Pembaca rahimakumullah, apa saja yang wajib dalam mengafani jenazah? Apa saja yang sunah dalam mengafani jenazah? Lalu, apa saja yang makruh dalam mengafani jenazah? Berikut adalah terjemahan dari Mausuatul Fiqhiyah Dorar Saniyah > Kitab Salat > Bab Janaiz > Memandikan & Mengafani Jenazah > Mengafani Jenazah > Wajib, Sunah, dan Makruh dalam Mengafani Jenazah. Semoga bermanfaat!
مَا يَجِبُ وَمَا يُسْتَحَبُّ وَمَا يُكْرَهُ فِي الْكَفَنِ
Wajib dalam Mengafani Jenazah, beserta Sunah dan MakruhnyaDalam hal ini ada tiga pembahasan:
الْفَرْعُ الْأَوَّلُ: الْقَدْرُ الْوَاجِبُ مِنَ الْكَفَنِA – Kadar Wajib Kafan
اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي الْقَدْرِ الْوَاجِبِ مِنَ الْكَفَنِ عَلَى قَوْلَيْنِ: Para ulama berbeda pendapat mengenai kadar wajib kafan menjadi dua pendapat:Pendapat 1:
الْقَوْلُ الْأَوَّلُ: أَقَلُّ مَا يُجْزِئُ هُوَ مَا يَسْتُرُ الْعَوْرَةَ، وَهُوَ الْأَصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ، وَأَحَدُ الْقَوْلَيْنِ الْمَشْهُورَيْنِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ، وَاخْتَارَهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ.Batas minimal yang mencukupi adalah apa yang menutupi aurat. Ini adalah pendapat yang paling sahih menurut Syafi'iyah, dan salah satu dari dua pendapat yang masyhur di kalangan Malikiyah, serta dipilih oleh Ibnu Abdil Barr.
Dalil dari Sunah:Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Khabab Radhiyallahu Anhu yang berkata:
هَاجَرْنا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبْتَغِي وَجْهَ اللَّهِ، فَوَجَبَ أَجْرُنَا عَلَى اللَّهِ، وَمِنَّا مَنْ مَضَى أَوْ ذَهَبَ لَمْ يَأْكُلْ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئًا،
Kami berhijrah bersama Rasulullah ﷺ mencari wajah Allah,[1] maka pahala kami wajib atas Allah.[2] Di antara kami ada yang telah meninggal atau pergi, tidak sedikit pun menikmati pahalanya.[3]كَانَ مِنْهُمْ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ؛ قُتِلَ يَوْمَ أُحُدٍ لَمْ يَتْرُكْ إِلَّا نَمِرَةً، كُنَّا إِذَا غَطَّيْنَا بِهَا رَأْسَهُ خَرَجَتْ رِجْلَاهُ، وَإِذَا غُطِّيَ بِهَا رِجْلَاهُ خَرَجَ رَأْسُهُ، فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
Di antara mereka adalah Mush'ab bin Umair; dia terbunuh pada perang Uhud, tidak meninggalkan apa-apa kecuali selembar kain yang tipis (namirah). Kami jika menutup kepalanya dengan kain itu, kakinya terbuka, dan jika kakinya ditutup, kepalanya terbuka. Maka Nabi ﷺ bersabda kepada kami:
«غَطُّوا بِهَا رَأْسَهُ وَاجْعَلُوا عَلَى رِجْلِهِ الْإِذْخِرَ»، أَوْ قَالَ: «أَلْقُوا عَلَى رِجْلِهِ مِنَ الْإِذْخِرِ»، وَمِنَّا مَنْ قَدْ أَيْنَعَتْ لَهُ ثَمَرَتُهُ فَهُوَ يَهْدِبُهَا.
"Tutuplah kepalanya dengan kain itu, dan letakkan izkhir (sejenis rumput wangi) di kakinya," atau beliau bersabda: "Letakkan di kakinya sebagian dari izkhir." Dan di antara kami ada yang buahnya telah masak baginya, lalu ia memetiknya,[4] (Sahih Bukhari: 4047. Sahih Muslim: 940). Argumentasi Dalil:أَنَّهُمْ لَمَّا غَطَّوْهُ بِنَمِرَةٍ دَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ يُجْزِئُ مَا وَارَى الْعَوْرَةَ.
1 – Bahwasanya ketika mereka menutupinya dengan kain namirah, ini menunjukkan bahwa kafan yang menutupi aurat saja sudah mencukupi atau sah.
ثَانِيًا: لِأَنَّ الْمَيِّتَ لَيْسَ آكَدَ حَالًا مِنَ الْحَيِّ، وَالْوَاجِبُ فِي الْحَيِّ سَتْرُ الْعَوْرَةِ لَا غَيْرُ.
2 – Karena kondisi mayit tidaklah lebih ditekankan daripada orang yang hidup, sedangkan yang wajib bagi orang yang hidup adalah menutupi aurat saja, tidak lebih.[5]Pendapat 2:
الْقَوْلُ الثَّانِي: أَقَلُّهُ تَكْفِينُهُ بِثَوْبٍ وَاحِدٍ يَسْتُرُ جَمِيعَ الْبَدَنِ، وَهَذَا مَذْهَبُ الْحَنَابِلَةِ، وَهُوَ أَحَدُ الْقَوْلَيْنِ الْمَشْهُورَيْنِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ، وَقَوْلُ الصَّنْعَانِيِّ، وَالشَّوْكَانِيِّ، وَابْنِ بَازٍ، وَابْنِ عُثَيْمِينَ.Minimal mengafani adalah dengan satu lembar kain yang menutupi seluruh tubuh. Ini adalah mazhab Hanabilah, dan salah satu dari dua pendapat yang masyhur di kalangan Malikiyah, serta merupakan pendapat Ash-Shan'ani, Asy-Syaukani, Ibnu Baz, dan Ibnu 'Utsaimin.
Dalil dari Sunah:Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ، فَلْيُحْسِنْ كَفَنَهُ
Jika salah seorang di antara kalian mengafani saudaranya, maka hendaklah dia memperbagus kain kafannya, (Sahih Muslim: 943).
Argumentasi Dalil:أَنَّ الْكَفَنَ الَّذِي لَا يَسْتُرُهُ لَيْسَ بِحَسَنٍ.
Bahwasanya kain kafan yang tidak menutupi (seluruh tubuh) tidak termasuk “bagus.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ummu Atiyah Radhiyallahu Anhu yang berkata:
تُوُفِّيَتْ بِنْتُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لَنَا: «اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا، أَوْ خَمْسًا، أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ، فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي
Putri Nabi ﷺ wafat, lalu beliau bersabda kepada kami: "Mandikanlah dia tiga kali, atau lima kali, atau lebih dari itu jika kalian memandang demikian. Jika kalian telah selesai, beritahukanlah aku."فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ، فَنَزَعَ مِنْ حِقْوِهِ إِزَارَهُ، وَقَالَ: «أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ
Maka ketika kami telah selesai, kami memberitahukan beliau. Lalu beliau melepaskan sarungnya dari pinggangnya, dan bersabda: "Pakaikanlah sarung ini sebagai pakaian dalamnya," (Sahih Bukhari: 1257). Argumentasi Dalil:لِأَنَّ الْعَوْرَةَ الْمُغَلَّظَةَ يُجْزِئُ فِي سَتْرِهَا ثَوْبٌ وَاحِدٌ، فَكَفَنُ الْمَيِّتِ أَوْلَى.
1 – Karena aurat yang berat (mughallazhah) sudah cukup ditutupi dengan satu helai pakaian, maka kafan mayit lebih utama (untuk menutupi seluruhnya).[6]أَنَّ الصَّحَابَةَ الَّذِينَ قَصُرَتْ بِهِمْ ثِيَابُهُمْ عَنِ الْكَفَنِ أَمَرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنْ يُجْعَلَ الْكَفَنُ مِنْ عِنْدِ الرَّأْسِ، وَيُجْعَلَ عَلَى الرِّجْلَيْنِ شَيْءٌ مِنَ الْإِذْخِرِ، فَدَلَّ عَلَى وُجُوبِ سَتْرِ جَمِيعِ الْبَدَنِ.
2 – Bahwasanya para sahabat yang pakaian mereka kurang untuk mengkafani, Nabi ﷺ memerintahkan agar kain kafan diletakkan dari arah kepala, dan diletakkan sesuatu dari izkhir (rumput wangi) pada kedua kaki. Ini menunjukkan kewajiban menutupi seluruh tubuh.
مَا يُسْتَحَبُّ مِنَ الكَفَنِ، وَمَا يَجُوزُB – Sunah dan Mubah dalam Mengafani Jenazah
المَسْأَلَةُ الْأُولَى: تَكْفِينُ الرَّجُلِ فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ1 – Mengafani Laki-laki dengan Tiga Lapis Kain
يُسْتَحَبُّ أَنْ يُكَفَّنَ الرَّجُلُ فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ، وَهَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ، وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ حَزْمٍ، وَاخْتَارَهُ ابْنُ بَازٍ وَابْنُ عُثَيْمِينَ.Disunahkan agar laki-laki dikafani dengan tiga lapis kain yang tidak ada padanya gamis atau sorban. Ini adalah mazhab Asy-Syafii, Al-Hanabilah, dan ini adalah pendapat Ibnu Hazm, serta dipilih oleh Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin.
Dalil dari Sunah:Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha yang berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُفِّنَ فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ يَمَانِيَةٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ، لَيْسَ فِيهِنَّ قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ dikafani dengan tiga helai kain Yaman berwarna putih, sahuliyah (kain yang ditenun di daerah Sahul), dari kapas, tidak ada padanya gamis dan tidak pula sorban, (Sahih Bukhari: 1264. Sahih Muslim: 941). تَكْفِينُ الْمَرْأَةِ فِي خَمْسَةِ أَثْوَابٍ2 – Mengafani Perempuan dengan Lima Lapis Kain
يُسْتَحَبُّ أَنْ تُكَفَّنَ الْمَرْأَةُ فِي خَمْسَةِ أَثْوَابٍ، بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ، وَهُوَ قَوْلُ بَعْضِ السَّلَفِ، وَقَوْلُ ابْنِ حَزْمٍ.Disunahkan agar perempuan dikafani dengan lima lapis kain, berdasarkan kesepakatan empat mazhab fikih: Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafiiyah, dan Al-Hanabilah. Ini juga merupakan pendapat sebagian ulama salaf dan pendapat Ibnu Hazm.
Argumentasi:أَوَّلًا: لِأَنَّ الْمَرْأَةَ تَزِيدُ فِي حَالِ حَيَاتِهَا عَلَى الرَّجُلِ فِي السَّتْرِ؛ لِزِيَادَةِ عَوْرَتِهَا عَلَى عَوْرَتِهِ، فَكَذَلِكَ بَعْدَ الْمَوْتِ.
Pertama: Karena perempuan dalam keadaan hidupnya lebih banyak yang harus ditutupi (auratnya) daripada laki-laki, maka demikian juga setelah meninggal.ثَانِيًا: لِأَنَّهَا لَمَّا كَانَتْ تَلْبَسُ الْمَخِيطَ فِي إِحْرَامِهَا، وَهُوَ أَكْمَلُ أَحْوَالِ الْحَيَاةِ؛ اسْتُحِبَّ إِلْبَاسُهَا إِيَّاهُ بَعْدَ مَوْتِهَا، وَالرَّجُلُ بِخِلَافِ ذَلِكَ.
Kedua: Karena ketika ihram, yaitu keadaan yang paling sempurna dalam hidup, perempuan diperbolehkan memakai pakaian yang berjahit, maka disunahkan untuk memakaikannya pakaian berjahit itu setelah meninggal. Hal ini berbeda dengan laki-laki. التَّكْفِينُ فِي الْأَبْيَضِ3 – Kafan Putih
يُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ الْكَفَنُ أَبْيَضَ، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.Disunahkan agar kain kafan berwarna putih. Ini adalah kesepakatan empat mazhab fikih: Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafiiyah, dan Al-Hanabilah.
Dalil dari sunah:Imam Bukhari dan Imam Mslim meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُفِّنَ فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ يَمَانِيَةٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ، لَيْسَ فِيهِنَّ قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ dikafani dengan tiga helai kain Yaman berwarna putih, sahuliyah (kain yang ditenun di daerah Sahul), dari kapas, tidak ada padanya gamis dan tidak pula sorban, (Sahih Bukhari: 1264. Sahih Muslim: 941).Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmizi, dan Imam An-Nasai meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ؛ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ، وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ
Kenakanlah pakaian putih di antara pakaian-pakaian kalian, karena sesungguhnya ia adalah sebaik-baik pakaian kalian, dan kafanilah dengannya orang-orang yang meninggal di antara kalian, (Sunan Abu Dawud: 4061. Sunan At-Tirmizi: 994. Sunan An-Nasai: 5323).
تَحْسِينُ الْكَفَنِ4 – Memperbagus Kafan
يُسْتَحَبُّ تَحْسِينُ الْكَفَنِ، وَذَلِكَ بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ، وَهُوَ قَوْلُ طَائِفَةٍ مِنَ السَّلَفِ.Disunahkan untuk memperbagus kafan, dan ini adalah kesepakatan empat mazhab fikih: Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafiiyah, dan Al-Hanabilah. Ini juga merupakan pendapat sekelompok ulama salaf.
Dalil dari sunah:Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu yang berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ يَوْمًا، فَذَكَرَ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِهِ قُبِضَ فَكُفِّنَ فِي كَفَنٍ غَيْرِ طَائِلٍ، وَقُبِرَ لَيْلًا، فَزَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُقْبَرَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهِ، إِلَّا أَنْ يُضْطَرَّ إِنْسَانٌ إِلَى ذَلِكَ، وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ، فَلْيُحْسِنْ كَفَنَهُ
Sesungguhnya Nabi ﷺ berkhotbah pada suatu hari, lalu beliau menyebutkan seorang laki-laki dari sahabatnya yang meninggal dan dikafani dengan kain kafan yang tidak memadai, dan dikuburkan pada malam hari. Lalu Nabi ﷺ melarang seseorang dikuburkan di malam hari sampai disalatkan,[7] kecuali jika seseorang terpaksa melakukannya. Dan Nabi ﷺ bersabda, 'Jika salah seorang di antara kalian mengafani saudaranya, maka hendaklah dia membaguskan kain kafannya,’[8] (Sahih Muslim: 943). التَّكْفِينُ فِي الثِّيَابِ الْمَلْبُوسَةِ5 – Mengafani dengan Pakaian Biasa
يَجُوزُ التَّكْفِينُ فِي الثِّيَابِ الْمَلْبُوسَةِ.Diperbolehkan mengafani dengan pakaian yang dipakai.
Dalil dari SunahImam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma yang berkata:
أَنَّ رَجُلًا كَانَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَقَصَتْهُ نَاقَتُهُ وَهُوَ مُحْرِمٌ فَمَاتَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْهِ، وَلَا تُمِسُّوهُ بِطِيبٍ، وَلَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ؛ فَإِنَّهُ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا
Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang bersama Nabi shalallahu alaihi wa sallam, lalu untanya menjatuhkannya ketika dia sedang berihram, dan dia pun meninggal. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Mandikanlah dia dengan air dan bidara, kafanilah dia dengan kedua pakaiannya, janganlah kalian sentuh dia dengan wewangian, dan jangan pula kalian tutup kepalanya, karena sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah,’ (Sahih Bukhari: 1265. Sahih Muslim: 1206).
Dalil dari Ijmaنَقَلَ الْإِجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ: النَّوَوِيُّ، وَابْنُ الْمُلَقِّنِ.
Telah dinukil ijmak (konsensus ulama) atas hal tersebut oleh An-Nawawi dan Ibnu Al-Mulaqqin.
مَا يُكْرَهُ مِنَ الْكَفَنِC – Makruh dalam Mengafani Jenazah
التَّكْفِينُ فِي الْحَرِيرِ لِلرِّجَالِ1 – Mengafani dengan kain sutra bagi laki-laki
يَحْرُمُ التَّكْفِينُ فِي الْحَرِيرِ لِلرِّجَالِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.Haram mengafani dengan kain sutra bagi laki-laki. Ini adalah mazhab Asy-Syafiiyah dan Al-Hanabilah.
Dalil dari SunahImam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Hudzaifah ibnul Yaman Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
لَا تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ وَلَا الدِّيبَاجَ
Janganlah kalian memakai sutra dan juga kain sutra murni, (Sahih Bukhari: 5829. Sahih Muslim: 2067).
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Al-Barra bin Azib Radhiyallahu Anhu yang berkata:
أَمَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ، وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ: أَمَرَنَا بِعِيَادَةِ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعِ الْجِنَازَةِ، وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ، وَإِجَابَةِ الدَّاعِي، وَرَدِّ السَّلَامِ، وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ، وَإِبْرَارِ الْمُقْسِمِ، وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ: عَنْ خَاتَمِ الذَّهَبِ، أَوْ قَالَ: حَلْقَةِ الذَّهَبِ، وَعَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ، وَالدِّيبَاجِ، وَالسُّنْدُسِ، وَالْمَيَاثِرِ
Nabi ﷺ memerintahkan kami tujuh hal dan melarang kami tujuh hal: Beliau memerintahkan kami untuk menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang bersin, memenuhi undangan, menjawab salam, menolong orang yang dizalimi, dan memenuhi sumpah. Dan beliau melarang kami tujuh hal: cincin emas, atau beliau berkata: gelang emas, memakai sutra, sutra murni, sundus, dan miatsir, (Sahih Bukhari: 1239. Sahih Muslim: 2066).
ثَانِيًا: أَنَّهُ لَمَّا حَرُمَ لُبْسُهُ فِي الْحَيَاةِ، حَرُمَ التَّكْفِينُ فِيهِ.
Kedua: Karena haram memakainya ketika hidup, maka haram pula mengafani dengannya. التَّكْفِينُ فِي الْحَرِيرِ لِلرِّجَالِ للنِّساءِ2 – Mengafani dengan kain sutra bagi perempuan
اِخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي تَكْفِينِ النِّسَاءِ بِالْحَرِيرِ عَلَى أَقْوَالٍ؛ أَقْوَاهَا قَوْلَانِ:Para ulama berbeda pendapat mengenai mengafani perempuan dengan kain sutra dalam beberapa pandangan, yang paling kuat adalah dua pendapat:
الْقَوْلُ الْأَوَّلُ: يُكْرَهُ تَكْفِينُ النِّسَاءِ فِي الْحَرِيرِ.
Pendapat pertama: Makruh mengafani perempuan dengan sutra.وَهَذَا مَذْهَبُ الْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَرِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ، وَهُوَ قَوْلُ طَائِفَةٍ مِنَ السَّلَفِ، وَعَامَّةِ الْعُلَمَاءِ، وَاخْتَارَهُ ابْنُ الْمُنْذِرِ.
Ini adalah mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafiiyah, dan salah satu riwayat dari Ahmad. Ini juga merupakan pendapat sekelompok ulama salaf, mayoritas ulama, dan dipilih oleh Ibnu Al-Mundzir.
Argumentasi:أَوَّلًا: لِأَنَّهُ إِنَّمَا أُبِيحَ لِلنِّسَاءِ حَالَةَ الْحَيَاةِ لِلتَّجَمُّلِ، وَقَدْ ذَهَبَ.
Pertama: Karena sutra hanya diperbolehkan bagi perempuan saat hidup untuk perhiasan, dan perhiasan itu telah hilang (dengan kematian).ثَانِيًا: لِأَنَّهُ سَرَفٌ غَيْرُ لَائِقٍ بِالْحَالِ.
Kedua: Karena itu adalah pemborosan yang tidak sesuai dengan keadaan (kematian).الْقَوْلُ الثَّانِي: يَجُوزُ أَنْ يُكَفَّنَ النِّسَاءُ فِي الْحَرِيرِ.
Pendapat kedua: Boleh mengafani perempuan dengan sutra.وَهَذَا مَذْهَبُ الْحَنَفِيَّةِ، وَابْنُ حَبِيبٍ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ، وَقَوْلٌ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ، وَاخْتَارَهُ ابْنُ حَزْمٍ.
Ini adalah mazhab Al-Hanafiyah, Ibnu Habib dari kalangan Al-Malikiyah, salah satu pendapat dalam mazhab Al-Hanabilah, dan dipilih oleh Ibnu Hazm.
وَذَلِكَ لِأَنَّ مَا جَازَ لُبْسُهُ فِي حَالِ الْحَيَاةِ، جَازَ التَّكْفِينُ فِيهِ.
Ada pun alasannya adalah karena apa yang boleh dipakai saat hidup, maka boleh juga untuk mengafaninya.
الزِّيَادَةُ الْمَكْرُوهَةُ فِي الْكَفَنِ3 – Menambah Kain Kafan dari yang Seharusnya
تُكْرَهُ الزِّيَادَةُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ لِلرَّجُلِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْحَنَابِلَةِ.Dimakruhkan menambah lebih dari tiga lapis kain untuk laki-laki, dan ini adalah mazhab Al-Hanabilah.
Dalil dari SunahImam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُفِّنَ فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ يَمَانِيَةٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ، لَيْسَ فِيهِنَّ قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ dikafani dengan tiga helai kain Yaman berwarna putih, sahuliyah (kain yang ditenun di daerah Sahul), dari kapas, tidak ada padanya gamis dan tidak pula sorban, (Sahih Bukhari: 1264. Sahih Muslim: 941). Argumentasi Dalil:أَنَّ الزِّيَادَةَ عَلَى ثَلَاثٍ خِلَافُ مَا كُفِّنَ فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
1 – Sesungguhnya menambah lebih dari tiga lapis kain adalah menyalahi apa yang digunakan untuk mengafani Nabi ﷺ.
ثَانِيًا: لِمَا فِيهِ مِنْ إِضَاعَةِ الْمَالِ الْمَنْهِيِّ عَنْهَا.
2 – Karena hal itu termasuk menyia-nyiakan harta yang dilarang.
الْمُغَالَاةُ فِي الْكَفَنِ4 – Berlebih-lebihan dalam Urusan Kafan
تُكْرَهُ الْمُغَالَاةُ فِي الْكَفَنِ، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.Dimakruhkan berlebihan dalam mengurus kain kafan, dan ini adalah kesepakatan empat mazhab fikih: Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafiiyah, dan Al-Hanabilah.
Dalil dari Atsar:1 – Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata:
نَظَرَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى ثَوْبٍ كَانَ يُمَرَّضُ فِيهِ، فَقَالَ: اِغْسِلُوا هَذَا وَزِيدُوا عَلَيْهِ ثَوْبَيْنِ وَكَفِّنُونِي فِيهَا، قُلْتُ: إِنَّ هَذَا خَلَقٌ، قَالَ: الْحَيُّ أَحَقُّ بِالْجَدِيدِ مِنَ الْمَيِّتِ؛ إِنَّمَا هُوَ لِلْمُهْلَةِ
Abu Bakar radhiyallahu anhu melihat ke sebuah kain yang ia gunakan untuk berbaring ketika sakit, lalu ia berkata, 'Cucilah kain ini dan tambahkanlah dua kain lagi, lalu kafanilah aku dengannya'. Aku berkata, 'Sesungguhnya kain ini sudah usang'. Dia berkata, 'Orang yang hidup lebih berhak atas kain baru daripada orang yang meninggal. Kain itu hanya untuk menahan tanah (membusuk), (Sahih Bukhari: 1387).
ثَانِيًا: لِأَنَّهُ مِنْ بَابِ الْمُبَاهَاةِ، وَهُوَ مَمْنُوعٌ فِي الْكَفَنِ.
2 – Karena hal itu termasuk berbangga-bangga, dan itu dilarang dalam urusan kafan.
الْكَفَنُ الْمُعَصْفَرُ وَالْمُزَعْفَرُ5 – Kafan Berwarna
يُكْرَهُ التَّكْفِينُ فِي الْمُعَصْفَرِ وَالْمُزَعْفَرِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْجُمْهُورِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ؛ وَذَلِكَ لِمَا فِي التَّكْفِينِ فِيهِمَا مِنَ الزِّينَةِ، وَهُوَ غَيْرُ لَائِقٍ بِحَالِ الْمَيِّتِ.Dimakruhkan mengafani dengan kain yang dicelup usfur (kesumba) atau za'faran (kunyit). Ini adalah mazhab mayoritas ulama: Al-Hanafiyah, Asy-Syafiiyah, dan Al-Hanabilah. Alasannya adalah karena mengafani dengan kedua jenis kain tersebut termasuk perhiasan, dan itu tidak pantas bagi kondisi jenazah.
التَّكْفِينُ فِي الشَّعْرِ وَالصُّوفِ6 – Mengafani dengan Kain Wol
يُكْرَهُ التَّكْفِينُ فِي شَعْرٍ وَصُوفٍ، مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى غَيْرِهِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْحَنَفِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ خِلَافُ فِعْلِ السَّلَفِ.Dimakruhkan mengafani dengan kain dari bulu hewan atau wol, jika mampu menggunakan kain selain itu. Ini adalah mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah. Alasannya adalah karena hal itu berbeda dengan perbuatan para ulama salaf. Wallahua’lam
Demikian penjelasan tentang wajib dalam mengafani jenazah, sunah dan makruhnya. Semoga bermanfaat!
Karangasem, 6 Agustus 2025
Irfan Nugroho (Pengelola situs Mukminun.com)
CATATAN KAKI [1] Para sahabat hijrah bukan karena dunia. Mereka tinggalkan kampung halaman, harta, bahkan keluarga, demi mencari ridha Allah, bukan karena keuntungan duniawi. [2] Pahala mereka dijamin oleh Allah. Mereka yakin: meskipun tidak dapat apa-apa di dunia, balasan dari Allah itu pasti, dan itulah yang mereka cari. [3] Ada yang wafat sebelum sempat menikmati balasan dunia. Tapi mereka tetap disebut orang yang sukses, karena: "Yang penting bukan hasil dunia, tapi diterima oleh Allah." [4] Maksudnya: Ada juga di antara para sahabat yang setelah hijrah, mereka mendapatkan buah (hasil) dari perjuangan itu di dunia, seperti: Rezeki yang lancar, keberkahan hidup, kemenangan dalam perjuangan,, kehormatan di tengah umat. Mereka menikmati hasil dunia, tanpa melupakan akhirat. [5] Maksudnya apa?Dalam Islam, menutup aurat itu wajib — baik bagi orang hidup maupun orang yang sudah meninggal.
Tapi, kita tidak membungkus seluruh tubuh orang hidup secara berlebihan, cukup menutup auratnya saja.
Jadi, orang mati pun sama: yang penting auratnya ditutup, tidak perlu berlebihan.
Artinya: jangan melebih-lebihkan perlakuan terhadap mayit melebihi apa yang diwajibkan oleh syariat.
[6] Aurat yang paling berat, seperti kemaluan depan dan belakang, sudah cukup ditutup dengan satu kain. Bahkan orang hidup pun, jika hanya punya satu pakaian yang bisa menutup aurat itu, sholatnya tetap sah. Maka ketika seseorang meninggal dunia, kita bungkus seluruh tubuhnya dengan kain kafan — itu lebih baik dan lebih utama. Karena: Mayit tidak bisa lagi menjaga kehormatannya sendiri. Maka kewajiban orang hidup adalah menjaga kehormatan mayit sebaik mungkin. [7] Alasan Nabi ﷺ melarang pemakaman di malam hari adalah sebagaimana tertulis di dalam Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah:إِنَّمَا يُدْفَنُ الْمَيِّتُ نَهَارًا حَتَّى يُصَلِّيَ عَلَيْهِ نَاسٌ كَثِيرُونَ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُصَلُّونَ عَلَيْهِ لَيْلًا، أَوْ حَتَّى يُصَلِّيَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَهَذَا سَبَبٌ آخَرُ لِمَنْ مَاتَ فِي عَهْدِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ أَيْضًا يَقْتَضِي أَنَّهُ إِنْ رُجِيَ بِتَأْخِيرِ الْمَيِّتِ إِلَى الصَّبَاحِ صَلَاةُ مَنْ تُرْجَى بَرَكَتُهُ عَلَيْهِ
Sesungguhnya mayit dikuburkan di siang hari agar lebih banyak orang yang mensalatinya daripada yang mensalati di malam hari, atau agar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mensalatinya. Ini adalah sebab lain bagi orang yang wafat di masa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal ini juga menunjukkan bahwa jika dengan menunda pemakaman mayit hingga pagi hari diharapkan akan dishalati oleh orang yang diharapkan keberkahannya, maka (hal itu dianjurkan), (Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah: 69477).
[8] Yang dimaksud dengan memperbagus kafan adalah:وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِإِحْسَانِهِ السَّرَفَ فِيهِ وَالْمُغَالَاةَ وَنَفَاسَتَهُ، وَإِنَّمَا الْمُرَادُ نَظَافَتُهُ وَنَقَاؤُهُ، وَكَثَافَتُهُ وَسَتْرُهُ، وَكَوْنُهُ مِنْ جِنْسِ لِبَاسِهِ فِي الْحَيَاةِ غَالِبًا لَا أَفْخَرَ مِنْهُ وَلَا أَحْقَرَ.
Yang dimaksud dengan "memperbagus" kain kafan bukanlah berlebihan (israf), berharga mahal, dan mewah. Akan tetapi, yang dimaksud adalah bersih dan suci, tebal dan menutupi (aurat), serta umumnya sesuai dengan jenis pakaiannya semasa hidup, tidak lebih mewah dan tidak lebih buruk, (Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah: 69477).
Post a Comment for "Fikih Dorar: Wajib dalam Mengafani Jenazah, Sunah dan Makruhnya"