Pembaca rahimakumullah, berikut adalah terjemahan dan penjelasan dari Mukadimah Al Kabair karya Imam Adz Dzahabi rahimahullah. Semoga bermanfaat!
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ،
وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan tidak ada
permusuhan melainkan terhadap orang-orang yang zalim.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita
Muhammad, pemimpin para rasul dan imam orang-orang yang bertakwa, serta kepada
keluarga dan para sahabatnya sekalian.
(أَمَّا
بَعْدُ) فَهَذَا كِتَابٌ مُشْتَمِلٌ عَلَى ذِكْرِ جُمَلٍ فِي الْكَبَائِرِ وَالْمُحَرَّمَاتِ
وَالمنهيَاتِ
(Adapun setelah itu) maka ini adalah sebuah kitab yang
mencakup penjelasan ringkas mengenai dosa-dosa besar, hal-hal yang diharamkan,
dan hal-hal yang dilarang.
الْكَبَائِرُ
Dosa-Dosa Besar
مَا نَهَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ عَنْهُ
فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْأَثَرِ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِينَ
(Dosa besar adalah) apa saja yang dilarang oleh Allah dan
Rasul-Nya di dalam Al-Qur'an, As-Sunnah, serta atsar (riwayat) dari para
pendahulu yang saleh (salafus shalih).
وَقَدْ ضَمِنَ اللَّهُ تَعَالَى فِي
كِتَابِهِ الْعَزِيزِ لِمَنِ اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ وَالْمُحَرَّمَاتِ أَنْ يُكَفِّرَ
عَنْهُ الصَّغَائِرَ مِنَ السَّيِّئَاتِ
Dan sungguh Allah Ta'ala telah menjamin dalam Kitab-Nya yang
mulia bagi siapa saja yang menjauhi dosa-dosa besar dan hal-hal yang
diharamkan, bahwa Dia akan menghapus kesalahan-kesalahan kecilnya,
لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿إِنْ تَجْتَنِبُوا
كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ
مُدْخَلًا كَرِيمًا﴾
Berdasarkan firman-Nya Ta'ala: "Jika kamu menjauhi
dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mekerjakannya, niscaya
Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia
(surga)." (QS. An-Nisa': 31)
فَقَدْ تَكَفَّلَ اللَّهُ تَعَالَى بِهَذَا
النَّصِّ لِمَنِ اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ
Maka Allah Ta'ala telah menjamin melalui nash (teks) ini
bagi siapa yang menjauhi dosa-dosa besar bahwa Dia akan memasukkannya ke dalam
surga.
وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ
كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ﴾
Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan (bagi) orang-orang
yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka
marah mereka memberi maaf." (QS. Asy-Syura: 37)
وَقَالَ تَعَالَى: ﴿الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ
كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ﴾
Dan Allah Ta'ala berfirman: "(Yaitu) orang-orang yang
menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, selain dari kesalahan-kesalahan
kecil. Sungguh, Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya." (QS. An-Najm: 32)
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "الصَّلَوَاتُ
الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ
لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ"
Rasulullah ﷺ
bersabda: "Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadhan ke
Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya, apabila
dosa-dosa besar dijauhi."
فَتَعَيَّنَ عَلَيْنَا الْفَحْصُ عَنِ
الْكَبَائِرِ مَا هِيَ لِكَيْ يَجْتَنِبَهَا الْمُسْلِمُونَ
Maka menjadi kewajiban bagi kita untuk meneliti dosa-dosa
besar tersebut, apa saja bentuknya, agar orang-orang Muslim dapat menjauhinya.[i]
فَوَجَدْنَا الْعُلَمَاءَ رَحِمَهُمُ
اللَّهُ تَعَالَى قَدِ اخْتَلَفُوا فِيهَا، فَقِيلَ: هِيَ سَبْعٌ
Lalu kami mendapati para ulama (semoga Allah Ta'ala
merahmati mereka) telah berbeda pendapat mengenai jumlahnya. Ada yang
berpendapat: dosa besar itu ada tujuh,
وَاحْتَجُّوا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ: "اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ"
Dan mereka berhujjah dengan sabda Nabi ﷺ: "Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan," (Sahih Bukhari:
2766).
فَذَكَرَ مِنْهَا: الشِّرْكَ بِاللَّهِ،
وَالسِّحْرَ، وَقَتْلَ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَأَكْلَ
مَالِ الْيَتِيمِ، وَأَكْلَ الرِّبَا، وَالتَّوَلِّيَ يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفَ الْمُحْصَنَاتِ
الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Maka beliau ﷺ menyebutkan di
antaranya: mempersekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah
kecuali dengan hak, memakan harta anak yatim, memakan riba, melarikan diri pada
saat perang, dan menuduh zina wanita-wanita beriman yang menjaga kehormatan
lagi lalai dari maksiat, (Sahih Bukhari: 2766).
وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا: "هِيَ إِلَى السَّبْعِينَ أَقْرَبُ مِنْهَا إِلَى السَّبْعِ"
— وَصَدَقَ وَاللَّهِ ابْنُ عَبَّاسٍ
Dan Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Dosa besar
itu lebih dekat kepada tujuh puluh daripada tujuh." Dan demi Allah, Ibn
Abbas benar!
وَأَمَّا الْحَدِيثُ فَمَا فِيهِ حَصْرُ
الْكَبَائِرِ
Adapun hadits tersebut, maka di dalamnya tidak ada
pembatasan (bahwa) dosa besar hanya tujuh.
وَالَّذِي يَتَّجِهُ وَيَقُومُ عَلَيْهِ
الدَّلِيلُ: أَنَّ مَنِ ارْتَكَبَ شَيْئًا مِنْ هَذِهِ الْعَظَائِمِ مِمَّا فِيهِ حَدٌّ
فِي الدُّنْيَا كَالْقَتْلِ وَالزِّنَا وَالسَّرِقَةِ
Dan pendapat yang tepat serta didukung oleh dalil adalah:
bahwa siapa saja yang melakukan sesuatu dari dosa-dosa besar ini, yang di
dalamnya terdapat sanksi hukum (had) di dunia seperti membunuh, berzina, dan
mencuri,
أَوْ جَاءَ فِيهِ وَعِيدٌ فِي الْآخِرَةِ
مِنْ عَذَابٍ أَوْ غَضَبٍ أَوْ تَهْدِيدٍ أَوْ لَعْنِ فَاعِلِهِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ ﷺ، فَإِنَّهُ كَبِيرَةٌ
Atau terdapat ancaman padanya di akhirat berupa azab,
kemurkaan, ancaman keras, atau kurukan bagi pelakunya melalui lisan Nabi kita
Muhammad ﷺ, maka perbuatan itu
adalah dosa besar.
وَلَا بُدَّ مِنْ تَسْلِيمِ أَنَّ بَعْضَ
الْكَبَائِرِ أَكْبَرُ مِنْ بَعْضٍ
Dan harus diakui bahwa sebagian dosa besar itu ada yang
lebih besar tingkatan dosanya daripada sebagian yang lain.
أَلَا تَرَى أَنَّهُ ﷺ عَدَّ الشِّرْكَ
بِاللَّهِ مِنَ الْكَبَائِرِ، مَعَ أَنَّ مُرْتَكِبَهُ مُخَلَّدٌ فِي النَّارِ وَلَا
يُغْفَرُ لَهُ أَبَدًا؟
Tidakkah engkau melihat bahwa beliau ﷺ memasukkan syirik (mempersekutukan Allah) ke dalam dosa-dosa
besar, padahal pelakunya dikekalkan di dalam neraka dan tidak diampuni
selama-lamanya?
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللَّهَ
لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾
Allah Ta'ala berfirman: Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari
(syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya, (QS. An-Nisa': 48).
[i]
Sebagaimana firman Allah:
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ
مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ
Katakanlah: Mari aku bacakan apa yang diharamkan atas kalian
oleh Rabb kalian, (QS. Al-An'am: 151).
Post a Comment for "MUKADIMAH: AL-KABAIR LI ADZ DZAHABI"