zmedia

8 AMAL YANG PAHALANYA SETARA JIHAD FI SABILILLAH

Pembaca rahimakumullah, berikut adalah amal yang pahalanya setara dengan jihad fi sabilillah. Semoga bermanfaat!

فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْنَا الْجِهَادَ وَجَعَلَهُ ذِرْوَةَ سَنَامِ الْإِسْلَامِ لِإِعْلَاءِ كَلِمَةِ اللَّهِ وَحِمَايَةِ الْأُمَّةِ، وَوَعَدَ الْمُجَاهِدِينَ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا، وَشَرَعَ أَعْمَالًا مُتَنَوِّعَةً وَيَسِيرَةً تَعْدِلُ ثَوَابَ الْجِهَادِ وَتُمَكِّنُ غَيْرَ الْقَادِرِينَ عَلَيْهِ مِنْ بُلُوغِ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ. فَدَرَجَةُ الْجِهَادِ تُدْرَكُ بِالْقِتَالِ كَمَا تُدْرَكُ بِالنِّيَّةِ الصَّادِقَةِ أَوْ بِمَا يُوَازِيهِ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ

Allah mewajibkan jihad atas kita dan menjadikannya sebagai puncak tertinggi Islam untuk meninggikan kalimat Allah serta melindungi umat. Allah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar bagi para mujahid, serta mensyariatkan berbagai amalan yang mudah dan beragam yang senilai dengan pahala jihad, sehingga memungkinkan orang-orang yang tidak mampu berperang untuk mencapai derajat-derajat tertinggi. Sebab, derajat jihad dapat diraih dengan berperang sebagaimana dapat diraih pula dengan niat yang jujur atau dengan amalan-amalan saleh yang setara dengannya.

الْحَضُّ عَلَى الْجِهَادِ وَبَيَانُ فَضْلِهِ

Anjuran untuk berjihad dan penjelasan keutamaannya

Allah Ta'ālā berfirman:

﴿وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ﴾

Dan berjihadlah kalian di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, (QS. Al-Hajj: 78).

IMAM MUSLIM MERIWAYATKAN dari Abu Dzarr Al-Ghifari Radhiyallahu Anhu yang berkata:

سَأَلْتُ النَّبِيَّ ﷺ: أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: إِيمَانٌ بِاللَّهِ، وَجِهَادٌ فِي سَبِيلِهِ

Aku bertanya kepada Nabi , "Amalan apakah yang paling utama?" Beliau bersabda: "Beriman kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya," (Sahih Muslim: 84).

Tertulis di dalam Al Mausuatu Ahadisin Nabawiyah tentang makna jihad di dalam hadis ini:

قِتَالُ الْكُفَّارِ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى

Memerangi orang-orang kafir dengan mengharap wajah Allah ta’ala.

PELAJARAN:

الأَعْمَالُ تَتَفَاوَتُ فِي الدَّرَجَاتِ، فَأَفْضَلُهَا عَلَى الْإِطْلَاقِ الْإِيمَانُ بِاللَّهِ تَعَالَى، وَلَا تَصِحُّ الْأَعْمَالُ بِدُونِهِ.

1 – Amal-amal kebajikan itu bertingkat-tingkat keutamaannya, dan amalan yang paling utama secara mutlak adalah beriman kepada Allah Ta'ālā; sebab amalan apa pun tidak akan sah tanpa adanya iman.

بَيَانُ فَضْلِ الْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَعِظَمُ مَنْزِلَتِهِ.

2 – Penjelasan tentang keutamaan berjihad di jalan Allah 'Azza wa Jalla serta betapa agungnya kedudukannya.

IMAM BUKHARI MERIWAYATKAN dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

لَغَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Sungguh, bepergian di pagi hari atau di sore hari di jalan Allah itu lebih baik daripada dunia dan seisinya, (Sahih Bukhari: 2792).

PENJELASAN

Sabda Nabi («لَغَدْوَةٌ أَوْ رَوْحَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ) maksudnya:

وَالْغَدْوَةُ هِيَ السَّيْرُ أَوَّلَ النَّهَارِ إِلَى الزَّوَالِ، وَالرَّوْحَةُ السَّيْرُ مِنَ الزَّوَالِ إِلَى آخِرِ النَّهَارِ

Al-Ghadwah adalah perjalanan di awal siang hingga waktu tergelincirnya matahari (dzuhur), sedangkan ar-Rauhah adalah perjalanan dari tergelincirnya matahari hingga akhir siang (petang).

Sabda Nabi (خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا) maksudnya:

الْمَشْيَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فِي الْغَزْوِ فِي وَقْتِ الصَّبَاحِ أَوْ وَقْتِ الْمَسَاءِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا، وَثَوَابُ هَذَا الزَّمَنِ الْقَلِيلِ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ زَمَنِ الدُّنْيَا كُلِّهَا

Perjalanan di jalan Allah saat berperang pada waktu pagi atau sore hari adalah lebih baik daripada dunia seisinya, dan pahala dari waktu yang singkat ini di surga lebih baik daripada seluruh rentang waktu dunia.

IMAM BUKHARI MERIWAYATKAN dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

Sesungguhnya di surga ada seratus derajat yang Allah sediakan bagi para mujahid di jalan Allah, jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi, (Sahih Bukhari: 2790).

PENJELASAN:

لِيُرَغِّبَ أُمَّتَهُ فِي مُجَاهَدَةِ الْمُشْرِكِينَ وَإِعْلَاءِ كَلِمَةِ الْإِسْلَامِ

Agar beliau dapat menumbuhkan rasa cinta (mendorong) umatnya untuk berjihad melawan orang-orang musyrik dan meninggikan kalimat Islam.

بَعْضُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تَعْدِلُ ثَوَابَ الْجِهَادِ

SEBAGIAN AMALAN YANG SENILAI DENGAN PAHALA JIHAD

Ada beberapa amal yang pahalanya setara dengan jihad, di antaranya:

النِّيَّةُ الصَّادِقَةُ

NIAT YANG JUJUR

IMAM ABU DAWUD MERIWAYATKAN dari Sahal bin Hunaif Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ صَادِقًا بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

Barangsiapa memohon mati syahid kepada Allah dengan jujur (tulus), niscaya Allah akan menyampaikannya ke kedudukan para syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya, (Sunan Abu Dawud: 1520).

PELAJARAN:

صِدْقُ النِّيَّةِ مَعَ فِعْلِ الْمُسْتَطَاعِ سَبَبٌ لِبُلُوغِ الْمَقْصُودِ مِنَ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ، وَإِنْ لَمْ يُبَاشِرِ الْعَمَلَ الْمَطْلُوبَ

1 – Kejujuran niat yang disertai dengan pelaksanaan amalan semampunya merupakan sebab untuk meraih pahala dan ganjaran yang dituju, meskipun seseorang tidak (sempat) melakukan amalan yang dituntut tersebut secara langsung.

التَّرْغِيبُ فِي الْجِهَادِ وَطَلَبِ الشَّهَادَةِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

2 – Anjuran/dorongan untuk berjihad dan memohon mati syahid di jalan Allah 'Azza wa Jalla.

إِكْرَامُ اللَّهِ تَعَالَى لِهَذِهِ الْأُمَّةِ، فَهُوَ يُعْطِيهَا بِقَلِيلٍ مِنَ الْعَمَلِ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ فِي الْجَنَّةِ

3 – Bentuk kemuliaan dari Allah Ta'ālā bagi umat ini, di mana Dia menganugerahkan derajat-derajat tertinggi di surga hanya dengan amalan yang sedikit.

الْحَثُّ عَلَى عَمَلِ الْخَيْرِ عُمُومًا وَأَنْ يَنْوِيَهُ، وَعَلَى سُؤَالِ الشَّهَادَةِ خُصُوصًا

4 – Anjuran untuk melakukan kebaikan secara umum serta meniatkannya, dan anjuran untuk memohon mati syahid secara khusus.

مَنْ نَوَى خَيْرًا وَحَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ فِعْلِهِ حَائِلٌ، فَإِنَّهُ يُكْتَبُ لَهُ أَجْرُهُ

5 – Barangsiapa berniat melakukan kebaikan lalu ada penghalang yang merintangi antara dirinya dan amalan tersebut, maka pahalanya tetap dicatat baginya.

طَلَبُ الْعِلْمِ وَتَعْلِيمُهُ

MENUNTUT ILMU DAN MENGAJARKANNYA

Amal yang pahalanya setara jihad fi sabilillah adalah menuntut ilmu dan mengajarkannya.

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلَّا لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ

Barangsiapa mendatangi masjidku ini, yang tidaklah ia mendatangi melainkan untuk kebaikan yang ingin ia pelajari atau ia ajarkan, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Dan barangsiapa yang datang untuk tujuan selain itu, maka kedudukannya seperti orang yang melihat barang dagangan orang lain, (Sunan Ibn Majah: 227).

PENJELASAN:

Sisi keserupaannya antara menuntut ilmu dan berjihad di jalan Allah adalah karena

كُلًّا مِنْهُمَا يُرِيدُ إِعْلَاءَ كَلِمَةِ اللَّهِ الْعُلْيَا

1 – Keduanya sama-sama bertujuan untuk meninggikan kalimat Allah yang mahatinggi.

كُلًّا مِنَ الْعِلْمِ وَالْجِهَادِ قَدْ يَكُونُ فَرْضَ عَيْنٍ، وَقَدْ يَكُونُ فَرْضَ كِفَايَةٍ

2 – Ilmu dan jihad terkadang hukumnya menjadi fardu 'ain (kewajiban individu) dan terkadang fardu kifayah (kewajiban kolektif).

أَوْ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا عِبَادَةٌ نَفْعُهَا مُتَعَدٍّ إِلَى عُمُومِ الْمُسْلِمِينَ

3 – Keduanya merupakan ibadah yang kemanfaatannya meluas (nafi' muta'addi) bagi kaum muslimin secara umum.

وَأَنَّهُ إِحْيَاءٌ لِلدِّينِ وَإِذْلَالٌ لِلشَّيْطَانِ، وَإِتْعَابٌ لِلنَّفْسِ وَإِبْعَادٌ لَهَا عَنِ الشَّهَوَاتِ

4 – Di dalamnya terdapat upaya menghidupkan agama, menghinakan setan, menyiksa (melatih kesungguhan) jiwa, dan menjukankannya dari hawa nafsu syahwat.

مُجَاهَدَةُ النَّفْسِ فِي طَاعَةِ اللَّهِ

MUJAHADATUN NAFSI UNTUK TAAT KEPADA ALLAH

Kemudian, amal yang pahalanya setara jihad fi sabilillah adalah bersungguh-sungguh untuk menaati Allah ta’ala.

IMAM AHMAD MERIWAYATKAN dari Fadholah bin Ubaid Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ لِلَّهِ أَوْ قَالَ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Seorang mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya sendiri dalam karena Allah (atau beliau bersabda dalam ketaatan kepada Allah azza wa jalla), (Musnad Ahmad: 23951).

PENJELASAN:

الْمُجَاهِدُ مَنْ حَارَبَ نَفْسَهُ وَحَمَلَهَا عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى؛ لِأَنَّ نَفْسَ الرَّجُلِ أَشَدُّ عَدَاوَةً مَعَهُ مِنَ الْكُفَّارِ؛ لِأَنَّ الْكُفَّارَ بَعِيدُونَ مِنْهُ، وَأَمَّا نَفْسُهُ فَتُلَازِمُهُ، وَتَمْنَعُهُ مِنَ الْخَيْرِ وَالطَّاعَةِ

Seorang mujahid adalah orang yang memerangi dirinya sendiri dan memaksanya untuk taat kepada Allah Ta'ālā. Hal itu karena diri (hawa nafsu) seseorang adalah musuh yang paling keras baginya dibandingkan orang-orang kafir; sebab orang-orang kafir berada jauh darinya, sedangkan dirinya selalu menyertainya serta senantiasa menghalanginya dari kebaikan dan ketaatan.

الْحَثُّ عَلَى جِهَادِ النَّفْسِ وَتَدْرِيبِهَا لِتُوَافِقَ مُرَادَ اللَّهِ تَعَالَى

Anjuran untuk berjihad melawan diri (hawa nafsu) serta melatihnya agar sejalan dengan apa yang diridhai Allah Ta'ālā.

الْمُحَافَظَةُ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ

MENJAGA SHALAT LIMA WAKTU

Amal lain yang pahalanya setara jihad adalah menjaga salat lima waktu.

IMAM MUSLIM MERIWAYATKAN dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang amalan yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat-derajat? Para sahabat menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid-masjid, dan menunggu shalat setelah shalat; maka itulah ribath (menjaga perbatasan/jihad)," (Sahih Muslim: 251).

PENJELASAN:

Apa yang dimaksud menunggu salat setelah salat? Tertulis di dalam Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah:

بِالْبَقَاءِ فِي الْمَسْجِدِ وَانْتِظَارِ الْفَرَائِضِ بِهَا، لَا يَقْطَعُهُ مِنْهَا إِلَّا الْحَاجَةُ

Dengan berdiam di masjid dan menunggu shalat-shalat fardu di dalamnya, tanpa diputus (ditinggalkan) kecuali karena adanya kebutuhan yang mendesak.

Apa makna ribat? Ribat adalah:

لُزُومُ ثَغْرِ الْجِهَادِ تَقْوِيَةً لِلْمُسْلِمِينَ وَلَوْ سَاعَةً

Menjaga garis depan perbatasan (ribath) untuk memperkuat posisi kaum muslimin meskipun hanya sesaat.

Imam Muslim meriwayatkan dari Salman al-Farisi Radhiyallahu anhu yang mendengar Rasulullah bersabda:

 رِبَـاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ

 

Ribath sehari semalam lebih baik daripada puasa selama sebulan beserta salatnya. Jika dia mati, maka pahala amal yang telah ia lakukan akan tetap mengalir, rizkinya pun akan tetap berlangsung dan akan dijaga dari fitnah kubur, (Sahih Muslim: 1913).

الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ لِلنِّسَاءِ وَالضُّعَفَاءِ

HAJI & UMRAH BAGI WANITA & ORANG-ORANG YANG LEMAH

Imam An Nasai meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

جِهَادُ الْكَبِيرِ وَالصَّغِيرِ وَالضَّعِيفِ وَالْمَرْأَةِ: الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ

Jihad orang tua, anak kecil, orang yang lemah, dan wanita adalah haji dan umrah, (Sunan An Nasai: 2626).

PENJELASAN:

Apa maksudnya? Tertulis di dalam Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah:

إِنَّهُمْ يُؤْجَرُونَ بِأَدَائِهِمْ لِلْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ بِمِثْلِ مَا يُؤْجَرُ بِهِ مَنْ يَخْرُجُ لِلْغَزْوِ وَالْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Sungguh, mereka diberi pahala atas pelaksanaan haji dan umrah yang mereka lakukan setara dengan pahala orang yang keluar untuk berperang dan berjihad di jalan Allah 'Azza wa Jalla.

وَقِيلَ: الْمُرَادُ أَنَّ الْجِهَادَ الْمَفْرُوضَ عَلَيْهِمْ هُوَ أَدَاءُ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ بِمِثْلِ الْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْمَفْرُوضِ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ قَادِرٍ.

Dikatakan pula: Maksudnya adalah bahwa jihad yang diwajibkan atas mereka (orang tua, anak kecil, orang lemah, dan wanita) yaitu menunaikan haji dan umrah, sebagaimana jihad di jalan Allah 'Azza wa Jalla diwajibkan atas setiap mukmin yang mampu.

IMAM BUKHARI MERIWAYATKAN dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata

عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ، أَفَلَا نُجَاهِدُ؟ قَالَ: لَا، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ

Wahai Rasulullah, kami melihat bahwa jihad adalah amalan yang paling utama, lalu apakah kami tidak boleh ikut berjihad? Beliau bersabda: "Tidak, akan tetapi jihad yang paling utama (bagi kalian) adalah haji yang mabrur,” (Sahih Bukhari: 1520).

PENJELASAN:

لَا تُقَاتِلْنَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ؛ لِأَنَّ الْجِهَادَ لَمْ يُشْرَعْ لَكُنَّ، وَلَيْسَ هُوَ أَفْضَلَ الْأَعْمَالِ بِالنِّسْبَةِ لِلْمَرْأَةِ.

Janganlah kalian berperang wahai kaum wanita; sebab jihad (fisik/perang) tidak disyariatkan bagi kalian, dan hal itu bukanlah amalan yang paling utama bagi wanita.

أَمَّا إِذَا أَرَدْتُنَّ أَنْ تَعْرِفْنَ أَفْضَلَ الْأَعْمَالِ وَأَشْرَفَ الْجِهَادِ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْكُنَّ؛ فَإِنَّهُ الْحَجُّ الْمَبْرُورُ.

Adapun jika kalian ingin mengetahui amalan yang paling utama dan jihad yang paling mulia bagi kalian, maka itu adalah haji yang mabrur.

Apa yang dimaksud Haji Mabrur?

الْمَقْبُولُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى الْمُسْتَوْفِي لِأَحْكَامِهِ، الْخَالِي مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ وَالْإِثْمِ وَالْمَالِ الْحَرَامِ.

Haji yang diterima di sisi Allah Ta'ālā, yang memenuhi segenap rukun dan syaratnya, serta bersih dari riya', sum'ah (ingin didengar/dipuji), dosa, dan harta yang haram.

Mengapa haji mabrur disamakan dengan jihad?

وَسُمِّيَ الْحَجُّ جِهَادًا إِمَّا مِنْ بَابِ التَّغْلِيبِ، أَوْ عَلَى الْحَقِيقَةِ، وَالْمُرَادُ جِهَادُ النَّفْسِ؛ لِمَا فِيهِ مِنْ إِدْخَالِ الْمَشَقَّةِ عَلَى الْبَدَنِ وَالْمَالِ.

Dinamakan haji sebagai jihad bisa jadi sebagai bentuk penyebutan secara umum (taghlib), atau secara hakiki yang dimaksud adalah jihad an-nafs (perjuangan melawan nafsu); karena di dalamnya terdapat beban kepayahan baik bagi fisik maupun harta.

بِرٌّ بِالْوَالِدَيْنِ

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu Anhuma yang berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ يَسْتَأْذِنُهُ فِي الْجِهَادِ، فَقَالَ: أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

Seseorang datang kepada Nabi meminta izin untuk ikut berjihad, maka beliau bersabda: "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Ia menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Maka pada merekalah engkau berjihad (berbakti)," (Sahih Bukhari: 3004).

PENJELASAN:

Sabda Nabi (فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ) maksudnya:

 فَا بْذُلْ جَهْدَكَ فِي إِرْضَائِهِمَا وَبِرِّهِمَا، يُكْتَبْ لَكَ أَجْرُ الْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى

Curahkanlah segenap usahamu untuk meredhai dan berbakti kepada keduanya, niscaya dicatat bagimu pahala berjihad di jalan Allah Ta'ālā.

PELAJARAN:

فَضْلُ بِرِّ الْوَالِدَيْنِ، وَتَعْظِيمُ حَقِّهِمَا، وَكَثْرَةُ الثَّوَابِ عَلَى بِرِّهِمَا

1 – Keutamaan berbakti kepada kedua orang tua, mengagungkan hak mereka, serta besarnya pahala atas bakti kepada keduanya.

قَالَ ابْنُ حَجَرٍ: قَالَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ: يَحْرُمُ الْجِهَادُ إِذَا مَنَعَ الْأَبَوَانِ أَوْ أَحَدُهُمَا الِابْنَ مِنَ السَّفَرِ بِشَرْطِ أَنْ يَكُونَا مُسْلِمَيْنِ؛ لِأَنَّ بِرَّهُمَا فَرْضُ عَيْنٍ عَلَيْهِ وَالْجِهَادَ فَرْضُ كِفَايَةٍ، فَإِذَا تَعَيَّنَ الْجِهَادُ فَلَا إِذْنَ

2 – Ibnu Hajar berkata: Mayoritas ulama berpendapat bahwa haram hukumnya keluar berjihad apabila kedua orang tua atau salah satunya melarang anaknya untuk bepergian (berjihad), dengan syarat keduanya muslim. Hal itu karena berbakti kepada keduanya adalah fardu 'ain baginya, sedangkan jihad adalah fardu kifayah. Namun, jika jihad telah menjadi fardu 'ain (wajib individu), maka tidak diperlukan lagi izin orang tua.

الْجِهَادُ فَرْضُ كِفَايَةٍ، وَيَكُونُ فَرْضَ عَيْنٍ فِي ثَلَاثِ حَالَاتٍ: إِذَا حَضَرَ الْمُسْلِمُ الْجِهَادَ، وَإِذَا حَضَرَ الْعَدُوُّ وَحَاصَرَ الْبَلَدَ، وَإِذَا اسْتَنْفَرَ الْإِمَامُ الرَّعِيَّةَ وَجَبَ عَلَيْهَا أَنْ تَنْفِرَ.

3 – Jihad pada dasarnya adalah fardu kifayah, dan berubah menjadi fardu 'ain dalam tiga kondisi: apabila seorang muslim telah berada/hadir di barisan perang, apabila musuh telah datang dan mengepung negeri, serta apabila pemimpin (imām) memerintahkan mobilisasi umum kepada rakyat untuk berangkat berperang.

تَقْدِيمُ بِرِّ الْوَالِدَيْنِ عَلَى فُرُوضِ الْكِفَايَةِ وَالتَّطَوُّعِ

4 – Mendahulukan berbakti kepada kedua orang tua di atas kewajiban-kewajiban fardu kifayah dan amalan-amalan sunnah (tathawwu').

يَجُوزُ لِلْمُكَلَّفِ أَنْ يَسْتَفْصِلَ عَنِ الْأَفْضَلِ مِنْ أَعْمَالِ الطَّاعَةِ؛ لِيَعْمَلَ بِهِ

5 – Boleh bagi seorang mukallaf untuk meminta penjelasan mendalam mengenai amalan ketaatan yang paling utama, agar ia dapat mengamalkannya.

قَالَ ابْنُ حَجَرٍ: أَنَّ بِرَّ الْوَالِدِ قَدْ يَكُونُ أَفْضَلَ مِنَ الْجِهَادِ

6 – Ibnu Hajar berkata: Bahwa berbakti kepada orang tua terkadang bisa lebih utama daripada berjihad.

الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَدْخُلُ فِيهِ أَنَّوَاعٌ مُتَعَدِّدَةٌ مِنَ الطَّاعَاتِ، وَمِنْهَا الْجِهَادُ فِي بِرِّ الْوَالِدَيْنِ

7 – Jihad di jalan Allah mencakup berbagai bentuk ketaatan, dan di antaranya adalah bersungguh-sungguh (berjihad) dalam berbakti kepada kedua orang tua.

كُلُّ شَيْءٍ يُتْعِبُ النَّفْسَ يُسَمَّى جِهَادًا

8 – Setiap hal yang menuntut kepayahan jiwa/diri disebut sebagai jihad.

طَلَبُ الرِّزْقِ

MENCARI REZEKI

Imam Baihaqi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

وَمَا سَبِيلُ اللَّهِ إِلَّا مَنْ قُتِلَ؟ مَنْ سَعَى عَلَى وَالِدَيْهِ فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ

Fi sabilillah itu bukan hanya bagi orang yang terbunuh (di medan perang). Siapa saja yang bekerja untuk kedua orang tuanya maka ia di jalan Allah.

وَمَنْ سَعَى عَلَى عِيَالِهِ فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ سَعَى عَلَى نَفْسِهِ لِيُعِفَّهَا فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ

Barangsiapa yang bekerja untuk keluarganya maka ia di jalan Allah, dan barangsiapa yang bekerja untuk dirinya sendiri agar menjaga kehormatan dirinya maka ia di jalan Allah.

وَمَنْ سَعَى عَلَى التَّكَاثُرِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ

Namun barangsiapa yang bekerja untuk bermegah-megahan, maka ia di jalan setan, (Syuabul Iman: 18280. Al-Albani: Hadis ini ada penguatnya).

السَّعْيُ عَلَى الْمُحْتَاجِينَ وَالْعَمَلُ عَلَى الصَّدَقَةِ

MEMBANTU ORANG YANG MEMBUTUHKAN DAN MENGURUS PENGELOLAAN SEDEKAH/ZAKAT

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَوِ الْقَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ

Orang yang berusah payah membantu para armalah dan orang miskin, pahalanya seperti mujahid di jalan Allah, atau seperti orang yang salat malam tanpa henti dan berpuasa di siang hari, (Sahih Bukhari: 5353).

PENJELASAN:

Apa makna Armalah? Armalah adalah:

الْفَقْرُ وَذَهَابُ الزَّادِ بِفَقْدِ الزَّوْجِ

Fakir dan hilangnya bekal (penghidupan) akibat kehilangan (ditinggal mati) suami.

PELAJARAN:

فَعَلَى مَنْ عَجَزَ عَنِ الْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَعَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ، وَصِيَامِ النَّهَارِ؛ أَنْ يَعْمَلَ بِهَذَا الْحَدِيثِ

Maka barangsiapa yang tidak mampu untuk berjihad di jalan Allah, tidak mampu mendirikan shalat malam, dan tidak mampu berpuasa di siang hari; hendaklah ia mengamalkan (petunjuk) hadis ini.

Dan hendaklah ia berusaha keras menanggung (membantu) janda-janda dan orang-orang miskin; agar kelak pada hari kiamat ia dikumpulkan ke dalam rombongan para mujahid di jalan Allah tanpa harus melangkah satu langkah pun (ke medan perang) atau bertemu musuh yang menakutkan saat menghadapinya. Atau agar ia dikumpulkan ke dalam kelompok orang-orang yang gemar berpuasa dan mendirikan shalat malam serta meraih derajat mereka, padahal sepanjang hidupnya ia tetap makan di siang hari dan tidur di malam hari. Oleh karena itu, hendaknya setiap mukmin bersungguh-sungguh dalam meraih perdagangan yang tidak akan pernah merugi ini.

IMAM ABU DAWUD MERIWAYATKAN dari Rafi bin Khadij Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

الْعَامِلُ عَلَى الصَّدَقَةِ بِالْحَقِّ كَالْغَازِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهِ

Amil (petugas yang mengurus) sedekah (zakat) dengan benar pahalanya seperti orang yang berperang di jalan Allah hingga ia kembali ke rumahnya, (Sunan Abu Dawud: 2936).

PENJELASAN:

Sabda Nabi (الْعَامِلُ عَلَى الصَّدَقَةِ) maksudnya:

 أَيْ: الَّذِي سَعَى إِلَيْهَا لِيَجْمَعَهَا مِنْ أَهْلِهَا

Orang yang bekerja dan berusaha untuk mengumpulkannya dari para wajib zakat (muzakki).

Sabda Nabi (بِالْحَقِّ) maksudnya:

 أَيْ: بِالصِّدْقِ وَالْإِخْلَاصِ، وَلَمْ يَخُنْ فِي تِلْكَ الصَّدَقَاتِ.

Dengan penuh kejujuran, keikhlasan, serta tidak berkhianat dalam mengelola sedekah-sedekah tersebut.

Sabda Nabi («كَالْغَازِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ) maksudnya:

 أَيْ: كَانَ أَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى

Pahalanya setara dengan pahala seorang mujahid di jalan Allah Ta'ālā.

Sabda Nabi (حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهِ) maksudnya:

 أَيْ: يَكُونُ لَهُ الثَّوَابُ وَالْأَجْرُ حَالَ ذَهَابِهِ وَإِيَابِهِ

Ia terus mendapatkan pahala dan ganjaran tersebut sepanjang perjalanan pergi dan pulangnya.

وَفِي الْحَدِيثِ: فَضْلُ جَامِعِ الصَّدَقَةِ فِي الْإِسْلَامِ.

Dalam hadis ini terdapat penjelasan tentang keutamaan petugas pengumpul zakat/sedekah dalam Islam.

Wallahua’lam

Karangasem, 3 September 2026

Irfan Nugroho (Semoga Allah mengampuni dosanya, menerima amal ibadahnya, serta mengabulkan doanya. Aamiin)

Post a Comment for "8 AMAL YANG PAHALANYA SETARA JIHAD FI SABILILLAH"