zmedia

ARBAIN NAWAWI 41: MENGIKUTI NABI ﷺ

Pembaca rahimakumullah, berikut adalah penjelasan dan pelajaran dari hadis 41 Arbain Nawawi tentang mengikuti Nabi ﷺ. Berikut adalah terjemahan dan ringkasan dari kitab Tuhfatu Saniyah Syarh Arbain Nawawiyah karya Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani hafizahullah. Semoga bermanfaat!

MATAN HADIS MENGIKUTI NABI ﷺ

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”

حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ، رَوَيْنَاهُ فِي كِتَابِ «الْحُجَّةِ» بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ.‏

Hadis ini shahih, kami riwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang sahih, (HR Al Asbahani di dalam Al Hujjah: 103).

PENJELASAN HADIS

Berikut adalah penjelasan terhadap beberapa kata atau frasa yang terdapat di dalam hadis nomor 41 Arbain Nawawi tentang mengikuti Nabi ﷺ:

1 – Sabda Nabi (لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ) bermakna:

 أَيِ الْإِيْمَانَ الْكَامِلَ

Artinya: yaitu (tidak sempurna) iman yang kamil (sempurna).

2 - Sabda Nabi (هَوَاهُ) bermakna:

 أَيْ مَا تُحِبُّهُ، وَتَمِيْلُ نَفْسُهُ إِلَيْهِ

Artinya: yaitu apa yang ia cintai dan apa yang jiwanya cenderung kepadanya.

3 – Sabda Nabi (تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ) bermakna:

 أَيْ مِنْ هَذِهِ الشَّرِيْعَةِ

Artinya: yaitu mengikuti apa yang ada di dalam syariat ini.

PELAJARAN DARI HADIS

Berikut adalah beberapa poin pelajaran yang bisa diambil dari hadis nomor 41 Arbain Nawawi tentang mengikuti Nabi ﷺ:

وُجُوْبُ الِانْقِيَادِ لِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ ﷺ كُلُّهُ

1 – Wajibnya tunduk dan patuh terhadap seluruh ajaran yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

لَا يَتِمُّ إِيْمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ ﷺ

2 – Tidak sempurna iman seorang hamba hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

اَلْإِيْمَانُ يَزِيْدُ بِال طَّاعَةِ، وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ

3 – Iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

FAIDAH TAMBAHAN

FAIDAH 1

Hadis ini mengandung penguatan terhadap firman Allah Ta'ala:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikanmu (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapati keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya, (QS. An-Nisa: 65).

Juga firman Allah Ta'ala:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata, (QS. Al-Ahzab: 36).

Serta sabda Nabi ﷺ:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ، وَوَلَدِهِ، وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

Tidak (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia, (Sahih Bukhari:15. Sahih Muslim: 44).

FAIDAH 2

Tidak sempurna iman seseorang kepada Nabi ﷺ kecuali dengan mewujudkan lima hal:

1 – Membenarkan semua kabar dari beliau

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya; Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), (QS An Najm: 3-4).

2 – Mengamalkan apa yang beliau perintahkan

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ

Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah, (QS An Nisa:64).

Tetapi hal ini terikat dengan kemampuan.

3 – Menjauhi apa yang beliau larang

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya, (QS Al Hasyr: 7).

4 – Menyerupai beliau secara lahir dan batin

Allah ta’ala berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah, (QS Al Ahzab: 21).

5 – Berselawat ketika nama beliau disebut

Imam At-Tirmizi meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Orang yang bakhil adalah orang yang ketika disebut namaku di hadapannya, tetapi dia tidak berselawat untukku, (Jami At Tirmizi: 3546).

Demikian penjelasan dan pelajaran yang bisa diambil dari hadis Arbain Nawawi 41 tentang mengikuti Nabi ﷺ yang kami terjemahkan dari kitab Tuhfatus Saniyah karya Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani hafizahullah. Semoga bermanfaat!

Karangasem,  5 Februari 2026

Irfan Nugroho (Pengelola situs Mukminun.com dan channel YouTube Mukminun TV)

Post a Comment for "ARBAIN NAWAWI 41: MENGIKUTI NABI ﷺ"