zmedia

Niat dalam Menuntut Ilmu

Pembaca rahimakumullah, berikut adalah beberapa niat dalam menuntut ilmu yang kami terjemahkan dari mukadimah kitab Bidayatul Mutafaqih karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahullah. Semoga bermanfaat!

تَنْوِي أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ؛ لِتَعْبُدَ اللَّهَ عَلَى بَصِيرَةٍ

1 – TANAMKAN NIAT DALAM MENUNTUT ILMU; AGAR ANDA BERIBADAH KEPADA ALLAH ATAS DASAR BASIRAH.

Allah Ta'ala berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah (wahai Muhammad): “Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Allah dengan berdasarkan basirah. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik,” (QS Yusuf: 108).

PENJELASAN

Firman Allah (عَلَى بَصِيرَةٍ) atau yang artinya “dengan berdasarkan basirah” maksudnya:

عَلَىٰ عِلْمٍ وَيَقِينٍ مِنْ غَيْرِ شَكٍّ وَلَا ٱمْتِرَاءٍ وَلَا مِرْيَةٍ

Dengan ilmu dan keyakinan tanpa ragu, tanpa membantahnya, dan tanpa mendebatnya, (Tafsir As-Sa’di).

PELAJARAN

Pelajaran yang bisa diambil dari ayat ini di antaranya:

تَعَيُّنُ ٱلدَّعْوَةِ إِلَى ٱللَّهِ تَعَالَىٰ عَلَىٰ كُلِّ مُؤْمِنٍ تَابِعٍ لِلرَّسُولِ ﷺ.

1 – Wajibnya berdakwah kepada Allah ta’ala bagi setiap orang beriman yang mengikuti Rasulullah ﷺ.

تَعَيُّنُ ٱلْعِلْمِ ٱلْيَقِينِيِّ لِلدَّاعِي إِلَى ٱللَّهِ إِذْ هُوَ ٱلْبَصِيرَةُ ٱلْمَذْكُورَةُ فِي ٱلْآيَةِ.

2 – Wajibnya memiliki ilmu yang meyakinkan bagi orang yang berdakwah kepada Allah, karena itulah yang dimaksud dengan "basirah" yang disebutkan dalam ayat.

أَنَّ ٱلدُّعَاءَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَىٰ إِنَّمَا يَحْسُنُ وَيَجُوزُ مَعَ هٰذَا ٱلشَّرْطِ؛ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ مِمَّا يَقُولُ، وَعَلَىٰ هُدًى وَيَقِينٍ،

3 – Dakwah kepada Allah ta'ala hanya baik dan sah jika memenuhi syarat ini: yaitu dilakukan dengan basirah (memiliki ilmu yang meyakinkan) tentang apa yang disampaikan, serta dengan petunjuk dan keyakinan.

مَنْ لَمْ يَكُنْ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ فَلَيْسَ مِنْ أَتْبَاعِ ٱلرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

4 – Siapa pun yang tidak berada di atas basirah bukan termasuk pengikut Rasul ﷺ.

أَنَّ أَتْبَاعَهُ هُمْ أُولُو ٱلْبَصَائِرِ

5 – Pengikut Rasulullah ﷺ adalah orang yang memiliki basirah (ilmu dan keyakinan).

تَنْوِي أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ؛ لِأَنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ عِبَادَةٌ

2 – TANAMKAN NIAT DALAM MENUNTUT ILMU; BAHWA ANDA MENUNTUT ILMU SEBAGAI IBADAH.

Di dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Dan barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah mudahkan baginya jalan menuju surga, (Sahih Muslim: 2699).

Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Mutarrif bin Abdullah bin Ash-Shikhkhir yang berkata:

فَضْلُ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ، وَخَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ

Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah al-wara, (Jami Bayanil Ilmi wa Fadlihi: 212).

PENJELASAN Tentang sabda Nabi ﷺ (وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا) atau yang artinya, “Dan barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu,” tertulis di dalam Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah:

Ini mencakup dua jenis jalan: jalan maknawi (non-fisik) dan jalan hissi (fisik).

1 – Adapun jalan maknawi, yaitu segala cara yang dapat mengantarkan seseorang kepada ilmu, seperti: Menghafal ilmu; Mempelajarinya dan mendiskusikannya; Membacanya dan menuliskannya; Memahaminya secara mendalam; Mencari ilmu dari lisan para ulama dan dari isi buku-buku.

Maka siapa pun yang: 1) Mendengarkan ulama atau 2) Menelaah dan meneliti isi buku-buku, meskipun dia hanya duduk di tempatnya, dia telah menempuh jalan untuk mencari ilmu.

2 – Adapun jalan hissi (fisik), yaitu usaha nyata seseorang dengan berjalan kaki, seperti: Seseorang keluar dari rumahnya menuju tempat ilmu, baik tempat ilmu itu berupa masjid, sekolah, universitas, atau tempat lainnya. Sabda Nabi ﷺ (سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ) atau yang artinya, “niscaya Allah mudahkan baginya jalan menuju surga,” maksudnya:

لِأَنَّهُ أَيْضًا مِنْ طُرُقِ ٱلْجَنَّةِ، بَلْ هُوَ أَقْرَبُهَا؛ لِأَنَّ ٱلْعِلْمَ ٱلشَّرْعِيَّ تُعْرَفُ بِهِ أَوَامِرُ ٱللَّهِ وَنَوَاهِيهِ.

Karena ilmu termasuk jalan menuju surga, bahkan ilmu adalah jalan yang paling dekat (menuju surga); sebab dengan ilmu syar'i, seseorang dapat mengetahui perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya.

Tentang perkataan Mutarrif (فَضْلُ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ، وَخَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ) atau yang artinya, “Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah al-wara,” Imam Ḥasan bin ʿAlī al-Fayyūmī (wafat tahun 870 H) di dalam Fatḥ al-Qarīb al-Mujīb ʿalā al-Targhīb wa al-Tarhīb berkata:

أَنَّ ٱلْعَالِمَ وَإِنْ كَانَ فِيهِ تَقْصِيرٌ فِي عِبَادَتِهِ أَفْضَلُ مِنْ جَاهِلٍ مُجْتَهِدٍ فِي ٱلْعِبَادَةِ، لِأَنَّ ٱلْعَالِمَ يَعْرِفُ مَا يَأْتِي بِهِ وَمَا يَجْتَنِبُ،

Seorang alim (berilmu) meskipun ada kekurangan dalam ibadahnya, dia lebih utama daripada orang awam yang rajin beribadah, karena orang yang berilmu tahu apa yang harus dilakukan (dia tahu mana perintah Allah) dan apa yang harus dijauhi (dia tahu mana larangan Allah).

وَٱلْعَابِدَ ٱلْجَاهِلَ مَنْهُوكٌ، فَرُبَّمَا أَتَى بِٱلشَّيْءِ وَهُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ صَوَابٌ وَهُوَ خَطَأٌ

Sedangkan orang yang beribadah tanpa ilmu, dia bisa kelelahan dan mungkin melakukan sesuatu yang dia kira benar, padahal keliru.

تَنْوِي أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ؛ لِكَيْ تُصِيبَكَ دَعْوَةُ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لِمُسْتَمِعِ الْعِلْمِ وَحَامِلِهِ وَمُبَلِّغِهِ

3 – TANAMKAN NIAT DALAM MENUNTUT ILMU; AGAR ANDA MENDAPATKAN DOA RASULULLAH ﷺ BAGI PENDENGAR ILMU, PEMBAWA ILMU, DAN PENYAMPAI ILMU.

Sungguh, Imam At-Tirmidzi meriwayatkan - dan beliau berkata: hasan sahih - dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa beliau mendengar Nabi ﷺ bersabda:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَءًا سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ

Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami, lalu dia menyampaikannya sebagaimana yang dia dengar. Karena boleh jadi orang yang disampaikan (kepadanya) lebih memahami daripada orang yang mendengar, (Jami At-Tirmidzi: 2657).

PENJELASAN

Sabda Nabi ﷺ (نَضَّرَ اللَّهُ) atau yang artinya, “Semoga Allah memberikan cahaya,” maksudnya:

وَهٰذَا دُعَاءٌ أَنْ يُحَسِّنَ ٱللَّهُ خَلْقَهُ وَيَرْفَعَ قَدْرَهُ.

Ini adalah doa supaya Allah memperindah akhlaknya dan mengangkat derajatnya.

Sabda Nabi ﷺ (شَيْئًا) atau yang artinya, “Sesuatu,” maksudnya adalah hadis, sebagaimana yang terdapat di dalam riwayat Imam Ibnu Majah nomor 190.

PELAJARAN

Pelajaran yang bisa diambil dari hadis ini di antaranya:

ٱلْحَثُّ عَلَىٰ حِفْظِ ٱلسُّنَّةِ ٱلنَّبَوِيَّةِ وَتَبْلِيغِهَا لِلنَّاسِ

1 – Anjuran untuk menjaga sunnah Nabi dan menyampaikannya kepada masyarakat.

بَيَانُ فَضْلِ ٱلْعُلَمَاءِ، وَفَضْلِ حَمْلِ ٱلْعِلْمِ وَحِفْظِهِ وَتَبْلِيغِهِ

2 – Penjelasan tentang keutamaan para ulama, serta keutamaan membawa ilmu, menjaganya, dan menyebarkannya.

بَيَانُ فَضْلِ أَهْلِ ٱلْحَدِيثِ، وَشَرَفِ طَلَبِهِ

3 – Penjelasan tentang keutamaan ahli hadis dan kemuliaan dalam menuntut ilmu dari mereka.

فَضْلُ ٱلْعُلَمَاءِ، ٱلَّذِينَ هُمْ أَهْلُ ٱلِاسْتِنْبَاطِ وَٱلْفَهْمِ

4 – Keutamaan para ulama yang memiliki kemampuan istinbāṭ (menggali hukum) dan pemahaman mendalam.

فُهُومُ ٱلنَّاسِ مُتَفَاوِتَةٌ، فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَىٰ مِنْ سَامِعٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ

5 – Pemahaman manusia itu berbeda-beda; bisa jadi orang yang disampaikan ilmu lebih memahami daripada yang mendengarnya, dan bisa jadi pembawa ilmu bukanlah seorang ahli fikih.

تَنْوِي أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ؛ لِكَيْ يَرْفَعَكَ اللَّهُ بِهِ دَرَجَاتٍ

4 – TANAMKAN NIAT DALAM MENUNTUT ILMU; AGAR ALLAH MENGANGKAT DERAJAT ANDA.

Allah ta'ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan, (QS Al-Mujadilah: 11).

PENJELASAN

Firman Allah ta’ala di atas maknanya adalah:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْكُمْ وَٱلْعُلَمَاءَ ٱلْعَامِلِينَ بِعِلْمِهِمْ دَرَجَاتٍ عَالِيَةً.

Allah meninggikan derajat orang-orang beriman di antara kalian dan para ulama yang mengamalkan ilmunya dengan derajat yang tinggi.

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ ٱللَّهَ يَرْفَعُ بِهٰذَا ٱلْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

Sesungguhnya Allah meninggikan derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur'an), dan merendahkan kaum yang lain dengannya, (Sahih Muslim: 817). PELAJARAN

Pelajaran yang bisa diambil dari ayat ini di antaranya:

مَنْ عَمِلَ بِهٰذَا القُرْآنِ تَصْدِيقًا بِأَخْبَارِهِ، وَتَنْفِيذًا لِأَوَامِرِهِ، وَاجْتِنَابًا لِنَوَاهِيهِ، وَاهْتِدَاءً بِهَدْيِهِ، وَتَخَلُّقًا بِمَا جَاءَ بِهِ مِنْ أَخْلَاقٍ، وَكُلُّهَا أَخْلَاقٌ فَاضِلَةٌ؛ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَرْفَعُهُ بِهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ؛ وَذٰلِكَ لِأَنَّ هٰذَا القُرْآنَ هُوَ أَصْلُ العِلْمِ، وَمَنْبَعُ العِلْمِ، وَكُلُّ العِلْمِ.

1 – Barang siapa mengamalkan Al-Qur’an ini dengan membenarkan berita-beritanya, melaksanakan perintah-perintahnya, menjauhi larangannya, mengikuti petunjuknya, dan berakhlak dengan akhlak yang terkandung di dalamnya — semuanya merupakan akhlak yang mulia — maka Allah akan mengangkat derajatnya di dunia dan akhirat. Sebab Al-Qur’an ini adalah sumber dan asal dari segala ilmu.

أَنَّ الرِّفْعَةَ عِندَ اللهِ تَعَالَى بِالعِلْمِ وَالإِيمَانِ، لَا بِالسَّبْقِ إِلَى صُدُورِ المَجَالِسِ

2 – Kemuliaan di sisi Allah terletak pada ilmu dan iman, bukan karena seseorang mendahului duduk di tempat terdepan dalam majelis.

أَنَّ اللهَ تَعَالَى رَفَعَ المُؤْمِنَ عَلَى مَنْ لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ، وَالعَالِمَ عَلَى مَنْ لَيْسَ بِعَالِمٍ.

3 – Allah meninggikan derajat orang beriman atas orang yang tidak beriman, dan meninggikan orang berilmu atas orang yang tidak berilmu.

فَضِيلَةُ العِلْمِ، وَأَنَّ زِينَتَهُ وَثَمَرَتَهُ التَّأَدُّبُ بِآدَابِهِ، وَالعَمَلُ بِمُقْتَضَاهُ.

4 – (Ayat ini menunjukkan) keutamaan ilmu, dan bahwa keindahan serta buah dari ilmu adalah beradab dengan adabnya serta mengamalkan isi dan tuntunannya.

حَثٌّ عَلَى تَحْقِيقِ الإِيمَانِ، وَعَلَى طَلَبِ العِلْمِ؛ لِأَنَّ اللهَ يَرْفَعُ أَهْلَ العِلْمِ

5 – Anjuran untuk menyempurnakan iman dan menuntut ilmu, karena Allah mengangkat derajat orang yang berilmu.

تَنْوِي أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ؛ لِكَيْ تَصِلَ إِلَى مَقَامِ الْخَشْيَةِ مِنَ اللَّهِ - سُبْحَانَهُ

5 – TANAMKAN NIAT DALAM MENUNTUT ILMU; AGAR ENGKAU MENCAPAI KEDUDUKAN KHASYAH KEPADA ALLAH.

Allah ta'ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Sesungguhnya yang khasyah kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu). Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun, (QS Fathir: 28).

PENJELASAN Firman Allah (يَخْشَى) atau khasyah maknanya adalah:

يَخَافُ ٱللَّهَ تَعَالَىٰ وَيُعَظِّمُهُ، فَيَتَّقِي عِقَابَهُ بِطَاعَتِهِ وَتَرْكِ مَعْصِيَتِهِ مِنْ خَلْقِهِ: ٱلْعُلَمَاءُ ٱلْعَالِمُونَ بِٱللَّهِ تَعَالَىٰ وَصِفَاتِهِ وَقُدْرَتِهِ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ، وَٱلْعَالِمُونَ بِشَرَائِعِهِ

Benar-benar takut kepada Allah dan mengagungkan-Nya, lalu menjaga diri dari siksa-Nya dengan menaati-Nya dan menjauhi maksiat, adalah para ulama—yaitu mereka yang mengenal Allah, sifat-sifat-Nya, kekuasaan-Nya atas segala sesuatu, dan memahami syariat-Nya.

PELAJARAN

Pelajaran yang bisa diambil dari ayat ini:

ٱلْخَشْيَةُ بِقَدْرِ مَعْرِفَةِ ٱلْمَخْشِيِّ

1 – Khasyah itu sesuai dengan level pengetahuaan seseorang terhadap obyek yang ditakuti

وَٱلْعَالِمُ يَعْرِفُ ٱللَّهَ فَيَخَافُهُ وَيَرْجُوهُ

2 – Orang yang berilmu, dia mengenal Allah, sehingga dia takut kepada Allah dan berharap kepada Allah

أَنَّ ٱلْعَالِمَ أَعْلَىٰ دَرَجَةً مِنَ ٱلْعَابِدِ

3 – Orang yang berilmu, dia lebih tinggi derajatnya daripada abid (ahli ibadah tetapi tanpa ilmu)

أَنَّ ٱلْكَرَامَةَ بِقَدْرِ ٱلتَّقْوَىٰ

4 – Kemuliaan itu sebanding dengan tingkat ketakwaan

وَٱلتَّقْوَىٰ بِقَدْرِ ٱلْعِلْمِ

5 – Ketakwaan itu sebanding dengan tingkat ilmu

فَٱلْكَرَامَةُ بِقَدْرِ ٱلْعِلْمِ لَا بِقَدْرِ ٱلْعَمَلِ

6 – Maka kemuliaan itu tergantung pada ilmu, bukan semata-mata pada banyaknya amal

ٱلْعَالِمُ إِذَا تَرَكَ ٱلْعَمَلَ قَدَحَ ذٰلِكَ فِي عِلْمِهِ

7 – Tetapi jika seorang alim meninggalkan amal, maka hal itu mencederai ilmunya.

Post a Comment for "Niat dalam Menuntut Ilmu"