zmedia

Hadis Nuzulullah Sepertiga Malam Terakhir: Waktu Mustajab dan Manifestasi Rahmat-Nya


Sepertiga malam terakhir merupakan waktu paling afdal di malam hari, di mana jiwa berada dalam kondisi bersih, ibadah terasa lebih khusyuk, dan doa-doa dikabulkan. Melalui
Hadis Nuzulullah Sepertiga Malam Terakhir, kita mengetahui bahwa Allah Azza wa Jalla mengkhususkan waktu mulia ini untuk turun ke langit dunia sebagai bentuk kemurahan dan limpahan rahmat kepada hamba-hamba-Nya. Artikel ini akan membedah teks hadis sahih riwayat Imam Al-Bukhari, penjelasan kosakata (syarh al-kalimat), makna global, hingga intisari pelajaran berharga yang disarikan langsung dari Mausuatul Haditsiyah Ad-Durar As-Saniyah.

TEKS HADIS DAN TERJEMAHANNYA

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟

Rabb kita Tabaraka wa Ta'ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: 'Barang siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuknya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri kepadanya. Dan barang siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dia,’ (Sahih Al-Bukhari: 1145).

PENJELASAN KALIMAT (SYARH AL-KALIMAT)

Penjelasan kalimat (يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ) atau yang artinya (Rabb kita Tabaraka wa Ta'ala turun setiap malam) maksudnya adalah:

 هُوَ نُزُولٌ يَلِيقُ بِهِ جَلَّ جَلَالُهُ؛ فَإِنَّهُ يَجِبُ الْإِيمَانُ بِمَا وَرَدَ فِي ذَلِكَ -وَأَمْثَالِهِ- عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ غَيْرِ تَكْيِيفٍ وَلَا تَعْطِيلٍ، وَمِنْ غَيْرِ تَحْرِيفٍ وَلَا تَمْثِيلٍ.

Yaitu sebuah sifat turun yang hakiki yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah Jalla Jalaluhu. Maka wajib hukumnya mengimani apa saja yang telah warid (datang redaksinya) mengenai hal tersebut, dan ayat atau hadis sifat yang serupa, tentang Allah Azza wa Jalla tanpa melakukan takyif (menanyakan bagaimana hakikat bentuknya), tanpa ta'thil (menolak sifat tersebut), serta tanpa tahrif (menyimpangkan makna) maupun tamtsil (menyerupakannya dengan makhluk).

Syarah kalimat (إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا) atau yang artinya (Ke langit dunia) maksudnya adalah:

 وَهِيَ السَّمَاءُ الْأُولَى الْقَرِيبَةُ مِنَ الْأَرْضِ وَالْعِبَادِ.

Yaitu lapisan langit yang pertama, yang posisinya paling dekat dengan permukaan bumi dan dekat dengan para hamba.

Syarah kalimat (مَنْ يَدْعُونِي... مَنْ يَسْأَلُنِي... مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي...) atau yang artinya (Barang siapa yang berdoa... meminta... memohon ampunan...) maksudnya adalah:

 إِمَّا بِمَعْنًى وَاحِدٍ، فَذِكْرُ الثَّلَاثَةِ لِلتَّوْكِيدِ. وَإِمَّا لِأَنَّ طَلَبَ الْعَبْدِ لَا يَخْلُو مِنْ أَنْ يَكُونَ طَلَبًا لِدَفْعِ الْمَضَارِّ أَوْ جَلْبِ الْمَنَافِعِ، وَالْمَضَارُّ وَالْمَنَافِعُ إِمَّا دُنْيَوِيَّةٌ وَإِمَّا دِينِيَّةٌ؛ فَكَرَّرَ الثَّلَاثَةَ لِتَشْمَلَهَا جَمِيعَهَا.

Pilihan katanya bisa bermakna sama, sehingga penyebutan ketiga istilah tersebut berfungsi sebagai penegasan (taukid). Atau bisa juga karena kebutuhan seorang hamba tidak luput dari dua hal: meminta untuk dihindarkan dari bahaya (daf'ul madhar) atau meminta untuk didatangkan manfaat (jalbul manafi'). Adapun bahaya dan manfaat tersebut adakalanya bersifat duniawi maupun ukhrawi (keagamaan); maka diulanglah ketiga redaksi tersebut agar mencakup seluruh hajat manusia tanpa terkecuali.

HIKMAH PENGKHUSUSAN SEPERTIGA MALAM TERAKHIR

Allah Azza wa Jalla secara khusus memilih sepertiga malam terakhir sebagai waktu turun-Nya karena waktu tersebut merupakan momen terjadinya kekosongan aktivitas, waktu kelalaian manusia, waktu di mana manusia sedang terlelap tidur, serta sedang menikmati kelezatan istirahatnya. Memisahkan diri dari kelezatan dan kenyamanan tidur tentu terasa sangat berat bagi para hamba.

Oleh karena itu, siapa saja yang lebih memilih untuk bangkit menunaikan shalat guna bermunajat kepada Rabbnya, merendahkan diri memohon ampunan atas dosa-dosanya, meminta pembebasan dirinya dari siksa api neraka, serta memohon tobat di waktu yang berat ini di saat jiwanya sedang ingin dimanjakan, maka hal tersebut menjadi bukti nyata atas keikhlasan niatnya dan benarnya ketulusan cintanya terhadap apa yang ada di sisi Rabbnya.

Maka dari itu, jaminan pengabulan doa disandarkan pada momentum ini karena ia berkelindan erat dengan keikhlasan serta kejujuran niat dalam berdoa. Sebab, Allah tidak akan menerima doa dari hati yang lalai dan lengah. Di waktu inilah jiwa terbebas dari lintasan-lintasan kesibukan dunia, sehingga seorang hamba dapat meresapi keikhlasan kepada Rabbnya, dan pengabulan dari Allah Ta'ala pun terwujud sebagai bentuk kelembutan serta kasih sayang-Nya kepada makhluk.

INTISARI DAN PELAJARAN HADIS (FAWAID AL-HADITS)

Melalui tinjauan ilmiah dari rujukan utama Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah, kita dapat mengambil beberapa intisari hukum dan akidah berikut ini:

  1. Penetapan Sifat Nuzul Bagi Allah: Hadis ini menjadi dasar akidah ahlu sunnah dalam menetapkan sifat turun (nuzul) bagi Allah Ta'ala ke langit dunia pada setiap malam, dengan keimanan yang bersih dari tahrif, ta'thil, takyif, dan tamtsil.
  2. Keutamaan Sepertiga Malam Terakhir: Penjelasan yang sangat gamblang mengenai besarnya keutamaan sepertiga malam terakhir sebagai waktu emas untuk mendekatkan diri kepada Allah.
  3. Pemberian Jaminan Pengabulan Doa: Adanya janji kepastian dari Allah untuk mengabulkan doa hamba-Nya, memenuhi permintaannya, serta mengampuni dosa-dosanya bagi siapa saja yang menghidupkan waktu tersebut dengan ibadah yang tulus.
  4. Keutamaan Shalat Malam dan Istighfar: Dorongan kuat untuk memperbanyak shalat malam (qiyamul lail), memanjatkan doa, dan melantunkan istighfar pada waktu sahur demi meraih ampunan-Nya.

Secara keseluruhan, pemaparan Hadis Nuzulullah Sepertiga Malam Terakhir menggarisbawahi betapa agungnya kasih sayang Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang rela mengorbankan waktu istirahat demi bersimpuh di hadapan-Nya. Penjelasan komprehensif dari kitab Ad-Durar As-Saniyah ini membimbing kita untuk memahami akidah yang lurus sekaligus memanfaatkan momentum mustajab tersebut dengan optimal. Semoga kita semua dimudahkan untuk menjadi bagian dari hamba-hamba yang terpilih, yang diampuni dosa-dosanya dan dikabulkan hajatnya di sepertiga malam terakhir.

Post a Comment for "Hadis Nuzulullah Sepertiga Malam Terakhir: Waktu Mustajab dan Manifestasi Rahmat-Nya"