zmedia

Khulasah Bahiyah: Tahun Delapan Hijriah

Pembaca rahimakumullah, berikut adalah sirah nabi ﷺ pada tahun delapan hijriah. Ini adalah matan ringkas sirah nabawiyah yang berjudul Khulasah Bahiyah fi Tartibi Ahdasi Sirah Nabawiyah karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahullah. Semoga bermanfaat!

السَّنَةُ الثَّامِنَةُ مِنَ الْهِجْرَةِ

Tahun Kedelapan dari Hijriah

وَفِيهَا سِتَّةٌ وَخَمْسُونَ حَدَثًا

Dan di dalamnya (terdapat) lima puluh enam peristiwa:

١ - فِي صَفَرٍ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: أَسْلَمَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ وَعُثْمَانُ بْنُ طَلْحَةَ، وَهَاجَرُوا إِلَى الْمَدِينَةِ.

1 - Pada bulan Safar dari tahun ini (delapan hijriah): Amr bin Al-'Ash, Khalid bin Al-Walid, dan Utsman bin Thalhah masuk Islam, dan mereka berhijrah ke Madinah.

Pada bulan Shafar tahun ke-8 Hijriah, tiga tokoh Quraisy masuk Islam: ‘Amr bin al-‘Ash, Khalid bin al-Walid, dan ‘Utsman bin Thalhah. Sebelumnya mereka adalah pemuka Quraisy dan penentang keras Islam, turut terlibat dalam perang melawan Nabi ﷺ seperti Perang Uhud dan Khandaq. Namun setelah melihat kemenangan Islam yang terus berkembang, terutama Fathu Khaibar dan perdamaian Hudaibiyah, mereka menyadari bahwa kebenaran ada pada Islam dan bahwa kekuatan Quraisy tak lagi mampu menandinginya. Dengan niat tulus mencari kebenaran, mereka pergi ke Madinah dan bersyahadat di hadapan Rasulullah ﷺ.

٢ - وَفِي صَفَرٍ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: كَانَتْ سَرِيَّةُ غَالِبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ اللَّيْثِيِّ إِلَى بَنِي الْمُلَوَّحِ بِالْكَدَيدِ، فَغَنِمُوا وَسَلِمُوا.

2 – Dan pada bulan Safar dari tahun ini (delapan hijriah): Terjadilah Sarriyyah Ghalib bin Abdullah Al-Laitsi ke Bani Al-Mullawwih di Al-Kadīd, lalu mereka mendapat ganimah (harta rampasan) dan kembali dengan selamat.

Ghalib bin ‘Abdillah al-Laitsi adalah salah satu sahabat Nabi ﷺ dari kabilah Laits (suku Kinānah). Ia dikenal sebagai panglima beberapa ekspedisi militer (sariyyah) pada masa Rasulullah ﷺ dan terkenal karena keberanian serta kepatuhannya kepada perintah Nabi. Dalam sariyyah ke Bani al-Mulawwah di al-Kadīd, ia memimpin sekitar 130 orang pasukan Muslim. Al-Kadīd adalah sebuah lembah dan sumber air di antara Makkah dan Madinah, berjarak sekitar 160 km dari Makkah ke arah Madinah, di wilayah antara Usfān dan Qudayd, kini termasuk wilayah barat Arab Saudi.

٣ - وَفِي صَفَرٍ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: كَانَتْ سَرِيَّةُ غَالِبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ اللَّيْثِيِّ أَيْضًا إِلَى فَدَكٍ، فَأَصَابُوا نَعَمًا وَقَتَلُوا وَسَلِمُوا.

3 – Dan pada bulan Safar dari tahun ini (delapan hijriah): Terjadilah Sarriyyah Ghalib bin Abdullah Al-Laitsi pula ke Fadak, lalu mereka mendapatkan ternak, membunuh (musuh), dan kembali dengan selamat. Dalam Sariyyah ke Fadak pada bulan Shafar tahun ke-8 Hijriah, Ghalib bin ‘Abdillah al-Laitsi memimpin sekitar 200 pasukan Muslim. Fadak terletak 140 km di utara Madinah, dekat Khaibar, dan kini termasuk wilayah provinsi Al-Madinah Al-Munawwarah. Lokasi ini sekarang dikenal sebagai Al-Hā'ith (الحائط).. Tujuan sariyyah ini adalah menindak suku Yahudi di Fadak yang merencanakan serangan dan membantu musuh Islam. Pasukan Muslim berhasil menyerang mendadak, mengambil banyak ternak, membunuh sebagian musuh, dan kembali ke Madinah dengan selamat.

٤ - وَفِي رَبِيعِ الْأَوَّلِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: كَانَتْ سَرِيَّةُ شُجَاعِ بْنِ وَهْبِ الْأَسَدِيِّ إِلَى بَنِي عَامِرِ بِالسِّيِّ، نَاحِيَةَ رُكْبَةَ مِنْ وَرَاءِ الْمَعْدِنِ، فَأَصَابُوا نَعَمًا كَثِيرًا وَشَاءً.

4 – Dan pada bulan Rabi'ul Awwal dari tahun ini (delapan hijriah): Terjadilah Sarriyyah Syuja’ bin Wahb Al-Asadiyy ke Bani 'Amir di As-Sī (Al-Ghamrah), di daerah Rukbah, di belakang Al-Ma'din, lalu mereka mendapatkan banyak ternak unta dan kambing.

Syuja‘ bin Wahb al-Asadi adalah sahabat Nabi ﷺ dari kabilah Asad bin Khuzaymah, termasuk As-Sābiqūn al-Awwalūn dan ikut serta dalam Perang Badar, Uhud, dan Khandaq. Ia juga pernah menjadi utusan Nabi kepada Raja Persia (Khusrau II). Syuja’ syahid dalam Perang Yamamah (12 H). Dalam Sariyyah ke Bani ‘Amir di As-Sī (bulan Rabi‘ul Awwal tahun ke-8 H), ia memimpin sekitar 24 orang pasukan. Lokasi As-Sī atau al-Ghamrah berada dekat Rukbah, di belakang al-Ma‘din (wilayah tambang), sekitar 200 km tenggara Madinah, kini termasuk wilayah Wadi al-Far‘ di Arab Saudi barat. Misi ini bertujuan menyerang dan merebut harta Bani 'Amir sebagai hukuman atau tindakan pencegahan karena suku tersebut sering menimbulkan ancaman dan gangguan terhadap keamanan umat Muslim.

٥ - وَفِي رَبِيعِ الْأَوَّلِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: كَانَتْ سَرِيَّةُ كَعْبِ بْنِ عُمَيْرٍ الْغِفَارِيِّ إِلَى ذَاتِ أَطْلَاحٍ، فَقَتَلَتِ السَّرِيَّةُ إِلَّا رَجُلٌ جَرِيحٌ.

5 – Dan pada bulan Rabi'ul Awwal dari tahun ini (delapan hijriah): Terjadilah Sarriyyah (Ekspedisi) Ka’b bin Umair Al-Ghifariyy ke Dzāt Athlāḥ. Lalu pasukan tersebut terbunuh (gugur) kecuali satu orang yang terluka.

Ka‘b bin ‘Umair al-Ghifari adalah sahabat Nabi ﷺ dari Bani Ghifar, seorang panglima yang saleh dan pemberani. Dalam Sariyyah ke Dzāt Athlāḥ pada Rabi‘ul Awwal tahun ke-8 H, ia memimpin sekitar 15 pasukan. Tujuan ekspedisi ini untuk mengajak suku-suku di Syam memeluk Islam dan memantau gerakan musuh Romawi. Namun, penduduk Dzāt Athlāḥ berkhianat dan menyerang, hingga seluruh pasukan syahid kecuali satu orang, yaitu Ka‘b bin ‘Amr al-Ghifari (menurut sebagian riwayat: Ka‘b bin ‘Umair sendiri gugur). Dzāt Athlāḥ kini berada di perbatasan utara Hijaz menuju Syam, dekat Tabuk, Arab Saudi.

٦ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: كَانَتْ سَرِيَّةُ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ إِلَى مَدْيَنَ، فَأَصَابُوا سَبْيًا مِنْ أَهْلِ مَيْنَاءَ.

6 – Dan pada tahun ini (delapan hijriah): Terjadilah Sarriyyah Zayd bin Haritsah ke Madyan, lalu mereka mendapatkan tawanan dari penduduk Maynā'.

Zayd bin Hārithah adalah sahabat dekat dan anak angkat Nabi ﷺ, seorang panglima utama dalam banyak sariyyah. Dalam Sariyyah ke Madyan (tahun ke-8 H), ia memimpin sekitar 100 pasukan Muslim. Madyan terletak di barat laut Arab Saudi, dekat perbatasan Yordania, sedangkan Maynā’ adalah pelabuhan atau pemukiman pantai di wilayah itu. Tujuan sariyyah ini untuk menindak kabilah di sekitar Madyan yang mengganggu kafilah Muslim dan membantu musuh Islam. Pasukan berhasil menang, menawan beberapa penduduk Maynā’, dan kembali ke Madinah dengan selamat.

٧ - وَفِي جُمَادَى الْأُولَى مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: كَانَتْ سَرِيَّةُ مُؤْتَةَ، فَقُتِلَ الْأُمَرَاءُ الثَّلَاثَةُ، ثُمَّ فَتَحَ اللَّهُ عَلَى يَدِ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ.

7 – Dan pada bulan Jumadal Ūlā dari tahun ini (delapan hijriah): Terjadilah Sarriyyah (Perang) Mu'tah. Lalu terbunuh (gugur) tiga orang pemimpin, kemudian Allah memberikan kemenangan melalui tangan Khalid bin Al-Walid.

Perang Mu’tah terjadi pada Jumadal Ula tahun ke-8 H. Motifnya adalah membalas pembunuhan utusan Nabi ﷺ, Al-Harits bin ‘Umair Al-Azdi, oleh Syuraḥbīl bin ‘Amr Al-Ghassānī, seorang gubernur di bawah Kekaisaran Romawi (Bizantium) di Buṣrā, Syam. Rasulullah ﷺ mengirim 3.000 pasukan Muslim menghadapi sekitar 100.000 pasukan Romawi dan sekutunya. Tiga panglima yang gugur berturut-turut adalah: Zayd bin Haritsah, Ja‘far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Setelah mereka syahid, Khalid bin Al-Walid mengambil komando dan dengan taktik cemerlang menyelamatkan pasukan Muslim dari kehancuran.

Dalam Perang Mu’tah, Khalid bin al-Walid —yang baru pertama kali memimpin pasukan setelah tiga panglima gugur— menunjukkan strategi militer luar biasa meski jumlah pasukan Muslim sangat sedikit.

Beberapa taktik utamanya:

Mengatur ulang barisan — ia menukar posisi sayap kanan dan kiri pasukan, sehingga musuh mengira bala bantuan baru datang dari Madinah. Mengatur serangan bergelombang — tidak menyerang terus-menerus, tetapi bergantian menyerang dan mundur teratur untuk menjaga stamina pasukan. Membuka jalur mundur taktis — di malam hari ia memimpin penarikan pasukan dengan formasi bertahan, seolah-olah masih siap bertempur, sehingga Romawi tak berani mengejar.

Dengan kecerdikan ini, pasukan Muslim selamat dari pengepungan besar, dan Rasulullah ﷺ menamainya “سيف الله المسلول” (Pedang Allah yang terhunus).

٨ - وَفِي جُمَادَى الْآخِرَةِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: كَانَتْ سَرِيَّةُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ إِلَى ذَاتِ السَّلَاسِلِ، فَنَصَرَهُمُ اللَّهُ.

8 – Dan pada bulan Jumada al-Akhirah dari tahun ini: Terjadilah Sariyyah (ekspedisi) Amr bin al-‘Ash ke Dzat as-Salasil, lalu Allah memberikan kemenangan kepada mereka.

‘Amr bin al-‘Āṣ adalah sahabat Nabi ﷺ yang dahulu pemuka Quraisy dan penentang Islam, kemudian masuk Islam pada tahun ke-8 H dan menjadi panglima cerdas dalam banyak peperangan. Dalam Sariyyah Dzat as-Salāsil (secara bahasa artinya Tempat Rantai atau Mata Air Rantai) di Jumada al-Akhirah tahun ke-8 H, ia memimpin 300–700 pasukan menuju wilayah Qudā‘ah di utara Wadi al-Qurā, dekat perbatasan Syam (sekarang wilayah Tabuk, Arab Saudi, dekat Yordania). Tujuan ekspedisi ini adalah menghadapi suku-suku Arab sekutu Romawi yang mengancam Madinah. Pasukan Muslim menang dengan pertolongan Allah tanpa kehilangan besar.

٩ - وَفِي هَذِهِ السَّرِيَّةِ أَجْنَبَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ، فَتَيَمَّمَ مِنْ شِدَّةِ الْبَرْدِ، فَأَقَرَّهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ

9 – Dan dalam sarriyyah (ekspedisi) ini, Amr bin Al-'Ash berhadas besar (junub), lalu ia bertayamum karena sangat dinginnya cuaca. Maka Rasulullah membenarkannya (tayamum Amr).

Peristiwa ini terjadi dalam Sariyyah Dhat as-Salasil, yaitu ekspedisi yang dipimpin oleh ‘Amr bin al-‘Ash ke wilayah Quda‘ah di Utara Wadi al-Qurā, dekat perbatasan Syam, pada Jumadal Ula tahun ke-8 Hijriah. Tujuannya untuk menghadapi suku-suku Arab yang bersekutu dengan Romawi. Saat itu cuaca sangat dingin, dan ‘Amr bin al-‘Ash bertayamum karena khawatir mati bila mandi junub, lalu tetap memimpin shalat.

Imam Abu Dawud (no. 334) dan Ahmad (4/203) meriwayatkan dari Amru bin Ash Radhiyallahu Anhu yang berkata:

احْتَلَمْتُ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ فِي غَزْوَةِ ذَاتِ السَّلاسِلِ، فَأَشْفَقْتُ إِنِ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ، فَتَيَمَّمْتُ، ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِي، فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: يَا عَمْرُو، صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ؟ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي مَنَعَنِي، فَقَالَ: يَا عَمْرُو، صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ؟ فَضَحِكَ النَّبِيُّ ﷺ وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا.

Aku bermimpi basah pada malam yang sangat dingin di Perang Dhat as-Salasil, lalu aku takut binasa jika mandi, maka aku bertayamum dan shalat bersama sahabat-sahabatku. Ketika hal itu disampaikan kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Wahai ‘Amr, engkau shalat dengan sahabatmu padahal junub?” Aku menjelaskan alasanku (konon beliau membaca QS An-Nisa: 39). Nabi ﷺ pun tertawa dan tidak menegurku, (Sunan Abu Dawud: 334. Musnad Ahmad: 17131).

١٠ - وَفِي شَعْبَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: كَانَتْ سَرِيَّةُ أَبِي قَتَادَةَ إِلَى خَضِرَةَ، وَهِيَ أَرْضُ مُحَارِبَ بِنَجْدٍ، فَغَنِمُوا وَأَسَرُوا.

10 – Dan pada bulan Sya'ban dari tahun ini: Terjadilah Sarriyyah Abū Qatādah ke Khaḍirah, yaitu tanah Muḥārib di Najd, lalu mereka mendapat ghanimah (harta rampasan) dan menawan (musuh).

Abu Qatadah al-Harits bin Rib‘i al-Anshari adalah sahabat Nabi ﷺ dari Bani Salimah, terkenal sebagai penunggang kuda tangguh dan pahlawan banyak sariyyah. Dalam Sariyyah ke Khadhirah pada Sya‘ban tahun ke-8 H, ia memimpin sekitar 15 pasukan menuju wilayah Khadhirah, yaitu daerah suku Muharib di Najd, kini termasuk wilayah tengah Arab Saudi, sekitar Qassim bagian barat. Tujuannya untuk menumpas kabilah Muharib yang mengganggu jalur kafilah dan merencanakan serangan ke Madinah. Pasukan Muslim menang, menawan beberapa musuh, dan memperoleh ghanimah tanpa kehilangan prajurit.

١١ - وَفِي شَعْبَانَ أَيْضًا مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: كَانَتْ سَرِيَّةُ أَبِي حَدْرَدٍ إِلَى الْغَابَةِ، فَقَتَلُوا رَئِيسَ الْقَوْمِ، وَغَنِمُوا.

11 – Dan pada bulan Sya'ban pula dari tahun ini: Terjadilah Sarriyyah Abū Ḥadrad ke Al-Ghābah, lalu mereka membunuh pemimpin kaum tersebut, dan mendapat ghanimah.

Rasulullah ﷺ mengirimkan pasukan kecil yang dipimpin oleh Abu Hadrad al-Aslami ke daerah al-Ghabah. Sebabnya adalah karena seorang laki-laki dari suku Jusham bin Mu'awiyah datang bersama banyak orang ke al-Ghabah, dengan tujuan mengumpulkan suku Qais untuk memerangi kaum Muslimin. Maka Rasulullah ﷺ mengutus Abu Hadrad bersama dua orang lainnya untuk mencari informasi dan kabar tentang mereka. Mereka tiba di tempat kaum tersebut saat matahari terbenam. Abu Hadrad bersembunyi di satu sisi, dan kedua rekannya di sisi lain. Gembala mereka terlambat datang hingga waktu malam tiba. Pemimpin kaum itu pun keluar sendirian. Ketika ia melewati tempat persembunyian Abu Hadrad, Abu Hadrad memanahnya tepat di jantungnya hingga ia jatuh tanpa sempat berbicara. Lalu Abu Hadrad memenggal kepalanya, menyerbu ke arah pasukan dan bertakbir. Kedua rekannya pun ikut bertakbir dan menyerbu. Kaum itu pun lari tunggang langgang, dan ketiga Muslim tersebut berhasil membawa banyak unta dan kambing sebagai rampasan, (Mausuatut Tarikhiyah Dorar Saniyah: 113).

١٢ - وَفِي شَعْبَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: نَقَضَتْ قُرَيْشٌ عَهْدَهَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ

12 – Dan pada bulan Sya'ban dari tahun ini: Kaum Quraisy melanggar perjanjian mereka dengan Rasulullah .

Pada bulan Sya'ban, sekitar dua tahun (tepatnya 22 bulan) setelah Perjanjian Hudaibiyah, Bani Bakr dan Bani Nafatsah meminta bantuan Quraisy untuk menyerang Bani Khuza'ah, sekutu Rasulullah ﷺ. Meskipun Abu Sufyan tidak dilibatkan, tokoh-tokoh Quraisy seperti Safwan bin Umayyah dan Ikrimah bin Abu Jahl ikut serta secara diam-diam. Mereka menyerang Khuza'ah di malam hari saat sedang lengah, bahkan hingga ke wilayah suci (masjidil haram). Serangan ini menyebabkan banyak korban dari Khuza'ah, termasuk anak-anak dan wanita. Setelah menyadari pelanggaran terhadap perjanjian damai, Quraisy menyesal dan menyadari bahwa tindakan mereka telah membatalkan kesepakatan dengan Rasulullah ﷺ. Peristiwa ini menjadi pemicu utama Penaklukan Makkah, (Diringkas dari Sabilul Huda war Rasyad fi Sirah Khairil Ibad).

١٣ - وَفِي شَعْبَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: جَاءَ أَبُو سُفْيَانَ بْنُ حَرْبٍ؛ لِيُجَدِّدَ الْعَهْدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ.

13 - Dan pada bulan Sya'ban dari tahun ini: Datanglah Abu Sufyan bin Ḥarb; untuk memperbaharui perjanjian dengan Rasulullah , namun beliau tidak menjawabnya (menolak).

Setelah Quraisy melanggar Perjanjian Hudaibiyah dengan membantu Bani Bakr menyerang Bani Khuza‘ah, mereka menyadari kesalahan fatalnya. Maka Abu Sufyan bin Ḥarb, pemimpin Quraisy, datang sendiri ke Madinah pada bulan Sya‘ban tahun ke-8 H untuk memperbarui perjanjian dan meminta maaf. Ia menemui Rasulullah ﷺ, lalu Abu Bakar, Umar, dan Ali, namun tak seorang pun menyetujuinya. Rasulullah ﷺ tidak menjawab permintaannya, menandakan perjanjian telah batal sepenuhnya. Peristiwa ini menjadi pembuka jalan bagi Fathu Makkah (Penaklukan Makkah)

١٤ - وَفِي رَمَضَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: أَرْسَلَ حَاطِبُ بْنُ أَبِي بَلْتَعَةَ كِتَابًا إِلَى قُرَيْشٍ يُخْبِرُهُمْ بِمَسِيرِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِلَيْهِمْ، فَعَذَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، وَعَفَا عَنْهُ.

14 – Dan pada bulan Ramadhan dari tahun ini: Ḥāṭib bin Abī Balta'ah mengirim surat kepada kaum Quraisy, memberitahu mereka tentang pergerakan (pasukan) Rasulullah menuju mereka. Lalu Rasulullah memaafkannya, dan mengampuninya.

Hāṭib bin Abī Balta‘ah adalah sahabat Nabi ﷺ dari kabilah Lakhm, salah satu peserta Perang Badar. Saat Rasulullah ﷺ bersiap menuju Fathu Makkah (Ramadhan tahun ke-8 H), Hāṭib mengirim surat rahasia kepada Quraisy untuk melindungi keluarganya di Makkah, bukan karena kemunafikan atau pengkhianatan. Surat itu dicegat oleh Ali bin Abi Thalib atas wahyu Allah (QS. Al-Mumtahanah: 1). Setelah diinterogasi, Hāṭib menjelaskan niatnya. Rasulullah ﷺ memaafkannya, bersabda:

إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا، وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى مَنْ شَهِدَ بَدْرًا، فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ؛ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ.

Sungguh, dia telah ikut serta dalam Perang Badar. Dan tahukah kamu, barangkali Allah telah menengok orang-orang yang ikut serta dalam Perang Badar, lalu berfirman: 'Lakukanlah apa yang kalian kehendaki, karena Aku telah mengampuni kalian, (Sahih Bukhari: 4274. Sahih Muslim: 2494).

١٥ - وَفِي رَمَضَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: كَانَتْ سَرِيَّةُ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى إِضَمٍ لِلتَّمْوِيَةِ عَلَى الْمُشْرِكِينَ.

15 – Dan pada bulan Ramadhan dari tahun ini: Terjadilah Sarriyyah (Ekspedisi) Abū Qatādah Al-Anshārī, semoga Allah meridhoinya, ke Iḍam untuk mengelabui kaum Musyrikin.

Abu Qatadah Al-Anshari (الأنصاري) adalah sahabat Nabi ﷺ dari suku Khazraj, bernama lengkap Al-Harith bin Rib‘i, dikenal sebagai penunggang kuda tangguh dan termasuk perawi banyak hadis. Ia ikut berbagai pertempuran besar seperti Uhud dan Hunain. Iḍam (إِضَم) adalah sebuah lembah di Hijaz, terletak antara Madinah dan Yanbu‘ di Arab Saudi sekarang. Tujuan ekspedisi Abu Qatadah ke Iḍam pada Ramadan tahun ke-8 H adalah taktik pengelabuan (tamyīh) agar kaum musyrikin tidak menduga rencana utama Rasulullah ﷺ untuk menaklukkan Makkah (Fathu Makkah).

١٦ - وَفِي رَمَضَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِجَيْشِهِ مِنَ الْمَدِينَةِ لِفَتْحِ مَكَّةَ.

16 – Dan pada bulan Ramadan dari tahun ini: Rasulullah keluar dengan pasukannya dari Madinah untuk Penaklukan Makkah (Fathu Makkah).

Peristiwa Fathu Makkah terjadi pada Ramadhan tahun ke-8 H (Januari 630 M). Rasulullah ﷺ berangkat dari Madinah dengan sekitar 10.000 pasukan kaum Muslimin, pasukan terbesar yang pernah dikumpulkan saat itu. Tujuannya adalah menaklukkan Makkah tanpa pertumpahan darah, setelah kaum Quraisy melanggar perjanjian Hudaibiyah. Rasulullah ﷺ merahasiakan rencana ini hingga tiba di Marr az-Zahran dekat Makkah. Penaklukan ini menjadi titik balik besar dalam sejarah Islam—Makkah dibersihkan dari berhala dan penduduknya banyak yang masuk Islam dengan damai.

١٧ - وَفِي رَمَضَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ :جَاءَ العَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ المُطَّلِبِ بِعِيَالِهِ مِنْ مَكَّةَ مُهَاجِرًا إِلَى المَدِينَةِ، فَالْتَقَى بِالنَّبِيِّ ﷺ بِالجُحْفَةِ.

17 – Dan pada bulan Ramadan tahun ini, datanglah Al-‘Abbās bin ‘Abdul Muṭṭalib bersama keluarganya dari Makkah berhijrah ke Madinah, lalu bertemu dengan Nabi di daerah Al-Juhfah.

Al-‘Abbās bin ‘Abdul Muṭṭalib adalah paman Rasulullah ﷺ, termasuk tokoh terpandang Quraisy dan salah satu pelindung Nabi di Makkah sebelum masuk Islam. Ia berhijrah ke Madinah menjelang Fathu Makkah pada tahun ke-8 Hijriah untuk menyatakan keislamannya secara terbuka dan bergabung bersama kaum Muslimin. Al-Juhfah adalah sebuah daerah antara Makkah dan Madinah, dekat Rabigh, yang menjadi miqat penduduk Syam. Di tempat itulah Al-‘Abbās bertemu Rasulullah ﷺ sebelum beliau melanjutkan perjalanan menuju penaklukan Makkah.

١٨ - وَفِي رَمَضَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ :جَاءَ مَخْرَمَةُ بْنُ نَوْفَلٍ، وَأَبُو سُفْيَانَ بْنُ الحَارِثِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ، وَعَبْدُ اللهِ بْنُ أُمَيَّةَ، فَالْتَقَوْا بِالنَّبِيِّ ﷺ وَأَسْلَمُوا.

18 – Dan pada bulan Ramadan tahun ini, datanglah Makhramah bin Nawfal, Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muthalib, dan Abdullah bin Umayyah. Mereka bertemu dengan Nabi dan masuk Islam.

Makhramah bin Nawfal adalah tokoh tua Quraisy dari Bani Zuhrah, sepupu Nabi ﷺ. Abu Sufyan bin Hārith bin ‘Abdul Muṭṭalib adalah sepupu sekaligus saudara sesusuan Nabi ﷺ yang dahulu memusuhi Islam namun akhirnya bertobat. Abdullah bin Umayyah juga kerabat Nabi ﷺ dari Bani Makhzum. Mereka bertemu Rasulullah ﷺ di daerah Al-Abwā’ atau Al-Juhfah menjelang Fathu Makkah. Setelah menyaksikan kuatnya Islam dan kemenangan yang dekat, serta karena hidayah Allah, mereka datang dengan hati tunduk dan menyatakan keislaman mereka di hadapan Nabi ﷺ.

١٩ - وَفِي رَمَضَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ، وَقَبْلَ دُخُولِ النَّبِيِّ ﷺ مَكَّةَ، أَسْلَمَ أَبُو سُفْيَانَ بْنُ حَرْبٍ، وَحَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ، وَبُدَيْلُ بْنُ وَرْقَاءَ.

19 – Dan pada bulan Ramadan tahun ini, sebelum Nabi memasuki Makkah, masuk Islamlah Abu Sufyan bin Harb, Hakim bin Hizam, dan Budail bin Warqa’.

Abu Sufyan bin Ḥarb adalah pemimpin besar Quraisy dan ayah dari Mu‘āwiyah; dahulu musuh utama Islam, namun masuk Islam menjelang Fathu Makkah. Ḥakīm bin Ḥizām adalah keponakan Khadijah raḍiyallāhu ‘anhā, dikenal dermawan dan cerdas, baru memeluk Islam di masa akhir penaklukan Makkah. Budail bin Warqā’ al-Khuzā‘ī adalah tokoh dari kabilah Khuza‘ah, sekutu Nabi ﷺ yang menyampaikan berita pengkhianatan Quraisy menjelang Fathu Makkah. Ketiganya masuk Islam setelah menyadari kebenaran dakwah Nabi ﷺ dan kekuatan Islam yang tidak terbendung.

٢٠ - وَفِي رَمَضَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ، بَعْدَ العَصْرِ، لَمَّا بَلَغَ رَسُولُ اللهِ ﷺ كُرَاعَ الغَمِيمِ، أَفْطَرَ عَلَى رَاحِلَتِهِ، لِيَرَاهُ النَّاسَ.

20 – Dan pada bulan Ramadan tahun ini, setelah salat Ashar, ketika Rasulullah sampai di daerah Kura‘ al-Ghamim, beliau berbuka di atas kendaraannya agar dilihat oleh orang banyak.

Kurā‘ al-Ghamīm adalah sebuah lembah di antara Makkah dan Madinah, terletak setelah daerah ‘Usfān menuju Makkah. Kini wilayahnya termasuk sekitar Wādī al-Fāṭimah di jalur Hijaz modern. Peristiwa ini disebut dalam hadis sahih riwayat Muslim dan Bukhari: Rasulullah ﷺ berbuka puasa saat safar di Kurā‘ al-Ghamīm agar para sahabat mengikuti beliau dan tidak memaksakan diri berpuasa dalam perjalanan. Hadis ini menjadi dasar kebolehan berbuka bagi musafir dan menunjukkan sunnah memberi contoh secara nyata agar umat meneladani.

٢١ - وَفِي رَمَضَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: دَخَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَكَّةَ فَاتِحًا مَنْصُورًا مُؤَيَّدًا.

21 – Dan pada bulan Ramadan tahun ini, Rasulullah memasuki Makkah sebagai pemenang, mendapat pertolongan dan dukungan dari Allah.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ مَكَّةَ يَوْمَ الْفَتْحِ وَعَلَى رَأْسِهِ الْمِغْفَرُ، فَلَمَّا نَزَعَهُ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ ابْنُ خَطَلٍ مُتَعَلِّقٌ بِأَسْتَارِ الْكَعْبَةِ‏.‏ فَقَالَ ‏ "‏ اقْتُلْهُ ‏"‏ قَالَ مَالِكٌ وَلَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِيمَا نُرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ يَوْمَئِذٍ مُحْرِمًا‏.‏

Nabi Muhammad ﷺ memasuki kota Makkah pada hari penaklukan, dan di atas kepalanya terdapat pelindung kepala (helm). Ketika beliau melepaskannya, datanglah seorang laki-laki dan berkata, “Ibnu Khathal sedang bergantung pada tirai Ka'bah.”[i] Maka Nabi ﷺ bersabda, “Bunuh dia.” Malik berkata, “Menurut yang kami lihat—dan Allah lebih mengetahui—pada hari itu Nabi ﷺ tidak dalam keadaan berihram,” (Sahih Bukhari: 4286).

٢٢ - وَفِي رَمَضَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: أَقَامَ النَّبِيُّ ﷺ بِمَكَّةَ تِسْعَةَ عَشَرَ يَوْمًا يَقْصُرُ الصَّلَاةَ.

22 – Dan pada bulan Ramadan tahun ini, Nabi tinggal di Makkah selama sembilan belas hari dengan melaksanakan salat qashar.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata:

أَقَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِمَكَّةَ تِسْعَةَ عَشَرَ يَوْمًا يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ

Nabi ﷺ tinggal di Mekah selama 19 hari dengan dua rekaat untuk setiap salat, (Sahih Bukhari: 4298).

Catatan: Beliau melakukan hal itu karena beliau tidak berniat untuk menetap di Mekah. Perbuatan Nabi ﷺ ini kemudian menjadi pegangan Abdullah bin Abbas yang mengqasar salat apabila melakukan perjalanan selama 19 hari atau kurang dari itu dan tidak berniat menetap di tempat tujuan, (Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah).

٢٣ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: كَانَتْ سَرِيَّةُ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِلَى الحَرَقَاتِ.

23 – Dan pada tahun ini, terjadi ekspedisi pasukan Usamah bin Zaid raḍiyallāhu ‘anhu menuju kabilah Al-Haraqāt.

Usāmah bin Zaid raḍiyallāhu ‘anhu adalah putra Zaid bin Ḥārithah, anak angkat Rasulullah ﷺ, dan termasuk sahabat muda yang sangat dicintai beliau. Kabilah Al-Ḥaraqāt merupakan bagian dari Bani Sulaym, tinggal di wilayah Najd, antara Madinah dan Thaif. Ekspedisi ini bertujuan menumpas kelompok yang memusuhi Islam dan mengancam keamanan kafilah kaum Muslimin di sekitar Hijaz. Misi itu juga sebagai latihan militer bagi para sahabat muda dan menunjukkan keadilan Islam dalam menegakkan keamanan tanpa merampas hak orang yang tidak memerangi.

٢٤ - وَفِي رَمَضَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ :كَانَتْ سَرِيَّةُ خَالِدِ بْنِ الوَلِيدِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لِهَدْمِ العُزَّى فَهُدِمَتْ.

24 – Dan pada bulan Ramadan tahun ini, terjadi ekspedisi Khalid bin Walid raḍiyallāhu ‘anhu untuk menghancurkan berhala Al-‘Uzzā, maka berhala itu pun dihancurkan.

Ketika Rasulullah ﷺ telah merasa tenang setelah penaklukan (Makkah), beliau mengutus Khalid bin Walid menuju berhala al-‘Uzzā pada lima hari terakhir bulan suci (Ramadan) untuk menghancurkannya. Al-‘Uzzā berada di daerah Nakhlah, dimiliki oleh Quraisy dan seluruh Bani Kinanah, dan merupakan berhala terbesar mereka. Penjaganya adalah Bani Syaiban. Khalid berangkat bersama 30 penunggang kuda hingga sampai ke tempat itu dan menghancurkannya. Ketika ia kembali, Rasulullah ﷺ bertanya, “Apakah engkau melihat sesuatu?” Khalid menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Kalau begitu engkau belum menghancurkannya. Kembalilah dan hancurkanlah.”

Maka Khalid kembali dengan marah sambil menghunus pedangnya. Tiba-tiba keluar seorang wanita hitam, telanjang, dengan rambut terurai. Penjaga berhala berteriak-teriak kepadanya. Lalu Khalid memukul wanita itu hingga terbelah dua, kemudian ia kembali kepada Rasulullah ﷺ dan menceritakan kejadian itu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

نَعَمْ، تِلْكَ العُزَّى، وَقَدْ أَيِسَتْ أَنْ تُعْبَدَ فِي بِلَادِكُمْ أَبَدًا

Benar, itulah al-‘Uzzā. Ia telah berputus asa untuk disembah di negerimu selamanya, (Mausuatut Tarikhiyah Dorar Saniyah: 128).

٢٥ - وَفِي رَمَضَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ :كَانَتْ سَرِيَّةُ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لِهَدْمِ سُوَاعٍ فَهُدِمَتْ.

25 – Dan pada bulan Ramadan tahun ini, terjadi ekspedisi ‘Amr bin Al-‘Āṣ raḍiyallāhu ‘anhu untuk menghancurkan berhala Suwā‘, maka berhala itu pun dihancurkan.

Rasulullah ﷺ mengutus ‘Amr bin al-‘Āṣ untuk menghancurkan berhala Suwa‘, yang dahulu disembah kaum Nabi Nuh dan kemudian oleh kabilah Hudhail di Ruhāṭ, sekitar 150 km timur laut Makkah. Setelah Makkah ditaklukkan, ‘Amr tiba di sana. Penjaga berhala menantangnya dan berkata bahwa Suwa‘ akan melindungi diri. ‘Amr menjawab, “Apakah ia mendengar atau melihat?” Lalu ia menghancurkan berhala itu bersama para sahabatnya dan tidak menemukan apa pun di tempat penyimpanannya. Melihat hal itu, penjaga berhala berkata, “Aku telah masuk Islam,” (Mausuatut Tarikhiyah Dorar Saniyah: 129).

٢٦ - وَفِي رَمَضَانَ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ :كَانَتْ سَرِيَّةُ سَعْدِ بْنِ زَيْدٍ الأَشْهَلِيِّ لِهَدْمِ مَنَاةَ فَهُدِمَتْ.

26 – Dan pada bulan Ramadan tahun ini, terjadi ekspedisi Sa‘d bin Zaid Al-Asyhali untuk menghancurkan berhala Manāt, maka berhala itu pun dihancurkan.

Diriwayatkan bahwa ketika Makkah ditaklukkan, Rasulullah ﷺ mengutus Sa‘d bin Zaid untuk menghancurkan berhala Manāt di al-Musyallal, enam hari menjelang akhir Ramadan tahun kedelapan Hijriah. Berhala ini dahulu disembah oleh kaum Aus, Khazraj, dan Ghassan. Ia berangkat bersama 20 penunggang kuda hingga tiba di tempat itu, dan mendapati penjaga berhala (sādin) di sana.

Penjaga itu bertanya, “Apa yang engkau inginkan?” Sa‘d menjawab, “Menghancurkan Manāt.” Ia menjawab, “Terserah engkau.”

Ketika Sa‘d mendekat, muncullah seorang wanita hitam, telanjang, rambut terurai, berteriak histeris sambil memukul dadanya. Penjaga itu berkata, “Itulah Manāt, hadapilah dengan sebagian kemarahanmu.”

Sa‘d pun memukulnya hingga mati, lalu menghancurkan berhala itu bersama para sahabatnya. Mereka tidak menemukan apa pun di tempat penyimpanannya, kemudian Sa‘d kembali kepada Rasulullah ﷺ, (Sabilul Huda: 6/199).

٢٧ - وَفِي شَوَّالٍ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ :كَانَتْ سَرِيَّةُ خَالِدِ بْنِ الوَلِيدِ إِلَى بَنِي جَذِيْمَةَ، فَقَتَلَ مِنْهُمْ رِجَالًا بَعْدَمَا أَسْلَمُوا، فَعَنَّفَهُ رَسُولُ الله ﷺ، وَأَرْسَلَ عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَوَدَاهُمْ وَأَرْضَاهُمْ.

27 – Dan pada bulan Syawal tahun ini, terjadi ekspedisi Khalid bin Walid ke Bani Jadzīmah. Ia membunuh beberapa orang dari mereka setelah mereka menyatakan masuk Islam. Maka Rasulullah menegurnya dengan keras, lalu mengutus Ali raḍiyallāhu ‘anhu untuk membayar diyat mereka dan menenangkan hati keluarga mereka. Mengapa bisa terjadi demikian? Rasulullah ﷺ mengutus Khalid bin Walid ke Bani Jadzīmah pada bulan Syawal tahun 8 H untuk mengajak mereka kepada Islam, bukan berperang. Namun, karena kesalahpahaman,  juga karena kurang fasih mengatakan “Aslama,” mereka justr berkata, “Ṣaba’nā ṣaba’nā,” (“kami telah keluar dari agama kami yang lama”). Khalid mengira mereka belum Islam dan memerintahkan pembunuhan serta penawanan. Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau menegur keras Khalid, berlepas diri dari perbuatannya, dan mengutus Ali bin Abi Thalib untuk membayar diyat serta mengganti harta mereka hingga semuanya puas. Rasulullah ﷺ memuji tindakan Ali dan menegaskan penolakannya terhadap tindakan Khalid.

٢٨ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: كَانَتْ سَرِيَّةُ قَيْسِ بْنِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ إِلَى صُدَاءٍ نَاحِيَةَ اليَمَنِ.

28 – Dan pada tahun ini, terjadi ekspedisi Qais bin Sa‘d bin ‘Ubādah menuju daerah Ṣudā’ di wilayah Yaman.

Setelah Rasulullah ﷺ kembali dari Ji‘rānah tahun ke-8 H, beliau mengutus Qais bin Sa‘d bin ‘Ubadah bersama 400 pasukan menuju suku Ṣadā’ di Yaman. Namun, seorang utusan dari Ṣadā’ datang kepada Rasulullah ﷺ dan menjamin kaumnya akan tunduk. Nabi pun memerintahkan Qais untuk menarik pasukan. Tak lama kemudian, 15 orang Ṣadā’ datang dan masuk Islam, disusul 100 orang lagi saat Haji Wada‘. Nabi ﷺ memuji utusan itu, Ziyād bin al-Ḥārith, yang juga pernah mengumandangkan azan dalam suatu perjalanan, dan ketika Bilal akan ikamah, Nabi ﷺ mencegah Bilal dan bersabda:

مَنْ أَذَّنَ فَهُوَ يُقِيمُ

Orang yang ikamah adalah orang yang azan, (Sunan Abu Dawud: 514).

٢٩ - وَفِي شَوَّالٍ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: كَانَتْ غَزْوَةُ حُنَيْنٍ.

29 – Dan  pada bulan Syawal tahun ini terjadi Perang Hunain.

Perang Hunain terjadi pada bulan Syawal tahun 8 H, setelah penaklukan Makkah. Rasulullah ﷺ memimpin sekitar 12.000 pasukan kaum Muslimin menghadapi suku Hawazin dan Tsaqif yang menyerang karena takut kekuasaan mereka hilang. Awalnya kaum Muslimin mundur karena serangan mendadak, namun Rasulullah ﷺ tetap tegar hingga mereka kembali menang. Hunain adalah sebuah lembah antara Makkah dan Thaif, sekitar 25 km dari Makkah ke arah tenggara. Kini wilayah itu masih dikenal dengan nama Wadi Hunain, termasuk dalam kawasan Thaif, Arab Saudi.

٣٠ - وَفِي شَوَّالٍ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: كَانَتْ سَرِيَّةُ أَوْطَاسٍ بِقِيَادَةِ أَبِي عَامِرٍ الأَشْعَرِيِّ.

30 – Dan pada bulan Syawal tahun ini terjadi ekspedisi Autas di bawah pimpinan Abu ‘Amir al-Asy‘ari.

Abu ‘Āmir al-Asy‘arī raḍiyallāhu ‘anhu adalah sahabat Nabi ﷺ dari kabilah al-Asy‘ar, paman dari Abu Musa al-Asy‘arī. Ia dikenal sebagai sahabat yang berani dan diutus Rasulullah ﷺ memimpin pasukan ke Awtās setelah Perang Hunain. Awtās adalah lembah di antara Hunain dan Thaif, di wilayah Makkah bagian timur (Arab Saudi sekarang). Dalam pertempuran ini, pasukan Muslim berjumlah sekitar 3.000 orang, sedangkan pasukan Hawāzin yang tersisa sekitar 4.000 hingga 5.000 orang. Kaum Muslimin menang, sedangkan Abu ‘Āmir gugur sebagai syahid.

٣١ - وَفِي شَوَّالٍ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: كَانَتْ سَرِيَّةُ الطُّفَيْلِ بْنِ عَمْرٍو الدَّوْسِيِّ لِهَدْمِ الصَّنَمِ ذِي الكَفَّيْنِ، فَأَشْعَلَ فِيهِ النَّارَ.

31 – Dan pada bulan Syawal tahun ini terjadi ekspedisi Tufail bin ‘Amr ad-Dausi untuk menghancurkan berhala Dzu al-Kaffayn, lalu ia membakarnya. Pada bulan Syawal tahun ke-8 H, Rasulullah ﷺ mengutus Ṭufail bin ‘Amr ad-Dausī untuk menghancurkan berhala kayu yang dinamai Dzu al-Kaffain milik ‘Amr bin Ḥumamah ad-Dausī sebelum berangkat ke Thaif. Ṭufail segera ke kaumnya, membakar berhala itu sambil menyatakan keimanannya melalui sebuah syair, lalu mengajak kaumnya bergabung. Sebanyak 400 orang dari Bani Daus berangkat bersamanya menuju Thaif dan tiba empat hari setelah Rasulullah ﷺ. Mereka membawa alat penghancur (dabbabah) dan manjaniq untuk membantu pengepungan. Rasulullah ﷺ memuji mereka dan menetapkan an-Nu‘mān bin ar-Rāziyah al-Lahyi sebagai pembawa panji kaum Azd. Bani Daus adalah bagian dari kaum Azd, dan Nu’man bin ar-Raziyah al-Lahyi adalah bagian dari kaum Azd dari Bani Lahyah.

٣٢ - وَفِي شَوَّالٍ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: وَفِي طَرِيقِهِ ﷺ لِحِصَارِ الطَّائِفِ، مَرَّ بِبُحْرَةِ الرَّغَاء، فَابْتَنَى بِهَا مَسْجِدًا، فَصَلَّى فِيهِ قَبْلَ وُصُولِهِ إِلَى الطَّائِفِ.

32 – Dan pada bulan Syawal tahun ini, ketika Rasulullah dalam perjalanan menuju pengepungan Thaif, beliau melewati Buhrah ar-Raghā’, lalu mendirikan sebuah masjid, dan salat di sana sebelum tiba di Thaif.

Nabi ﷺ transit di Buhrah ar-Ragha sembari menunggu kabar dari Khalid bin Walid yang diutus Nabi ﷺ untuk berangkat terlebih dahulu ke Thaif bersama 1000 pasukan. Khalid berupaya melakukan negosiasi dengan penduduk Thaif dari luar benteng, tetapi penduduk Thaif menolaknya. Mereka justru memamerkan kekuatan militer mereka. Jarak antara Buhrah Ar-Ragha ke Thaif sekitar 15-20 km arah utara timur Thaif.

٣٣ - وَفِي شَوَّالٍ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: فِي بُحْرَةِ أَيْضًا قُتِلَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي لَيْثٍ قِصَاصًا بِرَجُلٍ مِنْ هُذَيْلٍ، وَهُوَ أَوَّلُ قِصَاصٍ فِي الإِسْلَامِ.

33 – Dan pada bulan Syawal tahun ini, di tempat yang sama (Buhrah), seorang lelaki dari Bani Laits dibunuh sebagai qishash atas seorang dari Hudzail, dan itu merupakan qishash pertama dalam Islam.

٣٤ - وَفِي شَوَّالٍ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: كَانَتْ غَزْوَةُ الطَّائِفِ.

34 – Dan pada bulan Syawal tahun ini terjadi Perang Thaif.

Rasulullah ﷺ memimpin sekitar 12.000 pasukan mengepung benteng kuat milik Bani Tsaqīf di kota Ṭā’if. Motif utamanya adalah menumpas sisa kekuatan musuh dari suku Hawāzin dan Tsaqīf yang melarikan diri ke sana. Kaum Muslimin menggunakan manjaniq (ketapel besar) dan dabbābah (pelindung kayu) untuk menembus benteng, tetapi pengepungan berlangsung lama tanpa hasil. Akhirnya Rasulullah ﷺ menarik pasukan ke Madinah. Meskipun belum menang secara militer, akhirnya penduduk Ṭā’if masuk Islam dengan sukarela setahun kemudian.

٣٥ - وَفِي شَوَّالٍ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: فِي حِصَارِ الطَّائِفِ، نَزَلَ نَفَرٌ مِنْ رَقِيقِ الطَّائِفِ، فَأَعْتَقَهُمْ رَسُولُ اللهِ ﷺ، مِنْهُمْ أَبُو بَكْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.

35 – Dan pada bulan Syawal tahun ini, saat pengepungan Thaif, sekelompok budak dari Thaif turun (menyerahkan diri), lalu Rasulullah memerdekakan mereka, di antaranya Abu Bakrah raḍiyallāhu ‘anhu.

Beberapa budak milik orang-orang Tsaqīf melarikan diri dari benteng menuju pasukan Rasulullah ﷺ. Mereka meminta perlindungan dan menyatakan keislaman. Rasulullah ﷺ menerima mereka dengan baik dan memerdekakan semuanya sebagai bentuk penghargaan atas iman dan keberanian mereka meninggalkan tuan-tuan musyrik. Di antara mereka adalah Abu Bakrah Nufay‘ bin al-Ḥārith ats-Tsaqafī, yang kemudian menjadi sahabat Nabi yang terkenal. Peristiwa ini menunjukkan kemuliaan Islam dalam membebaskan manusia dari perbudakan dan penindasan.

٣٦ - وَفِي أَوَاخِرِ شَوَّالٍ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ :رَفَعَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الْحِصَارَ عَنْ الطَّائِفِ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى الْجِعْرَانَةِ، فَقَدِمَ عَلَيْهِ وُفُودُ هَوَازِنَ قَدْ أَسْلَمُوا، فَرَدَّ عَلَيْهِمْ أَسْرَاهُمْ.

36 – Pada akhir bulan Syawal tahun ini, Rasulullah mengakhiri pengepungan Thaif, lalu kembali ke Ji‘ranah. Datanglah delegasi Hawazin yang telah memeluk Islam, maka Rasulullah mengembalikan tawanan mereka.

Setelah 18 atau 20 hari mengepung Thaif tanpa hasil, justru penduduk Thaif melakukan perlawanan dari atas benteng yang kuat, Rasulullah ﷺ memutuskan untuk menarik pasukan dan kembali ke Ji‘ranah, tempat penyimpanan harta rampasan Perang Hunain. Tak lama kemudian, datang utusan dari kabilah Hawazin yang telah kalah dan kini masuk Islam. Mereka memohon agar tawanan dari keluarga dan anak-anak mereka dikembalikan. Rasulullah ﷺ dengan penuh kasih mengabulkan permintaan mereka, setelah memberi pilihan antara tawanan atau harta rampasan. Kaum Muslimin pun rela menyerahkan tawanan mereka, menunjukkan keagungan akhlak Rasulullah ﷺ dan kelembutan Islam terhadap musuh yang telah bertobat.

٣٧ - وَفِي ذِي الْقِعْدَةِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ :فَرَّقَ النَّبِيُّ ﷺ الْغَنَائِمَ، وَأَعْطَى الْمُؤَلَّفَةَ قُلُوبُهُمْ كَثِيرًا، وَوَكَلَ الْمُؤْمِنِينَ إِلَى إِيمَانِهِمْ، فَقَامَ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ فَقَالَ مَا قَالَ.

37 – Pada bulan Dzulqa‘dah tahun ini, Nabi membagikan harta rampasan perang. Beliau memberikan banyak kepada para mu’allaf qulubuhum (yang baru masuk Islam), sementara kaum mukminin diserahkan kepada keimanan mereka. Maka berdirilah Dzu al-Khuwaishirah dan berkata sebagaimana yang terkenal (menyoal keadilan pembagian itu).

Peristiwa ini terjadi setelah Perang Hunain, ketika Rasulullah ﷺ membagikan harta rampasan perang di Ji‘ranah. Nabi ﷺ memberikan bagian besar kepada para mu’allaf qulubuhum, seperti Abu Sufyan dan lainnya, untuk meneguhkan hati mereka setelah masuk Islam. Sementara para sahabat yang imannya kuat tidak diberi banyak, karena mereka sudah kokoh dalam iman.

Dzu al-Khuwaisirah at-Tamimi (nama aslinya Hurqus bin Zuhair at-Tamimi) berdiri dan berkata lancang:

يَا مُحَمَّدُ، وَاللَّهِ لَئِنْ كَانَ اللَّهُ أَمَرَكَ أَنْ تَعْدِلَ، مَا عَدَلْتَ

Wahai Muhammad, demi Allah, jika Allah memerintahkan engkau untuk berlaku adil, ketahuilah bahwa engkau belum berlaku adil.”

Nabi ﷺ bersabda:

احْذَرُوا هَذَا وَأَشْبَاهَهُ، فَإِنَّ فِي أُمَّتِي أَشْبَاهَ هَذَا، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقيَهم، فَإِذَا خَرَجُوا فَاقْتُلُوهُمْ، ثُمَّ إِذَا خَرَجُوا فَاقْتُلُوهُمْ ثُمَّ إِذَا خَرَجُوا فَاقْتُلُوهُمْ

Waspadalah terhadap orang ini dan orang-orang sepertinya, karena sesungguhnya dalam umatku akan ada orang-orang seperti ini; mereka membaca Al-Qur'ân namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Jika mereka muncul (memberontak), bunuhlah mereka; kemudian apabila mereka muncul lagi, bunuhlah mereka; lalu apabila mereka muncul lagi, bunuhlah mereka, (Tafsir Ibnu Katsir).

Peristiwa ini diisyaratkan dalam QS At-Taubah ayat 58 di mana Allah ta’ala berfirman:

وَمِنْهُم مَّن يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِن لَّمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah, (QS At-Taubah:58).

٣٨ - وَفِي ذِي الْقِعْدَةِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ :جِيءَ بِالشَّيْمَاءِ أُخْتِ رَسُولِ اللهِ ﷺ مِنَ الرَّضَاعَةِ أَسِيرَةً، فَمَنَّ عَلَيْهَا وَأَعْطَاهَا وَأَطْلَقَهَا.

38 – Pada bulan Dzulqa‘dah tahun ini, Syaimā’, saudari sesusuan Rasulullah , dibawa sebagai tawanan. Maka beliau memuliakannya, memberinya hadiah, dan membebaskannya.

Syaimā’ binti al-Ḥārith as-Sa‘diyyah adalah kakak sesusuan Nabi ﷺ, putri Ḥalimah as-Sa‘diyyah, ibu susu beliau. Ia tertawan bersama kaumnya, Bani Sa‘d, setelah Perang Hunain. Ketika dibawa kepada Rasulullah ﷺ, ia berkata bahwa dirinya saudari susuan beliau. Nabi ﷺ meminta bukti, lalu ia menunjukkan tanda bekas gigitan masa kecil Nabi ﷺ di pundaknya. Nabi mengenalinya, meneteskan air mata, memuliakan dan membebaskannya.

٣٩ - وَفِي ذِي الْقِعْدَةِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ :اعْتَمَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنَ الْجِعْرَانَةِ.

39 – Pada bulan Dzulqa‘dah tahun ini, Rasulullah melaksanakan umrah dari Ji‘ranah.

Setelah Perang Hunain dan pengepungan Thaif, Rasulullah ﷺ singgah di Ji‘ranah, tempat ditampungnya harta rampasan perang. Dari sana, beliau membagi ghanimah kepada para sahabat dan muallaf qulubuhum. Setelah selesai, pada bulan Dzulqa‘dah tahun 8 H, beliau ihram untuk umrah dari Ji‘ranah, kemudian masuk ke Makkah pada malam hari, melaksanakan tawaf dan sa‘i, lalu kembali lagi ke Ji‘ranah. Umrah ini dikenal sebagai ‘Umrah Ji‘ranah, satu-satunya umrah beliau setelah Fathu Makkah, sebagai bentuk syukur atas kemenangan Islam dan penyucian kembali Baitullah dari sisa-sisa kemusyrikan.

٤٠ - وَفِي ذِي الْقِعْدَةِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ :تَزَوَّجَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَاطِمَةَ بِنْتَ الضَّحَّاكِ الْكِلَابِيَّةَ، فَاسْتَعَاذَتْ مِنْهُ، فَفَارَقَهَا، فَكَانَتْ بَعْدَ ذَلِكَ تَلْقَطُ الْمَعُونَ البَعْرَ وَتَقُولُ: أَنَا الشَّقِيَّةُ.

40 – Pada bulan Dzulqa‘dah tahun ini, Rasulullah menikahi Fāṭimah binti ad-Ḍaḥḥāk al-Kilābiyyah. Namun ia meminta perlindungan dari beliau (yakni menolak menjadi istri beliau), maka Rasulullah menceraikannya. Setelah itu, ia hidup miskin sambil memungut kotoran unta dan berkata, “Akulah wanita yang celaka.”

Fāṭimah binti ad-Ḍaḥḥāk al-Kilābiyyah adalah seorang wanita dari kabilah Kilāb. Ketika Rasulullah ﷺ menikahinya, ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah darimu,” yang berarti ia menolak hubungan pernikahan itu. Rasulullah ﷺ menghormati permintaannya dan langsung menceraikannya. Setelah beliau wafat, Fāṭimah menyesal dan hidup miskin, sering berkata dengan penyesalan bahwa ia wanita yang malang karena menolak Rasulullah ﷺ.

Ulama berbeda pendapat tentang alasan penolakan Fatimah Ad-Dahak ini: 1) Karena merasa tidak pantas menjadi istri Rasul; 2) Karena terpengaruh oleh wanita lain yang iri; atau 3) Karena tidak tahu bahwa ungkapan itu berarti penolakan.

٤١ - وَفِي ذِي الْحِجَّةِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: وَلَدَتْ مَارِيَةُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ النَّبِيِّ ﷺ.

41 – Pada bulan Dzulhijjah tahun ini, Mariyah (al-Qibthiyyah) melahirkan Ibrahim bin Nabi .

Mariyah al-Qibthiyyah adalah seorang wanita dari Mesir yang dihadiahkan kepada Rasulullah ﷺ oleh al-Muqawqis, penguasa Koptik Mesir, melalui utusan Nabi bernama Hatib bin Abi Balta‘ah. Dari dua budak wanita yang dikirim, Mariyah dipilih oleh Rasulullah ﷺ dan kemudian beliau memerdekakannya serta menjadikannya istri. Ia tinggal di sebuah rumah di daerah tinggi Madinah (al-‘Aliyah).

٤٢ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: وَلَدَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ رَسُولِ اللهِ ﷺ مِنْ أَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ ابْنَتَهَا أُمَامَةَ الَّتِي كَانَ يَحْمِلُهَا النَّبِيُّ ﷺ فِي الصَّلَاةِ.

42 – Pada tahun ini, Zainab binti Rasulullah melahirkan anak perempuannya, Umāmah, dari suaminya Abul-‘Āṣ bin ar-Rabī‘. Nabi sering menggendong Umāmah ketika salat.

Zainab adalah putri tertua Rasulullah ﷺ dari Khadijah r.a. Ia menikah dengan Abul-‘Ash bin ar-Rabi‘, seorang Quraisy yang masih kerabat Khadijah dan dikenal jujur serta terpercaya. Sebelum Islam, keduanya telah menikah, dan saat Islam datang, Zainab masuk Islam sementara suaminya belum. Dalam Perang Badar, Abul-‘Ash tertawan namun dibebaskan setelah menjanjikan mengembalikan Zainab ke Madinah. Beberapa tahun kemudian ia pun masuk Islam dan kembali kepada Zainab.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Qatadah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي وَهْوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَلأَبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا‏.‏

Bahwa Rasulullah ﷺ salat sambil menggendong Umāmah binti Zainab binti Rasulullah ﷺ, yang ibunya adalah Zainab putri Rasulullah dan ayahnya Abul-‘Āṣ bin Rabi‘ah bin ‘Abd Syams. Ketika beliau sujud, beliau meletakkannya; dan ketika berdiri, beliau menggendongnya kembali, (Sahih Bukhari: 516. Sahih Muslim: 543).

٤٣ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: عُمِلَ مِنْبَرٌ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ، فَخَطَبَ عَلَيْهِ، فَحَنَّ إِلَيْهِ الْجِذْعُ الَّذِي كَانَ يَخْطُبُ عَلَيْهِ.

43 – Pada tahun ini, dibuatkan mimbar untuk Rasulullah . Ketika beliau berkhutbah di atasnya, batang kurma yang biasa beliau gunakan untuk berkhutbah menangis (merindukan beliau).

Imam Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma yang berkata:

كَانَ يَقُومُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَى شَجَرَةٍ أَوْ نَخْلَةٍ، فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنَ الأَنْصَارِ ـ أَوْ رَجُلٌ ـ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ نَجْعَلُ لَكَ مِنْبَرًا قَالَ إِنْ شِئْتُمْ‏‏.‏ فَجَعَلُوا لَهُ مِنْبَرًا، فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ دُفِعَ إِلَى الْمِنْبَرِ، فَصَاحَتِ النَّخْلَةُ صِيَاحَ الصَّبِيِّ، ثُمَّ نَزَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَضَمَّهُ إِلَيْهِ تَئِنُّ أَنِينَ الصَّبِيِّ، الَّذِي يُسَكَّنُ، قَالَ كَانَتْ تَبْكِي عَلَى مَا كَانَتْ تَسْمَعُ مِنَ الذِّكْرِ عِنْدَهَا

Dahulu Nabi ﷺ berdiri pada hari Jumat di dekat sebatang pohon atau pohon kurma. Lalu seorang wanita dari kaum Anshar, atau seorang laki-laki, berkata, “Wahai Rasulullah, maukah kami buatkan untukmu mimbar?” Beliau menjawab, "Jika kalian mau." Maka mereka pun membuatkan beliau sebuah mimbar. Ketika tiba hari Jumat dan beliau telah naik ke mimbar, pohon kurma itu berteriak seperti tangisan anak kecil. Kemudian Nabi ﷺ turun, memeluk batang itu, dan batang itu mengeluarkan suara rintihan seperti tangisan anak kecil yang sedang ditenangkan. Lalu beliau ﷺ bersabda: “Ia menangis karena dahulu ia mendengar zikir di dekatnya,” (Sahih Bukhari: 3584).

٤٤ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: وَهَبَتْ سَوْدَةُ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ يَوْمَهَا لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا.

44 – Pada tahun ini, Saudah, Ummul Mu’minin, memberikan jatah harinya bersama Nabi kepada ‘Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā.

Saudah binti Zam‘ah adalah istri kedua Rasulullah ﷺ setelah wafatnya Khadijah raḍiyallāhu ‘anhā. Beliau termasuk wanita pertama yang masuk Islam, sebelumnya pernah menikah dengan as-Sakrān bin ‘Amr al-‘Āmiri, yang juga berhijrah ke Habasyah. Setelah suaminya wafat, Nabi ﷺ menikahinya di Makkah sebelum hijrah, sekitar tahun ke-10 kenabian (3 tahun sebelum hijrah).

Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:

أَنَّ سَوْدَةَ بِنْتَ زَمْعَةَ، وَهَبَتْ، يَوْمَهَا لِعَائِشَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقْسِمُ لِعَائِشَةَ بِيَوْمِهَا وَيَوْمِ سَوْدَةَ

Bahwa Saudah binti Zam’ah menghibahkan jatah hari beliau kepada Aisyah, dan Nabi ﷺ memberi Aisyah harinya sendiri dan harinya Saudah, (Sahih Bukhari: 5212).

٤٥ - وَفِي ذِي الْحِجَّةِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ: حَجَّ بِالنَّاسِ عُتَّابُ بْنُ أُسَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَمِيرَ مَكَّةَ.

45 – Pada bulan Dzulhijjah tahun ini, ‘Uttāb bin Usayd raḍiyallāhu ‘anhu, gubernur Makkah, memimpin jamaah haji.

‘Uttāb bin Usayd bin Abī al-‘Āṣ al-Umawī adalah seorang sahabat Nabi ﷺ dari suku Quraisy, Bani Umayyah. Ia termasuk generasi muda Quraisy yang masuk Islam pada hari penaklukan Makkah (Fath Makkah) tahun 8 H. Setelah penaklukan itu, Rasulullah ﷺ menunjuknya sebagai gubernur (wali) Makkah, meski usianya saat itu baru sekitar 20 tahun, menggantikan kekuasaan Quraisy yang dulu memusuhi Islam.

٤٦ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: تُوُفِّيَ مَغَفَّلُ بْنُ عَبْدِ نُهْمٍ الْمُزَنِيُّ، وَالِدُ الصَّحَابِيِّ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَغَفَّلٍ، وَلَهُ صُحْبَةٌ.

46 – Pada tahun ini, wafat Mugafal bin ‘Abd Nuhm al-Muzani, ayah sahabat Abdullah bin Mugafal; ia juga termasuk sahabat Nabi .

Mugaffal bin ‘Abd Nuhm al-Muzani adalah salah seorang sahabat Nabi ﷺ dari kabilah Muzainah, yang masuk Islam bersama rombongan kaumnya sebelum Fathu Makkah. Ia dikenal sebagai ayah dari sahabat ‘Abdullāh bin Mugaffal al-Muzani, perawi sejumlah hadis. Mugaffal ikut dalam beberapa peristiwa penting Islam pada masa Nabi ﷺ.

٤٧ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: أَسْلَمَ كَعْبُ بْنُ زُهَيْرٍ، وَقَالَ قَصِيدَتَهُ الْمَشْهُورَةَ فِي مَدْحِ النَّبِيِّ ﷺ، بَانَتْ سُعَادُ.

47 – Pada tahun ini, Ka‘b bin Zuhair memeluk Islam dan membacakan qasidah terkenalnya dalam pujian kepada Nabi , Bānat Su‘ād. Ka‘b bin Zuhair adalah penyair terkenal Arab dan putra penyair besar Zuhair bin Abi Sulmā. Awalnya ia menentang Nabi ﷺ, tetapi kemudian menyesal dan datang meminta ampun. Ia lalu masuk Islam pada tahun 8 H dan menghadiahkan kepada Rasulullah ﷺ sebuah qasidah pujian berjudul Bānat Su‘ād. Rasulullah ﷺ sangat terharu dan menghadiahkannya burdah (selendang) beliau, sehingga qasidah itu dikenal juga sebagai Qasidah al-Burdah (selendang).

Kutipan syairnya:

بَانَتْ سُعَادُ فَقَلْبِي الْيَوْمَ مَتْبُولُ

مُتَيَّمٌ إِثْرَهَا لَمْ يُفْدَ مَكْبُولُ

Su‘ad telah berlalu, maka hatiku kini mengidap sakit rindu,

Terbelenggu cinta kepadanya, tiada obat yang mampu menyembuhkannya.

٤٨ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: تُوُفِّيَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَهِيَ أَكْبَرُ أَوْلَادِهِ، وَغَسَّلَتْهَا أُمُّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا.

48 – Pada tahun ini, Zainab binti Rasulullah wafat. Ia adalah putri tertua beliau. Jenazahnya dimandikan oleh Ummu ‘Athiyyah raḍiyallāhu ‘anhā.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Athiyah Al-Anshari Radhiyallahu Anha yang mengatakan bahwa Rasulullah mengunjungi mereka ketika putri beliau ﷺ meninggal dunia. Kemudian, beliau ﷺ bersabda:

اغْسِلْنَها ثَلَاثًا، أَوْ خَمْسًا، أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ، بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا- أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ- فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي

Mandikanlah dia tiga kali, atau lima kali, atau lebih dari itu jika kalian memandang perlu, dengan air dan daun sidr (bidara). Dan jadikanlah pada cucian terakhir kapur barus – atau sedikit dari kapur barus. Apabila kalian telah selesai, beritahukanlah kepadaku, (Sahih Bukhari: 1253. Sahih Muslim: 939. Lafaz ini milik Al-Bukhari).

٤٩ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: بَعَثَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَمْرَ بْنَ الْعَاصِ إِلَى جَيْفَرَ وَعَمْرٍو ابْنَيْ الْجُلَنْدِيِّ مِنَ الْأَزْدِ، فَأَسْلَمَا.

49 – Pada tahun ini, Rasulullah mengutus ‘Amr bin al-‘Āṣ kepada Jayfar dan ‘Amr, dua bersaudara anak al-Julanda dari kabilah Azd. Keduanya pun masuk Islam.

‘Amr bin al-‘Āṣ diutus Nabi ﷺ ke Oman untuk mengajak penguasa negeri itu memeluk Islam. Penguasanya adalah dua saudara, Jayfar dan ‘Amr bin al-Julanda, dari kabilah Azd. Ayah mereka, al-Julanda, adalah raja Oman dari jalur bangsawan Azd. Setelah berdialog dengan ‘Amr bin al-‘Āṣ, keduanya menerima Islam dengan lapang hati. Kabilah Azd berasal dari wilayah Oman dan Yaman bagian selatan, yang kini termasuk wilayah negara Oman modern di Semenanjung Arab bagian timur.

٥٠ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: غَلَا السِّعْرُ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، سَعِّرْ لَنَا، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ

50 – Pada tahun ini, harga-harga naik. Orang-orang berkata: “Wahai Rasulullah, tetapkan harga untuk kami.” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, yang menyempitkan, melapangkan, dan memberi rezeki.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmizi (1314), Abu Dawud (3451), Ibnu Majah (2200), dan Ahmad (14057). Tertulis di dalam Mausuatu Ahadisin Nabawiyah kenaikan harga bisa terjadi karena dua hal; 1) alamiah (kehendak Allah), atau 2) persekongkolan jahat para pedagang. Dalam hal ini, kenaikan harga terjadi karena faktor alamiah, yaitu tingginya permintaan dan rendahnya pasokan. Sehingga, Nabi ﷺ enggan menetapkan harga karena khawatir berbuat zalim kepada para pedagang. Hal ini bisa diketahui dengan adanya tambahan redaksi:

وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللهَ وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يُطَالِبُنِي بِمَظْلَمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ

Dan sesungguhnya aku berharap dapat bertemu dengan Allah, sementara tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku atas kezaliman dalam darah maupun harta.

Jadi, apabila kenaikan harga akibat persekongkolan para pedagang, maka pemerintah boleh bahkan wajib menertibkannya.

٥١ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: نَزَلَتْ سُورَةُ النَّصْرِ.

51 – Pada tahun ini turun Surah an-Naṣr.

Imam Muslim meriwayatkan dari Ubaidillah bin Utbah yang mengatakan bahwa Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata kepadanya:

أَتَعْلَمُ آخِرَ سُورَةٍ نَزَلَتْ مِنَ القُرْآنِ نَزَلَتْ جَمِيعًا؟ قُلْتُ: نَعَمْ، إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ، قَالَ: صَدَقْتَ

Tahukah kamu surat terakhir yang diturunkan secara lengkap dari Al-Qur’an? Aku menjawab: “Ya, (إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ) (Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan).” Ia berkata: “Engkau benar,” (Sahih Muslim: 3024).

٥٢ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: جَاءَ وَفْدُ ثَعْلَبَةُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ.

52 – Pada tahun ini datang delegasi (kabilah) Taghlib kepada Rasulullah .

Taghlib adalah suatu kabilah di Eufrat bagian utara (sekarang Irak dan Suriah). Agama awal mereka adalah Nasrani, kemudian sebagian masuk Islam, tetapi sebagian lainnya tetap Nasrani. Nabi ﷺ menetapkan jizyah untuk yang tidak masuk Islam sebesar dua kali zakatnya orang Islam, dan Nabi ﷺ mengistilahkan hal itu dengan sedekah agar tidak menyinggung perasaan mereka.

٥٣ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: جَاءَ وَفْدُ سُلَيْمٍ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ.

53 – Pada tahun ini datang delegasi dari kabilah Sulaim kepada Rasulullah .

٥٤ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: جَاءَ وَفْدُ رَبِيعَةَ، عَبْدُ الْقَيْسِ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ.

54 – Pada tahun ini datang delegasi dari kabilah Rabi‘ah (Abdul Qais) kepada Rasulullah .

Kabilah ‘Abd al-Qais adalah cabang dari suku besar Rabi‘ah, yang bermukim di wilayah Bahrain dan pesisir timur Jazirah Arab (sekarang meliputi Qatar, Bahrain, dan timur Arab Saudi).

٥٥ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: جَاءَ وَفْدُ صُدَاءٍ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ.

55 – Pada tahun ini datang delegasi dari kabilah Ṣudā’ kepada Rasulullah .

Baca poin 28 tahun 8 hijriah.

٥٦ - وَفِي هَذِهِ السَّنَةِ: جَاءَ وَفْدُ ثُمَالَةَ وَالْحُدَّانِ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ.

56 – Pada tahun ini datang delegasi dari kabilah Thumalah dan al-Huddān kepada Rasulullah .

Kabilah Thumalah dan al-Huddān adalah dua kabilah dari suku Azd yang tinggal di daerah Tihāmah (wilayah barat Jazirah Arab). Pada tahun ini, mereka mengutus delegasi untuk menemui Rasulullah ﷺ di Madinah dan menyatakan keislaman mereka secara sukarela. Nabi ﷺ menyambut mereka dengan baik, mengajarkan pokok-pokok ajaran Islam, dan mengutus seorang sahabat untuk membimbing mereka di daerah asal.

CATATAN KAKI [i] Ibnu Khathal bergantung pada tirai Ka'bah sebagai bentuk permohonan perlindungan atau suaka, yang dalam tradisi Arab saat itu dianggap sebagai tempat paling suci dan aman. Namun, dalam konteks peristiwa ini—yaitu saat penaklukan Makkah oleh Nabi Muhammad ﷺ—Ibnu Khathal tidak mendapatkan perlindungan meskipun ia berlindung di Ka'bah. Mengapa? Latar belakang:

Ibnu Khathal dulunya seorang Muslim, tetapi kemudian murtad dan melakukan pembunuhan terhadap seorang Muslim yang ditugaskan bersamanya untuk mengumpulkan zakat.

Ia juga dikenal karena menghina Nabi ﷺ melalui dua budak perempuan yang ia jadikan penyanyi untuk mencaci Nabi di Makkah.

Karena kejahatan beratnya—pembunuhan, pengkhianatan, dan penghinaan terhadap Nabi—ia termasuk dalam daftar orang yang tidak diberi amnesti oleh Nabi ﷺ saat penaklukan Makkah.

Mengapa tetap diperintahkan untuk dibunuh meski di Ka'bah?

Nabi ﷺ menegaskan bahwa kesucian Ka'bah tidak melindungi pelaku kejahatan berat dari hukuman yang sah. Ini menunjukkan bahwa tempat suci tidak menjadi tameng bagi pelanggar hukum syariat.

Maka, ketika Ibnu Khathal bergantung pada tirai Ka'bah, Nabi ﷺ tetap memerintahkan, “Bunuh dia,” sebagai bentuk penegakan keadilan, (Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah).

Post a Comment for "Khulasah Bahiyah: Tahun Delapan Hijriah"