Pembaca rahimakumullah, berikut adalah terjemahan dari Mausuatul Fiqhiyah Dorar Saniyah tentang cara memandikan jenazah. Materi ini adalah bagian dari Kitab Salat > Bab 15: Janaiz > Pasal 2: Memandikan Jenazah dan Menguburnya > Pembahasan 1: Memandikan Jenazah > Cara Memandikan Jenazah. Semoga bermanfaat!
تَجْرِيدُ المَيِّتِ مِنْ ثِيَابِهِ1 – Melepas Pakaian Jenazah
Termasuk cara memandikan jenazah adalah melepas pakaian jenazah. Tertulis:يُسَنُّ تَجْرِيدُ المَيِّتِ مِنْ ثِيَابِهِ، وهُوَ مَذْهَبُ الْجُمْهُورِ: الْحَنَفِيَّةُ، والْمَالِكِيَّةُ، والْحَنَابِلَةُ.
Disunahkan untuk melepas pakaian jenazah. Ini adalah pendapat jumhur, yaitu Hanafiah, Malikiah, dan Hanabilah.
Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:
لَمَّا أرادوا غُسْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالُوا: وَاللَّهِ مَا نَدْرِي: أَنُجَرِّدُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ثِيَابِهِ كَمَا نُجَرِّدُ مَوْتَانَا، أَمْ نُغَسِّلُهُ وَعَلَيْهِ ثِيَابُهُ؟
Ketika mereka ingin memandikan Nabi ﷺ, mereka berkata, "Demi Allah, kami tidak tahu: apakah kami harus menanggalkan pakaian Rasulullah ﷺ sebagaimana kami menanggalkan pakaian jenazah-jenazah kami, atau kami memandikannya sementara beliau masih memakai pakaiannya?" (Musnad Ahmad: 26349. Sunan Abu Dawud: 3141).Argumentasi dari dalil:
دَلَّ قَوْلُهُمْ: أَنُجَرِّدُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ثِيَابِهِ كَمَا نُجَرِّدُ مَوْتَانَا؛ أَنَّ عَادَتَهُمْ كَانَتْ تَجْرِيدَ مَوْتَاهُمْ لِلْغُسْلِ فِي زَمَنِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Pertama: Perkataan mereka, "Apakah kami menanggalkan pakaian Rasulullah ﷺ sebagaimana kami menanggalkan pakaian jenazah-jenazah kami?" menunjukkan bahwa kebiasaan mereka adalah menanggalkan pakaian jenazah-jenazah mereka untuk dimandikan pada zaman Nabi ﷺ.ثَانِيًا: لِأَنَّ ذَلِكَ أَمْكَنُ فِي تَغْسِيلِهِ
Kedua: Karena hal itu memungkinkan untuk memandikannya (dengan lebih baik).ثَالِثًا: لِأَنَّ ذَلِكَ أَبْلَغُ فِي تَطْهِيرِهِ
Ketiga: Karena hal itu lebih sempurna dalam menyucikannya.رَابِعًا: لِأَنَّ ذَلِكَ أَصْوَنُ لَهُ مِنَ التَّنْجِيسِ
Keempat: Karena hal itu lebih menjaga dari najis. سَتْرُ عَوْرَةِ الْمَيِّتِ2 – Menutup Aurat Jenazah
Termasuk cara memandikan jenazah adalah menutup aurat jenazah. Tertulis:يَجِبُ سَتْرُ عَوْرَةِ الْمَيِّتِ عِنْدَ الشُّرُوعِ فِي غُسْلِهِ، وَلَا يَجُوزُ النَّظَرُ إِلَى عَوْرَتِهِ.
Wajib menutup aurat jenazah saat memulai proses memandikannya, dan tidak boleh melihat auratnya.
Dalil dari Sunah:Imam Musim meriwayatkaan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ
Seorang pria tidak boleh melihat aurat pria lain, dan seorang wanita tidak boleh melihat aurat wanita lain, (Sahih Muslim: 338). Dalil dari Ijma:نَقَلَ الإِجْمَاعَ عَلَى وُجُوبِ سَتْرِ عَوْرَتِهِ، وَحُرْمَةِ النَّظَرِ إِلَيْهَا: ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ، وَابْنُ قُدَامَةَ، وَالْحَطَّابُ.
Ibnu Abdil Barr, Ibnu Qudamah, dan Al-Hattab menukil ijmak (konsensus) ulama mengenai wajibnya menutup aurat jenazah dan haramnya melihatnya.
عَصْرُ بَطْنِ الْمَيِّتِ3 – Memijat Perut Jenazah
Termasuk cara memandikan jenazah adalah memijat perut jenazah. Tertulis:يُشْرَعُ أَنْ يَعْصِرَ الْغَاسِلُ بَطْنَ الْمَيِّتِ عَصْرًا رَفِيقًا، ثُمَّ يَلُفَّ عَلَى يَدِهِ خِرْقَةً فَيُنْجِيَهُ بِهَا، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.
Disyariatkan bagi orang yang memandikan jenzah untuk memijat perut jenazah secara perlahan, lalu melilitkan kain di tangannya untuk membersihkan kotoran yang keluar. Ini adalah kesepakatan empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah.
Argumentasi:أَوَّلًا: لِيُخْرِجَ مَا فِي بَطْنِهِ مِنْ نَجَاسَةٍ
Pertama: Untuk mengeluarkan najis yang ada di dalam perutnya.ثَانِيًا: حَتَّى لَا يَخْرُجَ بَعْدَ ذَلِكَ فَيُلَوِّثَ الْكَفَنَ
Kedua: Agar tidak keluar (najis) setelah itu sehingga mengotori kain kafan.ثَالِثًا: يَعْصِرُ بَطْنَهُ عَصْرًا رَفِيقًا؛ لِأَنَّ الْمَيِّتَ فِي مَحَلِّ الشَّفَقَةِ وَالرَّحْمَةِ
Ketiga: Memijat perutnya dengan pijatan yang lembut; karena jenazah berada dalam posisi yang membutuhkan kasih sayang dan rahmat.رَابِعًا: يَلُفُّ عَلَى يَدِهِ خِرْقَةً حَتَّى لَا يَمَسَّ عَوْرَتَهُ؛ لِأَنَّ النَّظَرَ إِلَى الْعَوْرَةِ حَرَامٌ؛ فَاللَّمْسُ أَوْلَى
Keempat: Melilitkan kain di tangannya agar tidak menyentuh auratnya; karena melihat aurat adalah haram, maka menyentuhnya lebih utama untuk dihindari. نِيَّةُ الْغُسْلِ4 – Niat Memandikan (Jenazah)
Bagaimana dengan orang yang memandikan jenazah, apakah dia wajib berniat? Tertulis:لَا تَجِبُ النِّيَّةُ فِي غُسْلِ الْمَيِّتِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْجُمْهُورِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَرِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْقَصْدَ التَّنْظِيفُ، فَأَشْبَهَ غَسْلَ النَّجَاسَةِ.
Niat tidak wajib dalam memandikan jenazah. Ini adalah mazhab jumhur (mayoritas ulama): Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan salah satu riwayat dari Ahmad. Hal ini karena tujuan utamanya adalah membersihkan, sehingga menyerupai mencuci najis.
مَسْحُ أَسْنَانِ الْمَيِّتِ وَمِنْخَرَيْهِ وَتَنْظِيفُهُمَا5 – Mengusap dan Membersihkan Gigi serta Lubang Hidung Jenazah
Termasuk cara memandikan jenazah adalah mengusap dan membersihkan gigi serta lubang hidung jenazah. Tertulis:يُسْتَحَبُّ أَنْ يَمْسَحَ الْغَاسِلُ أَسْنَانَ الْمَيِّتِ وَمِنْخَرَيْهِ وَيُنَظِّفَهُمَا، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.
Disunahkan bagi orang yang memandikan jenazah untuk mengusap gigi dan lubang hidung jenazah serta membersihkannya. Ini adalah kesepakatan empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah.
Dalil dari Sunah:Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Athiyah Nusaibah Al-Anshari Radhiyallahu Anha bahwa Nabi ﷺ berkata kepada para wanita yang memandikan jenazah putri beliau ﷺ:
اِبْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ الْوُضُوءِ مِنْهَا
Mulailah dari sisi kanannya dan tempat-tempat wudu darinya, (Sahih Bukhari: 167. Sahih Muslim: 939. Lafaz ini milik Imam Muslim).
ثَانِيًا: مِنْ أَجْلِ إِزَالَةِ مَا يُكْرَهُ رِيحُهُ أَوْ رُؤْيَتُهُ
Kedua: Untuk menghilangkan apa yang baunya atau penampakannya tidak disukai. تَوْضِئَةُ الْمَيِّتِ6 – Mewudukan Jenazah
Termasuk dalam cara memandikan jenazah adalah mewudukan jenazah. Tertulis:يُسَنُّ أَنْ يُوَضِّئَ الْغَاسِلُ الْمَيِّتَ فِي أَوَّلِ غَسَلَاتِهِ؛ كَوُضُوءِ حَدَثٍ، بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.
Disunahkan bagi pemandi untuk mewudukan jenazah pada awal-awal memandikan, seperti wudu karena hadas. Ini adalah kesepakatan empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah.
Dalil dari Sunah: Pertama: Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Athiyah Nusaibah Al-Anshari Radhiyallahu Anha bahwa Nabi ﷺ berkata kepada para wanita yang memandikan jenazah putri beliau ﷺ:اِبْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ الْوُضُوءِ مِنْهَا
Mulailah dari sisi kanannya dan tempat-tempat wudu darinya, (Sahih Bukhari: 167. Sahih Muslim: 939. Lafaz ini milik Imam Muslim).
ثَانِيًا: لِأَنَّ الْوُضُوءَ يُبْدَأُ بِهِ فِي غُسْلِ الْحَيِّ، فَكَذَلِكَ الْمَيِّتُ، فَهُوَ سُنَّةُ الِاغْتِسَالِ فِي حَالَةِ الْحَيَاةِ، فَكَذَا بَعْدَ الْمَمَاتِ؛ لِأَنَّ الْغُسْلَ فِي الْمَوْضِعَيْنِ لِأَجْلِ الصَّلَاةِ
Kedua: Karena wudu dimulai ketika mandi bagi orang yang hidup, demikian pula untuk jenazah. Maka, wudu adalah sunah mandi dalam keadaan hidup, dan juga setelah meninggal; sebab mandi dalam kedua keadaan tersebut adalah untuk salat. غُسْلُ الْمَيِّتِ بِالسِّدْرِ7 – Memandikan Jenazah dengan Daun Bidara
Termasuk cara memandikan jenazah adalah memandikan jenazah dengan daun bidara. Tertulis:يُغَسَّلُ الْمَيِّتُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.
Jenazah dimandikan dengan air dan daun sidr (bidara). Ini adalah kesepakatan empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah.
Dalil dari Sunah:1 – Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata:
أَقْبَلَ رَجُلٌ حَرَامًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَخَرَّ مِنْ بَعِيرِهِ، فَوُقِصَ وَقْصًا، فَمَاتَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَأَلْبِسُوهُ ثَوْبَيْهِ، وَلَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ؛ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُلَبِّي
Seorang laki-laki dalam keadaan ihram bersama Nabi ﷺ, lalu dia terjatuh dari untanya dan meninggal dunia. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Mandikanlah dia dengan air dan daun sidr (bidara), pakaikanlah dua kainnya, dan janganlah kalian tutup kepalanya, karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah,” (Sahih Bukhari: 1265. Sahih Muslim: 1206).
2 – Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Athiyah Al-Anshari Radhiyallahu Anha yang mengatakan bahwa Rasulullah mengunjungi mereka ketika putri beliau ﷺ meninggal dunia. Kemudian, beliau ﷺ bersabda:
اغْسِلْنَها ثَلَاثًا، أَوْ خَمْسًا، أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ، بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا- أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ- فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي
Mandikanlah dia tiga kali, atau lima kali, atau lebih dari itu jika kalian memandang perlu, dengan air dan daun sidr (bidara). Dan jadikanlah pada cucian terakhir kapur barus - atau sedikit dari kapur barus. Apabila kalian telah selesai, beritahukanlah kepadaku, (Sahih Bukhari: 1253. Sahih Muslim: 939. Lafaz ini milik Al-Bukhari).
ثَانِيًا: لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنَ الْغُسْلِ التَّنْظِيفُ، فَيُسْتَعَانُ بِمَا يَزِيدُ فِيهِ التَّطْهِيرُ
Kedua: Karena tujuan dari mandi (jenazah) adalah membersihkan, maka digunakanlah apa pun yang dapat menambah kesuciannya.
غَسْلُ جَمِيعِ بَدَنِ الْمَيِّتِ وَالتَّيَامُنُ فِيهِ8 - Memandikan Seluruh Tubuh Jenazah dan Memulai dari Sisi Kanan
Termasuk dalam cara memandikan jenazah adalah memandikan seluruh tubuh jenazah dan memulai dari sisi kanan. Hanya saja, dalam hal ini terdapat dua pembagian:غَسْلُ جَمِيعِ بَدَنِ الْمَيِّتِ
A – Memandikan Seluruh Tubuh Jenazahيَجِبُ غَسْلُ جَمِيعِ بَدَنِ الْمَيِّتِ، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.
Wajib memandikan seluruh tubuh jenazah. Ini adalah kesepakatan empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiah, Syafiiah, dan Hanabilah.
Dalil dari Sunah:Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata:
أَقْبَلَ رَجُلٌ حَرَامًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَخَرَّ مِنْ بَعِيرِهِ، فَوُقِصَ وَقْصًا، فَمَاتَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اغْسِلُوهُ ...
Seorang laki-laki dalam keadaan ihram bersama Nabi ﷺ, lalu dia terjatuh dari untanya dan meninggal dunia. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Mandikanlah dia ...,” (Sahih Bukhari: 1265. Sahih Muslim: 1206).Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Athiyah Al-Anshari Radhiyallahu Anha yang mengatakan bahwa Rasulullah mengunjungi mereka ketika putri beliau ﷺ meninggal dunia. Kemudian, beliau ﷺ bersabda:
اغْسِلْنَها ...
Mandikanlah dia..., (Sahih Bukhari: 1253. Sahih Muslim: 939. Lafaz ini milik Al-Bukhari).
التَّيَامُنُ فِي غُسْلِهِ
B – Memulai dari Sisi Kanan dalam Mandi Jenazahيُسَنُّ فِي غُسْلِ الْمَيِّتِ أَنْ يُبْدَأَ بِالشِّقِّ الْأَيْمَنِ ثُمَّ الْأَيْسَرِ، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.
Disunahkan dalam memandikan jenazah untuk memulai dari sisi kanan lalu sisi kiri. Ini adalah kesepakatan empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah.
Dalil dari Sunah: Pertama: Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Athiyah Radhiyallahu Anha yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada para wanita yang memandikan putri beliau ﷺ:اِبْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ الْوُضُوءِ مِنْهَا
Mulailai dari sisi kanannya dan anggota wudunya, (Sahih Bukhari: 167. Sahih Muslim: 939).
Kedua: Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
Nabi ﷺ suka memulai dari kanan dalam memakai sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam segala urusan beliau, (Sahih Bukhari: 168. Sahih Muslim: 268).
وَضْعُ الْكَافُورِ فِي الْغَسْلَةِ الْأَخِيرَةِ9 – Meletakkan Kapur Barus pada Bilasan Terakhir
Termasuk cara memandikan jenazah adalah meletakkan kapur barus pada bilasan terakhir. Tertulis:يُسَنُّ أَنْ يَجْعَلَ الْغَاسِلُ فِي الْغَسْلَةِ الْأَخِيرَةِ كَافُورًا، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.
Disunahkan bagi pemandi untuk meletakkan kapur barus pada bilasan terakhir. Ini adalah kesepakatan empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah.
Dalil dari Sunah:Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Athiyah Al-Anshari Radhiyallahu Anha yang mengatakan bahwa Rasulullah mengunjungi mereka ketika putri beliau ﷺ meninggal dunia. Kemudian, beliau ﷺ bersabda:
اغْسِلْنَها ثَلَاثًا، أَوْ خَمْسًا، أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ، بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا- أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ- فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي
Mandikanlah dia tiga kali, atau lima kali, atau lebih dari itu jika kalian memandang perlu, dengan air dan daun sidr (bidara). Dan jadikanlah pada cucian terakhir kapur barus - atau sedikit dari kapur barus. Apabila kalian telah selesai, beritahukanlah kepadaku, (Sahih Bukhari: 1253. Sahih Muslim: 939. Lafaz ini milik Al-Bukhari).
ثَانِيًا: لِأَنَّهُ يُصَلِّبُ الْجِسْمَ، وَيُبَرِّدُهُ، وَيُطَيِّبُهُ، وَيَطْرُدُ عَنْهُ الْهَوَامَّ
Kedua: Karena kapur barus menguatkan (mengawetkan) jasad, mendinginkannya, mengharumkannya, dan mengusir serangga dari padanya. الْوِتْرُ فِي غُسْلِ الْمَيِّتِ10 – Bilangan Ganjil dalam Memandikan Jenazah
Termasuk sunah dalam memandikan jenazah adalah memandikannya dengan bilangan ganjil. Tetulis:الْوِتْرُ فِي تَغْسِيلِ الْمَيِّتِ مُسْتَحَبٌّ، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ، وَحُكِيَ الْإِجْمَاعُ عَلَى ذَلِكَ.
Bilangan ganjil dalam memandikan jenazah adalah disunahkan. Ini adalah kesepakatan empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah, dan telah dinukil adanya ijmak (konsensus) tentang hal tersebut.
Dalil dari Sunah:Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Athiyah Al-Anshari Radhiyallahu Anha yang mengatakan bahwa Rasulullah mengunjungi mereka ketika putri beliau ﷺ meninggal dunia. Kemudian, beliau ﷺ bersabda:
اغْسِلْنَها ثَلَاثًا، أَوْ خَمْسًا، أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ،
Mandikanlah dia tiga kali, atau lima kali, atau lebih dari itu jika kalian memandang perlu, (Sahih Bukhari: 1253. Sahih Muslim: 939. Lafaz ini milik Al-Bukhari).
Di dalam riwayat lain dari Imam Muslim:
وَاغْسِلْنَهَا وِتْرًا ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا
Dan mandikanlah dia dengan bilangan ganjil, tiga atau lima kali, (Sahih Muslim: 939).
تَقْلِيمُ أَظْفَارِ الْمَيِّتِ وَقَصُّ شَارِبِهِ11 – Memotong Kuku dan Merapikan Kumiz Jenazah
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum memotong kuku dan merapikan kumis jenazah menjadi dua pandangan:الْقَوْلُ الْأَوَّلُ: يُكْرَهُ تَقْلِيمُ أَظْفَارِ الْمَيِّتِ وَقَصُّ شَارِبِهِ
Pendapat 1: Dimakruhkan memotong kuku dan merapikan kumis jenazah.Ini adalah mazhab Hanafiyah, Malikiyah, dan salah satu pendapat dalam mazhab Syafiiyah yang dianggap sahih oleh sebagian ulama, serta dipilih oleh An-Nawawi dan cenderung disetujui oleh Ibnu Al-Mundzir.
Alasan: Karena hal itu dilakukan untuk berhias, sedangkan jenazah sudah bukan lagi tempat untuk berhias.الْقَوْلُ الثَّانِي: يُسْتَحَبُّ تَقْلِيمُ أَظْفَارِ الْمَيِّتِ وَقَصُّ شَارِبِهِ
Pendapat 2: Disunahkan memotong kuku dan merapikan kumis jenazah.Ini adalah mazhab Hanabilah, salah satu pendapat dalam mazhab Syafiiyah, dan merupakan pendapat sekelompok ulama salaf. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin.
Alasan:
أَوَّلًا: لِأَنَّهُ تَنْظِيفٌ لَا يَتَعَلَّقُ بِقَطْعِ عُضْوٍ، أَشْبَهَ إِزَالَةَ الْوَسَخِ وَالدَّرَنِ
Pertama: Karena itu adalah pembersihan yang tidak terkait dengan pemotongan anggota tubuh, menyerupai pembersihan kotoran dan daki.ثَانِيًا: لِأَنَّهُ سُنَّةٌ فِي حَيَاتِهِ
Kedua: Karena hal itu adalah sunah (yang dilakukan) semasa hidupnya. حَلْقُ شَعْرِ عَانَةِ الْمَيِّتِ12 – Mencukur Bulu Kemaluan Jenazah
Bagaimana hukum mencukur bulu kemaluan jenazah? Tertulis:يَحْرُمُ حَلْقُ شَعْرِ عَانَةِ الْمَيِّتِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْحَنَابِلَةِ؛ وَذَلِكَ لِمَا فِيهِ مِنْ مَسِّ الْعَوْرَةِ وَنَظَرِهَا، وَهُوَ مُحَرَّمٌ.
Diharamkan mencukur rambut kemaluan jenazah. Ini adalah mazhab Hanabilah. Hal ini karena melakukannya melibatkan menyentuh dan melihat aurat, dan itu diharamkan.
تَنْشِيفُ الْمَيِّتِ بَعْدَ الْغُسْلِ13 – Mengeringkan Jenazah Setelah Mandi
Termasuk cara memandikan jenazah adalah mengeringkan jenazah setelah mandi. Tertulis:يُسْتَحَبُّ أَنْ يُنَشَّفَ الْمَيِّتُ بَعْدَ الْغُسْلِ، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.
Disunahkan untuk mengeringkan jenazah setelah dimandikan. Ini adalah kesepakatan keempat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah.
Alasan:أَوَّلًا: لِأَنَّهُ مِنْ كَمَالِ غُسْلِ الْحَيِّ
Pertama: Karena itu termasuk kesempurnaan mandi bagi orang yang hidup.ثَانِيًا: لِأَنَّهُ إِذَا بَقِيَ رَطْبًا عِنْدَ التَّكْفِينِ، أَثَّرَ ذَلِكَ فِي الْكَفَنِ
Kedua: Karena jika jenazah tetap basah saat dikafani, hal itu akan memengaruhi kain kafan. التَّيَمُّمُ عِنْدَ الْعَجْزِ عَنِ الْمَاءِ14 - Tayamum ketika tidak Mampu Menggunakan Air
Terakhir dalam cara memandikan jenazah adalah tayamum, jika tidak ada air. Tertulis:يُيَمَّمُ الْمَيِّتُ لِعُذْرٍ مِنْ عَدَمِ الْمَاءِ، أَوْ عَجْزٍ عَنِ اسْتِعْمَالِهِ، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ، وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ حَزْمٍ الظَّاهِرِيِّ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ غُسْلٌ لَا يَتَعَلَّقُ بِإِزَالَةِ نَجَاسَةٍ، فَنَابَ التَّيَمُّمُ عَنْهُ عِنْدَ الْعَجْزِ؛ كَغُسْلِ الْجَنَابَةِ.
Jenazah ditayamumkan karena adanya uzur, baik karena tidak ada air atau tidak mampu menggunakannya. Ini adalah kesepakatan empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah, dan juga merupakan pendapat Ibnu Hazm Az-Zahiri. Hal ini karena mandi jenazah adalah mandi yang tidak terkait dengan penghapusan najis, maka tayamum dapat menggantikannya ketika ada ketidakmampuan, seperti halnya mandi junub.
Demikian 14 poin pembahasan tentang cara memandikan jenazah dari Mausuatul Fiqhiyah Dorar Saniyah. Wallahua’lam
Karangasem, 18 Juni 2025
Irfan Nugroho (Pengajar di PPTQ At-Taqwa dan RQ Irmas Bani Saimo Sukoharjo)
Post a Comment for "Fikih Dorar Saniyah: Cara Memandikan Jenazah"