zmedia

Mausuatul Akhlak: Tadhiyah atau Pengorbanan

Pembaca rahimakumullah, di antara akhlak mulia adalah at-tadhiyah, atau pengorbanan. Apa dalil akhlak tadhiyah? Apa makna akhlak tadhiyah? Bagaimana melatihnya? Berikut adalah ringkasan terjemahan dari Mausuatul Akhlak Dorar Saniyah. Semoga bermanfaat!

التَّضْحِيَةُ فِي القُرْآنِ الكَرِيمِ

PENGORBANAN DALAM AL-QUR’AN

Allah ta’ala berfirman:

وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ

Dan agar Allah menjadikan sebagian dari kalian sebagai syuhada (orang-orang yang gugur di jalan-Nya), [QS Ali Imran: 140].

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapat rezeki, [QS Ali Imran: 169]

Allah ta’ala berfirman:

وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ

Dan (orang yang bertakwa itu) memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta, [QS Al-Baqarah: 177]

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۚ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh dan terbunuh. (Itu) adalah janji yang benar dari-Nya dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janji-Nya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang agung, [QS At-Taubah: 111]

 التَّضْحيةُ في السُّنَّةِ النَّبَوِيَّةِ

PENGORBANAN DALAM SUNAH

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:  ((انْتَدَبَ اللَّهُ لِمَنْ خَرَجَ فِي سَبِيلِهِ، لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا إِيمَانٌ بِي وَتَصْدِيقٌ بِرُسُلِي، أَنْ أُرْجِعَهُ بِمَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ، أَوْ أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَلَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي مَا قَعَدْتُ خَلْفَ سَرِيَّةٍ، وَلَوَدِدْتُ أَنِّي أُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، ثُمَّ أَحْيَا، ثُمَّ أُقْتَلُ، ثُمَّ أَحْيَا، ثُمَّ أُقْتَلُ))[1]

Allah menjamin bagi siapa saja yang keluar di jalan-Nya—dan tidak ada yang mendorongnya keluar kecuali keimanan kepadaku dan pembenaran terhadap para rasul-Ku—bahwa Dia akan mengembalikannya dengan pahala yang diperolehnya atau dengan ghanimah, atau Aku akan memasukkannya ke dalam surga.

Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku tidak akan tertinggal dari satu pasukan pun. Dan sungguh aku ingin terbunuh di jalan Allah, kemudian aku dihidupkan kembali, lalu aku terbunuh lagi, kemudian aku dihidupkan kembali, lalu aku terbunuh lagi.

Dan dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ[2]

Sedekah tidak akan mengurangi harta. Allah tidak menambah bagi seorang hamba karena memaafkan, kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.

التَّضْحِيَةُ فِي أَقْوَالِ السَّلَفِ وَالْعُلَمَاءِ

PENGORBANAN DALAM PERKATAAN PARA SALAF DAN ULAMA

Ibnu al-Muqaffa‘ berkata: ابذُلْ لصَديقِك دَمَك ومالَك، ولمَعرِفَتِك رِفْدَك  ومَحضَرَك، وللعامَّةِ بِشْرَك وتحيَّتَك، ولعَدُوِّك عَدْلَك، وضَنَّ بدِينِك وعِرْضِك عن كُلِّ أحَدٍ[3]

Berikan untuk sahabatmu darahmu dan hartamu, untuk orang yang mengenalmu berikanlah bantuan dan kehadiranmu, untuk khalayak umum berikanlah wajah ceriamu dan salam penghormatanmu, untuk musuhmu berikanlah keadilanmu, dan peliharalah agamamu serta kehormatanmu dari siapa pun.

Ibnu ‘Athiyyah berkata tentang pengorbanan dalam jihad di jalan Allah:

دَرَجاتُ الجهادِ يجمَعُها بَذلُ النَّفسِ والاعتِمالُ بالبَدَنِ والمالِ في أن تكونَ كَلِمةُ اللهِ هي العُليا، ولا شَكَّ أنَّ بحسَبِ مراتِبِ الأعمالِ ودَرَجاتِها تكونُ مراتِبُ الجنَّةِ ودَرَجاتُها[4]

Tingkatan-tingkatan jihad itu tercakup dalam pengorbanan jiwa dan keterlibatan badan serta harta dalam rangka menjadikan kalimat Allah sebagai yang tertinggi. Dan tidak diragukan lagi, bahwa sesuai dengan tingkatan dan derajat amal, demikian pula tingkatan dan derajat surga.

Ibnu Bāz berkata:

الدَّعوةُ إلى اللهِ أحسَنُ ما يَبذُلُه المسلِمُ في نَفعِ غَيرِهـ[5]

Dakwah kepada Allah adalah sebaik-baik hal yang bisa dikorbankan oleh seorang Muslim demi memberi manfaat kepada orang lain.

مَعْنَى التَّضْحِيَةِ لُغَةً وَاصْطِلَاحًا

MAKNA PENGORBANAN SECARA BAHASA DAN ISTILAH

التَّضْحيةُ لُغةً: بَذَلَ شَيْئًا وَتَبَرَّعَ بِهِ دُونَ مُقَابِلٍ [6] Pengorbanan secara bahasa artinya: memberikan sesuatu dan menyumbangkannya tanpa mengharap imbalan. Pengorbanan secara istilah:

هِيَ بَذْلُ النَّفْسِ أَوِ الْوَقْتِ أَوِ الْمَالِ أَوْ كُلِّ نَفِيسٍ؛ لِأَجْلِ غَايَةٍ سَامِيَةٍ، مَعَ احْتِسَابِ الْأَجْرِ عَلَى ذٰلِكَ

Menyerahkan jiwa, waktu, harta, atau segala sesuatu yang berharga demi tujuan yang mulia, dengan mengharap pahala dari Allah atas hal tersebut.

فَوَائِدُ التَّضْحِيَةِ

BUAH DARI AKHLAK PENGORBANAN

Jika manusia mengamalkan akhlak tadhiyah atau pengorbanan, maka akan berbuah hal-hal berikut:

فِي التَّضْحِيَةِ نُصْرَةٌ لِلدِّينِ.

Dalam pengorbanan terdapat pertolongan bagi agama.[7]

فِي التَّضْحِيَةِ تَحْقِيقُ التَّكَافُلِ بَيْنَ طَبَقَاتِ الْمُجْتَمَعِ.

Dalam pengorbanan terdapat realisasi saling menanggung (solidaritas) antar lapisan masyarakat.[8]

فِي التَّضْحِيَةِ تَحْقِيقُ الْعِزَّةِ وَالسَّعَادَةِ.

Dalam pengorbanan terdapat pencapaian kemuliaan dan kebahagiaan.[9]

فِي التَّضْحِيَةِ حِفْظُ الدِّينِ وَالْوَطَنِ وَإِظْهَارُ قُوَّةِ الْأُمَّةِ.

Dalam pengorbanan terdapat upaya menjaga agama dan tanah air serta menampakkan kekuatan umat.

فِي تَضْحِيَةِ الْعُلَمَاءِ بِوَقْتِهِمْ وَجُهْدِهِمْ تَنْشِئَةُ طُلَّابِ الْعِلْمِ، وَنَفْعُ الْأُمَّةِ بِهِمْ.

Dalam pengorbanan waktu dan usaha para ulama terdapat upaya membina para penuntut ilmu, dan tersebarnya manfaat bagi umat melalui mereka.[10]

التَّضْحِيَةُ وِقَايَةٌ لِلنَّفْسِ مِنَ الْأَنَانِيَّةِ وَالشُّحِّ.

Pengorbanan adalah perlindungan bagi diri dari sifat egois dan kikir.[11] مَوَانِعُ فِعْلِ التَّضْحِيَةِ

PENGHALANG UNTUK BERKORBAN

Seseorang yang memiliki hal-hal di bawah ini akan terhalang dari memiliki akhlak tadhiyah atau pengorbanan, apa saja?

عَدَمُ الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ فِي الْعَمَلِ.

Tidak ikhlas kepada Allah dalam beramal.

حُبُّ النَّفْسِ وَالْأَثَرَةُ.

Cinta diri (egois) dan sifat mementingkan diri sendiri.

الِانْغِمَاسُ فِي اللَّهْوِ وَالتَّرَفِ وَالدَّعَةِ.

Terlena dalam kesenangan, kemewahan, dan kenyamanan.

إِسَاءَةُ الظَّنِّ وَعَدَمُ الثِّقَةِ.

Buruk sangka dan tidak adanya kepercayaan.

ضَعْفُ الْإِيمَانِ.

Lemahnya iman.

التَّعَلُّقُ بِالدُّنْيَا وَزِينَتِهَا، وَالتَّثَاقُلُ إِلَى الْأَرْضِ.

Keterikatan pada dunia dan perhiasannya, serta merasa berat untuk (beramal demi) akhirat.

الْبُخْلُ.

Bakhil dan Kikir.

الْوَسَائِلُ الْمُعِينَةُ عَلَى فِعْلِ التَّضْحِيَةِ

SARANA MELATIH AKHLAK TADHIYAH ATAU PENGORBANAN

Untuk melatih diri kita agar memiliki akhlak tadhiyah, lazimi hal-hal berikut:

تَرْكُ التَّعَلُّقِ بِالدُّنْيَا وَالِانْكِبَابِ عَلَيْهَا.

Meninggalkan keterikatan pada dunia dan terjerumus di dalamnya.

التَّخَلُّصُ مِنَ الرُّوحِ الِانْهِزَامِيَّةِ.

Menghilangkan jiwa yang pesimis.

إِشَاعَةُ رُوحِ الْمَحَبَّةِ وَالتَّعَاوُنِ.

Menyebarkan semangat cinta dan kerja sama.

التَّحَلِّي بِالشَّجَاعَةِ وَالْإِقْدَامِ.

Berhias dengan keberanian dan keteguhan.

التَّحَلِّي بِعُلُوِّ الْهِمَّةِ.

Berhias dengan tekad yang tinggi.

التَّحَلِّي بِالْكَرَمِ وَعَدَمُ الْبُخْلِ.

Berhias dengan kemuliaan (dermawan) dan tidak kikir.

التَّحَلِّي بِالصَّبْرِ وَالْيَقِينِ.

Berhias dengan kesabaran dan keyakinan.

مُصَاحَبَةُ أَهْلِ الْخَيْرِ وَالرِّفْعَةِ، الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ وَيَبْذُلُونَ حَيَاتَهُمْ فِي سَبِيلِ نُصْرَةِ دِينِ اللَّهِ.

Mendampingi orang-orang yang baik dan mulia, yang menginfakkan harta mereka dan mengorbankan hidup mereka di jalan menolong agama Allah.

الْيَقِينُ الْجَازِمُ بِمَا أَعَدَّهُ اللَّهُ لِعِبَادِهِ الْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ وَالْمُنْفِقِينَ فِي مَرْضَاتِهِ.

Keyakinan yang teguh terhadap apa yang telah Allah siapkan bagi hamba-Nya yang berjihad di jalan-Nya dan yang berinfak untuk keridaan-Nya.

قِصَرُ الْأَمَلِ فِي الدُّنْيَا.

Memendekkan angan-angan di dunia. Wallahua’lam

Demikian penjelasan tentang akhlak tadhiyah, atau pengorbanan, yang kami ringkas dari Mausuatul Akhlak Dorar Saniyah, dan kami jadikan bahan ajar di RQ Irmas Bani Saimo Surokaryo. Semoga bermanfaat!

Karangasem, 22 Juli 2025

Irfan Nugroho (Pengajar materi akhlak di RQ Irmas Bani Saimo Surokaryo)

CATATAN KAKI [1] أخرجه البخاري (36) واللَّفظُ له، ومسلم (1876). فبَذْلُ النَّفسِ والشَّهادةُ في سبيلِ اللَّهِ هي ذِرْوةُ التَّضْحيةِ. [2] أخرجه مسلم (2588). قال ابنُ عبدِ البَرِّ: (أي: لا تَنقُصُ الصَّدَقةُ المالَ؛ لأنَّه مالٌ مُبارَكٌ فيهـ) . [3] ((الأدب الصغير والأدب الكبير)) (ص: 98). [4] يُنظر: ((المحرر الوجيز)) (2/98). [5] ((مجموع فتاوى ابن باز)) (9/217). [6] ((المعجم الوسيط)) (1/535)، ((المعجم الوجيز)) (ص: 377). [7] Siapa saja yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan meninggikannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu, [QS Muhammad: 7]

[8] Pengorbanan, khususnya dalam bentuk berbagi harta, waktu, tenaga, atau ilmu, akan menciptakan hubungan sosial yang kuat antar berbagai golongan masyarakat — baik kaya atau miskin, kuat atau lemah, berpendidikan atau tidak, dan seterusnya. Sikap tadhiyah mewujudkan nilai takāful ijtimā’ī (التَّكَافُلُ الاجْتِمَاعِيُّ) atau solidaritas sosial Islam yang menumbuhkan persatuan, kasih sayang, dan keadilan sosial dalam masyarakat. [9] Pengorbanan (التَّضْحِيَةُ) adalah bentuk nyata dari keikhlasan dan ketulusan hati seseorang dalam menomorsatukan kebaikan dan maslahat umat di atas kepentingan pribadi. Ketika seseorang rela mengorbankan harta, waktu, tenaga, pikiran, bahkan nyawanya demi kebenaran dan kemaslahatan, maka itu adalah tanda kekuatan iman dan ketinggian akhlak. Dari sikap seperti inilah akan lahir: Al-‘Izzah (الْعِزَّةُ) – Kemuliaan:

Sebagaimana firman Allah:

Allah berfirman:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

Dan bagi Allah-lah kemuliaan itu, dan bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang yang beriman, (QS Al-Munafiqun: 8)

Maka, orang yang berkorban demi Allah dan agama-Nya, dia akan mendapatkan bagian dari kemuliaan itu.

As-Sa’ādah (السَّعَادَةُ) – Kebahagiaan:

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, (Al-Mu’jam Al-Ausath: 6026)

Maka semakin besar manfaat seseorang bagi sesama melalui pengorbanannya, semakin tinggi pula kedudukannya di sisi Allah dan semakin dalam pula rasa bahagia yang dirasakannya.

[10] Para ulama tidak mencapai derajatnya tanpa pengorbanan. Mereka mengorbankan waktu, tenaga, istirahat, bahkan dunia mereka, demi menuntut, mengajarkan, dan menyebarkan ilmu. Dengan pengorbanan itu, lahirlah generasi para penuntut ilmu—santri, pelajar, dan penimba hikmah—yang tumbuh dengan ilmu, adab, dan semangat dakwah. Buah dari pengorbanan ini bukan hanya terbatas pada para penuntut ilmu itu sendiri, tetapi manfaatnya menjalar kepada seluruh umat. Umat terbimbing, masyarakat tercerahkan, dan agama menjadi kuat karena hadirnya ilmuwan yang mendidik, membimbing, dan menasihati mereka. [11] Pengorbanan melatih seseorang untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri (egois) dan tidak pelit terhadap harta, waktu, atau tenaga (kikir). Dengan membiasakan diri berkorban demi kepentingan orang lain, seseorang akan belajar berbagi, berempati, dan mengutamakan maslahat bersama. Ini menjadi perisai batin dari penyakit hati yang bisa merusak hubungan sosial dan keimanan.

Post a Comment for "Mausuatul Akhlak: Tadhiyah atau Pengorbanan"