zmedia

Arbain Nawawi 28: Nasihat yang Mendalam

Pembaca rahimakumullah, hadis arbain nawawi nomor 28 membahas tentang nasihat yang mendalam.  Berikut adalah matan, penjelasan, dan pelajaran dari hadis tersebut, yang kami ambilkan dari kitab Tuhfatus Saniyah Syarh Arbain Nawawiah karya Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani hafizahullah. Semoga bermanfaat!

MATAN HADIS NASIHAT YANG MENDALAM

عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ:

Dari Abu Najih Al-'Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu Anhu yang berkata:

وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا

Rasulullah ﷺ memberikan kepada kami sebuah mauizah yang membuat hati menjadi takut dan air mata berlinang. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah! Seolah-olah ini adalah nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat.

قَالَ: أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Beliau bersabda: Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah Ta'ala, serta untuk mendengar dan taat meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena sesungguhnya, barangsiapa di antara kalian yang hidup setelahku, niscaya ia akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh pada sunnahku dan sunah Khulafa'ur Rasyidin yang dibimbing dengan benar. Gigitlah erat-erat sunnah itu dengan gigi geraham. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru karena sesungguhnya setiap bid'ah adalah kesesatan, (Sunan Abu Dawud: 4607).

PENJELASAN HADIS

Berikut adalah penjelasan terhadap beberapa kata atau frasa yang terdapat di dalam hadis nomor 28 tentang nasihat yang mendalam:

1 – Sabda Nabi (وَعَظَنَا) maksudnya:

أَيْ نَصَحَنَا، وَذَكَّرْنَا.

Yaitu menasihati kami dan mengingatkan kami.

2 – Sabda Nabi (ذَرَفَتْ) maksudnya:

أَيْ سَالَتْ بِالدَّمُوعِ.

Yaitu mengalirkan air mata.

3 – Sabda Nabi (كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ) maksudnya:

فَهِمُوا ذَلِكَ مِنْ مُبَالَغَتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي تَخْوِيفِهِمْ، وَتَحْذِيرِهِمْ، فَظَنُّوا أَنَّ ذَلِكَ لِقُرْبِ مُفَارَقَتِهِ لَهُمْ.

Mereka memahami hal itu dari penekanan beliau ﷺ dalam menakut-nakuti dan memperingatkan mereka, sehingga mereka menduga bahwa itu karena sudah dekatnya perpisahan beliau dengan mereka.

4 – Sabda Nabi (فَأَوْصِنَا) maksudnya:

أَيْ وَصِيَّةً جَامِعَةً كَافِيَةً.

Yaitu wasiat yang menyeluruh dan mencukupi.

5 – Sabda Nabi (بِتَقْوَى اللَّهِ) atau “takwa kepada Allah,” maksudnya:

أَيْ امْتِثَالِ أَوَامِرِهِ، وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيهِ.

Yaitu menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

6 – Sabda Nabi (وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ) atau “mendengar dan taat,” maksudnya:

أَيْ لِوُلَاةِ الْأُمُورِ.

Yaitu kepada para pemimpin urusan.

7 – Sabda Nabi (فَسَيَرَى اخْتِلَافًا) atau “niscaya ia akan melihat perselisihan,” maksudnya:

أَيْ فِي الْأَقْوَالِ، وَالْأَعْمَالِ، وَالِاعْتِقَادَاتِ.

Yaitu dalam perkataan, perbuatan, dan akidah.

8 – Sabda Nabi (فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي) atau “maka atas kalian terhadap sunahku,” maksudnya:

أَيْ الزَمُوا طَرِيقَتَهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي الِاعْتِقَادَاتِ، وَالْعِبَادَاتِ.

Yaitu wajibkanlah diri kalian untuk berpegang teguh pada cara beliau ﷺ dalam akidah dan ibadah.

9 – Sabda Nabi (وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ) atau “Sunah khulafaur Rasyidin,” maksudnya:

أَيْ الَّذِينَ عَرَفُوا الْحَقَّ، وَاتَّبَعُوهُ، وَهُم أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، وَعُثْمَانُ، وَعَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.

Yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu 'anhum.

10 – Sabda Nabi (بِالنَّوَاجِذِ) atau “gigi geraham,” maksudnya:

أَيْ بِأَوَاخِرِ الْأَضْرَاسِ.

Yaitu dengan gigi geraham bagian belakang (untuk menunjukkan penekanan yang kuat).

11 – Sabda Nabi (بِدْعَةٌ) atau “bid’ah,” maksudnya:

أَيْ مَا أَحْدَثَ عَلَى خِلَافِ أَمْرِ الشَّارِعِ.

Yaitu apa yang diada-adakan yang menyalahi perintah syariat.

PELAJARAN DARI HADIS

Berikut adalah beberapa poin pelajaran yang bisa diambil dari hadis nomor 28 Arbain Nawawi tentang nasihat yang mendalam ini di antaranya:

الْحَثُّ عَلَى الْمُبَالَغَةِ فِي الْمَوْعِظَةِ؛ لِمَا فِي ذَلِكَ مِنْ تَرْقِيقِ الْقُلُوبِ، فَتَكُونُ أَسْرَعَ إِلَى الْإِجَابَةِ.

1 – Anjuran untuk bersungguh-sungguh dalam memberi nasihat, karena di dalamnya terdapat kelembutan hati, sehingga lebih cepat untuk menerima.

التَّحْذِيرُ مِنْ ابْتِدَاعِ الْأُمُورِ الَّتِي لَيْسَ لَهَا أَصْلٌ فِي الشَّرْعِ.

2 – Peringatan dari mengada-adakan perkara yang tidak memiliki dasar dalam syariat (bid'ah).

الْحَثُّ عَلَى التَّمَسُّكِ بِالسُّنَّةِ.

3 – Anjuran untuk berpegang teguh pada Sunnah.

يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَسْتَمِعَ الْمَوَاعِظَ بَيْنَ فَتْرَةٍ وَأُخْرَى؛ لِأَنَّهَا نَافِعَةٌ لِلْقَلْبِ.

4 – Seorang Muslim seharusnya mendengarkan nasihat dari waktu ke waktu, karena hal itu bermanfaat bagi hati.

أَعْظَمُ الْوَصَايَا الْوَصِيَّةُ بِتَقْوَى اللَّهِ؛ لِأَنَّهَا تَحُثُّ عَلَى فِعْلِ الطَّاعَاتِ، وَتَرْكِ الْمَنْهِيَّاتِ.

5 – Wasiat yang paling agung adalah wasiat untuk bertakwa kepada Allah, karena hal itu mendorong untuk melakukan ketaatan dan meninggalkan larangan.

وُجُوبُ السَّمْعِ، وَالطَّاعَةِ لِوُلَاةِ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ.

6 – Wajibnya mendengar dan taat kepada para pemimpin urusan kaum Muslimin.

فَضِيلَةُ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْأَرْبَعَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.

7 – Keutamaan empat Khulafa'ur Rasyidin (radhiyallahu 'anhum).

الْحَدِيثُ فِيهِ عِلْمٌ مِنْ أَعْلَامِ النُّبُوَّةِ؛ فَإِنَّهُ أَخْبَرَ بِمَا يَقَعُ بَعْدَهُ فِي أُمَّتِهِ مِنْ كَثْرَةِ الِاخْتِلَافِ.

8 – Hadis ini mengandung ilmu dari tanda-tanda kenabian, karena beliau mengabarkan tentang apa yang akan terjadi setelah beliau pada umatnya, yaitu banyaknya perselisihan.

Nasihat dari Nabi Muhammad ﷺ ini adalah peta jalan bagi umatnya. Di tengah perselisihan dan munculnya bid'ah, keselamatan hanya terletak pada ketakwaan dan kembali pada sumber asli: Sunnah Nabi dan jalan Khulafa'ur Rasyidin. Anjuran "menggigit dengan gigi geraham" menunjukkan betapa kuatnya keharusan untuk berpegang teguh pada ajaran tersebut sebagai satu-satunya benteng dari kesesatan.

Karangasem, 2 Oktober 2025

Irfan Nugroho (Pengelola situs mukminun.com dan channel YouTube: Mukminun TV)

Post a Comment for "Arbain Nawawi 28: Nasihat yang Mendalam"