zmedia

Membangun Kembali Aceh dan Sumatera

Ketika Aceh Memanggil: Tanggung Jawab Iman di Hadapan Bencana

Subtema: Dari Tanggap Darurat Menuju Rekonstruksi – Menguatkan Kepedulian Berjangka Panjang

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah ﷻ, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

SIKAP SEORANG MUSLIM SAAT TERJADI BENCANA

Pembaca rahimakumullah, sikap seorang muslim ketika terjadi bencana ada dua macam:

JIKA BENCANA MENIMPA DIRI SENDIRI

Apabila bencana menimpa diri kita sendiri, maka sikap yang seharusnya kita lakukan adalah tafakur, merenung, dan memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa kita, lalu bertaubat kepada Allah. Coba perhatikan firman Allah ta’ala:

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ

Dan musibah apa pun yang menimpa kalian, itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah sudah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian), (QS Asy-Syuura: 30).

Tertulis di dalam Mushaf Tadabur wal Amal tentang ayat ini:

تَذَكَّرْ مُصِيْبَةً وَقَعَتْ لَكَ ثُمَّ أَكْثِرْ مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ مُسْتَحْضِرًا قَوْلَهُ تَعَالَى

Ingatlah satu musibah yang pernah menimpa diri Anda, kemudian perbanyaklah membaca istighfar (memohon ampunan) seraya menghadirkan (di dalam hati) firman Allah Ta'ala ini.

Inilah sikap seorang muslim jika bencana itu menimpa dirinya sendiri. Ia ingat dosa-dosa yang dia lakukan, ia memohon ampunan kepada Allah, kemudian ia bertaubat kepada Allah. Sekali lagi ini jika bencana itu menimpa dirinya sendiri.

JIKA BENCANA MENIMPA ORANG LAIN

Lalu bagaimana sikap seorang muslim apabila bencana menimpa orang lain? Pada kondisi seperti ini, kurang pantas jika seorang muslim justru mengungkit-ungkit dosa orang yang sedang terkena bencana, menuding bahwa bencana yang ia terima itu akibat dosa-dosanya; karena yang harus dilakukan seorang muslim ketika orang lain tertimpa bencana adalah sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَالَّذِينَ آوَوا وَّنَصَرُوا أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang hira), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia, (QS Al-Anfal: 74).

Juga, perhatikan firman Allah:

أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (١٤) يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ (١٥) أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ (١٦)

(14) atau memberi makan pada hari kelaparan, (15) (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, (16) atau orang miskin yang sangat fakir, (QS Al-Balad: 14-16).

Ya, ketika orang lain tertimpa musibah, yang seharusnya kita lakukan adalah 1) memberinya tempat tinggal (apalagi jika mereka harus mengungsi/hijrah), 2) menolongnya, dan 3) memberinya makan.

MISI KEMANUSIAAN DI GAYO LUES

Pembaca rahimakumullāh, izinkan saya berdiri di hadapan antum semua bukan sekadar sebagai penceramah, tetapi sebagai saksi mata—saksi dari apa yang saya lihat, saya dengar, dan saya rasakan langsung di lapangan bencana Aceh dan Sumatera.

Saya baru saja kembali dari Gayo Lues dan Bireuen, menjalankan amanah sebagai Tim Al-Qoyyim Sigap, melakukan:

- asesmen lapangan,

- penyaluran bantuan tahap awal, dan

- koordinasi dengan BPBD, Dinkes, TNI, serta lembaga lokal.

Apa yang saya sampaikan malam ini bukan cerita media, tetapi realita yang masih berlangsung hingga hari ini.

ACEH BUKAN HANYA TERKENA BANJIR, TAPI TERPUTUS DARI KEHIDUPAN

Pembaca yang dimuliakan Allah, di Kabupaten Gayo Lues, khususnya Kecamatan Pining, banjir dan longsor tidak hanya merobohkan rumah, tetapi memutus akses hidup.

Saya sampaikan fakta lapangan pada 22 Desember 2025 (ketika kami masih di sana):

- 95 jembatan rusak berat/putus

- 34 ruas jalan putus total

- 2.997 hektar lahan pertanian rusak

- 4.800 rumah rusak

- 109.000 masyarakat terdampak

- 33.818 jiwa mengungsi

- Warga harus berjalan kaki 10 jam sekali jalan, bahkan 20 jam pulang–pergi hanya untuk menjemput bantuan

- Ada desa yang tinggal kurang dari 20 rumah dari ratusan rumah sebelumnya

- Banyak pemukiman harus direlokasi karena berada di bibir sungai

Di Kabupaten Bireuen, kondisinya berbeda:

- Jalan masih bisa ditembus

- Tapi rumah-rumah terendam lumpur setinggi leher

- WC rusak, air bersih tidak ada

- Obat-obatan hampir habis

- Warga mengungsi berminggu-minggu tanpa kepastian

Hadirin, bencana ini belum selesai, hanya saja kamera media sudah pergi.

KESAKSIAN LAPANGAN: WAJAH-WAJAH SABAR YANG MENGAJARKAN IMAN

Izinkan saya menyampaikan satu kesaksian.

Di Kecamatan Pining, saya bertemu seorang ibu bernama Asmidar. Beliau berjalan 8 jam sekali jalan membawa bantuan di pundaknya. Artinya, 16 jam berjalan kaki hanya untuk makan beberapa hari.

Ketika saya tanya, “Bu, apa yang paling ibu butuhkan sekarang?”

Beliau tidak menjawab, “beras” atau “uang”. Beliau menjawab, “Kami butuh jalan, Pak… supaya hidup bisa jalan lagi.”

Hadirin, di sinilah saya sadar, "Bantuan darurat itu penting, tapi tidak cukup. Kalau hanya kirim sembako, besok habis. Kalau akses tidak dibangun, penderitaan akan berulang."

DARI TANGGAP DARURAT MENUJU AMAL JARIYAH

Pembaca rahimakumullah, Rasulullah ﷺ bersabda:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Allah akan terus menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya.” (Sahih Muslim: 2699)

Hari ini Aceh tidak hanya butuh: makanan, tetapi air bersih & sanitasi, kesehatan & obat-obatan, tenaga kebersihan, pemulihan psikologis dan rekonstruksi jangka panjang

Inilah ladang amal jariyah kita: membangun WC, membersihkan sekolah & masjid, membantu relokasi, memulihkan kehidupan.

AL-QOYYIM SIGAP: HADIR, TERUKUR, & BERKELANJUTAN

Melalui LAZ Al-Qoyyim, kami tidak datang sendiri, kami bekerja dengan:
  • BPBD Gayo Lues & Bireuen
  • Dinas Kesehatan / HEOC
  • TNI–Polri
  • Pesantren Bunayya
  • Yayasan Nurhayati Sahali
  • dan komunitas lokal
Bantuan tahap awal sudah berjalan, tetapi PR terbesar justru ada di depan kita: ➡️ rehabilitasi dan rekonstruksi Dan inilah yang tidak bisa ditanggung oleh Aceh sendirian.

SERUAN MEMBANGUN KEMBALI ACEH & SUMATERA

Hadirin yang Allah muliakan, jika hari ini Allah memberi kita:
  • harta,
  • kesehatan,
  • kemudahan akses,
maka di sanalah amanah itu dititipkan. Mari kita ambil bagian, bukan hanya sebagai penonton bencana, tetapi sebagai pelaku kebaikan.

A – BANTU MEREKA SEKARANG JUGA

Sisihkan harta Anda untuk membantu mereka saat ini. Saat ini mereka masih butuh bahan pangan. Salurkan saat ini juga melalui https://donasi.alqoyyim.com/bencanasumatera, atau melalui petugas LAZ Al-Qoyyim yang ada di sekitar Anda.

Allah ta’ala menjadikan memberi makan sebagai salah satu tanda kesempurnaan iman dalam firmanNya:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا (٨) إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا (٩)

(8) Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (9) (Sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu,” (QS Al-Insan: 8-9).

Allah menjadikan memberi makan sebagai salah satu tanda keselamatan dari kekafiran di dalam firmanNya:

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Salah satu sifat orang yang mendustakan agama adalah tidak mengajak orang untuk memberi makan orang miskin, (QS Al-Maun: 3).

Allah juga memerintahkan untuk memberi bantuan logistik atau pangan di dalam firmanNya:

أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (١٤) يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ (١٥) أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ (١٦)

(14) atau memberi makan pada hari kelaparan, (15) (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, (16) atau orang miskin yang sangat fakir, (QS Al-Balad: 14-16).

Allah juga memerintahkan untuk memberi makan orang fakir yang sengsara di dalam firmanNya:

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir,” (QS Al-Hajj: 28).

Allah juga menegaskan bahwa dalam harta kita, sebenarnya ada hak milik orang lain yang sedang membutuhkan.

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (yang tidak meminta-minta), (QS Adz-Dzariyat: 19).

B – TUNAIKAN ZAKAT HARTA

Pembaca rahimakumullah, tunaikan zakat harta Anda. Apabila selama satu tahun hijriah ini saldo tabungan Anda tidak pernah kurang dari Rp212.500.000 (setara 85 gram emas per 30 Desember 2025), bayarlah zakat dengan hitungan 2.5% x total saldo tabungan Anda.

Inilah zakat harta. Allah menyandingkan salat dengan zakat dalam firmanNya:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat harta, serta rukuklah bersama orang-orang yang rukuk, (QS Al-Baqarah: 43).

Juga sabda Nabi ﷺ:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun atas lima rukun: 1) Syahadat bahwa tiada Ilah (sesembahan yang benar) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, 2) mendirikan salat, 3) menunaikan zakat harta, 4) berhaji ke Al-Bait, dan 5) puasa Ramadan, (Sahih Bukhari: 8. Sahih Muslim: 16).

Zakat di dalam rukun Islam adalah zakat harta, bukan zakat fitrah, karena zakat fitrah adalah ibadah satu paket dengan puasa Ramadan. Maka tunaikan zakat harta, yang bisa juga dimanfaatkan untuk membantu saudara kita di Aceh dan Sumatera.

C – TUNAIKAN ZAKAT PERTANIAN

Tunaikan zakat pertanian. Jika setiap panen Anda mendapat hasil di atas 653 gabah kering, keluarkan 5% atau 10% dari total hasil panen Anda, tergantung sawah Anda irigasi berbayar atau tadah hujan, (PMA No. 52 tahun  2014). Jika tadah hujan, tunaikan 10% dari total hasil panen. Ini bisa digunakan untuk membantu saudara kita di Aceh dan Sumatera.

Allah ta’ala berfirman bahwa zakat pertanian ini ditunaikan setiap kali panen:

وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

...dan tunaikanlah haknya (zakatnya) pada hari memanen hasilnya (dengan diberikan kepada orang miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan, (QS Al-An’am: 141).

D – SEDEKAH HARIAN MELALUI KENCLENG LAZ AL-QOYYIM

Anda tetap bisa menolong saudara kita di Aceh dan Sumatera dengan sedekah harian, barang seribu, dua ribu, atau semampunya. Minta kepada petugas LAZ Al-Qoyyim kencleng untuk Anda bawa ke rumah, Anda isi setiap hari sesuai kemampuan. Minta petugas untuk jemput kencleng tersebut setiap bulan. Ini bisa digunakan untuk membangun kembali Aceh dan Sumatera pascabencana. Wallahua’lam

E – DONASI ONLINE

Untuk Anda yang berada di kejauhan, salurkan dukungan Anda melalui Nomor Rekening Bank Syariah Indonesia (BSI): 22-888-3333-8 a.n. Yayasan Al-Qoyyim

(Tambahkan kode 100 di akhir nominal atau konfirmasi ke 081216744418)

Atau melalui platform digital:

🌐 https://donasi.alqoyyim.com/bencanasumatera

PENUTUP

Pembaca rahimakumullah, di antara adab ukhuwah adalah memenuhi hajat saudara dan sahabat. Imam Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dari Amru bin Dinar, dari sebagian sahabat Nabi ﷺ bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

 أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia

 وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia

 أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً

Mengangkat kesusahan dari orang lain

 أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا

membayarkan utangnya

 أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا

menghilangkan rasa laparnya

 وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh, (As-Silsilatu As-Sahihati: 906).

Sungguh, membantu saudara kita di Aceh dan Sumatera saat ini adalah lebih dicintai oleh Nabi ﷺ daripada itikaf satu bulan di Masjid Nabawi.

Hadirin, mungkin donasi kita tidak menghapus seluruh luka Aceh, tetapi ia bisa menjadi alasan Allah menghapus dosa-dosa kita.

Semoga Allah menerima amal kita semua. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Post a Comment for "Membangun Kembali Aceh dan Sumatera"