Pembaca rahimakumullah, berikut adalah amal yang pahalanya setara dengan jihad fi sabilillah. Semoga bermanfaat!
فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْنَا الْجِهَادَ وَجَعَلَهُ
ذِرْوَةَ سَنَامِ الْإِسْلَامِ لِإِعْلَاءِ كَلِمَةِ اللَّهِ وَحِمَايَةِ الْأُمَّةِ،
وَوَعَدَ الْمُجَاهِدِينَ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا، وَشَرَعَ أَعْمَالًا مُتَنَوِّعَةً
وَيَسِيرَةً تَعْدِلُ ثَوَابَ الْجِهَادِ وَتُمَكِّنُ غَيْرَ الْقَادِرِينَ عَلَيْهِ
مِنْ بُلُوغِ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ. فَدَرَجَةُ الْجِهَادِ تُدْرَكُ بِالْقِتَالِ كَمَا
تُدْرَكُ بِالنِّيَّةِ الصَّادِقَةِ أَوْ بِمَا يُوَازِيهِ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ
Allah mewajibkan jihad atas kita
dan menjadikannya sebagai puncak tertinggi Islam untuk meninggikan kalimat
Allah serta melindungi umat. Allah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar
bagi para mujahid, serta mensyariatkan berbagai amalan yang mudah dan beragam
yang senilai dengan pahala jihad, sehingga memungkinkan orang-orang yang tidak
mampu berperang untuk mencapai derajat-derajat tertinggi. Sebab, derajat jihad
dapat diraih dengan berperang sebagaimana dapat diraih pula dengan niat yang
jujur atau dengan amalan-amalan saleh yang setara dengannya.
الْحَضُّ عَلَى الْجِهَادِ وَبَيَانُ فَضْلِهِ
Anjuran untuk berjihad dan penjelasan keutamaannya
Allah Ta'ālā berfirman:
﴿وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ﴾
Dan berjihadlah kalian di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya,
(QS. Al-Hajj: 78).
IMAM MUSLIM MERIWAYATKAN dari Abu Dzarr Al-Ghifari
Radhiyallahu Anhu yang berkata:
سَأَلْتُ النَّبِيَّ ﷺ: أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟
قَالَ: إِيمَانٌ بِاللَّهِ، وَجِهَادٌ فِي سَبِيلِهِ
Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, "Amalan apakah yang paling
utama?" Beliau bersabda: "Beriman kepada Allah dan berjihad di
jalan-Nya," (Sahih Muslim: 84).
Tertulis di dalam Al Mausuatu
Ahadisin Nabawiyah tentang makna jihad di dalam hadis ini:
قِتَالُ الْكُفَّارِ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ
تَعَالَى
Memerangi orang-orang kafir
dengan mengharap wajah Allah ta’ala.
PELAJARAN:
الأَعْمَالُ تَتَفَاوَتُ فِي الدَّرَجَاتِ،
فَأَفْضَلُهَا عَلَى الْإِطْلَاقِ الْإِيمَانُ بِاللَّهِ تَعَالَى، وَلَا تَصِحُّ الْأَعْمَالُ
بِدُونِهِ.
1 – Amal-amal kebajikan itu bertingkat-tingkat keutamaannya,
dan amalan yang paling utama secara mutlak adalah beriman kepada Allah Ta'ālā;
sebab amalan apa pun tidak akan sah tanpa adanya iman.
بَيَانُ فَضْلِ الْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
عَزَّ وَجَلَّ، وَعِظَمُ مَنْزِلَتِهِ.
2 – Penjelasan tentang keutamaan
berjihad di jalan Allah 'Azza wa Jalla serta betapa agungnya kedudukannya.
IMAM BUKHARI MERIWAYATKAN dari
Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
لَغَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ
خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
Sungguh, bepergian di pagi hari atau di sore hari di jalan
Allah itu lebih baik daripada dunia dan seisinya, (Sahih Bukhari: 2792).
PENJELASAN
Sabda Nabi («لَغَدْوَةٌ أَوْ رَوْحَةٌ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ)
maksudnya:
وَالْغَدْوَةُ هِيَ السَّيْرُ أَوَّلَ النَّهَارِ
إِلَى الزَّوَالِ، وَالرَّوْحَةُ السَّيْرُ مِنَ الزَّوَالِ إِلَى آخِرِ النَّهَارِ
Al-Ghadwah adalah perjalanan di awal siang hingga waktu
tergelincirnya matahari (dzuhur), sedangkan ar-Rauhah adalah perjalanan dari
tergelincirnya matahari hingga akhir siang (petang).
Sabda Nabi (خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا
وَمَا فِيهَا)
maksudnya:
الْمَشْيَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فِي الْغَزْوِ
فِي وَقْتِ الصَّبَاحِ أَوْ وَقْتِ الْمَسَاءِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا، وَثَوَابُ
هَذَا الزَّمَنِ الْقَلِيلِ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ زَمَنِ الدُّنْيَا كُلِّهَا
Perjalanan di jalan Allah saat
berperang pada waktu pagi atau sore hari adalah lebih baik daripada dunia
seisinya, dan pahala dari waktu yang singkat ini di surga lebih baik daripada
seluruh rentang waktu dunia.
IMAM BUKHARI MERIWAYATKAN dari
Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا
اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ
السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
Sesungguhnya di surga ada seratus
derajat yang Allah sediakan bagi para mujahid di jalan Allah, jarak antara dua
derajat seperti jarak antara langit dan bumi, (Sahih Bukhari: 2790).
PENJELASAN:
لِيُرَغِّبَ أُمَّتَهُ فِي مُجَاهَدَةِ الْمُشْرِكِينَ
وَإِعْلَاءِ كَلِمَةِ الْإِسْلَامِ
Agar beliau dapat menumbuhkan
rasa cinta (mendorong) umatnya untuk berjihad melawan orang-orang musyrik dan
meninggikan kalimat Islam.
بَعْضُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تَعْدِلُ ثَوَابَ
الْجِهَادِ
SEBAGIAN AMALAN YANG SENILAI DENGAN PAHALA JIHAD
Ada beberapa amal yang pahalanya setara dengan jihad, di
antaranya:
النِّيَّةُ الصَّادِقَةُ
NIAT YANG JUJUR
IMAM ABU DAWUD MERIWAYATKAN dari Sahal bin Hunaif
Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ صَادِقًا
بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ
Barangsiapa memohon mati syahid kepada Allah dengan jujur
(tulus), niscaya Allah akan menyampaikannya ke kedudukan para syuhada meskipun
ia meninggal di atas tempat tidurnya, (Sunan Abu Dawud: 1520).
PELAJARAN:
صِدْقُ النِّيَّةِ مَعَ فِعْلِ الْمُسْتَطَاعِ
سَبَبٌ لِبُلُوغِ الْمَقْصُودِ مِنَ الْأَجْرِ وَالثَّوَابِ، وَإِنْ لَمْ يُبَاشِرِ
الْعَمَلَ الْمَطْلُوبَ
1 – Kejujuran niat yang disertai
dengan pelaksanaan amalan semampunya merupakan sebab untuk meraih pahala dan
ganjaran yang dituju, meskipun seseorang tidak (sempat) melakukan amalan yang
dituntut tersebut secara langsung.
التَّرْغِيبُ فِي الْجِهَادِ وَطَلَبِ الشَّهَادَةِ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
2 – Anjuran/dorongan untuk berjihad dan memohon mati syahid
di jalan Allah 'Azza wa Jalla.
إِكْرَامُ اللَّهِ تَعَالَى لِهَذِهِ الْأُمَّةِ،
فَهُوَ يُعْطِيهَا بِقَلِيلٍ مِنَ الْعَمَلِ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ فِي الْجَنَّةِ
3 – Bentuk kemuliaan dari Allah
Ta'ālā bagi umat ini, di mana Dia menganugerahkan derajat-derajat tertinggi di
surga hanya dengan amalan yang sedikit.
الْحَثُّ عَلَى عَمَلِ الْخَيْرِ عُمُومًا وَأَنْ
يَنْوِيَهُ، وَعَلَى سُؤَالِ الشَّهَادَةِ خُصُوصًا
4 – Anjuran untuk melakukan
kebaikan secara umum serta meniatkannya, dan anjuran untuk memohon mati syahid
secara khusus.
مَنْ نَوَى خَيْرًا وَحَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ
فِعْلِهِ حَائِلٌ، فَإِنَّهُ يُكْتَبُ لَهُ أَجْرُهُ
5 – Barangsiapa berniat melakukan
kebaikan lalu ada penghalang yang merintangi antara dirinya dan amalan tersebut,
maka pahalanya tetap dicatat baginya.
طَلَبُ الْعِلْمِ وَتَعْلِيمُهُ
MENUNTUT ILMU DAN MENGAJARKANNYA
Amal yang pahalanya setara jihad fi sabilillah adalah
menuntut ilmu dan mengajarkannya.
مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلَّا
لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى
مَتَاعِ غَيْرِهِ
Barangsiapa mendatangi masjidku
ini, yang tidaklah ia mendatangi melainkan untuk kebaikan yang ingin ia
pelajari atau ia ajarkan, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Dan
barangsiapa yang datang untuk tujuan selain itu, maka kedudukannya seperti
orang yang melihat barang dagangan orang lain, (Sunan Ibn Majah: 227).
PENJELASAN:
Sisi keserupaannya antara
menuntut ilmu dan berjihad di jalan Allah adalah karena
كُلًّا مِنْهُمَا يُرِيدُ إِعْلَاءَ كَلِمَةِ
اللَّهِ الْعُلْيَا
1 – Keduanya sama-sama bertujuan
untuk meninggikan kalimat Allah yang mahatinggi.
كُلًّا مِنَ الْعِلْمِ وَالْجِهَادِ قَدْ يَكُونُ
فَرْضَ عَيْنٍ، وَقَدْ يَكُونُ فَرْضَ كِفَايَةٍ
2 – Ilmu dan jihad terkadang hukumnya
menjadi fardu 'ain (kewajiban individu) dan terkadang fardu kifayah (kewajiban
kolektif).
أَوْ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا عِبَادَةٌ نَفْعُهَا
مُتَعَدٍّ إِلَى عُمُومِ الْمُسْلِمِينَ
3 – Keduanya merupakan ibadah
yang kemanfaatannya meluas (nafi' muta'addi) bagi kaum muslimin secara umum.
وَأَنَّهُ إِحْيَاءٌ لِلدِّينِ وَإِذْلَالٌ
لِلشَّيْطَانِ، وَإِتْعَابٌ لِلنَّفْسِ وَإِبْعَادٌ لَهَا عَنِ الشَّهَوَاتِ
4 – Di dalamnya terdapat upaya
menghidupkan agama, menghinakan setan, menyiksa (melatih kesungguhan) jiwa, dan
menjukankannya dari hawa nafsu syahwat.
مُجَاهَدَةُ النَّفْسِ فِي طَاعَةِ اللَّهِ
MUJAHADATUN NAFSI UNTUK TAAT KEPADA ALLAH
Kemudian, amal yang pahalanya
setara jihad fi sabilillah adalah bersungguh-sungguh untuk menaati Allah ta’ala.
IMAM AHMAD MERIWAYATKAN
dari Fadholah bin Ubaid Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ لِلَّهِ
أَوْ قَالَ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Seorang mujahid adalah orang yang
berjihad melawan dirinya sendiri dalam karena Allah (atau beliau bersabda dalam
ketaatan kepada Allah azza wa jalla), (Musnad Ahmad: 23951).
PENJELASAN:
الْمُجَاهِدُ مَنْ حَارَبَ نَفْسَهُ وَحَمَلَهَا
عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى؛ لِأَنَّ نَفْسَ الرَّجُلِ أَشَدُّ عَدَاوَةً مَعَهُ
مِنَ الْكُفَّارِ؛ لِأَنَّ الْكُفَّارَ بَعِيدُونَ مِنْهُ، وَأَمَّا نَفْسُهُ فَتُلَازِمُهُ،
وَتَمْنَعُهُ مِنَ الْخَيْرِ وَالطَّاعَةِ
Seorang mujahid adalah orang yang
memerangi dirinya sendiri dan memaksanya untuk taat kepada Allah Ta'ālā. Hal
itu karena diri (hawa nafsu) seseorang adalah musuh yang paling keras baginya
dibandingkan orang-orang kafir; sebab orang-orang kafir berada jauh darinya,
sedangkan dirinya selalu menyertainya serta senantiasa menghalanginya dari
kebaikan dan ketaatan.
الْحَثُّ عَلَى جِهَادِ النَّفْسِ وَتَدْرِيبِهَا
لِتُوَافِقَ مُرَادَ اللَّهِ تَعَالَى
Anjuran untuk berjihad melawan
diri (hawa nafsu) serta melatihnya agar sejalan dengan apa yang diridhai Allah
Ta'ālā.
الْمُحَافَظَةُ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ
MENJAGA SHALAT LIMA WAKTU
Amal lain yang pahalanya setara jihad adalah menjaga salat
lima waktu.
IMAM MUSLIM MERIWAYATKAN
dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ
بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ
وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ
Maukah aku tunjukkan kepada
kalian tentang amalan yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat
derajat-derajat? Para sahabat menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah."
Beliau bersabda: "Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang tidak disukai,
memperbanyak langkah menuju masjid-masjid, dan menunggu shalat setelah shalat;
maka itulah ribath (menjaga perbatasan/jihad)," (Sahih Muslim: 251).
PENJELASAN:
Apa yang dimaksud menunggu salat
setelah salat? Tertulis di dalam Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah:
بِالْبَقَاءِ فِي الْمَسْجِدِ وَانْتِظَارِ
الْفَرَائِضِ بِهَا، لَا يَقْطَعُهُ مِنْهَا إِلَّا الْحَاجَةُ
Dengan berdiam di masjid dan
menunggu shalat-shalat fardu di dalamnya, tanpa diputus (ditinggalkan) kecuali
karena adanya kebutuhan yang mendesak.
Apa makna ribat? Ribat adalah:
لُزُومُ ثَغْرِ الْجِهَادِ تَقْوِيَةً لِلْمُسْلِمِينَ
وَلَوْ سَاعَةً
Menjaga garis depan perbatasan (ribath) untuk memperkuat
posisi kaum muslimin meskipun hanya sesaat.
Imam Muslim meriwayatkan dari
Salman al-Farisi Radhiyallahu anhu yang mendengar Rasulullah ﷺbersabda:
رِبَـاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ
مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ
وَأَمِنَ الْفَتَّانَ
Ribath sehari semalam lebih baik
daripada puasa selama sebulan beserta salatnya. Jika dia mati, maka pahala amal
yang telah ia lakukan akan tetap mengalir, rizkinya pun akan tetap berlangsung
dan akan dijaga dari fitnah kubur, (Sahih Muslim: 1913).
الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ لِلنِّسَاءِ وَالضُّعَفَاءِ
HAJI & UMRAH BAGI WANITA & ORANG-ORANG YANG LEMAH
Imam An Nasai meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu
Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
جِهَادُ الْكَبِيرِ وَالصَّغِيرِ وَالضَّعِيفِ
وَالْمَرْأَةِ: الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ
Jihad orang tua, anak kecil, orang yang lemah, dan wanita
adalah haji dan umrah, (Sunan An Nasai: 2626).
PENJELASAN:
Apa maksudnya? Tertulis di dalam Mausuatul Haditsiyah Dorar
Saniyah:
إِنَّهُمْ يُؤْجَرُونَ بِأَدَائِهِمْ لِلْحَجِّ
وَالْعُمْرَةِ بِمِثْلِ مَا يُؤْجَرُ بِهِ مَنْ يَخْرُجُ لِلْغَزْوِ وَالْجِهَادِ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Sungguh, mereka diberi pahala
atas pelaksanaan haji dan umrah yang mereka lakukan setara dengan pahala orang
yang keluar untuk berperang dan berjihad di jalan Allah 'Azza wa Jalla.
وَقِيلَ: الْمُرَادُ أَنَّ الْجِهَادَ الْمَفْرُوضَ
عَلَيْهِمْ هُوَ أَدَاءُ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ بِمِثْلِ الْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
عَزَّ وَجَلَّ الْمَفْرُوضِ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ قَادِرٍ.
Dikatakan pula: Maksudnya adalah
bahwa jihad yang diwajibkan atas mereka (orang tua, anak kecil, orang lemah,
dan wanita) yaitu menunaikan haji dan umrah, sebagaimana jihad di jalan Allah
'Azza wa Jalla diwajibkan atas setiap mukmin yang mampu.
IMAM BUKHARI MERIWAYATKAN dari
Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata
عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَرَى الْجِهَادَ
أَفْضَلَ الْعَمَلِ، أَفَلَا نُجَاهِدُ؟ قَالَ: لَا، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ
مَبْرُورٌ
Wahai Rasulullah, kami melihat
bahwa jihad adalah amalan yang paling utama, lalu apakah kami tidak boleh ikut
berjihad? Beliau bersabda: "Tidak, akan tetapi jihad yang paling utama
(bagi kalian) adalah haji yang mabrur,” (Sahih Bukhari: 1520).
PENJELASAN:
لَا تُقَاتِلْنَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ؛ لِأَنَّ
الْجِهَادَ لَمْ يُشْرَعْ لَكُنَّ، وَلَيْسَ هُوَ أَفْضَلَ الْأَعْمَالِ بِالنِّسْبَةِ
لِلْمَرْأَةِ.
Janganlah kalian berperang wahai
kaum wanita; sebab jihad (fisik/perang) tidak disyariatkan bagi kalian, dan hal
itu bukanlah amalan yang paling utama bagi wanita.
أَمَّا إِذَا أَرَدْتُنَّ أَنْ تَعْرِفْنَ أَفْضَلَ
الْأَعْمَالِ وَأَشْرَفَ الْجِهَادِ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْكُنَّ؛ فَإِنَّهُ الْحَجُّ
الْمَبْرُورُ.
Adapun jika kalian ingin
mengetahui amalan yang paling utama dan jihad yang paling mulia bagi kalian,
maka itu adalah haji yang mabrur.
Apa yang dimaksud Haji Mabrur?
الْمَقْبُولُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى الْمُسْتَوْفِي
لِأَحْكَامِهِ، الْخَالِي مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ وَالْإِثْمِ وَالْمَالِ الْحَرَامِ.
Haji yang diterima di sisi Allah
Ta'ālā, yang memenuhi segenap rukun dan syaratnya, serta bersih dari riya',
sum'ah (ingin didengar/dipuji), dosa, dan harta yang haram.
Mengapa haji mabrur disamakan
dengan jihad?
وَسُمِّيَ الْحَجُّ جِهَادًا إِمَّا مِنْ بَابِ
التَّغْلِيبِ، أَوْ عَلَى الْحَقِيقَةِ، وَالْمُرَادُ جِهَادُ النَّفْسِ؛ لِمَا فِيهِ
مِنْ إِدْخَالِ الْمَشَقَّةِ عَلَى الْبَدَنِ وَالْمَالِ.
Dinamakan haji sebagai jihad bisa
jadi sebagai bentuk penyebutan secara umum (taghlib), atau secara hakiki yang
dimaksud adalah jihad an-nafs (perjuangan melawan nafsu); karena di dalamnya
terdapat beban kepayahan baik bagi fisik maupun harta.
بِرٌّ بِالْوَالِدَيْنِ
BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA
Imam Bukhari meriwayatkan dari
Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu Anhuma yang berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ يَسْتَأْذِنُهُ
فِي الْجِهَادِ، فَقَالَ: أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ
Seseorang datang kepada Nabi ﷺ meminta izin untuk ikut berjihad, maka
beliau bersabda: "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Ia menjawab:
"Ya." Beliau bersabda: "Maka pada merekalah engkau berjihad
(berbakti)," (Sahih Bukhari: 3004).
PENJELASAN:
Sabda Nabi (فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ) maksudnya:
فَا بْذُلْ جَهْدَكَ فِي إِرْضَائِهِمَا وَبِرِّهِمَا، يُكْتَبْ لَكَ أَجْرُ
الْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى
Curahkanlah segenap usahamu untuk meredhai dan berbakti
kepada keduanya, niscaya dicatat bagimu pahala berjihad di jalan Allah Ta'ālā.
PELAJARAN:
فَضْلُ بِرِّ الْوَالِدَيْنِ، وَتَعْظِيمُ حَقِّهِمَا،
وَكَثْرَةُ الثَّوَابِ عَلَى بِرِّهِمَا
1 – Keutamaan berbakti kepada
kedua orang tua, mengagungkan hak mereka, serta besarnya pahala atas bakti kepada
keduanya.
قَالَ ابْنُ حَجَرٍ: قَالَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ:
يَحْرُمُ الْجِهَادُ إِذَا مَنَعَ الْأَبَوَانِ أَوْ أَحَدُهُمَا الِابْنَ مِنَ السَّفَرِ
بِشَرْطِ أَنْ يَكُونَا مُسْلِمَيْنِ؛ لِأَنَّ بِرَّهُمَا فَرْضُ عَيْنٍ عَلَيْهِ وَالْجِهَادَ
فَرْضُ كِفَايَةٍ، فَإِذَا تَعَيَّنَ الْجِهَادُ فَلَا إِذْنَ
2 – Ibnu Hajar berkata: Mayoritas
ulama berpendapat bahwa haram hukumnya keluar berjihad apabila kedua orang tua
atau salah satunya melarang anaknya untuk bepergian (berjihad), dengan syarat
keduanya muslim. Hal itu karena berbakti kepada keduanya adalah fardu 'ain
baginya, sedangkan jihad adalah fardu kifayah. Namun, jika jihad telah menjadi
fardu 'ain (wajib individu), maka tidak diperlukan lagi izin orang tua.
الْجِهَادُ فَرْضُ كِفَايَةٍ، وَيَكُونُ فَرْضَ
عَيْنٍ فِي ثَلَاثِ حَالَاتٍ: إِذَا حَضَرَ الْمُسْلِمُ الْجِهَادَ، وَإِذَا حَضَرَ
الْعَدُوُّ وَحَاصَرَ الْبَلَدَ، وَإِذَا اسْتَنْفَرَ الْإِمَامُ الرَّعِيَّةَ وَجَبَ
عَلَيْهَا أَنْ تَنْفِرَ.
3 – Jihad pada dasarnya adalah
fardu kifayah, dan berubah menjadi fardu 'ain dalam tiga kondisi: apabila
seorang muslim telah berada/hadir di barisan perang, apabila musuh telah datang
dan mengepung negeri, serta apabila pemimpin (imām) memerintahkan mobilisasi
umum kepada rakyat untuk berangkat berperang.
تَقْدِيمُ بِرِّ الْوَالِدَيْنِ عَلَى فُرُوضِ
الْكِفَايَةِ وَالتَّطَوُّعِ
4 – Mendahulukan berbakti kepada
kedua orang tua di atas kewajiban-kewajiban fardu kifayah dan amalan-amalan
sunnah (tathawwu').
يَجُوزُ لِلْمُكَلَّفِ أَنْ يَسْتَفْصِلَ عَنِ
الْأَفْضَلِ مِنْ أَعْمَالِ الطَّاعَةِ؛ لِيَعْمَلَ بِهِ
5 – Boleh bagi seorang mukallaf
untuk meminta penjelasan mendalam mengenai amalan ketaatan yang paling utama,
agar ia dapat mengamalkannya.
قَالَ ابْنُ حَجَرٍ: أَنَّ بِرَّ الْوَالِدِ
قَدْ يَكُونُ أَفْضَلَ مِنَ الْجِهَادِ
6 – Ibnu Hajar berkata: Bahwa
berbakti kepada orang tua terkadang bisa lebih utama daripada berjihad.
الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَدْخُلُ فِيهِ
أَنَّوَاعٌ مُتَعَدِّدَةٌ مِنَ الطَّاعَاتِ، وَمِنْهَا الْجِهَادُ فِي بِرِّ الْوَالِدَيْنِ
7 – Jihad di jalan Allah mencakup
berbagai bentuk ketaatan, dan di antaranya adalah bersungguh-sungguh (berjihad)
dalam berbakti kepada kedua orang tua.
كُلُّ شَيْءٍ يُتْعِبُ النَّفْسَ يُسَمَّى جِهَادًا
8 – Setiap hal yang menuntut kepayahan jiwa/diri disebut
sebagai jihad.
طَلَبُ الرِّزْقِ
MENCARI REZEKI
Imam Baihaqi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu
Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَا سَبِيلُ اللَّهِ إِلَّا مَنْ قُتِلَ؟
مَنْ سَعَى عَلَى وَالِدَيْهِ فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ
Fi sabilillah itu bukan hanya
bagi orang yang terbunuh (di medan perang). Siapa saja yang bekerja untuk kedua
orang tuanya maka ia di jalan Allah.
وَمَنْ سَعَى عَلَى عِيَالِهِ فَفِي سَبِيلِ
اللَّهِ، وَمَنْ سَعَى عَلَى نَفْسِهِ لِيُعِفَّهَا فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ
Barangsiapa yang bekerja untuk
keluarganya maka ia di jalan Allah, dan barangsiapa yang bekerja untuk dirinya
sendiri agar menjaga kehormatan dirinya maka ia di jalan Allah.
وَمَنْ سَعَى عَلَى التَّكَاثُرِ فَهُوَ فِي
سَبِيلِ الشَّيْطَانِ
Namun barangsiapa yang bekerja
untuk bermegah-megahan, maka ia di jalan setan, (Syuabul Iman: 18280. Al-Albani:
Hadis ini ada penguatnya).
السَّعْيُ عَلَى الْمُحْتَاجِينَ وَالْعَمَلُ
عَلَى الصَّدَقَةِ
MEMBANTU ORANG YANG MEMBUTUHKAN DAN MENGURUS PENGELOLAAN SEDEKAH/ZAKAT
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu
Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ
كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَوِ الْقَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ
Orang yang berusah payah membantu
para armalah dan orang miskin, pahalanya seperti mujahid di jalan
Allah, atau seperti orang yang salat malam tanpa henti dan berpuasa di siang
hari, (Sahih Bukhari: 5353).
PENJELASAN:
Apa makna Armalah? Armalah
adalah:
الْفَقْرُ وَذَهَابُ الزَّادِ بِفَقْدِ الزَّوْجِ
Fakir dan hilangnya bekal
(penghidupan) akibat kehilangan (ditinggal mati) suami.
PELAJARAN:
فَعَلَى مَنْ عَجَزَ عَنِ الْجِهَادِ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ، وَعَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ، وَصِيَامِ النَّهَارِ؛ أَنْ يَعْمَلَ بِهَذَا الْحَدِيثِ
Maka barangsiapa yang tidak mampu
untuk berjihad di jalan Allah, tidak mampu mendirikan shalat malam, dan tidak
mampu berpuasa di siang hari; hendaklah ia mengamalkan (petunjuk) hadis ini.
Dan hendaklah ia berusaha keras
menanggung (membantu) janda-janda dan orang-orang miskin; agar kelak pada hari
kiamat ia dikumpulkan ke dalam rombongan para mujahid di jalan Allah tanpa
harus melangkah satu langkah pun (ke medan perang) atau bertemu musuh yang
menakutkan saat menghadapinya. Atau agar ia dikumpulkan ke dalam kelompok
orang-orang yang gemar berpuasa dan mendirikan shalat malam serta meraih
derajat mereka, padahal sepanjang hidupnya ia tetap makan di siang hari dan
tidur di malam hari. Oleh karena itu, hendaknya setiap mukmin
bersungguh-sungguh dalam meraih perdagangan yang tidak akan pernah merugi ini.
IMAM ABU DAWUD MERIWAYATKAN dari
Rafi bin Khadij Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
الْعَامِلُ عَلَى الصَّدَقَةِ بِالْحَقِّ كَالْغَازِي
فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهِ
Amil (petugas yang mengurus)
sedekah (zakat) dengan benar pahalanya seperti orang yang berperang di jalan
Allah hingga ia kembali ke rumahnya, (Sunan Abu Dawud: 2936).
PENJELASAN:
Sabda Nabi (الْعَامِلُ عَلَى الصَّدَقَةِ) maksudnya:
أَيْ: الَّذِي سَعَى إِلَيْهَا لِيَجْمَعَهَا مِنْ أَهْلِهَا
Orang yang bekerja dan berusaha
untuk mengumpulkannya dari para wajib zakat (muzakki).
Sabda Nabi (بِالْحَقِّ) maksudnya:
أَيْ: بِالصِّدْقِ وَالْإِخْلَاصِ، وَلَمْ يَخُنْ فِي تِلْكَ الصَّدَقَاتِ.
Dengan penuh kejujuran,
keikhlasan, serta tidak berkhianat dalam mengelola sedekah-sedekah tersebut.
Sabda Nabi («كَالْغَازِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ) maksudnya:
أَيْ: كَانَ أَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى
Pahalanya setara dengan pahala seorang mujahid di jalan
Allah Ta'ālā.
Sabda Nabi (حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى
بَيْتِهِ)
maksudnya:
أَيْ: يَكُونُ لَهُ الثَّوَابُ وَالْأَجْرُ حَالَ ذَهَابِهِ وَإِيَابِهِ
Ia terus mendapatkan pahala dan
ganjaran tersebut sepanjang perjalanan pergi dan pulangnya.
وَفِي الْحَدِيثِ: فَضْلُ جَامِعِ الصَّدَقَةِ
فِي الْإِسْلَامِ.
Dalam hadis ini terdapat
penjelasan tentang keutamaan petugas pengumpul zakat/sedekah dalam Islam.
Wallahua’lam
Karangasem, 3 September 2026
Irfan Nugroho (Semoga Allah
mengampuni dosanya, menerima amal ibadahnya, serta mengabulkan doanya. Aamiin)
Post a Comment for "8 AMAL YANG PAHALANYA SETARA JIHAD FI SABILILLAH"