zmedia

Bolehkah Wanita Beriddah Keluar dari Rumah? Fatwa Syaikh Abdullah Al-Faqih

Wanita beriddah keluar dari rumah sering menjadi pertanyaan di kalangan muslimah, terutama bagi mereka yang sudah lanjut usia atau memiliki kebutuhan mendesak di luar rumah. Dalam Islam, masa iddah bukan sekadar waktu menunggu, tetapi juga masa menjaga kehormatan dan ketenangan jiwa seorang wanita setelah perceraian atau wafatnya suami. Namun, apakah wanita beriddah boleh keluar rumah untuk urusan tertentu? Berikut penjelasan berdasarkan fatwa Syaikh Abdullah Al-Faqih, mufti Syabakah Islamiyah Qatar.

Pertanyaan: Berapa masa iddah bagi wanita, dan apakah dia boleh keluar rumah, terutama apabila sudah lanjut usia, untuk mengunjungi anak-anak atau sekadar menyegarkan diri? Jawaban:

الْـحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ

Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya. Amma ba‘d:

فَإِنَّ الْمَرْأَةَ الْمُعْتَدَّةَ يَجُوزُ لَهَا الْخُرُوجُ إِذَا كَانَ لِمَصْلَحَةٍ، كَكَوْنِهِ فِي حَاجَةٍ مُهِمَّةٍ، بِشَرْطِ الِالْتِزَامِ بِالتَّسَتُّرِ وَالْبُعْدِ عَنْ مَوَاطِنِ إِثَارَةِ الرِّيبَةِ.

Sungguh, wanita beriddah boleh keluar apabila untuk suatu kemaslahatan, seperti adanya keperluan penting, dengan syarat tetap menjaga kesopanan, menutup aurat, dan menjauhi tempat-tempat yang dapat menimbulkan kecurigaan.

وَإِلَى تَفْصِيلِ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ يُشِيرُ ابْنُ قُدَامَةَ فِي «الْمُغْنِي» قَائِلًا:

Ibnu Qudamah menjelaskan rincian masalah ini dalam kitab Al-Mughni, ia berkata:

وَلِلْمُعْتَدَّةِ الْخُرُوجُ فِي حَوَائِجِهَا، سَوَاءٌ كَانَتْ مُطَلَّقَةً أَوْ مُتَوَفًّى عَنْهَا، لِمَا رُوِيَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ:

Wanita yang sedang beriddah boleh keluar untuk memenuhi kebutuhannya, baik karena ditalak maupun ditinggal mati suaminya. Sebagaimana diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu Anhu yang berkata:

طَلَّقَتْ خَالَتِي ثَلَاثًا، فَخَرَجَتْ تَجُذُّ نَخْلَهَا، فَلَقِيَهَا رَجُلٌ فَنَهَاهَا، فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ:

Bibiku ditalak tiga, lalu ia keluar untuk memetik buah kurmanya. Seorang laki-laki menegurnya, maka ia pun menceritakan hal itu kepada Nabi ﷺ. Nabi bersabda:

اُخْرُجِي فَجُذِّي نَخْلَكِ، لَعَلَّكِ أَنْ تَتَصَدَّقِي مِنْهُ أَوْ تَفْعَلِي خَيْرًا

Keluarlah dan petiklah buah kurmamu, semoga kamu bisa bersedekah darinya atau melakukan kebaikan lainnya, (Sahih Muslim: 1483. Sunan Abu Dawud: 2297, dan lafaz ini milik beliau)

Kemudian Ibnu Qudamah berkata:

وَلَيْسَ لَهَا الْمَبِيتُ فِي غَيْرِ بَيْتِهَا، وَلَا الْخُرُوجُ لَيْلًا إِلَّا لِضَرُورَةٍ، لِأَنَّ اللَّيْلَ مَظِنَّةُ الْفَسَادِ، بِخِلَافِ النَّهَارِ، فَإِنَّهُ مَظِنَّةُ قَضَاءِ الْـحَوَائِجِ وَالْمَعَاشِ وَشِرَاءِ مَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ. اهـ

“Namun, wanita beriddah tidak boleh bermalam di selain rumahnya, dan tidak boleh keluar pada malam hari kecuali karena keadaan darurat. Sebab malam hari rawan fitnah, berbeda dengan siang hari yang merupakan waktu untuk memenuhi kebutuhan, mencari nafkah, dan membeli sesuatu yang diperlukan.” (selesai kutipan)

MASA IDDAH WANITA MENOPAUSE

وَإِذَا كَانَتْ هَذِهِ الْمَرْأَةُ كَبِيرَةَ السِّنِّ، بِحَيْثُ تَكُونُ يَائِسَةً مِنْ نُزُولِ الْحَيْضِ، فَعِدَّتُهَا ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى:

Apabila wanita tersebut sudah lanjut usia dan tidak lagi mengalami haid, maka masa iddahnya adalah tiga bulan, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ

Dan perempuan-perempuan yang tidak lagi haid di antara perempuan-perempuanmu, jika kamu ragu, maka masa iddah mereka adalah tiga bulan, (QS. At-Talaq: 4)

MASA IDDAH WANITA BELUM MENOPAUSE KARENA TALAK

وَإِذَا كَانَتْ رُبَّمَا يَأْتِيهَا الْحَيْضُ، فَعِدَّتُهَا أَنْ تَحِيضَ ثُمَّ تَطْهُرَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى:

Namun jika wanita itu masih mungkin mengalami haid, maka masa iddahnya adalah tiga kali suci setelah haid, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) selama tiga kali suci, (QS. Al-Baqarah: 228)

وَهَذَا إِذَا كَانَتْ مُعْتَدَّةً مِنْ طَلَاقٍ

Ini berlaku apabila ia menjalani iddah karena talak.

MASA IDDAH WANITA BELUM MENOPAUSE KARENA SUAMI WAFAT

أَمَّا إِذَا كَانَتْ قَدْ تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا فَتَمْكُثُ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرَةَ أَيَّامٍ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى

Namun, apabila suaminya meninggal dunia, maka masa iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

Dan orang-orang yang meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan istri-istri, hendaklah mereka (istri-istri itu) menahan diri (beriddah) selama empat bulan sepuluh hari, (QS. Al-Baqarah: 234)

وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Dan Allah-lah yang Maha Mengetahui.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa wanita beriddah keluar dari rumah diperbolehkan apabila ada kebutuhan yang mendesak atau kemaslahatan yang dibenarkan, dengan tetap menjaga adab, menutup aurat, dan menjauhi fitnah. Ketentuan ini menunjukkan bahwa Islam tidak memberatkan, tetapi menuntun agar masa iddah dijalani dengan penuh kehormatan dan ketenangan. Semoga fatwa Syaikh Abdullah Al-Faqih ini membantu para muslimah memahami hukum wanita beriddah keluar dari rumah dengan lebih jelas dan sesuai tuntunan syariat.

Post a Comment for "Bolehkah Wanita Beriddah Keluar dari Rumah? Fatwa Syaikh Abdullah Al-Faqih"