zmedia

Mausuatul Akhlak: Tafaul atau Optimis

Pembaca rahimakumullah, tafaul atau optimis adalah salah satu akhlak mulia yang diajarkan di dalam Islam. Berikut adalah ringkasan dan terjemahan dari Mausuatul Akhlak Dorar Saniyah tentang tafaul atau optimis. Semoga bermanfaat!

[ss_social_follow]

التَّرغِيبُ فِي التَّفَاؤُلِ مِنَ القُرْآنِ الكَرِيمِ

Anjuran Tafaul dari Al-Qur'an al-Karīm

١ - قَالَ تَعَالَى زَارِعًا الثِّقَةَ وَالتَّفَاؤُلَ فِي نُفُوسِ المُؤمِنِينَ، وَمُثَبِّتًا لِقُلُوبِهِمْ، وَمُقَوِّيًا لِيَقِينِهِمْ:

1 - Allah ta'ala berfirman, menanamkan kepercayaan dan optimisme di dalam jiwa orang-orang yang beriman, menguatkan hati mereka, dan memperkokoh keyakinan mereka:

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ * إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ * وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ

“Dan sungguh, telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka benar-benar akan ditolong. Dan sesungguhnya bala tentara Kami benar-benar akan menang.” (QS. Aṣ-Ṣāffāt: 171-173)

٢ - وَقَالَ تَعَالَى فِي بَيَانِ صُورَةٍ مِنْ صُوَرِ تَفَاؤُلِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي خِضَمِّ المِحَنِ وَالحِصَارِ:

2 - Dan Allah ta'ala berfirman dalam menjelaskan salah satu bentuk optimisme Nabi-Nya ﷺ (semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya) di tengah-tengah cobaan dan pengepungan:

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah), sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua,”

إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ

“di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan (sakinah) kepada (Rasulullah)”

وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“dan Dia menguatkannya dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. Dan Kalimat Allah (Islam) itulah yang paling tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Tawbah: 40)

التَّرغِيبُ فِي التَّفَاؤُلِ مِنَ السُّنَّةِ النَّبَوِيَّةِ

Anjuran Tafaul dari Sunnah Nabawiyyah

١ - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: ((كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعجِبُهُ الفَأْلُ الحَسَنُ، وَيَكرَهُ الطِّيَرَةَ))

1 - Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Nabi ﷺ menyukai optimisme yang baik, dan membenci ṭiyarah (pertanda sial/pesimisme).” (HR. Ibnu Majah: 3536)

٢ - وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ ، وَيُعْجِبُنِي الفَأْلُ الصَّالِحُ: الكَلِمَةُ الحَسَنَةُ))

2 - Dan dari Anas radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Tidak ada ‘adwa (penularan penyakit tanpa seizin Allah) dan tidak ada ṭiyarah (pertanda sial/pesimisme), dan aku menyukai al-fa’l aṣ-ṣāliḥ (optimisme yang baik): yaitu al-kalimah al-ḥasanah (kata-kata yang baik).” (HR. Al-Bukhari: 5756 dan ini lafazhnya, dan Muslim: 2224)

٣ - وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((لَا طِيَرَةَ، وَخَيْرُهَا الفَأْلُ. قَالُوا: وَمَا الفَأْلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ))

3 - Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda: “Tidak ada ṭiyarah (pertanda sial/pesimisme), dan yang terbaik darinya adalah al-fa’l (optimisme). Mereka bertanya: “Apakah al-fa’l itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Kata-kata yang baik yang didengar oleh salah seorang dari kalian.” (HR. Al-Bukhari: 5754 dan ini lafazhnya, dan Muslim: 2223)

مَعْنَى التَّفَاؤُلِ لُغَةً وَاصطِلَاحًا

Makna Tafaul secara Bahasa dan Istilah

التَّفَاؤُلُ لُغَةً :الفَأْلُ: ضِدُّ الطِّيَرَةِ (التَّشَاؤُمِ)، وَالجَمْعُ فُؤُولٌ، وَأَفْؤُلٌ. وَهُوَ مَا يُظَنُّ عِنْدَهُ الخَيرُ

At-Tafā’ul secara bahasa: Al-Fa’l (optimisme) adalah lawan dari aṭ-ṭiyarah (pesimisme), dan jamak-nya adalah fu'ūlun dan af'ulun. Dan ia adalah sesuatu yang diduga membawa kebaikan karenanya.

التَّفَاؤُلُ: هُوَ انشِرَاحُ قَلْبِ الإِنسَانِ وَإِحسَانُهُ الظَّنَّ، وَتَوَقُّعُ الخَيرِ بِمَا يَسمَعُهُ مِنَ الكَلِمِ الصَّالِحِ أَوِ الحَسَنِ أَوِ الطَّيِّبِ

At-Tafā’ul: Adalah lapangnya hati seseorang dan prasangka baiknya, serta harapan akan kebaikan berdasarkan kata-kata yang baik atau indah atau suci yang ia dengar.

فَوَائِدُ التَّفَاؤُلِ

Buah dari Akhlak Tafaul

١- يَهَبُ المَرءَ شَجَاعَةً وَقُوَّةً فِي قَلبِهِ.

1- Memberi kepada seseorang keberanian dan kekuatan dalam hatinya.

٢- يُرَوِّحُ عَنِ النَّفْسِ وَيَجلِبُ لَهَا السَّعَادَةَ.

2- Menghibur jiwa dan mendatangkan kebahagiaan baginya.

٣- لَهُ أَثَرٌ بَالِغٌ عَلَى صِحَّةِ الْإِنْسَانِ.

3- Memiliki dampak yang besar terhadap kesehatan seseorang.

٤- حُسنُ الظَّنِّ بِاللهِ.

4- Berprasangka baik kepada Allah.

٥- أَنَّ فِي التَّفَاؤُلِ تَقوِيَةً لِعَزْمِ الإِنسَانِ.

5- Bahwa dalam optimisme terdapat penguatan bagi tekad seseorang.

٦- أَنَّ التَّفَاؤُلَ يَتَضَمَّنُ الرَّجَاءَ وَالأَمَلَ.

6- Bahwa optimisme mengandung harapan dan cita-cita.

٧- أَنَّهُ بَاعِثٌ عَلَى الجِدِّ.

7- Bahwa ia mendorong untuk kesungguhan.

٨- أَنَّهُ مُعِينٌ عَلَى الظَّفَرِ.

8- Bahwa ia membantu untuk meraih kemenangan.

٩- صِحَّةُ النَّفْسِ وَاعْتِدَالُ المِزَاجِ.

9- Kesehatan jiwa dan keseimbangan temperamen.

١٠- سَعَادَةُ النَّفْسِ وَالقَلبِ وَاطمِئنَانُهُمَا

10- Kebahagiaan jiwa dan hati serta ketenangan keduanya.

١١ - دَوَامُ البِشْرِ وَاللُّطْفِ وَالهُدُوءِ

11 - Langgengnya keceriaan, kelembutan, dan ketenangan.

١٢ - الرِّضَا بِالقَضَاءِ وَالقَدَرِ

12 - Keridhaan terhadap ketentuan dan takdir.

مَوَانِعُ اكْتِسَابِ التَّفَاؤُلِ

Penghalang dari Meraih Akhlak Tafaul

١- الجَزَعُ عِنْدَ نُزُولِ شَدَائِدِ الأُمُورِ.

1- Kecemasan ketika turunnya kesulitan dalam urusan-urusan.

٢- انْبِعَاثُ اليَأسِ وَالقُنُوطِ فِي النَّفْسِ.

2- Timbulnya keputusasaan dan berputus asa di dalam jiwa.

٣- الاِستِسلَامُ لِوَسوَاسِ الشَّيطَانِ الَّذِي يَعِدُ بِالفَقرِ وَيَدعُو إِلَى القُنُوطِ مِن رَحمَةِ اللَّهِ.

3- Pasrah terhadap bisikan setan yang menjanjikan kemiskinan dan mengajak untuk berputus asa dari rahmat Allah.

٤- شِدَّةُ الحَسرَةِ عَلَى فَوَاتِ رِزقٍ أَو ضَيَاعِ مَصلَحَةٍ دُنيَوِيَّةٍ.

4- Sangat menyesali karena hilangnya rezeki atau lenyapnya kepentingan duniawi.

٥- الاِنشِغَالُ بِأَمْرِ المُستَقبَلِ انشِغَالًا شَدِيدًا.

5- Terlalu sibuk memikirkan urusan masa depan dengan kesibukan yang sangat.

الوَسَائِلُ المُعِينَةُ عَلَى اكتِسَابِ التَّفَاؤُلِ

Sarana Meraih Akhlak Tafaul

١- التَّذْكِيرُ بِأَنَّ كُلَّ مَا يُصِيبُ المَرءَ هُوَ مِنْ أَقْدَارِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

1- Mengingatkan bahwa segala yang menimpa seseorang adalah ketentuan Allah ‘azza wa jalla.

٢- إِحسَانُ الظَّنِّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ.

2- Berprasangka baik kepada Allah ‘azza wa jalla.

٣- أَنْ يَعلَمَ العَبدُ أَنَّ كُلَّ مَا قَدَّرَهُ اللَّهُ عَلَيهِ: مِنَ الخَيرِ.

3- Bahwa seorang hamba mengetahui bahwa segala yang Allah takdirkan atasnya adalah kebaikan.

٤- أَنْ يُحسِنَ تَوَكُّلَهُ عَلَى رَبِّهِ؛ فَإِنَّ مَن تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَحدَهُ كَفَاهُ مِن غَيرِهِ.

4- Bahwa ia memperbaiki tawakkalnya kepada Rabb-nya; karena barangsiapa yang bertawakkal hanya kepada Allah, Dia akan mencukupinya dari selain-Nya.

مَظَاهِرُ وَصُوَرُ التَّفَاؤُلِ

Gambaran Akhlak Tafaul

١ - التَّفَاؤُلُ بِالأَسمَاءِ الحَسَنَةِ:

1 - Optimisme dengan nama-nama yang baik:

عَنِ ابْنِ المُسَيِّبِ أَنَّ جَدَّهُ حَزْنًا قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ((مَا اسْمُكَ. قَالَ: اسْمِي حَزْنٌ، قَالَ: بَلْ أَنتَ سَهْلٌ))

Dari Ibnu al-Musayyib bahwa kakeknya, Ḥazn, datang kepada Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda: “Siapakah namamu?” Ia menjawab: “Namaku Ḥazn (susah/sulit).” Beliau bersabda: “Bahkan engkau adalah Sahl (mudah/datar).” (HR. Al-Bukhari: 6193)

٢ - التَّفَاؤُلُ بِالشِّعَارِ الحَسَنِ فِي المَعَارِكِ؛ الشِّعَارِ الدَّاعِي إِلَى النَّصرِ، المُشتَمِلِ عَلَى العِزَّةِ، الرَّافِعِ لِلهِمَّةِ.

2 - Optimisme dengan semboyan yang baik dalam peperangan; semboyan yang menyeru kepada kemenangan, mengandung kemuliaan, dan meninggikan semangat.

عَن إِيَاسِ بنِ سَلَمَةَ، عَن أَبِيهِ، قَالَ: (غَزَوْنَا مَعَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ زَمَنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانَ شِعَارُنَا: أَمِتْ أَمِتْ)

Dari Iyas bin Salamah, dari ayahnya, ia berkata: “Kami berperang bersama Abu Bakar radhiyallahu 'anhu pada zaman Nabi ﷺ, dan semboyan kami adalah: ‘Amit! Amit!’ (Matikan! Matikan!).” (HR. Abu Dawud: 2596)

٣ - التَّفَاؤُلُ فِي مُقَابَلَةِ الإِخوَانِ وَالأَصحَابِ، وَذَلِكَ بِالتَّبَسُّمِ فِي وُجُوهِهِمْ، فَهَذِهِ البَسْمَةُ تَبعَثُ فِي النَّفْسِ التَّفَاؤُلَ وَالخَيرَ.

3 - Optimisme saat bertemu saudara-saudara dan sahabat, yaitu dengan tersenyum di wajah mereka, karena senyuman ini akan menimbulkan optimisme dan kebaikan dalam jiwa.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((لَا تَحقِرَنَّ مِنَ المَعرُوفِ شَيئًا، وَلَو أَنْ تَلقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ))

Dari Abu Dzarr, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda kepadaku: “Janganlah engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan, meskipun (hanya) engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri-seri.” (HR. Muslim: 2626)

نَمَاذِجُ مِنَ التَّفَاؤُلِ عِندَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Contoh Akhlak Optimis Diri Nabi ﷺ

١ - تَفَاؤُلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِشْرُهُ وَتَبَسُّمُهُ؛ فَعَنْ جَرِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: ((مَا حَجَبَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ أَسْلَمْتُ، وَلَا رَآنِي إِلَّا تَبَسَّمَ فِي وَجْهِي، وَلَقَدْ شَكَوتُ إِلَيهِ أَنِّي لَا أَثبُتُ عَلَى الخَيلِ، فَضَرَبَ بِيَدِهِ فِي صَدْرِي، وَقَالَ: اللَّهُمَّ ثَبِّتْهُ وَاجعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا))

1 - Optimisme beliau ﷺ, keceriaan, dan senyum beliau; dari Jarir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: “Nabi ﷺ tidak pernah menghalangiku (masuk menemuinya) sejak aku masuk Islam, dan tidaklah beliau melihatku melainkan beliau tersenyum kepadaku, dan sungguh aku pernah mengadu kepada beliau bahwa aku tidak bisa tetap tegak di atas kuda, lalu beliau menepuk dadaku dengan tangan beliau dan bersabda: ‘Ya Allah, teguhkanlah dia dan jadikanlah dia pemberi petunjuk lagi yang diberi petunjuk.’” (HR. Al-Bukhari: 3035, 3036, dan Muslim: 2445)

٢ - تَفَاؤُلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَبَسُّمُهُ وَاسْتِبشَارُهُ بِالرُّؤَى يَرَاهَا فِي نَومِهِ

2 - Optimisme beliau ﷺ, senyum beliau, dan kegembiraan beliau dengan mimpi-mimpi yang beliau lihat dalam tidur beliau.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((رَأَيْتُ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِيمَا يَرَى النَّائِمُ كَأَنَّا فِي دَارِ عُقْبَةَ بْنِ رَافِعٍ، فَأُتِينَا بِرُطَبٍ مِنْ رُطَبِ ابْنِ طَابٍ، فَأَوَّلْتُ الرِّفْعَةَ لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالعَاقِبَةَ فِي الآخِرَةِ، وَأَنَّ دِينَنَا قَدْ طَابَ))

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku melihat pada suatu malam dalam apa yang dilihat oleh orang yang tidur (mimpi) seakan-akan kami berada di rumah 'Uqbah bin Rāfi’, lalu kami diberi ruṭab (kurma basah) dari ruṭab Ibnu Ṭāb, lalu aku menafsirkannya sebagai ketinggian bagi kita di dunia dan akibat yang baik di akhirat, dan bahwa agama kita telah baik.” (HR. Muslim: 2270)

Post a Comment for "Mausuatul Akhlak: Tafaul atau Optimis"