MATAN HADIS
Imam Bukhari meriwayatkan dari Salamah bin Al-Akwa Radhiyallahu Anhu yang berkata:أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِجِنَازَةٍ لِيُصَلِّيَ عَلَيْهَا، فَقَالَ: هَلْ عَلَيْهِ مِنْ دَيْنٍ؟ قَالُوا: لَا، فَصَلَّى عَلَيْهِ، ثُمَّ أُتِيَ بِجِنَازَةٍ أُخْرَى، فَقَالَ: هَلْ عَلَيْهِ مِنْ دَيْنٍ؟ قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ: فَصَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ. قَالَ أَبُو قَتَادَةَ: عَلَيَّ دَيْنُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَصَلَّى عَلَيْهِ
Sungguh, Nabi ﷺ didatangkan kepada satu jenazah untuk disalatkan. Beliau bertanya, 'Apakah dia memiliki utang?' Mereka menjawab, 'Tidak.' Maka beliau pun menyalatinya. Kemudian didatangkan jenazah yang lain. Beliau bertanya, 'Apakah dia memiliki utang?' Mereka menjawab, 'Ya.' Beliau bersabda, 'Salatilah teman kalian ini.' Lalu Abu Qatadah berkata, 'Utangnya menjadi tanggungan saya, wahai Rasulullah.' Maka beliau pun menyalatinya, (Sahih Bukhari: 2295).
Dengan narasi yang sedikit berbeda, Imam Bukhari di nomor 2289 menulis riwayat dari Salamah bin Al-Akwa Radhiyallahu Anhu yang berkata:
كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا، فَقَالَ: هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟ قَالُوا: لَا، فَصَلَّى عَلَيْهِ.
Kami sedang duduk bersama Nabi ﷺ, lalu dibawa sebuah jenazah. Mereka berkata: “Salatilah jenazah ini.” Nabi bertanya: “Apakah ia memiliki utang?” Mereka menjawab: “Tidak.” Nabi bertanya lagi: “Apakah ia meninggalkan sesuatu (harta)?” Mereka menjawab: “Tidak.” Maka beliau pun menyalatinya.
ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ؟ قِيلَ: نَعَمْ، قَالَ: فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟ قَالُوا: ثَلَاثَةَ دَنَانِيرَ، فَصَلَّى عَلَيْهَا.
Kemudian dibawa jenazah lain. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, salatilah jenazah ini.” Beliau bertanya: “Apakah ia memiliki utang?” Dijawab: “Ya.” Beliau bertanya: “Apakah ia meninggalkan sesuatu (harta)?” Mereka menjawab: “Tiga dinar.” Maka beliau pun menyalatinya.
ثُمَّ أُتِيَ بِالثَّالِثَةِ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: هَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: فَهَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ؟ قَالُوا: ثَلَاثَةُ دَنَانِيرَ، قَالَ: صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ.
Kemudian dibawa jenazah ketiga. Mereka berkata: “Salatilah jenazah ini.” Beliau bertanya: “Apakah ia meninggalkan sesuatu (harta)?” Mereka menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya: “Apakah ia memiliki utang?” Mereka menjawab: “Tiga dinar.” Maka beliau bersabda: “Kalian salati sahabat kalian ini (beliau tidak ikut).”
قَالَ أَبُو قَتَادَةَ: صَلِّ عَلَيْهِ يَا رَسُولَ اللهِ، وَعَلَيَّ دَيْنُهُ، فَصَلَّى عَلَيْهِ.
Lalu Abu Qatadah berkata: “Salatilah dia wahai Rasulullah. Utangnya menjadi tanggungan saya.” Maka Nabi ﷺ pun menyalatinya, (Sahih Bukhari: 2289).PENJELASAN HADIS
Dalam hadis ini, Salamah bin al-Akwa‘ radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa mereka sedang duduk bersama Nabi ﷺ, lalu dibawa kepada beliau tiga jenazah secara terpisah untuk beliau salati. Ketika beliau bertanya tentang jenazah pertama dan mengetahui bahwa ia tidak memiliki utang, beliau pun menyalatinya.Ketika beliau bertanya tentang jenazah kedua, beliau mengetahui bahwa orang itu memiliki utang, tetapi ia meninggalkan tiga dinar yang bisa digunakan untuk melunasi utangnya. Maka Nabi ﷺ pun menyalatinya.
Ketika dibawa jenazah ketiga, beliau mengetahui bahwa orang itu memiliki utang tiga dinar dan tidak meninggalkan harta untuk melunasinya. Maka beliau tidak menyalatinya, dan berkata kepada para sahabat: “Kalian salati sahabat kalian.”
Lalu Abu Qatadah al-Anshari radhiyallahu ‘anhu menanggung utang jenazah tersebut. Maka Nabi ﷺ pun menyalatinya, karena utang tersebut telah dipindahkan dari tanggungan si mayit kepada tanggungan orang lain. Dengan adanya penjamin, maka si mayit terbebas dari utang.PELAJARAN DARI HADIS
Pelajaran yang bisa diambil dari hadis salat jenazah untuk orang yang masih punya utang ini di antaranya:وَفِي الحَدِيثِ: التَّشْدِيدُ فِي أَمْرِ الدُّيُونِ، وَأَنَّهُ يَعْلَقُ بِرَقَبَةِ المَدِينِ بَعْدَ مَوْتِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ بِأَيِّ صُورَةٍ.
1 – Di dalam hadis ini terdapat penegasan keras tentang urusan utang, dan bahwa utang itu tetap melekat pada leher orang yang berutang setelah ia meninggal, hingga utang tersebut dilunasi dengan cara apa pun.
وَفِيهِ: حِمَايَةُ الإِسْلَامِ لِحُقُوقِ النَّاسِ المَالِيَّةِ.
2 – Hadis ini juga menunjukkan bahwa Islam melindungi hak-hak harta dan keuangan manusia.
الدَّيْنُ مِنْ حُقُوقِ العِبَادِ الَّتِي يَجِبُ الوَفَاءُ بِهَا؛ فَالْمَدِينُ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُبْرِئَ ذِمَّتَهُ مِنَ الدَّيْنِ المُسْتَحَقِّ عَلَيْهِ، وَلِعِظَمِ أَمْرِ الدَّيْنِ وَخَطَرِهِ، كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يُصَلِّي عَلَى أَحَدٍ مَاتَ عَلَيْهِ دَيْنٌ، وَلَيْسَ فِي تَرِكَتِهِ مَا يُمْكِنُ سَدَادُهُ مِنْهُ.
3 - Utang termasuk hak-hak manusia yang wajib ditunaikan. Karena itu, orang yang berutang seharusnya berusaha membersihkan dirinya dari utang yang wajib dibayar. Karena besarnya urusan utang dan bahayanya, Nabi ﷺ tidak mau menshalatkan seseorang yang meninggal dengan masih memiliki utang, sementara tidak ada harta peninggalan yang bisa digunakan untuk melunasinya. Wallahua’lam
Demikian penjelasan dan pelajaran dari hadis salat jenazah untuk orang yang masih punya utang. Semoga utang kita segera lunas, dan tidak memiliki utang lagi. Aamiin
Karangasem, 20 November 2025
Irfan Nugroho (Pengelola situs Mukminun.com dan Channel YouTube: Mukminun TV)
Post a Comment for "Salat Jenazah untuk Orang yang Masih Punya Utang"