HADIS 5
Dari Ummul Mukminin, Ummu ‘Abdillah, Aisyah radhiyallahu ‘anha yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"مَنْ (Barang siapa) | أَحْدَثَ (mengada-adakan) | فِي (dalam) | أَمْرِنَا (urusan kami) | هَذَا (ini) | مَا (apa) | لَيْسَ (bukan) | مِنْهُ (daripadanya) | فَهُوَ (maka ia) | رَدٌّ (tertolak)"
Barang siapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak, (Sahih Bukhari: 2607).
Dalam riwayat Muslim disebutkan,
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
مَنْ (Barang siapa) | عَمِلَ (melakukan) | عَمَلًا (suatu amalan) | لَيْسَ (yang tidak) | عَلَيْهِ (atasnya) | أَمْرُنَا (urusan kami) | فَهُوَ (maka ia) | رَدٌّ (tertolak)"
"Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia tertolak," (Sahih Muslim: 1718).PENJELASAN
1 – Sabda Nabi (مَنْ أَحْدَثَ) atau yang artinya “Barang siapa yang mengada-adakan” maksudnya:أَيِ ابْتَدَعَ، وَاخْتَرَعَ شَيْئًا لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ
Dia mengada-ada dan menciptakan sesuatu yang tidak ada dasarnya.
2 – Sabda Nabi (مَا لَيْسَ مِنْهُ) atau yang artinya “ini sesuatu yang bukan darinya” maksudnya:
لَا يَشْهَدَ لَهُ شَيْءٌ مِنْ أَدِلَّةِ الشَّرْعِ، وَقَوَاعِدِهِ الْعَامَّةِ
Tidak ada dalil syara’ dan kaidah-kaidah umum yang mendukungnya.
3 – Sabda Nabi (رَدٌّ) atau yang artinya “tertolak” maksudnya:
أَيْ مَرْدُودٌ غَيْرُ مَقْبُولٍ عَلَى صَاحِبِهِ، وَعَلَيْهِ إِثْمُهُ
Tertolak, tidak diterima oleh pelakunya, dan dia menanggung dosanya.PELAJARAN
Pelajaran yang bisa diambil dari hadis 5 Arbain Nawawi ini di antaranya:تَحْرِيمُ إِحْدَاثِ شَيْءٍ فِي دِينِ اللَّهِ، وَلَوْ كَانَتِ النِّيَّةُ حَسَنَةً.
1 – Haramnya mengada-adakan sesuatu dalam agama Allah, meskipun niatnya baik.
الْعِبَادَةُ إِذَا فُعِلَتْ عَلَى خِلَافِ الشَّرْعِ تَكُونُ مَرْدُودَةً.
2 – Ibadah jika dilakukan bertentangan dengan syariat akan tertolak.
الْبِدْعَةُ هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَيْسَ فِي الدِّينِ.
3 - Bid'ah adalah mengada-adakan sesuatu yang tidak ada dalam agama.
مَنِ ابْتَدَعَ فِي الدِّينِ بِدْعَةً كَانَ إِثْمُهَا عَلَيْهِ، وَإِثْمُ مَنْ عَمِلَ بِهَا.
4 – Barangsiapa yang mengada-adakan bid'ah dalam agama, maka dosanya akan menimpanya, dan dosa orang yang mengamalkannya.
تَقْرِيرُ أَحَدِ شَرْطَيِ الْعِبَادَةِ، وَهُوَ الْمُتَابَعَةُ لِلرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
5 – Penetapan salah satu dari dua syarat ibadah, yaitu mengikuti Rasulullah.
كُلُّ الْبِدَعِ فِي دِينِ اللَّهِ بَاطِلَةٌ، فَلَا يُوجَدُ بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ.
6 – Semua bid'ah dalam agama Allah adalah batil, maka tidak ada bid'ah hasanah (baik).
إِبْطَالُ جَمِيعِ الْعُقُودِ الْمَنْهِيِّ عَنْهَا، وَعَدَمُ وُجُودِ ثَمَرَاتِهَا الْمُتَرَتِّبَةِ عَلَيْهَا.
7 – Pembatalan semua akad yang dilarang, dan tidak adanya hasil yang timbul darinya. Wallahua’lamHADIS 6
Dari Abu ‘Abdillah An-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma yang berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:”إنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ
إنَّ (Sesungguhnya) | الْحَلَالَ (yang halal) | بَيِّنٌ (jelas), | وَإِنَّ (dan sesungguhnya) | الْحَرَامَ (yang haram) | بَيِّنٌ (jelas), | وَبَيْنَهُمَا (dan di antara keduanya) | أُمُورٌ (perkara-perkara) | مُشْتَبِهَاتٌ (yang samar) | لَا (tidak) | يَعْلَمُهُنَّ (mengetahui mereka/perkara-perkara itu) | كَثِيرٌ (banyak) | مِنْ (dari) | النَّاسِ (manusia)
Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan sesungguhnya yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar, yang tidak diketahui oleh banyak orang.
فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقْد اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ،
فَمَنْ (maka barang siapa) | اتَّقَى (menjaga diri dari) | الشُّبُهَاتِ (yang samar), | فَقْدْ (maka sungguh) | اسْتَبْرَأَ (telah membersihkan) | لِدِينِهِ (agamanya) | وَعِرْضِهِ (dan kehormatannya),
Maka barang siapa menjaga diri dari perkara yang samar, sungguh ia telah membersihkan agama dan kehormatannya.
وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ،
وَمَنْ (dan barang siapa) | وَقَعَ (terjatuh) | فِي (dalam) | الشُّبُهَاتِ (yang samar), | وَقَعَ (maka ia jatuh) | فِي (dalam) | الْحَرَامِ (yang haram) | كَالرَّاعِي (seperti penggembala) | يَرْعَى (menggembala) | حَوْلَ (di sekitar) | الْحِمَى (kawasan larangan), | يُوشِكُ (nyaris) | أَنْ (untuk) | يَرْتَعَ (masuk dan menggembala) | فِيهِ (di dalamnya)
Dan barang siapa terjatuh dalam perkara yang samar, maka ia telah jatuh dalam yang haram—seperti penggembala yang menggembala di sekitar kawasan larangan, hampir-hampir ia masuk ke dalamnya.
أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ،
أَلَا (Ketahuilah!) | وَإِنَّ (dan sesungguhnya) | لِكُلِّ (bagi setiap) | مَلِكٍ (raja) | حِمًى (kawasan larangan) | أَلَا (Ketahuilah!) | وَإِنَّ (dan sesungguhnya) | حِمَى (kawasan larangan) | اللَّهِ (Allah) | مَحَارِمُهُ (adalah hal-hal yang diharamkan-Nya)
Ketahuilah, setiap raja memiliki kawasan larangan, dan ketahuilah, kawasan larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya.
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
أَلَا (Ketahuilah!) | وَإِنَّ (dan sesungguhnya) | فِي (dalam) | الْجَسَدِ (tubuh) | مُضْغَةً (segumpal daging) | إذَا (jika) | صَلَحَتْ (ia baik), | صَلَحَ (baiklah) | الْجَسَدُ (tubuh) | كُلُّهُ (seluruhnya) | وَإذَا (dan jika) | فَسَدَتْ (ia rusak), | فَسَدَ (rusaklah) | الْجَسَدُ (tubuh) | كُلُّهُ (seluruhnya) | أَلَا (Ketahuilah!) | وَهِيَ (dan ia adalah) | الْقَلْبُ (hati)"
Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati,” (Sahih Bukhari: 52. Sahih Muslim: 1599).PENJELASAN
1 – Sabda Nabi (الْحَلَالُ) atau yang artinya “Halal” maksudnya:أَيْ مَا نَصَّ الشَّرْعُ عَلَى حِلِّهِ، أَوْ أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى حِلِّهِ.
Apa yang disyariatkan secara jelas kehalalannya, atau telah disepakati oleh kaum Muslimin kehalalannya.
2 – Sabda Nabi (الْحَرَامُ) atau yang artinya “Haram,” maksudnya:
أَيْ مَا نَصَّ الشَّرْعُ عَلَى تَحْرِيمِهِ، أَوْ مَا كَانَ فِيهِ حَدٌّ، أَوْ تَعْزِيرٌ، أَوْ وَعِيدٌ.
Apa yang disyariatkan secara jelas pengharamannya, atau yang padanya terdapat hukuman had, atau hukuman ta'zir, atau ancaman.
3 – Sabda Nabi (عِرْضُهُ) atau yang artinya “Kehormatannya” maksudnya:
أَيْ يَصُونُونَهُ عَنْ كَلَامِ النَّاسِ فِيهِ بِمَا يَشِينُهُ وَيَعِيبُهُ، وَالْعِرْضُ: مَوْضِعُ الْمَدْحِ، وَالذَّمِّ مِنَ الْإِنْسَانِ.
Mereka menjaga diri mereka sendiri dari (perkataan yang buruk dari) manusia tentangnya dengan sesuatu yang mencoreng dan mencelanya. Kehormatan artinya tempat pujian, dan celaan dari manusia.
4 – Sabda Nabi (وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ) atau yang artinya, “Dan barang siapa terjatuh dalam perkara yang samar, maka ia telah jatuh dalam yang haram” maksudnya:
أَيْ إِذَا اعْتَادَهَا، وَاسْتَمَرَّ عَلَيْهَا أَدَّتْهُ إِلَى الْوُقُوعِ فِي الْحَرَامِ.
Jika dia terbiasa dengannya, dan terus-menerus melakukannya, itu akan membawanya kepada jatuh ke dalam yang haram.PELAJARAN
Pelajaran yang bisa diambil dari hadis 6 Arbain Nawawi ini di antaranya:الْحَثُّ عَلَى فِعْلِ الْحَلَالِ، وَالتَّحْذِيرُ مِنْ فِعْلِ الْحَرَامِ، وَالشُّبُهَاتِ.
1 – Dorongan untuk melakukan yang halal, dan peringatan dari melakukan yang haram, serta syubhat.
مَنْ لَمْ يَتَّقِ الشُّبْهَةَ فِي كَسْبِهِ، وَمَعِيشَتِهِ عَرَّضَ عِرْضَهُ لِلطَّعْنِ.
2 – Barangsiapa yang tidak menjaga diri dari syubhat dalam mata pencarian dan kehidupannya, maka dia telah menghadapkan kehormatannya pada celaan.
مَشْرُوعِيَّةُ ضَرْبِ الْأَمْثَالِ لِلْمَعَانِي الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ.
3 – Disyariatkannya membuat perumpamaan untuk makna-makna syariat yang praktis.
التَّنْبِيهُ عَلَى مَكَانَةِ الْقَلْبِ الْعَظِيمَةِ، فَإِذَا صَلَحَ الْقَلْبُ صَلَحَ الْجَسَدُ.
4 – Peringatan tentang kedudukan hati yang agung, maka jika hati baik, baik pulalah jasad.
كُلَّمَا كَانَ التَّكَسُّبُ طَيِّبًا أَثَرَ ذَلِكَ فِي صَلَاحِ الْقَلْبِ.
5 – Semakin baik penghasilan, semakin baik pula pengaruhnya terhadap kebaikan hati.
هُنَاكَ أُمُورٌ مُشْتَبِهَةٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَجِبُ الْحَذَرُ مِنْهَا.
6 – Ada perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak orang, wajib untuk berhati-hati darinya.
تَفَاضُلُ النَّاسِ فِي الْعِلْمِ، فَقَدْ يَكُونُ الْأَمْرُ فِيهِ شُبْهَةٌ عِنْدَ شَخْصٍ لَكِنَّهُ وَاضِحٌ عِنْدَ آخَرَ.
7 – Perbedaan tingkat pengetahuan manusia, terkadang suatu perkara itu syubhat bagi seseorang tetapi jelas bagi orang lain.
الْإِصْرَارُ عَلَى الْمَكْرُوهَاتِ يُؤَدِّي إِلَى الْوُقُوعِ فِي الْحَرَامِ.
8 – Terus-menerus melakukan hal-hal yang makruh akan mengarah kepada jatuh ke dalam yang haram. Wallahua’lamHADIS 7
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Dari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:"الدِّينُ النَّصِيحَةُ." قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: "لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ."
الدِّينُ (Agama) | النَّصِيحَةُ (adalah nasihat) | قُلْنَا: (Kami berkata:) | لِمَنْ؟ (Untuk siapa?) | قَالَ: (Beliau bersabda:) | لِلَّهِ (untuk Allah), | وَلِكِتَابِهِ (dan untuk kitab-Nya), | وَلِرَسُولِهِ (dan untuk Rasul-Nya), | وَلِأَئِمَّةِ (dan untuk para pemimpin) | الْمُسْلِمِينَ (kaum muslimin) | وَعَامَّتِهِمْ (dan orang-orang awam mereka)."
"Agama adalah nasihat." Kami berkata, "Untuk siapa?" Beliau bersabda, "Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin, dan untuk orang-orang awam mereka,” (Sahih Muslim: 55).PENJELASAN
1 – Sabda Nabi (وَالنَّصِيحَةُ) atau yang artinya, “Nasihat” maksudnya:إِرَادَةِ الْخَيْرِ لِلْمَنْصُوحِ لَهُ.
Menginginkan kebaikan bagi orang yang dinasihati.
2 – Sabda Nabi (لِلَّهِ) atau yang artinya, “(nasihat kepada) Allah,” maksudnya, “1) Beriman kepadaNya, 2) meniadakan sekutu bagiNya, 3) menyifati-Nya dengan apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya sendiri, dan apa yang RasulNya ﷺ sifatkan untuk Allah, 4) menyucikan-Nya dari kekurangan dan aib, 5) tidak menyerupakan Allah dengan makhluk, 6) taat kepadaNya, 7) takut akan murkaNya dengan meninggalkan maksiat kepada-Nya.
3 – Sabda Nabi (لِكِتَابِهِ) atau yang artinya, “(nasihat kepada) kitabNya,” maksudnya, “1) Membenarkan risalahnya, 2) beriman kepada semua yang dibawanya, 3) menaati beliau, 4) menghidupkan sunnah-sunnahnya dengan mempelajarinya dan mengajarkannya, 5) meneladani beliau dalam perkataan dan perbuatan, 6) mencintai beliau, dan 7) mencintai para pengikutnya.
4 – Sabda Nabi (وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ) atau yang artinya, “(nasihat kepada) para pemimpin muslim,” maksudnya, “1) Membantu mereka dalam kebenaran, 2) menaati mereka dalam kebenaran, 3) memerintahkan mereka dengan kebenaran, 4) mengingatkan mereka dengan lemah lembut dan kebaikan, 5) memberitahu mereka apa yang mereka lupakan, 6) tidak memberontak terhadap mereka, dan 7) menyatukan hati manusia untuk menaati mereka (dalam kebenaran), dan 8) mendoakan mereka supaya saleh.
5 – Sabda Nabi (وَعَامَّتِهِمْ) atau yang artinya, “(nasihat kepada) orang awam,” maksudnya, “1) Membimbing mereka pada kebaikan di akhirat dan dunia, 2) tidak menyakiti mereka, 3) mengajari mereka yang belum diketahui dari agama mereka, 4) membantu mereka dalam hal itu dengan perkataan dan perbuatan, 5) menutupi aurat mereka, 6) menolak bahaya dari mereka, 7) mendatangkan manfaat bagi mereka, 8) memerintahkan mereka kepada kebaikan, 9) melarang mereka dari kemungkaran dengan lembut dan ikhlas, 10) menyayangi mereka.PELAJARAN
Pelajaran yang bisa diambil dari hadis 7 Arbain Nawawi ini di antaranya:اَلنَّصِيحَةُ فَرْضُ كِفَايَةٍ إِذَا قَامَ بِهَا مَنْ يَكْفِي سَقَطَتْ عَنِ الْبَاقِينَ،
1 – Nasihat adalah fardu kifayah. Jika telah dilakukan oleh orang yang mencukupi, gugurlah kewajiban dari yang lain.
وَهِيَ لَازِمَةٌ عَلَى قَدْرِ الِاسْتِطَاعَةِ.
2 – Dan itu wajib sesuai dengan kemampuan.
وُجُوبُ الصِّدْقِ فِي تَعَامُلِ الْمُسْلِمِ مَعَ رَبِّهِ، وَالصِّدْقِ فِي تَعَامُلِهِ مَعَ الْمَخْلُوقِينَ.
3 – Wajibnya jujur dalam interaksi seorang Muslim dengan Tuhannya, dan jujur dalam interaksinya dengan makhluk.
يَنْبَغِي أَنْ تَسُودَ النَّصِيحَةُ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ؛ لِأَنَّهَا مِنْ أَعْظَمِ مُكَمِّلَاتِ الْإِيمَانِ.
4 – Hendaknya nasihat tersebar luas di kalangan kaum Muslimin; karena itu termasuk penyempurna iman yang paling agung.
اَلْحَدِيثُ يَطْرُدُ الْغِشَّ بِجَمِيعِ صُوَرِهِ؛ لِأَنَّ هَذَا مُقْتَضَى النَّصِيحَةِ.
5 – Hadis ini menolak penipuan dalam segala bentuknya; karena ini adalah konsekuensi dari nasihat. Wallahua’lamHADIS 8
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ؛ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى.
أُمِرْتُ (Aku diperintahkan) | أَنْ (untuk) | أُقَاتِلَ (memerangi) | النَّاسَ (manusia) | حَتَّى (hingga) | يَشْهَدُوا (mereka bersaksi) | أَنْ (bahwa) | لَا (tidak ada) | إلَهَ (sesembahan) | إلَّا (kecuali) | اللَّهُ (Allah) | وَأَنَّ (dan bahwa) | مُحَمَّدًا (Muhammad) | رَسُولُ (adalah utusan) | اللَّهِ (Allah) | وَ (dan) | يُقِيمُوا (mereka menegakkan) | الصَّلَاةَ (shalat), | وَ (dan) | يُؤْتُوا (mereka menunaikan) | الزَّكَاةَ (zakat) | فَإِذَا (maka apabila) | فَعَلُوا (mereka melakukan) | ذَلِكَ (hal itu) | عَصَمُوا (mereka menjaga/dipelihara) | مِنِّي (dariku) | دِمَاءَهُمْ (darah mereka) | وَ (dan) | أَمْوَالَهُمْ (harta mereka) | إلَّا (kecuali) | بِحَقِّ (dengan hak) | الْإِسْلَامِ (Islam) | وَ (dan) | حِسَابُهُمْ (perhitungan mereka) | عَلَى (atas) | اللَّهِ (Allah) | تَعَالَى (Yang Maha Tinggi).
"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan hal itu, maka darah dan harta mereka terjaga dariku, kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka ada pada Allah Ta‘ala," (Sahih Bukhari: 25. Sahih Muslim: 22).PENJELASAN
1 – Sabda Nabi (النَّاسَ) atau yang artinya, “manusia,” maksudnya:أَيْ عَبَدَةَ الْأَوْثَانِ، وَالْمُشْرِكِينَ مِنْ غَيْرِ أَهْلِ الْكِتَابِ؛ لِرِوَايَةِ أَبِي دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيِّ: "أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ الْمُشْرِكِينَ".
Manusia: Yakni, para penyembah berhala, dan orang-orang musyrik selain Ahli Kitab; berdasarkan riwayat Abu Dawud dan An-Nasa'i: "Aku diperintah untuk memerangi orang-orang musyrik."2 – Sabda Nabi (إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ) atau yang artinya, “kecuali denga hak Islam,” maksudnya:
بِأَنْ يَصْدُرَ مِنْهُمْ مَا يَقْتَضِي مُعَاقَبَتَهُمْ بِهِ، كَفِعْلِ مَا يُوجِبُ الْقِصَاصَ، أَوِ الْحَدَّ، أَوْ غَيْرَهُمَا.
Dengan adanya perbuatan dari mereka yang mengharuskan mereka dihukum, seperti melakukan perbuatan yang mewajibkan qisas, atau had, atau selain keduanya.
3 – Sabda Nabi (وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ) atau yang artinya, “dan perhitungan mereka ada pada Allah Ta‘ala,” maksudnya:
أَيْ يُعَامِلُونَ بِالظَّاهِرِ، وَأَمَّا الْبَاطِنُ فَإِلَى اللَّهِ.
Mereka diperlakukan berdasarkan zahirnya (lahiriahnya), sedangkan yang batin itu urusan Allah.PELAJARAN
Pelajaran yang bisa diambil dari hadis 8 Arbain Nawawi ini di antaranya:أَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الْمُكَلَّفِ هُوَ النُّطْقُ بِالشَّهَادَتَيْنِ لَا التَّفَكُّرُ فِي الْكَوْنِ.
1 – Kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, bukan merenungkan alam semesta.
بَيَانُ مَكَانَةِ التَّوْحِيدِ، وَأَنَّهُ سَبَبٌ لِحَقْنِ الدَّمِ.
2 – Penjelasan kedudukan tauhid, dan bahwa tauhid adalah sebab terjaganya darah.
أَهَمِّيَّةُ الصَّلَاةِ، وَأَنَّهَا تَأْتِي بِالْمَرْتَبَةِ الثَّانِيَةِ بَعْدَ الشَّهَادَتَيْنِ.
3 – Pentingnya salat, dan bahwa ia menempati urutan kedua setelah dua kalimat syahadat.
أَهَمِّيَّةُ الزَّكَاةِ، وَأَنَّهَا تَأْتِي بِالْمَرْتَبَةِ الثَّالِثَةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ.
4 – Pentingnya zakat, dan bahwa ia menempati urutan ketiga setelah salat.
اشْتِرَاطُ التَّلَفُّظِ بِالشَّهَادَتَيْنِ فِي الْحُكْمِ بِالْإِسْلَامِ.
5 – Syarat pengucapan dua kalimat syahadat dalam penetapan hukum keislaman.
وُجُوبُ قِتَالِ تَارِكِي الصَّلَاةِ، وَالزَّكَاةِ.
6 – Kewajiban memerangi orang-orang yang meninggalkan salat dan zakat.
الْإِسْلَامُ يَعْصِمُ الدَّمَ، وَالْمَالَ، وَالْعِرْضَ.
7 – Islam menjaga darah, harta, dan kehormatan.
الْغَايَةُ مِنْ تَشْرِيعِ الْجِهَادِ إِقَامَةُ دِينِ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ، وَأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ.
8 – Tujuan disyariatkannya jihad adalah untuk menegakkan agama Allah di bumi, dan agar Allah saja yang disembah.
الْحُكْمُ عَلَى النَّاسِ فِي الدُّنْيَا يَكُونُ عَلَى ظَوَاهِرِهِمْ بِدُونِ الدُّخُولِ فِي نِيَّاتِهِمْ، وَاللَّهُ يَتَوَلَّى السَّرَائِرَ.
9 – Penghakiman terhadap manusia di dunia didasarkan pada zahir mereka tanpa menyelidiki niat mereka, dan Allah yang mengurus hal-hal yang tersembunyi.
مَنْ نَطَقَ بِالشَّهَادَتَيْنِ، وَصَلَّى، وَزَكَّى فَهُوَ مُسْلِمٌ مَعْصُومُ الدَّمِ، وَالْمَالِ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ.
10 – Barangsiapa yang mengucapkan dua kalimat syahadat, salat, dan zakat, maka dia adalah seorang Muslim yang terjaga darahnya dan hartanya, kecuali dengan hak Islam.
الْأَعْمَالُ مِنَ الْإِيمَانِ، حَيْثُ عَلَّقَ الْعِصْمَةَ عَلَى النُّطْقِ بِالشَّهَادَتَيْنِ وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَكُلُّهَا مِنْ أَعْمَالِ الْجَوَارِحِ.
11 – Amal perbuatan termasuk dari iman, di mana perlindungan digantungkan pada pengucapan dua kalimat syahadat, penegakan salat, dan penunaian zakat, dan semuanya adalah dari amal perbuatan anggota badan. Wallahua’lamHADIS 9
Dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin Shakhr radhiyallahu ‘anhu yang berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ
مَا (Apa saja) | نَهَيْتُكُمْ (aku larang kalian) | عَنْهُ (darinya) | فَاجْتَنِبُوهُ (maka jauhilah) | وَ (dan) | مَا (apa saja) | أَمَرْتُكُمْ (aku perintahkan kalian) | بِهِ (dengannya) | فَأْتُوا (maka kerjakanlah) | مِنْهُ (darinya) | مَا (apa) | اسْتَطَعْتُمْ (yang kalian mampu) | فَإِنَّمَا (karena sesungguhnya) | أَهْلَكَ (membinasakan) | الَّذِينَ (orang-orang) | مِنْ (dari) | قَبْلِكُمْ (sebelum kalian) | كَثْرَةُ (banyaknya) | مَسَائِلِهِمْ (pertanyaan-pertanyaan mereka) | وَ (dan) | اخْتِلَافُهُمْ (perselisihan mereka) | عَلَى (terhadap) | أَنْبِيَائِهِمْ (nabi-nabi mereka)
"Apa yang aku larang kepada kalian, maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka," (Sahih Bukhari: 7288. Sahih Muslim: 1337).PENJELASAN
1 – Sabda Nabi (فَاجْتَنِبُوهُ) atau yang artinya, “Maka jauhilah,” maksudnya:أَيِ ابْتَعَدُوا عَنْهُ حَتْمًا فِي الْمُحَرَّمِ، وَنَدْبًا فِي الْمَكْرُوهِ.
Menjauhinya secara mutlak dalam hal yang haram, dan dianjurkan dalam hal yang makruh.PELAJARAN
Pelajaran yang bisa diambil dari hadis 9 Arbain Nawawi ini di antaranya:وُجُوبُ امْتِثَالِ الْأَوَامِرِ عَلَى قَدْرِ الِاسْتِطَاعَةِ، وَاجْتِنَابِ النَّوَاهِي.
1 - Wajibnya menjalankan perintah sesuai dengan kemampuan, dan menjauhi larangan.
التَّحْذِيرُ مِنْ مُخَالَفَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
2 – Peringatan dari melanggar (perintah) Nabi ﷺ.
تَقْرِيرُ قَاعِدَةٍ: لَا طَاعَةَ فِي غَيْرِ مَقْدُورٍ
3 – Penetapan kaidah: "Tidak ada ketaatan pada hal yang tidak mampu dilakukan."
التَّحْذِيرُ مِنَ الْجِدَالِ فِي دِينِ اللَّهِ، وَالْأَسْئِلَةِ التَّعَنُّتِيَّةِ.
4 – Peringatan dari berdebat dalam agama Allah, dan pertanyaan-pertanyaan yang mempersulit.
وُجُوبُ تَرْكِ جَمِيعِ مَا نَهَى عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ نَهْيَ تَحْرِيمٍ.
5 – Kewajiban meninggalkan semua yang dilarang oleh Nabi ﷺ jika larangan itu adalah larangan pengharaman.
وُجُوبُ فِعْلِ مَا يَسْتَطِيعُ الْإِنْسَانُ أَنْ يَفْعَلَهُ مِنَ الْأَوَامِرِ.
6 – Kewajiban melakukan berbagai perintah yang mampu dilakukan manusia.
النَّهْيُ أَشَدُّ مِنَ الْأَمْرِ؛ لِأَنَّ النَّهْيَ لَمْ يُرَخَّصْ فِي ارْتِكَابِ شَيْءٍ مِنْهُ، وَالْأَمْرُ مُقَيَّدٌ بِالِاسْتِطَاعَةِ.
7 – Larangan lebih berat daripada perintah; karena larangan tidak diberikan keringanan untuk melakukan sedikit pun darinya, sedangkan perintah dibatasi dengan kemampuan.
مِنْ أَسْبَابِ هَلَاكِ الْأُمَمِ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمُ الَّتِي يُرَادُ بِهَا التَّعَنُّتُ، وَالتَّعَمُّقُ.
8 – Di antara sebab kebinasaan umat adalah banyaknya pertanyaan mereka yang dimaksudkan untuk mempersulit dan mendalam-dalamkan (hal yang tidak perlu). Wallahua’lamHADIS 10
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:إنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ تَعَالَى: "يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا"، وَقَالَ تَعَالَى: "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ
إنَّ (Sesungguhnya) | اللَّهَ (Allah) | طَيِّبٌ (Maha Baik), | لَا (tidak) | يَقْبَلُ (menerima) | إلَّا (kecuali) | طَيِّبًا (yang baik) | وَإِنَّ (dan sesungguhnya) | اللَّهَ (Allah) | أَمَرَ (memerintahkan) | الْمُؤْمِنِينَ (kaum mukminin) | بِمَا (dengan apa) | أَمَرَ (Dia perintahkan) | بِهِ (dengannya) | الْمُرْسَلِينَ (para rasul) | فَقَالَ (maka Dia berfirman) | تَعَالَى (Maha Tinggi): | يَا (Wahai) | أَيُّهَا (sekalian) | الرُّسُلُ (rasul-rasul)! | كُلُوا (makanlah) | مِنَ (dari) | الطَّيِّبَاتِ (yang baik-baik) | وَاعْمَلُوا (dan beramallah) | صَالِحًا (yang saleh) | وَقَالَ (dan Dia berfirman) | تَعَالَى (Maha Tinggi): | يَا (Wahai) | أَيُّهَا (sekalian) | الَّذِينَ (orang-orang yang) | آمَنُوا (beriman)! | كُلُوا (makanlah) | مِنْ (dari) | طَيِّبَاتِ (yang baik-baik) | مَا (apa) | رَزَقْنَاكُمْ (Kami rezekikan kepada kalian)
"Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukminin dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul. Maka Dia berfirman: 'Wahai para rasul! Makanlah dari yang baik-baik dan beramallah yang saleh.' Dan Dia juga berfirman: 'Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian.'
ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ! يَا رَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ؟"
ثُمَّ (kemudian) | ذَكَرَ (beliau menyebutkan) | الرَّجُلَ (seorang laki-laki) | يُطِيلُ (yang memperpanjang) | السَّفَرَ (perjalanan), | أَشْعَثَ (rambut kusut) | أَغْبَرَ (berdebu) | يَمُدُّ (menjulurkan) | يَدَيْهِ (kedua tangannya) | إلَى (ke arah) | السَّمَاءِ (langit) | يَا (wahai) | رَبِّ (Tuhanku)! | يَا (wahai) | رَبِّ (Tuhanku) | وَ (padahal) | مَطْعَمُهُ (makanannya) | حَرَامٌ (haram), | وَ (dan) | مَشْرَبُهُ (minumannya) | حَرَامٌ (haram) | وَ (dan) | مَلْبَسُهُ (pakaian yang dikenakan) | حَرَامٌ (haram), | وَ (dan) | غُذِّيَ (diberi gizi/dibesarkan) | بِالْحَرَامِ (dengan yang haram) | فَأَنَّى (maka bagaimana mungkin) | يُسْتَجَابُ (akan dikabulkan) | لَهُ (baginya)؟
Kemudian Nabi menyebut tentang seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut dan tubuhnya berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit (seraya berdoa): 'Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!'—padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dibesarkan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?" (Sahih Muslim: 1015).PELAJARAN
Pelajaran yang bisa diambil dari hadis 10 Arbain Nawawi ini di antaranya:لَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْأَعْمَالِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا طَيِّبًا.
1 – Allah tidak menerima amal perbuatan kecuali yang murni dan baik.
الْحَثُّ عَلَى الْإِنْفَاقِ مِنَ الْحَلَالِ، وَالنَّهْيُ عَنِ الْإِنْفَاقِ مِنْ غَيْرِهِ.
2 – Anjuran untuk berinfak dari yang halal, dan larangan berinfak dari selain itu.
الْحَثُّ عَلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ.
3 – Anjuran untuk beramal saleh.
أَكْلُ الْحَلَالِ يُعِينُ عَلَى عَمَلِ الصَّالِحَاتِ، وَإِجَابَةِ الدُّعَاءِ.
4 – Memakan yang halal membantu dalam melakukan amal saleh, dan pengabulan doa.
مِنْ أَسْبَابِ عَدَمِ قَبُولِ الْعَمَلِ، وَإِجَابَةِ الدُّعَاءِ: التَّوَسُّعُ فِي الْحَرَامِ.
5 – Di antara sebab tidak diterimanya amal dan tidak dikabulkannya doa: berlebihan dalam yang haram.
إِثْبَاتُ صِفَةِ الْكَلَامِ لِلَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ سُبْحَانَهُ.
6 – Penetapan sifat kalam bagi Allah Ta'ala sesuai dengan keagungan-Nya, Maha Suci Dia.
مِنْ صِفَاتِ اللَّهِ أَنَّهُ طَيِّبٌ، وَالْمَعْنَى: أَنَّهُ طَاهِرٌ مُقَدَّسٌ مُنَزَّهٌ عَنِ النَّقَائِصِ، وَالْعُيُوبِ كُلِّهَا.
7 – Di antara sifat-sifat Allah adalah Dia Maha Baik, dan maknanya: bahwa Dia suci, disucikan, terbebas dari segala kekurangan dan aib.
مِنْ مَوَاطِنِ اسْتِجَابَةِ الدُّعَاءِ السَّفَرُ.
8 – Di antara tempat-tempat dikabulkannya doa adalah perjalanan (safar). Wallahua’lamHADIS 11
Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah ﷺ dan kembang hatinya, radhiyallahu ‘anhuma, yang berkata:حَفِظْت مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم دَعْ مَا يُرِيبُك إلَى مَا لَا يُرِيبُك
حَفِظْتُ (aku hafal) | مِنْ (dari) | رَسُولِ (Rasul) | اللَّهِ (Allah) | صلى (shalawat) | اللهُ (Allah) | عليه (atasnya) | و (dan) | سلم (salam) | دَعْ (tinggalkanlah) | مَا (apa yang) | يُرِيبُكَ (meragukanmu) | إلَى (menuju kepada) | مَا (apa yang) | لَا (tidak) | يُرِيبُكَ (meragukanmu)
Aku hafal dari Rasulullah ﷺ, 'Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju kepada apa yang tidak meragukanmu.'" (Sunan At-Tirmizi: 2518. Sunan An-Nasai: 5711. Hasan Sahih).PELAJARAN
Pelajaran yang bisa diambil dari hadis 11 Arbain Nawawi ini di antaranya:الْحَثُّ عَلَى تَرْكِ مَا فِيهِ رِيبَةٌ، أَوْ شَكٌّ.
1 – Dorongan untuk meninggalkan apa yang terdapat keraguan atau syak padanya.
الْحَثُّ عَلَى بِنَاءِ جَمِيعِ الْأُمُورِ عَلَى الْيَقِينِ.
2 – Dorongan untuk membangun semua perkara di atas keyakinan.
التَّحْذِيرُ مِنَ الْوُقُوعِ فِي الشُّبُهَاتِ.
3 – Peringatan dari terjerumus ke dalam syubhat.
تَقْرِيرُ قَاعِدَةٍ: الْبِنَاءُ عَلَى الْيَقِينِ
4 – Penetapan kaidah: "Membangun di atas keyakinan."
يَجِبُ تَرْكُ الْحَرَامِ الْمَحْضِ؛ لِأَنَّ حُرْمَتَهُ لَا رَيْبَ فِيهَا.
5 – Wajib meninggalkan yang haram murni; karena keharamannya tidak diragukan lagi. Wallahua’lamHADIS 12
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:مِنْ حُسْنِ إسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
مِنْ (termasuk) | حُسْنِ (bagusnya/indahnya) | إسْلَامِ (keislaman) | الْمَرْءِ (seseorang) | تَرْكُهُ (adalah meninggalkan) | مَا (apa yang) | لَا (tidak) | يَعْنِيهِ (bermanfaat baginya).
Termasuk dari baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya, (Sunan At-Tirmizi: 2318. Sunan Ibnu Majah: 3976. Hasan).PELAJARAN
Pelajaran yang bisa diambil dari hadis 12 Arbain Nawawi ini di antaranya:التَّحْذِيرُ مِنَ الِانْشِغَالِ بِمَا لَا فَائِدَةَ فِيهِ.
1 – Peringatan agar tidak menyibukkan diri dengan hal yang tidak ada gunanya.
الْحَثُّ عَلَى الِاشْتِغَالِ بِمَا فِيهِ فَائِدَةٌ.
2 – Anjuran untuk menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat.
الْحَثُّ عَلَى حِفْظِ خُصُوصِيَّاتِ الْغَيْرِ.
3 – Anjuran untuk menjaga privasi orang lain (membicarakan aib orang lain).
الْحَثُّ عَلَى الْحِرْصِ عَلَى مَا فِيهِ فَائِدَةٌ.
4 – Anjuran untuk bersemangat dalam hal yang bermanfaat.
الْحَثُّ عَلَى حِفْظِ اللِّسَانِ مِنْ لَغْوِ الْكَلَامِ، وَمِمَّا لَا فَائِدَةَ فِيهِ.
5 – Anjuran untuk menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dan dari hal yang tidak ada gunanya.
الْإِيمَانُ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ، وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ.
6 – Iman bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan. Wallahua’lamHADIS 13
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pelayan Rasulullah ﷺ, dari Nabi ﷺ yang bersabda:لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
لَا (tidak) | يُؤْمِنُ (beriman) | أَحَدُكُمْ (salah satu dari kalian) | حَتَّى (hingga / sampai) | يُحِبَّ (ia mencintai) | لِأَخِيهِ (untuk saudaranya) | مَا (apa yang) | يُحِبُّ (ia cintai) | لِنَفْسِهِ (untuk dirinya sendiri)
Tidaklah salah satu dari kalian beriman hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, (Sahih Bukhari: 13. Sahih Muslim: 45).PELAJARAN
Pelajaran yang bisa diambil dari hadis 13 Arbain Nawawi ini di antaranya:مِنْ عَلَامَاتِ كَمَالِ الْإِيمَانِ مَحَبَّةُ الْخَيْرِ لِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ.
1 – Di antara tanda-tanda kesempurnaan iman adalah mencintai kebaikan untuk semua Muslim.
الْحَثُّ عَلَى الْأَعْمَالِ الَّتِي تُؤَدِّي إِلَى زِيَادَةِ الْإِيمَانِ كَحُبِّ الْخَيْرِ لِلْمُسْلِمِينَ.
2 – Dorongan untuk melakukan amal-amal yang mengarah pada peningkatan iman, seperti mencintai kebaikan bagi kaum Muslimin.
التَّحْذِيرُ مِنَ الْبَغْضَاءِ، وَالْغِلِّ.
3 – Peringatan dari sifat benci dan dengki.
التَّحْذِيرُ مِنَ الْأَعْمَالِ الَّتِي تُؤَدِّي إِلَى نَقْصَانِ الْإِيمَانِ كَعَدَمِ مَحَبَّةِ الْخَيْرِ لِلْمُسْلِمِينَ.
4 – Peringatan dari amal-amal yang mengarah pada berkurangnya iman. Wallahua’lam
Karangasem, 19 Juni 2025
Irfan Nugroho (Semoga Allah mengampuni, merahmati, dan menempatkan ibunya di surga. Amin).
Post a Comment for "Arbain Nawawi 5-13: Penjelasan dan Pelajaran"