Kedekatan seorang hamba dengan Sang Pencipta dapat mencapai tingkat tertinggi ketika ia mampu melawan kecenderungan jasmaninya demi mendirikan ibadah secara tulus. Melalui Hadis Sifat Allah Takjub dan Tertawa Qiyamul Lail, kita diperlihatkan gambaran agung tentang bagaimana Allah Azza wa Jalla menaruh kekaguman dan tersenyum rida kepada hamba-hamba-Nya yang mengorbankan kenyamanan demi bersujud di waktu malam serta mereka yang teguh di medan juang. Artikel ini akan membedah teks hadis yang dihasankan oleh Syaikh Al-Albani, penjelasan kosakata, hingga intisari hukum dan akidah yang disarikan langsung dari Tabsirus Sairin.
TEKS HADIS DAN TERJEMAHANNYA
Imam Al-Baihaki
meriwayatkan dari Abu Darda Radhiyallahu Anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«ثَلَاثَةٌ يُحِبُّهُمُ اللَّهُ عز وجل ،
يَضْحَكُ إِلَيْهِمْ، وَيَسْتَبْشِرُ بِهِمْ: الَّذِي إِذَا انْكَشَفَتْ فِئَةٌ
قَاتَلَ وَرَاءَهَا بِنَفْسِهِ لِلَّهِ عز وجل ... وَالَّذِي لَهُ امْرَأَةٌ
حَسْنَاءُ وَفِرَاشٌ لَيِّنٌ حَسَنٌ، فَيَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَذَرُ
شَهْوَتَهُ فَيَذْكُرُنِي وَيُنَاجِينِي... وَالَّذِي يَكُنْ فِي سَفَرٍ...
فَقَامَ فِي السَّحَرِ فِي سَرَّاءٍ، أَوْ ضَرَّاءٍ»
"Ada tiga
golongan manusia yang dicintai oleh Allah Azza wa Jalla, Dia tertawa kepada
mereka, dan memberikan kabar gembira kepada mereka: (1) Orang yang ketika
pasukannya terpukul mundur, ia tetap maju berperang mempertaruhkan jiwanya demi
Allah Azza wa Jalla... (2) Orang yang memiliki istri yang cantik jelita serta
tempat tidur yang empuk lagi nyaman, namun ia bangkit di malam hari
meninggalkan syahwatnya untuk mengingat-Ku dan bermunajat kepada-Ku... (3)
Orang yang berada dalam perjalanan (musafir) bersama rombongan yang kelelahan
lalu mereka tidur, namun ia bangkit beribadah di waktu sahur dalam kondisi
senang maupun susah." (HR. Al-Baihaki, Perawi tsiqat).
ANALISIS KOSAKATA DAN PENJELASAN KALIMAT
Penjelasan kata (عَجِبَ رَبُّنَا) dan (يَضْحَكُ إِلَيْهِمْ) atau yang artinya (Rabb kita takjub / Allah tertawa kepada
mereka) maksudnya adalah:
أَيْ عَجَبًا وَضُحْكًا حَقِيقِيًّا
يَلِيقُ بِهِ سُبْحَانَهُ لَا يُشْبِهِ عَجَبَ وَضُحْكَ الْمَخْلُوقِينَ
Yaitu penetapan
sifat takjub dan tertawa yang hakiki bagi Allah Ta'ala yang sesuai dengan
segala keagungan dan kesucian-Nya, tanpa menyerupai (tamtsil) sifat
takjub maupun tertawanya makhluk yang diliputi kekurangan.
Syarah kalimat (ثَارَ عَنْ وِطَائِهِ وَلِحَافِهِ) atau yang artinya (Bangkit
dengan penuh semangat dari kasur dan selimutnya) maksudnya adalah:
"ثَارَ": أَيْ قَامَ بِهِمَّةٍ،
وَنَشَاطٍ، وَرَغْبَةٍ. "وِطَائِهِ": أَيْ فِرَاشِهِ اللَّيِّنِ.
"لِحَافِهِ": أَيْ ثَوْبِهِ الَّذِي فَوْقَهُ
Kata tsara
berarti bangkit berdiri secara cepat yang didorong oleh kesigapan, stamina yang
tinggi, serta kerinduan yang mendalam. Sedangkan witha' adalah kasur
atau alas tidur yang empuk, dan lihaf merupakan kain penutup tubuh atau
selimut hangat.
Syarah kalimat (رَغْبَةً فِيمَا عِنْدِي وَشَفَقَةً
مِمَّا عِنْدِي)
atau yang artinya (Karena mengharap apa yang ada di sisi-Ku dan takut terhadap
apa yang ada di sisi-Ku) maksudnya adalah:
"رَغْبَةً": أَيْ طَمَعًا فِي
الثَّوَابِ، لَا رِيَاءً، وَلَا سُمْعَةً، بَلْ مَيْلًا إِلَىٰ رِضَاهُ.
"شَفَقَةً": أَيْ خَوْفًا مِنْ عَذَابِي
Maksudnya, ia
melakukan ibadah tersebut murni karena mendambakan limpahan pahala dan rida
dari Allah, bersih dari motif riya (ingin dilihat) maupun sum'ah (ingin
didengar), sekaligus dilandasi rasa takut yang besar terhadap siksa dan
azab-Nya.
Syarah kalimat (أُهْرِيقَ دَمُهُ / انْكَشَفَتْ فِئَةٌ) atau yang artinya (Darahnya
tertumpah / Pasukan terpukul mundur) maksudnya adalah:
"أُهْرِيقَ دَمُهُ": أَيْ أُرِيقَ
دَمُهُ، أَيْ جَاهَدَ حَتَّىٰ أَفْنَىٰ نَفْسَهُ وَمَالَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.
"انْكَشَفَتْ فِئَةٌ": أَيْ اِنْهَزَمَتْ طَائِفَةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Makna darah
tertumpah adalah ia berjuang dengan mengorbankan jiwa dan hartanya di jalan
Allah hingga syahid. Sementara pasukannya terpukul mundur mengisyaratkan
situasi genting ketika sekelompok pasukan muslim mengalami kekalahan di medan
laga.
Syarah kalimat (يُنَاجِينِي / نَصَبُوا وَهَجَعُوا) atau yang artinya (Bermunajat
kepada-Ku / Kelelahan lalu tertidur) maksudnya adalah:
"يُنَاجِينِي": أَيْ يَدْعُونِي
وَيَتَضَرَّعُ إِلَيَّ. "نَصَبُوا": أَيْ تَعِبُوا تَعَبًا شَدِيدًا.
"هَجَعُوا": أَيْ نَامُوا لِيَسْتَرِيحُوا.
Bermunajat berarti
memanjatkan doa dengan penuh kelembutan dan ketundukan. Sedangkan nashabu
menunjukkan kondisi fisik rombongan musafir yang sangat letih setelah menempuh
perjalanan jauh, dan haja'u artinya mereka akhirnya tertidur pulas demi
melepas lelah.
HUBUNGAN ANTARA BERATNYA UJIAN DAN BESARNYA BALASAN
Kedua hadis di atas
menggarisbawahi sebuah kaidah universal dalam syariat Islam: semakin besar
faktor penghalang atau gangguan dalam beribadah, maka ganjaran pahala yang
disediakan akan semakin berlipat ganda. Tidur di kasur yang empuk bersama
istri tercinta, atau beristirahat setelah perjalanan jauh yang melelahkan,
merupakan kecenderungan alami manusia yang sangat kuat.
Ketika seorang hamba
mampu memotong kelezatan syahwat tersebut demi tegak berdiri menghadap Rabbnya,
ia telah membuktikan bahwa cintanya kepada Allah jauh mengungguli cintanya
terhadap dunia. Pengorbanan inilah yang memicu kepuasan ilahi, yang
diistilahkan dalam teks sebagai "takjub" (ajiba) dan
"tertawa" (yadh-haku), sebuah bentuk apresiasi tertinggi dari
Sang Pencipta kepada hamba-Nya yang loyal.
INTISARI DAN PELAJARAN HADIS
Melalui tinjauan
ilmiah dari rujukan utama akidah dan akhlak yang tertuang di dalam kedua teks
di atas, berikut adalah faedah berharga yang dapat dipetik:
- Penetapan Sifat-Sifat Allah
Sesuai Keagungan-Nya: Hadis ini secara tegas menetapkan adanya sifat takjub (al-ajab),
tertawa (ad-dhahik), berbicara (al-kalam), serta cinta (al-mahabbah)
bagi Allah SWT, dengan keyakinan yang bersih dari penyerupaan terhadap
makhluk.
- Motivasi Beramal Saleh: Adanya anjuran serta dorongan
yang sangat kuat untuk mengamalkan poin-poin ibadah dalam hadis, sebab
amalan-amalan tersebut merupakan magnet utama yang mendatangkan kecintaan
khusus dari Allah.
- Korelasi Nilai Pahala dengan
Tingkat Kesulitan: Penegasan kaidah bahwa setiap kali faktor pemaling atau penghalang
ibadah itu bernilai besar di mata manusia, maka bobot pahala dan apresiasi
di sisi Allah pun akan menjadi jauh lebih agung.
- Keutamaan Qiyamul Lail dan Jihad: Menempatkan aktivitas shalat
malam (tahajud) sejajar dengan keutamaan berjuang mempertaruhkan nyawa di
medan laga dalam hal meraih rida dan kekaguman Allah Azza wa Jalla.
Secara keseluruhan,
pemaparan Hadis Sifat Allah Takjub dan Tertawa Qiyamul Lail menyadarkan kita
betapa berharganya setiap detik yang kita korbankan di keheningan malam demi
bersujud kepada-Nya. Penjelasan eksplisit dari riwayat-riwayat di atas
membimbing kita untuk melatih jiwa agar mampu menembus batas kemalasan fisik
dan tarikan duniawi. Semoga Allah ta’ala menganugerahkan kepada kita kekuatan
iman untuk senantiasa menghidupkan malam-malam kita, sehingga kita layak
mendapatkan curahan rahmat, senyuman rida, dan cinta-Nya yang abadi.

Post a Comment for "Hadis Sifat Allah Takjub dan Tertawa Qiyamul Lail: Amalan Istimewa Pembuka Keridaan Ilahi"