zmedia

Sahihul Adab: Adab Ziarah Kubur oleh Syaikh Wahid Abdussalam Bali

Pembaca rahimakumullah, seorang muslim ketika melakukan ziarah kubur terikat dengan beberapa adab yang diajarkan di dalam syariat Islam. Lalu, apa saja adab ziarah kubur di dalam Islam? Berikut adalah terjemahan dari Sahihul Adab Al-Islamiyah karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali dengan tambahan penjelasan dan pelajaran dari Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani. Semoga bermanfaat!

آدَابُ زِيَارَةِ الْقُبُورِ

ADAB-ADAB ZIARAH KUBUR

اِسْتِحْبَابُ زِيَارَةِ الْقُبُورِ

1 – DIANJURKAN ZIARAH KUBUR

Imam Imam Muslim meriwayatkandari Buraidah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang ziarahilah, (Sahih Sahih Muslim: 977).

PENJELASAN

Sabda Nabi (نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ ) atau yang artinya, “Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur,” maksudnya:

Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, karena mereka (umat Islam saat itu) baru saja keluar dari masa Jahiliah dan baru saja meninggalkan penyembahan berhala serta doa kepada patung-patung. Maka, mereka dilarang berziarah kubur karena dikhawatirkan mereka akan mengucapkan atau melakukan di kuburan apa yang biasa mereka lakukan di masa Jahiliah. Juga karena khawatir hal itu menjadi perantara menuju penyembahan kepada penghuni kubur, (Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah: 130815).

Sabda Nabi (فَزُورُوهَا) atau yang artinya, “maka sekarang ziarahilah,” maksudnya, “Perintah ini merupakan rukhsah (keringanan), atau menunjukkan bahwa ziarah kubur hukumnya mustahab/sunah, menurut pendapat jumhur ulama.”

PELAJARAN

Tentu, ini teks Arab yang sudah diberi harakat dan terjemahan Indonesianya sesuai permintaan Anda.

عَدَمُ الاسْتِغْفَارِ لِمَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ الإِسْلَامِ حَتَّى وَلَوْ كَانَ قَرِيبًا

2 – TIDAK MEMINTAKAN AMPUNAN BAGI ORANG YG MENINGGAL DALAM KEADAAN NON-MUSLIM MESKIPUN DIA KERABAT DEKAT

Allah ta’ala berfirman:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahim, (QS At-Taubah: 113).

رَوَى مُسْلِمٌ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأُمِّي فَلَمْ يَأْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لِي

Imam Muslim meriwayatkandari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dia bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Aku meminta izin kepada Tuhanku untuk memohon ampunan bagi ibuku, namun Dia tidak mengizinkanku. Dan aku meminta izin kepada-Nya untuk menziarahi kuburannya, lalu Dia mengizinkanku. (Sahih Muslim: 976).

أَنْ يُسَلِّمَ عَلَيْهِمْ

3 – MENGUCAPKAN SALAM KEPADA MEREKA

رَوَى مُسْلِمٌ عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ أَنْ يَقُولُوا:

Imam Muslim meriwayatkan dari Buraidah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan mereka apabila mereka keluar menuju kuburan hendaknya mengucapkan:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلَاحِقُونَ، أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

Salam sejahtera atas kalian wahai penduduk tempat tinggal (kubur) dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim. Dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul (kalian). Aku memohon kepada Allah bagi kami dan bagi kalian keselamatan/kesejahteraan. (Sahih Muslim: 975).

الدُّعَاءُ لِلْمَيِّتِ

4 – MENDOAKAN MAYIT

Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS Al-Hasyr: 10).

رَوَى مُسْلِمٌ عَنْ صَفْوَانَ - وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ صَفْوَانَ - وَكَانَتْ تَحْتَهُ الدَّرْدَاءُ، قَالَ: قَدِمْتُ الشَّامَ فَأَتَيْتُ أَبَا الدَّرْدَاءِ فِي مَنْزِلِهِ فَلَمْ أَجِدْهُ وَوَجَدْتُ أُمَّ الدَّرْدَاءِ،

Imam Muslim meriwayatkandari Shafwan (Ibnu Abdillah bin Shafwan) dan di bawah perwaliannya ada Ad-Darda’ (istrinya) yang berkata: Aku tiba di Syam lalu mendatangi Abu Darda’ di rumahnya, namun aku tidak menemukannya dan aku bertemu dengan Ummu Darda’.

فَقَالَتْ: أَتُرِيدُ الْحَجَّ الْعَامَ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ قَالَتْ: فَادْعُ اللهَ لَنَا بِخَيْرٍ، فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ:

Maka Ummu Darda’ bertanya: "Apakah kamu ingin berhaji tahun ini?" Aku menjawab: "Ya." Dia berkata: "Kalau begitu doakanlah kebaikan untuk kami, karena Nabi ﷺ biasa bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ

Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah mustajab (dikabulkan). Di sisi kepalanya ada malaikat yang ditugaskan. Setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat yang ditugaskan itu berkata: 'Aamiin, dan untukmu juga yang serupa,’ (Sahih Muslim: 2733).

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ، إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amalannya darinya, kecuali dari tiga perkara: kecuali dari sedekah jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya. (Sahih Muslim: 1631).

عَدَمُ سَبِّ الْأَمْوَاتِ

5 – TIDAK MENCELA ORANG YANG SUDAH MENINGGAL

رَوَى الْبُخَارِيُّ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Nabi ﷺ bersabda: Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah meninggal dunia, karena sesungguhnya mereka telah sampai kepada apa yang telah mereka kerjakan (dahulukan). (Sahih Bukhari: 1393).

عَدَمُ إِيقَادِ الشُّمُوعِ وَالسُّرُجِ وَغَيْرِهَا فَوْقَ الْقَبْرِ

6 – TIDAK MENYALAKAN LILIN, PELITA, DAN SEJENISNYA DI ATAS KUBURAN

رَوَى التِّرْمِذِيُّ - وَحَسَّنَهُ - عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَائِرَاتِ الْقُبُورِ، وَالْمُتَّخِذِينَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ وَالسُّرُجَ

Imam At-Tirmizi meriwayatkan –dan beliau menghasankannya– dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang berkata: Rasulullah ﷺ melaknat wanita-wanita yang sering berziarah kubur, dan orang-orang yang menjadikan di atasnya (kuburan) masjid dan pelita (lampu). (Jami At-Tirmizi: 320).

الْبُعْدُ عَنِ الْمُخَالَفَاتِ الشَّرْعِيَّةِ لِلزِّيَارَةِ

7 - MENJAUHI PELANGGARAN-PELANGGARAN SYARIAT DALAM BERZIARAH

فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Karena Rasulullah ﷺ bersabda: Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan (baru), dan setiap bid'ah adalah kesesatan. (Sahih Muslim: 867).

أَلَّا يَجْلِسَ فَوْقَ الْقَبْرِ وَلَا يَضْطَجِعَ عَلَيْهِ:

8 – TIDAK DUDUK DI ATAS KUBURAN DAN TIDAK TIDUR BERBARING DI ATASNYA

رَوَى مُسْلِمٌ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

Imam Muslim meriwayatkandari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Sungguh, seseorang dari kalian duduk di atas bara api, lalu membakar pakaiannya hingga sampai ke kulitnya, itu lebih baik baginya daripada dia duduk di atas kuburan. (Sahih Muslim: 971).

عَدَمُ بِنَاءِ الْمَسَاجِدِ عَلَى الْقُبُورِ

9 – TIDAK MEMBANGUN MASJID DI ATAS KUBURAN

فَفِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ عَائِشَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ قَالَا:

Dalam As-Sahihain (Al-Bukhari dan Muslim) dari Aisyah dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum bahwa keduanya berkata:

لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ، فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ:

Ketika datang kepada Rasulullah ﷺ (saat-saat sakit menjelang wafat), beliau mulai meletakkan kain beludru di atas wajahnya. Ketika beliau merasa sesak nafas, beliau membukanya dari wajahnya, lalu beliau bersabda dalam keadaan demikian:

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى؛ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ، يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا

Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani; mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid. Beliau memperingatkan dari apa yang telah mereka perbuat. (Sahih Bukhari: 4444, Sahih Muslim: 531).

عَدَمُ الاسْتِغَاثَةِ بِالْمَوْتَى

10 – TIDAK ISTIGASAH KEPADA ORANG YANG SUDAH MENINGGAL

Allah ta’ala berfirman:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

(Ingatlah), ketika kalian beristigasah pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkan permohonanmu (seraya berfirman): "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut." (QS Al-Anfal: 9).

رَوَى التِّرْمِذِيُّ - وَقَالَ: حَسَنٌ صَحِيحٌ - عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ:

Imam At-Tirmizi meriwayatkan –dan ia berkata: hasan sahih– dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang berkata:

كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا، فَقَالَ:

Suatu hari aku pernah berada di belakang Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda:

يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

Wahai anak muda, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah (syariat) Allah niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah (syariat) Allah niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah. Dan apabila kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

Dan ketahuilah bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakaimu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat mencelakaimu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering. (Jami At-Tirmizi: 2516).

Post a Comment for "Sahihul Adab: Adab Ziarah Kubur oleh Syaikh Wahid Abdussalam Bali"