LATAR BELAKANG
Pembaca rahimakumullah, saya (Irfan Nugroho) dan ustadz Ngazis Al Fathoni ditunjuk oleh Yayasan Al-Qoyyim Sukoharjo untuk menjadi relawan Tim Al-Qoyyim Sigap 1 dengan tiga misi utama:1 – Asesmen dan verifikasi faktual lapangan
2 – Penyaluran bantuan tahap awal
3 – Pendirian posko (jika memungkinkan).
Hasil dari misi kami di tahap pertama ini akan menjadi pijakan bagi tim selanjutnya, yaitu Tim Al-Qoyyim Sigap 2 untuk Aceh dan Sumatera.MENGAPA GAYO LUES?
Pembaca rahimakumullah, mengapa Al-Qoyyim Sigap 1 dikirim menuju Gayo Lues, padahal jumlah korban jiwa terbanyak berada di Aceh Tamiang?Hal ini bermula dari Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al-Qoyyim yang mengadakan acara seminar kepemimpinan lembaga filantrofi pada tanggal 25 November 2025. Di acara tersebut, peserta terjauh adalah Ibu Nurhayati Sahali, pemilik Yayasan Nurhayati Sahali, pendiri Pesantren Bunayya, yang berasal dari Kabupaten Gayo Lues, Aceh.
Tepat sehari setelah acara seminar kepemimpinan selesai, beliau mengirim kabar di grup WhatsApp peserta seminar bahwa kampung beliau mengalami bencana berupa banjir dan longsor.
Maka di saat itu, kami menulis di grup tersebut, “Kolaborasi? Misal: yang di Jawa menggalang donasi, lalu penyaluran bisa dengan dua cara: 1) kirim ke lembaga Bu Nurhayati, atau 2) kirim person ke lokasi kejadian.”
Gayung bersambut. Bu Nurhayati diundang ke kantor LAZ Al-Qoyyim untuk kemudian saling menjajaki potensi kerja sama, sinergi, dan kolaborasi, hingga akhirnya jatuhlah pilihan pada kami untuk menjalani misi Tim Al-Qoyyim Sigap 1 di Gayo Lues.
Dalam perjalanan dari Medan menuju Gayo Lues, juga selama verifikasi dan asesmen lapangan, kami mendapat alasan lain yang lebih kuat dari sekadar keterikatan personal antara kami dengan Bu Nurhayati.
Alasan tersebut di antaranya:
1 – Gayo Lues adalah dataran tinggi, yang dikelilingi oleh ratusan bukit/gunung, sehingga disebut sebagai “Negeri 1000 Bukit dan 1000 hafiz.”
2 – Tak hanya itu, kami mendapati bahwa sebagian atau mungkin mayoritas penduduk Kab. Gayo Lues ternyata memilih tinggal di bibir sungai, di antara dua pegunungan.
Kondisi inilah yang menjadikan Gayo Lues:
1 – Menara Air bagi beberapa dataran rendah di Aceh seperti Bireuen (Sungai Peusangan), Sumatera Utara (Sungai Singkil atau Lawe Alas), dan Tamiang (Sungai Tamiang).
2 – Memiliki 95 jembatan rusak, (kata Gibran saat kunjungan ke Gayo Lues pada 17 Desember 2025). Padahal, data BNPB pada 6 Desember 2025, total jembatan rusak akibat banjir dan longsor di tiga provinsi ini ada 400-an jembatan. Artinya, hampir 25% jembatan itu terletak di Kab. Gayo Lues.
Inlah yang menyebabkan Gayo Lues menjadi salah satu kabupaten yang paling terdampak, bukan dari segi jumlah korban jiwanya, tetapi dari segi terputusnya akses jalan dan jembatan, sehingga 40 desa di 4 kecamatan di Gayo Lues terisolasi.JALAN KAKI 14 JAM
Pembaca rahimakumullah, empat kecamatan di Gayo Lues yang terisolasi – menurut korespondensi Tim Al-Qoyyim Sigap dengan BPBD Gay Lues adalah:1 – Kecamatan Pining,
2 – Kecamatan Tripe Jaya,
3 – Kecamatan Pantan Cuaca, dan
4 – Kecamatan Rikit Gaib.
Pilihan Tim Al-Qoyyim Sigap untuk berfokus pada Kecamatan Pining adalah pilihan yang tepat karena:
1 – Ia menjadi kecamatan yang paling terdampak dari empat kecamatan yang terisolasi tersebut,
2 – Di sana terdapat Pesantren Bunayya Unit 2, yang merupakan mitra kolaborator LAZ Al-Qoyyim.
Inilah yang menjadikan Kec. Pining sebagai titik verifikasi faktual lapangan oleh Tim Al-Qoyyim Sigap bersama pendampingnya Ustadz Syahrizal Aries dari Pesantren Bunayya.
Pada Sabtu, 20 Desember 2025, Tim Al-Qoyyim Sigap melakukan perjalanan menyusuri Kec. Pining dengan memarkir kendaraannya di titik terluar Kec. Pining, yaitu di desa Uring. Setelah itu, tim berusaha untuk menuju Desa Pining, Kec. Pining dengan jalan kaki, yang diperkirakan memakan waktu tempuh sekitar 4 jam jalan kaki.
Di tengah perjalanan, tim bertemu dengan Ibu Asmidar beserta rombongannya, yang berjalan pulang dari Blangkejeren (Ibukota Kabupatan Gayo Lues) menuju Desa Pining, Kec. Pining.
Tim Al-Qoyyim Sigap memohon izin untuk mewawancarai beliau dan rombongan. Kepada tim, beliau mengatakan bahwa untuk mengambil bantuan, beliau harus berjalan kaki dari Desa Pining menuju Kec. Blangkejeren selama tujuh jam berangkat, dan tujuh jam pulang.
Kepada kami beliau mengatakan, “Yang paling mendesak saat ini adalah jalan. Ya, kami semua butuh itu (pangan, hunian, kesehatan, dll), tetapi kalau jalan putus, kami tidak tahu ke depannya harus bagaimana.”
Ibu Asmidar ini hanyalah satu dari ribuan penduduk Pining yang terisolasi akibat banjir dan longsor, akibat putusnya 95 jembatan, akibat putusnya jalan di berbagai titik. Beliau pun tinggalnya di Desa Pining, tengah-tengah Kec. Pining. Jika kita melangkah lebih jauh dari Desa Uring, maka ada beberapa desa lain yang lebih jauh, seperti Ekan, Pertik, Pasir Putih, dan Lesten.
Pada verifikasi faktual lapangan hari Sabtu (20/12/2025), kami sempat bertemu dengan beberapa warga dari desa-desa tersebut. Mereka mengatakan butuh waktu 10 jam, bahkan lebih, hanya untuk berangkat menjemput bantuan. Artinya, mereka butuh 20 jam untuk pulang dan pergi jalan kaki, melalui bukit dan longsoran jalan yang tidak bisa lagi dilalui memakai kendaraan.PENGEMASAN 750 PAKET BANTUAN
Pembaca rahimakumullah, setelah berupaya meneumbus Pining, tim Al-Qoyyim Sigap tiba di Posko Bersama Bunayya Peduli Bencana Gayo Lues pada malam hari. Di saat itu, beberapa pengajar Pesantren Bunayya mulai mempersiapkan diri untuk mengemas bantuan darurat kepada penduduk di empat desa: Ekan, Lesten, Pasir Putih, dan Pertik.Mereka berjibaku mengemas 750 paket bantuan yang terdiri dari beras, minyak, gula, garam, dan ikan asin, yang kami beli dari Medan – Sumatera Utara. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 00:30 WIB ketika 90% paket senilai RP150.000.000 itu selesai dikemas.
Keesokan harinya, tepat setelah Subuh, Tim Al-Qoyyim Sigap dan seluruh keluarga besar Pesantren Bunayya beserta mitra kolaboratornya telah hiruk pikuk menaikkan 750 paket bantuan itu ke beberapa mobil.
Setelah semuanya siap, barulah Komandan Posko Bersama Bunayya Peduli Bencana Gayo Lues – Tengku Ahmad Zaini – mengumpulka seluruh staf pengajar pesantren dan juga mitra kolaborator – termasuk Tim Al-Qoyyim Sigap – untuk briefing dan doa.
Tepat pukul 10:00 WIB, kafilah bantuan dari Posko Bersama Bunayya Peduli Bencana Gayo Lues beranjak menuju Pendopo Umah Pitu untuk mencatatkan bantuan yang akan dikirim kepada BPBD Kab. Gayo Lues, lalu resmi dilepas oleh wakil bupati Gayo Lues, Bp. Maliki.
Menurut BPBD setempat, penyaluran 750 paket bantuan bagi penduduk di 4 desa ini adalah yang terbesar hingga 21 Desember 2025, dan donasi Anda melalui LAZ Al-Qoyyim ada di dalamnya.PENYERAHAN BANTUAN TAHAP 1
Pembaca rahimakumullah, di awal perjalanan menuju Desa Setul, titik kumpul penduduk empat desa penerima bantuan, mobil yang dikendarai Tim Al-Qoyyim Sigap dan Tengku Ahmad Zaini mengalami kendala berupa ban bocor, tertusuk batang besi pipih.Alhasil, perjalanan seluruh kafilah juga tertunda, karena kendaraan komandan mengalami kendala. Keterlambatan sampai di lokasi menyebabkan seluruh calon penerima bantuan justru beranjak dari titik distribusi bantuan.
Mereka terlihat sudah berjalan melewati Desa Setul, hingga di Desa Lempusing. Ketika itu terjadi kebingungan, karena di saat yang sama, lembaga filantropi lain juga menyalurkan bantuan hanya untuk penduduk Desa Pining.
Namun, kebingungan itu reda ketika penduduk dari empat desa tersebut (Ekan, Pertik, Pasir Putih, dan Lesten) bertemu dengan Tengku Ahmad Zaini. Mereka kami minta untuk kembali ke Desa Setul.
Inilah yang lantas menjadikan mobil kafilah menjadi kelebihan muatan. Salah satu kendaraan kafilah bahkan diganduli oleh 20 warga. Allahu Akbar.
Setibanya kafilah dan warga di lokasi distribusi, Tengku Ahmad Zaini memohon maaf atas keterlambatannya. Kemudian beliau menyampaikan bahwa saat itu mereka tidak sendirian. Ada saudara dari Jakarta, Jawa Tengah (khususnya Sukoharjo) yang peduli kepada mereka.
Maka dimulailah pembagian bantuan kepada 750 penerima manfaat, dibantu oleh pemerintah desa setempat dan karang taruna. Amanat umat melalui LAZ Al-Qoyyim tertunaikan di tahap pertama ini. Alhamdulillah.BERANJAK MENUJU BIREUEN VIA MEDAN
Pembaca rahimakumullah, lokasi kedua yang harus diasesmen oleh Tim Al-Qoyyim Sigap 1 adalah Kabupaten Bireuen. Mengapa Bireuen? Ada beberapa alasan, salah satunya adalah bahwa Bireuen merupakan satu dari sekian lokasi yang terdampak parah, tetapi jarang mendapat akses bantuan karena lokasinya yang berjarak 14 jam dari pusat kota Medan. Bandingkan dengan Aceh Tamiang yang hanya 3 jam dari pusat kota Medan.Setelah menunaikan misi penyaluran bantuan tahap pertama di Kab. Gayo Lues, Tim Al-Qoyyim Sigap beranjak ke Medan pukul 11:00 WIB lalu tiba di Medan pukul 02:00 WIB, total 14 jam.
Dalam perjalanannya menuju Medan, tim sempat singgah di Pesantren Badrul Ulum di Desa Lawe Penanggalan, Kecamatan Ketambe, Kab. Aceh Tenggara. Berdiri di samping lawe (sungai) kecil yang lebarnya pada hari-hari biasa hanya 1.5 meter, Pesantren Badrul Ulum rata dengan tanah ketika banjir bandang melanda.
Pesantren tua yang menjadi tempat pengasuh Pesantren Bunayya Gayo Lues – Tengku Ahmad Zaini menuntut ilmu ini hancur dan hanya menyisakan satu bangunan seluas 7x8 meter. Seluruh bangunan lainnya hancur, rata dengan tanah.
Tiga puluh menit kemudian, tim singgah di bekas Desa Simpur Jaya, Kec. Ketambe, Kab. Aceh Tenggara. Di sini, satu kampung hilang. Total dalam ekspedisi kami di Aceh, ada dua kampung yang hilang, yaitu Simpur Jaya di Aceh Tenggara dan Agusen di Gayo Lues.
Satu hal yang unik tentang hilangnya Desa Simpur Jaya adalah bahwa ketika banjir terjadi, aliran sungai yang seharusnya lurus, justru berbelok dan melewati perumahan warga. Alhasil, satu kampung yang sebenarnya di tepi sungai itu hilang tiada bersisa. Ya Allah.TAMIANG, PUSAT KOTA YANG BELUM PULIH HINGGA H+27
Setelah sampai di Medan, tim Al-Qoyyim Sigap melanjutkan perjalanan menuju Bireuen. Dalam perjalanan pada Selasa, 23 Desember 2025, kami menyaksikan secara langsung kondisi memprihatinkan di sepanjang wilayah Kabupaten Aceh Tamiang. Hingga hampir satu bulan pascabencana banjir dan longsor, kerusakan masih terlihat parah dan belum pulih, bahkan di pusat kotanya. Data BNPB per 23 Desember 2025 mencatat, di Aceh Tamiang terdapat lebih dari 20.000 rumah rusak, sekitar 150.000 warga mengungsi, serta 88 korban jiwa. Angka ini bukan sekadar statistik—ia adalah potret penderitaan ribuan keluarga yang kehilangan rumah, harta, bahkan orang-orang tercinta.BIREUEN, MISI TERAKHIR TIM AL-QOYYIM SIGAP 1
Pembaca rahimakumullah, setelah menempuh perjalanan 14 jam dari Medan, Tim Al-Qoyyim Sigap tiba di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, pada Rabu (24/12/2025) pukul 03.30 WIB. Tim Al-Qoyyim Sigap pada pukul 07:45 WIB langsung bergerak melakukan koordinasi dengan BPBD Kabupaten Bireuen di Pendopo Kota Juang.Setibanya di posko, tim Al-Qoyyim Sigap disambut oleh personel TNI dari Kodim 0111/Bireuen. Dalam pertemuan tersebut disampaikan bahwa kebutuhan mendesak di wilayah terdampak saat ini adalah tenaga kebersihan, air bersih, serta alat-alat kebersihan. Lumpur masih menggenangi banyak rumah warga hingga setinggi leher, sehingga proses pembersihan tidak dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat.
Tim kemudian melanjutkan koordinasi ke Posko HEOC Kabupaten Bireuen dan bertemu dengan Bapak Muhallil, pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen sekaligus koordinator bidang operasional posko. Dari sisi kesehatan, kebutuhan prioritas warga meliputi WC darurat, air bersih, serta ketersediaan obat-obatan untuk mencegah munculnya penyakit pascabanjir.
Sementara itu, BPBD Kabupaten Bireuen menyampaikan bahwa kecamatan yang terdampak paling parah meliputi Kecamatan Peusangan, Kuta Blang, Peusangan Siblah Krueng, dan Kecamatan Juli. Data ini menjadi dasar bagi LAZ Al-Qoyyim dalam menentukan arah penyaluran bantuan lanjutan agar tepat sasaran dan berdampak nyata bagi para penyintas.
Setelah dari kantor BPBD Kab. Bireuen, Tim Al-Qoyyim Sigap melakukan verifikasi faktual lapangan di wilayah yang terdampak paling parah akibat banjir dan longsor, yakni Kecamatan Peusangan.
Hasil asesmen lapangan menunjukkan bahwa Desa Kapa menjadi salah satu titik terdampak berat. Sebanyak 170 rumah warga mengalami kerusakan, mulai dari kategori sedang hingga parah, tanpa adanya rumah yang tergolong rusak ringan. Akibat kondisi tersebut, 408 jiwa terpaksa mengungsi dan bertahan di sebuah meunasah (mushala) yang masih berdiri kokoh saat banjir menerjang permukiman mereka.
Usai proses verifikasi, tim Al-Qoyyim Sigap segera membelanjakan kebutuhan logistik menggunakan amanah donasi dari para muhsinin melalui LAZ Al-Qoyyim, kemudian menyalurkannya pada hari yang sama kepada para pengungsi. Bantuan tersebut diterima oleh Bapak Alim, selaku Ketua Posko Pengungsian Desa Kapa, untuk selanjutnya diserahkan kepada Dapur Umum agar dapat dinikmati secara merata oleh seluruh pengungsi.
Mewakili warga Desa Kapa, Bapak Alim menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada para donatur dari Jawa Tengah. “Kami hanya bisa mendoakan, semoga Allah Ta‘ala membalas seluruh kebaikan saudara-saudara kami dengan balasan terbaik,” tutur beliau.BAGAIMANA MEMULIHKAN ACEH DAN SUMATERA
Pembaca rahimakumullah, semua responden yang kami wawancara sepakat mengatakan bahwa lahan dan mata pencaharian mereka hilang akibat banjir ini. Ketika banjir ini melanda, warga Kab. Gayo Lues akan memasuki masa panen padi yang tinggal hitungan hari.Dari sini kita paham, bahwa jika mereka menjadikan padi sebagai bahan pangan utama, dan di bulan Desember 2025 lahan padi mereka hancur akibat banjir dan longsor, maka minimal mereka butuh bantuan bahan pangan hingga 6 atau 8 bulan ke depan, dengan asumsim bahwa satu masa tanam adalah 4 bulan.
Artinya apa, masa rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh-Sumatera membutuhkan waktu yang panjang. Ia tidak berlangsung hanya dalam satu bulan, dengan satu gerakan donasi kita di bulan November dan Desember 2025.
Aceh dan Sumatera membutuhkan bantuan kita dalam jangka panjang. Oleh karena itu, kami tawarkan kepada para pembaca semuanya beberapa skema donasi jangka panjang yang bisa kita lakukan untuk mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh-Sumatera:A – BANTU MEREKA SEKARANG JUGA
Sisihkan harta Anda untuk membantu mereka saat ini. Saat ini mereka masih butuh bahan pangan. Salurkan saat ini juga melalui https://donasi.alqoyyim.com/bencanasumatera, atau melalui petugas LAZ Al-Qoyyim yang ada di sekitar Anda.Allah ta’ala menjadikan memberi makan sebagai salah satu tanda kesempurnaan iman dalam firmanNya:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا (٨) إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا (٩)
(8) Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (9) (Sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu,” (QS Al-Insan: 8-9).
Allah menjadikan memberi makan sebagai salah satu tanda keselamatan dari kekafiran di dalam firmanNya:
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
Salah satu sifat orang yang mendustakan agama adalah tidak mengajak orang untuk memberi makan orang miskin, (QS Al-Maun: 3).
Allah juga memerintahkan untuk memberi bantuan logistik atau pangan di dalam firmanNya:
أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (١٤) يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ (١٥) أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ (١٦)
(14) atau memberi makan pada hari kelaparan, (15) (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, (16) atau orang miskin yang sangat fakir, (QS Al-Balad: 14-16).
Allah juga memerintahkan untuk memberi makan orang fakir yang sengsara di dalam firmanNya:
فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ
“Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir,” (QS Al-Hajj: 28).
Allah juga menegaskan bahwa dalam harta kita, sebenarnya ada hak milik orang lain yang sedang membutuhkan.
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (yang tidak meminta-minta), (QS Adz-Dzariyat: 19).B – TUNAIKAN ZAKAT HARTA
Pembaca rahimakumullah, tunaikan zakat harta Anda. Apabila selama satu tahun hijriah ini saldo tabungan Anda tidak pernah kurang dari Rp212.500.000 (setara 85 gram emas per 30 Desember 2025), bayarlah zakat dengan hitungan 2.5% x total saldo tabungan Anda.Inilah zakat harta. Allah menyandingkan salat dengan zakat dalam firmanNya:
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat harta, serta rukuklah bersama orang-orang yang rukuk, (QS Al-Baqarah: 43).
Juga sabda Nabi ﷺ:
بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Islam dibangun atas lima rukun: 1) Syahadat bahwa tiada Ilah (sesembahan yang benar) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, 2) mendirikan salat, 3) menunaikan zakat harta, 4) berhaji ke Al-Bait, dan 5) puasa Ramadan, (Sahih Bukhari: 8. Sahih Muslim: 16).
Zakat di dalam rukun Islam adalah zakat harta, bukan zakat fitrah, karena zakat fitrah adalah ibadah satu paket dengan puasa Ramadan. Maka tunaikan zakat harta, yang bisa juga dimanfaatkan untuk membantu saudara kita di Aceh dan Sumatera.C – TUNAIKAN ZAKAT PERTANIAN
Tunaikan zakat pertanian. Jika setiap panen Anda mendapat hasil di atas 653 gabah kering, keluarkan 5% atau 10% dari total hasil panen Anda, tergantung sawah Anda irigasi berbayar atau tadah hujan, (PMA No. 52 tahun 2014). Jika tadah hujan, tunaikan 10% dari total hasil panen. Ini bisa digunakan untuk membantu saudara kita di Aceh dan Sumatera.Allah ta’ala berfirman bahwa zakat pertanian ini ditunaikan setiap kali panen:
وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
...dan tunaikanlah haknya (zakatnya) pada hari memanen hasilnya (dengan diberikan kepada orang miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan, (QS Al-An’am: 141).D – SEDEKAH HARIAN MELALUI KENCLENG LAZ AL-QOYYIM
Anda tetap bisa menolong saudara kita di Aceh dan Sumatera dengan sedekah harian, barang seribu, dua ribu, atau semampunya. Minta kepada petugas LAZ Al-Qoyyim kencleng untuk Anda bawa ke rumah, Anda isi setiap hari sesuai kemampuan. Minta petugas untuk jemput kencleng tersebut setiap bulan. Ini bisa digunakan untuk membangun kembali Aceh dan Sumatera pascabencana. Wallahua’lamPENUTUP
Pembaca rahimakumullah, saya tutup risalah in dengan firman Allah ta’ala:وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوا وَّنَصَرُوا أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang hira), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia, (QS Al-Anfal: 74).
Firman Allah (آوَوا) artinya memberi tempat tinggal. Data BNPB pada 30 Desember 2025 menunjukkan bahwa total rumah rusak sebanyak 166.925, dengan 53.555 di antaranya rusak berat, 41.925 rusak sedang, dan 71.445 rusak ringan.
Bantuan Anda untuk membangun kembali Aceh dan Sumatera, berdasarkan QS Al-Anfal 74, adalah satu dari sekian amal yang menjadikan iman Anda sempurna.
Pembaca rahimakumullah, di antara adab ukhuwah adalah memenuhi hajat saudara dan sahabat. Imam Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dari Amru bin Dinar, dari sebagian sahabat Nabi ﷺ bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia
وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ
Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia
أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً
Mengangkat kesusahan dari orang lain
أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا
membayarkan utangnya
أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا
menghilangkan rasa laparnya
وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا
Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh, (As-Silsilatu As-Sahihati: 906).
Sungguh, membantu saudara kita di Aceh dan Sumatera saat ini adalah lebih dicintai oleh Nabi ﷺ daripada itikaf satu bulan di Masjid Nabawi. Wallahua’lam
Post a Comment for "Bersama Pulihkan Aceh & Sumatera"