zmedia

ARBAIN NAWAWI 40: DUNIA ADALAH SARANA DAN LADANG UNTUK AKHIRAT

Pembaca rahimakumullah, berikut adalah penjelasan dan pelajaran dari hadis 40 Arbain Nawawi tentang dunia adalah sarana dan ladang untuk akhirat. Berikut adalah terjemahan dan ringkasan dari kitab Tuhfatu Saniyah Syarh Arbain Nawawiyah karya Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani hafizahullah. Semoga bermanfaat!

MATAN HADIS DUNIA ADALAH SARANA DAN LADANG UNTUK AKHIRAT

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ بِمَنْكِبِي، فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ memegang pundakku, lalu bersabda: “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau pengembara (penyeberang jalan).”

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ، فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Dan Ibnu Umar senantiasa berkata: “Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari. Jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan gunakanlah masa hidupmu sebelum datang kematianmu,” (Sahih Bukhari: 6414).

PENJELASAN HADIS

Berikut adalah penjelasan terhadap beberapa kata atau frasa yang terdapat di dalam hadis nomor 40 Arbain Nawawi tentang dunia adalah sarana dan ladang untuk akhirat:

1 – Sabda Nabi (بِمَنْكِبِي) bermakna:

 أَيْ بِمَجْمَعِ الْعَضُدِ، وَالْكَتِفِ

Artinya: yaitu pada pertemuan antara pangkal lengan atas dan bahu.

2 – Sabda Nabi (كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ) bermakna:

 أَيْ لَا يَجِدُ مَنْ يَسْتَأْنِسُ بِهِ

Artinya: yaitu seseorang yang tidak mendapati kawan untuk merasa betah/nyaman (merasa asing).

3 - Sabda Nabi (أَوْ) bermakna:

 أَيْ بَلْ

Artinya: bahkan.

4 - Sabda Nabi (عَابِرُ سَبِيْلٍ) bermakna:

 أَيْ مَارٌّ فِي طَرِيْقٍ، طَالِبٌ وَطَنَهُ

Artinya: yaitu orang yang melintasi jalan untuk mencari tanah airnya.

Penjelasan ini menunjukkan peningkatan derajat dari sekadar "orang asing" yang mungkin menetap di negeri asing, menuju "pengembara" yang tidak menetap sama sekali.

5 – Sabda Nabi (فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ) bermakna:

 أَيْ لَا تُؤَخِّرْ عَمَلَ اللَّيْلِ إِلَى الصَّبَاحِ

Artinya: yaitu janganlah menunda amal di malam hari hingga datangnya waktu pagi.

6 – Sabda Nabi (فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ) bermakna:

 أَيْ لَا تُؤَخِّرْ عَمَلَ الصَّبَاحِ إِلَى الْمَسَاءِ؛ لِأَنَّ لِكُلِّ مِنَ الصَّبَاحِ، وَالْمَسَاءِ عَمَلًا يَخُصُّهُ

Artinya: yaitu janganlah menunda amal di pagi hari hingga datangnya waktu sore; karena setiap waktu pagi dan sore memiliki amalan khusus masing-masing.

7 - Sabda Nabi (وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ) bermakna:

 أَيْ اغْتَنِمِ الْعَمَلَ حَالَ الصِّحَّةِ، فَإِنَّهُ رُبَّمَا عَرَضَ مَرَضٌ يَمْنَعُكَ مِنْهُ

Artinya: yaitu manfaatkanlah waktu untuk beramal saat dalam kondisi sehat, karena bisa jadi datang penyakit yang menghalangimu untuk beramal.

8 - Sabda Nabi (وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ) bermakna:

 أَيْ اعْمَلْ فِي حَيَاتِكَ مَا تَلْقَى نَفْعَهُ بَعْدَ مَوْتِكَ

Artinya: yaitu beramallah di masa hidupmu dengan amalan yang manfaatnya akan engkau petik setelah kematianmu.

PELAJARAN DARI HADIS

Berikut adalah beberapa poin pelajaran yang bisa diambil dari hadis nomor 40 Arbain Nawawi tentang dunia adalah sarana dan ladang untuk akhirat:

مَشْرُوعِيَّةُ الِابْتِدَاءِ بِالنَّصِيْحَةِ، وَالْإِرْشَادِ لِمَنْ لَمْ يَطْلُبْ ذَلِكَ

1 – Disyariatkan untuk memulai pemberian nasihat dan petunjuk kepada seseorang meskipun ia tidak memintanya.

الْحَثُّ عَلَى الزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا

2 – Dorongan untuk bersikap zuhud (tidak mementingkan kemewahan) di dunia.

كُلُّ مَنْ فِي الدُّنْيَا ضَيْفٌ، وَمَا فِي يَدِهِ عَارِيَةٌ، وَالضَّيْفُ مُرْتَحِلٌ، وَالْعَارِيَةُ مَرْدُودَةٌ

3 – Setiap orang di dunia ini hanyalah tamu, dan apa yang ada di tangannya hanyalah titipan; tamu pasti akan pergi berlalu, dan titipan pasti akan dikembalikan.

الْحَثُّ عَلَى الْمُبَادَرَةِ بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ

4 – Dorongan untuk bersegera dalam melakukan amal saleh.

الْحَثُّ عَلَى الِاسْتِعْدَادِ لِلْمَوْتِ بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ

5 – Dorongan untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan amal saleh.

الْحَثُّ عَلَى اغْتِنَامِ الصِّحَّةِ، خَوْفًا مِنْ حُلُولِ مَرَضٍ يَمْنَعُهُ مِنَ الْعَمَلِ

6 – Dorongan untuk memanfaatkan masa sehat karena khawatir datangnya penyakit yang dapat menghalangi seseorang untuk beramal.

الْمُؤْمِنُ يَنْظُرُ إِلَى الدُّنْيَا كَأَنَّهَا مَمَرٌّ يَمُرُّ مِنْهُ إِلَى الْآخِرَةِ

7 – Seorang mukmin memandang dunia seolah-olah hanya sebuah jalan perlintasan yang ia lalui menuju akhirat.

تَقْرِيرُ الْإِيْمَانِ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ

8 – Penetapan atau penegasan iman kepada Hari Akhir.

FAIDAH TAMBAHAN

Faidah: Di antara konsekuensi keterasingan bagi seorang asing ada beberapa hal:

1 – Ia tidak menetap di negeri yang ia lalui. Demikian pula seorang mukmin, ia tidak menetap (selamanya) di dunia.

2 – Ia merasa cukup dengan sedikit perbekalan. Demikian pula seorang mukmin, ia merasa cukup dengan sedikit dari kesenangan dunia.

3 – Tidak menyaingi penduduk negeri tersebut dalam urusan dunia mereka; karena tekadnya terikat pada jalan di hadapannya. Demikian pula seorang mukmin, ia tidak menyaingi manusia dalam urusan dunia mereka, melainkan tekadnya terpaku pada akhirat dan persiapan untuk apa yang ada di depannya.

4 – Kesiapannya untuk melakukan perjalanan sewaktu-waktu. Demikian pula seorang mukmin, ia selalu siap untuk bertemu Tuhannya kapan pun Allah Subhanahu wa Ta'ala berkehendak.

5 – Orang asing tidak bersedih karena kehilangan sesuatu dari dunia; karena hal itu tidaklah penting baginya. Demikian pula seorang mukmin, ia tidak bersedih karena kehilangan perkara dunia dengan kesedihan yang memutuskannya dari amal dan urusan akhiratnya.

6 – Orang asing tidak merasa tenang (sepenuhnya) sampai keterasingannya berakhir dengan sampai ke tempat yang ia tuju. Demikian pula seorang mukmin, ia tidak akan merasa tenang sampai Allah dengan karunia-Nya menyampaikannya ke negeri kemuliaan-Nya (surga).

7 – Orang asing menjadikan masa tinggalnya di negeri tersebut sebagai penunjang untuk menempuh perjalanannya; ia membekali diri dengan air, makanan, dan istirahat agar bisa melanjutkan perjalanan. Demikian pula seorang mukmin, ia menjadikan dunia sebagai penunjang perjalanannya menuju negeri akhirat; ia membekali diri dengan amal-amal saleh untuk membantunya dalam perjalanan tersebut.

Demikian penjelasan dan pelajaran yang bisa diambil dari hadis Arbain Nawawi 40 tentang dunia adalah sarana dan ladang untuk akhirat yang kami terjemahkan dari kitab Tuhfatus Saniyah karya Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani hafizahullah. Semoga bermanfaat!

Karangasem,  5 Februari 2026

Irfan Nugroho (Pengelola situs Mukminun.com dan channel YouTube Mukminun TV)

Post a Comment for "ARBAIN NAWAWI 40: DUNIA ADALAH SARANA DAN LADANG UNTUK AKHIRAT"