Pembaca, berikut adalah terjemahan dari kitab Zakat fil Islam, fi Dhaui Al Kitab wa As Sunah karya Syaikh Said bin Ali Al Qahtani. Kali ini kami sampaikan tentang zakat sebagai rukun ketiga di dalam Islam dan dekatnya zakat dan salat di dalam Quran.
Syaikh berkata:
١ - الزَّكَاةُ: الرُّكْنُ الثَّالِثُ مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ، فَهِيَ أَحَدُ مَبَانِي الْإِسْلَامِ؛ لِحَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
Zakat adalah rukun ketiga dari rukun Islam. Ia merupakan salah satu bangunan utama Islam; berdasarkan hadis dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ». وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ: «بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: عَلَى أَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَيُكْفَرَ بِمَا دُونَهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji ke Baitullah.” Dalam riwayat Muslim: “Islam dibangun di atas lima: agar Allah disembah dan mengingkari selain-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadan, (Disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim: Al-Bukhari dalam Kitab Iman, bab “Doa kalian adalah iman kalian” no. 8, dan Muslim dalam Kitab Iman, bab “Rukun Islam dan pilar-pilarnya yang agung” no. 16.).
٢ - الزَّكَاةُ: قَرِينَةُ الصَّلَاةِ فِي كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى، فَقَدْ جَمَعَ اللَّهُ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الصَّلَاةِ فِي مَوَاضِعَ كَثِيرَةٍ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ، وَهٰذَا يَدُلُّ عَلَى عِظَمِ مَكَانَتِهَا عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَعِظَمِ شَأْنِهَا، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
Zakat adalah pasangan (yang selalu berdampingan) dengan salat dalam Kitab Allah Ta‘ala. Allah telah menggabungkan keduanya di banyak tempat dalam Al-Qur’an, dan ini menunjukkan besarnya kedudukan zakat di sisi Allah ‘Azza wa Jalla serta agungnya perkaranya. Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ﴾
Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk, (QS. Al-Baqarah: 43).
Selain QS Al Baqarah 43, ada 25 ayat lain yang menyebutkan Salat dan Zakat dalam satu ayat, yaitu: QS. Al-Baqarah: 83, QS. Al-Baqarah: 110, QS. Al-Baqarah: 177, QS. Al-Baqarah: 277, QS. An-Nisa: 77, QS. An-Nisa: 162, QS. Al-Ma’idah: 12, QS. Al-Ma’idah: 55, QS. At-Taubah: 5, QS. At-Taubah: 11, QS. At-Taubah: 18, QS. At-Taubah: 71, QS. Maryam: 31, QS. Maryam: 55, QS. Al-Anbiya: 73, QS. Al-Hajj: 41, QS. Al-Hajj: 78, QS. An-Nur: 37, QS. An-Nur: 56, QS. An-Naml: 3, QS. Luqman: 4, QS. Al-Ahzab: 33, QS. Al-Mujadilah: 13, QS. Al-Muzzammil: 20, dan QS. Al-Bayyinah: 5.
وَهٰذِهِ الْآيَاتُ السَّابِقَةُ قَرَنَتْ بَيْنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ سِتًّا وَعِشْرِينَ مَرَّةً، كُلُّ مَرَّةٍ مِنْهَا فِي آيَةٍ وَاحِدَةٍ، وَتَمَامُ السَّابِعَةِ وَالْعِشْرِينَ مَرَّةً جَاءَتْ فِي سِيَاقٍ وَاحِدٍ مَعَ الصَّلَاةِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَهَا فِي آيَةٍ وَاحِدَةٍ، هِيَ قَوْلُهُ تَعَالَى:
Ayat-ayat di atas menggabungkan antara salat dan zakat sebanyak 26 kali, yang masing-masing disebut dalam satu ayat. Adapun penyempurna yang ke-27, datang dalam satu rangkaian dengan salat meskipun tidak dalam satu ayat yang sama, yaitu firman Allah Ta‘ala:
﴿قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ * الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ﴾
Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang berpaling dari perkataan yang tidak berguna, serta orang-orang yang menunaikan zakat, (QS. Al-Mu’minun: 1–4).
وَذُكِرَتِ الزَّكَاةُ مُنْفَرِدَةً عَنِ الصَّلَاةِ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، هِيَ قَوْلُهُ تَعَالَى:
Zakat disebutkan secara tersendiri (tidak disandingkan dengan salat) dalam tiga tempat dalam Al-Qur’an, yaitu firman Allah Ta‘ala:﴿وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ﴾
Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, maka akan Aku tetapkan rahmat itu bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, (QS. Al-A‘raf: 156).
Dan firman-Nya:
﴿وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ﴾
Dan apa saja zakat yang kamu berikan dengan maksud memperoleh keridaan Allah, maka merekalah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya), (QS. Ar-Rum: 39).
Dan firman-Nya:
﴿وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ * الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ﴾
Dan celakalah bagi orang-orang musyrik, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka ingkar terhadap kehidupan akhirat, (QS. Fussilat: 6–7).
فَهٰذِهِ ثَلَاثُونَ مَرَّةً ذُكِرَتْ فِيهَا الزَّكَاةُ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ
Maka ini berjumlah tiga puluh kali penyebutan zakat di dalam Al-Qur’an yang mulia.
Disebutkan dalam Al-Mu‘jam Al-Mufahras li Alfaz Al-Qur’an Al-Karim sebanyak 32 kali, namun dua di antaranya datang dengan makna yang berbeda, yaitu firman Allah Ta‘ala:
خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً
yang lebih baik darinya (dalam kesucian), (QS. Al-Kahf: 81),
Dan firman-Nya:
وَحَنَانًا مِنْ لَدُنَّا وَزَكَاةً
serta kasih sayang dari sisi Kami dan kesucian, (QS. Maryam: 13), (Lihat: Al-Mu‘jam Al-Mufahras karya Muhammad Fuad Abdul Baqi, hlm. 331–332).
وَقَدْ جَاءَتْ كَلِمَةُ الصَّدَقَةِ وَالصَّدَقَاتِ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ مَرَّةً، مِنْهَا قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا﴾
Kata “sedekah” dan “sedekah-sedekah” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 12 kali, di antaranya firman Allah Ta‘ala: “Ambillah dari harta mereka sedekah yang dapat membersihkan dan menyucikan mereka dengannya,” (QS. At-Taubah: 60).
وَقَدْ جَاءَتِ الزَّكَاةُ فِي الْقُرْآنِ بِأَلْفَاظٍ غَيْرِ أَلْفَاظِ الزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ * وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ * لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ﴾
Zakat dalam Al-Qur’an juga disebut dengan lafaz selain kata “zakat” dan “sedekah”, seperti firman Allah Ta‘ala: “(yaitu) orang-orang yang tetap melaksanakan salatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya terdapat hak yang telah ditentukan, bagi orang yang meminta dan orang yang tidak mendapatkan bagian,” (QS. Al-Ma‘arij: 23–25).
Dan firman-Nya:
﴿الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾
“(yaitu) orang-orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan,” (QS. Ali ‘Imran: 134).
Dan firman-Nya:
﴿وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ﴾
“Dan tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin,” (QS. Al-Haqqah: 34).
وَغَيْرُ ذٰلِكَ مِنَ الْأَلْفَاظِ الَّتِي تَدُلُّ عَلَى أَهَمِّيَّةِ الزَّكَاةِ وَعِظَمِ مَنْزِلَتِهَا فِي الْإِسْلَامِ.
Dan selain itu masih banyak lafaz lainnya yang menunjukkan pentingnya zakat dan agungnya kedudukannya dalam Islam.
Post a Comment for "Dekatnya Zakat dan Salat di dalam Quran"