Pembaca rahimakumullah, Islam mengajarkan akhlak mulia bernama At-Ta’awun, atau yang secara sederhana di dalam bahasa Indonesia berarti tolong menolong. Namun, makna at-Ta’awun bisa lebih luas secara syar’i. Apa itu At-Ta’awun? Bagaimana melatih akhlak At-Ta’awun? Teruskan membaca!
التَّرغيبُ في التَّعاوُنِ من القُرآنِ الكريمِANJURAN TA’AWUN DARI AL-QURAN
Allah ta’ala berfirman:وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya, (QS Al-Maidah: 2).[1]Allah ta’ala juga berfirman tentang Nabi Musa alaihissalam:
وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي * هَارُونَ أَخِي * اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي * وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي
Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku. Kuatkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, (QS Taha: 29-32).[2]Allah ta’ala berfirman:
وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ [الأنفال: 72] ، ثمَّ قال: إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
(Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan... (QS Al-Anfal: 72), kemudian Allah berfirman, “Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar,” (QS Al-Anfal: 73).[3] التَّرغيبُ في التَّعاوُنِ من السُّنَّةِ النَّبَويَّةِANJURAN AT-TA’AWUN DARI AS-SUNAH
Selain diperintahkan di dalam Quran, At-Ta’awun juga diperintahkan oleh Allah di dalam As-Sunah melalui lisan mulia Nabi Muhammad ﷺ.Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Musa Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ
“Sungguh, orang beriman dengan orang beriman yang lain itu ibarat satu bangunan, yang keduanya saling menguatkan,” (kemudian Abu Musa berkata), “Dan beliau menjalinkan jari-jarinya,” (Sahih Bukhari: 481. Sahih Muslim: 2585).[4]Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya,d ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya (untuk dizalimi). Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan dari seorang muslim, maka Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan di hari Kiamat. Dan barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari Kiamat, (Sahih Bukhari: 2442. Sahih Muslim: 2580).Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ
Tolonglah saudaramu, baik dia dalam keadaan zalim (menganiaya) maupun mazlum (teraniaya)." Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, kami mengerti bagaimana menolongnya saat dia teraniaya, tetapi bagaimana kami menolongnya saat dia zalim?" Beliau menjawab: "Engkau pegang tangannya (mencegahnya dari berbuat zalim),”[5] (Sahih Bukhari: 2442). التَّعاوُنِ من أقوالِ السَّلَفِ والعُلَماءِANJURAN TA’AWUN DARI PARA ULAMA/SALAF
Berikut kami pilihkan dua quote dari para ulama/salaf tentang akhlak ta’awun. Yang pertama, sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata:أَعِينُوا الْعَامِلَ مِنْ عَمَلِهِ؛ فَإِنَّ عَامِلَ اللَّهِ لَا يَخِيبُ، يَعْنِي: الْخَادِمَ
Bantulah seorang pekerja dalam pekerjaannya, karena sesungguhnya pekerja Allah tidak akan merugi (Maksudnya adalah: pembantu atau pelayan), (Adabul Mufrad: 191).
Kemudian, Ibnu Taimiyah Rahimahullah pernah berkata:
حَيَاةُ بَنِي آدَمَ وَعَيْشُهُمْ فِي الدُّنْيَا لَا يَتِمُّ إِلَّا بِمُعَاوَنَةِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ
Kehidupan anak cucu Adam dan penghidupan mereka di dunia tidak akan sempurna kecuali dengan saling tolong-menolong satu sama lain, (Al-Fatawa Al-Kubra: 6/634).
معنى التَّعاوُنِ لُغةً واصطِلاحًاDEFINISI TA’AWUN SECARA BAHASA & ISTILAH
Setelah mengetahui bersama dalil dan anjuran tentang akhlak ta’awun, kini, apa yang dimaksud dengan ta’awun?At-Ta’awun secara bahasa berasal dari kata (الْعَوْنُ) yang berarti:
الظَّهِيرُ عَلَى الْأَمْرِ
1 – Penolong dalam suatu urusan.
وَأَعَانَهُ عَلَى الشَّيْءِ: سَاعَدَهُ،
2 – “A'anah" (membantunya) dalam sesuatu, artinya membantunya.
وَاسْتَعَانَ فُلَانٌ فُلَانًا، وَبِهِ: طَلَبَ مِنْهُ الْعَوْنَ.
3 – "Ista'ana" (meminta bantuan) seseorang darinya atau dengannya, artinya ia meminta pertolongan darinya.
وَتَعَاوَنَ الْقَوْمُ: أَعَانَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا،
4 – "Ta'awana" (saling tolong-menolong), artinya sebagian mereka menolong sebagian yang lain.
وَالْمِعْوَانُ: الْحَسَنُ الْمَعُونَةِ لِلنَّاسِ، أَوْ كَثِيرُهَا.
5 – "Al-Mi'wan" adalah orang yang baik dalam memberikan pertolongan kepada orang lain, atau sering memberikan pertolongan.
Kemudian secara istilah, Ta’awun artinya:
الْمُسَاعَدَةُ عَلَى الْحَقِّ ابْتِغَاءَ الْأَجْرِ مِنَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ
Membantu dalam kebenaran, untuk mencari pahala dari Allah Subhanahu, (Mausuatul Akhlak li Khalid Al-Kharazi: 441).
أقسامُ التَّعاوُنِMACAM-MACAM TA’AWUN
Ibnu Taimiyah berkata tentang macam-macam ta’awun:التَّعَاوُنُ نَوْعَانِ: الْأَوَّلُ: تَعَاوُنٌ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَالثَّانِي: تَعَاوُنٌ عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Ta’awun ada dua macam: 1) ta’awun dalam kebaikan dan ketakwaan;[6] dan 2) ta’awun dalam dosa dan permusuhan,[7] (As-Siyasah Asy-Syar’iyah: 40). فوائِدُ التَّعاوُنِFAIDAH AKHLAK TA'AWUN
Apa buah yang diperoleh jika seseorang atau banyak orang mengamalkan akhlak ta’awun? Berikut adalah faidah akhlak ta’awun:استِفَادَةُ كُلِّ فَرْدٍ مِنْ خِبْرَاتِ وَتَجَارِبِ الْآخَرِينَ فِي شَتَّى مَنَاحِي الْحَيَاةِ.
1 – Setiap individu dapat mengambil manfaat dari pengalaman dan eksperimen orang lain dalam berbagai aspek kehidupan.[8]اِسْتِغْلَالُ الْمَلَكَاتِ وَالطَّاقَاتِ الْمُهْدَرَةِ اسْتِغْلَالًا مُنَاسِبًا لِمَا فِيهِ مَصْلَحَةُ الْفَرْدِ وَالْمُجْتَمَعِ.
2 – Memanfaatkan bakat dan energi yang terbuang secara tepat demi kemaslahatan individu dan masyarakat.[9]إِظْهَارُ الْقُوَّةِ وَالتَّمَاسُكِ وَالتَّرَابُطِ.
3 – Menunjukkan kekuatan, kekompakan, dan keterikatan.[10]تَنْظِيمُ الْوَقْتِ وَتَوْفِيرُ الْجُهْدِ.
4 – Mengatur waktu dan menghemat tenaga.[11]رَفْعُ الظُّلْمِ عَمَّنْ وَقَعَ عَلَيْهِ.
5 – Menghilangkan kezaliman dari orang yang mengalaminya.[12]سُهُولَةُ التَّصَدِّي لِأَيِّ أَخْطَارٍ تُوَاجِهُ الْإِنْسَانَ مِمَّنْ حَوْلَهُ.
6 – Mudah menghadapi bahaya apa pun yang mengancam seseorang dari lingkungan sekitarnya.[13]سُهُولَةُ إِنْجَازِ الْأَعْمَالِ الْكَبِيرَةِ الَّتِي لَا يَقْدِرُ عَلَيْهَا الْأَفْرَادُ.
7 – Mudah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan besar yang tidak bisa dilakukan oleh perorangan.[14]سَبَبُ نَيْلِ تَأْيِيدِ اللَّهِ.
8 – Menjadi sebab untuk mendapatkan dukungan dari Allah.[15] موانِعُ التَّعاوُنِPENGHALANG AKHLAK TAAWUN
Penghalang bagi seseorang dari memiliki akhlak ta’awun atau saling tolong menolong di antaranya:اَلتَّعَصُّبُ وَالْحِزْبِيَّةُ.
1 – Fanatisme dan berkelompok.[16]اِتِّبَاعُ الْأَوْهَامِ وَالشُّكُوكِ فِي مَدَى جَدْوَى هَذَا التَّعَاوُنِ وَالِاسْتِفَادَةِ مِنْهُ.
2 – Mengikuti rasa curiga dan ragu-ragu tentang manfaat dan keuntungan dari kerja sama.[17]اَلْأَنَانِيَّةُ، وَعَدَمُ حُبِّ الْخَيْرِ لِلْآخَرِينَ.
3 – Egoisme dan tidak menyukai kebaikan untuk orang lain.[18]تَعَذُّرُ الْفَرْدِ بِانْشِغَالِهِ وَكَثْرَةِ أَعْمَالِهِ.
4 – Seseorang beralasan (untuk tidak membantu) karena kesibukan dan banyaknya pekerjaannya.[19]تَنَافُسُ الْأَفْرَادِ.
5 – Persaingan antar individu.[20]اَلْحَسَدُ لِلْآخَرِينَ.
6 – Hasad terhadap orang lain.[21]عَدَمُ التَّعَوُّدِ عَلَى التَّعَاوُنِ.
7 – Tidak terbiasa bekerja sama.[22]اَلْكَسَلُ.
9 – Malas.[23] الوسائِلُ المعينةُ على التَّعاوُنِSARANA UNTUK MELATIH AKHLAK TA’AWUN
هناك العديدُ من الطَّرُقِ والسُّبُلِ التي تعمَلُ على تقويةِ التَّعاوُنِ وتثبيتِه بَينَ المؤمنينَ، ومن ذلك:Ada banyak cara dan jalan yang dapat memperkuat dan mengokohkan kerja sama di antara orang-orang beriman, di antaranya:
التَّعارُفُ.
1 – Saling mengenal.
معرفةُ المسلِمِ لحقوقِ المسلِمِ عليه.
2 – Seorang Muslim mengetahui hak-hak Muslim lainnya.
احتسابُ الأجرِ.
3 – Mengharap pahala (dari Allah).
تنميةُ الرُّوحِ الجماعيَّةِ.
4 – Mengembangkan semangat kebersamaan.
فِقهُ الواقعِ.
5 – Memahami realitas (situasi yang ada).
تطهيرُ القلبِ من الأمراضِ.
6 – Membersihkan hati dari penyakit.
تعويدُ النَّفسِ على التَّعاوُنِ.
7 – Membiasakan diri untuk tolong-menolong.
النَّظَرُ في سيرةِ النَّبيِّ والسَّلَفِ الصَّالحِ، والاقتداءُ بهم.
8 – Membaca sirah (perjalanan hidup) Nabi dan para salaf saleh, serta meneladani mereka.
تقويةُ الإيمانِ.
9 – Memperkuat keimanan.
تدعيمُ أواصِرِ الأخُوَّةِ.
10 – Mempererat ikatan persaudaraan. Wallahua’lam
Demikianlah, definisi, anjuran, faidah, penghalang dan sarana untuk melatih akhlak ta’awun atau tolong menolong. Semoga Allah karuniakan kepada kita akhlak tersebut. Aamiin
Karangasem, 5 Agustus 2025
Irfan Nugroho (Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima amal ibadahnya, serta mengabulkan doa-doanya. Aamiin)
CATATAN KAKI [1] Imam Al-Qurtubi berkata:لِيُعِنْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، وَتَحَاثُّوا عَلَى مَا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى وَاعْمَلُوا بِهِ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ وَامْتَنِعُوا مِنْهُ
Hendaklah sebagian dari kalian menolong sebagian yang lain, dan saling mendorong untuk (melakukan) apa yang Allah Ta'ala perintahkan dan kerjakanlah, serta menjauhlah dari apa yang Allah larang dan hindarilah, (Al-Jami li Ahkamil Quran).
[2] Al-Maraghi berkata:قَوْلُهُ: ﴿وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي﴾ أَيْ: اجْعَلْهُ شَرِيكِي فِي أَمْرِ الرِّسَالَةِ حَتَّى نَتَعَاوَنَ عَلَى أَدَائِهَا عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي يُؤَدِّي إِلَى أَحْسَنِ الْغَايَاتِ، وَيُوصِلُ إِلَى الْغَرَضِ عَلَى أَجْمَلِ السُّبُلِ.
Dan firman-Nya: "Dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku," artinya: jadikanlah dia sekutuku dalam urusan risalah agar kami dapat saling membantu dalam menunaikannya dengan cara yang menghasilkan tujuan terbaik, dan menyampaikan maksud dengan cara yang paling indah,(Tafsir Al-Maraghi).
[3] Al-Bagawi dan Ibnul Jauzi berkata:إِلَّا تَفْعَلُوا مَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ مِنَ التَّعَاوُنِ وَالنُّصْرَةِ عَلَى الدِّينِ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ
Jika kalian tidak melakukan apa yang Aku perintahkan kepada kalian berupa saling tolong-menolong dan saling membantu dalam agama, niscaya akan terjadi fitnah (kerusakan dan kekacauan) di muka bumi, (Maalim At-Tanzil dan Zaadul Muyassar).
[4] Di antara pelajaran dari hadis ini adalah:وَصْفُ الْمُؤْمِنِينَ فِي قُوَّةِ التَّرَاحُمِ بَيْنَهُمْ، وَالتَّعَاوُنِ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، بِالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
1 – Gambaran orang-orang beriman dalam kuatnya kasih sayang di antara mereka dan saling tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa, dianalogikan dengan sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.
حَثُّهُمْ عَلَى التَّرَاحُمِ وَالْمُلَاطَفَةِ وَالتَّعَاضُدِ فِي غَيْرِ إِثْمٍ وَلَا مَكْرُوهٍ
2 – Anjuran bagi mereka untuk saling berkasih sayang, berlemah lembut, dan saling membantu dalam hal-hal yang bukan dosa dan bukan perkara makruh.
[5] Tertulis di dalam Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah:هُوَ أَفْضَلُ النَّصْرِ، وَلِأَنَّهُ إِذَا تَرَكَهُ عَلَى ظُلْمِهِ وَلَمْ يَكُفَّهُ عَنْهُ، أَدَّاهُ ذَلِكَ إِلَى أَنْ يُقْتَصَّ مِنْهُ؛ فَكَانَ مَنْعُهُ لَهُ مِمَّا يُوجِبُ عَلَيْهِ الْقِصَاصَ نَصْرًا لَهُ.
Itulah pertolongan yang paling baik. Dan karena jika ia membiarkannya dalam kezaliman dan tidak mencegahnya, hal itu akan menyebabkan ia terkena qishash (hukuman balasan). Maka, mencegahnya dari perbuatan yang mewajibkan qishash baginya adalah bentuk pertolongan baginya.
[6] Seperti jihad, menegakkan hukum hudud, memenuhi hak-hak (orang lain), dan memberikan (hak) kepada yang berhak. Ini adalah hal yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.Siapa saja yang menahan diri darinya karena khawatir dianggap membantu orang-orang zalim, maka dia telah meninggalkan kewajiban fardhu 'ain atau fardhu kifayah, sedangkan dia mengira dirinya bersikap wara'.
Betapa sering sifat pengecut dan kegagalan disalahartikan sebagai wara'! Karena keduanya sama-sama menahan diri dan tidak bertindak, (As-Siyasah Asy-Syar’iyah: 40). [7] Seperti membantu menumpahkan darah yang haram ditumpahkan, mengambil harta yang haram diambil, atau memukul orang yang tidak berhak dipukul, dan sejenisnya.Inilah yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Namun, jika ada harta yang diambil secara tidak benar dan sulit untuk dikembalikan kepada pemiliknya, seperti banyak harta milik penguasa, maka membantu menyalurkan harta-harta ini untuk kemaslahatan kaum muslimin, seperti menutup perbatasan, membiayai para pejuang, dan sejenisnya, termasuk dalam tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa), (Idem).
[8] Ta'awun artinya saling tolong-menolong. Salah satu manfaatnya adalah kita bisa belajar dari pengalaman orang lain.Sebagai contoh, jika Anda ingin memulai usaha baru tapi tidak punya pengalaman, Anda bisa belajar dari teman atau tetangga yang sudah sukses berdagang. Dengan begitu, Anda tidak perlu memulai dari nol dan bisa menghindari kesalahan-kesalahan yang pernah mereka lakukan.
Manfaat ini sangat baik karena kita tidak perlu mengalami semua hal buruk sendirian. Kita bisa saling berbagi ilmu dan pengalaman agar hidup lebih mudah dan maju bersama.
[9] Ta'awun (saling tolong-menolong) juga berarti kita bisa membantu orang lain memanfaatkan bakat atau energi yang mereka miliki, yang mungkin selama ini tidak terpakai.Contohnya, ada tetangga yang punya keahlian menjahit tapi tidak punya modal untuk membuka usaha. Kita bisa mengajak tetangga lain untuk patungan membeli mesin jahit, atau membantu mempromosikan hasil jahitannya. Dengan begitu, bakatnya bisa dimanfaatkan untuk kebaikan dirinya dan juga bisa membantu orang lain, misalnya saat ada tetangga yang butuh seragam atau pakaian baru.
Intinya, dengan saling tolong-menolong, tidak ada bakat atau keahlian yang terbuang sia-sia. Semua bisa dimanfaatkan untuk kemajuan bersama.
[10] Ta'awun (saling tolong-menolong) dapat membuat suatu kelompok atau masyarakat menjadi kuat dan kompak. Kekuatan ini bukan hanya dari fisik, tapi juga dari kebersamaan dan persatuan.Contohnya, jika ada tetangga yang terkena musibah, kita semua bahu-membahu membantu. Ada yang menyumbang tenaga, ada yang menyumbang bahan makanan, dan ada yang menyumbang dana. Dengan demikian, beban yang tadinya berat bisa terasa ringan.
Kekuatan dan kekompakan ini akan membuat orang lain segan, dan yang lebih penting, kita bisa merasa aman dan tenang karena tahu bahwa kita tidak sendirian saat menghadapi kesulitan.
[11] Ta'awun (saling tolong-menolong) sangat membantu kita dalam mengatur waktu dan menghemat tenaga. Daripada mengerjakan semuanya sendirian, kita bisa membagi tugas bersama-sama.Contohnya, jika ada acara kerja bakti membersihkan selokan di kampung. Daripada satu orang membersihkan seluruh selokan, yang pasti akan sangat melelahkan dan memakan waktu berjam-jam, lebih baik setiap orang mengambil bagiannya masing-masing. Ada yang membersihkan bagian depan, ada yang di tengah, dan ada yang di belakang.
Dengan cara ini, pekerjaan berat bisa selesai dengan cepat, tenaga yang dikeluarkan pun tidak terlalu besar, dan kita punya lebih banyak waktu untuk beristirahat atau melakukan kegiatan lain.
[12] Ta'awun (saling tolong-menolong) juga memiliki manfaat yang sangat penting, yaitu melindungi orang yang dizalimi. Kezaliman bisa bermacam-macam, mulai dari hal kecil hingga yang besar.Contohnya, jika ada seseorang yang lemah atau tidak berdaya, kemudian ada orang lain yang berbuat tidak adil atau semena-mena kepadanya, maka kita semua memiliki kewajiban untuk membela. Kita bisa bergotong royong membantu orang tersebut, misalnya dengan memberikan dukungan moral, mencari jalan keluar, atau bahkan melaporkan tindakan yang tidak adil itu kepada pihak yang berwenang.
Dengan cara ini, kezaliman tidak akan berlanjut dan orang yang lemah merasa terlindungi. Sikap ini menunjukkan bahwa kebersamaan dan tolong-menolong mampu menciptakan masyarakat yang adil dan saling menjaga.
[13] Ta'awun (saling tolong-menolong) dapat membuat kita lebih mudah untuk menghadapi bahaya yang datang dari mana saja. Jika kita bersatu, kita akan jauh lebih kuat daripada jika kita menghadapi bahaya itu sendirian.Misalnya, jika ada bencana alam seperti banjir. Masyarakat yang terbiasa tolong-menolong akan dengan sigap membantu satu sama lain. Mereka akan saling mengevakuasi, mendirikan posko pengungsian, dan memberikan bantuan.
Sikap ini menunjukkan bahwa persatuan dan kerja sama adalah perisai terbaik untuk melindungi diri dari berbagai ancaman dan musibah.
[14] Contohnya, membangun jembatan atau masjid. Ini adalah proyek besar yang membutuhkan banyak orang dengan keahlian berbeda. Ada yang mendesain, ada yang mengangkut bahan, ada yang membangun, dan ada juga yang memasak untuk para pekerja. Jika semua orang bekerja sama, pekerjaan yang sangat besar dan sulit itu bisa selesai dengan cepat dan mudah.Dengan begitu, tolong-menolong membuat kita bisa meraih tujuan-tujuan besar yang bermanfaat bagi semua orang.
[15] Contohnya, jika kita dengan ikhlas membantu tetangga yang sedang kesulitan, maka Allah akan membalas kebaikan kita. Pertolongan dari Allah bisa datang dalam berbagai bentuk, seperti dimudahkan rezeki, diberikan kesehatan, atau dijauhkan dari musibah.Intinya, dengan tolong-menolong, kita tidak hanya meringankan beban sesama manusia, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah, sehingga kita akan selalu merasa tenang karena tahu bahwa Allah selalu bersama kita.
[16] Contohnya, jika ada dua kelompok di masyarakat yang memiliki pandangan berbeda. Seseorang yang sangat fanatik terhadap kelompoknya mungkin akan enggan atau bahkan menolak membantu orang dari kelompok lain, meskipun orang tersebut sedang dalam kesulitan.Sikap seperti ini membuat kita hanya mau berbuat baik pada orang yang sejalan dengan kita, sementara orang di luar kelompok kita diabaikan. Padahal, ta'awun seharusnya berlaku untuk semua orang, tanpa memandang perbedaan kelompok atau pandangan.
[17] Contohnya, saat diminta untuk ikut kerja bakti membersihkan lingkungan, seseorang mungkin berpikir, "Ah, buat apa capek-capek? Nanti juga kotor lagi." Atau saat diminta membantu tetangga yang terkena musibah, ia malah berpikir, "Nanti bantu ini, dia malah tidak tahu diri."Pikiran-pikiran negatif seperti ini membuat seseorang enggan berpartisipasi dan kehilangan kesempatan untuk merasakan manfaat dari kebersamaan. Padahal, sering kali manfaat dari tolong-menolong itu tidak bisa diukur langsung, namun dapat memperkuat hubungan antarwarga dan menciptakan lingkungan yang lebih baik.
[18] Contohnya, ada tetangga yang sedang butuh bantuan karena sakit dan kesulitan untuk membeli obat. Seseorang yang egois akan berpikir, "Itu bukan urusanku," atau bahkan merasa iri jika ada orang lain yang membantunya. Mereka merasa bahwa keberhasilan orang lain akan mengurangi kebahagiaan atau keberhasilan mereka sendiri.Sikap egois semacam ini membuat seseorang menutup diri dan tidak mau berbuat baik. Padahal, ta'awun mengajarkan kita untuk merasa senang ketika melihat orang lain bahagia dan untuk saling mendukung agar semua bisa maju bersama.
[19] Contohnya, ketika ada kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan, ada saja yang menolak dengan alasan, "Maaf, saya banyak pekerjaan," atau "Saya sangat sibuk hari ini." Tentu saja, kesibukan itu wajar, tetapi jika dijadikan alasan terus-menerus, maka seseorang akan kehilangan rasa kebersamaan.Padahal, ta'awun tidak selalu harus berupa bantuan besar. Cukup dengan sedikit waktu, sedikit tenaga, atau bahkan sekadar memberikan dukungan moral, itu sudah merupakan bentuk tolong-menolong yang berharga. Kesibukan seharusnya tidak menjadi penghalang untuk tetap peduli terhadap sesama.
[20] Contohnya, dua orang yang bekerja di perusahaan yang sama sedang bersaing untuk mendapatkan promosi jabatan. Karena persaingan ini, salah satu dari mereka mungkin enggan membantu yang lain, bahkan jika temannya sedang kesulitan dalam pekerjaan. Mereka berpikir, "Jika saya bantu dia, dia akan menjadi lebih baik dari saya, dan saya akan kalah."Pikiran seperti ini membuat seseorang enggan berbagi ilmu, pengalaman, atau bahkan membantu menyelesaikan masalah. Padahal, ta'awun mengajarkan bahwa keberhasilan bisa diraih bersama, tanpa harus menjatuhkan orang lain. Dengan saling membantu, semua orang bisa berkembang, dan lingkungan kerja atau masyarakat akan menjadi lebih sehat dan harmonis.
[21] Contohnya, jika ada tetangga yang baru saja membeli kendaraan baru, orang yang memiliki sifat hasad tidak akan merasa senang. Sebaliknya, ia mungkin akan mendoakan agar kendaraan itu cepat rusak atau berharap tetangganya mendapat musibah. Tentu saja, orang seperti ini tidak akan mau membantu tetangganya jika suatu saat ia membutuhkan pertolongan. Sifat iri hati membuat seseorang enggan berbuat baik, karena kebahagiaan orang lain dianggap sebagai penderitaan bagi dirinya sendiri. [22] Ini sering terjadi pada orang-orang yang tumbuh di lingkungan di mana setiap individu cenderung melakukan segala sesuatu sendirian.Contohnya, seseorang yang sejak kecil terbiasa menyelesaikan semua masalahnya sendiri, mungkin akan merasa canggung atau bahkan tidak tahu harus berbuat apa ketika dihadapkan pada situasi yang memerlukan kerja sama. Saat ada kegiatan gotong royong, ia mungkin memilih untuk menyendiri atau tidak ikut serta karena merasa tidak terbiasa bekerja dalam tim.
Akibatnya, ia tidak menyadari betapa pentingnya saling membantu. Padahal, dengan tolong-menolong, pekerjaan yang sulit bisa terasa mudah, dan hubungan antar sesama pun akan menjadi lebih erat.
[23] Rasa malas ini membuat seseorang merasa berat untuk bergerak, padahal ia tahu bahwa bantuannya sangat dibutuhkan.Contohnya, saat ada gotong royong membersihkan lingkungan, orang yang malas akan memilih untuk berdiam diri di rumah atau mencari-cari alasan agar tidak perlu ikut. Ia tahu bahwa kebersihan itu penting dan kerja sama itu baik, tetapi rasa malas membuat badannya terasa berat untuk melangkah dan tangannya enggan bekerja.
Post a Comment for "Mausuatul Akhlak: Ta'awun - Tolong Menolong"