zmedia

Syarah Hadis Empat Perkara Jahliah: Bahaya Perilaku Jahiliyah yang Tersisa dalam Umat


Rasulullah diutus untuk membawa umat manusia keluar dari kegelapan masa jahiliyah menuju cahaya Islam yang penuh tauhid. Kendati demikian, melalui Syarah Hadis Empat Perkara Jahliah ini, kita diingatkan bahwa terdapat beberapa tabiat masa lalu yang diprediksi akan tetap melekat dan sulit ditinggalkan oleh sebagian golongan. Artikel ini akan membedah teks hadis sahih, uraian makna kosakata (syarh al-kalimat), penjelasan global, hingga poin-poin hukum yang disarikan langsung dari Mausuatul Haditsiyah Ad-Durar As-Saniyah.

MATAN HADIS

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Malik Al Asy'ari Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ: الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ، وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ، وَالِاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ، وَالنِّيَاحَةُ. وَقَالَ: النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ، وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

"Empat perkara di tengah umatku yang termasuk urusan jahiliyah yang tidak mereka tinggalkan: membanggakan kedudukan (kebangsawanan), mencela nasab (garis keturunan), meminta hujan dengan perantaraan bintang-bintang, dan meratapi mayat. Dan beliau bersabda: 'Wanita yang meratapi mayat, jika ia tidak bertobat sebelum matinya, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan memakai gaun dari ter (cairan tembaga mendidih) dan baju besi dari penyakit kudis'." (Sahih Muslim: 934)

PENJELASAN KALIMAT (SYARH AL-KALIMAT)

Penjelasan kalimat (مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ) atau yang artinya (Termasuk urusan jahiliyah yang tidak mereka tinggalkan) maksudnya adalah:

 أُمُورًا كَانَتْ وَلَا تَزَالُ عَالِقَةً بِبَعْضِ النَّاسِ يَأْتُونَ بِهَا، وَأَخْبَرَ أَنَّ هَذِهِ الْخِصَالَ تَدُومُ فِي الْأُمَّةِ لَا تَتْرُكُهَا كَمَا تَرَكَتْ غَيْرَهَا؛ فَإِنْ تَرَكَهَا طَائِفَةٌ، جَاءَ وَتَمَسَّكَ بِهَا آخَرُونَ.

Perkara-perkara yang dahulu ada dan masih saja melekat pada sebagian manusia yang mereka lakukan. Nabi mengabarkan bahwa tabiat-tabiat ini akan terus eksis di tengah umat dan tidak ditinggalkan secara total sebagaimana mereka telah meninggalkan tradisi jahiliyah lainnya; jika suatu kelompok berhasil meninggalkannya, maka kelompok lain akan datang dan justru berpegang teguh dengannya.

Syarah kalimat (الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ) atau yang artinya (Membanggakan kedudukan/kebangsawanan) maksudnya adalah:

 هُوَ افْتِخَارُ الْمَرْءِ وَمُبَاهَاتُهُ وَتَمَدُّحُهُ بِالْخِصَالِ وَالْمَنَاقِبِ وَالْمَكَارِمِ؛ إِمَّا فِيهِ أَوْ فِي أَهْلِهِ، وَمَعْنَى الْفَخْرِ فِي الْأَحْسَابِ هُوَ التَّكَبُّرُ وَالتَّعَظُّمُ بِعَدِّ مَنَاقِبِهِ وَمَآثِرِ آبَائِهِ، وَهَذَا يَسْتَلْزِمُ تَفْضِيلَ الرَّجُلِ نَفْسَهُ عَلَى غَيْرِهِ لِيُحَقِّرَهُ.

Yaitu sikap seseorang yang berbangga diri, bermegah-megahan, dan memuji diri sendiri atas kelebihan, rekam jejak, maupun kemuliaan; baik yang ada pada dirinya sendiri atau pada keluarganya. Maknanya adalah bersikap sombong dan merasa besar dengan menghitung-hitung kehebatan diri serta garis keturunan nenek moyangnya, yang berujung pada sikap mengunggulkan diri di atas orang lain guna merendahkannya.

Syarah kalimat (الطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ) atau yang artinya (Mencela nasab) maksudnya adalah:

 يُقْصَدُ بِهِ إِدْخَالُ الْعَيْبِ فِي أَنْسَابِ النَّاسِ، كَالتَّعْيِيرِ بِالنَّسَبِ، أَوْ أَنْ يَنْفِيَ نَسَبَهُ عَنْ أَبِيهِ، لِمَا فِيهَا مِنْ شَقِّ الصَّفِّ الْمُسْلِمِ، وَلِمَا تُثِيرُهُ مِنْ فِتَنٍ وَشُرُورٍ.

Maksudnya adalah melemparkan cacian atau celaan pada garis keturunan orang lain, seperti menghina latar belakang keluarga seseorang, atau menolak/menafikan keabsahan hubungan nasab anak dari ayahnya. Perilaku ini sangat tercela karena memecah belah shaf persatuan kaum muslimin serta memicu timbulnya fitnah dan keburukan.

Syarah kalimat (الِاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ) atau yang artinya (Meminta hujan dengan perantaraan bintang) maksudnya adalah:

 الدُّعَاءُ وَطَلَبُ السُّقْيَا بِنُزُولِ الْمَطَرِ، بِاعْتِقَادِ أَنَّ النُّجُومَ سَبَبٌ فِي ذَلِكَ، وَاعْتِقَادُ أَنَّهَا الْمُؤَثِّرَةُ فِي نُزُولِ الْمَطَرِ حَقِيقَةً كُفْرٌ.

Berdoa dan memohon curahan air hujan dengan keyakinan bahwa rasi bintang atau cuaca tertentu adalah penyebabnya (seperti ucapan jahliah: "Kita diberi hujan karena tanda bintang ini"). Meyakini bahwa bintang-bintang tersebut memiliki kekuatan hakiki yang memengaruhi turunnya hujan adalah sebuah kekufuran.

Syarah kalimat (النِّيَاحَةُ) atau yang artinya (Meratapi mayat) maksudnya adalah:

 الْبُكَاءُ عَلَى الْمَيِّتِ بِصِيَاحٍ وَعَوِيلٍ وَجَزَعٍ، وَعَدِّ شَمَائِلِ الْمَيِّتِ وَمَحَاسِنِهِ.

Menangisi orang yang meninggal dunia dengan disertai jeritan, lolongan, sikap tidak menerima takdir (jaza'), serta menyebut-nyebut kehebatan dan kebaikan si mayat secara berlebihan (seperti teriakan: "Wahai pahlawanku! Wahai pelindungku!").

Syarah kalimat (سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ) atau yang artinya (Gaun dari ter dan baju besi dari penyakit kudis) maksudnya adalah:

 الْقَطِرَانُ هُوَ النُّحَاسُ الْمُذَابُ، أَوْ هُوَ طِلَاءٌ يُطْلَى بِهِ يُحْرِقُ الْجَرَبَ، وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ الْمَعْنَى: أَنَّ كُلَّ جِلْدِهَا يَكُونُ جَرَبًا بِمَنْزِلَةِ الدِّرْعِ، بِحَيْثُ يُغَطِّي جِلْدَهَا تَغْطِيَةَ الدِّرْعِ وَيَلْتَزِقُ بِهَا.

Qathiran adalah cairan tembaga mendidih, atau sejenis minyak pekat berbau busuk yang dioleskan pada unta kudisan sehingga membakar kulitnya hingga ke bagian dalam. Adapun dir'un min jarab maknanya: seluruh permukaan kulit wanita peratap tersebut akan dipenuhi penyakit kudis yang melekat dan membungkus tubuhnya rapat-rapat layaknya baju besi penutup aurat wanita.

Pemberian batas waktu tobat dengan kalimat "sebelum matinya" bertujuan memberikan pemahaman bahwa syarat diterimanya tobat adalah ketika seseorang melakukannya dalam kondisi masih berharap hidup dan masih mampu beramal shaleh, bukan saat ajal telah menjemput (sakaratul maut).

Hukuman mengerikan bagi niahah (meratap) di atas ditimpakan karena tindakan tersebut mengandung unsur penolakan dan protes terhadap ketentuan takdir Allah Ta'ala. Adapun tangisan murni yang lahir dari rasa sedih yang mendalam serta wujud kasih sayang kepada mendiang tanpa disertai jeritan dan ratapan, hukumnya diperbolehkan dan dinilai sebagai rahmat yang Allah tanamkan di dalam hati hamba-hamba-Nya.

PELAJARAN DARI HADIS

Berdasarkan paparan ilmiah dari Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah, berikut adalah butir-butir faedah yang bisa dipetik:

  1. Bukti Kenabian Rasulullah : Hadis ini merupakan salah satu tanda mukjizat kenabian (alamah min alamati nubuwwatih), sebab apa yang diprediksikan oleh Nabi terbukti nyata terjadi di tengah masyarakat muslim hingga hari ini.
  2. Larangan Sombong dan Menjaga Kehormatan: Peringatan keras agar tidak menyombongkan kebangsawanan leluhur serta kewajiban menjaga kehormatan kaum muslimin dengan tidak mencela garis keturunan mereka.
  3. Nilai Seseorang Berdasarkan Amalnya: Menegaskan bahwa kedudukan dan kemuliaan seorang manusia diukur berdasarkan ketakwaan pribadi serta amal perbuatannya sendiri, bukan dari apa yang telah dicapai oleh nenek moyangnya terdahulu.
  4. Haramnya Meratapi Mayat: Penegasan atas keharaman meratapi kematian seseorang secara histeris karena merusak nilai ketauhidan dan kesabaran dalam menghadapi musibah.
  5. Kemurnian Tauhid dalam Fenomena Alam: Menanamkan keyakinan utuh bahwa turunnya hujan murni merupakan rahmat dan kehendak mutlak dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, sedangkan bintang atau fenomena tata surya sama sekali tidak memiliki andil di dalamnya.

Secara keseluruhan, ulasan Syarah Hadis Empat Perkara Jahliah menuntut kita untuk senantiasa mengevaluasi diri agar bersih dari sisa-sisa adat jahiliyah yang dibenci syariat. Melalui penjelasan komprehensif dari pustaka Ad-Durar As-Saniyah, kita diajak untuk memurnikan tauhid dalam menyikapi fenomena alam, menjaga lisan dari merendahkan sesama, serta ridha atas segala ketetapan takdir-Nya. Semoga kita semua dimudahkan untuk bertobat dan terhindar dari ancaman azab akhir zaman yang mengerikan tersebut.

Karangasem, 16 Juli 2026

Irfan Nugroho (Guru dan Filantropis)

 

Post a Comment for "Syarah Hadis Empat Perkara Jahliah: Bahaya Perilaku Jahiliyah yang Tersisa dalam Umat"