zmedia

Macam-Macam Ibadah Hati di dalam Islam

Pembaca rahimakumullah, di antara bentuk ibadah adalah ibadah hati. Apa maksudnya? Apa saja jenisnya? Dan mengapa kita perlu tahu macam ibadah hati? Berikut adalah penjelasan dari matan Bidayah fi Akidah oleh Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani.

Pembaca rahimakumullah, kita perlu mengetahui macam ibadah hati supaya kita tidak terjerumus ke dalam kesyirikan akibat mengarahkan ibadah hati kepada selain Allah. Itulah mengapa pembahasan ini kami rasa penting.

Pembaca rahimakumullah, Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahullah di dalam Bidayah fi Akidah berkata:

الضَّابِطُ الْخَامِسُ: الْعِبَادَاتُ أَرْبَعَةُ أَقْسَامٍ:

Pedoman 5: Ibadah itu ada empat (4) macam:

١- عِبَادَاتٌ بَدَنِيَّةٌ.

1 – Ibadah Badan

٢- عِبَادَاتٌ قَوْلِيَّةٌ.

2 – Ibadah Lisan.

٣- عِبَادَاتٌ مَالِيَّةٌ.

3 – Ibadah Harta.

٤- عِبَادَاتٌ قَلْبِيَّةٌ.

4 – Ibadah Hati.

Pembaca rahimakumullah, di antara bentuk menauhidkan Allah adalah mengarahkan empat jenis ibadah itu kepada Allah. Kami merasa perlu memfokuskan pada ibadah hati karena ibadah badan, lisan, dan harta ini jelas terlihat jika diarahkan kepada selain Allah. Akan tetapi, ibadah hati ini tidak terlihat jika diarahkan kepada selain Allah. Penjelasan ini semoga membuat kita lebih terjaga dari kesyirikan. Aamiin

MAKNA IBADAH

Pembaca rahimakumullah, Apa arti ibadah? Ibadah secara bahasa artinya:

التَّذَلُّلُ وَالْخُضُوعُ

Merendahkan diri dan tunduk.

Secara syar’i, ibadah artinya:

اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللّٰهُ مِنَ الْأَقْوَالِ، وَالْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ، وَالْبَاطِنَةِ

Istilah yang mencakup apa saja yang dicintai Allah, baik berupa perkataan zahir maupun batin, atau perbuatan zahir maupun batin.[1]

MACAM IBADAH HATI

Macam-macam ibadah hati yang disebutkan oleh Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani ada sebelas (11) yaitu: الْمَحَبَّةُ

1 – Cinta

Apa arti cinta dalam konteks ibadah hati? Syaikh Khalid Al-Juhani berkata:

التَّرَدُّدُ إِلَى الْمَحْبُوبِ

Selalu kembali kepada yang dicintai.[2]

Cinta ada tiga macam:

النَّوْعُ الْأَوَّلُ: مَحَبَّةُ عِبَادَةٍ

1 – Cinta sebagai Ibadah, yaitu cinta yang disertai dengan kerendahan dan ketundukan kepada yang dicintai, dan ini tidak boleh (ditujukan) kecuali kepada Allah; karena itu adalah ibadah.

النَّوْعُ الثَّانِي: مَحَبَّةُ طَبِيعِيَّةٍ

2 – Cinta yang sifatnya tabiat, yaitu cinta anak, atau harta, atau istri. Ini tidak dianggap sebagai ibadah; karena tidak disertai dengan kerendahan dan ketundukan. Jika seseorang lebih mengedepankan hal-hal ini daripada cinta kepada Allah Ta'ala, maka akan ada ancaman keras yang menimpanya, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS At-Taubah: 24).

النَّوْعُ الثَّالِثُ: مَحَبَّةٌ مُحَرَّمَةٌ

3 – Cinta yang Haram, yaitu cinta terhadap apa yang diharamkan Allah seperti melihat wanita, mendengarkan nyanyian, meminum khamar, dan sejenisnya.

Inilah jenis ibadah hati yang pertama,  yaitu cinta; di mana cinta tersebut ada tiga macam, yaitu cinta sebagai ibadah, cintai yang sifatnya tabiat, dan cinta yang diharamkan.

الْخَوْفُ

2 – Khauf

Jenis ibadah hati yang kedua adalah khauf. Syaikh Khalid Al-Juhani berkata:

الْخَوْفُ: هُوَ مَا يَتَعَلَّقُ بِالْمَكْرُوهِ

Khauf adalah sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak disukai atau dibenci.[3]

Khauf atau takut juga ada tiga macam:

النَّوْعُ الْأَوَّلُ: خَوْفٌ طَبِيعِيٌّ

1 – Takut yang sifatnya Tabiat, Seperti takutnya manusia terhadap binatang buas, dan ini tidak dicela pada hamba. Perhatikan firmanNya:

﴿فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ﴾

Maka jadilah ia di kota itu dalam keadaan ketakutan, menunggu-nunggu,[4] (QS Al-Qasas: 18).

النَّوْعُ الثَّانِي: خَوْفُ الْعِبَادَةِ

2 – Takut sebagai Ibadah, yaitu takut kepada seseorang/sesuatu, alu kita sampai beribadah kepadanya karena rasa takut itu. Ini tidak boleh diberikan kecuali kepada Allah. Kalau diberikan kepada selain Allah, maka itu termasuk syirik.[5]

النَّوْعُ الثَّالِثُ: خَوْفُ السِّرِّ

3 – Takut Sirri (Rahasia): Yaitu takut kepada orang yang sudah mati dan sudah dikubur, atau takut kepada wali (orang saleh) yang jauh tempatnya, padahal orang itu tidak bisa memberi pengaruh apa pun, tetapi tetap ditakuti. Maka ini juga termasuk syirik.[6] الرَّجَاءُ

3 – Rodja

Apa arti rodja? Syaikh Khalid Al-Juhani berkata:

هُوَ طَمَعُ الْإِنْسَانِ فِي أَمْرٍ قَرِيبِ الْمَنَالِ، أَوْ بَعِيدِ الْمَنَالِ.

Keinginan manusia terhadap sesuatu yang mudah dicapai atau sulit dicapai.

Rodja ada dua jenis:

النَّوْعُ الْأَوَّلُ: رَجَاءُ عَمُودٍ

1 – Rodja ‘Amudi, yaitu keinginan atau harapan yang disertai dengan perbuatan. Contoh:
  • Seorang laki-laki yang melakukan ketaatan dan mengharapkan surga.
  • Seorang laki-laki yang menanam dan mengharapkan panen.
النَّوْعُ الثَّانِي: رَجَاءٌ مَذْمُومٌ 2 – Rodja Madzmumun, yaitu keinginan atau harapan yang tidak disertai dengan perbuatan, dan ini disebut angan-angan. التَّوَكُّلُ

4 – Tawakkal

Ibadah hati yang keempat adalah tawakal. Apa arti tawakal? Syaikh Khalid Al-Juhani berkata:

الاعْتِمَادُ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى كِفَايَةً وَحَسْبًا فِي جَلْبِ الْمَنَافِعِ وَدَفْعِ الْمَضَارِّ.

Bersandar kepada Allah Ta'ala sebagai satu-satunya tempat bergantung dalam mendapatkan kebaikan dan menolak keburukan.

Tawakal ada tiga macam:

النَّوْعُ الْأَوَّلُ: التَّوَكُّلُ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى

1 – Tawakkal kepada Allah Ta'ala, dan ini wajib yang keimanan tidak sempurna tanpanya; berdasarkan firman Allah Ta'ala:

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman, (QS Al-Ma'idah: 23).

النَّوْعُ الثَّانِي: تَوَكُّلُ السِّرِّ

2 – Tawakkal Sirri (Rahasia), yaitu bersandar pada orang mati dalam mendatangkan manfaat atau menolak bahaya, maka ini adalah syirik akbar; karena tidak ada yang melakukannya kecuali orang yang meyakini bahwa orang mati ini bertindak secara rahasia di alam semesta.

النَّوْعُ الثَّالِثُ: التَّوَكُّلُ عَلَى الْغَيْرِ فِيمَا يَتَصَرَّفُ فِيهِ الْغَيْرُ مَعَ الشُّعُورِ بِانْحِطَاطِ مَرْتَبَتِهِ، وَعُلُوِّ مَرْتَبَةِ الْمُتَوَكَّلِ عَلَيْهِ،

3 – Tawakkal kepada selain Allah dalam hal yang bisa diurus oleh selain Allah, disertai dengan perasaan rendah diri pada dirinya dan tingginya derajat yang ditawakali, seperti bersandar padanya dalam urusan rezeki dan semisalnya. Ini adalah jenis syirik kecil; karena kuatnya keterikatan hati kepadanya dan bersandar padanya.[7]

Ada pun jika bersandar kepada orang tersebut sebagai sebab, dan bahwa Allah-lah yang menakdirkan hal itu melalui tangan orang tersebut, maka ini tidak apa-apa.

الرَّغْبَةُ وَالرَّهْبَةُ وَالْخُشُوعُ

5, 6, 7 – Raghbah, Rahbah, dan Khusyuk

Ibadah hati yang kelima adalah raghbah. Apa arti Raghbah? Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani berkata:

مَحَبَّةُ الْوُصُولِ إِلَى الشَّيْءِ الْمَحْبُوبِ

Kecintaan untuk mencapai sesuatu yang dicintai.

Lalu apa arti Rahbah? Syaikh Khalid Al-Juhani berkata:

الْخَوْفُ الْمُثْمِرُ لِلْهَرَبِ مِنَ الْمَخُوفِ فَهِيَ خَوْفٌ مَقْرُونٌ بِعَمَلٍ

Rasa takut yang menghasilkan pelarian dari hal yang ditakuti, maka ia adalah rasa takut yang disertai dengan perbuatan.

Kemudian, apa arti khusyuk? Syaikh Khalid Al-Juhani berkata:

الْخُشُوعُ: هُوَ ذُلُّ لِعَظَمَةِ اللَّهِ ﷻ بِحَيْثُ يَسْتَسْلِمُ لِقَضَائِهِ الْكَوْنِيِّ، وَالشَّرْعِيِّ.

Khusyuk adalah merendahkan diri kepada keagungan Allah ﷻ sehingga menyerah pada ketetapan-Nya, baik yang bersifat kauni (alamiah) maupun syar'i (hukum agama).

Dalil dari Raghbah, Rahbah, dan Khusyuk adalah firman Allah:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sesungguhnya mereka (Zakariya, istrinya, dan Yahya) adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan Raghbah dan Rahbah. Dan mereka adalah orang-orang yang Khusyuk kepada Kami, (QS Al-Anbiya': 90). الْخَشْيَةُ

8 – Khasyah

Ibadah hati yang kedelapan adalah khasyah. Apa definisi khasyah? Syaikh Khalid Al-Juhani berkata:

خَوْفٌ يَصْحَبُهُ تَعْظِيمٌ وَمَحَبَّةٌ لِلْمَخُوفِ مِنْهُ

Rasa takut yang disertai dengan pengagungan dan kecintaan kepada yang ditakuti.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ

Maka janganlah kamu Khasyah kepada mereka dan Khasyah-lah kepada-Ku, (QS Al-Ma'idah: 3).[8] الْإِنَابَةُ

9 – Inabah

Ibadah hati yang kesembilan adalah inabah. Inabah artinya:

الرُّجُوعُ إِلَى اللَّهِ بِالْقِيَامِ بِطَاعَتِهِ وَاجْتِنَابِ مَعْصِيَتِهِ، وَهِيَ قَرِيبَةٌ مِنْ مَعْنَى التَّوْبَةِ إِلَّا أَنَّهَا أَرَقُّ مِنْهَا

Kembali kepada Allah dengan melaksanakan ketaatanNya dan menjauhi maksiat kepadaNya, dan ini dekat dengan makna taubat tetapi lebih lembut darinya.[9]

Dalilnya adalah firman Allah:

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ

Dan inabah-lah kalian kepada Tuhan kalian dan berserah dirilah kepada-Nya, (QS Az-Zumar: 54).[10] الِاسْتِعَانَةُ

10 – Isti'anah

Istianah artinya meminta bantuan dan dukungan. Dan istianah terdiri atas empat macam:

النَّوْعُ الْأَوَّلُ: الِاسْتِعَانَةُ بِاللَّهِ

1 – Istianah kepada Allah, yaitu memohon pertolongan yang mengandung kerendahan diri yang sempurna dari hamba kepada Tuhannya, dan menyerahkan urusan kepada-Nya. Dan ini tidak boleh (ditujukan) kecuali kepada Allah, dalilnya adalah firman Allah ta'ala:

إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan, (QS Al-Fatihah: 5).

النَّوْعُ الثَّانِي: الِاسْتِعَانَةُ بِالْمَخْلُوقِ عَلَى أَمْرٍ يَقْدِرُ عَلَيْهِ

2 – Istianah kepada makhluk dalam hal yang dia mampu, maka ini tergantung jenis bantuan yang diminta.[11] Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

Dan saling menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, (QS Al-Maidah: 2).

النَّوْعُ الثَّالِثُ: الِاسْتِعَانَةُ بِالْأَمْوَاتِ مُطْلَقًا، أَوْ بِالْأَحْيَاءِ عَلَى أَمْرٍ غَانِي لَا يَقْدِرُونَ عَلَى مُبَاشَرَتِهِ

3 – Istianah kepada orang mati secara mutlak, atau kepada orang hidup untuk melakukan hal gaib yang tidak mampu mereka lakukan secara langsung,[12] maka ini adalah syirik.[13]

النَّوْعُ الرَّابِعُ: الِاسْتِعَانَةُ بِالْأَعْمَالِ، وَالْأَحْوَالِ الْمَحْبُوبَةِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

4 – Istianah dengan amal dan keadaan yang dicintai Allah ta'ala, dan ini disyariatkan berdasarkan perintah Allah Ta'ala dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar, (QS Al-Baqarah: 153).[14] الِاسْتِغَاثَةُ

11 – Istigosah

Ibadah hati yang terakhir adalah istigasah. Istigasah adalah:

طَلَبُ الْغَوْثِ، وَهُوَ الْإِنْقَاذُ مِنَ الشِّدَّةِ وَالْهَلَاكِ

Meminta pertolongan, yaitu penyelamatan dari kesulitan dan kehancuran.

Istigasah ada tiga jenis:

النَّوْعُ الْأَوَّلُ: الِاسْتِغَاثَةُ بِاللَّهِ ﷺ، وَهَذَا مِنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ وَأَكْمَلِهَا

1 – Istigosah kepada Allah ﷺ, dan ini termasuk amal yang paling utama dan sempurna. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

Ingatlah, ketika kalian beristigosah kepada Tuhanmu, lalu dikabulkan-Nya bagi kalian: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut,” (QS Al-Anfal: 9).

النَّوْعُ الثَّانِي: الِاسْتِغَاثَةُ بِالْأَمْوَاتِ، أَوْ بِالْأَحْيَاءِ غَيْرِ الْحَاضِرِينَ عَلَى الْإِغَاثَةِ

2 – Istigosah kepada orang mati, atau kepada orang hidup yang tidak hadir, maka ini adalah syirik.

النَّوْعُ الثَّالِثُ: الِاسْتِغَاثَةُ بِالْأَحْيَاءِ الْحَاضِرِينَ الْقَادِرِينَ عَلَى الْإِغَاثَةِ، فَهَذَا جَائِزٌ كَالِاسْتِعَانَةِ بِهِمْ فِيمَا يَقْدِرُونَ عَلَيْهِ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا لِقَوْلِهِ تَعَالَى فِي قِصَّةِ مُوسَى

3 - Istigosah kepada orang hidup yang hadir dan mampu memberikan pertolongan, maka ini boleh seperti meminta bantuan kepada mereka dalam urusan dunia yang mereka mampu. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala dalam kisah Musa:

فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ

Maka orang-orang Bani Israil beristigosah kepada Musa untuk mengalahkan musuh mereka dari kaum Qibti, (QS Al-Qasas: 15). Wallahua’lam

Karangasem, 14 Juli 2025

Irfan Nugroho (Pengajar di PPTQ At-Taqwa dan RQ Irmas Bani Saimo)

PENJELASAN [1] Ibadah menurut Islam itu artinya semua hal yang disukai Allah, baik yang kita katakan atau lakukan, baik yang bisa dilihat orang maupun yang hanya diketahui oleh Allah di dalam hati.

Contohnya:

✅ Perkataan yang Allah suka: seperti membaca Al-Qur'an, berdoa, mengucapkan salam, berkata jujur, dan menjawab salam.

✅ Perbuatan yang Allah suka: seperti salat, berpuasa, memberi sedekah, membantu orang tua, dan menolong teman.

✅ Isi hati yang Allah suka: seperti rasa ikhlas, sabar, bersyukur, takut kepada Allah, dan cinta kepada Allah.

Jadi, ibadah itu bukan hanya salat dan puasa saja, tapi juga mencakup semua hal yang Allah suka — baik itu ucapan, perbuatan, maupun perasaan dalam hati, selama itu sesuai dengan ajaran Islam.

[2] Cinta kepada Allah adalah perasaan dalam hati yang membuat kita selalu ingin dekat dengan Allah, ingin menyenangkan Allah, dan tidak ingin membuat Allah marah. Seperti sayang kita kepada orang tua kita:
  • Kita senang kalau mereka senang.
  • Kita tidak mau membuat mereka sedih.
  • Kita ingin dekat dengan mereka.
Nah, cinta kepada Allah lebih besar dari itu. Karena Allah yang menciptakan kita, memberi kita makanan, kasih sayang, dan surga bagi yang taat. [3] Takut kepada Allah adalah rasa dalam hati yang membuat kita tidak mau melakukan hal yang bisa membuat Allah marah. Contohnya:
  • Kita takut berbuat dosa, karena dosa itu tidak disukai Allah.
  • Kita takut azab neraka, karena itu hukuman dari Allah bagi orang yang tidak taat.
[4] Ayat ini bercerita tentang Nabi Musa 'alaihissalam. Pada saat itu, beliau takut karena sebelumnya beliau pernah menolong seseorang dan memukul orang lain hingga mati tanpa sengaja. Karena kejadian itu, Nabi Musa jadi:
  • Takut tinggal di kota itu, karena bisa jadi ada orang yang ingin membalas.
  • Selalu waspada, menunggu-nunggu apakah ada orang yang akan mencarinya atau menangkapnya.
[5] Contoh:
  • Takut kepada jin lalu menyembah jin, supaya tidak diganggu.
  • Takut kepada dukun lalu memberi sesajen agar tidak celaka.
  • Takut kepada kuburan lalu berdoa kepada orang mati supaya tidak kena musibah.
[6] Seseorang merasa takut kepada orang yang sudah meninggal, atau orang saleh yang jauh, padahal orang itu tidak bisa membuat bahaya apa-apa. Tapi, dia tetap takut secara berlebihan, seolah-olah:
  • Orang mati itu bisa melihatnya.
  • Bisa memberi musibah.
  • Bisa mencelakakannya.
Rasa takut seperti ini termasuk dosa besar, karena:
  • Hanya Allah yang bisa melihat segalanya.
  • Hanya Allah yang bisa memberikan manfaat dan bahaya.
Contoh Takut Sirri:
  • Takut ke makam orang tertentu, lalu berkata: “Kalau aku tidak kasih bunga/sesajen, nanti dia marah dan mencelakai aku!”
  • Takut kepada wali yang sudah wafat, lalu bilang: “Aku harus berdoa kepadanya supaya selamat.”
[7] Tawakal itu seharusnya hanya kepada Allah; tetapi kadang ada orang yang bersandar sepenuhnya kepada manusia dalam urusan dunia, seperti: urusan rezeki, kesembuhan, keselamatan, dan kelancaran hidup.

Dan yang lebih parah: orang ini merasa dirinya kecil dan tidak mampu apa-apa, sedangkan orang yang ditawakkali dianggap sangat hebat dan penentu segalanya.

Contoh:
  • “Kalau bukan karena si fulan, saya pasti sudah miskin…”
  • “Saya ini tidak ada apa-apanya, semua tergantung bos saya...”
  • “Yang penting saya dekat sama orang kuat, hidup saya aman…”
Intinya: kita boleh minta bantuan orang lain dalam hal yang wajar.

Tapi hati tetap bersandar penuh kepada Allah, bukan kepada manusia.

Tawakal adalah:
  • Kita berusaha
  • Kita berdoa
  • Tapi hati hanya berharap kepada Allah, bukan kepada makhluk
[8] Khasyah artinya takut kepada Allah, tapi bukan seperti takut kepada hantu atau binatang buas. Khasyah itu:
  • Takut karena tahu bahwa Allah itu sangat besar dan Maha berkuasa,
  • Tapi juga karena kita cinta kepada Allah dan tidak ingin membuat-Nya marah.
Jadi khasyah = takut + mengagungkan Allah + cinta kepada Allah. Contoh khasyah dalam kehidupan sehari-hari:
  • Kita takut berbuat salah di tempat kerja, karena kita tidak mau mengecewakan atasan.
  • Kita takut tidak nurut kepada atasa, karena kita kagum dan segan kepada atasan.
[9] Kalau taubat itu biasanya karena merasa berdosa besar, lalu ingin memperbaiki diri, maka inabah itu semacam kerinduan untuk selalu dekat kepada Allah — bukan cuma karena dosa, tapi karena ingin dicintai oleh Allah.

Contoh:

Seorang ibu yang makin tua makin rajin dzikir, makin rajin tahajud, makin sering menangis saat doa — itu tanda-tanda inabah.

[10] Syaikh Ibnu Utsaimin menyimpulkan ayat ini dengan berkata:

فيه وُجوبُ الإنابةِ إلى اللهِ تعالى؛ لأنَّ الأصلَ في الأمرِ الوُجوبُ إلَّا بدليلٍ

Di dalam ayat ini terdapat pelajaran bahwa inabah kepada Allah itu wajib, karena hukum asal dari perintah adalah wajib, kecuali terdapat dalil (yang menyatakan sebaliknya).

[11] Jika meminta bantuan dalam kebaikan ya boleh, tetapi meminta bantuan dalam kejahatan ya tidak boleh [12] Seperti menyembuhkan tanpa ilmu atau mukjizat, memberi rezeki dari langit, atau melindungi dari bahaya jauh tanpa sebab yang nyata [13] Kita boleh minta tolong kepada sesama manusia yang masih hidup, dalam hal yang mampu dia lakukan, seperti:
  • "Tolong bantu angkat barang."
  • "Tolong doakan saya."
Tapi tidak boleh minta tolong kepada:
  • Orang yang sudah meninggal.
  • Orang hidup, tapi untuk hal gaib yang tidak bisa dilakukan manusia.
Karena kalau begitu, itu termasuk syirik, dan syirik adalah dosa besar yang paling besar. [14] Artinya begini:

Kita memohon pertolongan kepada Allah bukan hanya lewat doa, tapi juga lewat amal-amal baik, seperti shalat, puasa, sabar, zikir, membaca Qur’an, dan sebagainya. Jadi bukan cuma berkata, “Ya Allah, tolong saya…”, tapi juga buktikan lewat amal: kita mendekat kepada Allah dengan amal yang Allah cintai.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari:
  • Saat kita sakit, jangan hanya minum obat. Tambah dengan shalat sunnah, sedekah, istighfar.
  • Saat usaha seret, jangan cuma kerja keras, tapi juga baca Qur’an, jaga salat malam, bersedekah.
  • Saat sedih karena masalah keluarga, kita bersabar dan tambah dekat ke Allah lewat amal.

Post a Comment for "Macam-Macam Ibadah Hati di dalam Islam"