zmedia

Generasi Qurani Harapan Negeri

Pembaca rahimakumullah, berikut adalah naskah tausiyah perpisahan yang saya sampaikan di TK Islam At-Taqwa Pojok Kidul, Desa Baran, Kec. Nguter Sukoharjo dengan tema Generasi Qurani Harapan Negeri. Semoga bermanfaat!

Pendahuluan: Kisah Ibnu Abza, dari Budak Menjadi Gubernur

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Naufal bin Abdul Harits – gubernur Mekah kala itu, ditugaskan menemui Khalifah Umar di daerah Usfan. Sebelum berangkat, Naufal bin Abdul Harist menunjuk Abdurrahman bin Abza sebagai gubernur sementara di tanah suci Makkah Al-Mukaramah, yang kala itu masih dihuni oleh tokoh-tokoh terkemuka dari suku Quraisy.

Siapa Abdurrahman bin Abza? Beliau adalah seorang Maula, mantan budak Naufal yang telah dimerdekakan. Namun, yang membuatnya istimewa bukan keturunannya, melainkan ilmunya, khususnya dalam Al-Qur’an dan ilmu faraidh (waris).

Saat Umar menanyakan, “Siapa yang kau tunjuk menggantikanmu sebagai pemimpin bagi penduduk lembah (Mekah dan Taif)?” Naufal menjawab, “Ibnu Abza.” Umar terkejut, “Siapa Ibnu Abza?” Naufal menjawab, “Salah seorang maula kami.”

Umar pun keheranan:

فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى

Kamu mengangkat seorang maula menjadi pemimpin bagi mereka?

Lantas Nafi pun berkata:

 إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ

Sungguh, Ibnu Abza itu seorang Qari Kitabullah Azza wa Jalla. Dan sungguh, dia adalah orang yang pandai dalam ilmu Faraidh (waris).

Umar bin Khattab pun berkata:

 أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَالَ

Ketahuilah! Sungguh, Nabi kalian ﷺ pernah bersabda:

 إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

Latin: Inna Allaha yarfa‘u bihadzal kitabi aqwaman. wa yada‘u bihī ākhārīn.

Arti: Sungguh, Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab ini (Al-Quran), dan merendahkan kaum yang lain, juga dengan Kitab ini (Al-Quran), (Sahih Muslim: 817).

Pelajaran dari Kisah

Ada beberapa poin pelajaran yang bisa diambil dari hadis/kisah di atas:

1. Al-Qur’an Meninggikan Derajat Individu di Dunia

Abdurrahman bin Abza yang dahulu budak, tetapi karena keilmuannya dalam Al-Qur’an, dia menjadi pemimpin di kota suci Makkah.

Selain Abdurrahman bin Abza, ada pula Salim Maula Abi Hudzaifah. Tidak diketahui siapa ayah dan ibunya. Ketika kecil, dia dijual di pasar budak, yang kemudian dibeli oleh Abu Hudzaifah, yang kemudian dimerdekakan karena baiknya akhlak beliau, juga karena bagusnya bacaan dan hafalan beliau, sampai-sampai Salim yang mantan budak ini dijadikan imam salat di Masjid Quba, sampai Rasulullah hadir di kota Madinah.

Jadi, dengan Al-Quran, Allah meninggikan derajat individu, sebagaimana hadis riwayat Imam Bukhari dari Usman bin Affan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَن تَعَلَّمَ القُرْآنَ وعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, (Sahih Bukhari: 5027).

2. Al-Qur’an Meninggikan Derajat Suatu Negeri di Dunia

Pelajaran kedua dari hadis ini adalah bahwa dengan Al-Quran, Allah meninggikan derajat suatu negeri. Sejarah mencatat bahwa bangsa Arab sebelum datangnya Al-Qur’an adalah bangsa ummi, terpecah-belah, dan tertinggal. Namun setelah datangnya Islam dan Al-Qur’an, mereka memimpin peradaban dunia.

Perhatikan, Mekah menjadi mulia salah satunya karena Al-Quran turun di sana, sehingga terdapat surat-surat Makiyah. Madinah menjadi mulia, salah satunya, karena Al-Quran turun di sana, sehingga terdapat surat-surat Madaniyah.

Juga, neger-negeri yang dipimpin oleh para Khulafaur Rasyidin menjadi mulia karena menjadikan Al-Quran sebagai dustur, undang-undang di negeri-negeri tersebut.

Perhatikan firman Allah ﷻ:

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ | وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَ ۖ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ

Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu peringatan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab, (QS Az-Zukhruf: 43-44). Menafsirkan kata zikrun atau peringatan di dalam ayat ini, Imam At-Tabari berkata:

إِنَّ هَذَا ٱلْقُرْآنَ ٱلَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ ٱلَّذِي أَمَرْنَاكَ أَنْ تَسْتَمْسِكَ بِهِ لَشَرَفٌۭ لَكَ وَلِقَوْمِكَ

Sesungguhnya Al-Qur'an yang telah diwahyukan kepadamu, wahai Muhammad, yang Kami perintahkan agar engkau berpegang teguh padanya, adalah kemuliaan bagi dirimu dan kaummu.

Al-Qur’an Meninggikan Derajat Individu di Akhirat

Belum cukup dengan kemuliaan dunia, Al-Qur’an juga memuliakan orang yang bersamanya di akhirat kelak.

1 - Syafaat Al-Qur’an

Di antara keutamaan Al-Quran di akhirat adalah apa yang disebutkan oleh Imam Muslim dari Abu Umamah bahwa Nabi ﷺ bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Bacalah Al-Quran, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat kepada para pembacanya, (Sahih Bukhari: 804).

2 - Pahala Mahkota dan Derajat Surga

Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu Anhuma bahwa Nabi ﷺ bersabda:

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ:

Akan dikatakan kepada orang yang bersahabat dengan Al-Qur'an,

اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا:

Bacalah (bacalah atau hafalkanlah), dan naiklah (perbanyak bacaanmu, atau perbanyak hafalanmu), dan tartillah (bacalah/hafalkanlah dengan perlahan dan benar), sebagaimana dulu engkau membacanya dengan tartil di dunia.

فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Karena tingginya levelmu di surga sesuai dengan jumlah ayat yang engkau baca/hafal, (Sunan Abu Dawud: 1464).

Bagaimana Seseorang Menjadi Mulia karena Al-Qur’an?

Pembaca rahimakumullah, seseorang menjadi mulia karena Al-Quran. Lalu, bagaimana caranya? Perhatikan hadis riwayat Imam Ibnu Majah dengan sanad yang sahih dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنْ النَّاسِ

Sungguh, Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia.

Lantas para sahabat bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ

Ya Rasulullah, siapa mereka? Kemudian Nabi ﷺ bersabda:

هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

Mereka adalah Ahlul Quran. Mereka adalah Ahlu Allah (keluarga Allah) dan hamba-hamba pilihanNya, (Musnad Ahmad: 12279. Sunan Ibnu Majah: 215).

Menjadi mulia dengan Al-Quran adalah dengan menjadi Ahlul Quran, menjadi generasi Qurani. Bagaimana caranya?

1 - Beriman kepada Al-Quran

Cara pertama untuk menjadi Generasi Qurani adalah dengan beriman kepada Al-Quran. Perhatikan firman Allah ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya, (QS An-Nisa: 136).

2 – Mendengarkan Al-Qur’an

Di antara cara agar seseorang mulia dengan Al-Quran adalah dengan membiasakan diri mendengar Al-Quran. Allah ﷻ berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Jika Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat, (QS. Al-A’raf: 204)

Sebaliknya, Allah ﷻ berfirman:

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ ٱسْتَطَعْتَ مِنْهُم بِصَوْتِكَ

Hasunglah siapa saja yang kamu bisa dari mereka dengan suaramu, (QS. Al-Isra: 64)

Imam Mujahid menafsirkan “suara setan” di sini termasuk musik dan suara yang melalaikan, maka gantilah musik dengan suara Qur’an.

3 – Belajar Membaca

Di antara makna generasi Qurani adalah mereka yang belajar membaca Al-Quran. Imam Bukhari dari Usman bin Affan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَن تَعَلَّمَ القُرْآنَ وعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, (Sahih Bukhari: 5027)

4 – Membaca Qur’an Meski Belum Paham

Imam At-Tirmizi meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh, (Sunan Tirmizi: 2910).

5 – Membaca dengan Tadabbur (Pemahaman)

Di antara makna generasi Qurani adalah mereka yang membaca Quran dengan tadabur. Allah ﷻ berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran, (QS Shad: 29).

6 – Mengamalkan Kandungan Al-Qur’an

Inilah wujud paling penting dalam interaksi dengan Al-Quran, yaitu mengamalkannya. Allah ﷻ berfirman:

اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya), (QS Al-A’raf: 3).

7 – Berakhlak dengan Al-Qur’an

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Sa’ad bin Hisyam yang berkata:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ أَخْبِرِينِي عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

Saya bertanya kepada Aisyah, “Beri tahu saya tentang akhlak Rasulullah ﷺ.” Maka Aisyah berkata, “Akhlak beliau adalah Al-Quran, (Musnad Ahmad: 25302).

Sinergi untuk Membentuk Generasi Qurani

Agar seorang anak dapat menjalani enam hal di atas, harus ada kerja sama yang kuat dari empat pilar: 1) Rumah, 2) Sekolah, 3) Biah (Lingkungan), dan 4) Pemerintah.

Oleh karena itu, setelah anak-anak kita lulus dari TK Islam At-Taqwa, pastikan:

✅ Mereka terus mendapatkan bimbingan Quran di rumah dari orang tua,

✅ Mereka melanjutkan ke sekolah-sekolah yang guru dan kurikulumnya Qurani,

✅ Mereka diajari untuk memilih teman yang baik dan Qurani, di lingkungan sekolah, tempat kerja, maupun sekitar rumah,

✅ Doakan agar negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang Qurani, serta dipenuhi oleh aparat dan birokrat yang mengamalkan Al-Qur’an dalam tugas dan hidup mereka. Wallahua’lam

Karangasem, 15 Juni 2025

Irfan Nugroho (Semoga Allah jadikan dirinya, keluarganya, dan anak turunnya ahli Quran. Aamiin)

Post a Comment for "Generasi Qurani Harapan Negeri"