MATAN HADIS HAKIKAT AL-BIRRU & AL-ITSMU
عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ:Dari An-Nawwas bin Sam'an Radhiyallahu Anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِك، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
Al-Birru adalah husnul khuluq, dan Al-Itsmu adalah apa yang membuat gelisah di dalam dadamu dan kamu tidak suka orang lain mengetahuinya, (Sahih Muslim: 2553a).[ss_social_follow]
وَعَنْ وَابِصَةَ بْنِ مَعْبَدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: أَتَيْت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ
Dan dari Wabishah bin Ma'bad radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendatangi Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda:
جِئْتَ تَسْأَلُ عَنْ الْبِرِّ؟ قُلْت: نَعَمْ. فقَالَ:
Apakah engkau datang untuk bertanya tentang Al-Birr (kebaikan)? Aku menjawab, "Ya." Maka beliau bersabda:
اِسْتَفْتِ قَلْبَكَ، اَلْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ، وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ، وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ.
Mintalah fatwa kepada hatimu. Al-Birr adalah apa yang membuat jiwa tenang dan hati tenteram. Sedangkan Al-Itsmu adalah apa yang mengganjal di dalam jiwa dan mengganggu di dalam dada, meskipun orang-orang memberimu fatwa, (Musnad Ahmad: 18028. Sunan Ad-Darimi: 2533)
[irp posts="8894" ]PENJELASAN HADIS
Berikut adalah penjelasan terhadap beberapa kata atau frasa yang terdapat di dalam hadis nomor 26 tentang macam-macam sedekah:1 – Sabda Nabi (الْبِرُّ) atau “Al-Birru,” maksudnya:
اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ خَيْرٍ.
Nama yang mencakup segala bentuk kebaikan.
2 – Sabda Nabi (حُسْنُ الْخُلُقِ) atau “Husnul Khuluq,” maksudnya:
أَيْ التَّحَلِّي بِالصِّفَاتِ الْحَمِيدَةِ، وَالتَّخَلِّي عَنِ الصِّفَاتِ الذَّمِيمَةِ.
Yaitu menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, dan menjauhi sifat-sifat tercela.
3 – Sabda Nabi (الْإِثْمُ) atau “Al-Itsmu,” maksudnya:
أَيْ الذَّنْبِ.
Yaitu dosa.
4 – Sabda Nabi (حَاكَ فِي صَدْرِكَ) atau “membuat gelisah di dalam dadamu,” maksudnya:
أَيْ تَحَرَّكَ فِي النَّفْسِ، وَتَرَدَّدَ فِي الْقَلْبِ، وَلَمْ يَنْشَرِحْ لَهُ الصَّدْرُ، وَحَصَلَ فِي الْقَلْبِ مِنْهُ الشَّكُّ، وَخَوْفٌ لِكَوْنِهِ ذَنْبًا.
Yaitu gelisah di dalam jiwa, ragu-ragu di dalam hati, dan dada tidak lapang untuknya, serta timbul keraguan di hati, dan takut karena itu adalah dosa.
5 – Sabda Nabi (كَرِهْتَ) atau “kamu tidak suka,” maksudnya:
أَيْ كَرَاهِيَةَ دِينِيَّةً.
Yaitu kebencian yang dilandasi unsur syar'i.
6 – Sabda Nabi (أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ) atau “orang lain mengetahuinya,” maksudnya:
أَيْ أَمَاثِلُهُمْ الَّذِينَ يَسْتَحْيَا مِنْهُمْ.
Yaitu orang-orang yang setara denganmu yang engkau merasa malu terhadap mereka.
7 – Sabda Nabi (اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ) atau “membuat jiwa tenang,” maksudnya:
أَيْ سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ.
Yaitu jiwa yang baik merasa tenteram kepadanya.
8 – Sabda Nabi (أَفْتَاكَ النَّاسُ) atau “orang-orang memberimu fatwa,” maksudnya:
أَيْ عُلَمَاؤُهُمْ.
Yaitu ulama mereka.
9 – Sabda Nabi (وَأَفْتَوْكَ) atau “dengan suatu fatwa,” maksudnya:
أَيْ بِخِلَافِهِ.
Yaitu yang bertentangan dengan perasaan hatimu yang gelisah.PELAJARAN DARI HADIS
Berikut adalah beberapa poin pelajaran yang bisa diambil dari hadis nomor 27 Arbain Nawawi tentang hakikat al-birru dan al-itsmu:التَّرْغِيبُ فِي حُسْنِ الْخُلُقِ.
1 – Anjuran untuk berakhlak baik.
فَضْلُ حُسْنِ الْخُلُقِ.
2 – Keutamaan akhlak yang baik.
الْفَتْوَى لَا تُحِلُّ مَا حَرَّمَهُ اللَّهُ، وَلَا تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّهُ اللَّهُ.
3 – Fatwa tidak menghalalkan apa yang Allah haramkan, dan tidak mengharamkan apa yang Allah halalkan.
الْحَقُّ، وَالْبَاطِلُ لَا يَلْتَبِسُ أَمْرُهُمَا عَلَى الْمُؤْمِنِ الْبَصِيرِ.
4 – Kebenaran dan kebatilan, perkaranya tidaklah samar bagi mukmin yang memiliki bashirah (wawasan).
وُضُوحُ الشَّرِيعَةِ مِنْ حَيْثُ الْبِرِّ، وَالْإِثْمِ.
5 – Kejelasan syariat dari segi al-birr (kebaikan) dan al-itsm (dosa).
النَّفْسُ تَطْمَئِنُّ لِلْخَيْرِ، وَالْبِرِّ.
6 – Jiwa merasa tenteram kepada kebaikan dan al-birr.
مِنْ عَلَامَاتِ الْبِرِّ ارْتِيَاحُ النَّفْسِ لَهُ، وَاطْمَئْنَانُهُ بِهِ.
7 – Di antara tanda bahwa sesuatu itu baik (al-birru) adalah jiwa merasa nyaman kepadanya, dan tenteram dengannya.
مِنْ عَلَامَاتِ الْإِثْمِ أَنَّهُ يُسَبِّبُ حَرَجًا لِلنَّفْسِ، وَضِيقًا لَهَا.
8 – Di antara tanda-tanda al-itsmu adalah bahwa ia menyebabkan kesempitan bagi jiwa, dan kesulitan untuknya.
الْبِرُّ لَا يُسْتَحْيِي مِنْ فِعْلِهِ فِي الْخَلْوَةِ، وَفِي الْمُجْتَمَعَاتِ الْعَامَّةِ بِخِلَافِ الْإِثْمِ، فَإِنَّ فِعْلَهُ فِي الْخَلْوَةِ يُسَبِّبُ الْحَرَجَ وَالضَّيْقَ، وَفِعْلُهُ فِي الْعَلَانِيَةِ يُسْتَحْيَا مِنْهُ.
9 – Al-Birru tidak menyebabkan rasa malu untuk dilakukan dalam kesendirian, dan di tengah-tengah perkumpulan umum. Berbeda dengan Al-Itsmu, karena melakukannya dalam kesendirian menyebabkan kesulitan dan kesempitan, dan melakukannya di depan umum menyebabkan rasa malu darinya.
Hadis-hadis ini memberikan pedoman ganda bagi seorang mukmin: standar syariat (akhlak yang baik adalah Al-Birr) dan standar hati (dosa adalah apa yang menggelisahkan). Meskipun fatwa dari ulama adalah penting, hati yang bersih yang telah dilatih ketaatan akan menjadi kompas spiritual. Dengan demikian, Al-Birr adalah kebaikan yang menenangkan jiwa, sedangkan Al-Itsm adalah kegelisahan yang menyelimuti hati, bahkan ketika ada pembenaran dari manusia.
Karangasem, 2 Oktober 2025
Irfan Nugroho (Pengelola situs mukminun.com dan channel YouTube: Mukminun TV)
Post a Comment for "Arbain Nawawii 27: Hakikat Al-Birru dan Al-Itsmu"