zmedia

Arbain Nawawi 29: Jalan Keselamatan

Pembaca rahimakumullah, hadis arbain nawawi nomor 29 membahas tentang jalan keselamatan.  Berikut adalah matan, penjelasan, dan pelajaran dari hadis tersebut, yang kami ambilkan dari kitab Tuhfatus Saniyah Syarh Arbain Nawawiah karya Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani hafizahullah. Semoga bermanfaat!

MATAN HADIS JALAN KESELAMATAN

Dari Mu'adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu, yang berkata:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ، وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ.

Wahai Rasulullah! Beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.

فَقَالَ: «لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ عَظِيمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ الْبَيْتَ».

Beliau bersabda: Sungguh engkau telah bertanya tentang perkara yang besar, dan sesungguhnya hal itu mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah:
  1. Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
  2. Engkau mendirikan salat.
  3. Engkau menunaikan zakat.
  4. Engkau berpuasa Ramadan.
  5. Engkau berhaji ke Baitullah.
ثُمَّ قَالَ: «أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ» Kemudian beliau bersabda: Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan?
  1. Puasa adalah perisai.
  2. Sedekah dapat menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api.
  3. Salat seseorang di tengah malam.
ثُمَّ تَلَا: ﴿تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ۝ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾ Kemudian beliau membacakan (ayat): ' Lambung mereka jauh dari tempat tidur, seraya berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan,' (QS. As-Sajdah: 16-17).

ثُمَّ قَالَ: «أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ، وَعَمُودِهِ، وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ؟» قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: «رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ»

Kemudian beliau bersabda: Maukah aku beritahukan kepadamu tentang pokok urusan (agama), tiang utamanya, dan puncak tertingginya?

Aku menjawab: Tentu, wahai Rasulullah.

Beliau bersabda: Pokok urusan (agama) adalah Al-Islam; tiang utamanya adalah Salat; dan puncak tertingginya adalah Jihad.

ثُمَّ قَالَ: «أَلَا أُخْبِرُكَ بِمِلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟» فَقُلْتُ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللَّهِ، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ، ثُمَّ قَالَ: «كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا».

Kemudian beliau bersabda: Maukah aku beritahukan kepadamu tentang kunci dari semua itu?

Aku menjawab: Tentu, wahai Rasulullah!

Maka beliau memegang lidahnya seraya bersabda: Jaga ini baik-baik darimu!

قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: «ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ، أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ»

Aku bertanya: Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena apa yang kita ucapkan?

Maka beliau bersabda: Ibumu telah kehilangan dirimu! Bukankah yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka di atas wajah mereka—atau beliau bersabda: di atas hidung mereka—adalah hasil panen lisan mereka?! (Jami At-Tirmizi: 2616. Sunan Ibnu Majah: 3973. Musnad Ahmad: 22016).

PENJELASAN HADIS

Berikut adalah penjelasan terhadap beberapa kata atau frasa yang terdapat di dalam hadis nomor 29 tentang jalan keselamatan:

1 – Sabda Nabi (لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ عَظِيمٍ) atau “Sungguh engkau telah bertanya tentang sesuatu yang agung,” maksudnya:

أَيْ عَنْ عَمَلٍ عَظِيمٍ؛ لِأَنَّ دُخُولَ الْجَنَّةِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ أَمْرٌ عَظِيمٌ؛ لِأَجْلِهِ أَنْزَلَ اللَّهُ الْكُتُبَ، وَأَرْسَلَ الرُّسُلَ.

Yaitu tentang amalan yang agung, karena masuk surga dan selamat dari neraka adalah perkara yang agung, yang karenanya Allah menurunkan kitab-kitab dan mengutus para rasul.

2 – Sabda Nabi (مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ) atau “Siapa saja yang dimudahkan Allah,” maksudnya:

أَيْ بِتَوْفِيقِهِ إِلَى الْقِيَامِ بِالطَّاعَاتِ عَلَى مَا يَنْبَغِي.

Yaitu dengan taufik-Nya untuk melaksanakan ketaatan sebagaimana mestinya.

3 – Sabda Nabi (تَعْبُدُ اللَّهَ) atau “Engkau mengibadahi Allah,” maksudnya:

أَيْ تَوْحِيدُهُ.

Yaitu mentauhidkan-Nya.

4 – Sabda Nabi (عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ) atau “pintu-pintu kebaikan,” maksudnya:

أَيْ مِنَ النَّوَافِلِ.

Yaitu dari amalan-amalan sunnah (nawafil).

5 – Sabda Nabi (الصَّوْمُ) maksudnya:

أَيْ الْإِكْثَارُ مِنْ نَفْلِهِ.

Yaitu memperbanyak puasa sunnah.

6 – Sabda Nabi (جُنَّةٌ) atau “perisai,” maksudnya:

أَيْ وِقَايَةٌ لِصَاحِبِهِ مِنَ الْمَعَاصِي فِي الدُّنْيَا، وَمِنَ النَّارِ فِي الْآخِرَةِ.

Yaitu penjagaan bagi pelakunya dari maksiat di dunia, dan dari api neraka di akhirat.

7 – Sabda Nabi (وَصَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ) maksudnya:

أَيْ أَنَّهَا تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ، وَالْمَرْأَةُ مِثْلُ الرَّجُلِ فِي ذَلِكَ.

Yaitu bahwa salat malam dapat memadamkan dosa, dan wanita sama seperti pria dalam hal itu.

8 – Sabda Nabi (تَتَجَافَى) maksudnya:

أَيْ تَتَبَاعَدُ.

Yaitu menjauh.

9 – Sabda Nabi (الْمَضَاجِعِ) maksudnya:

أَيْ مَوَاضِعِ الِاضْطِجَاعِ لِلنَّوْمِ.

Yaitu tempat-tempat berbaring untuk tidur.

10 – Sabda Nabi (بِرَأْسِ الْأَمْرِ) atau “pokok urusan (agama),” maksudnya:

أَيْ أَعْلَاهُ الَّذِي سَأَلْتَ عَنْهُ.

Yaitu bagian paling atas yang engkau tanyakan.

11 – Sabda Nabi (ذِرْوَةُ) atau “puncak tertingginya,” maksudnya:

بِضَمِّ الذَّالِ وَكَسْرِهَا، أَيِ الطَّرَفِ الْأَعْلَى.

Dengan dhammah pada dzal atau kasrah (maksudnya: dzurwah atau dzirwah), yaitu bagian yang paling tinggi.

12 – Sabda Nabi (بِمِلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ) atau “kunci dari semua itu,” maksudnya:

أَيْ بِمَقْصُودِهِ، وَمَا يَعْتَمِدُ عَلَيْهِ، وَالْمِلَاكُ بِكَسْرِ الْمِيمِ، وَفَتْحِهَا.

Yaitu tujuannya, dan apa yang menjadi sandarannya. Dan Al-Milāk dengan kasrah pada mim, atau fathah.

13 – Sabda Nabi (فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ) atau “Maka beliau memegang lidahnya,” maksudnya:

أَيْ أَمْسَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسَانَ نَفْسِهِ.

Yaitu Nabi ﷺ memegang lidah beliau sendiri.

14 – Sabda Nabi (ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ) atau “Ibumu telah kehilangan dirimu,” maksudnya:

أَيْ فَقَدَتْكَ، وَلَمْ يَقْصِدِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقِيقَةَ الدُّعَاءِ، بَلْ جَرَى ذَلِكَ عَلَى عَادَةِ الْعَرَبِ فِي الْمُخَاطَبَاتِ.

Yaitu ibumu telah kehilangan dirimu (meninggalmu). Nabi ﷺ tidak sungguh-sungguh dengan ungkapan tersebut, melainkan ungkapan ini adalah kebiasaan orang Arab dalam percakapan.

15 – Sabda Nabi (يَكُبُّ) atau “menjerumuskan,” maksudnya:

أَيْ يَصْرَعُ.

Yaitu membanting (melempar).

16 – Sabda Nabi (حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ) atau “hasil panen lisan mereka,” maksudnya:

أَيْ مَا يَتَحَدَّثُونَ بِهِ مِمَّا لَا فَائِدَةَ فِيهِ.

Yaitu apa yang mereka ucapkan yang tidak ada manfaatnya di dalamnya (hasil panen lisan mereka).

PELAJARAN DARI HADIS

Berikut adalah beberapa poin pelajaran yang bisa diambil dari hadis nomor 29 Arbain Nawawi tentang jalan kemenangan ini di antaranya:

الْأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ سَبَبٌ لِدُخُولِ الْجَنَّةِ.

1 – Amal saleh adalah sebab masuk surga.

فَضْلُ الصَّوْمِ، وَأَنَّهُ وِقَايَةٌ مِنَ الْوُقُوعِ فِي الشَّهَوَاتِ، وَالْمُحَرَّمَاتِ.

2 – Keutamaan puasa, dan bahwasanya ia adalah penjagaan dari terjerumus dalam syahwat dan perkara haram.

فَضْلُ الصَّدَقَةِ، وَأَنَّهَا تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ.

3 – Keutamaan sedekah, dan bahwasanya ia memadamkan dosa.

فَضْلُ التَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ بِالنَّوَافِلِ بَعْدَ أَدَاءِ الْفَرَائِضِ.

4 – Keutamaan mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan sunnah (nawafil) setelah menunaikan kewajiban (fara'idh).

فَضْلُ الصَّمْتِ، وَالتَّحْذِيرُ مِنْ خَطَرِ اللِّسَانِ عَلَى الْإِنْسَانِ.

5 – Keutamaan diam, dan peringatan dari bahaya lisan bagi manusia.

يَنْبَغِي لِلْمُعَلِّمِ أَنْ يَمْدَحَ صَاحِبَ السُّؤَالِ الْجَيِّدِ تَشْجِيعًا لَهُ عَلَى سُؤَالِهِ.

6 – Seyogyanya bagi seorang guru untuk memuji pemilik pertanyaan yang baik sebagai dorongan baginya atas pertanyaannya.

الْأَعْمَالُ مِنَ الْإِيمَانِ.

7 – Amalan termasuk bagian dari iman.

فَضْلُ قِيَامِ اللَّيْلِ، وَأَنَّهُ يُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ.

8 – Keutamaan salat malam, dan bahwasanya ia memadamkan dosa.

السُّنَّةُ تُفَسِّرُ الْقُرْآنَ، فَقَدْ فَسَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوْلَهُ: ﴿تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ﴾ بِأَنَّهَا صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ.

9 – Sunnah menafsirkan Al-Qur'an. Sungguh Nabi ﷺ telah menafsirkan firman-Nya:

 ﴿تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ﴾

bahwasanya itu adalah salat seseorang di tengah malam.

عَظِيمُ مَنْزِلَةِ الْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.

10 – Agungnya kedudukan jihad di jalan Allah.

Hadis Mu'adz bin Jabal ini adalah panduan komprehensif menuju keselamatan. Ia menetapkan bahwa Islam adalah pokok, Salat adalah tiang penopangnya, dan Jihad adalah puncaknya. Namun, semua kebaikan dan ketinggian derajat tersebut dikunci oleh satu hal: kemampuan seorang hamba untuk menjaga lisannya. Mengingat betapa banyak manusia yang celaka karena lisan mereka, kewajiban untuk diam dari perkataan sia-sia menjadi pelajaran terpenting dalam upaya meraih surga dan selamat dari api neraka.

Karangasem, 2 Oktober 2025

Irfan Nugroho (Pengelola situs mukminun.com dan channel YouTube: Mukminun TV)

Post a Comment for "Arbain Nawawi 29: Jalan Keselamatan"