zmedia

DEFINISI AL KABAIR & URGENSI MEMAHAMINYA

 

Pada kesempatan kali ini, Insyaallah kita akan membahas kitab yang baru, yaitu Kitābul Kabā'ir karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullāhu ta'ālā.

Tentunya, kitab yang paling sering kita dengar adalah: Kitābul Kabā'ir karya Imam adz-Dzahabi. Banyak para ulama yang menulis tentang dosa-dosa besar, di antaranya yang sangat terkenal adalah karya Imam adz-Dzahabi. Lalu Az-Zawājir 'an Iqtirāfil Kabā'ir karya Ibnu Hajar al-Haitami, dan yang juga sangat spesial adalah kitab karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab ini.

Secara pembahasan, Kitābul Kabā'ir karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab berbeda dengan tulisan Imam adz-Dzahabi. Jika Imam adz-Dzahabi berfokus pada sekitar 70 dosa besar, maka di kitab ini dosa-dosanya tidak banyak berulang, mungkin menjangkau seratusan dosa dan persamaannya hanya sekitar 20% hingga 30%. Kitab ini menyempurnakan tulisan Imam adz-Dzahabi, di mana pada bagian awal kitab, Syekh fokus menyinggung dosa-dosa hati yang sering kali kita terjerumus di dalamnya tanpa disadari.

DALIL AL-QUR'AN DAN ATSAR SAHABAT

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullāhu ta'ālā membuka kitab ini dengan membaca basmalah dan membawakan landasan-landasan dalil:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ. كِتَابُ الكَبَائِرِ

Allah ta’ala berfirman:

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia, (QS. An-Nisa': 31).

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ

Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, selain dari dosa-dosa kecil, (QS. An-Najm: 32).

Ibnu Jarir meriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata:

الكَبِيرَةُ: كُلُّ ذَنْبٍ خَتَمَهُ اللَّهُ بِنَارٍ، أَوْ لَعْنَةٍ، أَوْ غَضَبٍ، أَوْ عَذَابٍ

Dosa besar adalah seluruh dosa yang Allah akhiri dengan ancaman api neraka, laknat, kemurkaan, atau azab, (Ibnu Jarir at-Thabari).

Dan di dalam riwayat lain, Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhuma juga menyatakan jumlah dosa besar:

هِيَ إِلَى السَّبْعِينَ أَقْرَبُ مِنْهَا إِلَى السَّبْعِ

Dosa besar itu jumlahnya lebih dekat kepada 70 daripada sekadar 7, (HR. Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf).

URGENSI MEMPELAJARI DOSA-DOSA BESAR

أَهَمِّيَّةُ دِرَاسَةِ الكَبَائِرِ

Al-Kabā'ir (الكَبَائِر) secara bahasa adalah bentuk jamak dari al-kabīrah (الكَبِيرَة), yang artinya dosa besar. Ada beberapa poin penting mengapa kita sangat perlu mempelajari Al-Kabā'ir:

المَغْفِرَةِ لِلصَّغَائِرِ وَالجَنَّةِ لِمَنْ اجْتَنَبَ الكَبَائِرَ

1. Pengampunan Dosa Kecil dan Surga Bagi yang Menjauhi Dosa Besar

Seseorang yang berhasil menjaga dirinya dari dosa-dosa besar akan mendapatkan dua ganjaran istimewa dari Allah:

1.      Diampuni dosa-dosa kecilnya (tanpa harus bertaubat secara khusus).

2.      Diberikan jaminan masuk surga.

Sebagaimana firman Allah:

نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia, (QS An Nisa: 31).

Dosa-dosa kecil (al-lamam) sangat sulit dihindari manusia dalam kehidupan sehari-hari (seperti tidak sengaja memandang atau terucap kata yang kurang tepat). Namun, jika dosa besar dijauhi sepenuhnya akan otomatis menggugurkan dosa-dosa kecil tersebut, sebagaimana firman Allah:

إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

Sungguh, Rabmu itu Maha Luas ampunanNya, (QS An Najm:32).

طَرِيقَةُ اجْتِنَابِ الذُّنُوبِ تَكُونُ بِمَعْرِفَتِهَا

2. Cara Menjauhi Dosa Adalah dengan Mengenalinya

Bagaimana mungkin seseorang bisa menghindar dari sesuatu yang tidak ia ketahui? Sebagaimana ucapan seorang penyair:

كَيْفَ يَتَّقِي مَنْ لَا يَدْرِي مَا يَتَّقِي؟

(Bagaimana seseorang bisa bertakwa/menjaga diri, jika ia tidak tahu apa yang harus ia jauhi?)

Dan penyair lain menyatakan:

عَرَفْتُ الشَّرَّ لَا لِلشَّرِّ لَكِنْ لِتَوَقِّيهِ ... وَمَنْ لَا يَعْرِفِ الشَّرَّ مِنَ الخَيْرِ يَقَعْ فِيهِ

Aku mengenal keburukan bukan untuk melakukannya, melainkan untuk membentengi diri darinya. Barang siapa yang tidak mengenal keburukan, niscaya ia akan terperosok ke dalamnya.

Banyak orang zaman sekarang terjerumus dalam dosa besar karena mereka tidak sadar bahwa perbuatan tersebut adalah dosa besar, atau bahkan tidak menganggapnya sebagai dosa sama sekali.

تَرْكُ المَحْظُورَاتِ عِبَادَةٌ عَظِيمَةٌ

3. Meninggalkan Larangan Merupakan Bentuk Ibadah yang Agung

Ibadah kepada Allah dilakukan dengan dua cara: menjalankan ketaatan dan meninggalkan larangan. Meninggalkan kemaksiatan—terutama saat peluang maksiat itu ada di depan mata—adalah ibadah yang pahalanya sangat besar di sisi Allah.

Contohnya kisah Nabi Yusuf 'Alaihissalam, tiga orang yang terperangkap di dalam gua, serta pemuda yang menolak ajakan zina karena takut kepada Allah («إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ»). Allah berfirman perintah menundukkan pandangan:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka", (QS. An-Nur: 30).

Menundukkan pandangan dan meninggalkan maksiat akan melahirkan cahaya (nur) di dalam kalbu dan memberikan ketenangan keimanan.

انْتِشَارُ أَبْوَابِ المَعَاصِي فِي العَصْرِ الحَدِيثِ

4. Merebaknya Pintu Kemaksiatan di Zaman Modern

Di zaman sekarang, sarana untuk berbuat dosa sangat mudah diakses secara online dari dalam rumah (seperti judi online, tontonan haram, ghibah, dan namimah). Karena pintu maksiat terbuka lebar, membentengi diri dengan ilmu tentang dosa besar menjadi semakin krusial.

التَّعْرِيفُ بِالكَبَائِرِ مِنْ سُنَّةِ دَعْوَةِ الأَنْبِيَاءِ

5. Mengenalkan Dosa Besar Adalah Sunnah Dakwah Para Nabi

Nabi Muhammad Shallallāhu 'Alaihi wa Sallam senantiasa mengenalkan dan memperingatkan umat dari dosa-dosa besar. Allah berfirman:

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ

Katakanlah: Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu, (QS. Al-An'am: 151).

أَهَمِّيَّةُ التَّرْبِيَةِ وَالتَّعْلِيمِ مُنْذُ الصِّغَرِ

6. Pentingnya Edukasi Sejak Dini

Pendidikan tentang dosa-dosa besar harus diajarkan sejak usia remaja/muda sebelum seseorang terjebak dalam kecanduan maksiat (seperti narkoba, khamar, dan pergaulan bebas).

التَّعْرِيفُ وَالفَرْقُ بَيْنَ الكَبَائِرِ وَالصَّغَائِرِ

DEFINISI DAN PERBEDAAN DOSA BESAR DAN DOSA KECIL

DEFINSI DOSA BESAR secara ringkas, menurut Imam Adz Dzahabi adalah:

مَا نَهَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ عَنْهُ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْأَثَرِ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِينَ

(Dosa besar adalah) apa saja yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya di dalam Al-Qur'an, As-Sunnah, serta atsar (riwayat) dari para pendahulu yang saleh (salafus shalih).

Beliau juga berkata:

مَنِ ارْتَكَبَ شَيْئًا مِنْ هَذِهِ الْعَظَائِمِ مِمَّا فِيهِ حَدٌّ فِي الدُّنْيَا كَالْقَتْلِ وَالزِّنَا وَالسَّرِقَةِ

Siapa saja yang melakukan sesuatu dari dosa-dosa besar ini, yang di dalamnya terdapat sanksi hukum (had) di dunia seperti membunuh, berzina, dan mencuri,

أَوْ جَاءَ فِيهِ وَعِيدٌ فِي الْآخِرَةِ مِنْ عَذَابٍ أَوْ غَضَبٍ أَوْ تَهْدِيدٍ أَوْ لَعْنِ فَاعِلِهِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ، فَإِنَّهُ كَبِيرَةٌ

Atau terdapat ancaman padanya di akhirat berupa azab, kemurkaan, ancaman keras, atau kurukan bagi pelakunya melalui lisan Nabi kita Muhammad , maka perbuatan itu adalah dosa besar.

تَعْرِيفُ الكَبِيرَةِ: هِيَ كُلُّ ذَنْبٍ حُدَّ فِي الدُّنْيَا بِحَدٍّ، أَوْ وُعِدَ فِي الآخِرَةِ بِنَارٍ، أَوْ لَعْنَةٍ، أَوْ غَضَبٍ، أَوْ عَذَابٍ

Dosa besar adalah setiap dosa di dunia yang diancam dengan hukum had, atau di akhirat diancam dengan neraka, laknat, kemurkaan, atau azab khusus.

DEFINISI DOSA KECIL

Dosa Kecil adalah:

تَعْرِيفُ الصَّغِيرَةِ: هِيَ مَا دُونَ الحَدَّيْنِ حَدِّ الدُّنْيَا وَوَعِيدِ الآخِرَةِ

Dosa kecil adalah setiap perbuatan dosa yang tingkatannya berada di bawah hukuman had dunia dan ancaman khusus di akhirat.

عَقِيْدَةُ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي مُرْتَكِبِ الْكَبِيْرَةِ

AKIDAH AHLUS SUNNAH TERHADAP PELAKU DOSA BESAR

Di akhirat kelak, status pelaku dosa besar yang belum bertaubat berada di bawah kehendak Allah (تَحْتَ مَشِيْئَةِ اللهِ):

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. An-Nisa: 48)

Perbandingan Beberapa Kelompok (الْفِرَقُ):

·         أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ (Ahlus Sunnah wal Jama'ah): Pelakunya disebut فَاسِقٌ (fasik/imannya berkurang). Di akhirat berada tahta masyi'atillah (di bawah kehendak Allah): Jika Allah berkehendak, Dia mengampuninya; jika tidak, Dia azab terlebih dahulu namun tidak kekal di neraka.

·         الْخَوَارِجُ (Khawarij): Pelakunya kafir di dunia dan kekal di neraka Jahannam.

·         الْمُعْتَزِلَةُ (Mu'tazilah): Di dunia berada di posisi مَنْزِلَةٌ بَيْنَ الْمَنْزِلَتَيْنِ (di antara iman dan kufur), namun di akhirat kekal di neraka.

·         الْمُرْجِئَةُ (Murji'ah): Kemaksiatan/dosa besar sama sekali tidak merusak keimanan seseorang (imannya tetap sempurna).

قَاعِدَةُ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي التَّوْبَةِ وَالإِصْرَارِ

KAIDAH IBNU ABBAS: TAUBAT DAN KONSISTENSI DOSA

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhuma, beliau menyampaikan kaidah yang sangat monumental:

لَا كَبِيرَةَ مَعَ الِاسْتِغْفَارِ، وَلَا صَغِيرَةَ مَعَ الإِصْرَارِ

Tidak ada dosa besar jika diiringi dengan istigfar/taubat, dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan secara terus-menerus. [Atsar Riwayat Ibnu Abi Hatim & Al-Baihaqi]

Penjelasan Kaidah:

1.      «لَا كَبِيرَةَ مَعَ الِاسْتِغْفَارِ»Tidak ada dosa besar jika disertai taubat):

Sebesar apa pun dosa besar yang dilakukan seseorang, jika ia bertaubat dengan sungguh-sungguh (Taubat Nasuha)—memenuhi syarat: meninggalkan, menyesali, dan bertekad kuat tidak mengulangi—maka Allah pasti menerima taubatnya. Allah berfirman:

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ

Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya? [QS. At-Taubah: 104]

2.      «وَلَا صَغِيرَةَ مَعَ الإِصْرَارِ» (Tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus):

Para ulama berselisih pendapat mengenai apakah dosa kecil yang diulang-ulang (al-israr) dapat berubah menjadi dosa besar:

o    Pendapat 1 (Imam an-Nawawi & Sebagian Ulama): Dosa kecil dapat berubah status menjadi dosa besar apabila diulang-ulang hingga tertanam di dalam hati perasaan meremehkan dosa dan hilangnya rasa pengagungan kepada Allah.

o    Pendapat 2 (Imam asy-Syaukani & Ibnu Qayyim al-Jauziyyah): Dosa kecil tidak berubah hakekatnya menjadi dosa besar, melainkan tumpukan dosa-dosa kecil tersebut berkumpul hingga efek kebinasaannya setara/sebanding dengan dosa besar.

Post a Comment for "DEFINISI AL KABAIR & URGENSI MEMAHAMINYA"