Segala puji hanya milik Allah. Selawat dan salam untuk Rasulullah ﷺ, keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikutnya.
فَهذِهِ المَسأَلَةُ مِمّا وَقَعَ فيهِ الاِختِلافُ بَينَ بَعضِ المُتَأخِّرينَ مِنَ الحَنابِلَةِ القائِلينَ بِحُرمَةِ أَن يَأخُذَ مَن يُضحّي شَيئًا مِن شَعرِهِ، أَو ظُفرِهِ، أَو بَشَرَتِهِ، إِلى أَن يَذبَحَ الأُضحِيَةَ.
Masalah ini termasuk perkara yang diperselisihkan oleh sebagian ulama Hanabilah muta’akhkhirīn, yang berpendapat haram bagi orang yang berkurban mengambil sesuatu dari rambut, kuku, atau kulitnya hingga ia menyembelih kurban.
وَلَعَلَّ الرّاجِحَ أَنَّ مَن أَرادَ أَن يُضحّي عَن غَيرِهِ لا عَن نَفسِهِ، أَنَّهُ لا يَشمَلُهُ النَّهيُ عَن أَخذِ شَيءٍ مِنَ الشَّعرِ وَالظُّفرِ.
Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa orang yang berkurban atas nama orang lain, bukan atas nama dirinya sendiri, tidak termasuk dalam larangan mengambil sesuatu dari rambut atau kuku.
Ibnu Qāsim rahimahullah berkata dalam Hāsyiyah ar-Raudh al-Murbi‘:
إِذا ضحّى عَن غَيرِهِ فَلا يَحرُم عَلَيهِ حَلقٌ وَنَحوُهُ، وَلا يُكرَه. اهـ
“Jika seseorang berkurban atas nama orang lain, maka tidak haram baginya mencukur rambut atau semisalnya, dan tidak pula makruh.”
Ibnu Jāsir rahimahullah di dalam Mufīd al-Anām mengutip Syekh ‘Utsmān bin Qāid yang berkata di dalam Hāsyiyah al-Muntahā:
وقالَ ابنُ جاسِرٍ -رَحِمَهُ اللَّهُ- في مُفيدِ الأَنامِ: قالَ الشَّيخُ عُثمانُ بنُ قائِدٍ في حاشِيَةِ المُنتَهى: قَولُهُ: مَن يُضحّي ـ ظاهِرُهُ عَن نَفسِهِ، أَو عَن غَيرِهِ، فَتَدَبَّر، وَفي صُورَةِ ما إِذا ضحّى عَن غَيرِهِ فَالظّاهِرُ مِن كَلامِهِم الحُرمَةُ عَلَيهِما مَعًا، اِنتهى.
“Ungkapan ‘orang yang berkurban’ secara lahiriah mencakup berkurban untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain. Perhatikanlah! Dalam kasus berkurban atas nama orang lain, tampak dari ucapan mereka bahwa hukumnya haram bagi keduanya.”
وَالَّذي تَحَرَّرَ لَنا هُوَ ما ذَكرنا في الفائِدَةِ الأُولى أَنَّ مَن ضحّى عَن غَيرِهِ -وَصِيًّا كانَ، أَو مُتَبَرِّعًا، أَو وَكيلًا- لا يَحرُمُ عَلَيهِ أَخذُ شَيءٍ مِن شَعرِهِ، أَو ظُفرِهِ، أَو بَشَرَتِهِ، وَإِنَّما يَحرُمُ الأَخذُ عَلى ذلِكَ الغَيرِ فَقَط. اهـ.
Kesimpulan yang kami tetapkan adalah sebagaimana disebutkan dalam faedah pertama: bahwa orang yang berkurban atas nama orang lain, baik sebagai wasiat, pemberian, atau wakil, tidak haram baginya mengambil sesuatu dari rambut, kuku, atau kulitnya. Yang terkena larangan hanyalah orang lain yang menjadi pemilik kurban tersebut. Wallahua’lam
Fatwa No: 476866
Tanggal: 21 Zulhijah 1444
Sumber: Syabakah Islamiyah
Post a Comment for "Berkurban atas Nama Orang yang Meninggal, Apakah Dilarang Potong Rambut dan Kuku?"