zmedia

MAUSUATUL AKHLAK: JIDDIYAH (BERSUNGGUH-SUNGGUH)

Pembaca rahimakumullah, apa yang dimaksud dengan akhlak jiddiyah atau bersungguh-sungguh? Berikut adalah terjemahan ringkasan Mausuatul Akhlak Dorar Saniyah bab Jiddiyah. Semoga bermanfaat!

التَّرغيبُ في الجِدِّيَّةِ من القُرآنِ الكريمِ

ANJURAN JIDDIYAH DARI AL QURAN

Allah ta’ala berfirman:

وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الْأَلْوَاحِ مِن كُلِّ شَيْءٍ مَّوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِّكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ

Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan kuat,” (QS Al A’raf: 145).

Ibnu Abbas berkata, “Yang dimaksud dengan ‘biquwwah’ adalah بجِدٍّ وحَزمٍ atau dengan sungguh-sungguh dan teliti,” (Tafsir Ibnu Abi Hatim: 5/1565).

Allah ta’ala berfirman:

يَايَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

Wahai Yahya, ambillah Kitab (Taurat) dengan sungguh-sungguh, dan Kami telah memberinya hikmah ketika masih kecil, (QS. Maryam: 12).

Tertulis di dalam Tafsir Muharar Dorar Saniyah tentang ayat ini:

خُذِ التَّوْرَاةَ بِجِدٍّ وَاجْتِهَادٍ وَعَزْمٍ؛ فَهْمًا لِمَعَانِيهَا، وَعَمَلًا بِمَا فِيهَا، وَحَمْلًا لِلنَّاسِ عَلَى اتِّبَاعِهَا

Ambillah Taurat dengan kesungguhan, usaha keras, dan tekad kuat; dengan memahami maknanya, mengamalkan isinya, serta mengajak manusia untuk mengikutinya.

Alah ta’ala berfirman:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari kalian dan Kami angkat gunung di atas kalian: Ambillah apa yang Kami berikan kepada kalian dengan kuat, (QS. Al-Baqarah: 63)

Az-Zajjaj berkata tentang makna “biquwwah” (dengan kuat):

بِقُوَّةٍ، أَيْ: خُذُوهُ بِجِدٍّ، وَاتْرُكُوا الرَّيْبَ وَالشَّكَّ

Dengan kekuatan, maksudnya ambillah dengan keseriusan, dan tinggalkan keragu-raguan serta kebimbangan, (Ma’ani Al Quran wa i’rabiha: 1/148).

التَّرغيبُ في الجِدِّيَّةِ من السُّنَّةِ النَّبَويَّةِ

ANJURAN JIDDIYAH DALAM SUNAH NABI

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Segeralah beramal sebelum datang fitnah-fitnah (cobaan) seperti potongan malam yang gelap gulita. Seseorang di pagi hari masih beriman, namun di sore hari menjadi kafir; atau di sore hari beriman, lalu di pagi hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi sedikit keuntungan dunia, (Sahih Muslim: 118).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada masing-masing ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah, (Sahih Muslim: 2664).

التَّرغيبُ في الجِدِّيَّةِ مِن أقوالِ السَّلفِ والعُلَماءِ

ANJURAN JIDDIYAH DARI PARA SALAF

Al Hakim At Tirmizi berkata:

مِنَ الحَزْمِ أَنْ يَقطَعَ عَنهُ الشَّهَواتِ، وَأَنْ يَنظُرَ إِلَى كُلِّ شَيءٍ مِنْ أُمُورِ الآخِرَةِ يَحمِلُ عَنهُ الهَوَى أَنْ يَنتَقِلَ عَنهُ إِلَى ضِدِّهِ مِمَّا لَيسَ لَهُ فِيهِ هَوًى

Termasuk sikap bijaksana adalah memutuskan diri dari syahwat (nafsu), serta memandang setiap perkara akhirat dengan dorongan untuk meninggalkan hawa nafsu, lalu berpindah kepada lawannya, yaitu sesuatu yang tidak ada kecenderungan hawa nafsu di dalamnya, (Al-Amtsāl min al-Kitābi wa as-Sunnah: 153).

Dikatakan pula oleh sebagian orang bijak:

مَا الحَزْمُ؟ قَالَ: الصَّبْرُ عَلَى العَاجِلِ، وَالتَّأَنِّي فِي الآجِلِ

Apa itu sungguh-sungguh? Ia menjawab: Bersabar terhadap sesuatu yang segera (menghadapi hal-hal yang mendesak), dan berhati-hati serta tenang dalam perkara yang akan datang, (al-Amtsāl wa al-Ḥikam lil Mawardi: 106).

معنى الجِدِّيَّةِ لُغةً واصطِلاحًا

MAKNA JIDDIYAH SECARA BAHASA DAN ISTILAH

Al Jiddiyah secara bahasa bermakna:

الاجتِهادُ في الأمرِ

Bersungguh-sungguh dalam suatu urusan.

Secara istilah, jiddiyah artinya:

الاهتِمامُ بِالأُمُورِ وَالاجتِهَادُ وَالنَّظَرُ فِيهَا، وَالصِّدقُ فِي القِيَامِ بِهَا عَلَى أَكمَلِ وَجهٍ، وَالسُّرعَةُ فِي إِنجَازِهَا

Penuh perhatian, kesungguhan dan pemikiran dalam menekuninya suatu urusan, jujur dalam melaksanakannya dan dengan cara yang paling sempurna, serta cepat dalam menyelesaikannya, (al-Furūq al-Lughawiyyah li al-‘Askari: 256).

فوائِدُ الجِدِّيَّةِ

FAIDAH JIDDIYAH

Berikut adalah buah apabila kita mengamalkan akhlak jiddiyah:

الفَوزُ بالجنَّةِ والنَّجاةُ من النَّارِ

1 – Kemenangan berupa masuk surga dan keselamatan dari neraka.

نَيلُ الأجورِ المترتِّبةِ على الأعمالِ

2 – Meraih pahala yang ditetapkan atas amal perbuatan.

شَغلُ الأوقاتِ بالأمورِ النَّافعةِ المفيدةِ

3 – Mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat dan berguna.

تحقيقُ المرءِ أهدافَه وغاياتِه وارتِفاعُ مكانتِه

4 – Tercapainya tujuan dan cita-cita seseorang serta meningkatnya kedudukannya.

التَّخَلُّصُ من أسْرِ الشَّيطانِ وكيدِه

5 – Terlepas dari belenggu dan tipu daya setan.

التَّخَلِّي عن الصِّفاتِ المرذولةِ، كالكَسَلِ والإهمالِ، والتَّواني واللَّامبالاةِ

6 – Meninggalkan sifat-sifat tercela, seperti malas, lalai, menunda-nunda, dan acuh tak acuh.

صلاحُ المجتَمَعاتِ وارتِقاءُ الأُمَمِ

7 – Baiknya masyarakat dan majunya bangsa-bangsa.

عَدَمُ الشُّعورِ بالنَّدَمِ

8 – Tidak merasakan penyesalan.

نماذِجُ من صُوَرِ الجِدِّيَّةِ والحَزمِ عِندَ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم

CONTOH SUNGGUH-SUNGGUHNYA NABI ﷺ

Berikut adalah contoh tetang sungguh-sungguhnya Nabi ﷺ dalam urusan jihad fi sabilillah dan pelaksanaannya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ka’ab bin Malik Radhiyallahu Anhu yang berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَلَّمَا يُرِيدُ غَزْوَةً يَغْزُوهَا إِلَّا وَرَّى بِغَيْرِهَا حَتَّى كَانَتْ غَزْوَةُ تَبُوكَ فَغَزَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ وَاسْتَقْبَلَ سَفَرًا بَعِيدًا وَمَفَازًا وَاسْتَقْبَلَ غَزْوَ عَدُوٍّ كَثِيرٍ فَجَلَّى لِلْمُسْلِمِينَ أَمْرَهُمْ لِيَتَأَهَّبُوا أُهْبَةَ عَدُوِّهِمْ وَأَخْبَرَهُمْ بِوَجْهِهِ الَّذِي يُرِيدُ

Rasulullah ﷺ jarang sekali bermaksud melakukan suatu peperangan melainkan beliau menyamarkannya dengan (menyebut) tujuan lain. Hingga tiba waktunya Perang Tabuk, Rasulullah ﷺ melaksanakannya di musim panas yang sangat menyengat, harus menempuh perjalanan yang sangat jauh dan padang pasir yang luas, serta menghadapi musuh dengan jumlah yang besar. Maka, beliau menjelaskan perkara tersebut secara terang-terangan kepada kaum muslimin agar mereka dapat bersiap-siap dengan persiapan yang semestinya untuk menghadapi musuh mereka, dan beliau memberitahukan arah tujuan yang hendak dituju, (Sahih Bukhari: 2948).

Imam Bukhari meriwayatkan Ibnu Umar Radhiyalahu Anhuma yang berkata:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ فَأَدْرَكَ بَعْضُهُمْ الْعَصْرَ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا نُصَلِّي حَتَّى نَأْتِيَهَا وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ نُصَلِّي لَمْ يُرِدْ مِنَّا ذَلِكَ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

Nabi ﷺ bersabda pada hari (perang) Ahzab: 'Janganlah ada satu pun yang mengerjakan salat Asar kecuali di perkampungan Bani Quraizah.' Lalu, waktu Asar tiba ketika sebagian sahabat masih di tengah perjalanan. Sebagian mereka berkata: 'Kita tidak akan salat sampai kita tiba di sana.' Namun, sebagian lainnya berkata: 'Bahkan, kita harus salat (sekarang), karena beliau tidak bermaksud (melarang kita salat di jalan) seperti itu.' Hal tersebut kemudian diceritakan kepada Nabi ﷺ, dan beliau tidak menegur (menyalahkan) satu pun dari kedua kelompok tersebut, (Sahih Bukhari: 1149).

الوسائِلُ المُعينةُ على اكتِسابِ الجِدِّيَّةِ

SARANA MELATIH AKHLAK JIDDIYAH

Berikut adalah cara-cara untuk melatih akhlak jiddiyah:

أن يَعلَمَ أنَّ اللهَ سُبحانَه لم يخلُقْه عَبَثًا

1 – Menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menciptakannya secara sia-sia

معرفةُ الغايةِ التي من أجْلِها خُلِق الإنسانُ

2 – Mengetahui tujuan diciptakannya manusia

أن يَعلَمَ أنَّ اللهَ سُبحانَه وَصَف كتابَه العزيزَ بالجِدِّ الذي لا هَزْلَ فيه

3 – Mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menyifati kitab-Nya yang mulia dengan kesungguhan yang tidak ada senda gurau di dalamnya

أن يَعلَمَ أنَّ حياةَ المُسلِمِ حياةُ جِدٍّ لا فَراغَ فيها

4 – Menyadari bahwa kehidupan seorang muslim adalah kehidupan yang penuh kesungguhan tanpa ada kekosongan

تذَكُّرُ الموتِ، وسُرعةُ انقِضاءِ الدُّنيا

5 – Mengingat kematian dan cepatnya dunia berakhir

موانِعُ اكتسابِ الجِدِّيَّةِ

PENGHALANG MEMILIKI AKHLAK JIDDIYAH

Berikut adalah beberapa penghalag akhlak jiddiyah:

التَّسَرُّعُ، وعَدَمُ النَّظَرِ في العواقِبِ

1 – Ketergesa-gesaan dan kurangnya pertimbangan terhadap dampak yang akan terjadi

ضَعفُ الصَّبرِ على القيامِ بالتَّكاليفِ الدِّينيَّةِ أو الدُّنيويَّةِ

2 – Lemahnya kesabaran dalam menjalankan kewajiban agama maupun urusan duniawi

عَدَمُ وُضوحِ الهَدَفِ

3 – Ketidakjelasan tujuan

ضَعفُ الإرادةِ التي تقعُدُ بالإنسانِ عن الاجتهادِ والجِدِّ فيما يقومُ به

4 – Lemahnya tekad yang menghambat seseorang untuk bersungguh-sungguh dan serius dalam melakukan sesuatu

إضاعةُ الأوقاتِ فيما لا ينفَعُ

5 – Menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Wallahua’lam

Demikian penjelasan tentang akhlak jiddiyah atau bersungguh-sungguh. Semoga bermanfaat!

Karangasem, 4 Februari 2026

Irfan Nugroho (Pengelola situs Mukminun.com)

Post a Comment for "MAUSUATUL AKHLAK: JIDDIYAH (BERSUNGGUH-SUNGGUH)"