Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam. Sholawat dan salam kepada nabi Muhammad ﷺ , keluarganya, dan para sahabatnya.
فَصَلَاةُ غَيْرِ الْمَخْتُونِ صَحِيحَةٌ إِذَا أَزَالَ النَّجَاسَةَ الَّتِي تَعَلَّقَ بِمَوْضِعِ الْخِتَانِ
Jadi, salatnya orang yang tidak dikhitan itu sah jika dia menghilangkan najis yang menempel pada ujung khitan.
أَمَّا إِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ إِزَالَتَهَا، فَصَلَاتُهُ غَيْرُ صَحِيحَةٍ مَا دَامَ قَادِرًا عَلَى الِاخْتِتَانِ
Jika dia tidak mampu membersihkan najis tersebut, maka salatnya tidak sah, padahal dia mampu untuk sunat.
إِلَّا إِذَا كَانَ عَاجِزًا عَنْهُ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ
Kecuali jika dia tidak mampu untuk sunat, maka salatnya sah.
لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Karena Allah ta'ala tidak membebani seseorang di luar batas kemampuan orang tersebut.
وَقَدْ سُئِلَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى "عَنْ مُسْلِمٍ بَالِغٍ عَاقِلٍ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَهُوَ غَيْرُ مَخْتُونٍ وَلَيْسَ مُطَهِّرًا هَلْ يَجُوزُ ذَلِكَ؟ وَمَنْ تَرَكَ الْخِتَانَ كَيْفَ حُكْمُهُ؟
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ta'ala pernah ditanya tentang seorang muslim yang sudah baligh dan berakal, dia juga berpuasa dan salat tetapi dia tidak disunat dan tidak membersihkan kemaluannya dari najis apakah hal itu boleh? Bagaimana hukum orang yang meninggalkan khitan?
Di dalam jawabannya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ta'ala berkata:
إِذَا لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ ضَرَرُ الْخِتَانِ، فَعَلَيْهِ أَنْ يَخْتَتِنَ
Apabila khitan tidak membahayakan diri orang tersebut, maka hendaknya dia berkhitan.
فَإِنَّ ذَلِكَ مَشْرُوعٌ مُؤَكِّدٌ لِلْمُسْلِمِينَ بِاتِّفَاقِ الْأَئِمَّةِ، وَهُوَ وَاجِبٌ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ فِي الْمَشْهُورِ عَنْهُ
Karena khitan itu disyariatkan dan ditekankan bagi orang-orang Islam berdasarkan kesepakatan para imam. Bahkan khitan hukumnya wajib menurut Imam Asy-Syafi'i juga pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad.
وَقَدِ اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ الْخَلِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بَعْدَ الثَّمَانِينَ مِنْ عُمْرِهِ
Bahkan Nabi Ibrahim Al Khalil alaihissalam khitan setelah usianya mencapai 80 tahun.
وَيَرْجعُ فِي الضَّرَرِ إِلَى الْأَطِبَّاءِ الثِّقَاتِ، وَإِذَا كَانَ يَضُرُّهُ فِي الصَّيْفِ أَخَّرَهُ إِلَى زَمَانِ الْخَرِيفِ
Hendaknya dia merujuk kepada dokter yang dipercaya tentang potensi bahaya khitan. Apabila khitan ternyata berbahaya jika dilakukan di musim panas, hendaknya dia mengakhirkan khitan hingga musim gugur.
Wallahu'alam bish shawwab
Fatwa No: 40987 Tanggal: 15 Syawal 1424 (9 Desember 2003). Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf Pengajar di PPTQ At-Taqwa Nguter Sukoharjo)
Post a Comment for "Salatnya Orang yang tidak Sunat tidak Sah?"