zmedia

ULASAN KITAB AL KABAIR: MEMBENTENGI DIRI DARI DOSA SYIRIK

Bapak, Ibu, dan Jamaah majelis ilmu yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Alhamdulillah, puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Azza wa Jalla, yang masih melimpahkan nikmat iman, islam, serta kesempatan bagi kita untuk duduk bersama di majelis yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Pada kesempatan kali ini, kita akan mempelajari karya monumental dari Al-Hafiz adz-Dzahabi rahimahullah, yaitu kitab Al-Kaba'ir (Dosa-Dosa Besar).

Mungkin timbul pertanyaan di hati kita: Mengapa kita harus mengkaji dan mengenali dosa-dosa besar? Bukankah seharusnya kita hanya fokus membahas kebaikan?

Jawabannya adalah: Kita mempelajari keburukan dan dosa bukan untuk dilakoni, melainkan agar kita mengenalnya sehingga bisa membentengi diri dan menjauhinya sejauh-jauhnya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh penyair berpengaruh (Abu Firas al-Hamdani) yang kebijaksanaannya sering dikutip oleh para ulama:

عَرَفْتُ الشَّرَّ لاَ لِلشَّرِّ *** لَكِنْ لِتَوَقِّيهِ

وَمَنْ لاَ يَعْرِفِ الشَّرَّ مِنَ الْخَيْرِ *** يَقَعْ فِيْهِ

"Aku mengenali keburukan bukan untuk melakukannya, melainkan untuk membentengi diri darinya.

Barangsiapa yang tidak membedakan keburukan dari kebaikan, niscaya ia akan terperosok ke dalamnya."

Sahabat Nabi yang mulia, Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu, juga pernah berkata:

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي.

"Orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena aku takut keburukan itu menimpaku," (Sahih Bukhari: 7084. Sahih Muslim: 1847).

Oleh karena itu, mengenali dosa besar adalah langkah awal penyelamatan akidah dan amal kita.

DUA MACAM SYIRIK

Imam adz-Dzahabi rahimahullah membuka kitab Al-Kaba'ir ini dengan membahas dosa yang paling puncak, paling besar, dan paling berbahaya di antara seluruh kemaksiatan di muka bumi, yaitu Syirik kepada Allah.

Beliau membagi pintu syirik ini menjadi dua kategori utama:

الْكَبِيرَةُ الْأُولَى: الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَهُوَ نَوْعَانِ الَنَّوْعُ الْأَوَّلُ: الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ وَالنَّوْعُ الثَّانِي: الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ وَهُوَ الرِّيَاءُ

"Dosa Besar Pertama: Menysekutukan Allah (Syirik), dan syirik itu terbagi menjadi dua jenis: Jenis Pertama: Syirik Besar (Asy-Syirk Al-Akbar). Jenis Kedua: Syirik Kecil (Asy-Syirk Al-Asghar), yaitu Riya'."

InsyaAllah dalam kurun waktu kajian kita ke depan, kita akan membedah tuntas hakikat dari Syirik Besar yang membatalkan keislaman, serta bahaya Syirik Kecil berupa Riya' dan Sum'ah yang dapat menggerogoti dan menghanguskan pahala amal ibadah kita tanpa kita sadari.

DEFINISI SYIRIK BESAR

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,

Imam adz-Dzahabi rahimahullah membuka pembahasan dosa besar terbesar ini dengan menjelaskan hakikat dari Syirik Besar (Asy-Syirk Al-Akbar). Beliau menuliskan dalam kitabnya:

فَأَكْبَرُ الْكَبَائِرِ الشِّرْكُ بِاللَّهِ تَعَالَى، وَهُوَ نَوْعَانِ: أَحَدُهُمَا أَنْ يَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَيَعْبُدَ غَيْرَهُ مِنْ حَجَرٍ أَوْ شَجَرٍ أَوْ شَمْسٍ أَوْ قَمَرٍ أَوْ نَبِيٍّ أَوْ شَيْخٍ أَوْ نَجْمٍ أَوْ مَلَكٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِك، وَهَذَا هُوَ الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Maka dosa besar yang paling besar adalah menysekutukan Allah Ta'ālā (syirik), dan syirik itu terbagi menjadi dua jenis. Pertama: Menjadikan tandingan (nidd) bagi Allah dan menyembah selain-Nya, baik berupa batu, pohon, matahari, bulan, nabi, syekh, bintang, malaikat, maupun yang lainnya. Ini adalah syirik besar yang disebutkan oleh Allah 'Azza wa Jalla.

Poin penting di sini adalah kata نِدًّا (niddan), yaitu menjadikan sebanding atau tandingan bagi Allah. Perhatikan bagaimana beliau merinci objek-objek penyembahan: dari benda mati seperti batu dan pohon, benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang, hingga makhluk yang paling mulia seperti Nabi, syekh, maupun Malaikat.

Ini mengajarkan kepada kita bahwa sekalipun yang diibadahi, dimintai doa penolong, atau disembah itu adalah makhluk sesuci Nabi atau Malaikat, ketika ia dijadikan sekutu bagi Allah dalam ibadah, maka tindakan tersebut tetap terjerumus ke dalam Syirik Besar.

TIGA BAHAYA & KONSEKUENSI UTAMA SYIRIK BESAR

Al-Qur'anul Karim telah memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai bahaya dan dampak kehancuran dari dosa syirik besar ini. Imam adz-Dzahabi membawakan 3 landasan dalil utama:

1. DOSA YANG TIDAK DIAMPUNI JIKA DIBAWA MATI

Allah Ta'ala berfirman dalam Surah An-Nisa' ayat 48:

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." [QS. An-Nisa': 48]

Setiap dosa maksiat lainnya, baik zina, riba, maupun dosa-dosa besar selain syirik, apabila pelakunya meninggal dunia sebelum sempat bertaubat, hukumnya berada di bawah kehendak Allah (Tahta Masyi'atillah). Jika Allah menghendaki, Dia bisa mengampuninya langsung. Namun khusus untuk dosa syirik besar, jika seseorang meninggal dalam keadaan belum bertaubat darinya, maka pintu ampunan Allah telah tertutup rapat.

2. KEZALIMAN YANG PALING BESAR

Allah Ta'ala mengabadikan nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya:

﴿إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ﴾

"Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." [QS. Luqman: 13]

Mengapa syirik dinamakan kezaliman paling besar? Karena makna "zalim" adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Manusia diciptakan oleh Allah, diberi rezeki oleh Allah, dan diberi nafas oleh Allah. Namun, ketika ia beribadah, mengabdi, dan menyerahkan rasa takut serta pengharapannya kepada selain Allah, ia telah melakuakan kezaliman puncak terhadap hak Penciptanya.

3. DIHARAMKANNYA SURGA DAN KEKAL DI NERAKA

Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat 72:

﴿إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ﴾

"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka." [QS. Al-Ma'idah: 72]

Ancaman ini bersifat mutlak dan tegas. Pintu surga diharamkan bagi pelaku syirik besar yang mati tanpa taubat, dan neraka menjadi tempat tinggal abadi baginya.

KEDUDUKAN TAUHID VS SYIRIK & DALIL AL-HADITS

Imam adz-Dzahabi rahimahullah memberikan kesimpulan hukum yang sangat mendalam terkait hal ini:

فَمَنْ أَشْرَكَ بِاللَّهِ ثُمَّ مَاتَ مُشْرِكًا فَهُوَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ قَطْعًا، كَمَا أَنَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَاتَ مُؤْمِنًا فَهُوَ مِنْ أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَإِنْ عُذِّبَ بِالنَّارِ

Maka barangsiapa yang mempersekutukan Allah kemudian mati dalam keadaan musyrik, niscaya ia termasuk penghuni neraka secara pasti (qath'an); sebagaimana barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mati dalam keadaan beriman, niscaya ia termasuk penghuni surga meskipun sempat diazab di neraka.

Prinsip ini sangat jelas:

Seorang hamba yang mempertahankan Tauhid hingga akhir hayatnya, meskipun ia membawa dosa-dosa lain yang membuat dirinya harus dibersihkan terlebih dahulu di dalam neraka, pada akhirnya tempat kembalinya adalah Surga.

Sebaliknya, seseorang yang mati membawa Syirik Besar, maka ia pasti menjadi penghuni neraka selama-lamanya tanpa ada harapan keluar darinya.

KEDUDUKAN SYIRIK DALAM SABDA RASULULLAH

Beliau menekankan betapa mengerikannya dosa syirik ini dalam beberapa hadits shahih. Di antaranya:

1. Dosa Besar yang Paling Besar

Diriwayatkan dalam Ash-Shahih:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلَاثًا، قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

Rasulullah bersabda: "Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar?" (beliau mengulangnya tiga kali). Para sahabat menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua..."

2. Termasuk Perkara yang Membinasakan

Rasulullah bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ

"Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan (Al-Mubiqat)," lalu beliau menyebutkan di antaranya adalah syirik kepada Allah.

3. Ketegasan Hukum dalam Agama

Dan beliau bersabda:

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

"Barangsiapa mengganti din (agama)-nya, maka bunuhlah dia."

Jamaah sekalian, dari paparan ayat dan hadits di atas, jelaslah bagi kita mengapa Syirik Besar didudukkan oleh para ulama sebagai dosa nomor satu yang wajib kita takuti dan bentengi diri darinya.

SYIRIK KECIL (ASY-SYIRK AL-ASGHAR) DAN BAHAYA RIYA’

Jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala,

Setelah kita memahami bahaya besar dari Asy-Syirk Al-Akbar (syirik besar) yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam, kini kita melangkah pada jenis syirik yang kedua, yaitu Syirik Kecil (Asy-Syirk Al-Asghar) atau yang lebih kita kenal dengan Riya’ dan Sum’ah.

Jika syirik besar menyasar pada perbuatan menyembah selain Allah, maka syirik kecil ini menyerang niat di dalam hati. Amalannya tampak shalih, shalat, puasa, sedekah, membaca Al-Qur'an, tetapi tujuannya bukan murni mencari Wajah Allah, melainkan untuk mendapat pandangan manusia (riya’) atau pendengaran/pujian manusia (sum’ah).

1. Peringatan Al-Qur'an dan Hadits tentang Riya'

Imam adz-Dzahabi membawakan firman Allah Ta'ala dalam Surah Al-Kahf ayat 110:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya." [QS. Al-Kahf: 110]

Maksud ayat ini sebagaimana dijelaskan para ulama adalah: janganlah ia berbuat riya’ dengan amalnya kepada siapa pun.

Rasulullah sangat mengkhawatirkan umatnya terjerumus ke dalam dosa ini. Beliau bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالشِّرْكَ الْأَصْغَرَ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى يَوْمَ يُجَازِي الْعِبَادَ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ هُمْ بِأَعْمَالِكُمْ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

"Hati-hatilah kalian terhadap syirik kecil." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?" Beliau bersabda: "Riya'. Allah Ta'ālā berfirman pada hari ketika Dia membalas hamba-hamba-Nya atas amal-amal mereka: 'Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian pameri dengan amal-amal kalian di dunia, lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?'"

Lihatlah betapa menyedihkannya keadaan orang yang riya'! Di hari Kiamat kelak, Allah Ta'ala menolak amalnya dan menyuruhnya meminta balasan kepada manusia yang dahulu ia harapkan pujiannya. Padahal manusia pada hari itu sama sekali tidak memiliki kuasa atau pahala untuk diberikan.

2. Ancaman Penolakan Amal dan Ketiadaan Pahala

Dalam sebuah Hadits Qudsi, Rasulullah menyampaikan firman Allah Ta'ala:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ مَعِيَ فِيهِ غَيْرِي فَهُوَ لِلَّذِي أَشْرَكَ وَأَنَا مِنْهُ بَرِيءٌ

"Barangsiapa melakukan suatu amal yang di dalamnya ia mempersekutukan selain-Ku dengan-Ku, maka amal itu bagi yang dipersekutukan tersebut dan Aku lepas darinya."

Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan sekutu. Jika suatu amalan dicampuri niat karena manusia, Allah akan melepas dan meninggalkan amalan tersebut. Bahkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengingatkan konsekuensi balasannya:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ رَاءَى رَاءَى اللَّهُ بِهِ

"Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya (sum'ah), niscaya Allah akan memperdengarkan (aibnya); dan barangsiapa yang memamerkan amalnya (riya'), niscaya Allah akan mempertontonkan (kesalahannya)."

Alangkah ringannya lidah kita berucap dan alangkah beratnya kelelahan fisik kita, namun tanpa keikhlasan semuanya sirna. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صَوْمِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ

"Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya melainkan rasa lapar dan dahaga; dan betapa banyak orang yang shalat malam tidak mendapatkan apa-apa dari shalat malamnya melainkan rasa kantuk (begadang)."

Maksudnya, apabila shalat dan puasa tersebut tidak ditujukan murni demi Wajah Allah Ta'ala, maka gugurlah pahalanya di sisi Allah.

DUA PERUMPAMAAN DAN GAMBARAN DAHSYAT ORANG YANG RIYA'

Imam adz-Dzahabi membawakan perumpamaan dan riwayat yang sangat menyentuh hati agar kita menyadari betapa ruginya pelaku riya’:

1. Perumpamaan Kantong Batu Kerikil

Rasulullah membuat perumpamaan indah:

مَثَلُ الَّذِي يَعْمَلُ لِلرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ كَمَثَلِ الَّذِي يَمْلَأُ كِيسَهُ حَصًى ثُمَّ يَدْخُلُ السُّوقَ لِيَشْتَرِيَ بِهِ

"Perumpamaan orang yang beramal karena riya' dan sum'ah bagaikan orang yang memenuhi kantongnya dengan batu kerikil, lalu ia masuk ke pasar untuk membeli sesuatu dengannya.

فَإِذَا فَتَحَهُ قُدَّامَ الْبَائِعِ فَإِذَا هُوَ حَصًى وَضُرِبَ بِهِ وَجْهُهُ، وَلَا مَنْفَعَةَ لَهُ فِي كِيسِهِ سِوَى مَقَالَةِ النَّاسِ لَهُ: مَا أَمْلَأَ كِيسَهُ! وَلَا يُعْطَى بِهِ شَيْئًا، فَكَذَلِك الَّذِي يَعْمَلُ لِلرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ فَلَيْسَ لَهُ مِنْ عَمَلِهِ سِوَى مَقَالَةِ النَّاسِ وَلَا ثَوَابَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ

Namun ketika ia membukanya di depan penjual, ternyata isinya hanyalah kerikil lalu dilemparkan ke wajahnya; ia tidak mendapatkan manfaat dari kantongnya melainkan ucapan orang-orang: 'Betapa penuh kantongnya!', sementara ia tidak diberi apa pun dengannya. Begitu pula orang yang beramal karena riya' dan sum'ah, ia tidak mendapatkan apa-apa dari amalnya selain ucapan/pujian orang-orang, dan tidak ada pahala baginya di akhirat."

Inilah janji Allah sebagaimana firman-Nya:

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

"Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan." [QS. Al-Furqan: 23]

2. Pemberhentian di Ambang Surga (Kisah 'Adi bin Hatim)

Diriwayatkan dari 'Adi bin Hatim Ath-Tha'i radhiyallahu 'anhu, Rasulullah menceritakan sebuah penyesalan paling dahsyat di hari Kiamat:

يُؤْمَرُ بِفِئَامٍ - أَيْ جَمَاعَاتٍ مِنَ النَّاسِ - يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ، حَتَّى إِذَا دَنَوْا مِنْهَا وَاسْتَنْشَقُوا رَائِحَتَهَا وَنَظَرُوا إِلَى قُصُورِهَا وَإِلَى مَا أَعَدَّ اللَّهُ لِأَهْلِهَا فِيهَا، نُودُوا أَنْ اصْرِفُوهُمْ عَنْهَا فَإِنَّهُمْ لَا نَصِيبَ لَهُمْ فِيهَا

"Diperintahkan kepada rombongan-rombongan manusia pada hari kiamat menuju surga, hingga ketika mereka telah dekat dengannya, mencium baunya, serta melihat istana-istananya dan apa yang Allah sediakan bagi penghuninya di sana, tiba-tiba dipanggilkan perintah: 'Palingkanlah mereka darinya, karena sesungguhnya tidak ada bagian bagi mereka di dalamnya!'

فَيَرْجِعُونَ بِحَسْرَةٍ وَنَدَامَةٍ مَا رَجَعَ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ بِمِثْلِهَا، فَيَقُولُونَ: رَبَّنَا، لَوْ أَدْخَلْتَنَا النَّارَ قَبْلَ أَنْ تُرِيَنَا مَا أَرَيْتَنَا مِنْ ثَوَابِ مَا أَعْدَدْتَ لِأَوْلِيَائِكَ كَانَ أَهْوَنَ عَلَيْنَا!

Maka mereka pun kembali dengan rasa penyesalan dan kerugian yang belum pernah dirasakan oleh orang-orang terdahulu maupun belakangan. Mereka berkata: 'Wahai Tuhan kami, sekiranya Engkau memasukkan kami ke neraka sebelum memperlihatkan kepada kami pahala yang Engkau sediakan bagi kekasih-kekasih-Mu, niscaya itu terasa lebih ringan bagi kami!'

فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: ذَلِك مَا أَرَدْتُ بِكُمْ؛ كُنْتُمْ إِذَا خَلَوْتُمْ بَارَزْتُمُونِي بِالْعَظَائِمِ، وَإِذَا لَقِيتُمُ النَّاسَ لَقِيتُمُوهُمْ مُخْبِتِينَ

Maka Allah Ta'ālā berfirman: 'Demikianlah yang Aku kehendaki terhadap kalian. Dahulu apabila kalian berkintim (sendirian), kalian terang-terangan menantang-Ku dengan dosa-dosa besar, tetapi apabila bertemu manusia, kalian menemui mereka dengan tunduk khusyuk.

تُرَاءُونَ النَّاسَ بِأَعْمَالِكُمْ خِلَافَ مَا تُعْطُونِي مِنْ قُلُوبِكُمْ، هِبْتُمُ النَّاسَ وَلَمْ تَهَابُونِي، وَأَجْلَلْتُمُ النَّاسَ وَلَمْ تُجِلُّونِي، وَتَرَكْتُمْ لِلنَّاسِ وَلَمْ تَتْرُكُوا لِي - يَعْنِي لِأَجْلِ النَّاسِ - فَالْيَوْمَ أُذِيقُكُمْ أَلِيمَ عِقَابِي مَعَ مَا حَرَمْتُكُمْ مِنْ جَزِيلِ ثَوَابِي

Kalian memamerkan amal-amal kalian kepada manusia, menyelisihi apa yang kalian berikan kepada-Ku dari hati kalian. Kalian takut kepada manusia tetapi tidak takut kepada-Ku, kalian mengagungkan manusia tetapi tidak mengagungkan-Ku, dan kalian meninggalkan (dosa) demi manusia tetapi tidak meninggalkannya demi Aku. Maka pada hari ini Aku rasakan kepada kalian pedihnya azab-Ku, beserta apa yang Aku haramkan atas kalian dari besarnya pahala-Ku.'"

EMPAT PANGGILAN PENGHINAAN DI HARI KIAMAT

Jamaah sekalian, ketika seorang hamba bertanya kepada Rasulullah , "Apakah keselamatan itu?"

Beliau menjawab: "Engkau tidak menipu Allah." Orang itu bertanya: "Bagaimana Allah ditipu?" Beliau bersabda:

أَنْ تَعْمَلَ عَمَلًا أَمَرَكَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ بِهِ وَتُرِيدُ بِهِ غَيْرَ وَجْهِ اللَّهِ، وَاتَّقِ الرِّيَاءَ فَإِنَّهُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ، وَإِنَّ الْمُرَائِيَ يُنَادَى عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ بِأَرْبَعَةِ أَسْمَاءٍ

"Engkau melakukan suatu amal yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, namun engkau menginginkan selain Wajah Allah dengannya. Dan jauhilah riya', karena riya' adalah syirik kecil. Sesungguhnya orang yang riya' akan dipanggil pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk dengan empat julukan:

يَا مُرَائِي، يَا غَادِرُ، يَا فَاجِرُ، يَا خَاسِرُ

-          Wahai orang yang riya'!

-          Wahai pengkhianat!

-          Wahai orang durjana!

-          Wahai orang yang rugi!

ضَلَّ عَمَلُكَ وَبَطَلَ أَجْرُكَ، فَلَا أَجْرَ لَكَ عِنْدَنَا، اذْهَبْ فَخُذْ أَجْرَكَ مِمَّنْ كُنْتَ تَعْمَلُ لَهُ يَا مُخَادِعُ

Telah kesasar amalmu dan telah gugur pahalamu, maka tidak ada pahala bagimu di sisi Kami. Pergilah dan ambillah pahalamu dari orang yang dahulu engkau beramal karenanya, wahai penipu!"

Jamaah yang dirahmati Allah, inilah hakekat syirik kecil (riya'). Betapa halus ia masuk ke dalam relung hati kita, namun betapa dahsyat kehancuran yang ditimbulkannya pada amalan-amalan kita. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memelihara keikhlasan hati kita dalam setiap sujud, sedekah, dan amal shalih yang kita kerjakan.

SOLUSI & HAKIKAT IKHLAS

Jamaah dan hadirin yang dirahmati Allah,

Setelah kita memahami betapa mengerikannya bahaya syirik, baik syirik besar yang merusak pondasi iman, maupun syirik kecil berupa riya’ yang merontokkan pahala, tentu timbul pertanyaan besar di dalam hati kita: Bagaimana cara kita selamat dari bahaya ini? Apa hakikat ikhlas yang sebenarnya?

Para ulama dan hukama (orang-orang bijak) terdahulu telah memberikan penawar dan ukuran yang sangat jernih agar kita bisa menilai kadar keikhlasan di dalam hati kita.

1. Definisi Orang yang Ikhlas (Al-Mukhlis)

Sebagian hukama rahimahumullah pernah ditanya: "Siapakah orang yang ikhlas itu?" Beliau menjawab dengan kalimat yang sangat menyentuh:

الْمُخْلِصُ الَّذِي يَكْتُمُ حَسَنَاتِهِ كَمَا يَكْتُمُ سَيِّئَاتِهِ

"Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan keburukan-keburukannya."

Subhanallah. KITA semua tentu sangat ahli dalam menyembunyikan aib, keburukan, dan dosa-dosa kita dari pandangan manusia. Kita malu jika orang lain mengetahuinya. Nah, orang yang mukhlis memiliki dorongan yang sama kuatnya untuk merahasiakan amal shalihnya. Bagi mereka, amal shalih adalah rahasia pribadi antara dirinya dengan Allah Azza wa Jalla.

2. Puncak dari Keikhlasan

Kemudian ditanyakan pula kepada sebagian ulama lainnya: "Apakah puncak dari keikhlasan itu?"

Beliau menjawab:

أَنْ لَا تُحِبَّ مَحْمَدَةَ النَّاسِ

"Engkau tidak menyukai (tidak haus akan) pujian manusia."

Seseorang yang telah mencapai puncak keikhlasan tidak lagi terpengaruh oleh sanjungan maupun celaan. Dipuji tidak membuatnya melayang dan berbangga diri, dicela pun tidak menyurutkan langkahnya dalam beribadah kepada Allah. Pujian manusia baginya hanyalah angin lalu yang tak bernilai di hadapan ridha Allah.

3. Rumus Keikhlasan Al-Fudhail bin 'Iyadh

Salah satu kaidah paling monumental tentang penataan hati disampaikan oleh ulama besar, Al-Fudhail bin 'Iyadh radhiyallahu 'anhu. Beliau meletakkan rumus sederhana namun sangat mendalam:

تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالْإِخْلَاصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا

"Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', sedangkan beramal karena manusia adalah syirik; adapun ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya."

-          Meninggalkan amal karena manusia adalah riya': Ketika kita hendak bersedekah atau membaca Al-Qur'an, lalu terbersit rasa takut dinilai pamer oleh orang lain sehingga kita membatalkan amal tersebut, maka ketakutan itu sendiri sebenarnya adalah bentuk riya' (karena tolok ukur tindakan kita masih manusia).

-          Beramal karena manusia adalah syirik: Ketika kita rajin beribadah, memperpanjang ruku' dan sujud, atau bersedekah hanya agar dilihat dan dipuji orang lain.

-          Ikhlas: Adalah kondisi di mana Allah menyembuhkan hati kita dari kedua penyakit tersebut, sehingga kita beramal murni karena Allah, dan tidak membatalkan amal juga murni karena Allah.

Maka akhir dari ikhtiar kita adalah memohon perlindungan kepada Allah, sebagaimana penutup dari bab ini dalam kitab Al-Kaba'ir:

اللَّهُمَّ عَافِنَا مِنْهُمَا وَاعْفُ عَنَّا

"Ya Allah, selamatkanlah kami dari kedua hal tersebut (riya' dan syirik), dan maafkanlah kami."

Post a Comment for "ULASAN KITAB AL KABAIR: MEMBENTENGI DIRI DARI DOSA SYIRIK"