zmedia

Bidayah fi Akidah: 6 Bab dalam Pelajaran Akidah

Pembaca rahimakumullah, berikut adalah terjemahan Bidayah fi Akidah tentang pengantar Akidah. Ini adalah kitab matan ringkas karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahullah yang disyarah oleh Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani hafizahullah. Semoga bermanfaat!

اَلْعَقِيْدَةُ

AKIDAH

وَفِيْهَا سِتَّةُ أَبْوَابٍ: Di dalamnya ada enam bab: اَلْبَابُ الْأَوَّلُ: اَلْإِيْمَانُ بِاللّٰهِ.[1]

Bab Pertama: Iman kepada Allah.

اَلْبَابُ الثَّانِيْ: اَلْإِيْمَانُ بِالْمَلَائِكَةِ.[2]

Bab Kedua: Iman kepada para malaikat.

اَلْبَابُ الثَّالِثُ: اَلْإِيْمَانُ بِالْكُتُبِ.[3]

Bab Ketiga: Iman kepada kitab-kitab.

اَلْبَابُ الرَّابِعُ: اَلْإِيْمَانُ بِالرُّسُلِ.[4]

Bab Keempat: Iman kepada para rasul.

اَلْبَابُ الْخَامِسُ: اَلْإِيْمَانُ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ.[5]

Bab Kelima: Iman kepada hari akhir.

اَلْبَابُ السَّادِسُ: اَلْإِيْمَانُ بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ.[6]

Bab Keenam: Iman kepada qadha dan qadar.

PENJELASAN [1] Kata Syaikh (اَلْإِيْمَانُ بِاللّٰهِ) maksudnya:

التَّصْدِيْقُ وَالْإِقْرَارُ الْجَازِمُ بِأَنَّ اللّٰهَ رَبًّا، وَإِلٰهًا، وَالتَّصْدِيْقُ بِأَسْمَاءِ اللّٰهِ الْحُسْنَىٰ، وَصِفَاتِهِ الْعُلْيَا، وَالْإِقْرَارُ بِهَا

Membenarkan dan mengakui dengan pasti bahwa Allah adalah Rabb dan Ilah, serta membenarkan nama-nama Allah yang husna (indah) dan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi, serta mengakui hal tersebut.

[2] Kata Syaikh (اَلْإِيْمَانُ بِالْمَلَائِكَةِ) maksudnya:

التَّصْدِيْقُ وَالْإِقْرَارُ الْجَازِمُ بِوُجُوْدِ الْمَلَائِكَةِ، وَأَنَّهُمْ خَلْقٌ مِنْ خَلْقِ اللّٰهِ مِنْ نُوْرٍ

Membenarkan dan mengakui yang pasti akan keberadaan para malaikat, dan bahwa mereka adalah makhluk di antara makhluk-makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya.

[3] Kata Syaikh (اَلْإِيْمَانُ بِالْكُتُبِ) maksudnya:

التَّصْدِيْقُ وَالْإِقْرَارُ الْجَازِمُ بِالْكُتُبِ، وَالصُّحُفِ الَّتِيْ أَنْزَلَهَا اللّٰهُ عَلَى رُسُلِهِ؛ لِهِدَايَةِ الْخَلْقِ، وَإِفْرَادِهِ جَلَّ جَلَالُهُ بِالْعِبَادَةِ.

Membenarkan dan mengakui dengan pasti terhadap kitab-kitab dan suhuf (lembaran-lembaran) yang diturunkan oleh Allah kepada para rasul-Nya; untuk memberi petunjuk kepada makhluk, dan mengesakan-Nya Jala Jalaluhu dalam beribadah

[4] Kata Syaikh (اَلْإِيْمَانُ بِالرُّسُلِ) maksudnya:

التَّصْدِيْقُ وَالْإِقْرَارُ الْجَازِمُ بِالرُّسُلِ وَالْأَنْبِيَاءِ الَّذِيْنَ أَرْسَلَهُمُ اللّٰهُ إِلَى خَلْقِهِ؛ لِإِخْرَاجِهِمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ الْجَهْلِ وَالشِّرْكِ إِلَى نُوْرِ الْإِيْمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ

Membenarkan dan mengakui secara pasti terhadap para rasul dan para nabi yang diutus oleh Allah kepada makhluk-Nya; untuk mengeluarkan mereka dari gelapnya kebodohan dan kesyirikan menuju cahaya iman dan amal saleh.

[5] Kata Syaikh (اَلْإِيْمَانُ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ) maksudnya:

التَّصْدِيْقُ وَالْإِقْرَارُ الْجَازِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَا فِيْهِ مِنْ أَهْوَالٍ عِظَامٍ، وَيَبْدَأُ الْيَوْمُ الْآخِرُ مِنْ خُرُوْجِ رُوْحِ الْإِنْسَانِ إِلَى دُخُوْلِهِ الْجَنَّةَ، أَوِ النَّارَ.

Membenarkan dan mengakui secara pasti terhadap hari kiamat, dan apa yang ada di dalamnya berupa huru-hara yang dahsyat, dan hari akhir itu dimulai dari keluarnya ruh manusia hingga masuknya manusia ke dalam surga atau neraka.

[6] Kata Syaikh (اَلْإِيْمَانُ بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ) maksudnya:

التَّصْدِيْقُ وَالْإِقْرَارُ الْجَازِمُ بِأَنَّ اللّٰهَ قَدَّرَ كُلَّ شَيْءٍ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوْظِ قَبْلَ خَلْقِ الْخَلْقِ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ، وَأَنَّ مَا أَصَابَ الْإِنْسَانَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ، وَمَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ.

Membenarkan dan mengakui secara pasti bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu di Lauh Mahfuzh (kitab yang terpelihara) sebelum menciptakan makhluk selama lima puluh ribu tahun, dan bahwa apa yang menimpa manusia tidak akan pernah meleset darinya, dan apa yang meleset darinya tidak akan pernah menimpanya.

Pembaca rahimakumullah... Dan pokok-pokok ini kedudukannya dalam agama seperti kedudukan fondasi bagi rumah, atau buah bagi pohon.  Allah ta’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (QS Ibrahim: 24).

Dan “kalimat yang baik” itu adalah iman kepada Allah ta’ala.

Dan pokok-pokok ini saling terikat satu sama lain, tidak terpisah satu sama lain. Maka, barang siapa kafir terhadap sebagiannya, maka dia seperti kafir terhadap semuanya. Tidak ada iman bagi seseorang kecuali dengan beriman kepada semuanya.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيْدُوْنَ أَنْ يُفَرِّقُوْا بَيْنَ اللّٰهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُوْلُوْنَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيْدُوْنَ أَنْ يَّتَّخِذُوْا بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا ۝ أُولٰئِكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ حَقًّا ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًا

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, "Kami beriman kepada sebagian (rasul-rasul) dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)," serta bermaksud mengambil jalan tengah (antara iman dan kafir), merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan, (QS An-Nisa: 150-151).

Dan sungguh sebagian ulama zaman dahulu telah mengingatkan bahwa hendaknya siapa saja yang ingin menyusun tentang iman, agar menyusun berdasarkan hadits Jibril alaihissalam, dan memulai dengan Allah sebagai Pencipta, Pemberi rezeki, Pemilik, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan mengesakan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.

Al-Qadhi bin Iyadh berkata:

هٰذَا الْحَدِيْثُ قَدِ اشْتَمَلَ عَلَى شَرْحِ جَمِيْعِ وَظَائِفِ الْعِبَادَاتِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، مِنْ عُقُوْدِ الْإِيْمَانِ، وَأَعْمَالِ الْجَوَارِحِ، وَإِخْلَاصِ السَّرَائِرِ، وَالتَّحَفُّظِ مِنْ آفَاتِ الْأَعْمَالِ، حَتَّىٰ إِنَّ عُلُوْمَ الشَّرِيْعَةِ كُلَّهَا رَاجِعَةٌ إِلَيْهِ، وَمُتَشَعِّبَةٌ مِنْهُ

Hadis ini sungguh telah mencakup penjelasan seluruh fungsi ibadah yang zhahir dan batin, dari ikatan-ikatan iman, amalan anggota badan, keikhlasan hati, dan menjaga diri dari kerusakan amalan, hingga ilmu-ilmu syariat seluruhnya kembali kepadanya, dan bercabang darinya.

Maka hendaknya bagi setiap muslim untuk memberi perhatian yang besar terhadap hadits ini, dan mempelajarinya, serta mengajarkannya kepada keluarganya dan seluruh manusia, dan mengambil darinya manhaj (jalan hidup) dalam kehidupannya sebagaimana yang dilakukan oleh para salafus shalih (pendahulu kita yang saleh). Wallahua’lam

Karangasem, 12 Mei 2025

Irfan Nugroho (Staf Pengajar di PPTQ At-Taqwa dan RQ Irmas Bani Saimo Sukoharjo)

 

Post a Comment for "Bidayah fi Akidah: 6 Bab dalam Pelajaran Akidah"