Pembaca rahimakumullah, apa yang dimaksud dengan cinta kepada Allah atau cinta dari Allah? Bagaimana mendapat cinta Allah? Apa tanda kalau seseorang dicintai oleh Allah? Berikut adalah terjemahan dari Syarah Bidayah fi Ilmi Raqaiq bab Buah dari Dua Kalimat Syahadat, bagian kedua. Semoga bermanfaat!
Pembaca rahimakumullah, Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahullah berkata:
الضَّابِطُ الأَوَّلُ: إِذَا أَيْقَنَ العبد بـ «لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ» أَثْمَرَتْ فِي قلبهِ
Pedoman 1: Ketika hamba meyakini "Laa ilaaha illallah" (Tidak ada Sesembahan yang Benar selain Allah), maka itu akan memiliki pengaruh di dalam hatinya.تَعْظِيمًا وَإِجْلَالًا عِنْدَ التَّفَكُّرِ فِي قُدْرَتِهِ سُبْحَانَهُ
1 – Mengagungkan dan memuliakan Allah saat merenungi kekuasaan-Nya.مَحَبَّةً وَإِقْبَالًا عِنْدَ التَّفَكُّرِ فِي نِعَمِهِ سُبْحَانَهُ
2 – Cinta dan ketertarikan saat merenungi berbagai nikmat-Nya.خوفًا، وَرَجَاءَ عِنْدَ التَّفَكَّرِ فِي عِقَابِهِ، وَثَوَابِهِ
3 – Takut dan harap saat merenungi hukuman dan pahala-Nya.Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani berkata:
Jika kita mengingat – semoga Allah merahmati kita semua – tentang azab, hari dikumpulkannya manusia, hisab, neraka, dan dahsyatnya hari kiamat, maka kita akan takut kepada Tuhan kita – Mahasuci Dia –, lalu kita akan menjauhi maksiat kepada-Nya.
Dan jika kita mengingat tentang pahala dan kenikmatan, surga, dan rahmat-Nya – Mahasuci Dia –, maka kita akan menambah ketaatan kepada-Nya dan berharap akan kenikmatan serta pahala yang ada di sisi-Nya.
Tetapi kita hendaknya menjadi hamba yang pertengahan antara takut dan harap; dengan melakukan ketaatan sembari berharap akan pahala, dan dengan menjauhi maksiat karena takut terhadap azab.
Allah ta’ala berfirman tentang harap:
نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (QS Al-Hijr: 49).
Allah ta’ala juga berfirman tentang takut:
وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ
dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih, (QS Al-Hijr: 50).Tiga Tingkatan Takut yang Terpuji
Pembaca rahimakumullah, takut ada yang terlarang dan takut yang terpuji. Takut yang terlarang adalah takut kepada makhluk dengan cara yang mendorong pelakunya untuk meninggalkan kewajiban, atau melakukan hal yang diharamkan karena takut kepadanya.Dalilnya adalah firman Allah ta'ala:
فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman, (QS Ali Imran: 175).
Takut yang terpuji adalah takut yang membuat seorang hamba menjauh dari maksiat, bukan takut yang membuat putus asa. Takut yang seperti ini ada tiga tingkatan:الدَّرَجَةُ الأُولَى: الخَوْفُ مِنَ الْعُقُوبَةِ
Tingkat Pertama: Takut dengan Hukuman Allah.Ini adalah tingkatan paling dasar, yaitu rasa takut karena mengingat siksa neraka, azab kubur, dan murka Allah atas dosa dan maksiat yang diperbuat. Allah ta’ala berfirman:
يُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
Allah memperingatkan kamu terhadap (siksa) diri-Nya. Dan hanya kepada Allah-lah kembali (mu), (QS. Āli ‘Imrān: 28)
Rasa takut ini penting sebagai motivasi untuk bertobat dan menjauhi maksiat. Ini adalah jenis rasa takut yang dialami oleh orang-orang awam dan permulaan para salik (penempuh jalan menuju Allah).
الثَّانِيَةُ: خَوْفُ الْمَكْرِ
Tingkatan Kedua: Takut dengan Makar Allah.Ini adalah ketakutan seorang hamba walaupun sudah beramal, ia tetap khawatir amalnya tidak diterima atau diakhiri dengan su’ul khatimah (akhir yang buruk). Ia khawatir akan istidraj, yaitu nikmat yang terus datang padahal dirinya semakin jauh dari Allah. Allah ta’ala berfirman:
أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Padahal tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi, (QS. Al-A‘rāf: 99)
Ini adalah ketakutan orang-orang saleh dan bertakwa, yang meskipun mereka sudah beramal banyak, namun mereka tetap merasa cemas akan kondisi akhir mereka.
الثَّالِثَةُ: هَيْبَةُ الْجَلَالِ لَدَى الْجَلَالِ
Tingkatan Ketiga: Takut dengan Keagungan dan Kebesaran Pemilik KebesaranIni adalah tingkatan tertinggi dari rasa takut, bukan semata karena takut siksa, tapi karena keagungan, kebesaran, dan kemuliaan Allah. Seorang hamba merasa kecil dan hina di hadapan Allah Yang Maha Mulia. Ini adalah rasa takutnya para nabi dan orang-orang arif (ahlul ma’rifah).
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama, (QS. Fāṭir: 28)
Kata "يَخْشَى" menunjukkan rasa takut karena ilmu dan pengagungan, bukan karena sekadar takut akan hukuman.Rasa Takut harus Disertai dengan Tiga Hal:
الأوَّلُ: العِلْمُ بِقُدْرَةِ اللهِ Pertama: mengetahui kekuasaan Allah.Artinya, seorang hamba harus yakin dan sadar bahwa Allah memiliki kekuasaan yang mutlak, bisa menghukum siapa pun yang dikehendaki-Nya, dan tidak ada yang bisa lari dari-Nya. Allah ta’ala berfirman:
وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, (QS. Al-Baqarah: 284)
Jika seseorang menyadari betapa besar kekuasaan Allah, maka ia akan takut berbuat dosa, karena tahu bahwa Allah mampu menyiksanya kapan saja, di dunia maupun akhirat.
الثَّانِي: العِلْمُ بِكَوْنِهِ عَالِمًا
Kedua: mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui.Ini artinya, seseorang harus sadar bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, yang di dalam hati, maupun yang dikerjakan oleh anggota tubuh. Allah ta’ala berfirman:
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati, (QS. Ghāfir: 19).
Rasa takut yang benar akan muncul ketika seseorang yakin bahwa Allah melihat dan mengetahui segala perbuatannya, bahkan ketika tidak ada manusia yang tahu.
الثَّالِثُ: العِلْمُ بِكَوْنِهِ حَكِيمًا
Ketiga: mengetahui bahwa Allah Maha Bijaksana.Ini artinya, seseorang harus memahami bahwa Allah tidak menzhalimi hamba-Nya, dan semua keputusan-Nya adalah adil dan penuh hikmah. Jika Allah menghukum, maka itu adalah karena kesalahan dan dosa hamba tersebut. Allah ta’ala berfirman:
وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, (QS. Al-Ḥashr: 1).
Rasa takut ini membuat hamba tidak menyalahkan takdir atau merasa Allah tidak adil, karena ia tahu bahwa semua yang Allah lakukan adalah sempurna, adil, dan bijaksana. Bersambung
Post a Comment for "Bidayah fi Ilmi Raqaiq: Takut dan Harap kepada Allah"