Pembaca rahimakumullah, apa hukum mengafani jenazah? Siapa yang wajib mengafani jenazah? Berikut adalah terjemahan dari Mausuatul Fiqhiyah Dorar Saniyah > Kitab Salat > Bab Janaiz > Memandikan dan Mengafani Jenazah > Mengafani Jenazah. Semoga bermanfaat!
حُكْمُ تَكْفِينِ الْمَيِّتِA – HUKUM MENGAFANI JENAZAH
Pembaca rahimakumullah, tentang hukum mengafani jenazah, tertulis di dalam Mausuatul Fiqhiyah Dorar Saniyah:تَكْفِينُ الْمَيِّتِ الْمُسْلِمِ فَرْضُ كِفَايَةٍ، وَذَلِكَ فِي الْجُمْلَةِ.
Mengafani jenazah muslim hukumnya fardu kifayah, dan ini bersifat umum.
Dalil dari SunahIbnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata:
بَيْنَمَا رَجُلٌ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ، إِذْ وَقَعَ عَنْ رَاحِلَتِهِ، فَوَقَصَتْهُ - أَوْ قَالَ: فَأَوْقَصَتْهُ - قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْنِ
Ketika seorang laki-laki sedang berdiri di Arafah, tiba-tiba ia terjatuh dari kendaraannya, lalu kendaraannya itu membunuhnya – atau beliau bersabda: melukainya hingga mati – Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, dan kafanilah dia dengan dua helai kain..." (Sahih Bukhari: 1265. Lafaz ini milik beliau. Sahih Muslim: 1206).
Argumentasi:أَنَّ هَذَا أَمْرٌ مِنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالْأَمْرُ لِلْوُجُوبِ.
Perintah ini berasal dari beliau ﷺ, dan perintah tersebut menunjukkan kewajiban.
Dalil dari Ijma:Selain dari Sunah, dalil tentang mengafani jenazah juga berasal dari ijma. Tertulis di dalam Mausuatul Fiqhiyah Dorar Saniyah:
نَقَلَ الْإِجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ: ابْنُ حَزْمٍ، وَابْنُ الْعَرَبِيِّ، وَالْقُرْطُبِيُّ، وَالنَّوَوِيُّ، وَالْمَرْدَاوِيُّ.
Dinukil adanya ijma tentang hal tersebut dari Ibnu Hazm, Ibnul Arabi, Al-Qurtubi, An-Nawawi, dan Al-Mardawi. Wallahua’lam
مَنْ يَجِبُ عَلَيْهِ تَكْفِينُ الْمَيِّتِB – SIAPA YANG WAJIB MENGKAFANI MAYIT
Dalam hal ini ada beberapa pembahasan: الْفَرْعُ الْأَوَّلُ: إِذَا كَانَ لِلْمَيِّتِ مَالٌ1 – Jika Mayit Memiliki Harta
إِذَا كَانَ لِلْمَيِّتِ مَالٌ فَكَفَنُهُ أَوْ ثَمَنُ كَفَنِهِ؛ مِنْ مَالِهِ.Jika mayit memiliki harta, maka kain kafannya atau harga kain kafannya (diambil) dari hartanya.
Dalil dari Sunah:Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata:
أَقْبَلَ رَجُلٌ حَرَامًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَخَرَّ مِنْ بَعِيرِهِ، فَوُقِصَ وَقْصًا، فَمَاتَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَأَلْبِسُوهُ ثَوْبَيْهِ»
Seorang laki-laki datang dalam keadaan ihram bersama Nabi ﷺ, lalu dia terjatuh dari untanya, sehingga dia patah leher dan meninggal dunia. Rasulullah ﷺ bersabda: "Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, dan pakaikanlah dia dua helai kainnya," (Sahih Bukhari: 1265. Sahih Muslim: 1206. Lafaz ini milik beliau).Argumentasi:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ أَنْ يُكَفَّنَ فِي ثَوْبَيْهِ، وَقَدَّمَهُ عَلَى الْمِيرَاثِ وَعَلَى الدَّيْنِ، وَلَمْ يَسْأَلْ عَنْ وَارِثِهِ، وَلَا عَنْ دَيْنٍ عَلَيْهِ، وَلَوْ اخْتَلَفَ الْحَالُ لَسَأَلَ.
Bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan agar dia dikafani dengan dua helai kain milik orang tersebut, dan beliau mendahulukan hal itu di atas urusan warisan dan utang, serta tidak menanyakan tentang ahli warisnya, maupun utangnya. Seandainya keadaannya tidak seperti ini, niscaya beliau ﷺ akan menanyakannya.
Dalil dari IjmaSelain dari Sunah, dalil tentang memakai harta si mayit untuk mengafaninya juga berasal dari Ijma. Tertulis:
نَقَلَ الْإِجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ: النَّوَوِيُّ، وَابْنُ الْقَطَّانِ.
Ijmak (konsensus) tentang hal itu dinukil oleh: An-Nawawi, dan Ibnul Qathan.
ثَالِثًا: لِأَنَّ حَمْزَةَ وَمُصْعَبًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا لَمْ يُوجَدْ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَّا ثَوْبٌ، فَكُفِّنَ فِيهِ.
Ketiga: Karena Hamzah dan Mush'ab radhiyallahu 'anhuma, masing-masing dari mereka tidak ditemukan kecuali hanya sehelai kain, maka mereka dikafani dengannya.رَابِعًا: لِأَنَّ لِبَاسِ الْمُفْلِسِ مُقَدَّمٌ عَلَى قَضَاءِ دَيْنِهِ؛ فَكَذَلِكَ كَفَنُ الْمَيِّتِ.
Keempat: Karena pakaian orang yang bangkrut didahulukan daripada pembayaran utangnya; maka demikian pula kain kafan mayit. إِذَا لَمْ يَكُنْ لِلْمَيِّتِ مَالٌ2 – Jika Jenazah tidak Punya Harta
Lalu bagaimana jika seorang mayit tidak meninggalkan harta untuk dipakai membeli kain kafan? Tertulis:إِذَا لَمْ يَكُنْ لِلْمَيِّتِ مَالٌ، وَجَبَ كَفَنُهُ وَسَائِرُ مُؤَنِ تَجْهِيزِهِ عَلَى مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ؛ مِنْ وَالِدٍ وَوَلَدٍ وَسَيِّدٍ، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.
Jika seorang jenazah tidak memiliki harta, biaya kafan dan seluruh kepengurusan jenazahnya wajib ditanggung oleh orang yang wajib menafkahinya, seperti dari orang tuanya, anaknya, atau tuannya (jika dia seorang budak). Ini adalah kesepakatan empat mazhab fikih: Hanafiah, Malikiah, Syafiiah, dan Hanabilah.
Argumentasi:أَوَّلًا: لِأَنَّ ذَلِكَ يَلْزَمُهُ حَالَ الْحَيَاةِ؛ فَكَذَلِكَ بَعْدَ الْمَوْتِ.
Pertama: Karena hal itu wajib baginya (penanggung nafkah) ketika hidup; maka demikian pula setelah meninggal.ثَانِيًا: لِأَنَّ الْوَلَدَ تَجِبُ نَفَقَتُهُ بِالْقَرَابَةِ، وَلَا يَبْطُلُ ذَلِكَ بِالْمَوْتِ.
Kedua: Karena anak wajib dinafkahi berdasarkan hubungan kekerabatan, dan hal itu tidak gugur dengan kematian.ثَالِثًا: لِأَنَّ الْمَمْلُوكَ تَجِبُ نَفَقَتُهُ بِحَقِّ الْمِلْكِ لَا بِالِانْتِفَاعِ.
Ketiga: Karena budak wajib dinafkahi berdasarkan hak kepemilikan, bukan berdasarkan pemanfaatan (atas dirinya). إِنْ لَمْ يَكُنْ لِلْمَيِّتِ مَالٌ وَلَيْسَ لَهُ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ3 – Jika tidak Punya Harta & tidak Ada yang Wajib Menafkahi
Lalu bagaimana jika seorang jenazah tidak memiliki harta dan tidak ada pula orang yang wajib menafkahinya. Tetulis:إِنْ لَمْ يَكُنْ لِلْمَيِّتِ مَالٌ وَلَيْسَ لَهُ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ، وَجَبَتْ مُؤْنَةُ تَجْهِيزِهِ فِي بَيْتِ الْمَالِ، بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.
Jika mayit tidak memiliki harta dan tidak ada orang yang wajib menafkahinya, maka biaya pengurusannya wajib ditanggung oleh Baitul Mal (kas negara), dengan kesepakatan empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah.
Argumentasi:أَوَّلًا: لِأَنَّ بَيْتَ الْمَالِ لِلْمَصَالِحِ، وَهَذَا مِنَ أَهَمِّهَا.
Pertama: Karena Baitul Mal adalah untuk kemaslahatan umum, dan ini adalah salah satu yang terpenting dari kemaslahatan tersebut.ثَانِيًا: قِيَاسًا عَلَى نَفَقَتِهِ فِي حَيَاتِهِ.
Kedua: Dianalogikan (qiyas) dengan nafkahnya selama hidupnya. إِذَا لَمْ يَكُنْ فِي بَيْتِ الْمَالِ مَالٌ4 – Jika Tidak Ada Harta di Baitul Mal
Lalu bagaimana jika kas baitul mal kosong? Tertulis:يَجِبُ كَفَنُ الْمَيِّتِ وَسَائِرُ مُؤَنِ تَجْهِيزِهِ عَلَى عَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ، إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ، وَلَمْ يُوجَدْ مَالٌ فِي بَيْتِ مَالِ الْمُسْلِمِينَ، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ؛ وَذَلِكَ قِيَاسًا عَلَى كُسْوَةِ الْحَيِّ.
Kain kafan mayit dan seluruh biaya pengurusannya wajib ditanggung oleh kaum muslimin secara umum, jika dia tidak memiliki orang yang wajib menafkahinya, dan kas Baitul Mal kaum muslimin juga sedang kosong. Ini adalah kesepakatan empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah; hal itu dianalogikan (qiyas) dengan pakaian orang yang masih hidup.
هَلْ يَجِبُ عَلَى الزَّوْجِ كَفَنُ امْرَأَتِهِ؟5 – Apakah Wajib atas Suami Mengkafani Istrinya?
Jika seorang istri meninggal dunia, apakah suami wajib mengafaninya? Tertulis:اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي: هَلْ يَجِبُ عَلَى الزَّوْجِ كَفَنُ امْرَأَتِهِ أَوْ لَا؛ عَلَى قَوْلَيْنِ:
Para ulama berbeda pendapat mengenai: Apakah wajib bagi suami mengkafani istrinya atau tidak; ada dua pendapat:
الْقَوْلُ الْأَوَّلُ: يَجِبُ عَلَى الزَّوْجِ كَفَنُ امْرَأَتِهِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْحَنَفِيَّةِ، وَالْأَصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ، وَقَوْلٌ لِلْمَالِكِيَّةِ، وَاخْتَارَهُ ابْنُ عُثَيْمِينَ.
Pendapat Pertama: Wajib bagi suami mengkafani istrinya. Ini adalah mazhab Hanafiyah, pendapat yang paling sahih menurut Syafi'iyah, salah satu pendapat Malikiyah, dan dipilih oleh Ibnu 'Utsaimin. Dalil: 1 – Dari Al-QuranBerdasarkan keumuman firman Allah ta’ala:
﴿ٱلرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ﴾
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka, (QS An-Nisa 34).ثَالِثًا: لِأَنَّ هَذَا مِنَ الْعِشْرَةِ بِالْمَعْرُوفِ، وَمِنَ الْمُكَافَأَةِ بِالْجَمِيلِ.
Ketiga: Karena ini termasuk bagian dari pergaulan yang baik (mu'asyarah bil ma'ruf), dan termasuk pembalasan kebaikan.رَابِعًا: لِأَنَّ عَلَائِقَ الزَّوْجِيَّةِ لَمْ تَنْقَطِعْ.
Keempat: Karena ikatan pernikahan belum terputus.الْقَوْلُ الثَّانِي: يَجِبُ كَفَنُهَا مِنْ مَالِهَا، وَهُوَ مَذْهَبُ الْمَالِكِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ، وَوَجْهٌ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ، وَهُوَ قَوْلُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ، وَقَوْلُ بَعْضِ السَّلَفِ، وَاخْتَارَهُ ابْنُ حَزْمٍ.
Pendapat Kedua: Wajib kafan istri diambil dari hartanya, dan ini adalah mazhab Malikiyah, Hanabilah, dan salah satu pendapat dalam mazhab Syafi'iyah. Ini juga merupakan pendapat Muhammad bin Al-Hasan dari kalangan Hanafiyah, serta pendapat sebagian ulama salaf, dan dipilih oleh Ibnu Hazm. Argumentasi:أَوَّلًا: لِأَنَّ النَّفَقَةَ وَالْكُسْوَةَ وَجَبَتَا فِي النِّكَاحِ لِلتَّمْكِينِ مِنَ الِاسْتِمْتَاعِ؛ وَلِهَذَا تَسْقُطُ بِالنُّشُوزِ وَالْبَيْنُونَةِ، وَقَدِ انْقَطَعَ ذَلِكَ بِالْمَوْتِ، فَأَشْبَهَتِ الْأَجْنَبِيَّةَ.
Pertama: Karena nafkah dan pakaian wajib dalam pernikahan untuk memungkinkan terjadinya hubungan suami istri; oleh karena itu, gugur kewajiban nafkah dan pakaian dengan nusyuz (kedurhakaan istri) dan bainunah (perceraian yang tidak bisa dirujuk), dan hal itu telah terputus dengan kematian, maka (kondisi istri) menyerupai wanita asing (yang bukan mahram).ثَانِيًا: أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْجَبَ عَلَى الزَّوْجِ لِزَوْجَتِهِ النَّفَقَةَ، وَالْكُسْوَةَ، وَالْإِسْكَانَ، وَلَا يُسَمَّى فِي اللُّغَةِ الَّتِي خَاطَبَنَا اللَّهُ تَعَالَى بِهَا الْكَفَنُ: كُسْوَةً، وَلَا الْقَبْرُ: إِسْكَانًا.
Kedua: Bahwa Allah Ta'ala mewajibkan kepada suami untuk istrinya nafkah, pakaian, dan tempat tinggal. Dan dalam bahasa yang digunakan Allah Ta'ala untuk berbicara kepada kita, kain kafan tidak disebut pakaian, dan kuburan tidak disebut tempat tinggal. Wallahua’lamDemikian pembahasan tentang hukum mengafani jenazah dan siapa yang wajib mengafani jenazah. Semoga bermanfaat!
Karangasem, 2 Juli 2025
Irfan Nugroho (Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima amal ibadahnya, serta mengabulkan doa-doanya. Aamiin)
Post a Comment for "Fikih Dorar: Hukum Mengafani Jenazah dan Siapa yang Wajib"