zmedia

Hadist Allah Mengangkat Derajat Suatu Kaum dengan Al-Quran

Pembaca rahimakumullah, hadis Inna Allaha Yarfa‘u Bihadzal Kitabi Aqwaman atau “Sungguh, Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Quran) memiliki banyak pelajaran. Berikut penjelasan dan faidah yang bisa diambil darinya.

MATAN HADIS

Pembaca rahimakumullah, Imam Muslim meriwayatkan dari Amir bin Watsilah (Abu Thufail – w. 110 H) Radhiyallahu Anhu yang berkata:

أَنَّ نَافِعَ بْنَ عَبْدِ الْحَارِثِ لَقِيَ عُمَرَ بِعُسْفَانَ وَكَانَ عُمَرُ يَسْتَعْمِلُهُ عَلَى مَكَّةَ فَقَالَ

Bahwa Nafi bin Abdul Harist[1] menemui Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu di daerah Usfan.[2] Saat itu, Umar telah mengangkat Nafi sebagai Gubernur di Mekah.[3] Kemudian, Umar berkata:

مَنْ اسْتَعْمَلْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِي فَقَالَ

Siapa yang kamu tunjuk sebagai pemimpin sementara[4] bagi penduduk lembah?[5] Maka Nafi berkata:

ابْنَ أَبْزَى

Ibnu Abza.[6]

Lantas Umar bertanya:

وَمَنْ ابْنُ أَبْزَى

Siapa itu Ibnu Abza?

Nafi menjawab:

مَوْلًى مِنْ مَوَالِينَا

Salah seorang Maula kami.

Umar pun keheranan dan berkata:

فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى

Kenapa kamu mengangkat seorang Maula bagi mereka (penduduk Mekah)?[7]

Lantas Nafi pun berkata:

إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ

Sungguh, Ibnu Abza itu seorang Qari Kitabullah Azza wa Jalla. Dan sungguh, dia adalah orang yang pandai dalam ilmu Faraidh (waris).[8]

Umar bin Khattab pun berkata:

أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَالَ

Ketahuilah! Sungguh, Nabi kalian ﷺ pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

Latin: Inna Allaha yarfa‘u bihadzal kitabi aqwaman. wa yada‘u bihī ākhārīn. Arti: Sungguh, Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab ini (Al-Quran),[9] dan merendahkan kaum yang lain, juga dengan Kitab ini (Al-Quran),[10] (Sahih Muslim: 817).

PELAJARAN DARI HADIS

Di antara pelajaran yang bisa diambil dari hadis ini adalah:

وَفِيهِ: أَنَّ العِلْمَ وَالقُرْآنَ يَجْبُرَانِ نَقْصَ النَّسَبِ.

1 – Dan di dalamnya juga terdapat (pelajaran) bahwa ilmu dan Al-Quran menutupi kekurangan dalam nasab (keturunan).

الحَثُّ عَلَى الاِهْتِمَامِ بِكِتَابِ اللهِ تِلَاوَةً وَحِفْظًا وَفَهْمًا وَعَمَلًا.

2 – Anjuran untuk memerhatikan Kitab Allah dengan membacanya, menghafalnya, memahaminya, dan mengamalkannya.

الأُمَّةُ المُسْلِمَةُ عِزُّهَا وَشَرَفُهَا بِتَمَسُّكِهَا بِدِينِهَا، وَالقِيَامِ بِحَقِّ كِتَابِهَا.

3 – Kemuliaan dan kehormatan umat Islam terletak pada berpegang teguhnya mereka kepada agama mereka, dan dalam menunaikan hak terhadap Kitab (Al-Qur’an) mereka.

وَفِيهِ: فَضِيلَةُ العِلْمِ.

4 – Dan di dalamnya terdapat keutamaan ilmu.

العِلْمُ يَرْفَعُ صَاحِبَهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، مَا لَا يَرْفَعُهُ المَالُ وَلَا المُلْكُ وَلَا غَيْرُهُمَا.

5 – Ilmu mengangkat derajat pemiliknya di dunia dan akhirat, tidak seperti harta, kekuasaan, dan lainnya (yang tidak bisa mengangkat seperti ilmu).

وَفِيهِ: فَضْلُ عِلْمِ المَوَارِيثِ وَشَرَفُهُ؛ فَإِنَّهُ العِلْمُ الَّذِي أَعْلَى اللهُ تَعَالَى قَدْرَهُ، حَيْثُ تَوَلَّى بِنَفْسِهِ قِسْمَتَهُ فِي كِتَابِهِ العَزِيزِ، وَلَمْ يَكِلْهُ إِلَى أَحَدٍ.

6 – Dan di dalamnya terdapat keutamaan ilmu waris dan kemuliaannya; karena ilmu tersebut adalah ilmu yang Allah tinggikan kedudukannya. Allah sendiri yang membagi-baginya di dalam kitabNya yang mulia. Allah tidak menyerahkannya kepada siapa pun.

وَفِي الحَديثِ: تَوْلِيَةُ المَوْلَى عَلَى الأَحْرَارِ إِذَا كَانَ فَقِيهًا عَالِمًا بِالفَرَائِضِ.

7 – Dalam hadis ini terdapat (dalil tentang) bolehnya mengangkat seorang Maula (budak yang dimerdekakan) untuk memimpin orang-orang merdeka jika dia adalah orang yang fakih dan pakar di bidang ilmu faraid.

وَفِيهِ: مَا كَانَ عَلَيْهِ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مِنْ مُتَابَعَةِ أُمَرَائِهِ فِي سِيَاسَتِهِمْ لِرَعِيَّتِهِمْ؛ لِئَلَّا يُضَيِّعُوا حُقُوقَهُمْ، فَيَكُونَ هُوَ المَسْؤُولَ عَنْ ذَلِكَ؛ لِأَنَّهُ الرَّاعِي الأَوَّلُ.

8 – Dan di dalamnya terdapat (pelajaran tentang) bagaimana perhatian Umar Radhiyallahu Anhu dalam mengikuti (mengawasi) para pemimpinnya dalam mengelola rakyatnya, agar mereka tidak menyia-nyiakan hak rakyat, karena pada akhirnya dialah yang bertanggung jawab atas hal itu; sebab dialah pemimpin utama (yang pertama). Wallahua’lam

Demikian penjelasan dan pelajaran dari hadis Inna Allaha Yarfa‘u Bihadzal Kitabi Aqwaman (Sungguh, Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab ini [Al-Quran]). Semoga bermanfaat!

Karangasem, 14 Juni 2025

Irfan Nugroho (Semoga Allah jadikan dirinya, keluarganya, dan keturunannya mulia dengan Al-Quran. Aamiin)

Referensi:

1 – Sahih Muslim

2 – Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah: 23484 3 – Mausuatul Ahadisin Nabawiyah: 10119

PENJELASAN HADIS

[1] Nafi bin Abdul Haris termasuk sahabat besar yang memiliki keutamaan. Dikatakan bahwa beliau memeluk Islam ketika Fathul Mekah dan menetap di sana serta tidak berhijrah, (Tahdzibul Kamar: 29/279). Al-Waqidi mengingkari bahwa Nafi bin Abdul Haris adalah seorang sahabat, (Idem: 4/207). [2] Nafi bin Abdul Haris bertemu Umar bin Khattab ketika Umar bin Khattab di daerah Usfan ketika Umar bin Khattab sedang dalam perjalanan menuju haji. Usfan adalah daerah yang berjarak 80 km utara Mekah, di jalur menuju Madinah. [3] Kala itu Mekah dan Taif dihuni oleh tokok-tokoh terkemuka dari kalangan Quraisy. Nah, Nafi memiliki garis keturunan Khuzaah, sebuah suku yang menguasai Mekah selama 300 hingga 800 tahun, sebelum akhirnya berpindah ke tangan Suku Quraisy. Selain dari kalangan terkemuka, Nafi juga dikenal memiliki pemahaman agama yang baik. [4] Diterjemahkan “pemimpin sementara” karena penunjukan Abdurrahman bin Abza hanya selama kepergian Nafi untuk bertemu dengan Umar. [5] Ahlu Wadi (Penduduk Lembah) di sini maksudnya adalah Lembah Mekah dan Lembah Taif. [6] Ibnu Abza atau Abdurrahman bin Abza adalah seorang sahabat. Beliau adalah Maula (budak yang dimerdekakan) Nafi bin Abdul Haris. Beliau pernah bertemu Nabi ﷺ dan tinggal di Kufah. Di masa Khalifah Ali bin Abi Talib, Ibnu Abza ditunjuk sebagai Gubernur Khurasan. [7] Keheranan Umar bukan tidak berdasar. Di masa beliau, Mekah masih dihuni oleh tokoh-tokoh terkemuka dari kalangan Quraisy. Maka beliau heran, kok bekas budak ditunjuk sebagai pemimpin sementara bagi tokoh-tokoh terkemuka Quraisy. Menurut Umar, selain kecakapan dalam agama, seorang pemimpin juga hendaknya memiliki dekengan yang kuat dari jalur nasab, yang disegani, dihormati masyarakat awam. Jadi, pencopotan Ibnu Abza bukan karena meremehkan. [8] Penjelasan Nafi bin Abdul Haris tentang sosok Abdurrahman bin Abza adalah sanggahan atas kekkhawatiran Umar bin Khattab. Selain ahli di bidang Al-Quran, Ibnu Abza juga seorang pakar di bidang ilmu Faraidh  (waris), yang merupakan salah satu ilmu paling rumit di dalam Islam. Dari situlah Nafi menilai bahwa masyarakat akan menghormati, memuliakan, dan menaati perintah Ibnu Abza. Dengan demikian, urusan rakyat Mekah bisa berjalan dengan baik dan stabil di bawah kepemimpinan sementara Ibnu Abza. [9] Ungkapan ini adalah tanda setuju dari Umar terhadap tindakan Nafi bin Abdul Haris. Yang dimaksud dengan “Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab ini (Al-Quran)” adalah:

يَرْفَعُ اللَّهُ بِهِ مَنْ آمَنَ بِهِ وَمَنْ قَرَأَهُ وَعَمِلَ بِمُقْتَضَاهُ مُخْلِصًا، فَيَرْفَعُهُمْ فِي الدُّنْيَا بِأَنْ يُحْيِيَهُمْ حَيَاةً طَيِّبَةً، وَفِي الْآخِرَةِ بِأَنْ يَجْعَلَهُمْ مِنْ أَهْلِ الدَّرَجَاتِ الْعُلَا مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ عَلَيْهِمْ

Allah mengangkat (derajat) dengannya (Al-Qur'an) siapa saja yang 1) beriman kepadanya, 2) membacanya, dan 3) mengamalkan kandungannya dengan ikhlas. Maka Allah mengangkat derajat mereka di dunia dengan menghidupkan mereka dalam kehidupan yang baik, dan di akhirat dengan menjadikan mereka termasuk golongan orang-orang yang berada di derajat yang tinggi bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat.

[10] Sabda Nabi ﷺ “(Allah) merendahkan kaum yang lain, juga dengan Kitab ini (Al-Quran)” maksudnya:

هُمُ الَّذِينَ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ، أَوْ آمَنُوا وَلَكِنَّهُمْ أَضَاعُوهُ وَتَرَكُوا الْعَمَلَ بِمَا فِيهِ، فَيَجْعَلُهُمْ فِي الدُّنْيَا فِي شَقَاءٍ وَضَنْكٍ مِنَ الْعَيْشِ، وَفِي الْآخِرَةِ فِي أَسْفَلِ سَافِلِينَ.

1 - Mereka yang tidak beriman kepadanya, atau

2 – Beriman namun mereka menyia-nyiakannya, dan

3 – Tidak mengamalkan kandungannya.

Maka Allah menjadikan mereka di dunia dalam kesengsaraan dan kehidupan yang sempit, dan di akhirat di tempat yang paling rendah dari serendah-rendahnya (neraka).

Post a Comment for "Hadist Allah Mengangkat Derajat Suatu Kaum dengan Al-Quran"