zmedia

Bidayah fi Ilmi Raqaiq: Cinta kepada Allah

Pembaca rahimakumullah, apa yang dimaksud dengan cinta kepada Allah atau cinta dari Allah? Bagaimana mendapat cinta Allah? Apa tanda kalau seseorang dicintai oleh Allah? Berikut adalah terjemahan dari Syarah Bidayah fi Ilmi Raqaiq bab Buah dari Dua Kalimat Syahadat, bagian kedua. Semoga bermanfaat!

Pembaca rahimakumullah, Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahullah berkata:

الضَّابِطُ الأَوَّلُ: إِذَا أَيْقَنَ العبد بـ «لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ» أَثْمَرَتْ فِي قلبهِ

Pedoman 1: Ketika hamba meyakini "Laa ilaaha illallah" (Tidak ada Sesembahan yang Benar selain Allah), maka itu akan memiliki pengaruh di dalam hatinya.

تَعْظِيمًا وَإِجْلَالًا عِنْدَ التَّفَكُّرِ فِي قُدْرَتِهِ سُبْحَانَهُ

1 – Mengagungkan dan memuliakan Allah saat merenungi kekuasaan-Nya.

مَحَبَّةً وَإِقْبَالًا عِنْدَ التَّفَكُّرِ فِي نِعَمِهِ سُبْحَانَهُ

2 – Cinta dan ketertarikan saat merenungi berbagai nikmat-Nya.

Apa maknanya?

Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani berkata:

Jika kita merenungi nikmat-nikmat Pemberi nikmat yang mulia, Maha Suci Dia, dan kita memperhatikannya, maka akan bertambah cinta kita kepada-Nya, dan kita akan semakin mendekat kepada-Nya.

Dan apabila seseorang merenungkan nikmat-nikmat Allah kepadanya, maka hal itu akan mewariskan rasa cinta kepada Pemberi nikmat Yang Maha Perkasa dan Maha Agung, serta menghadap kepada-Nya, memperbanyak mengingat-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, dan memperbanyak ibadah kepada-Nya, Maha Suci dan Maha Tinggi Dia.

Apa Makna Cinta kepada Allah?

Apa makna cinta kepada Allah? Syaikh Khalid Mahmud al-Juhani berkata:

المَحَبَّةُ هِيَ تَوْحِيدُ المَحْبُوبِ بِالمَحَبَّةِ، وَذَلِكَ بِسُقُوطِ كُلِّ مَحَبَّةٍ فِي القَلْبِ إِلَّا مَحَبَّةَ الحَبِيبِ،

Cinta adalah: 1 – mengesakan yang dicintai dengan cinta, yaitu dengan gugurnya semua cinta di dalam hati kecuali cinta kepada Sang Kekasih (Allah), dan

وَإِيثَارِ المَحْبُوبِ عَلَى جَمِيعِ المَصْحُوبِ،

2 – Mengutamakan yang dicintai di atas semua yang menyertainya, serta

وَمُوَافَقَةِ الحَبِيبِ فِي المَشْهَدِ وَالمَغِيبِ،

3 – Menuruti perintah Sang Kekasih baik di kala hadir maupun tidak, dan

وَأَنْ تَهَبَ كُلَّكَ لِمَنْ أَحْبَبْتَ، فَلَا يَبْقَى لَكَ مِنْكَ شَيْءٌ.

4 – Menyerahkan seluruh diri kepada Yang Dicintai, sehingga tidak ada yang ruang untuk menuruti ego pribadi kita.

Apa Bukti Seseorang Mencintai Allah?

Apa bukti seseorang mencintai Allah? Ada empat keadaan yang merupakan bukti bahwa seseorang mencintai Allah:

أَحَدُهَا: عِنْدَ أَخْذِ الْإِنْسَانِ مَضْجَعَهُ

1 – Ketika seseorang merebahkan tubuhnya. Lalu, pancaindera dan anggota tubuhnya kosong dari berbagai kesibukan, dan hatinya berkumpul pada apa yang ia cintai. Maka ia tidak tidur kecuali dengan mengingat orang yang dicintainya dan hatinya tersibukkan olehnya.

لثَّانِي: عِنْدَ انْتِبَاهِهِ مِنَ النَّوْمِ

2 – Ketika bangun dari tidur. Maka, hal pertama yang tampak dalam hatinya adalah ingatan kepada orang yang dicintainya. Sebab apabila ia terjaga dan ruhnya kembali kepadanya, maka hal pertama yang ia ingat adalah orang yang dicintainya, yang sebelumnya menghilang darinya saat tidur.

الثَّالِثُ: عِنْدَ الصَّلَاةِ، فَإِنَّهَا مِيزَانُ الْإِيمَانِ

3 – Ketika salat, karena salat adalah timbangan iman. Dengan salat, diukur iman seseorang dan seberapa dekatnya ia kepada Allah. Salat adalah tempat bermunajat dan mendekatkan diri. Tidak ada yang lebih dicintai oleh mata seorang pecinta dan tidak ada yang lebih nikmat baginya selain salat—jika ia benar-benar mencintai.

الرَّابِعُ: عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْأَهْوَالِ

4 – Ketika dalam keadaan genting dan mengerikan. Maka hati pada kondisi ini tidak mengingat kecuali hal yang paling dicintainya. Dan ia tidak akan lari kecuali kepada yang paling dicintainya.

Bagaimana Mewujudkan Cinta yang Kuat kepada Allah?

Cinta kepada Allah adalah suatu sifat yang wajib ada pada diri seorang muslim. Akan tetapi, hanya sedikit yang memiliki cinta yang kuat kepada Allah. Lalu, bagaimana mewujudkan cinta yang kuat kepada Allah?

أَحَدُهُمَا: قَطْعُ عَلَائِقِ الدُّنْيَا، وَإِخْرَاجُ حُبِّ غَيْرِ اللَّهِ مِنَ القَلْبِ، وَسَبِيلُ قَطْعِ الدُّنْيَا عَنِ القَلْبِ سُلُوكُ طَرِيقِ الزُّهْدِ وَالصَّبْرِ

Pertama: Memutuskan keterikatan dunia, dan mengeluarkan dari hati seluruh rasa cinta kepada selain Allah. Dan cara memutuskan dunia dari hati adalah dengan menempuh jalan zuhud dan kesabaran.

الثَّانِي: قُوَّةُ مَعْرِفَةِ اللَّهِ تَعَالَى، فَإِذَا حَصَلَتِ المَعْرِفَةُ تَبِعَتْهَا المَحَبَّةُ، ثُمَّ تَبِعَهَا العَمَلُ.

Kedua: Makrifat (mengenal) Allah Ta'ala. Apabila makrifat telah terwujud, maka cinta akan mengikutinya, kemudian amal pun akan mengikutinya. Dan itu semua terwujud dengan mengenal Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya, serta terus-menerus mengingat-Nya, dan mengenal keagungan-Nya, nikmat-nikmat-Nya, dan kebaikan-Nya.

Bagaimana Menjadi Orang yang Dicintai Allah?

Bagaimana menjadi hamba yang dicintai Allah? Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani berkata:

التَّوَّابُونَ وَالمُتَطَهِّرُونَ

1 & 2 - Orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang membersihkan diri. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri, [QS Baqarah: 222].

الصَّابِرُونَ

3 – Orang-orang yang sabar. Allah ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar, [Ali Imran: 146].

المُحْسِنُونَ

4 – Orang yang Berbuat Ihsan. Allah ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan, [QSAli Imran: 134].

5 – Orang-orang yang bertawakal. Allah Subhanahu berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal, [QS  Ali Imran: 159].

المُتَّقُونَ

6 – Orang-orang yang Bertakwa. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ المُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa, [QS At-Taubah: 4].

المُدَاوِمُونَ عَلَى طَاعَةٍ وَإِنْ قَلَّتْ

7 – Orang-orang yang senantiasa taat meskipun sedikit. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُوِّمَ عَلَيْهِ، وَإِنْ قَلَّ

Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit, [Sahih Bukhari: 1970. Sahih Muslim:  782. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu].

Apa Tanda Seseorang Dicintai Allah?

Apa tanda seseorang dicintai Allah? Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani berkata:

أَنْ يُقَرِّبَهُ اللهُ مِنْ نَفْسِهِ، وَيُحِبَّ إِلَيْهِ الْإِيمَانَ بِهِ، وَمَا يُقَرِّبُ إِلَيْهِ، وَيُيَسِّرَ لَهُ طَاعَتَهُ.

1 – Allah mendekatkannya kepada diri-Nya, maksudnya dia mencintai iman kepada-Nya, serta mencintai segala hal yang bisa membuatnya dekat kepada-Nya, dan memudahkannya dalam ketaatan.

أَنْ يُكْرِهَ إِلَيْهِ الْمَعَاصِيَ، وَيَصْرِفَهَا عَنْهُ، وَيَجْعَلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَا يَقْطَعُهُ عَنْهُ.

2 – Allah menjadikan dia benci terhadap kemaksiatan, menjauhkannya dari maksiat itu, serta menjadikan penghalang antara dia dan segala sesuatu yang memutus hubungannya dengan Allah.

أَنْ يُنْظِرَ إِلَيْهِ بِمَا يُبْعِدُهُ مِنَ اللهِ، كَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ:

3 – Allah memandang kepadanya dengan pandangan yang menjauhkannya dari hal-hal yang menjauhkannya dari Allah, sebagaimana firman Allah:

وَلَكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ، وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ، أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ، فَضْلًا مِّنَ اللهِ وَنِعْمَةً، وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikannya indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk, sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, [QS. Al-Ḥujurāt: 7–8].

أَنْ يُبْتَلِيهِ اللهُ فَيَصْبِرُ وَيَرْضَى

4 – Allah mengujinya, lalu ia bersabar dan ridha. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ.

Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang terbaik, lalu yang terbaik berikutnya. Maka seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kokoh, maka ujiannya pun berat. Jika agamanya lemah, maka ia diuji sesuai kadar agamanya. Dan ujian itu akan terus menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di muka bumi tanpa dosa sedikit pun,  (HR. Tirmiżī).

أَنْ يَرْزُقَهُ اللهُ، وَشُكْرًا عَلَى هَذِهِ النِّعَمِ حَتَّى يَكُونَ حَمْدًا شَكُورًا.

5 – Allah memberinya rezeki, dan dia bersyukur atas nikmat tersebut, hingga menjadi hamba yang banyak memuji dan bersyukur. Wallahua’lam

Demikian penjelasan buah kedua dari dua kalimat syahadat yang kami terjemahkan dari Syarah Bidayah fi Ilmi Raqaiq. Semoga bermanfaat!

Karangasem, 10 Juli 2025

Irfan Nugroho (Semoga Allah menjadikannya termasuk hamba yang dicintaiNya. Aamiin)

 

Post a Comment for "Bidayah fi Ilmi Raqaiq: Cinta kepada Allah"