zmedia

Kaifa Amaluhum: Interaksi Nabi bersama Istri

Pembaca rahimakumullah, bagaimana interaksi Nabi bersama istri beliau? Berikut adalah ringkasan dari Kaifa Amaluhum karya Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Munajjid tentang interaksi Nabi bersama istri-istrinya. Kami mencukupkan pada judul dan hadis untuk setiap judul supaya lebih ringkas. Poin-poin penting dari penjelasan dari Syaikh akan kami masukkan dalam catatan kaki. Semoga bermanfaat!

Pembaca Rahimakumullah, Rasulullah ﷺ memiliki 11 istri, yaitu: 1) Khadijah binti Khuwailid, 2) Aisyah binti Abu Bakar, 3) Hafsah binti Umar, 4) Saudah binti Zam’ah Al-Amiriyah, 5) Zainab binti Jahsy Al-Asadiyah, 6) Zainab binti Khuzaimah Al-Hilaliyah, 7) Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah Al-Makhzumiyah, 8) Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan Al-Amawiyah, 9) Maimunah binti Al-Harits Al-Hilaliyah, 10) Juwairiyah binti Al-Harits Al-Mustaliqiyah, dan 11) Safiyah binti Huyay An-Nadhriyah.

Rasulullah ﷺ mangkat dan waktu itu beliau masih menikah dengan sembilan dari mereka. Namun, Khadijah meninggla dunia sebelum beliau.

Rasulullah ﷺ menjalani hidup yang indah dengan istri-istri beliau yang suci, dan pergaulan beliau dengan mereka adalah cerminan dari firman Allah:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan bergaullah dengan mereka secara patut, (QS An-Nisa: 19).

Juga, Imam At-Tirmizi meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya; dan saya adalah yang paling baik daripada kalian terhadap keluarga saya, (Sunan At-Tirmizi: 3895).

كَانَ ﷺ يَحْرِضُ عَلَى مُجَالَسَةِ زَوْجَاتِهِ، وَمُؤَانَسَتِهِنَّ كُلَّ يَوْمٍ

NABI ﷺ DUDUK BERSAMA ISTRI-ISTRINYA, DAN MENGHIBUR MEREKA SETIAP HARI

Inilah salah satu bentuk interaksi Nabi bersama istri-istrinya, beliau ﷺ duduk bersama istri-istri beliau dan menghibur mereka setiap hari. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma yang berkata:

إِذَا صَلَّى الصُّبْحَ جَلَسَ فِي مُصَلَّاهُ، وَجَلَسَ النَّاسُ حَوْلَهُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ دَخَلَ عَلَى نِسَائِهِ امْرَأَةً امْرَأَةً، يُسَلِّمُ عَلَيْهِنَّ، وَيَدْعُو لَهُنَّ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ إِحْدَاهُنَّ جَلَسَ عِنْدَهَا

Apabila telah melaksanakan salat Subuh, beliau duduk di tempat salatnya, dan orang-orang duduk mengelilinginya hingga matahari terbit. Kemudian beliau masuk menemui para istrinya satu per satu, memberi salam kepada mereka dan mendoakan mereka. Jika hari itu adalah giliran salah satu dari mereka, beliau pun tinggal di sisinya, (Mu’jam Ausath li Tabrani: 8764).[1] وَكَانَ ﷺ يُعْطِي نِسَاءَهُ حَقَّهُنَّ مِنَ الْمُعَاشَرَةِ

NABI ﷺ MEMBERIKAN HAK-HAK ISTRINYA DALAM PERGAULAN

Di antara bentuk interaksi Nabi bersama istri-istri beliau ﷺ adalah beliau ﷺ memberikan hak-hak istrinya dalam pergaulan. Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدُورُ عَلَى نِسَائِهِ فِي السَّاعَةِ الْوَاحِدَةِ مِنْ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُنَّ إِحْدَى عَشْرَةَ

Nabi ﷺ biasa mengunjungi istri-istrinya semuanya dalam satu waktu, baik malam maupun siang, sedangkan mereka berjumlah 11 orang.

Aku (Qatadah – murid sahabat Anas bin Malik) berkata kepada Anas:

أَوَكَانَ يُطِيقُهُ

Apakah beliau sanggup melakukannya?

Anas menjawab:

كُنَّا نَتَحَدَّثُ أَنَّهُ أُعْطِيَ قُوَّةَ ثَلَاثِينَ

Hasil diskusi kami menyimpulkan bahwa beliau diberi kekuatan seperti 30 orang, (Sahih Bukhari: 268).[2] وَكَانَ ﷺ وَفِيًّا لِزَوْجَتِهِ، يَحْفَظُ حَقَّهَا، وَلَا يَنْسَى لَهَا سَابِقَ عَهْدِهَا

NABI ﷺ SETIA KEPADA ISTRINYA, MENJAGA HAKNYA, DAN TIDAK MELUPAKAN JANJI LAMANYA

Sungguh beliau ﷺ memuji Khadijah selama hidupnya, dan setelah kematiannya, tidak ada yang dipuji seperti beliau. Dan beliau ﷺ sangat menjaga untuk menjelaskan keutamaannya, dan kedudukannya di dalam hatinya bahkan setelah wafatnya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:

مَا غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ وَمَا رَأَيْتُهَا وَلَكِنْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ ذِكْرَهَا

Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri-istri Nabi ﷺ sebagaimana kecemburuanku kepada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya. Namun Nabi ﷺ sering menyebut-nyebut namanya.

وَرُبَّمَا ذَبَحَ الشَّاةَ ثُمَّ يُقَطِّعُهَا أَعْضَاءً ثُمَّ يَبْعَثُهَا فِي صَدَائِقِ خَدِيجَةَ فَرُبَّمَا قُلْتُ لَهُ

Terkadang beliau menyembelih kambing, lalu memotongnya menjadi bagian-bagian, kemudian mengirimkannya kepada para sahabat Khadijah. Aku pun pernah berkata kepada beliau ﷺ:

كَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلَّا خَدِيجَةُ

‘Kayak tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah.’

فَيَقُولُ إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ

Maka beliau bersabda, ‘Dia memang (wanita) yang demikian dan demikian, dan darinya aku mendapatkan anak,’[3] (Sahih Bukhari: 3818).[4] وَكَانَ ﷺ يُقَبِّلُ زَوْجَتَهُ قَبْلَ خُرُوجِهِ مِنَ الْبَيْتِ

NABI ﷺ MENCIUM ISTRINYA SEBELUM KELUAR DARI RUMAH

Di antara bentuk interaksi Nabi bersama istrinya adalah bahwa beliau terbiasa mencium istrinya sebelum keluar dari rumah. Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Urwah bahwa Aisyah Radhiyallahu Anha berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Nabi ﷺ mencium satu dari sekian istrinya, kemudian beliau keluar untuk salat dan tidak berwudu.

Urwah pun berkata:

مَنْ هِيَ إِلَّا أَنْتِ فَضَحِكَتْ

Halah, siapa lagi kalau bukan Anda (Aisyah)? Dan Aisyah pun tertawa, (Sunan Abu Dawud: 179).

Imam At-Tirmizi meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَاشِرُنِي وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

Rasulullah ﷺ biasa mencumbuku sementara beliau dalam keadaan berpuasa, dan beliau adalah orang yang paling mampu menahan diri dari syahwat di antara kalian, (Sunan At-Tirmizi: 728).

وَكَانَ ﷺ يَشْرَبُ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِي تَشْرَبُ مِنْهُ زَوْجَتُهُ

NABI ﷺ MINUM DARI TEMPAT ISTRINYA MINUM

Di antara bentuk romantisme Nabi ﷺ bersama istri-istri beliau adalah beliau ﷺ minum dari tempat istrinya minum. Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:

كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٌ ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ فَيَشْرَبُ

Aku (Aisyah) pernah minum dalam keadaan haid, lalu aku memberikan bejana itu kepada Nabi ﷺ, maka beliau meletakkan mulutnya di tempat bekas mulutku lalu beliau minum.

وَأَتَعَرَّقُ الْعَرْقَ وَأَنَا حَائِضٌ ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ

Dan aku pernah menggigit daging dari tulang (sisa makanan) dalam keadaan haid, lalu aku memberikan tulang itu kepada Nabi ﷺ, maka beliau meletakkan mulutnya di tempat bekas mulutku, (Sahih Muslim: 300).[5] وَكَانَ ﷺ يَتَسَوَّكُ بِالسِّوَاكِ الَّذِي تَسَوَّكَتْ بِهِ زَوْجَتُهُ

NABI ﷺ BERSIWAK DENGAN SIWAK YANG DIPAKAI ISTRINYA

Di antara bagusnya pergaulan Nabi ﷺ dengan istrinya adalah beliau ﷺ bersiwak dengan siwak yang dipakai istrinya. Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:

دَخَلَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مُسْنِدَتُهُ إِلَى صَدْرِي

Abdurrahman bin Abu Bakar masuk menemui Nabi ﷺ, sementara saat itu aku sedang menyandarkan beliau ke dadaku.

وَمَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سِوَاكٌ رَطْبٌ يَسْتَنُّ بِهِ فَأَبَدَّهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَصَرَهُ

Di tangan Abdurrahman ada siwak yang masih basah, yang sedang ia gunakan untuk bersiwak. Maka Rasulullah ﷺ memandang ke arahnya.

فَأَخَذْتُ السِّوَاكَ فَقَصَمْتُهُ وَنَفَضْتُهُ وَطَيَّبْتُهُ ثُمَّ دَفَعْتُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aku pun mengambil siwak itu, memotong ujungnya, membersihkannya, dan memberinya wewangian, lalu aku memberikannya kepada Nabi ﷺ.

فَاسْتَنَّ بِهِ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَنَّ اسْتِنَانًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ

Beliau pun bersiwak dengannya. Aku belum pernah melihat Rasulullah ﷺ bersiwak sebaik dan seindah saat itu, (Sahih Bukhari: 4438).

وَرُبَّمَا نَامَ عَلَى فَخِذِهَا

TERKADANG NABI ﷺ TIDUR DI PANGKUAN ISTRINYA

Di antara bagusnya pergaulan Nabi ﷺ terhadap istrinya adalah bahwa terkadang beliau tidur di pangkuan istrinya. Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha  bahwa suatu kala, perjalanan Nabi ﷺ bersama para sahabatnya harus terhenti akibat Aisyah kehilangan kalungnya. Padahal, itu terjadi di tempat yang tidak ada sumber air.

Aisyah Radhiyallahu Anha berkata:

فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاضِعٌ رَأْسَهُ عَلَى فَخِذِي قَدْ نَامَ

Maka datanglah Abu Bakar (kepada Rasulullah ﷺ) dan ternyata Rasulullah ﷺ meletakkan kepala beliau di pangkuanku sambil tertidur.

فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أَصْبَحَ عَلَى غَيْرِ مَاءٍ فَأَنْزَلَ اللَّهُ آيَةَ التَّيَمُّمِ فَتَيَمَّمُوا

Rasulullah ﷺ bangun di pagi hari, dalam kondisi tidak memiliki air, maka turunlah ayat tentang tayamum,  dan mereka pun bertayamum, (Sahih Bukhari: 4607).[6] بَلْ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَضْطَجِعُ مَعَهَا فِي لِحَافٍ وَاحِدٍ وَهِيَ حَائِضٌ

BAHKAN NABI ﷺ TIDUR BERSAMA ISTRINYA DALAM SATU SELIMUT, MESKIPUN ISTRINYA SEDANG HAID

Di antara bentuk interaksi Nabi bersama istri beliau adalah beliau tidur bersama istrinya dalam satu selimut, meskipun istrinya sedang haid. Imam Bukhari meriwayatkan dari Ummu Salamah (Hindun binti Abi Umayyah) Radhiyallahu Anha yang berkata:

بَيْنَا أَنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُضْطَجِعَةٌ فِي خَمِيصَةٍ إِذْ حِضْتُ فَانْسَلَلْتُ فَأَخَذْتُ ثِيَابَ حِيضَتِي قَالَ أَنُفِسْتِ قُلْتُ نَعَمْ فَدَعَانِي فَاضْطَجَعْتُ مَعَهُ فِي الْخَمِيلَةِ

Ketika aku sedang berbaring bersama Nabi ﷺ dalam satu selimut tipis, tiba-tiba aku haid. Maka aku pun menyingkir secara perlahan dan mengambil pakaian khusus haidku. Beliau bertanya, 'Apakah kamu haid?' Aku menjawab, 'Ya.' Maka beliau memanggilku, lalu aku pun berbaring bersamanya di dalam selimut itu, (Sahih Bukhari:  298).[7] بَلْ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَرَأْسُهُ عَلَى صَدْرِ زَوْجَتِهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا

RASULULLAH ﷺ WAFAT DENGAN KEPALANYA DI DADA ISTRINYA, AISYAH RADHIYALLAHU ANHA

Di antara baiknya pergaulan Nabi ﷺ bersama istrinya adalah bahwa beliau meninggal, dan waktu itu kepala beliau bersandar di dada istrinya. Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha tentang detik-detik mangkatnya Rasulullah ﷺ dengan berkata:

مَاتَ بَيْنَ حَاقِنَتِي وَذَاقِنَتِي

Beliau ﷺ mangkat (dengan kepala beliau ﷺ) di antara dada dan leherku, (Sahih Bukhari: 4438).

وَكَانَ يَغْتَسِلُ مَعَ زَوْجَاتِهِ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ

NABI ﷺ MANDI BERSAMA ISTRI-ISTRINYA DARI SATU WADAH

Di antara bentuk romantisme Nabi ﷺ bersama istri beliau adalah bahwa beliau mandi bersama istrinya dalam satu wadah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ مِنْ جَنَابَةٍ

Aku dan Nabi ﷺ biasa mandi dari satu bejana yang sama karena junub, (Sahih Bukhari: 263).[8]

Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata:

أَخْبَرَتْنِي مَيْمُونَةُ أَنَّهَا كَانَتْ تَغْتَسِلُ هِيَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ

Maimunah (bibinya Abdullah bin Abbas dari jalur ibu) memberitahu saya bahwa beliau biasa mandi bersama Nabi ﷺ dari satu bejana yang sama, (Sahih Muslim: 322).

Imam Muslim meriwayatkan dari Zainab binti Abu Salamah dari ibunya, Ummu Salamah Radhiyallahu Anha, bahwa:

كَانَتْ هِيَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلَانِ فِي الْإِنَاءِ الْوَاحِدِ مِنْ الْجَنَابَةِ

Beliau dan Rasulullah ﷺ biasa mandi dari satu bejana yang sama karena junub, (Sahih Muslim: 324).

وَكَانَ ﷺ يُدَلِّلُ زَوْجَتَهُ فَيُرَخِّمُ اسْمَهَا

NABI ﷺ MEMANJAKAN ISTRINYA DENGAN MEMENDEKKAN NAMA ISTRINYA

Di antara bentuk romantisme Nabi bersama istri beliau adalah bahwa beliau memanjakan istrinya dengan panggilan yang singkat. Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشُ هَذَا جِبْرِيلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلَامَ قَالَتْ فَقُلْتُ وَعَلَيْهِ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

Rasulullah ﷺ bersabda: "Wahai Aisyi, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu." Maka aku pun menjawab, “Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah kepadanya,” (Sahih Muslim: 2447).[9]

Imam An-Nasai meriwayatkan di dalam Sunan Al-Kubra dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:

دَخَلَتِ الْحَبَشَةُ الْمَسْجِدَ يَلْعَبُونَ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَالَ: يَا حُمَيْرَاءُ، أَتُحِبِّينَ أَنْ تَنْظُرِي إِلَيْهِمْ ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ.

Orang-orang Habasyah masuk ke masjid, mereka bermain-main di masjid. Lalu (Nabi) bersabda: "Wahai Humaira, apakah kamu suka melihat mereka?" Aku menjawab: "Ya," (Sunan Al-Kubra: 8951).[10] وَمِنْ حُسْنِ مُعَاشَرَتِهِ ﷺ لَهُنَّ أَنَّهُ كَانَ أَحْيَانًا يَصْحَبُهُ مَعَهُ إِلَى الْوَلَائِمِ

NABI ﷺ TERKADANG MENGAJAK MEREKA KE WALIMAH

Ya, Nabi ﷺ mengajak istrinya menghadiri undangan pesta. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang berkata:

أَنَّ جَارًا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَارِسِيًّا كَانَ طَيِّبَ الْمَرَقِ فَصَنَعَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ جَاءَ يَدْعُوهُ فَقَالَ وَهَذِهِ لِعَائِشَةَ

Bahwa tetangga Rasulullah ﷺ, seorang Persia, pandai memasak kuah (masakan berkuah). Ia pun memasak sesuatu untuk Rasulullah ﷺ, lalu datang mengundang beliau. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, 'Bagaimana dengan Aisyah?'

فَقَالَ لَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا

Orang itu menjawab, 'Tidak.' Maka Rasulullah ﷺ berkata, 'Kalau begitu, tidak (aku tidak ikut).'

فَعَادَ يَدْعُوهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذِهِ قَالَ لَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا

Ia kembali mengundang beliau, dan Rasulullah ﷺ bertanya, 'Bagaimana dengan dia (Aisyah)?' Orang itu menjawab, 'Tidak.' Maka Rasulullah ﷺ berkata, 'Kalau begitu, tidak.'

ثُمَّ عَادَ يَدْعُوهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذِهِ قَالَ نَعَمْ فِي الثَّالِثَةِ فَقَامَا يَتَدَافَعَانِ حَتَّى أَتَيَا مَنْزِلَهُ

Lalu orang itu kembali lagi mengundang beliau. Rasulullah ﷺ bertanya, 'Bagaimana dengan dia?' Orang itu menjawab, 'Ya (boleh).' Maka keduanya pun berangkat sambil saling mendorong mesra hingga sampai ke rumahnya, (Sahih Muslim: 2037).[11] وَإِذَا زَارَتْهُ إِحْدَاهُنَّ قَامَ مَعَهَا يُشَيِّعُهَا حَتَّى وَلَوْ كَانَ مُعْتَكِفًا

JIKA BELIAU ITIKAF DAN ISTRINYA BERKUNJUNG, BELIAU MENGANTARNYA PULANG

Imam Bukhari meriwayatkan meriwayatkan dari Ali bin Al-Husein yang berkata:

أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُعْتَكِفٌ فَلَمَّا رَجَعَتْ مَشَى مَعَهَا

Dia (Sofiyah Radhiyallahu Anha istri Nabi ﷺ) datang menemui Nabi ﷺ saat beliau sedang beri‘tikaf. Ketika dia kembali (ke rumahnya), Nabi ﷺ pun berjalan bersamanya (mengantarnya pulang), (Sahih Bukhari: 2039).[12]

Bersambung...

CATATAN KAKI [1] Perhatikan! Nabi ﷺ melakukan ini setiap hari, dan merupakan hal pertama di pagi hari.  Istrinya tidak pernah merasa bahwa beliau ﷺ tidak berada di sekitar mereka. Bandingkan dengan mereka yang mengabaikan istrinya berhari-hari, bahkan sampai berbulan-bulan! Beberapa orang menghabiskan berjam-jam waktunya bersama teman setiap hari, lalu bergaul dengan mereka hingga malam, lalu ketika mereka pulang dalam kondisi lelah, keluarganya sudah tidur duluan, dan akhirnya mereka hanya ngglebak ke ranjang lalu tidur. [2] Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: Meskipun beliau adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling mengetahui tentang-Nya, meskipun beliau seringkali tidak mendapatkan makanan yang mengenyangkan, dan jika beliau mendapatkannya, beliau lebih mengutamakan sebagian besarnya untuk orang lain, serta beliau sering berpuasa dan menyambung puasa. Meskipun demikian, beliau mengelilingi istri-istrinya dalam satu malam, dan hal itu tidak mungkin dilakukan kecuali dengan kekuatan fisik... Banyaknya istri tidak menyibukkan beliau dari ibadah.

Syaikh berkata: Dan ibadah beliau ﷺ tidak menghalanginya untuk bercengkerama dengan istrinya, berbincang-bincang dengannya, dan berbicara dengannya.

[3] Anak-anak beliau ﷺ dari Khadijah adalah: Al-Qasim, dan keempat putrinya: Zainab, kemudian Ruqayyah, kemudian Ummu Kultsum, kemudian Fatimah. Dan Abdullah lahir setelah kenabian, maka ia disebut At-Tahir dan At-Tayyib. [4] Maka tidaklah cukup bagi beliau ﷺ dengan menyebutnya dan memujinya hanya karena berakhirnya hubungan suami istri, bahkan hal itu terus berlanjut setelah wafatnya. Beliau ﷺ selalu berkata: "Sesungguhnya ia adalah (wanita yang luar biasa) dan ia adalah (wanita yang luar biasa)," yaitu: ia adalah wanita yang utama, cerdas, dan sejenisnya. Dan beliau tidak menyebutnya kecuali beliau memujinya dan memohonkan ampun untuknya.

Dan ketika melihat keadaan manusia hari ini, kita menemukan hal-hal yang sangat mengherankan. Engkau akan mendapati seorang laki-laki yang istrinya telah meninggal, lalu ia menikah lagi dengan wanita lain, kemudian ia duduk memuji wanita lain (istri barunya), dan mencela perbuatan almarhumah, serta mengatakan bahwa ia (istri almarhumah) dulu begini dan begitu.

[5] Mula Ali Qari berkata, “Beliau mengikuti setiap jejak istri beliau untuk menunjukkan betapa beliau ﷺ sangat sayang kepada istri beliau.” [6] Dan ini adalah bagian dari baiknya pergaulan beliau ﷺ, dan mulianya akhlak beliau. Dan di dalamnya terdapat (pelajaran): tidak merasa jijik dari wanita haid, atau membencinya, berbeda dengan orang Yahudi yang tidak makan bersama mereka, dan tidak duduk bersama mereka jika wanita itu sedang haid. [7] Pelajaran dari hadis ini: boleh tidur bersama istri yang haid, dan berbaring bersamanya dalam satu selimut. Adapun firman Allah Ta'ala:

فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ

Maka jauhilah wanita pada waktu haid, (QS Al-Baqarah: 222), maka yang dimaksud adalah: jauhilah berhubungan intim dengan mereka.

Beberapa pria menghindar dari istrinya ketika istrinya menstruasi dan mereka tidak tidur bersama. Hal ini bertentangan dengan amaliah dan hidayah Nabi ﷺ. Memisahkan mereka ketika menstruasi bisa membuat mereka terganggu secara psikis, karena wanita biasanya menjadi mudah terganggu ketika menstruasi dan akibat mood mereka berubah. Jadi, jika suaminya menghindar darinya, memboikotnya, ini justru memperparah suasana dan membuatnya semakin mudah stres.

[8] Di antara pelajaran dari hadis ini adalah disyariatkannya seorang laki-laki untuk mandi bersama istrinya sendiri. [9] Al-Qadhi bin Iyad berkata, “Memberi nama seperti ini adalah salah satu cara mengungkapkan cinta dan sayang kepada istri.” [10] Qadhi Iyadh berkata: "(Humaira') adalah tasghir (bentuk kecil) yang menunjukkan kasih sayang, rahmat, dan cinta." [11] An-Nawawi berkata, “Nabi ﷺ tidak mendatangi undangan tanpa mengajak Aisyah. Ini menunjukkan betapa bagusnya pergaulan beliau, dan bagaimana beliau menjaga hak-hak pernikahan serta berinteraksi dengan istri-istri beliau dengan level akhlak yang paling tinggi.” [12] Nabi ﷺ menyela itikafnya supaya bisa mengantarkan istrinya pulang, untuk melindungi istrinya dalam perjalanan pulang. Beliau melakkan hal ini padahal seharusnya orang itikaf tidak boleh meninggalkan masjid setelah memasuki masjid, kecuali karena adanya hajat atau keperluan. Kalau tidak ada keperluan dan seseorang keluar masjid ketika itikaf, maka itikafnya batal.

Post a Comment for "Kaifa Amaluhum: Interaksi Nabi bersama Istri"