zmedia

Arbain Nawawi 16: Jangan Marah

Pembaca rahimakumullah, Rasul ﷺ melarang kita marah. Apa dalilnya? Berikut adalah terjemahan Arbain Nawawi hadis ke-16 dengan penjelasan dari Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani hafizahullah di dalam Tuhfatus Saniyah. Semoga bermanfaat!

MATAN HADIS

Pembaca rahimakumullah, Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang berkata:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: أَوْصِنِي

Bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ, “Wasiati saya.”

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَغْضَبْ

Jangan marah.

Kemudian lelaki tadi mengulangi sekali lagi, dan Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَغْضَبْ

Jangan marah, (Sahih Bukhari: 6116).

PENJELASAN HADIS

Berikut adalah penjelasan dari beberapa kata di dalam hadis jangan marah ini:

1 – Perkataan lelaki (أَوْصِنِي) atau yang artinya, “Wasiati saya,” maksudnya:

 أَيْ وَصِيَّةٌ وَجِيزَةٌ جَامِعَةٌ لِخِصَالِ الْخَيْرِ

Wasiat yang ringkas dan menyeluruh, supaya saya bisa mendapat kebaikan.

2 – Sabda Nabi (لَا تَغْضَبْ) atau yang artinya, “Jangan marah,” maksudnya:

 أَيْ لَا تَتَعَرَّضْ لِمَا يَجْلِبُ الْغَضَبَ، وَلَا تَفْعَلْ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ؛ لِأَنَّ الْغَضَبَ جَمْرَةٌ يُلْقِيهَا الشَّيْطَانُ فِي قَلْبِ ابْنِ آدَمَ فَيُغْلِي الْقَلْبَ

Janganlah engkau mendekati hal-hal yang dapat mendatangkan kemarahan, dan janganlah engkau melakukan apa yang diperintahkan oleh setan; karena amarah itu adalah bara api yang dilemparkan setan ke dalam hati anak Adam sehingga hati itu bergolak.

PELAJARAN DARI HADIS JANGAN MARAH

Pelajaran yang bisa diambil dari hadis jangan marah ini di antaranya:

١ - مَشْرُوعِيَّةُ طَلَبِ الْوَصِيَّةِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ، وَالْفَضْلِ.

1 – Disyariatkannya meminta nasihat dari orang yang berilmu dan berkeutamaan.

٢ - التَّحْذِيرُ مِنَ الْغَضَبِ فَإِنَّهُ جِمَاعُ الشَّرِّ، وَالتَّحَرُّزُ مِنْهُ جِمَاعُ الْخَيْرِ.

2 – Peringatan dari bahaya marah karena ia adalah sumber segala keburukan, dan menjaga diri darinya adalah sumber segala kebaikan.

٣ - يَنْبَغِي فِي حَالِ النَّصِيحَةِ اخْتِيَارُ الْكَلِمَاتِ الْمُخْتَصَرَةِ الَّتِي تُنَاسِبُ الْحَالَ.

3 – Seharusnya dalam memberikan nasihat memilih kata-kata yang ringkas yang sesuai dengan keadaan.

٤ - حِرْصُ الصَّحَابَةِ عَلَى السُّؤَالِ، وَالْفَائِدَةِ.

4 – Bersemangatnya para sahabat dalam bertanya dan mencari faidah.

CATATAN TAMBAHAN

Ada dua catatan tambahan dari hadis jangan marah ini: كَيْفِيَّةُ عِلَاجِ الْغَضَبِ:

A – Cara meredam marah:

مَنْ جَاءَهُ الْغَضَبُ عَلَيْهِ بِأُمُورٍ:

Bagi siapa saja yang ditimpa kemarahan, hendaklah melakukan hal-hal berikut:

١ - الِاسْتِعَاذَةُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.

1 – Memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Dari Sulaiman bin Surd radhiyallahu 'anhu, dia berkata:

اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ ، فَجَعَلَ أَحَدُهُمَا تَحْمَرُّ عَيْنَاهُ، وَتَنْتَفِخُ أَوْدَاجُهُ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : إِنِّي لَأَعْرِفُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ الَّذِي يَجِدُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Dua orang saling mencela di hadapan Nabi ﷺ, lalu salah seorang di antara mereka memerah matanya dan urat lehernya menegang. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat, jika dia mengatakannya, niscaya apa yang dia rasakan akan hilang: Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk," (Sahih Bukhari: 3282. Sahih Muslim: 2610).

٢- السُّكُوتُ.

2 – Diam.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلِّمُوا، وَيَسِّرُوا، وَلَا تُعَسِّرُوا، وَإِذَا غَضِبْتَ فَاسْكُتْ، وَإِذَا غَضِبْتَ فَاسْكُتْ، وَإِذَا غَضِبْتَ فَاسْكُتْ

Ajarkanlah, mudahkanlah, dan janganlah mempersulit. Dan jika kamu marah, diamlah. Dan jika kamu marah, diamlah. Dan jika kamu marah, diamlah, (Musnad Ahmad: 2556).

٣- تَغْيِيرُ الْهَيْئَةِ، فَمَنْ كَانَ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ، وَمَنْ كَانَ جَالِسًا فَلْيَضْطَجِعْ.

3 – Mengubah posisi:

Barang siapa yang sedang berdiri, hendaklah duduk. Dan barang siapa yang sedang duduk, hendaklah berbaring.

Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

Apabila salah seorang di antara kalian marah saat berdiri, hendaklah dia duduk. Jika kemarahannya reda (dengan duduk), (maka itu baik), jika tidak, hendaklah dia berbaring, (Musnad Ahmad: 21348. Sunan Abu Dawud: 4782).

٤- مَعْرِفَةُ ثَوَابِ مَنْ كَتَمَ غَضَبَهُ.

4 – Mengetahui pahala bagi orang yang menahan marah

Allah Ta'ala berfirman:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. [QS Ali Imran: 134].

Dan dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu yang berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ، قَالَ: «لَا تَغْضَبْ، وَلَكَ الْجَنَّةُ

Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke surga." Beliau bersabda: "Jangan marah, maka bagimu surga,” (Al-Mu’jam Al-Ausath: 2353).

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah, (Sahih Bukhari: 6114. Sahih Muslim: 2609).

Dan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا تَجَرَّعَ عَبْدٌ جَرْعَةً أَفْضَلَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ جَرْعَةِ غَيْظٍ يَكْظِمُهَا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى

Tidaklah seorang hamba menelan tegukan yang lebih utama di sisi Allah Azza wa Jalla daripada tegukan kemarahan yang dia tahan karena mencari keridaan Allah Ta'ala, (Musnad Ahmad: 6114).

مَتَى يَكُونُ الْغَضَبُ مَحْمُودًا؟

B – Kapan kemarahan terpuji?

يَكُونُ الْغَضَبُ مَحْمُودًا إِذَا انْتُهِكَتْ مَحَارِمُ اللَّهِ.

Kemarahan menjadi terpuji apabila larangan-larangan Allah dilanggar.

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha yang berkata:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: «مَا خَيَّرَ النَّبِيُّ ﷺ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَأْثَمْ، فَإِذَا كَانَ الْإِثْمُ كَانَ أَبْعَدَهُمَا مِنْهُ، وَاللَّهِ مَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ قَطُّ حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ، فَيَنْتَقِمُ لِلَّهِ

Tidaklah Nabi ﷺ diberi pilihan antara dua perkara melainkan beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya, selama itu tidak mengandung dosa. Apabila mengandung dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauhi dosa tersebut. Demi Allah, beliau tidak pernah membalas dendam untuk dirinya sendiri terhadap sesuatu pun yang menimpanya, sampai larangan-larangan Allah dilanggar, maka beliau membalas dendam karena Allah, (Sahih Bukhari: 6786). Wallahua’lam

Demikian penjelasan hadis 16 Arbain Nawawi tentang Jangan Marah. Semoga bermanfaat!

Karangasem, 3 Juli 2025

Irfan Nugroho (Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima amal ibadahnya, serta mengabulkan doa-doanya. Aamiin)

Post a Comment for "Arbain Nawawi 16: Jangan Marah"