zmedia

Hukum Membunuh Anjing dalam Islam: Kapan Boleh Dibunuh dan Kapan Tidak?

 


Hukum membunuh anjing merupakan salah satu persoalan fikih yang sering ditanyakan, terutama ketika seekor anjing menimbulkan gangguan, membahayakan penghuni rumah, atau sulit untuk disingkirkan. Apakah Islam membolehkan membunuh anjing dalam kondisi seperti itu? Berikut ini adalah penjelasan rinci dari Syaikh Dr. Abdullah Al-Faqih Asy-Syinqithi, mufti Syabakah Islamiyah Qatar, yang menerangkan hukum memelihara anjing sekaligus hukum membunuhnya berdasarkan dalil-dalil syariat dan penjelasan para ulama. Simak kutipan fatwa beliau berikut ini.

حُكْمُ قَتْلِ الْكِلَابِ

Hukum Membunuh Anjing

Pertanyaan:

كُنْتُ قَدْ أَحْضَرْتُ كَلْبًا، وَقَدْ آذَى مَنْ فِي الْبَيْتِ جِدًّا، وَأَخِي يَخَافُ مِنْهُ، وَدَائِمًا يَجْعَلُ الْمَكَانَ غَيْرَ نَظِيفٍ، وَيَقْضِي حَاجَتَهُ فِي أَيِّ مَكَانٍ، وَقَدْ جَعَلَ الْبَلْكُونَةَ مَزْبَلَةً.

Aku pernah memelihara seekor anjing. Anjing itu sangat mengganggu orang-orang di rumah. Saudaraku takut kepadanya. Anjing itu juga selalu membuat rumah menjadi kotor, buang hajat di sembarang tempat, dan menjadikan balkon seperti tempat sampah.

وَاكْتَشَفْتُ أَنَّ عِنْدَهُ حَشَرَاتٍ، وَالصَّرْفُ عَلَى عِلَاجِهِ سَيَكُونُ مُكَلِّفًا جِدًّا، وَلَيْسَتْ لَدَيْنَا الْإِمْكَانِيَّاتُ الْمَادِّيَّةُ الْكَافِيَةُ؛ لِذَا فَهَلْ يَجُوزُ قَتْلُهُ؟

Aku juga mengetahui bahwa anjing itu terkena kutu atau serangga. Biaya pengobatannya akan sangat mahal, sedangkan kami tidak memiliki kemampuan finansial yang memadai. Oleh karena itu, apakah boleh membunuhnya?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga beliau, dan para sahabatnya. Amma ba'du.

فَإِذَا كَانَ الْمَسْؤُولُ عَنْ حُكْمِ قَتْلِهِ كَلْبًا، فَلَا بُدَّ مِنَ التَّنْبِيهِ ابْتِدَاءً عَلَى حُرْمَةِ اقْتِنَاءِ الْكِلَابِ إِلَّا لِحَاجَةٍ، كَكِلَابِ الصَّيْدِ وَالْحِرَاسَةِ؛ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

Jika yang ditanyakan adalah hukum membunuh seekor anjing, maka terlebih dahulu perlu ditegaskan bahwa memelihara anjing pada asalnya adalah terlarang, kecuali karena suatu kebutuhan, seperti untuk berburu atau menjaga keamanan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi :

مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلَّا كَلْبَ مَاشِيَةٍ، أَوْ صَيْدٍ، أَوْ زَرْعٍ؛ انْتَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ

"Barang siapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga ternak, berburu, atau menjaga tanaman, maka pahalanya berkurang satu qirath setiap hari." (Sahih Bukhari: 3324. Sahih Muslim: 1575)

Disebutkan dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah:

اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ اقْتِنَاءُ الْكَلْبِ إِلَّا لِحَاجَةٍ: كَالصَّيْدِ وَالْحِرَاسَةِ، وَغَيْرِهِمَا مِنْ وُجُوهِ الِانْتِفَاعِ الَّتِي لَمْ يَنْهَ الشَّارِعُ عَنْهَا ... اهـ.

Para ulama sepakat bahwa tidak boleh memelihara anjing kecuali karena kebutuhan, seperti untuk berburu, menjaga keamanan, atau bentuk-bentuk pemanfaatan lain yang tidak dilarang oleh syariat.

Adapun jawaban atas pertanyaan Anda adalah sebagai berikut:

إِنْ أَمْكَنَ طَرْدُ هَذَا الْكَلْبِ مِنْ بَيْتِكُمْ دُونَ أَذِيَّةٍ لَكُمْ وَلَا لِغَيْرِكُمْ، فَلَا يَنْبَغِي قَتْلُهُ، خُرُوجًا مِنْ خِلَافِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي حُكْمِ قَتْلِ الْكَلْبِ الَّذِي لَا يَضُرُّ.

Apabila anjing tersebut masih dapat diusir dari rumah tanpa menimbulkan bahaya bagi kalian maupun orang lain, maka sebaiknya ia tidak dibunuh. Hal ini untuk keluar dari perbedaan pendapat para ulama mengenai hukum membunuh anjing yang tidak membahayakan.

وَعَلَى ذَلِكَ، فَإِنْ تَعَسَّرَ طَرْدُهُ، أَوْ كَانَ فِي ذَلِكَ أَذِيَّةٌ لِأَحَدٍ، فَلَا حَرَجَ فِي قَتْلِهِ، وَلَا سِيَّمَا وَقَدْ ذَهَبَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَى الْجَوَازِ مُطْلَقًا.

Namun apabila sulit untuk mengusirnya, atau pengusiran tersebut justru membahayakan seseorang, maka tidak mengapa membunuhnya. Terlebih lagi, sebagian ulama memang berpendapat bahwa hal itu dibolehkan secara mutlak.

Al-Qurthubi berkata dalam Al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim:

قَتْلُ الْكِلَابِ غَيْرِ الْمُسْتَثْنَيَاتِ مَأْمُورٌ بِهِ إِذَا أَضَرَّتْ بِالْمُسْلِمِينَ، فَإِنْ كَثُرَ ضَرَرُهَا وَغَلَبَ، كَانَ الْأَمْرُ عَلَى الْوُجُوبِ، "

Membunuh anjing-anjing yang tidak termasuk pengecualian diperintahkan apabila mereka membahayakan kaum Muslimin. Jika bahayanya besar dan meluas, maka membunuhnya menjadi wajib.

وَإِنْ قَلَّ وَنَدَرَ، فَأَيُّ كَلْبٍ أَضَرَّ وَجَبَ قَتْلُهُ،

Jika bahayanya kecil dan jarang terjadi, maka setiap anjing yang membahayakan wajib dibunuh.

وَمَا عَدَاهُ جَائِزٌ قَتْلُهُ؛ لِأَنَّهُ سَبُعٌ لَا مَنْفَعَةَ فِيهِ، وَأَقَلُّ دَرَجَاتِهِ تَوَقُّعُ التَّرْوِيعِ، وَأَنَّهُ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ مُقْتَنِيهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَيْنِ.

Adapun selain itu, membunuhnya dibolehkan karena ia merupakan binatang buas yang tidak memiliki manfaat. Paling ringan mudaratnya adalah menimbulkan rasa takut, dan memeliharanya mengurangi pahala pemiliknya dua qirath setiap hari.

فَأَمَّا الْمُرَوِّعُ مِنْهُنَّ غَيْرُ الْمُؤْذِي، فَقَتْلُهُ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ. وَأَمَّا الْكَلْبُ الْأَسْوَدُ ذُو النُّقْطَتَيْنِ، فَلَا بُدَّ مِنْ قَتْلِهِ لِلْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ. اهـ.

Adapun anjing yang hanya menakut-nakuti tetapi tidak membahayakan, maka membunuhnya dianjurkan. Sedangkan anjing hitam yang memiliki dua tanda (di atas matanya), maka harus dibunuh berdasarkan hadis yang telah disebutkan sebelumnya."

Jadi, hukum membunuh anjing dalam Islam tidak bersifat mutlak. Selama anjing tersebut dapat diusir tanpa menimbulkan bahaya, maka tidak dianjurkan untuk membunuhnya. Namun apabila ia benar-benar mengganggu (يضر), membahayakan penghuni rumah, atau tidak mungkin disingkirkan kecuali dengan cara dibunuh, maka syariat memberikan keringanan dalam kondisi tersebut. Semoga penjelasan fatwa ini membantu kita memahami hukum Allah dengan adil, mengikuti dalil, dan tidak melampaui batas dalam memperlakukan makhluk-Nya.

Karangasem, 15 Juli 2026

Irfan Nugroho (Bukan siapa-siapa)

Post a Comment for "Hukum Membunuh Anjing dalam Islam: Kapan Boleh Dibunuh dan Kapan Tidak?"