Pembaca rahimakumullah, bagaimana cara mengafani? Berikut adalah terjemahan dari Mausuatul Fiqhiyah Dorar Saniyah > Kitab Salat > Bab Janaiz > Memandikan & Mengafani Jenazah > Mengafani Jenazah > Cara Mengafani Jenazah. Semoga bermanfaat!
يُسْتَحَبُّ أَنْ تُبْسَطَ أَحْسَنُ الْأَكْفَانِ وَأَوْسَعُهَا، ثُمَّ تُبْسَطَ الثَّانِيَةُ عَلَيْهَا، ثُمَّ الثَّالِثَةُ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْجُمْهُورِ: الْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ، وَذَلِكَ اعْتِبَارًا بِالْحَيِّ؛ فَإِنَّهُ يَجْعَلُ أَحْسَنَ ثِيَابِهِ وَأَوْسَعَهَا فَوْقَ الثِّيَابِ.
1 – Dianjurkan untuk membentangkan kain kafan yang terbaik dan terluas terlebih dahulu, lalu membentangkan yang kedua di atasnya, kemudian yang ketiga.[i] Ini adalah mazhab mayoritas ulama: Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah. Ini dianalogikan dengan orang hidup; di mana ia menjadikan pakaian terbaik dan terluasnya di bagian luar.يُحْمَلُ الْمَيِّتُ إِلَى الْأَكْفَانِ مَسْتُوْرًا، وَيُتْرَكُ عَلَى الْكَفَنِ مُسْتَلْقِيًا عَلَى ظَهْرِهِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ؛ لِأَنَّهُ أَمْكَنُ فِي إِدْرَاجِهِ فِيْهَا.
2 – Jenazah dibawa ke tempat kain kafan dalam keadaan tertutup, dan dibiarkan terlentang di atas kain kafan. Ini adalah mazhab Syafi'iyah dan Hanabilah, karena posisi ini memungkinkan untuk memasukkan jenazah ke dalamnya.
[arabic-font]ُؤْخَذُ قُطْنٌ، فَيُجْعَلُ فِيْهِ الْحَنُوْطُ وَالْكَافُوْرُ، وَيُجْعَلُ بَيْنَ أَلْيَتَيْهِ، وَيُشَدُّ عَلَيْهِ، وَذَلِكَ بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.
3 – Diambil kapas, lalu diberi al-hanuth (wewangian khusus jenazah) dan kapur barus, lalu diletakkan di antara kedua bokongnya dan diikat di atasnya.[ii] Ini disepakati oleh empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah. Hal itu karena:أَوَّلًا: لِيَرُدَّ مَا يَخْرُجُ عِنْدَ تَحْرِيْكِهِ.
Pertama: Untuk menahan apa yang keluar saat ia digerakkan.ثَانِيًا: لِيُخْفِيَ مَا يَظْهَرُ مِنَ الرَّوَائِحِ.
Kedua: Untuk menyamarkan bau yang mungkin muncul.ثَالِثًا: وَيُشَدُّ عَلَيْهِ؛ لِيَجْمَعَ أَلْيَتَيْهِ وَمَثَانَتَهُ، وَيَرُدَّ مَا يَخْرُجُ.
Ketiga: Dan diikat di atasnya; untuk menyatukan kedua bokong dan kandung kemihnya, serta menahan apa yang keluar.يُؤْخَذُ الْقُطْنُ وَيُجْعَلُ عَلَيْهِ الْحَنُوْطُ وَالْكَافُوْرُ، وَيُتْرَكُ عَلَى الْفَمِ وَالْمِنْخَرَيْنِ وَالْعَيْنَيْنِ وَالْأُذُنَيْنِ وَمَنَافِذِ الْبَدَنِ، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ؛ وَذَلِكَ لِئَلَّا يَحْدُثَ فِيْهَا حَادِثٌ، وَدَفْعًا لِلْهَوَامِّ.
4 – Diambil kapas dan diberi al-hanuth (wewangian) dan kapur barus, lalu diletakkan di mulut, kedua lubang hidung, kedua mata, kedua telinga, dan lubang-lubang tubuh lainnya. Ini disepakati oleh empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan di dalamnya, dan untuk mengusir serangga.
يُوْضَعُ حَنُوْطٌ عَلَى مَوَاضِعِ السُّجُوْدِ مِنَ الْمَيِّتِ، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّ هَذِهِ الْمَوَاضِعَ شُرِّفَتْ بِالسُّجُوْدِ، فَخُصَّتْ بِالطِّيْبِ.
5 – Diberi al-hanuth (wewangian) pada bagian-bagian tubuh jenazah yang digunakan untuk sujud.[iii] Ini disepakati oleh empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah, karena bagian-bagian ini dimuliakan dengan sujud, maka dikhususkan dengan wewangian.يُطَيَّبُ جَمِيْعُ بَدَنِ الْمَيِّتِ، وَهَذَا مَذْهَبُ الْجُمْهُوْرِ: الْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ، وَهُوَ قَوْلُ طَائِفَةٍ مِنَ السَّلَفِ.
6 – Seluruh tubuh jenazah diwangikan. Ini adalah mazhab mayoritas ulama: Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah, dan ini adalah pendapat sekelompok ulama salaf.
Hal itu karena:أَوَّلًا: لِأَنَّ ذَلِكَ يُقَوِّي الْبَدَنَ وَيَشُدُّهُ.
Pertama: Karena hal itu menguatkan dan menegakkan tubuh.ثَانِيًا: لِأَنَّهُ يَكُوْنُ أَطْيَبَ لِلْمَيِّتِ.
Kedua: Karena itu lebih baik untuk jenazah.يُسْتَحَبُّ أَنْ يُطَيَّبَ رَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ، وَذَلِكَ بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْحَيَّ يَتَطَيَّبُ هَكَذَا.
7 – Dianjurkan untuk memberi wewangian pada kepala dan jenggotnya. Ini disepakati oleh empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah, karena orang yang masih hidup juga memakai wewangian seperti itu.
يُرَدُّ طَرَفُ اللِّفَافَةِ الْعُلْيَا مِنَ الْجَانِبِ الْأَيْسَرِ عَلَى شِقِّ الْمَيِّتِ الْأَيْمَنِ، ثُمَّ يُرَدُّ طَرَفُهَا الْأَيْمَنُ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ، ثُمَّ يُفْعَلُ بِاللِّفَافَةِ الثَّانِيَةِ وَالثَّالِثَةِ كَمَا فُعِلَ بِالْأُوْلَى، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالْأَصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.
8 – Bagian ujung kafan yang paling atas dari sisi kiri diarahkan ke sisi kanan jenazah, kemudian ujung yang kanan diarahkan ke sisi kirinya. Lalu hal yang sama dilakukan pada lapisan kafan kedua dan ketiga sebagaimana yang dilakukan pada yang pertama. Ini disepakati oleh empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, dan yang paling shahih menurut Syafi'iyah dan Hanabilah.
Hal itu karena:أَوَّلًا: لِئَلَّا يَسْقُطَ عَنْهُ الطَّرَفُ الْأَيْمَنُ إِذَا وُضِعَ عَلَى يَمِيْنِهِ فِي الْقَبْرِ.
Pertama: Agar bagian yang kanan tidak jatuh darinya ketika ia diletakkan di sisi kanannya di dalam kubur.ثَانِيًا: لِأَنَّهُ عَادَةُ لُبْسِ الْحَيِّ فِي قِبَاءٍ وَرِدَاءٍ وَنَحْوِهِمَا.
Kedua: Karena ini adalah kebiasaan pakaian orang yang masih hidup, seperti qaba' (mantel) dan rida' (selendang) dan sejenisnya.يُوْضَعُ الْمَيِّتُ عَلَى الْأَكْفَانِ بِحَيْثُ يَكُونُ أَكْثَرُ مَا يَفْضُلُ مِنَ الْكَفَنِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ، وَيُلْقَى الْفَاضِلُ عَلَى رَأْسِهِ وَرِجْلَيْهِ؛ نَصَّ عَلَى هَذَا الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ.
9 – Jenazah diletakkan di atas kain kafan sedemikian rupa sehingga kelebihan kain kafan lebih banyak di sisi kepala. Kelebihan itu lalu diletakkan di atas kepala dan kakinya. Hal ini ditetapkan oleh mazhab Syafi'iyah dan Hanabilah.
Dalil Pertama: Dari Khabbbab bin Al-Aratt Radhiyallahu Anhu yang berkata:هَاجَرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُرِيْدُ وَجْهَ اللَّهِ، فَوَقَعَ أَجْرُنَا عَلَى اللَّهِ؛ فَمِنَّا مَنْ مَضَى لَمْ يَأْخُذْ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئًا، مِنْهُمْ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ؛ قُتِلَ يَوْمَ أُحُدٍ وَتَرَكَ نَمِرَةً، فَإِذَا غَطَّيْنَا رَأْسَهُ بَدَتْ رِجْلَاهُ، وَإِذَا غَطَّيْنَا رِجْلَيْهِ بَدَا رَأْسُهُ، فَأَمَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُغَطِّيَ رَأْسَهُ، وَنَجْعَلَ عَلَى رِجْلَيْهِ مِنَ الْإِذْخِرِ، وَمِنَّا مَنْ أَيْنَعَتْ لَهُ ثَمَرَتُهُ فَهُوَ يَهْدِبُهَا
Kami berhijrah bersama Nabi ﷺ mencari keridaan Allah, maka pahala kami menjadi tanggungan Allah. Di antara kami ada yang telah berlalu tanpa mengambil sedikit pun dari pahalanya, di antaranya adalah Mush'ab bin Umair. Dia terbunuh pada hari Perang Uhud dan meninggalkan selembar kain selimut. Jika kami menutupi kepalanya, kakinya terbuka, dan jika kami menutupi kakinya, kepalanya terbuka. Maka Nabi ﷺ memerintahkan kami untuk menutupi kepalanya dan meletakkan daun idzkhir (sejenis rumput) pada kakinya. Dan di antara kami ada yang buahnya telah matang, lalu ia memetiknya, (Sahih Bukhari: 3914. Sahih Muslim: 940).
ثَانِيًا: لِأَنَّ الرَّأْسَ أَحَقُّ بِالسَّتْرِ مِنْ رِجْلَيْهِ؛ لِشَرَفِهِ، فَالِاحْتِيَاطُ لِسَتْرِهِ بِتَكْثِيْرِ مَا عِنْدَهُ أَوْلَى.
Kedua: Karena kepala lebih berhak untuk ditutupi daripada kedua kakinya, sebab kemuliaannya. Maka, kehati-hatian untuk menutupinya dengan memperbanyak kain di sisi itu lebih utama.ثَالِثًا: لِيَصِيْرَ الْكَفَنُ كَالْكِيْسِ، فَلَا يَنْتَشِرُ.
Ketiga: Agar kain kafan menjadi seperti kantung, sehingga tidak terurai.تُعْقَدُ اللَّفَائِفُ بَعْدَ تَكْفِيْنِ الْمَيِّتِ فِيْهَا، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.
10 – Ikatan-ikatan kain kafan diikat setelah jenazah dikafani di dalamnya. Ini disepakati oleh empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah.
Hal itu karena:أَوَّلًا: صِيَانَةً لِلْمَيِّتِ عَنِ الْكَشْفِ.
Pertama: Untuk menjaga jenazah dari terbuka.ثَانِيًا: لِلْخَوْفِ مِنِ انْتِشَارِ الْأَكْفَانِ عِنْدَ الْحَمْلِ.
Kedua: Karena khawatir kain kafan terurai saat dibawa.Demikian penjelasan tentang cara mengafani jenazah dari Mausuatul Fiqhiyah Dorar Saniyah. Semoga bermanfaat!
Karangasem, 20 Agustus 2025
Irfan Nugroho (Pengelola situs mukminun.com dan channel Youtube: Mukminun TV)
CATATAN KAKI [i] Letakkan hanut di antara lapisan kain kafan. Hanut adalah campuran wewangian yang ditaruh di setiap lapisan kain kafan yang dihamparkan. [ii] Dikenakan di atasnya sehelai kain yang dibelah ujungnya seperti tubbān, yaitu celana pendek tanpa lengan, (Al-Syarh al-Kabir oleh Syamudin Ibnu Qudamah: 2/340). [iii] Syafiiah dan Hanabilah menyatakan bahwa hanut (wewangian jenazah) harus diletakkan pada kapas, kemudian ditaruh pada anggota tubuh yang digunakan untuk sujud. Sementara itu, ulama Hanafi dan Maliki tidak mensyaratkan untuk meletakkannya di dalam kapas.
Post a Comment for "Fikih Dorar: Cara Mengafani Jenazah"