 3456)

مَعْنَى الْحِكْمَةِ

MAKNA HIKMAH

الْحِكْمَةُ لُغَةً: مَعْرِفَةُ أَفْضَلِ الْأَشْيَاءِ بِأَفْضَلِ الْعُلُومِ

Hikmah secara bahasa: Mengetahui hal-hal yang paling utama dengan ilmu-ilmu yang paling utama. (An-Nihāyah fī Gharīb al-Ḥadīth karya Ibn al-Athir: 1/119)

الْحِكْمَةُ اصْطِلَاحًا: كُلُّ مَا مَنَعَ مِنَ الْجَهْلِ، وَزَجَرَ عَنِ الْقَبِيحِ

Hikmah secara istilah: Setiap hal yang menghalangi dari kebodohan dan mencegah dari perbuatan buruk. (Syarḥ an-Nawawī 'alā Muslim (6/98)

أَقْسَامُ الْحِكْمَةِ وَأَنْوَاعُهَا

PEMBAGIAN DAN JENIS-JENIS HIKMAH

الْحِكْمَةُ مِنْ حَيْثُ الِاكْتِسَابُ وَعَدَمُهُ تَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ

Hikmah ditinjau dari segi diusahakan (diperoleh) atau tidaknya terbagi menjadi dua bagian:

حِكْمَةٌ فِطْرِيَّةٌ: يُؤْتِيهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ يَشَاءُ، وَيَتَفَضَّلُ بِهَا عَلَى مَنْ يُرِيدُ. كَتَبَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ: إِنَّ الْحِكْمَةَ لَيْسَتْ عَنْ كِبَرِ السِّنِّ، وَلَكِنَّهُ عَطَاءُ اللَّهِ يُعْطِيهِ مَنْ يَشَاءُ، فَإِيَّاكَ وَدَنَاءَةَ الْأُمُورِ، وَمَرَاقَّ الْأَخْلَاقِ

Hikmah Fitrah (Bawaan): Allah 'Azza wa Jalla anugerahkan kepada siapa yang Dia kehendaki dan berikan keutamaan kepada siapa yang Dia inginkan. 'Umar bin al-Khattab raḍiyallāhu 'anhu menulis surat kepada Abu Musa al-Asy'ari: "Sesungguhnya hikmah itu bukan karena tuanya usia, melainkan pemberian Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka jauhilah perkara-perkara yang rendah dan akhlak-akhlak yang buruk." [Al-Isyrāf fī Manāzil al-Asyraf karya Ibn Abi ad-Dunya (212)]

حِكْمَةٌ مُكْتَسَبَةٌ: يَكْتَسِبُهَا الْعَبْدُ بِفِعْلِ أَسْبَابِهَا، وَتَرْكِ مَوَانِعِهَا

Hikmah Usaha (Diperoleh): Seorang hamba memperolehnya dengan mengamalkan sebab-sebabnya dan meninggalkan penghalang-penghalangnya.

وَمِنْ جِهَةٍ أُخْرَى فَالْحِكْمَةُ نَوْعَانِ

Ditinjau dari sisi lainnya, hikmah terbagi menjadi dua jenis:

النَّوْعُ الْأَوَّلُ: حِكْمَةٌ عِلْمِيَّةٌ نَظَرِيَّةٌ، وَهِيَ الِاطِّلَاعُ عَلَى بَوَاطِنِ الْأَشْيَاءِ، وَمَعْرِفَةُ ارْتِبَاطِ الْأَسْبَابِ بِمُسَبَّبَاتِهَا، خَلْقًا وَأَمْرًا، قَدَرًا وَشَرْعًا

Jenis pertama: Hikmah ilmiah teoritis, yaitu menyingkap hakikat terdalam dari segala sesuatu, serta mengetahui keterkaitan antara sebab dan akibat, baik secara penciptaan maupun perintah, takdir maupun syariat.

النَّوْعُ الثَّانِي: حِكْمَةٌ عَمَلِيَّةٌ، وَهِيَ وَضْعُ الشَّيْءِ فِي مَوْضِعِهِ

Jenis kedua: Hikmah praktis (amaliah), yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya.

فَوَائِدُ الْحِكْمَةِ

MANFAAT-MANFAAT HIKMAH

أَنَّهَا طَرِيقٌ إِلَى مَعْرِفَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Merupakan jalan untuk mengenal Allah 'Azza wa Jalla.

أَنَّهَا سِمَةٌ مِنْ سِمَاتِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ

Merupakan salah satu ciri para nabi dan orang-orang saleh.

الْإِصَابَةُ فِي الْقَوْلِ وَالسَّدَادُ فِي الْعَمَلِ

Ketepatan dalam berucap dan kebenaran dalam bertindak.

أَنَّهَا تَرْفَعُ الْإِنْسَانَ دَرَجَاتٍ وَتُشَرِّفُهُ

Meninggikan derajat manusia dan memuliakannya.

فِيهَا دَلَالَةٌ عَلَى كَمَالِ عَقْلِ صَاحِبِهَا

Menunjukkan kesempurnaan akal pemiliknya.

تَحْفَظُ الْإِنْسَانَ عَنْ ارْتِكَابِ السُّوءِ أَوْ التَّلَفُّظِ بِهِ

Menjaga manusia dari melakukan keburukan atau mengucapkannya.

مَوَانِعُ اكْتِسَابِ صِفَاتِ الْحِكْمَةِ

PENGHALANG MENDAPATKAN SIFAT HIKMAH

التَّعَجُّلُ فِي الْأُمُورِ

Tergesa-gesa dalam urusan.

ضِيقُ الْأُفُقِ

Sempitnya pandangan (wawasan).

فَقْدُ الْبَصِيرَةِ الدَّالَّةِ عَلَى حَقَائِقِ الْأُمُورِ

Hilangnya mata hati (basirah) yang menuntun pada hakikat segala urusan.

عَدَمُ اسْتِشَارَةِ الصَّالِحِينَ وَأَهْلِ الْخِبْرَةِ

Tidak meminta musyawarah dari orang-orang saleh dan para ahli.

عَدَمُ الِاسْتِفَادَةِ مِنْ خِبْرَاتِ السَّابِقِينَ

Tidak mengambil pelajaran dari pengalaman orang-orang terdahulu.

الْوَسَائِلُ الْمُعِينَةُ عَلَى اكْتِسَابِ صِفَاتِ الْحِكْمَةِ

SARANA YANG MEMBANTU MEMPEROLEH SIFAT HIKMAH

التَّفَقُّهُ فِي الدِّينِ

1 – Mendalami ilmu agama (tafaqquh fiddin).

Dan hal itu termasuk kebaikan yang banyak yang diisyaratkan oleh ayat Al-Qur'an. Allah Ta'ālā berfirman:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

"Dia menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal." [QS. Al-Baqarah: 269].

Hikmah tersebut merupakan salah satu buah dari pendidikan Al-Qur'an dan salah satu hasilnya.

مُجَالَسَةُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالصَّلَاحِ، وَالِاخْتِلَاطُ بِهِمْ، وَالِاسْتِفَادَةُ مِنْهُمْ

2 – Duduk majelis bersama para ulama dan orang-orang saleh, bergaul dengan mereka, serta mengambil manfaat dari mereka.

Oleh karena itu, Luqman berkata kepada putranya ketika menasihati dan menunjukkannya jalan hikmah:

يَا بُنَيَّ، جَالِسِ الْعُلَمَاءَ وَزَاحِمْهُمْ بِرُكْبَتَيْكَ؛ فَإِنَّ اللَّهَ يُحْيِي الْقُلُوبَ بِنُورِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِي الْأَرْضَ الْمَيْتَةَ بِوَابِلِ السَّمَاءِ

"Wahai putraku, duduklah bersama para ulama dan berdesak-desakanlah dengan mereka menggunakan kedua lututmu; karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang mati dengan hujan lebat dari langit." [Tanwir Al Hawalik fi Syarh Muwatta' Malik: 3/161)

الْعِبَادَةُ الْحَقَّةُ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ، وَالِارْتِبَاطُ الْوَثِيقُ بِهِ

3 – Beribadah secara benar kepada Allah Subḥānahu wa Ta'ālā dan terikat erat dengan-Nya.

Dan menjauhi kemaksiatan serta membuang hawa nafsu, seluruh hal tersebut termasuk jalan untuk memperoleh hikmah. Diriwayatkan dari Al-Hasan, ia berkata:

مَنْ أَحْسَنَ عِبَادَةَ اللَّهِ فِي شَبِيبَتِهِ لَقَّاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ عِنْدَ كِبَرِ سِنِّهِ

"Barangsiapa memperbaiki ibadahnya kepada Allah di masa mudanya, niscaya Allah akan menganugerahinya hikmah pada usia tuanya.

Hal itu sebagaimana firman-Nya:

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ﴾

'Dan setelah dia (Musa) dewasa dan sempurna akalnya, Kami anugerahkan kepanduan (hikmah) dan ilmu kepadanya. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, (QS. Al-Qashash: 14), (Al-Mujālasah wa Jawāhir al-'Ilm karya Abu Bakr ad-Dinawari: 6/240).

تَحَرِّي الْحَلَالِ فِي مَأْكَلِهِ وَمَشْرَبِهِ وَمَلْبَسِهِ وَشَأْنِهِ كُلِّهِ سَبَبٌ فِي نَيْلِ الْحِكْمَةِ

4 – Mencari hal yang halal dalam makanan, minuman, pakaian, dan seluruh urusannya merupakan sebab menggapai hikmah.

كَثْرَةُ التَّجَارِبِ وَالِاسْتِفَادَةُ مِنْ مَدْرَسَةِ الْحَيَاةِ

5 – Banyaknya pengalaman dan mengambil pelajaran dari sekolah kehidupan.

Di antara sumber-sumber hikmah adalah mengambil manfaat dari umur dan pengalaman dengan cara menjadikannya iktibar/pelajaran, serta bersikap waspada untuk urusan agama dan dunia. Sebagaimana disebutkan dalam hadis:

لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ مَرَّتَيْنِ

"Seorang mukmin tidak boleh tersengat dua kali dari lubang yang sama."

Dan banyaknya pengalaman itulah yang memberikan sifat santun dan hikmah kepada pemiliknya, (Hāḏihī Akhlāqunā Ḥīna Nakūnu Mu'minīna Ḥaqqan karya Mahmud Muhammad Al-Khazandar, hlm. 123).

أَلَّا يَعْتَمِدَ الْمَرْءُ عَلَى رَأْيِ نَفْسِهِ

6 – Tidak menyandarkan diri/bergantung hanya pada pendapat pribadi semata.

Bahkan ia hendaknya bermusyawarah dengan orang-orang yang memiliki keahlian dan pengalaman dari saudara-saudaranya yang saleh; agar ia semakin bertambah wawasan (pandangan tajam) terhadap dampak/kesudahan segala urusan, (Ar-Rā'id: Durūs fī at-Tarbiyah wa ad-Da'wah karya Mazin bin 'Abdul Karim Al-Furaih: 3/44).

التَّحَلِّي بِالصَّمْتِ عَمَّا لَا فَائِدَةَ فِيهِ طَرِيقٌ إِلَى اكْتِسَابِ الْحِكْمَةِ

7 – Berhias dengan diam dari hal yang tidak berguna merupakan jalan untuk memperoleh hikmah.

Maka orang yang bijak (hakeem) itu dikenal dengan sifat diam dan sedikit bicara. Jika ia berbicara, ia berbicara tentang kebenaran; dan jika ia berucap, ia mengucapkan kebaikan atau memilih diam. Wahb bin Munabbih berkata:

أَجْمَعَتِ الْحُكَمَاءُ عَلَى أَنَّ رَأْسَ الْحِكْمَةِ: الصَّمْتُ

"Para ahli hikmah telah sepakat bahwa puncak dari hikmah adalah diam," (Diriwayatkan oleh Ibn Abi ad-Dunya dalam As-Ṣamt, hlm. 619)

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا خَالِدٍ يَقُولُ: َحْضُرُ الْحِكْمَةُ بِثَلَاثٍ: الْإِنْصَاتُ، وَالِاسْتِمَاعُ، وَالْوَعْيُ

8 – Dari Sufyan bin 'Uyaynah, ia berkata: Saya mendengar Abu Khalid berkata: "Hikmah itu hadir dengan tiga hal: diam menyimak, mendengarkan dengan saksama, dan memahami." Wallahua’lam

Karangasem, 24 Agustus 2026

Irfan Nugroho (Semoga Allah mengampuni, merahmati, dan meridhai dirinya, keluarganya, dan orang tuanya. Aamiin)

Post a Comment for "MAUSUATUL AKHLAK: HIKMAH"