zmedia

AL KABAIR 1: SYIRIK

Pembaca rahimakumullah, berikut adalah terjemahan Al Kabair 1: Syirik, dari kitab Al Kabair lidz Dzahabi. Semoga bermanfaat!

الْكَبِيرَةُ الْأُولَى: الشِّرْكُ بِاللَّهِ

 

DOSA BESAR PERTAMA: SYIRIK KEPADA ALLAH

 

فَأَكْبَرُ الْكَبَائِرِ الشِّرْكُ بِاللَّهِ تَعَالَى، وَهُوَ نَوْعَانِ: أَحَدُهُمَا أَنْ يَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَيَعْبُدَ غَيْرَهُ مِنْ حَجَرٍ أَوْ شَجَرٍ أَوْ شَمْسٍ أَوْ قَمَرٍ أَوْ نَبِيٍّ أَوْ شَيْخٍ أَوْ نَجْمٍ أَوْ مَلَكٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ، وَهَذَا هُوَ الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Maka dosa besar yang paling besar adalah menysekutukan Allah Ta'ālā (syirik), dan syirik itu terbagi menjadi dua jenis. Pertama: Menjadikan tandingan bagi Allah dan menyembah selain-Nya, baik berupa batu, pohon, matahari, bulan, nabi, syekh, bintang, malaikat, maupun yang lainnya. Ini adalah syirik besar (asy-syirk al-akbar) yang disebutkan oleh Allah 'Azza wa Jalla.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾

Allah Ta'ālā berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." [QS. An-Nisa': 48].

وَقَالَ تَعَالَى ﴿إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ﴾

Allah Ta'ālā juga berfirman: "Sesungguhnya menysekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." [QS. Luqman: 13].

وَقَالَ تَعَالَى ﴿إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ﴾

Dan Allah Ta'ālā berfirman: "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka." [QS. Al-Ma'idah: 72].

وَالْآيَاتُ فِي ذَلِكَ كَثِيرَةٌ. فَمَنْ أَشْرَكَ بِاللَّهِ ثُمَّ مَاتَ مُشْرِكًا فَهُوَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ قَطْعًا، كَمَا أَنَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَاتَ مُؤْمِنًا فَهُوَ مِنْ أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَإِنْ عُذِّبَ بِالنَّارِ

Ayat-ayat mengenai hal ini sangatlah banyak. Maka barangsiapa yang mempersekutukan Allah kemudian mati dalam keadaan musyrik, niscaya ia termasuk penghuni neraka secara pasti; sebagaimana barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mati dalam keadaan beriman, niscaya ia termasuk penghuni surga meskipun sempat diazab di neraka.

وَفِي الصَّحِيحِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ

Dalam kitab Shahih disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: "Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar?" (beliau mengulangnya tiga kali). Para sahabat menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." Beliau yang semula bersandar kemudian duduk seraya bersabda:

أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ أَلَا وَشَهَادَةُ الزُّورِ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ

"Ketahuilah, juga perkataan dustا, ketahuilah, dan kesaksian palsu!" Beliau terus-menerus mengulangnya hingga kami berkata (dalam hati): "Andai saja beliau berhenti."

وَقَالَ ﷺ: «جْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ فَذَكَرَ مِنْهَا الشِّرْكَ بِاللَّهِ وَقَالَ ﷺ: مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

Beliau juga bersabda: "Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan," lalu beliau menyebutkan di antaranya adalah syirik kepada Allah. Dan beliau bersabda: "Barangsiapa mengganti din (agama)-nya, maka bunuhlah dia." (Al-Hadits).

وَالنَّوْعُ الثَّانِي مِنَ الشِّرْكِ: الرِّيَاءُ بِالْأَعْمَالِ

Dan jenis syirik yang kedua adalah riya' (pamer) dalam beramal.

كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾

Sebagaimana firman Allah Ta'ālā: "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya." [QS. Al-Kahf: 110]

 

أَيْ: لَا يُرَائِي بِعَمَلِهِ أَحَدًا

yaitu: janganlah ia berbuat riya' dengan amalnya kepada siapa pun.

وَقَالَ ﷺ: «إِيَّاكُمْ وَالشِّرْكَ الْأَصْغَرَ»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى يَوْمَ يُجَازِي الْعِبَادَ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَهُمْ بِأَعْمَالِكُمْ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

Dan Rasulullah bersabda: "Hati-hatilah kalian terhadap syirik kecil (asy-syirk al-asghar)." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?" Beliau bersabda: "Riya'. Allah Ta'ālā berfirman pada hari ketika Dia membalas hamba-hamba-Nya atas amal-amal mereka: 'Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian pameri dengan amal-amal kalian di dunia, lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?'"

 

وَقَالَ ﷺ يَقُولُ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ مَعِيَ فِيهِ غَيْرِي فَهُوَ لِلَّذِي أَشْرَكَ وَأَنَا مِنْهُ بَرِيءٌ

Dan beliau bersabda: "Allah berfirman: 'Barangsiapa melakukan suatu amal yang di dalamnya ia mempersekutukan selain-Ku dengan-Ku, maka amal itu bagi yang dipersekutukan tersebut dan Aku lepas lepas darinya.'"

وَقَالَ مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ رَاءَى رَاءَى اللَّهُ بِهِ

Beliau juga bersabda: "Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya (sum'ah), niscaya Allah akan memperdengarkan (aibnya); dan barangsiapa yang memamerkan amalnya (riya'), niscaya Allah akan mempertontonkan (kesalahannya)."

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صَوْمِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu bahwasanya Nabi bersabda: "Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya melainkan rasa lapar dan dahaga; dan betapa banyak orang yang shalat malam tidak mendapatkan apa-apa dari shalat malamnya melainkan rasa kantuk (begadang)."

 

يَعْنِي أَنَّهُ إِذَا لَمْ يَكُنِ الصَّلَاةُ وَالصَّوْمُ لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى فَلَا ثَوَابَ لَهُ

Maksudnya, apabila shalat dan puasa tersebut tidak ditujukan demi Wajah Allah Ta'ālā, maka tidak ada pahala baginya.

كَمَا رُوِيَ عَنْهُ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «مَثَلُ الَّذِي يَعْمَلُ لِلرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ كَمَثَلِ الَّذِي يَمْلَأُ كِيسَهُ حَصًى ثُمَّ يَدْخُلُ السُّوقَ لِيَشْتَرِيَ بِهِ

Sebagaimana diriwayatkan dari beliau bahwasanya beliau bersabda: "Perumpamaan orang yang beramal karena riya' dan sum'ah bagaikan orang yang memenuhi kantongnya dengan batu kerikil, lalu ia masuk ke pasar untuk membeli sesuatu dengannya.

فَإِذَا فَتَحَهُ قُدَّامَ الْبَائِعِ فَإِذَا هُوَ حَصًى وَضُرِبَ بِهِ وَجْهُهُ، وَلَا مَنْفَعَةَ لَهُ فِي كِيسِهِ سِوَى مَقَالَةِ النَّاسِ لَهُ: مَا أَمْلَأَ كِيسَهُ! وَلَا يُعْطَى بِهِ شَيْئًا

Namun ketika ia membukanya di depan penjual, ternyata isinya hanyalah kerikil lalu dilemparkan ke wajahnya; ia tidak mendapatkan manfaat dari kantongnya melainkan ucapan orang-orang: 'Betapa penuh kantongnya!', sementara ia tidak diberi apa pun dengannya.

فَكَذَلِك الَّذِي يَعْمَلُ لِلرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ فَلَيْسَ لَهُ مِنْ عَمَلِهِ سِوَى مَقَالَةِ النَّاسِ وَلَا ثَوَابَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ

Begitu pula orang yang beramal karena riya' dan sum'ah, ia tidak mendapatkan apa-apa dari amalnya selain ucapan/pujian orang-orang, dan tidak ada pahala baginya di akhirat."

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا﴾

Allah Ta'ālā berfirman: "Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan." [QS. Al-Furqan: 23]

يَعْنِي الْأَعْمَالَ الَّتِي عَمِلُوهَا لِغَيْرِ وَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى أَبْطَلْنَا ثَوَابَهَا وَجَعَلْنَاهَا كَالْهَبَاءِ الْمَنْثُورِ وَهُوَ الْغُبَارُ الَّذِي يُرَى فِي شُعَاعِ الشَّمْسِ.

maksudnya: amal-amal yang mereka kerjakan bukan karena Wajah Allah Ta'ālā, Kami batalkan pahalanya dan Kami jadikan bagaikan debu yang beterbangan, yaitu debu halus yang terlihat pada sinar matahari.

وَرَوَى عَدِيُّ ابْنُ حَاتِمٍ الطَّائِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ

Diriwayatkan oleh 'Adi bin Hatim Ath-Tha'i radhiyallāhu 'anhu dari Rasulullah , beliau bersabda:

يُؤْمَرُ بِفِئَامٍ - أَيْ جَمَاعَاتٍ مِنَ النَّاسِ - يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ، حَتَّى إِذَا دَنَوْا مِنْهَا وَاسْتَنْشَقُوا رَائِحَتَهَا وَنَظَرُوا إِلَى قُصُورِهَا وَإِلَى مَا أَعَدَّ اللَّهُ لِأَهْلِهَا فِيهَا

"Diperintahkan kepada rombongan-rombongan manusia pada hari kiamat menuju surga, hingga ketika mereka telah dekat dengannya, mencium baunya, serta melihat istana-istananya dan apa yang Allah sediakan bagi penghuninya di sana

نُودُوا أَنْ اصْرِفُوهُمْ عَنْهَا فَإِنَّهُمْ لَا نَصِيبَ لَهُمْ فِيهَا، فَيَرْجِعُونَ بِحَسْرَةٍ وَنَدَامَةٍ مَا رَجَعَ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ بِمِثْلِهَا

Tiba-tiba dipanggilkan perintah: 'Palingkanlah mereka darinya, karena sesungguhnya tidak ada bagian bagi mereka di dalamnya!' Maka mereka pun kembali dengan rasa penyesalan dan kerugian yang belum pernah dirasakan oleh orang-orang terdahulu maupun belakangan.

فَيَقُولُونَ: رَبَّنَا، لَوْ أَدْخَلْتَنَا النَّارَ قَبْلَ أَنْ تُرِيَنَا مَا أَرَيْتَنَا مِنْ ثَوَابِ مَا أَعْدَدْتَ لِأَوْلِيَائِكَ كَانَ أَهْوَنَ عَلَيْنَا

Mereka berkata: 'Wahai Tuhan kami, sekiranya Engkau memasukkan kami ke neraka sebelum memperlihatkan kepada kami pahala yang Engkau sediakan bagi kekasih-kekasih-Mu, niscaya itu terasa lebih ringan bagi kami!'

فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: ذَلِكَ مَا أَرَدْتُ بِكُمْ؛ كُنْتُمْ إِذَا خَلَوْتُمْ بَارَزْتُمُونِي بِالْعَظَائِمِ، وَإِذَا لَقِيتُمُ النَّاسَ لَقِيتُمُوهُمْ مُخْبِتِينَ

Maka Allah Ta'ālā berfirman: 'Demikianlah yang Aku kehendaki terhadap kalian. Dahulu apabila kalian berkintim (sendirian), kalian terang-terangan menantang-Ku dengan dosa-dosa besar, tetapi apabila bertemu manusia, kalian menemui mereka dengan tunduk khusyuk.

تُرَاءُونَ النَّاسَ بِأَعْمَالِكُمْ خِلَافَ مَا تُعْطُونِي مِنْ قُلُوبِكُمْ، هِبْتُمُ النَّاسَ وَلَمْ تَهَابُونِي، وَأَجْلَلْتُمُ النَّاسَ وَلَمْ تُجِلُّونِي، وَتَرَكْتُمْ لِلنَّاسِ وَلَمْ تَتْرُكُوا لِي - يَعْنِي لِأَجْلِ النَّاسِ

Kalian memamerkan amal-amal kalian kepada manusia, menyelisihi apa yang kalian berikan kepada-Ku dari hati kalian. Kalian takut kepada manusia tetapi tidak takut kepada-Ku, kalian mengagungkan manusia tetapi tidak mengagungkan-Ku, dan kalian meninggalkan (dosa) demi manusia tetapi tidak meninggalkannya demi Aku (yakni karena manusia).

فَالْيَوْمَ أُذِيقُكُمْ أَلِيمَ عِقَابِي مَعَ مَا حَرَمْتُكُمْ مِنْ جَزِيلِ ثَوَابِي

Maka pada hari ini Aku rasakan kepada kalian pedihnya azab-Ku, beserta apa yang Aku haramkan atas kalian dari besarnya pahala-Ku.'"

 

وَسَأَلَ رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ: مَا النَّجَاةُ؟ فَقَالَ ﷺ: «أَنْ لَا تُخَادِعَ اللَّهَ»، قَالَ: وَكَيْفَ يُخَادَعُ اللَّهُ؟ قَالَ: أَنْ تَعْمَلَ عَمَلًا أَمَرَكَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ بِهِ وَتُرِيدُ بِهِ غَيْرَ وَجْهِ اللَّهِ

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah: "Apakah keselamatan itu?" Beliau bersabda: "Engkau tidak menipu Allah." Orang itu bertanya: "Bagaimana Allah ditipu?" Beliau bersabda: "Engkau melakukan suatu amal yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, namun engkau menginginkan selain Wajah Allah dengannya.

وَاتَّقِ الرِّيَاءَ فَإِنَّهُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ، وَإِنَّ الْمُرَائِيَ يُنَادَى عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ بِأَرْبَعَةِ أَسْمَاءٍ

Dan jauhilah riya', karena riya' adalah syirik kecil. Sesungguhnya orang yang riya' akan dipanggil pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk dengan empat julukan:

يَا مُرَائِي، يَا غَادِرُ، يَا فَاجِرُ، يَا خَاسِرُ

'Wahai orang yang riya'! Wahai pengkhianat! Wahai orang durjana! Wahai orang yang rugi!

ضَلَّ عَمَلُكَ وَبَطَلَ أَجْرُكَ، فَلَا أَجْرَ لَكَ عِنْدَنَا، اذْهَبْ فَخُذْ أَجْرَكَ مِمَّنْ كُنْتَ تَعْمَلُ لَهُ يَا مُخَادِعُ

Telah kesasar amalmu dan telah gugur pahalamu, maka tidak ada pahala bagimu di sisi Kami. Pergilah dan ambillah pahalamu dari orang yang dahulu engkau beramal karenanya, wahai penipu!'

 

وَسُئِلَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ رَحِمَهُمُ اللَّهُ: مَنِ الْمُخْلِصُ؟ فَقَالَ: الْمُخْلِصُ الَّذِي يَكْتُمُ حَسَنَاتِهِ كَمَا يَكْتُمُ سَيِّئَاتِهِ

Sebagian hukama (orang-orang bijak) rahimahumullāh ditanya: "Siapakah orang yang ikhlas itu?" Ia menjawab: "Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan keburukan-keburukannya."

وَقِيلَ لِبَعْضِهِمْ: مَا غَايَةُ الْإِخْلَاصِ؟ قَالَ: أَنْ لَا تُحِبَّ مَحْمَدَةَ النَّاسِ

Ditanyakan pula kepada sebagian yang lain: "Apakah puncak dari keikhlasan?" Ia menjawab: "Engkau tidak menyukai pujian manusia."

وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالْإِخْلَاصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا». اللَّهُمَّ عَافِنَا مِنْهُمَا وَاعْفُ عَنَّا.

 

Dan Al-Fudhail bin 'Iyadh radhiyallāhu 'anhu berkata: "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', sedangkan beramal karena manusia adalah syirik; adapun ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya." Ya Allah, selamatkanlah kami dari keduanya dan maafkanlah kami.

Demikian terjemahan dari Al Kabair 1: Syirik, dari kita Al Kabair lidz Dzahabi. Semoga bermanfaat!

Sukoharjo, 27 Agustus 2026

Irfan Nugroho (Semoga Allah mengampuni dosanya, menerima amal ibadahnya, dan mengabulkan doanya. Aamiin)

 

Post a Comment for "AL KABAIR 1: SYIRIK"